She’s Come Back [Part 6 + Epilog]

She's comeback downloaded

She’s Come Back [Part 6 + Epilog]

Auhtor                  : Mona

Genre                   : Angst, AU, sad, little romance

Rating                   : PG

Length                  : Chaptered

Cast                       :

–          Kang Minhyuk (CN BLUE)

–          Park Hyeri (OCs)

–          Park Ririn (OCs)

Disclaimer           : Nama auhtor sudah terisi, lihat di atas

Note                      : Maaf lama ya😀 Happy reading reader ^_^

***

Prolog ,Part 1 , Part 2 , Part 3, Part 4

***

Review last part

“Permisi Tuan Kang, ada sebuah undangan untuk Anda,” ujar sekretaris Jung pada Minhyuk.

Minhyuk pun mengambil undangan tersebut, lalu membacanya dengan teliti. Ternyata hanya udangan pejamuan minum teh biasa yang diadakan oleh keluarga Park. Tak lama, handphone Minhyuk berdering. Menandakan sebuah telepon masuk.

“Yeoboseo,” kata Minhyuk.

“Kau sudah siap?,” tanya seseorang di seberang sana.

“Untuk apa Ririn-ah?,” Minhyuk kembali bertanya.

“Sebaiknya kau lihat besok, ini akan menjadi sebuah kejutan untuk mu,” ujar Ririn.

“Oh ya, aku akan menjemput mu ke acara minum teh,” kata Rin sekali lagi sambil menutup teleponnya.

***

Minhyuk berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya. Bahkan pergelangan tangannya sudah memerah karena terus bergesekan dengan tali yang mengikat tangannya. Mulutnya ditempel dengan sebuah benda lengket. Ya. Pagi ini Minhyuk dibawa oleh beberapa pria bertubuh besar. Mereka menculik Minhyuk dengan sebuah mobil van. Dan sekarang Minhyuk hanya dapat berpikir apa yang akan mereka lakukan selanjutnya di sebuah tebing seperti ini.

Di kejauhan, Minhyuk dapat melihat seorang gadis berambut ikal, dia mngenakan kaus dan rok mini mengembang berwarna pink. Hanya tampilan yang sangat sederhana dan siapa gadis yang berani berbuat seperti ini? Minhyuk semakin menyipitkan matanya untuk melihat wanita tersebut. Dan Minhyuk sangat kaget dengan semua ini, Park Ririn. ‘Jadi maksudnya ini? Dia benar-benar gila,’ pikir Minhyuk dalam hatinya.

“Ikat dia, lalu lemparkan,” ujar Rin sambil memberikan sebuah tali panjang.

Minhyuk berusaha melepaskan dirinya, menendang kaki para pria yang mulai mendekat. Namun, dia tak bisa melawan tenaga-tenaga para pria itu, sekitar bibirnya terasa agak perih setelah salah satu pria mencabut benda lengket yang menutup mulutnya sedari tadi. Dan inilah akhirnya. Kini Minhyuk tengah menggantung, layaknya seperti daging yang sedang dijual di pasar.

“Apa kau gila! Tarik aku!,” pekik Minhyuk yang ditunjukan kepada Ririn.

Sesekali Minhyuk melihat ke bawah, air yang mengalir deras, mungkin ia tak akan selamat setelah jatuh. Minhyuk mendongak ke atas, dan mendapatkan Ririn yang tengah menatapnya iba.

“Ada permintaan terakhir Minhyuk? Sebelum kau jatuh?,” tanya Rin tanpa ekspresi.

“Ya. Aku minta maaf atas yang telah ku lakukan Park Haeri. Aku memang pantas mendapatkan semua ini, aku lebih memilih cinta dari pada sahabatku sendiri. Tapi, satu hal yang perlu kau tahu, selama ini aku hidup dengan penyesalan. Tiap jam, detik, ataupun menit, aku selalu memikirkan keadaanmu setelah hal itu terjadi. Bukan aku yang memutuskan tali itu, tapi Sekyung! Sekali lagi, maafkan aku Park Haeri,” kata Minhyuk sambil menundukan kepalanya, pasrah.

Minhyuk sudah tak tahu dengan nasibnya sekarang, mungkin ia akan jatuh dan terbawa arus, menabrak beberapa batu yang akan melukai dirinya, lalu masuk ke neraka atas semua perbuatannya. Tapi apa yang terjadi? Minhyuk merasakan kakinya yang kembali berpijak di tanah. Apa ia sudah meninggalkan dunia? Tidak, dia masih hidup. Dan Ririn telah meninggalkan Minhyuk yang telah ia tarik kembali. Minhyuk tersenyum menatap wanita yang telah menjauh. Mungkin Ririn masih memberikannya kesempatan, atau mengundur niatnya. Tapi, Minhyuk sangat berterimakasih padanya.

***

Tiga hari telah berlalu setelah kejadian dihari itu. Dan kini, gadis itu kembali berdiri di depan Minhyuk. Minhyuk hanya diam, memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya. Ririn mengulurkan sebuah amplop cokelat kepada Minhyuk dan Minhyuk hanya menatap amplop itu bingung. Untuk apa? Membayar Minhyuk agar menutup mulutnya? Bukan, Park Ririn telah memperhitungkannya. Minhyuk tak akan mungkin melaporkannya kepada polisi, karena jika hal itu sampai terjadi, Minhyuk juga akan dipenjara karena perbuatannya.

“Ini apa?,” tanya Minhyuk tanpa menatap Rin.

Minhyuk sama sekali tak bisa menatap wajah itu, apalagi matanya. Minhyuk akan semakin merasa bersalah.

“Tiket,” jawab Rin sambil tersenyum.

Apa gadis ini menyuruh Minhyuk untuk meninggalkan Korea?

“Kata maaf itu..,” kata Rin menggantung.

Akhirnya, Minhyuk menatap mata gadis itu, meminta penjelasan padanya. Mata itu, tatapan mata yang tulus. Minhyuk dapat melihatnya dengan jelas.

“Kata maaf itu harusnya kau katakan pada Haeri, bukan pada ku,” kata Rin sambil tersenyum lembut.

“Apa maksud mu?,” tanya Minhyuk bingung.

‘Jadi? Siapa Park Ririn? Haeri punya kembaran? Kudengar ia sudah menghilang. Atau dia kembali?,’ berbagai pikiran mulai bergulat di kepala Minhyuk. Ingin sekali ia melayangkan beberapa pertanyaan. Namun, sekretaris Jung masuk ke dalam ruangannya.

“Aku akan menjelaskannya sepulang kerja. Aku akan ke apartemen mu,” kata Ririn sambil membenarkan letak tas yang dibawanya, lalu berjalan keluar.

Minhyuk memijat pelan pelipisnya. Serasa ada kutu yang memakan otaknya, sangat sakit.

***

Sekali lagi, Minhyuk menatap jam tangan yang ada di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi gadis itu tak kunjung datang menemuinya. Minhyuk mengambil remote TV-nya. Ia telah berulang kali mengganti chanel di TV, tapi tak ada satupun acara yang menarik. Minhyuk membanting remote-nya kesal. Hingga baterai yang ada di dalamnya keluar. Minhyuk mengambil jas hitam yang ada di sampingnya, lalu berjalan keluar.

Namun, wanita itu tengah berdiri di depan pintu apartemen Minhyuk. Tangan gadis itu hendak mengetuk pintu yang sekarang telah terbuka.

“Ini,” kata Rin sambil menyerahkan amplop cokelat.

“Apa ini?,” tanya Minhyuk dengan wajah serius.

“Kau akan tahu di mana Park Haeri, ada beberapa foto saat Haeri di Amerika. Ku harap, itu bisa menjadi pertimbangan mu untuk menemuinya,” ujar Ririn sambil menepuk lengan Minhyuk.

Ririn mulai berbalik, berjalan pergi untuk meninggalkan Minhyuk. Namun Minhyuk menarik Rin kembali. Memeluk tubuh Rin dalam dekapannya.

“Aku membutuhkan mu sekarang, bisakah kau tetap di sini?,” tanya Minhyuk berbisik.

“Aku harus bersiap-siap ke Amerika besok, jadi maaf,” kata Rin sambil mendorong tubuh Minhyuk.

Minhyuk hanya menatap kepergian Ririn sambil tersenyum kecut. ‘Apa hanya aku yang merasakannya?,’ tanya Minhyuk dalam hati.

***

Seorang wanita dengan kemeja putih dan celana jeans hitamnya tengah bersandar pada sebuah dinding. Berkali-kali ia melihat ke arah pintu masuk dan jamnya. Menunggu, itulah yang paling ia sesali semasa hidupnya, ia sama sekali belum pernah menunggu. Numun kali ini, ia harus menunggu seseorang yang tak penting untuknya, atau berusaha tak menganggap pria itu ada.

Di kejauhan, pria yang ditunggu-tunggu itu muncul, melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah wanita tersebut. Senyuman tulus terpancar dari wajah pria tersebut. Kang Minhyuk, apakah dia seorang malaikat? Dengan mudahnya ia tersenyum pada wanita yang hampir membunuhnya.

“Maaf telah menunggu lama, Ririn-ah,” kata Minhyuk sambil melepas kacamata hitamnya.

Ririn hanya tersenyum melihat Minhyuk, ia tak bisa mengatakan ‘Ya, tak apa,’ atau ‘Lain kali jangan terlambat.’ Mungkin ini terakhir kalinya ia akan bertemu Minhyuk, melihat ketampanan wajah itu, dan melihat wajah imutnya disaat-saat yang cukup langka. Walaupun Minhyuk jarang tersenyum, tapi ketampanannya tetap terpancar kapanpun.

“Kajja kita berangkat,” ajak Rin sambil berjalan mendahului Minhyuk.

Tak masalah saat Rin memilih untuk menghindari Minhyuk dan itu juga bukan masalah untuk Minhyuk. Baik berjalan bersamaan ataupun saling mendahului, itu tak akan merubah hidup mereka. Sama halnya seperti pembunuh adalah seorang pembunuh. Dan orang baik, akan tetap menjadi baik, walaupun dia akan sedikit jahat karena keterpaksaan.

Dan seorang pembohong, dia juga tak akan dipercaya lagi seumur hidupnya. Tapi, Minhyuk tetap percaya pada gadis yang tengah berjalan di depannya. Dia hanya ingin membuat Minhyuk sadar, bahwa kata maaf masih bisa memperbaiki kesalahannya.

***

Sore ini, Minhyuk tengah duduk bersama seorang wanita yang sama. Sangat mirip, walupun kesan mereka berbeda. Park Haeri, wanita ini ada di depannya. Tengah duduk di atas ranjang sambil memakan apel yang terasa sangat manis, sama seperti wajah itu. Wajah yang pernah Minhyuk lihat malam kemarin di apartemennya. Minhyuk merindukan wanita itu. Tapi Minhyuk masih memiliki hati nurani. Minhyuk tak mungkin meninggalkan Haeri, lalu berlari memeluk Ririn yang tengah berdiri di dekat jendela. Mata gadis itu tengah bergerak membaca sebuah buku, dan terkadang memandang matahari senja yang mulai redup.

“Sebaiknya kau istirahat,” kata Minhyuk sambil tersenyum.

“Baiklah. Tapi datanglah lagi besok, aku masih merindukan mu,” kata Haeri sambil tersenyum.

Minhyuk kembali memandang ke arah jendela, tapi gadis itu telah pergi mendahuluinya. Sekali lagi, gadis itu menghindarinya. Minhyuk memasukan tangannya ke dalam saku celana. Langkahnya terus di percepat, hanya untuk berjalan bersama gadis itu.

“Bagaimana kalau ke taman kota?,” tawar Minhyuk pada Rin.

Gadis ini tak seperti dulu, dia hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan. Dia berubah.

***

“Maukah kau mendengar cerita ku?,” tanya Haeri pada Rin.

Ririn menghentikan tangannya, meletakan pisau itu di atas piring. Lalu menatap ke arah Haeri.

“Ada seorang gadis yang merelakan orang yang dicintainya untuk bersama orang lain,” kata Haeri sambil beberapa kali memandang ke beberapa tempat di ruangan itu.

“Lalu?,” tanya Ririn pada Haeri yang berhenti bercerita.

“Ku rasa, aku akan merelakannya untuk mu,” kata Haeri sambil berusaha mengukir senyuman untuk Ririn.

Ririn tahu siapa yang dibicarakan Haeri, Minhyuk. Gadis ini memang sakit, tapi ia masih dapat melihat seberapa besar ketulusan keduanya. Ririn menatap Haeri, lalu mengulum senyum kepada gadis itu.

“Kurasa, tidak. Dia akan menjadi milik mu seutuhnya,” kata Rin sambil menahan air mata yang akan mengalir dari matanya.

Haeri memeluk Rin, lalu mengelus punggung gadis itu. Berusaha menguatkannya akan arti cinta yang sebenarnya.

“Aku akan segera pergi, jadi aku akan memberikannya untuk mu,” kata Haeri sekali lagi.

Ririn hanya terisak, telapak tangannya menutup mulutnya yang terus bergetar. Dia tak bisa merelakan keduanya. Kakak dan orang yang dicintainya.

***

“Terimakasih untuk semuanya,” ucap Minhyuk pada gadis yang ada disebelahnya.

Gadis itu hanya tersenyum sambil memandang matahari senja yang terlihat di depannya. Rumput-ruput hijau saling bergesekan dengan angin yang mulai menyapa sore itu. Angin hangat yang terus menyelimuti keduanya.

Satu tahun yang lalu, Haeri telah pergi. Tapi tak ada yang tahu, bahwa Haeri atau Ririn yang terbaring di ranjang itu. Tak ada seorang pun yang tahu. Hanya mereka, Ririn dan Haeri yang tahu.

‘Gagal ginjal’, itulah penyakit yang membuat Haeri berkata akan pergi pada hari itu. Pergi meninggalkan semuanya. Dia tidak egois, dia juga tak marah dengan semua kenyataan ini. Semuanya harus berjalan seperti ini, atau mungkin selamanya. Tapi ke-egoisan sudah cukup untuk Ririn, dia telah puas untuk membuat seseorang sakit hati. Membuat dirinya selalu bahagia. Dan inilah pengorbanannya. Bukan satu ginjal, tapi keduanya Ririn berikan pada Haeri.

“Aku hanya minta satu hal pada mu,” ucap Ririn dengan suara serak dan hampir tak terdengar.

“Apa? Tolong mintalah ginjal ini lagi,” jawab Haeri sambil terisak dan menggenggam tangan Ririn dengan erat.

“Tidak. Aku tak minta ginjal milik mu. Bisakah kau menjadi Ririn? Ah tidak, tetaplah menjadi Haeri. Aku pergi”.

Kata terakhir itu masih ada dalam benak Haeri. Tak akan dilupakannya. Sampai kapan pun. Haeri, nama itu telah berubah menjadi Ririn dan selamanya seperti itu.

***

“Terimakasih untuk semuanya juga,” ucap Rin sambil memeluk erat lengan Minhyuk.

Inilah keseharian mereka, menikmati semuanya berdua, membiarkan hari demi hari berganti. Berusaha menghilangkan ke egoisan diantara keduanya. Mungkin tidak berdua, mungkin ada satu orang yang tengah menatap mereka sambil tesenyum.

***

“Walaupun terasa sakit, tapi biarkanlah rasa sakit itu. Karena sebuah senyum kebahagiaan akan menyembuhkan hati mu”

 

END

***

Nah, sudah selesai reader. Mian yajelek dan ya endingnya jadi begitu😀 maaf juga lama, saya sibuk dengan dunia pendidikan. Dan pinggang saya juga lagi sakit😥 padahal saya baru 14 tahun ._. baiklah, comment ya.. Jangan menjadi silent reader!😀

6 thoughts on “She’s Come Back [Part 6 + Epilog]

    • benarkah? Mianhae.. saya membuat kesalahan rupanya.. gomawo sdh membaca🙂 nde ditunggu aja.. rencananya saya mau share ff sesuai urutan CNBLUE😀 gomawo udh baca🙂

  1. aaah ririn, akhirnya epilog juga nih. “Walaupun terasa sakit, tapi biarkanlah rasa sakit itu. Karena sebuah senyum kebahagiaan akan menyembuhkan hati mu” aku setuju bgt sama iniii :’)

  2. bagian-bagian terakhir lumayan bikin mikir lama, apa sih maksudnya.. kenapa gini.. nyari korelasi dr part part sebelumnya, banyak lah hehe
    overal bagus sih, keep writing ya, semoga FF selanjutnya lebih menarik..
    oh iya, aku cukup kasihan nih sama minhyuk😦

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s