THE SKY IS EVERYWHERE [2/2]

The Sky is Everywhere

Part 1

Cast : CN Blue’s Yonghwa & Jieun (OC) || Genre : Romance || Length : Twoshot

By yen yen mariti

——

at-the-computer-call-and-find-out-fuck-you-heart-hearts-are-stupid-Favim.com-127140

——

Hari itu Jieun benar-benar tidak datang. Dan Yonghwa mungkin benar; bahwa gadis itu memutuskan untuk berhenti. Hari itu dia menyimpan kotak cincin mereka ke dalam saku celananya dan membawanya pulang ke apartemen kecilnya. Hari itu orangtua Jieun minta maaf berkali-kali, meski Yonghwa tahu mereka tidak punya salah apa pun padanya.

Hari itu, setahun yang lalu.

Kadang-kadang, ketika Yonghwa melamun seraya memandangi keadaan Seoul lewat jendela besar apartemennya, ketika pikirannya kosong dan dia lupa apakah dia benar-benar bernapas atau tidak. Dia mengira saat itu dunia juga akan berhenti sepertinya, tapi pada kenyataannya dunia terus berputar mengelilingi matahari dan siang dan malam terus datang bergantian, dan waktu terus berjalan teratur dan Yonghwa mendapati umurnya bertambah satu tahun dan gadis itu tidak membangunkannya di tengah malam untuk memaksanya meniup lilin yang ditancap di atas kue ulang tahunnya—seperti tahun-tahun yang lalu.

Yonghwa masih bekerja seperti tahun-tahun sebelumnya. Mencoba fokus dan bersikap normal. Biasanya dia menemukan orangtua Jieun saat lari pagi, atau saat minum kopi di jam makan siangnya ataupun di supermarket tempat dia membeli ramen instant setiap minggu. Dan Yonghwa selalu tidak lupa untuk tersenyum, menyapa mereka dan berbicara sedikit basa-basi; mengenai cuaca, kurs mata uang, anjing peliharaan dan apa pun itu ― yang jelas satu pun tidak ada yang menyangkut mengenai Jieun.

Dan akan ada saat-saat Yonghwa bertanya-tanya dalam hati, apakah orangtua Jieun benar-benar merasa bersalah padanya atas aksi kabur anak perempuan mereka tahun lalu. Atau mungkinkah sesungguhnya orangtua Jieun malah bersyukur karena tidak harus menyerahkan anak perempuan mereka untuk hidup bersama seseorang sepertinya di sebuah apartemen kecil dengan anjing malas yang gemuk

dan Yonghwa semakin merasa dirinya hina karena terus menyimpan prasangka-prasangka itu.

Lalu kita beralih pada Jieun. Gadis itu secara tidak sadar telah menjadi seorang traveler sejak pelarian pertamanya satu tahun yang lalu.

Setelah Singapura, Jieun terbang ke Australia seolah-olah dia memang merencanakan itu sejak awal meski otaknya dipenuhi akan wajah Yonghwa dan pernikahan dan janji-janji dan perasaan bersalah. Dan dia juga terbang ke negara-negara lain.

Jieun selalu membawa kameranya ke bagian negara mana pun dia pergi dan akan selalu mengirimkan beberapa foto pada sahabat-sahabatnya—terutama Chanmi dan Yuna—dan orangtuanya, jadi mereka bisa tahu ke mana gadis itu pergi dengan tiket pesawat dan paspornya.

Usianya bertambah satu tahun, juga, seperti Yonghwa. Dia tidak mengharapkan apa-apa saat tanggal ulang tahunnya tiba, tapi orangtuanya menelepon dan Chanmi dan Yuna juga, untuk menyanyikan lagu selamat ulang tahun selama lima belas detik.

Rasanya menyenangkan menjadi Jieun, terbang ke negara ini dan itu. Melakukan apa pun yang dia mau, tidak ada aturan-aturan dan tidak akan ada siapa pun yang bisa menghalanginya. Tapi kadang-kadang, ketika dia terdiam memperhatikan orang-orang di sekitarnya, bergandengan tangan dengan pacar atau pun teman, tertawa dan bertengkar, melakukan interaksi apa pun itu. Jieun tahu jauh di lubuk hatinya dia merasa cemburu pada orang-orang itu — pada orang-orang di seluruh dunia ini.

Dia rindu rumah,

tapi mungkin ada yang lebih dia rindukan lagi.

——

large (3)

Jieun berada di London, tinggal di apartemen mewah milik Yuna. Dia tahu dia sangat beruntung punya sahabat seperti Yuna, sebab dia tidak harus repot-repot mengeluarkan seperser uang pun untuk masalah tempat peristirahatan sementaranya—meskipun uang bukanlah masalah bagi Jieun, sebenarnya.

Yuna adalah tipikal wanita karir yang sukses dan hebat dan semua orang mungkin akan iri padanya. Juga Jieun, gadis itu bisa dibilang iri pada kehidupan Yuna. Bagaimana Yuna hidup bebas tanpa aturan-aturan, tanpa siapa pun yang mengekangnya. Yuna bisa terbang ke negara yang berbeda-beda dalam waktu satu minggu. Tapi sesungguhnya, Jieun merasa kasihan dengan hidup Yuna. Dia sibuk, tidak punya pacar. Tidak ada seorang pun yang memperhatikannya, dia menyedihkan dengan dunianya yang tampak sempurna dari luar.

“Aku melihatnya!” Yuna berseru begitu membuka pintu dan menemukan Jieun memandangi layar komputer dengan wajah yang teraduk dalam banyak ekspresi, sedang menonton salah satu video Yonghwa di saluran YouTube. Dan ini bukan untuk yang pertama kalinya Yuna atau Chanmi memergokinya.

“Tutup mulutmu Yuna!” Jieun menghardik sebal, dan mematikan komputernya lalu melemparkan dirinya ke tempat tidur besar di tengah ruangan.

Yuna ikut melempar tubuhnya di sana. Dan mereka hanyalah dua gadis yang bernapas teratur di atas tempat tidur mahal di dalam kamar apartemen mewah di London. Jieun mencoba menemukan apa saja di langit-langit kamar, meski dia tahu tidak ada satu pun sarang laba-laba di sana. Yuna tidak tahu lagi apa yang bisa dia perbuat selain bernapas selagi dia punya waktu untuk beristirahat seperti sekarang ini.

“Kenapa kau seperti ini, Jieun?” Yuna memulai, suaranya pelan tapi Jieun bisa merasakan napasnya menyentuh lehernya.

“Aku tidak tahu, Yuna.” Dia menggeleng, tetap bernapas, tetap berusaha membaca langit-langit kamar yang dicat putih bersih.

“Kau merindukannya, kau tahu.”

“Aku tidak yakin.”

Yuna mendesah, pelan dan teratur, lalu menarik napas. “Kau hanya tidak punya keberanian untuk mengakui perasaanmu sendiri.”

Tidak—aku tidak tahu. “Dan bagaimana denganmu, Yuna?” Jieun memperhatikan gadis yang berbaring di sebelahnya. Gadis itu mengernyitkan dahi. “Kenapa kau memilih hidup seperti ini?”

Yuna juga tidak tahu. Dia terlalu lama terperangkap dalam kehidupan sempurnanya yang membosankan. “Aku pasti terlihat menyedihkan di matamu, ya kan?”

“Aku—“

“Jangan seperti aku, Jieun. Jika kau mencintainya, maka raihlah dia.”

Tapi Yuna, aku sudah membuangnya dan aku yang membuat keputusan bodoh itu.

——

tsie44

“Kau melamun lagi.”

Yonghwa mendapat teguran dari temannya, Jonghyun. Mereka berada di kafe tak jauh dari kantor. Jam makan siang, dan Jonghyun selalu menemukan Yonghwa duduk menghadap kaca transparan yang memperlihatkan orang-orang yang berlalu lalang di luar.

“Dan kau terlalu perhatian padaku, Jonghyun.”

Jonghyun tertawa pelan dan duduk di samping lelaki itu, menggali sesuatu dari saku celana kerjanya hingga dia menemukan sekotak rokok dan mancis. Hal yang tidak bisa dia tinggalkan ke mana pun dia pergi. “Tertarik?” Jonghyun menyodorkan rokok pada Yonghwa, lelaki itu menggeleng.

“Orang-orang punya cara mereka sendiri untuk melarikan diri dari realitas. Dan yang paling populer selama ini hanya alkohol dan rokok.” Jonghyun mengisap rokoknya pelan, meresapinya dalam-dalam dan Yonghwa bertanya-tanya apakah Jonghyun pernah batuk-batuk saat merokok sebelumnya.

“Aku tidak sedang melarikan diri.”

Jonghyun mengembuskan asap rokoknya, pelan-pelan. Aromanya mengusik hidung Yonghwa. “Oh ya? Selalu kabur saat kencan buta dan selalu melamun saat bekerja maupun di waktu kosong, tidak termasuk?” Jonghyun mengerling jahil padanya.

Setelah Jieun pergi, Yonghwa hancur berantakan. Meski dia tidak pernah mendeskripsikan apa pun pada Jonghyun, tapi lelaki itu sangat cerdik untuk menengok ke dalam mata Yonghwa. Dan Jonghyun dengan lagaknya sebagai ksatria dan teman sejati, mengatur kencan-kencan buta untuk Yonghwa. Mendorong lelaki itu untuk keluar dari bayang-bayang pengantinnya yang hilang dan melanjutkan hidup, dengan gadis lain. Dan bagaimanapun semua itu gagal. Yonghwa akan sering kali kabur saat kencan atau gadis itu yang akan kabur, karena bosan dengan Yonghwa.

“Berhentilah dengan usaha kencan butamu itu Jonghyun. Itu sangat tidak membantu.” Yonghwa berkata kesal.

“Lalu, apa yang dibutuhkan agar kau kembali hidup—maksudku, benar-benar hidup.”

Aspirin, Yonghwa berkata dalam hati. Dia selalu meminum aspirin setiap kali bayangan gadis itu berputar-putar dan menghancurkan otaknya, hatinya dan tulangnya sakit dan dagingnya pedih.

Dia melarikan dirinya dengan cara seperti itu.

“Tidak ada,” Yonghwa berbohong, dan konversasi ini berakhir.

——

tsie55

Sekarang, tutup matamu. Jangan tanya kita akan ke mana, sebab aku tidak tahu dengan pasti di mana ini. Dan kapan tepatnya ini. Kita tidak akan pergi dengan pesawat atau pun mesin waktu. Kita hanya pergi ke suatu tempat dengan ingatan Jieun sebagai kendaraannya.

Di suatu malam, entah itu musim semi atau musim panas—kita tidak perlu memperhatikan ini sedetail itu. Ini hanyalah sebuah malam yang penuh gemerlap, dengan manusia-manusia yang berlomba-lomba memakai pakaian terbaik dan ini adalah malam tolol, dengan manusia-manusia yang berlomba untuk menunjukkan siapa yang lebih jago dalam hal alkohol dan pada akhirnya manusia-manusia itu akan berakhir muntah-muntah di kloset atau terkapar di tengah lantai dansa.

Jadi, Jonghyun adalah seseorang yang punya banyak koneksi, punya teman dari kelas atas sampai kelas paling bawah. Dan dia selalu mendapati tawaran untuk datang ke pesta apa pun dan jarang menolak tawaran itu. Karena dia pikir ada banyak gadis seksi di setiap pesta, ada cukup kotak rokok yang disediakan, ada alkohol kelas tinggi di sana dan di salah satu pesta yang di hadirinya, dia memaksa Yonghwa untuk ikut.

Dan dari sinilah semua hal yang berhubungan dengan Jieun dan Yonghwa dimulai.

Jieun tidak suka berpesta, tapi dia tidak bisa menolak ajakan teman-temannya. Dan malam ini dia merasa konyol, meski beberapa orang terkagum-kagum dengan gaun malamnya atau memuji-muji betapa cantiknya wajah alaminya.

Jieun kabur dari keramaian, dan mengendap-endap menaiki atap gedung tempat orang-orang bepesta. Angin terasa sejuk, jadi menurutmu ini musim semi atau musim panas? Dan dia merasa sedikit lebih baik dengan hanya berdiri di sana dan memperhatikan lampu-lamu kota Seoul yang bersinar dengan angkuhnya.

“Apakah di sana terlalu sesak?” sebuah suara menyentuh telinganya, seorang lelaki dengan kemeja rapi dan jas hitam yang dilepas tersenyum ke arahnya.

“Yep. Kau juga merasakannya kan?”

“Yeah. Tapi sebetulnya, tempat itu tidak sesak. Itu tempat yang sangat luas.”

“Oh ya?” Jieun mencondongkan tubuhnya ke arah lelaki itu. Seakan dia lupa tadi dia merasa terusik dengan kehadiran manusia lain di atas atap ini.

“Kita hanya merasa, kita bukanlah bagian dari mereka.” Yonghwa melanjutkan, tampak santai. Jieun meresapi kata-katanya. Lelaki itu benar, dia tidak pernah merasa menjadi bagian dari setiap pesta yang didatanginya.

“Hey,” Jieun menyapanya. Lelaki itu menoleh. “Apa kau mau kabur ke suatu tempat bersamaku?”

“Wow, kau berani sekali mengajukan pertanyaan itu pada orang asing.” Lelaki itu terkikik, tapi pada akhirnya mereka berangkat dengan mobil Yonghwa, menuruti instruksi gadis itu. Mereka datang ke pantai.

Ombak menghempas batu-batu karang dengan garang, tapi mereka berdua tidak merasa terancam dengan suara-suara kasar itu.

“Aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku mengunjungi pantai.” Yonghwa berbicara. Setelah mereka menyusuri pasir dingin yang menyentuh telapak kaki mereka. Setelah Jieun mengumpulkan kerang-kerang kecil dan setelah mereka mencoba membangun istana pasir namun gagal dihantam ombak.

“Aku juga, dan aku merindukan ini. Ketenangan ini. Aku sering terbangun di tengah malam, dan bahkan aku tidak menemukan ketenangan apa pun. Aku masih bisa mendengar dengungan mesin-mesin kendaraan dan hal yang membisingkan lainnya.”

“Yeah. Ini Seoul, tentu saja begitu.”

Jieun tidak menjawab, tangannya mengusap bahunya. Terasa dingin terkena sentuhan angin pantai. Yonghwa memakaikan jasnya pada gadis itu. Dan mata mereka bertemu. Suara ombak terus mengisi latar belakang, tapi tidak mempengaruhi apa yang mereka lihat dari cahaya mata masing-masing.

Jieun bisa melihat cahaya yang tidak redup dan juga tidak menyilaukan dari mata itu. Dia bisa melihat ketenangan di sana, seperti … sebuah rumah.

Dan Yonghwa menilai Jieun adalah gadis manis dan jujur. Dan mereka cukup memiliki kesamaan. Mereka merasa terasing dari kota sebesar ini, mereka tidak menemukan apa yang semestinya orang-orang dapat. Mereka belum merasa berada di rumah selama ini.

Yonghwa mengantar Jieun pulang, gadis itu masih memakai jas Yonghwa saat keluar dari mobil.

“Hey, coba beritahu aku siapa namamu, wahai lelaki asing yang misterius.” Jieun berkata jenaka dan sinar matanya terlihat lucu.

Yonghwa terkikik. “Yeah. Aku Jung Yonghwa, dan kau … Nona yang juga misterius?”

“Lee Jieun.” Gadis itu berkata. “Ingat itu, namaku Lee Jieun. Lee Ji-Eun.”

“Oke.”

Jieun masuk ke rumahnya dan merangkak ke tempat tidur, Yonghwa mengemudikan mobilnya menuju apartemennya.

Malam itu saat keduanya sudah berada di atas tempat tidur dan siap bertualang ke alam mimpi, keduanya saling mengucapkan nama yang terasa asing dan sekaligus ramah di ujung lidah mereka.

“Lee Jieun. Lee Ji-Eun. Lee Ji Eu-n.” Yonghwa tersenyum sebanyak tujuh belas kali sebelum jatuh tertidur.

“Jung Yonghwa. Jung … Yong … Hwa. Dia Jung Yonghwa.” Lee Jieun merasa nyaman mengucapkan nama itu, dan hatinya berdesir-desir.

Dan mereka tahu, dunia mereka tak kan sama lagi.

——

tsie

Yonghwa berada di Paris.

Ingat ini baik-baik ─ Paris.

Bukan karena alasan pekerjaan, hanya mencoba untuk menenangkan sebagian dari dirinya yang hampir luluh lantak. Dan di sinilah dia, di salah satu kamar hotel murah di kota impian semua orang.

Mereka bilang, Paris adalah kota cinta. Dan Jieun memutuskan kota ini sebagai lokasi bulan madu mereka. Tapi Yonghwa sendirian di sini, tidak membawa apa-apa selain pakaian dan teman-teman pelariannya—rokok, aspirin. Tidak ada cinta, sungguh.

Kota ini menyesakkan. Orang-orang di sini terlalu penuh dengan kebahagiaan. Itu membuat Yonghwa membutuhkan aspirin-nya lagi dan lagi, hingga benda sialan itu habis dan yang tersisa hanyalah kotak rokok pemberian Jonghyun.

Jika kau melihat penampilan lelaki ini, mungkin kau akan berpikir dia adalah Lelaki yang Bangkrut; kaus usang, celana jins lusuh dan sepatu kotor. Ditambah lagi wajahnya yang kusut tak terbaca. Jieun memang meninggalkannya, membuat pernikahan mereka gagal. Tapi ini bukan tentang seberapa banyak kerugian yang ditimbulkan gadis itu, seberapa banyak uang Yonghwa yang hangus. Ini tentang seberapa besar gadis itu mengubah hari Yonghwa—kepribadian lelaki itu. Dia tidak akan pernah menjadi lelaki yang dulu lagi.

Yonghwa menimbang keputusannya; mengirimkan foto Paris pada Jieun.

 

Paris, ingat ini?
Paris, kota impianmu—kota impian kita. Dulu.
Hey, aku di Paris. Kau?

 

Batal. Batal. Batal.

Yonghwa merasa frustasi.

Paris, The City of Love.

Terkirim.

Dia tidak mampu mengisap rokok dan malah membuat paru-parunya sesak. Jadi dia segera mencari bar terdekat. Dia bersumpah hanya kali ini saja.

——

tsie999

Jieun meringkuk di sofa panjang, Yuna memperhatikannya dari seberang.

“Jieun.” Yuna memulai. Gadis itu mendongak. “Mau membicarakan ini?” Yuna bertanya  lembut, penuh pengertian.

“Bukan ide yang bagus.” Jieun berkata.

Yuna beralih dan ikut duduk di sofa bersama Jieun. Memperhatikan baik-baik ekspresi gadis itu. “Kenapa kau selalu menghindar?”

“Aku tidak menghindar Yuna. Aku hanya…”

“Sembunyi?”

“Mungkin.”

“Kenapa?”

Jieun mendesah, memperhatikan selembar foto yang baru saja dia cetak. Foto yang dikirim Yonghwa untuknya. “Karena aku tahu, semua tidak akan sama lagi.”

“Yonghwa masih mencintaimu, Jieun. Percayalah padaku.” Yuna menyentuh bahunya, meremasnya pelan.

“Bagaimana kau bisa begitu yakin. Aku meninggalkannya, menghancurkan segalanya. Aku jahat, dan dia pasti membenciku.” Jieun berkata dengan penuh emosi, dadanya naik turun. Dia merasa marah, bukan pada siapa-siapa. Hanya pada dirinya dan kebodohan yang diciptakannya.

“Dia masih mengirimimu email, ini buktinya.” Yuna menyentuh foto yang digenggam Jieun.

“Hanya sebuah foto,” Jieun tertawa hampa. “Semuanya berubah, dan… kau tahu, hal-hal baik tidak akan terulang untuk kedua kalinya.”

“Jieun, kenapa kau tidak menyusulnya saja ke Paris dan memastikan apakah hatinya masih terbuka untukmu. Itu lebih mudah daripada mendekam seperti tahanan di apartemenku.”

“Oh tidak Yuna, jangan bilang kau mengusirku!”

“Aku memaksa.” Yuna berkacak pinggang, menahan sebuah senyuman. Jieun memandang wajahnya, lalu meraih bahunya.

“Aku akan pergi, menyusulnya. Ini saranmu, dan kuharap ini berhasil. Oke?” Jieun melepas pelukan, membaca sinar wajah Yuna. Gadis itu mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih.” Dan Jieun melesat ke kamarnya, meraih barang-barangnya lalu meluncur ke bandara.

“Semoga berhasil.” Yuna meremas tangan Jieun. Ini sebuah ikatan yang menandakan bahwa mereka berteman—dan lebih daripada itu. Jieun memeluknya sekali lagi, sebelum benar-benar pergi.

——

tsie1

Malam ketiga Yonghwa berada di Paris. Dia akan pulang. Dia tidak bisa kompromi lagi. Kota ini memuakkan, kota ini menghancurkan hatinya lagi dan lagi dan lagi. Kota ini membuatnya tampak seperti Lelaki yang Sangat Kesepian. Kota ini mengolok-olok dirinya.

Yonghwa sudah memanggul ranselnya, berdiri di depan menara Eiffel, bangunan ini tinggi, besar dan kokoh. Dan Yonghwa benci ini, dia terlihat hina di depan bangunan setangguh ini. Orang-orang di sekelilingnya semakin membuatnya muak. Dia hanya butuh aspirin, aspirin, aspirin.

Ketika dia melawan rasa muaknya, ketika dia membuka matanya dan kembali melihat dunia. Sebuah suara menyapanya lembut, namun terdengar ragu. “Hey.” Yonghwa menoleh dan menemukan gadis itu berdiri tiga meter darinya. Tenggorokannya tercekat dan kakinya hampir saja ingin berlari ke arah gadis itu. Tapi dia menahan semuanya.

“Bagaimana kau bisa tahu aku ada di Paris?” Yonghwa bertanya, memperhatikan wajah Jieun. Tidak ada yang berubah, selama setahun terakhir.

“Kau mengirim foto padaku, ingat?”

“Tapi aku tidak menambahkan keterangan lokasiku.”

“Itu bisa menjelaskan, Yonghwa.” Jieun tertawa pelan.

“Oh, ya. Aku lupa IQ-mu melebihi rata-rata.” Dia berkata, seakan melemparkan sindiran. Jieun mengernyitkan dahi.

“Wow, kau terlalu memujiku. Tapi yeah, terima kasih.”

“Yep, tidak masalah.” Yonghwa membalas. Lalu tidak mengatakan apa-apa lagi. Jieun masih berdiri dengan jarak yang sama dan tidak mengatakan apa-apa juga. Orang-orang terus berlalu lalang seolah tidak mengerti bahwa ada reunian tak terduga di sini. Sialan, Yonghwa mengumpat dalam hati.

“Boleh aku mendekat?” Jieun bertanya hati-hati.

“Tidak ada yang melarang.” Jawabnya cuek.

“Oke.” Jieun cepat-cepat melangkah mendekat. “Bisa traktir aku kopi?”

“Maaf, terlalu sulit membeli kopi di sini. Aku tidak bisa bahasa prancis dan koinku juga tidak cukup, omong-omong.”

“Oh,” Jieun mengangguk, seolah-olah apa yang dikatakan Yonghwa bukanlah apa-apa dan dia baik-baik saja mendengarnya. Padahal dia bertanya-tanya, kenapa Yonghwa sedingin ini. Kenapa Yonghwa seakan mengacuhkannya. Kenapa Yonghwa berubah begitu banyak.

“Yonghwa,” Jieun berkata pelan, lelaki itu menoleh sekilas padanya. “Bagaimana menurutmu tentang Paris?”

Yonghwa menerawang sekelilingnya, lalu menjawab. “Tidak ada yang spesial. Dan … bisa dibilang membosankan.”

“Kukira kau menyukainya,” wajah Jieun berubah gusar.

“Tidak juga.”

“Tapi kau menuliskan di email, bahwa ini kota cinta. Ingat?”

“Bukan berarti aku menyukainya.” Yonghwa membantah, tampak terganggu.

“Kata-kata itu menjelaskan bahwa kau menyukainya.”

“Apa ini? Kenapa kita harus meributkan hal ini,” Yonghwa tertawa. Hambar. Jieun memperhatikannya.

Karena, kau ingat, dulu kita berencana akan berbulan madu di sini. Dan kau bilang, itu pasti akan sangat menyenangkan.

“Kau aneh,” Jieun berkata. “Semua orang menyukai Paris. Tapi kau tidak.”

“Jieun, apakah kau tahu kenapa mereka menyukai kota ini?” Jieun menggeleng. “Karena mereka membawa dan menemukan cinta di sini. Mereka punya tujuan dan harapan. Mereka tidak sendirian ataupun menyedihkan. Dan aku tidak termasuk salah satu dari mereka. Itulah kenapa aku tidak menyukai kota ini. Paris seakan-akan mempermainkan aku, mempertontonkan kesedihanku di kerumunan orang-orang yang mempunyai banyak cinta. Kota ini membuatku terlihat semakin menyedihkan.” Yonghwa memandangi wajah gadis itu lagi, matanya yang hitam seakan meremas jantung hatinya. Dia tidak suka ini. Berdiri berhadapan dengan status seperti ini. Seharusnya mereka saling memegang tangan dan bahagia. Ada yang salah di sini, dia berpikir. Ke manapun dia berada, dia masih selalu berada di langit yang sama. Dan dia tidak menemukan kebahagiaan apa pun. Dia menyalahkan segalanya, dia menyalahkan langit dan seluruhnya.

“Yonghwa,” suara Jieun bergetar, matanya perih. Dia bisa melihat sosok yang terluka itu sekarang. Dia ingin berlutut dan minta maaf. Dia ingin memeluk lelaki ini. “Apakah seburuk itu. Apakah setahun ini, kau selalu merasakan kesedihan?”

Tolong jawab ya. Tolong, tolong, tolong.

Ekspresi Yonghwa sudah terkendali. “Tidak selalu.”

Karena Jieun akan mengatakan; aku juga. Aku juga merasakan kesedihan itu sepertimu. Karena aku merindukanmu. Merindukan kita.

Tapi hatinya hancur.

“Omong-omong ini malam terakhirku di sini,” Yonghwa memberitahu, santai.

“Apa?”

“Aku akan pulang.”

“Kapan?” Jieun merasakan jantungnya hampir pecah dan dia hampir gila.

“Sekarang,” Yonghwa melirik jam tangannya. “Kau mau mengantarku ke bandara?” Jieun tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Mereka menaiki taksi dan meluncur ke bandara. Tidak ada percakapan apa pun di dalam taksi.

——

large (1)

Jieun memandang jalanan yang gemerlap di balik jendela mobil. Dia ada di Paris, bersamanya. Otaknya memberitahu. Dia akan pergi, dan kalian akan berpisah lagi, hatinya terombang-ambing. Langit malam tampak gelap saat mereka turun dari taksi. Jieun suka memperhatikan langit entah sejak kapan. Dan selalu bertanya-tanya di mana Yonghwa. Apa yang sedang dilakukan lelaki itu. Apakah mereka akan bertemu lagi. Meski selalu tidak mendapat jawaban.

Suasana di bandara ramai, tapi semua seolah membeku bagi mereka yang duduk berdampingan.

“Apa kabar Bada?” Jieun bertanya sangat pelan, tapi Yonghwa punya pendengaran yang cukup tajam malam ini.

“Tidak ada yang berubah, dia gemuk dan malas dan kuat makan.”

Tapi kau berubah, Yonghwa. “Wow,” Jieun tidak tahu lagi respon apa yang harus diberikannya. “Dan … apa kau masih makan ramen tiap hari?”

“Itu juga tidak akan pernah berubah sampai kapan pun.”

“Oh,” lidahnya terasa terlilit. “Apa pekerjaanmu lancar-lancar saja?”

“Banyak orang mengeluh dan mengataiku payah.”

“Apa? Kau tidak begitu—kau hebat, aku tahu itu.” Jieun berseru. Dia tahu Yonghwa, lelaki itu pekerja keras dan rajin dan semua orang menyukainya. Tapi mungkin saja itu hanyalah sejarah.

“Bahas itu jika kita bertemu lagi, aku harus pulang sekarang. Oke?” Yonghwa berdiri, merapikan kemejanya dan siap-siap pergi meski hatinya tidak. Kau ini pengecut, dia mengatai dirinya sendiri.

Jieun mengekori langkahnya. Belum siap melepaskan lelaki itu.

“Nah Jieun, jadi … kita berpisah di sini.” Yonghwa membalik badan, berbicara pada Jieun. Tidak ada pelukan, tidak ada kecupan. Hanya begini adanya.

“Yonghwa …” Jieun senang melafalkan nama itu. Indah namun adiktif. “Apakah kau tahu seberapa keras aku berjuang setahun terakhir? Apakah kau mengerti apa yang kurasakan, apa yang kupikirkan, apa yang kuinginkan? Aku pergi ke negara ini dan itu, tidak pernah menetap. Aku makan dan minum tiap hari. Aku tertawa dan bersenang-senang. Tapi setiap hari, setidaknya hanya empat jam waktu yang tidak kugunakan untuk memikirkanmu. Bahkan dalam mimpi, aku juga memikirkanmu. Aku tahu ini konyol, tapi aku merindukanmu. Aku tahu aku idiot, aku kekanakan, aku egois atau apalah itu. Tapi Yonghwa, aku benar-benar sadar bahwa aku tidak bisa menyembunyikan ini lagi. Yuna terus mengataiku bodoh karena ini. Aku rindu kau, rindu anjingmu, rindu ramen buatanmu, rindu apa pun yang pernah kita lakukan dulu. Aku sering kali berpikir bahwa perasaanku padamu tidak nyata, rasa rindu ini ilusi. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa menghindarinya. Seperti aku yang tidak bisa bersembunyi dari langit ini. Aku … cinta padamu.” Dada Jieun turun naik. Orang-orang terus berlalu lalang, Yonghwa mematung di tempat. Jieun merasakan perasaan lega merayapinya.

“Kau bicara terlalu banyak,” Yonghwa tertawa pelan. “Tapi terima kasih atas pengakuanmu,” dan tersenyum dengan sangat lebar.

Jieun memiringkan kepalanya, lelaki itu tidak memberikan respon seperti yang dia harapkan. “Apakah semua itu lucu?”

“Bisa dibilang begitu.” Yonghwa tersenyum lagi, dan melirik jam tangannya. “Aku bisa saja terlambat.”

“Kau benar-benar akan pulang?”

“Yeah,” Yonghwa dapat melihat raut kecewa di wajah gadis itu. “Omong-omong, Jieun, aku juga harus mengatakan sesuatu.” Katanya, Jieun mengangguk penuh harap. “Aku sudah katakan padamu kan, orang-orang mengataiku payah setiap hari. Jonghyun selalu memergokiku yang suka melamun. Aku selalu kabur dari keramaian. Aku tiba-tiba benci banyak hal. Ramen tidak lagi terasa enak di lidahku. Aku mengonsumsi aspirin dan rokok akhir-akhir ini. Aku seperti Tolol Idiot yang tidak punya hidup lagi. Aku mudah iri pada orang-orang, aku benci melihat langit, aku selalu menyalahkan apa pun dalam hidupku. Aku selalu lupa mencukur wajahku, aku tidak peduli pada kemeja kusut yang kupakai dan gajiku dipotong. Aku … aku tidak tahu lagi harus menyebut diriku ini apa. Aku kehilangan segalanya, aku kehilangan kau, aku merindukanmu, aku berharap kau bersamaku. Aku tidak pernah segila ini hanya karena seorang perempuan. Dan kau membuatku merasa begitu sakit.” Mata Yonghwa berkaca-kaca, nafasnya berhenti membentur wajah Jieun. Gadis itu tersenyum. Yonghwa melangkah mendekat, menempelkan dahinya pada dahi gadis itu. “Jieun, kau tahu kan, aku sangat mencintaimu,” gadis itu mengangguk pelan, “Jadi, jangan pergi lagi. Oke?”

“O-oke,” Jieun hampir terisak, tapi kemudian dia tertawa. “Aku janji. Aku janji.” Dia berkata dengan bersemangat.

“Kalau begitu, ayo pulang bersamaku.”

“Itu ide yang bagus.” Dia tertawa lagi, Yonghwa juga. Lalu lelaki itu menempelkan bibirnya pada dahi gadis itu. Utuk sepersekian detik, yang mereka rasakan hanyalah kebahagiaan.

Tidak perlu cincin atau apa pun untuk mengikat perasaan bahagia ini agar kekal. Mereka tahu, kali ini akan selamanya. Dan kali ini tidak ada yang salah.

[the end]

nah akhirnya beres juga. nulis ff bersambung ternyata susah yaa :’) tapi lain kali saya bakalan nulis yang bersambung lagi muehehe. terima kasih yang sudah membaca dan meninggalkan jejak. maaf kalau ceritanya mengecewakan dan (juga) tidak romantis! haha.

TSIE9999

13 thoughts on “THE SKY IS EVERYWHERE [2/2]

    • iyaa saya juga ngerasa ff ini awkward hehe. karena paris adalah kota cinta, makanya saya sengaja pilih kota ini🙂
      makasih sudah baca sampai akhir😀

  1. Wow.. menurutku ini romantis, layaknya seperti membaca novel terjemahan yang biasa aku baca.. Aku sedikit ga percaya sama jonghyun yg mengonsumsi rokok hehehe walaupun ini cuma fiksi, aku serasa ada di antara mereka berdua -Yonghwa & Jieun- dan andai aku pny sepuluh jempol, akan ku berikan semuanya untuk ff ini😀

  2. akhirnya ada juga part 2 nya. Beda dari perkiraan pertama aku yang aku kira Jieun bakal dateng dihari pernikahan mereka, ternyata jalan CEritanya jauh berbeda. Tapi ini bagus, entah kenapa suka sama conversation Yonghwa sama Jieun pas pertama kali mereka ketemu lagi di perancis sama convo pas yonghwa mau pulang di bandara. Keren!! Good job, Yen😀

  3. ga ngerti sama chanmi dan yuna, udah menghancurkan rencana orang tp nyuruh2 ji eun buat ngejar yonghwa lagi.
    Suka sama bahasanya, ceritanya bagus tp sebel sama beberapa karakter tokohnya tp bnrn bagus ceritanya🙂

    • nana sebetulnya chanmi dan yuna bukannya menghancurkan hubungan yonghwa & jieun. mereka hanya ngasih pencerahan. dan chanmi juga sudah minta maaf sama yonghwa. mungkin saya ga berhasil bikin reader nangkep kali ya hehe…
      tapi makasih sudah baca sampai akhir😀

  4. waah ff bersambung pertama selesai hehehe congrats dulu de🙂🙂
    tumben dibikin happy ending ? aku kira endingnya seperti biasa hehehe
    like always lah , bahasanya aku suka … tp kyanya banyak bgt pake kata “dan” ya ? *correct me if I wrong
    aku agak ga ngerti sama conversasi awal mereka yg di salah satu party itu .. kenapa mereka ga saling kenal ?? -_-
    by the way over all kereeen … suka bgt sama conversasi akhir mereka yg di bandara ♥♥♥♥
    ditunggu ff brikutnya🙂🙂

    • haha, dari awal emang niat bikin happy ending sih. ntar kalo angst banyak yang protes wkwk. btw aku terobsesi sama novel terjemahan yang pernah kubaca, dan memang banyak sekali menggunakan ‘dan’, itu dilakukan secara sengaja hehe.
      dan….makasih sudah baca sampai akhir😀

  5. adegan pertemuan pertama jieun-yonghwa di atap setelah berlari dari keramaian agak sedikit ngingetin aku sama pertemuan louis-lyla di augush rush, hehe, ditunggu tulisan selanjutnya yen😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s