SHELTER

SHELTER

cnblue/snsd; lee jonghyun/im yoona ─ angst ─ ficlet

Seribu tembakan tidak akan mampu membunuh memorinya.

by yen yen mariti

 

large (3). 

***

 

 

“Jangan ke sana!” seseorang membentaknya. Mungkin Ibunya, atau kakaknya—dia benar-benar tidak memedulikannya.

“Kubilang jangan ke sana!” suara itu terdengar lagi. Lebih nyaring, garang dan mengancam. Tapi dia sungguh tidak peduli. Kakinya terburu-buru menuju kobaran api, matanya hampir terbakar air mata. “Im Yoona!”

“Aku harus menolongnya.” Dia berkata, tetap melangkahkan kaki, tetap berani meski seluruh tubuhnya bergetar. Orang-orang terus berlarian di sekitar mereka, teriakan panik terus terdengar. Suara tangisan memekakkan telinga dan rintihan sakit menyayat hati.

Gadis itu melangkah tergopoh-gopoh ke tengah daratan luas itu. Api terus menjilat rumput kering. Angin tidak berembus sama sekali. Keringatnya bercucuran. “Kau bisa lihat aku?” dia menyentuh pipi lelaki yang terbaring tak berdaya. Bahunya penuh darah. “Tidak apa-apa, kau akan baik-baik saja.” Lelaki itu hanya mengangguk kecil. Tidak ada senyum segaris pun. Dia hanya membiarkan gadis itu memapahnya.

“Bertahan, kau pasti bisa.” Dia kembali berkata pada lelaki itu ketika membersihkan luka di bahunya. Lelaki itu mengangguk lagi. Kali ini begitu lemah dan napasnya terasa begitu halus di kulit gadis itu. Matanya memperhatikan gerak-gerik sang gadis, mempelajari bagaimana mata indah itu berkedip. Dia terus melakukannya hingga bunyi ledakan terdengar lagi.

“Ssst … tidak apa-apa, semua baik-baik saja. Tidur sekarang, oke?” suara gadis itu menghipnotisnya, seperti sebuah lullaby yang menyenangkan. Matanya pelan-pelan tertutup. Gadis itu memainkan rambut hitamnya yang dipotong sangat pendek, menggumamkan lagu nina bobo versinya. Dan lelaki itu tidur dengan sangat lelap.

 

 

***

 

Jonghyun selalu terbangun dengan mimpi yang sama di pagi hari. Suara tembakan, panasnya api, tangisan kawan-kawan yang ingin menyerah. Semua itu tidak pernah meninggalkannya.

Dia akan melakukan aktivitas yang sama setiap harinya. Mandi, sarapan, nonton tv, membaca dan berbincang jika ada seseorang yang mengajaknya.

Dia memperhatikan pantulannya di kaca kamar mandi. Ada bekas jahitan di lengan kirinya, bekas tembakan bertahun-tahun yang lalu. Dan luka bakar di bahunya yang sudah lebih mengecil daripada pertama kali dia mendapatnya.

Luka-luka itu sudah sepenuhnya sembuh, dan Jonghyun tidak pernah lagi merintih ataupun menangis karena menahan perihnya. Tapi bukan itu masalahnya. Tubuhnya memang tidak pernah lagi merasakan darah dan daging yang amis. Namun setiap kali matanya menemukan luka itu di tubuhnya, hatinya mengejang. Dia butuh obat penenang, sebagaimana yang biasa para tentara lain inginkan.

 

Jonghyun mendapat satu telepon pagi itu. Dari Yonghwa, satu dari sebagian kecil teman militernya yang selamat.

“Kau masih merasakannya?” Jonghyun bertanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.

“Aku akan selalu merasakannya seumur hidupku. Aku tidak utuh lagi, ingat?” Yonghwa tertawa pelan di ujung sana. Kakinya tertembak, dan kini dia bukanlah lelaki normal lagi.

“Tidak apa-apa, ayo kita lihat sisi positifnya. Orang-orang terus mengenalmu sebagai pahlawan perang.”

Yonghwa tertawa lagi, “Yeah, pahlawan perang yang menyelamatkan teman-temannya dari ranjau. Pahlawan perang yang benar-benar hebat.”  Yonghwa sudah cukup tua tahun  ini. Tapi dia—jonghyun juga—belum menikah. Sebelum perang sebagian gadis di desanya menginginkannya untuk dijadikan suami. Lalu perang datang dan dia harus membuang jauh-jauh keinginan untuk berkeluarga. Karena dia tahu, nyawa tidak berharga saat itu. Tebas dan mati. Tembak dan tamat. Begitu saja.

“Nah, begitu.” Segaris senyum terukir di bibir Jonghyun. Perang berakhir dan mereka pulang ke kampung halaman. Tidak ada yang baik-baik saja. Tidak ada orang di rumah, dan selama apa pun mereka menunggu, anggota keluarga yang lain tidak kunjung pulang.

“Kita semua tahu ini sulit. Meski sekarang perang sudah berakhir dan Negara aman, kau dan aku tetap selalu merasa dalam bahaya. Tapi Jonghyun, tidak ada yang peduli akan ketakutan kita. Lagipula, ketakutan kita tidak nyata. Dengar, kita sudah terbebas dari perang sialan dan ranjau-ranjau brengsek itu. Saatnya  menikmati hidup, oke?”

“Oke hyung.” Jonghyun menjawab dan percakapan mereka berakhir.

 

 

***

 

“Jangan datang lagi.” Jonghyun berpesan pada Yoona.  Gadis itu mendongak, menatap wajahnya.

“Kenapa?”

“Ibu atau Kakakmu akan marah besar jika mengetahui ini.”

“Tidak akan ada yang tahu, sungguh.” Kata Yoona. Bulu-bulu mantel murahnya menyentuh kulit tangan Jonghyun. Tapi lelaki itu tidak akan pernah berani untuk mengenggam tangannya.  Ini seperti kisah Romeo dan Juliet. Mereka mencintai seseorang yang tidak harus mereka cintai. Mereka membuat janji dan bertemu secara sembunyi-sembunyi. Tapi bedanya, tidak ada kata cinta, tidak ada pelukan, tidak ada satu kecupan manis pun yang mereka buat. Hanya duduk di gubuk kecil tak berpenghuni, bersembunyi dari perbatasan.

“Dan ini berbahaya bagi keselamatanmu.”

“Tidak Jonghyun, aku baik-baik saja selama ini.”

Jonghyun menahan kepalan tangannya, buku-bukunya memutih. Salju sudah turun sejak seminggu yang lalu. Tapi hebatnya, api masih berkobar di mana-mana.  “Tapi tetap saja kita tidak bisa seperti ini lagi.” Dia menekan kata-katanya begitu dalam, berharap gadis itu mengerti.

“Apa yang salah?” Yoona mengernyitkan dahinya, meminta penjelasan, mengharapkan pelukan sekaligus. Hubungan ini tidak punya nama apa pun. Hanya antara seorang perempuan dan lelaki yang sering bertemu di tempat yang tak mungkin manusia jangkau. Kadang mereka hanya saling terdiam di gubuk kecil itu sambil mendengar suara napas mereka yang terdengar lelah.

Jonghyun meraih rokok dari seragam militernya, menyulutnya dengan api dan melipat benda itu di antara bibirnya yang kering dan pucat. Dia tidak merokok sebelumnya, tapi militer perlahan-lahan merubahnya. Ada sebagian temannya yang merokok dan minum alkohol karena gengsi, ada juga karena alasan ketagihan, ada pula alasan untuk bertahan diri. Kau tahu, ada bermilyaran nyamuk yang berkeliaran di malam hari, dan untuk mengusirnya mereka menggunakan asap rokok. Lalu ada beberapa yang putus asa, merasa tidak punya harapan untuk hidup. Jadi mereka berpikir rokok bisa merenggut paru-parunya perlahan dan alkohol akan membakar jantungnya hingga mati.

Kadang Jonghyun merokok karena rasa putus asa. Dia kesepian dan rindu rumah. Tapi nyamuk juga jadi alasannya, lagipula.

“Katakan, apa yang salah?” Yoona bertahan, masih mendesak. Matanya tidak berkedip dan Jonghyun pikir itu bisa membunuhnya.

Jonghyun mengembuskan asap rokoknya, dia tidak batuk lagi sekarang. “Karena kau Utara dan aku Selatan. Karena kalian benci kami dan kami benci kalian. Apakah itu kurang jelas, Yoona?” tatapannya tajam, menusuk mata gadis itu. Jantungnya hampir berhenti berdetak, hari ini terlalu dingin dan dia muak melihat salju yang tidak berhasil memadamkan api.

“Jonghyun,” Yoona berkata tenang, membalas tatapan garang Jonghyun dengan lembut. “Aku tidak peduli kau Utara atau Selatan, orang-orangmu membenci orang-orang kami atau tidak. Aku akan tetap selalu mencintaimu. Cinta ini milik semua orang, dan kita bebas memilikinya. Jangan biarkan mereka merenggutmu dari cinta. Ingat itu.” Yoona menyentuh bahu Jonghyun dengan tangan kecilnya. Luka bakar setahun yang lalu, yang menghubungkannya dengan Jonghyun, satu-satunya jejak yang memberitahu bahwa mereka pernah bersama. Lalu dia bangkit, mengancingkan mantelnya, memakai kembali tudungnya dan berjalan keluar dari gubuk.

Jonghyun menyandarkan kepalanya di dinding gubuk, mencoba bernapas. Tarik, buang, tarik dan buang lagi. Tiba-tiba asap rokok membuatnya semakin sesak. Dia butuh obat penenang sekarang.  Matanya mengintip dari celah kecil dari dalam gubuk, gadis itu mengendap-endap di semak-semak yang sudah mati. Lalu merangkak ke bawah pagar yang tidak dialiri listrik. Kakinya melangkah pelan, namun semakin jauh dari Jonghyun. Lelaki itu tidak mengalihkan pandangannya. Dan berbunyi klik, dari sana. Dalam hitungan detik Jonghyun bisa melihat darah dan daging terlempar di udara.

Jonghyun tahu, sesungguhnya dia tidak pernah benar-benar menginginkan gadis itu untuk pergi.

 

End.

 

maafkan saya kali ini bikin sad ending lagi. dan maaf kayaknya saya bakalan hiatus panjang. sampai ketemu di cerita yang lainnya🙂

19 thoughts on “SHELTER

  1. Wow… Endingnya bener2 buat jantungan…
    Tapi kereeeen…
    Seperti biasa, aku selalu suka ceritamu dan gaya bahasamu yang sangat beda itu
    Sedih karena author hiatus. Tapi gapapa. Semoga saat come back nanti, bisa menciptakan cerita yg lebih luar biasa lagi…🙂

  2. whoaaaa ini keren bgt…tp knp klo buka blog ini ff jonghyun-yoona sllu sad ending???
    ngesot tak berdaya *lebay
    tp overall, aku suka idenya, suka gaya bhsnya dan ehm suka jonghyunnya kakakaka~~

  3. Waaaah angst lagi ? pas bgt sama suasana hati pas lg baca *curhat hahaha

    alwaysss like it. ♥♥♥

    Yang serius belajarnya yaaaa😉 bakalan kangen bgt sama author yg satu ini :)))) ({})

    • masih galaukah anda? wkwk
      hiatus bukan karena belajar sih… cuma saya punya banyak kegiatan sama teman-teman. karena berhubung ini tahun terakhir di sekolah, jadi lebih banyak ngabisin waktu sama teman-teman. btw thanks for reading. 🙂

  4. howa.. tragisnya😥 Jonghyun kyk anggota angkatan perang pelajar yg wktu korea utara sama selatan perang, kyk di NET TV, seru bgt thor.. Wah, hiatus ya? Aku ga tega ngelepasin author😥

  5. Yahhh gimna toh..msa yoong mati..aigooo
    ko hiatus thor.. ntar gda yg bkin ff deerburning lgi donk.. sapa ajah sih author deerburning dsni..

  6. ah sad ending,..paling menghindari sebener ny..tapi mau gimana..cerita ny bagus..dan aku suka Deerburning..
    Aku baru gabung disini ko Author hiatus…yah sedih..
    Tapi tetap semangat yah..Fighting!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s