THE SKY IS EVERYWHERE [1/2]

The Sky is Everywhere

Cast : CN Blue’s Yonghwa &  Jieun (OC) || Genre : Romance || Length : Twoshot

By yen yen mariti

tumblr_mcgnd7eYZn1rp54kqo1_500_large

Yonghwa sudah mengatakan pada Jieun bahwa dia mencintai gadis itu berkali-kali, sebanyak yang dia mau dan sebanyak yang Jieun butuhkan. Begitu pula dengan gadis itu, dia menuturkan satu kalimat itu lebih dari dua puluh ribu kali selama empat tahun terakhir menjadi perempuan teristimewa dalam hidup Yonghwa.

Pagi itu adalah sebuah pagi yang muram, dengan salju yang terus membentur bumi. Langit berwarna kelabu dan udara terus berbau basah dan menyesakkan. Bada—anjing Yonghwa—bahkan tidak mampu keluar rumah dan, hanya membiarkan tubuh gumpal penuh bulunya besembunyi di bawah kolong meja makan yang dilapisi karpet hangat.

Tapi bagi Yonghwa dan Jieun, tidak pernah ada hari-hari yang kelam selama mereka bersama. Tidak ada keluhan yang terlontar dari bibir mereka mengenai hari yang buruk dan menyebalkan, sebab ketika mereka mendongak ke langit yang dapat mereka lihat adalah langit yang bersinar cerah serta berkilau. Mereka bilang, jatuh cinta bisa membuat orang-orang gila. Mereka tidak gila, sebenarnya. Mereka hanya sedikit mabuk—mabuk karena cinta.

Pagi itu juga, di hari paling dingin di bulan Februari, setelah membuat gadis itu tersentak kaget melihat kehadirannya pagi-pagi sekali, di atas ranjangnya, setelah merasakan pelukan rindu satu sama lain, membuat kecupan-kecupan ringan berubah jadi ciuman lembut yang menghanyutkan, Yonghwa melamarnya. Itu aneh, memalukan, tapi romantis bagi Jieun.

“Jieun, ayo menikah.”

“Kenapa kau mendadak seperti ini?”

“Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak lama, aku sudah berpikir dengan matang soal ini. Menikahlah denganku. Agar kau bisa melepas rindumu setiap saat, agar aku bisa memelukmu setiap detik dan agar aku bisa membahagiakanmu seumur hidupku. Ayo menikah.”

Suara tawa gadis itu pecah di pagi yang begitu dingin, menyisakan napas hangatnya yang merambat ke pori-pori Yonghwa. “Kau menolakku?” lelaki itu bertanya dengan guratan halus di dahinya.

“Menurutmu ini penolakan?” bibir gadis itu melompat ke bibir Yonghwa, dan sekali lagi membuat lelaki itu mabuk di pagi yang menakjubkan itu. Oh, Jieun juga mabuk akan ciuman yang diciptakannya.

“Dan kupikir kau sangat ingin bersuamikan aku, Jieun.”

//

Setelah pagi yang mengejutkan, mengharukan dan romantis itu berlalu, hari-hari mereka disibukkan dengan hal-hal yang menyangkut pernikahan. Seperti memilih setelan pengantin, cin-cin pernikahan, tempat resepsi, tamu-tamu yang akan diundang dan, bahkan apakah Bada juga akan dipakaikan jas mengkilat saat hari itu datang. Jieun dan Yonghwa mengatur semua itu dengan sebaik mungkin dan, mereka berpikir untuk membuat pernikahan mereka kelak menjadi pernikahan yang paling sempurna.

Semuanya terselesaikan di pertengahan bulan Maret, saat salju mulai mencair dan sudah  mulai terdengar cicitan burung di balkon kamar Yonghwa. Pada akhirnya, mereka memutuskan dengan pernikahan yang sederhana dan kecil. Karena beberapa alasan, seperti; Yonghwa hanyalah seorang reporter TV swasta dan gajinya yang sudah ditabung selama beberapa tahun terakhir tidak mungkin dia habiskan hanya untuk satu hari pernikahan dan, mereka tidak mengundang banyak orang, hanya orang-orang terdekat dan sanak keluarga.

Semua orang punya definisi sempurna yang berbeda-beda, kau tahu.

Dan bagi keduanya, kecil dan penuh—dilengkapi oleh anggota keluarga masing-masing—adalah definisi sempurna yang sesungguhnya.

“Jadi, kita sepakat, 30 Maret adalah hari kita menikah.”

“Sepakat!”

//

Dua minggu sebelum menjadi pengantin, Jieun berada di sebuah kafe kecil di tengah kota Seoul. Duduk di depan meja kayu persegi empat dan, dua kursi di depannya telah diduduki dua gadis yang seumuran dengannya. Chanmi dan Yuna, dua teman dekat Jieun saat SMA yang super sibuk karena sering keluar-masuk bandara, terbang ke negara ini dan itu dengan alasan pekerjaan.

Ada sepoci teh hangat dan beberapa piring makanan kecil yang disusun rapi di atas meja kayu. Mereka memulai pertemuan itu dengan ucapan Halo, pelukan penuh kerinduan selama sepersekian detik dan mulai membuka konversasi dengan mengungkit-ungkit masa remaja mereka yang cukup bodoh, memalukan namun begitu menyenangkan. Ketika Jieun sudah mulai ke niat awal kenapa dia mengajak dua teman lamanya bertemu, kedua gadis itu mengernyitkan dahi dan pembicaraan terdengar tidak mengenakkan.

“Yonghwa?” mata tajam Chanmi menyipit dan terlihat seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Jieun baru saja memberikan undangan pernikahan pada keduanya. “Kau… tidak bercanda, Jieun?”

“Hey, ada apa?” gadis itu melengos sesaat, “Tentu saja aku tidak bercanda. Aku akan menikah, akhir bulan ini, kawan.” Tawanya yang pelan menciptakan pandangan heran di wajah Chanmi dan Yuna.

“Tidak, maksudku begini, Jieun. Kau Lee Jieun, akan menikah dengan Jung Yonghwa. Kau tahu, nama ayahmu masuk ke dalam daftar sepuluh besar pengusaha besar di Korea Selatan, Ibumu seorang Ibu rumah tangga terpelajar dengan pergaulan kelas atas. Sedangkan Jung Yonghwa, dia adalah pendatang, dari Busan dan hanya seorang reporter.” Chanmi menghabiskan kata-kata terakhirnya dengan mengusap-usap pelipisnya, Jieun hanya mengernyit.

“Pikirkan itu Jieun. Kau akan menikah dengannya, mengganti margamu, menjadi bagian hidupnya. Dan kau tahu, hidup ini tidak semudah seperti yang kita bayangkan saat kita hanyalah anak berumur lima belas. Aku tahu, kau mencintainya—sangat—tapi kau juga harus tahu, cinta tidak cukup untuk membuatmu bertahan di dunia ini.” Kali ini Yuna, tetapi dengan nada yang lebih logis dan dewasa. Jieun menganggukkan kepala membuat dirinya terlihat seolah-olah sungguh mengerti dan menyerap perkataan temannya.

“Oh, aku mengerti. Jadi itu yang kalian takutkan. Aku mengerti, tidak apa-apa,” Jieun meraih cangkir tehnya buru-buru setelah membagi senyum yang sulit.

“Aku tidak bercanda Jieun, coba ingat baik-baik. Kau sudah berumur dua puluh tiga tahun ini, dan seumur hidupmu kau bahkan belum pernah mencuci bajumu sendiri, kau hidup di tengah kemewahan dan tidak pernah membayangkan bagaimana jika kau harus kehilangan semua itu, apa yang akan terjadi setelah itu.”

“Chanmi, bisa kita ganti topik ini?” Jieun sedikit naik darah, tangannya berkeringat dan pelipisnya bergetar—itu terjadi setiap kali dia gugup dan ragu.

“Tapi Jieun—“

“Tapi, orang tuaku bahkan tidak membantah saat aku mengatakan pada mereka aku akan menikah dengan Yonghwa. Itu bukan persoalan yang serius, ayolah.”

“Orang tuamu tidak keberatan kau menikah dengannya karena mereka tidak ingin kau kecewa. Dan sesungguhnya mereka menyimpan kekecewaan itu sendiri, Jieun. Aku berani bersumpah.”

“Ya… ya, Yuna. Dan, terima kasih untuk pencerahannya, Chanmi. Kalian benar-benar meracuniku sekarang.”

//

Seusai reunian bodoh dengan kedua temannya yang sama-sama bodoh dan penggosip, Jieun merasakan hari-harinya berubah. Seperti pikirannya yang terus menerus memikirkan perkataan Chanmi dan Yuna hari itu, dia suka melamun dan kadang marah-marah tidak jelas. Kedua temannya benar-benar meracuni otaknya.

Jieun masih bertemu Yonghwa, masih membicarakan tentang pernikahan mereka saat makan malam berdua. Tapi Jieun tidak pernah sesemangat dulu lagi, dan Yonghwa menyadari itu dengan sangat baik.

“Kudengar, para perempuan akan merasa gugup menjelang hari pernikahannya,” Yonghwa berkata.

Jieun tersenyum samar, “Kurasa.” Lalu tersenyum samar lagi.

“Itu tidak semengerikan yang kau bayangkan, Jieun.” Yonghwa menggapai jari-jemarinya dan menggenggamnya pelan. Seperti yang Jieun tahu, dia akan selalu berdebar-debar saat kulit mereka saling bersentuhan, tapi kali ini dia tidak dapat merasakan apa-apa.

“Yonghwa.”

“Mmm-hmmm?”

“Ah, tidak,” senyum benar-benar lemah dan samar. Kepalanya menggeleng berkali-kali, rambut panjangnya bergoyang-goyang lembut hingga menggapai hidung Yonghwa dan menyisakan senyum di bibir lelaki itu. “Tidak ada apa-apa,” dia bergumam sekali lagi. Sepertinya, dia mati rasa.

//

Lima hari menjelang pernikahan dan sesuatu yang tak terduga terjadi, menghantam otak Yonghwa dan hampir membuatnya miring dan gila dan mabuk sekaligus. Jieun menghilang dan orang tuanya mengira gadis itu melarikan diri ke Singapura.

Yonghwa terus mencoba menghubungi gadis itu, tapi tidak pernah ada yang berhasil. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Pekerjaan memanggilnya selama dua hari dan dia hanya punya sisa waktu tiga hari untuk menemukan pengantinnya atau dia akan memasangkan sendiri cin-cin ke jari manisnya.

Kantung matanya mengendur dan berwarna hitam, itu didapatnya setelah bergumul dengn pekerjaannya dan membuatnya tidak dapat tidur semalaman. Pagi-pagi sekali setelah mengatakan pada atasan bahwa tugasnya sudah beres, dia kabur ke bandara tanpa pamit pada siapa pun. Hanya dengan bekal paspor dan dompet, dia memesan tiket dan mendapatkan tempat duduk yang empuk di salah satu pesawat yang kemudian membawanya terbang ke Singapura. Ini pertama kalinya dia ke Singapura dan berharap dia tidak tersesat. Oh, tidak apa-apa jika tersesat, asal dia menemukan gadisnya.

//

tumblr_lkv61y0ADv1qev7wuo1_500_large

Dua hari menjelang pernikahan, Yonghwa hampir putus asa karena tidak mendapat petunjuk apa pun. Tapi seorang perempuan yang tidak dia kenal datang mengenalkan diri padanya bahwa dia adalah teman Jieun, memberitahukan bahwa Jieun ada di apartemennya dan sudah meringkuk di sana selama beberapa hari terakhir. Yonghwa yang merasa harapannya tersambung kembali segera datang ke sana tanpa menyia-nyiakan waktu.

“Maafkan aku, seharusnya itu tidak pernah terjadi. Kau tahu, ah mungkin tidak tahu, perempuan memang selalu menimbulkan masalah hanya lewat kata-kata mereka, kadang.” Chanmi menjelaskan semuanya pada Yonghwa, tentang apa yang terjadi di kafe kecil di pertengahan bulan Maret lalu. Yonghwa hanya tersenyum kecil, tapi wajahnya terlihat lumayan tersinggung.

“Tidak apa-apa,” dia mengedikkan bahu. “Dan terima kasih, Shim Chanmi. Kurasa itu suatu pencerahan yang cukup menarik untuk seorang calon istri.” Dia tersenyum lagi sebelum masuk ke kamar yang Chanmi beritahukan padanya.

Ada seorang gadis yang duduk di atas ranjang, menghadap jendela yang menampilkan potret malam di Singapura yang menakjubkan dan gemerlap. Cahaya di kamar itu redup tapi Yonghwa dapat mengenal dengan baik siapa gadis itu.

“Jieun,” suaranya berbisik begitu pelan, tubuhnya dia daratkan di sisi ranjang tempat gadis itu duduk.

Jieun merasakan kerongkongannya tercekat dan dia tegang.

“Apa kau baik-baik saja?” suara Yonghwa kembali berbisik, tapi gadis itu tidak merespon. “Kuharap kau baik-baik saja. Pengantin perempuanku harus sehat dan ceria, kau tahu.” Yonghwa tertawa jenaka namun pelan. Gadis itu mencengkeram tirai jendela.

“dan, maafkan aku Jieun. Aku tidak segera menyusulmu ke sini saat tahu kau menghilang. Bos cerewet itu tidak pernah memberiku libur dan, aku harus berusaha sendiri agar pekerjaanku selesai dan dapat melarikan diri ke sini. Oh, Singapura terlihat sangat baik ternyata, ini kunjungan pertamaku dan udaranya sangat hangat.” Mata Yonghwa menatap punggung Jieun yang tidak pernah bergerak sedikit pun, dia tidak memaksa, dia akan menunggu hingga gadis itu mau membalik tubuhnya dan memeluknya seperti yang sering mereka lakukan selama ini.

“Kau marah padaku?” rasanya Yonghwa ingin menggapai bahu gadisnya dan mengecupnya berkali-kali, tapi dia tetap tidak melakukannya.

“Aku membuat kesalahan lagi?” karena seingatnya, Jieun sering sekali kesal karenanya. Jadi dia akan minta maaf sambil menangis jika memang benar begitu.

“Kita bisa bicarakan semua dengan baik-baik jika kau mau,” Jieun kembali mendengar suara lelaki di belakangnya. “Jieun, apa kau mau membicarakan siapa yang akan memegang buku tabunganku setelah kita menikah nanti? Itu cukup menyenangkan, menurutku.” Yonghwa mencoba untuk bercanda, tapi Jieun tersinggung akan ucapannya.

“Aku ingin sendirian, bisa kau tinggalkan aku?” suara Jieun mulai terdengar meski samar. “Kumohon.”

Yonghwa merasakan tenggorokannya kering, “Tentu,” ucapnya setelah itu. “Tapi kau harus jawab satu pertanyaanku.”

“Tanyakanlah.”

“Apa kau akan kabur, mungkin kau tidak akan datang di hari pernikahan kita, kau bisa saja kabur ke negara lain yang juga belum pernah kukunjungi. Apakah kau akan melakukannya, Jieun?”

“Aku tidak tahu Yonghwa, tapi… mana yang kau harapkan ?”

“Kau tahu aku dengan sangat baik, dan yang kuharapkan hanyalah semua berjalan sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan,” Yonghwa bangkit dari ranjang, masih memandang Jieun. “Tapi… jangan memaksakan diri, kau bisa kabur jika kau memang menginginkannya. Pernikahan yang  sempurna adalah pernikahan dengan pengantin yang saling mencintai dan tulus.”

Jieun menahan air matanya agar tidak jatuh, “Aku akan memikirkannya lagi, Yonghwa.”

“Ya.” Suara terakhirnya segera disusul dengan suara ketukan sepatu yang membentur ubin semakin menjauh dan suara pintu kamar berderit lalu tertutup lagi. Jieun terisak lembut dalam cahaya redup malam itu.

Yonghwa menunggu telepon dari Jieun hingga pagi—dia tidak tidur semalaman dan banyak berpikir hingga kantung matanya membengkak dan menghitam mengerikan—tapi gadis itu tidak menelepon sama sekali, jadi Yonghwa menunggu hingga tengah hari—mencoba lebih sabar—tapi tetap tidak ada telepon. Dan lelaki itu kembali duduk di bangku pesawat saat malam menjelang. Dia sepertinya mengerti dan tahu akan satu hal; gadis itu memilih untuk berhenti di sini. Gadis itu tidak akan datang besok.

airplane-color-colors-moon-Favim.com-618797

-tbc-

Bisa dibilang ini sequel everything is you. Bagi yang belum pernah baca ff itu, gapapa, masih bisa ngerti kan? Hehe. Oh iya sebenarnya saya ga tau kalo ternyata  saya pernah nulis sequel ini. Barusan ngubek file laptop dan nemu ini. Btw, ini pertama kalinya saya ngeposting ff bersambung, jadi maaf kalo gaje.

10 thoughts on “THE SKY IS EVERYWHERE [1/2]

  1. Howa.. aku baru baca yg ini.. dan udh ngerti.. Jieun jahat bgt nih.. mending abang Yong buat aku aja *plakk ah ff bikinan author keren bgt.. selalu ngena ke hati😥 *ambil tisue*

  2. Dulu pernah baca everything is you tapi agak-agak lupa ceritanya, jadi baca ulang deh.
    Untuk The sky is everywhere ini bagus, seperti biasa suka sama tutur cerita kamu, Yen🙂 suka juga sama jalan cerita yang konfliknya ga biasa juga, kabur di H-sekian pernikahan dengan alasan bimbang dll. Kasian Yonghwa pasti sedih bgt😦. Penasaran gimana akhirnya cerita ini. Next part di tunggu ya🙂

  3. Aduh Yen aku melting karena cerita kamu :’

    aku sedang punya project juga dan rada kesusahan mengeksekusi idenya yg emang rada ftv-ish menjadi lebih normal karena kehabisan kata-kata buat ditulis, baca cerita kamu ini bikin aku dapet inspirasi, terutama dari penulisannya, makasih ya :’)

    well, aku suka ceritanya, sederhana sih dan konfliknya kayaknya emg cukup dekat dg kehidupn, problema orang mau nikah gitu, dan caramu membawakannya itu indah banget, mengalir gitu lho. pokoknya aku suka!

    well, semangat ngelanjutinnya! semoga ga kena writer’s block. fighting!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s