Seoul Night Life [Part 4]

Seoul night life

 

Author: Hanna Moran

Rating: PG17

Genre: romance, family, Friendship

Length: chaptered

Cast:

– Kang Minhyuk CNBLUE

-CL/Chaerin 2NE1

Other cast:

– Junhyung Beast

Desclaimer: Inspired by some western movie

Note: [Part1] [Part 2] [Part 3]

*****

Untuk anakku, Minhyuk

 

Minhyuk, Omma menulis surat ini disisa-sisa hidup Omma. Penyakit ini menggerogoti tubuh Omma semakin parah setiap hari, Omma takut tak punya cukup waktu untuk bersama denganmu, jadi Omma membuat surat ini.

Kau anak yang sangat baik, Minhyuk. Omma sangat menyayangimu, kau anak yang membanggakan walaupun kadang Omma kesal dengan kebiasaan berpesta dan berganti-ganti pacar, tapi kau tetap anak Omma yang paling Omma sayangi.

Setiap kali Omma melihatmu, Omma selalu merasa tidak tenang. Puluhan tahun Omma seperti dihantui oleh pikiran Omma sendiri. Omma yakin kau juga pasti punya banyak pertanyaan dalam hatimu yang ingin kau sampaikan pada Omma, tapi kau tidak bisa menemukan cara yang tepat untuk menanyakannya. Omma bisa melihatnya dari matamu setiap hari, jadi Omma pikir inilah saat yang tepat untuk memberitahumu jawaban dari semua pertanyaan yang tidak pernah keluar dari mulutmu.

Kau pasti bertanya, siapa Song Il yang sekarang kau panggil dengan sebutan aboji? Laki-laki yang tiba-tiba harus kau patuhi, juga laki-laki yang mau menerimamu dengan baik sebagai anak tirinya. Song Il adalah teman sepermainan Omma saat kami masih kecil, dia bilang Omma adalah cinta pertamanya, dan hingga sekarang Omma tetap menjadi cintanya.

Kau juga pasti bertanya kenapa kami bisa berakhir bersama, iyakan? Kau pasti ingat saat-saat kita terpuruk, saat Omma kehilangan Appa mu, saat Omma harus berjuang untuk hidup kita? Omma nyaris putus asa, Omma sudah tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat kita tetap hidup. Tapi Abojimu datang dan membantu, kau ingat saat selama sebulan penuh ada saja orang yang datang kerumah kumuh kita dan memberikan makanan lezat pada kita, kau tahu? Abojimu yang melakukannya, ia menyuruh anak buahnya bergantian setiap hari untuk memberikan makanan yang ia beli untuk kita. Sampai saat Omma memergokinya, Omma marah padannya, tapi apa yang ia katakan? Ia melakukannya untukmu, Minhyuk. Ia mengetahui kondisi kita saat itu, Ia bilang ia masih mencintai Omma, ia selalu menunggu Omma hingga ia belum berani melirik wanita lain selain Omma, saat Omma bilang Omma sudah punya anak, ia tak mempermasalahkannya, ia bahkan bilang ia sudah menyayangimu bahkan sebelum kalian sempat bertemu. Ia ingin menjadi ayahmu, ia ingin membahagiakanmu dan Omma, jadi Omma terima ajakannya untuk menikah, itu untukmu Minhyuk. Agar kau hidup layak, agar kau juga bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Walaupun awalnya kau sering tak suka saat Aboji terkesan galak dan tegas, ia hanya ingin mengajarimu menjadi seorang laki-laki yang tangguh, hal yang memang seharusnya diajarkan seorang ayah pada anak laki-lakinya.

Kau juga pasti bertanya apa Omma bahagia dengan Abojimu? Ya, Omma bahagia, Omma bahagia untukmu Minhyuk.

Kau pasti bertanya kenapa Appa kandungmu meninggalkan kita tiba-tiba. Itu salah Omma yang tidak bisa menjadi istri yang baik, Omma sering mengecewakan Appamu, Omma sering melarangnya keluar malam untuk minum-minum, Omma sering melarangnya berjudi hingga ia memilih meninggalkan kita dan memulai hidup barunya dengan perempuan lain yang lebih cantik dan lebih menarik dari Omma. Sekarang kau tahu kenapa Omma tak pernah melarangmu berpesta dan bersenang-senang? Walaupun Omma tahu itu salah, tapi Omma tak mau kehilanganmu, seperti Omma kehilangan Appa.

Kau juga pasti bertanya, di mana Appa kandungmu. Maaf, Omma tak bisa menjawabnya, karena Omma tak tahu dimana ia sekarang. Sekali lagi Omma minta maaf. Tapi bisakah Omma minta tolong padamu? Mungkin Omma tak punya cukup waktu untuk mencaritahu keberadaan Appamu, Minhyuk. Kalaupun Omma tahu dan masih memiliki waktu untuk bertemu dengannya, Omma mungkin tidak cukup berani. Tapi kau anak laki-laki yang Omma banggakan, kau pasti bisa menemukan Appamu. Aboji pasti akan membantumu, menemukannya.

Jika kau sudah menemukannya, katakan kalau kau adalah anaknya. Ia pasti masih mengingatmu, kalian sangat mirip. Katakan dengan halus, kalau kau menyayanginya, juga katakan kalau Omma sudah memaafkannya sejak pertama kali ia meninggalkan kita, juga katakan Omma masih mencintainya, masih sangat mencintainya, cinta Omma tak pernah berkurang sedikitpun untuknya, katakan itu padanya Minhyuk.

Terima Kasih banyak, sayang. Terima aksih kau sudah mau merawat Omma, sudah mau ada disisi Omma. Omma bahagia sekarang, jalani hidupmu dengan baik. Hormati Aboji, sayangi dia seperti kau menyayangi Omma dan juga sayangi Appamu, maafkan semua kesalahannya. Omma percaya padamu, Minhyuk. Omma sayang padamu.

 

****

Minhyuk meremas ujung kertas dalam gengamannya, dan ia menatap sebuah rumah bergaya hanok , rumah tradisional Korea yang terlihat tidak terlalu terurus, catnya yang mulai mengelupas dibanyak sisi, juga rumput liar yang mulai meninggi dihalamannya. Minhyuk masih diam didalam mobilnya, 3 jam yang lalu saat matahari sudah terbit Minhyuk menemukan rumah itu dari alamat yang diberikan asisten Song Il saat Minhyuk meninggalkan rumah Song Il, ia yakin alamat itu adalah alamat Ayah kandungnya. Rumah itu terletak disebuah desa yang dikelilingi sawah, desa itu berjarak 5 jam dari jantung kota Seoul.

Minhyuk masih menerka-nerka apa yang akan terjadi jika ia bertemu dengan ayahnya nanti?

Wajah Minhyuk terlihat kelelahan setelah tak tidur semalam karena terus mengemudi. Saat Minhyuk hendak menyandarkan tubuhnya sebentar, pintu pagar rumah sederhana itu terbuka, seorang gadis desa dengan pakaian sederhana, dengan rambut panjang terurai muncul. Gadis itu tampak memperhatikan mobil Minhyuk. Jelas saja, pemandangan sangat langka melihat mobil mewah di desa yang agak terpencil seperti itu, ditempat yang mayoritas penduduknya hanya memiliki mobil untuk mengangkut hasil panen ke kota. Minhyuk sadar gadis itu sedang memperhatikan mobilnya, dan gadis itu pasti bertanya-tanya siapa orang didalamnya karena kaca mobil yang hitam gelap. Akhirnya Minhyuk menurunkan kaca mobilnya.

“Oh, maaf aku tidak sopan menatap mobilmu seperti itu” Gadis itu agak terlonjak kaget. Minhyuk hanya tersenyum singkat.

“Apa ini benar rumah tuan Kang Min Joon?” Tanya Minhyuk. Gadis itu mengangguk.

“Benar, kau pasti Kang Minhyuk, kan?” Tanya gadis itu membuat Minhyuk heran.

“Dari mana kau tahu aku?”

“Beberapa hari yang lalu, beberapa orang dengan setelan jas hitam datang kemari, mereka bilang akan ada seorang laki-laki yang datang mencari ayahku”

“Ayah? Ayahmu?” Minhyuk mulai mengerti, pasti anak buah Song Il sudah kemari lebih dahulu.

“Bagaimana kalau kau masuk dulu, kita bicara didalam supaya lebih nyaman?” Ajak gadis itu, Minhyukpun mengikuti gadis itu masuk kedalam pekarangan rumah. Gadis itu mempersilakan Minhyuk duduk diatas sebuah kursi yang berhadapan dengan sebuah meja. Sementara gadis itu menyiapkan segelas teh hangat untuk Minhyuk, Minhyuk memperhatikan seisi rumah.

“Namaku Kang Sanmi, Aku adalah adik tirimu” Gadis itu memperkenalkan siapa dirinya, Minhyuk agak kaget mengetahui kenyataan kalau ia memiliki seorang adik tiri perempuan. Satu fakta baru yang Minhyuk ketahui dan Minhyuk tak suka dengan fakta itu.

“Dimana Appaku?” Tanya Minhyuk, gadis itu memandang sebuah pintu yang berada tepat dibelakang Minhyuk.

“Appa masih tidur, mungkin sebentar lagi ia akan bangun. Kau bisa menemuinya nanti” Minhyuk mengangguk.

“Ibumu, dimana dia?” Tanya Minhyuk saat menyadari tak ada orang lain dirumah itu selain Sanmi dan Appanya yang masih ada dikamar”

“Ommaku sudah meninggal saat melahirkan aku. Ommaku yang membuat Appa meninggalkanmu” Ada senyum getir disela pembicaraan Sanmi.

“Aku tahu cukup banyak hal tentang keluargamu, aku minta maaf karena ibuku keluargamu menjadi tak utuh lagi” Minhyuk tak tahu harus membalas apa, ia sendiri masih terlalu asing dengan banyak fakta baru yang ia temui.

Tak lama terdengar suara berat seorang pria terbatuk dari dalam kamar, Sanmi segera bangkit dan membuka pintu itu, Minhyuk hendak melongok saat pintu itu tertutup. Minhyuk kembali menekuni gelas tehnya, ia tak tahu apa yang membawanya sejauh ini selain surat dari ibunya. Minhyuk tak benar-benar tahu tujuannya.

“Minhyuk-ssi…” Suara Sanmi mengalihkan pikiran Minhyuk.

“Appa sudah bangun, kau bisa menemuinya sekarang” Minhyuk bangkit dari duduknya, ia masuk kedalam sebuah kamar. Sunhee keluar dari ruangan dan menutup pintu, membiarkan anak dan ayah yang lama tak berjumpa itu melakukan reuni mereka hanya berdua.

Seorang laki-laki tengah duduk disebuah kursi roda, membelakangi Minhyuk. Tubuh laki-laki itu masih terlihat bugar walaupun ia hanya bisa duduk dikursi roda. Perlahan Minhyuk mendekat, wajah laki-laki itu semakin jelas, wajah yang maish sama dengan laki-laki yang selalu memeluknya dan tersenyum padanya belasan tahun lalu, wajah ayah kandungnya tak berubah, hanya keriput dan guratan usia yang bertambah.

“Kang Minhyuk…” Laki-laki itu memanggil Minhyuk, Minhyuk terdiam ditempat, ia mengamati ayah kandungnya yang kini tengah tersenyum, seperti tak memiliki kesalahan apapun padanya. Rasa benci dan tak suka merambati hati Minhyuk. Bayangan kesengsaraan yang ia dan ibunya hadapai saat laki-laki dihadapannya pergi tanpa kabar terbayang lagi di pikiranya.

“Kenapa kau dikursi roda? Ada apa denganmu?” Lidah Minhyuk enggan memanggil laki-laki itu dengan sebutan Appa.

“Aku sakit nak, terkena serangan stroke mendadak yang membuatku lumpuh”

“Kau pantas mendapatkannya sebagai hukuman” kata Minhyuk pedas.

“Kang Minhyuk, kemarilah, Appa sangat merindukanmu, apa kau tidak merindukan Appa?”

“Tidak, aku tidak pernah merindukan ayah sepertimu”

“Minhyuk, maafkan Appa. Maafkan kesalahan Appa padamu dan Ibumu, Appa sungguh menyesal”

“Kau tidak menyesal, kau tidak mencari kami, kau tidak berusaha meminta maaf pada kami. Kau tak mencari kami” Raut wajah kecewa jelas tergambar di wajah Minhyuk.

“Appa mengerti kau tak bisa menerima permintaan maafku, tapi tolong sampaikan penyesalanku pada ibumu”

“Terlambat, sudah sangat terlambat. Omma sudah meninggal 4 tahun lalu karena kanker” Ayah kandung Minhyuk terdiam.

“Sunhae? Sunhae sudah meninggal?” Laki-laki itu tampak tak percaya.

“Kau pasti sangat menyesal sekarang, kau terlambat mengucapkan permintaan maafmu pada Omma” Laki-laki itu tertunduk. Minhyuk tahu laki-laki itu sedang bersedih sekarang, tapi rasa benci Minhyuk tak bisa dibendung begitu saja. Minhyuk menyerahkan surat yang ibunya berikan padanya, dengan gemetar tangan ayah akndung Minhyuk mengambilnya, dan laki-laki itu mulai membacanya. Diakhir surat, laki-laki itu meneteskan air matanya.

“Sunhee-ya… kenapa kau pergi begitu saja…Sunhee ya bahkan kita tak sempat bertemu, aku tak punya waktu untuk meminta maaf padamu… Sunhee ya kenapa semua jadi seperti ini?” Tanya laki-laki itu lirik sambil memeluk kertas yang mulai kucal.

“Kau puas sekarang? Kau meninggalkan kami begitu saja, demi seorang wanita penghibur, demi hal yang kau bilang kebebasan. Kau meninggalkan aku dan Omma. Kau menghancurkan hidup kami dan setelah bertahun-tahun aku menemukanmu yang bisa kau lakukan hanya menangis dan memohon maaf saja? Manusia macam apa kau?” Tanya Minhyuk geram.

“Kang Minhyuk… apa ini cara yang kau pakai untuk berbicara pada ayah kandungmu?”

“Ayah kandung? Kau tau aku sudah menganggap ayah kandungku sudah mati sejak kau meninggalkan kami.  Aku tak mau jadi anak kandung mu”

“Lalu kenapa kau kemari dan menemuiku?” Laki-laki yang duduk di kursi roda itu menaikan nada suaranya, emosinya tersulut oleh kata-kata kasar Minhyuk.

“Kau baca sendiri disurat tadi, aku hanya ingin menyampaikan pesan Omma kalau dia masih mencintaimu. Aku sendiri bingung apa lagi yang Omma masih harapkan dari laki-laki sepertimu? Omma terlalu baik untuk menerima pecundang sepertimu dihidupnya”

“Kang Minhyuk!!!” Laki-laki itu membentak, tapi tak sedikitpun membuat Minhyuk takut.

“Apa yang akan kau lakukan? Kau ingin memukulku? Pukul aku! Kau ingin menamparku? Tampar aku, bahkan jika kau ingin membunuhku, kau boleh melakukannya” Tantang Minhyuk.

“Kang Minhyuk, aku ayahmu. Kau seharusnya menghormatiku”

“Sudah ku katakan ayahku sudah mati!! Yang ada dihadapanku hanya laki-laki yang memuakkan. Aku takan pernah jadi sepertimu!! Aku benci terlalu lama ada disini, aku akan pergi. Anggap saja kita tak pernah bertemu, jangan anggap aku anakku lagi mulai hari ini” Minhyuk meninggalkan ruangan itu, tapi laki-laki itu mengejarnya, ia memutar kursi rodanya dan mendorong rodanya dengan tangannya, tapi kursi roda itu oleng dan laki-laki itu terjatuh. Minhyuk hanya membalikan tubuhnya sedikit, tak berniat membantu laki-laki itu berdiri. Minhyuk membuka pintu ruangan dan membantingnya.

“Kang minhyuk-ssi…” Sanmi yang tengah duduk di ruang tamu dengan wajah cemas karena mendengar teriakan dari dalam kamar menghampiri Minhyuk tapi Minhyuk menerobosnya hingga Sanmi hampir terjatuh.

“Pria tua itu butuh bantuanmu” Kata Minhyuk sebelum ia benar-benar keluar dari rumah sederhana itu.

 

***

Minhyuk tengah duduk diantara kepulan asap yang ia hembuskan dari mulutnya. Setelah bertahun-tahun tak pernah lagi menyentuh sebatangpun rokok, tapi kali ini dalam hitungan jam Minhyuk sudah menghabiskan setengah isi kotak rokok. Selain itu banyak botol-botol minuman tergeletak diatas meja.

Bagian bawah mata Minhyuk menghitam, rambutnya berantakan, Minhyuk hanya mengenakan celana olah raga panjang, dan hanya kaus tipis tanpa lengan yang membalut tubuh bagian atasnya. Ia duduk bersandar dengan memejamkan mata, sesekali tangannya menyelipkan batang rokok dibibirnya dan menghisapnya, lalu mengepulkan asapnya.

Minhyuk tak sedang tertidur, tentu saja. Minhyuk bahkan lupa bagaimana caranya tidur sejak 4 hari lalu. Ia selalu menemui mimpi buruk. Bertemu dengan ayah kandungnya adalah mimpi buruk bagi Minhyuk. Terlebih ia harus melihat keadaan tak berdaya seseorang yang telah ia anggap meninggal didepan matanya, dan laki-laki itu juga memohon maaf dari Minhyuk adalah suatu siksaan yang lain bagi Minhyuk.

Minhyuk menekan puntung rokoknya hingga bara apinya padam, lalu ia mengambil sebatang lagi dan menyelipkannya dibibirnya, ia menyulutnya dengan api dan kembali terlarut dalam pikiran kacaunya, penampilan Minhyuk juga sangat kacau, rabut acak-acakan  dan wajah kuyu. Semua orang yang melihatnya pasti akan merasa iba dan kasihan.

Ditengah diamnya, Minhyuk terusik oleh dering ponselnya, dengan asal Minhyuk mengambil ponselnya.

“Yoboseo…”

“Kang Minhyuk, kau dimana? Kenapa kau juga ikut menghilang?” Terdengar suara Junhyung diantara suara berisik dentuman lagu khas club malam langganan Minhyuk.

“Aku sedang tidak ingin diganggu siapapun”

“Kau kenapa? Aku menemukan dimana Chaerin saat ini” Minhyuk mengernyit, masalah ayah kandungnya telah membuat Minhyuk melupakan masalahnya dengan Chaerin, masalahnya dengan Chaerin kembali muncul dipikiran Minhyuk dan membuat otak Minhyuk semakin sesak.

“Maaf, aku sedang tidak ingin diganggu” Sekali lagi Minhyuk menegaskan.

“Minhyuk-a…”

“Junhyung aku mohon. Aku akan menyelesaikan masalhku dengan Chaerin ,tapi nanti” Kata Minhyuk langsung memutus hubungan teleponnya dan meletakan ponselnya dengan kasar diatas meja, dan Minhyuk kembali terhanyut bersama asap rokok, minuman dan pikirannya yang seperti siap meledakan otaknya.

****

Junhyung tengah berdiri diujung gang kecil, terlalu kecil hingga hanya tubuhnya saja yang bisa melalui gang itu. Diujung gang sana terlihat pendar lampu dari halaman sebuah rumah.

“Kang Minhyuk, harusnya kau yang ada disini” Kata Junhyung tapi akhirnya Junghyung masuk juga kedalam gang kecil itu. Ia mengetuk daun pintu didepannya, lama tak ada jawaban Junhyung melirik jam tangannya, pukul 4 pagi.

“Apa Chaerin belum pulang?” pikir Junhyung, lalu Junhyung berjalan meninggalkan gang sempit itu, ia membawa mobilnya kesebuah pelataran parkir sebuah bar murahan. Dengan wajah meledek Junhyung masuk kedalam bar yang dipenuhi dengan wanita penggoda kelas rendah juga laki-laki hidung belang yang berlevel rendahan juga tengah berpesta. Junhyung segera mengenali gadis yang kini tengah memainkan perangkat DJnya. Saat Junhyung sudah dekat, gadis itu terlihat kaget dengan kemunculannya.

“Aku ada di tempat rendahan ini demi kau” Kata Junghyung, Chaerin yang masih menatapnya tak percaya kini mengikuti Junhyung menjauh dari kerumunan.

“Darimana kau tahu aku bekerja disini?” Tanya Chaerin sambil menyandarkan tubuhnya didinding.

“Apa yang tidak bisa aku ketahui?” Tanya Junghyung.

“Salah pertanyaan, seharusnya aku bertanya kenapa kau yang ada disini?”

“Kau berharap siapa yang ada disini kalau bukan aku?” Pertanyaan Junhyung membuat Chaerin agak kesal dan Chaerin memilih diam.

“Minhyuk sedang tak ingin diganggu, aku tak tahu apa penyebabnya tapi didengar dari suaranya di telefon ia terdengar sangat tertekan”

“Lalu aku harus datang dan menghiburnya? Ada beberapa hal yang membuat hubungan aku dan Minhyuk menjadi membingungkan.

“Alasan kau melarikan diri hingga berakhir ditempat murahan ini? Kings jauh lebih baik Chaerin”

“Kau tak mengerti Junhyung”

“Kau tidur dengan minhyuk, itu yang kau maksud dengan aku tidak mengerti?” Tanya Junhyung lagi.

“Kau tidur dengan cinta pertamamu, I can deal with it”

“Kau…”

“Kau pasti ingin bertanya darimana aku tahu kalau kau menyukai Minhyuk sejak kita duduk di bangku sekolahkan? Aku sudah bilang padamu tak ada hal yang tak aku ketahui”

“Temui Minhyuk, walaupun aku tak tahu apa alasannya tapi aku yakin Minhyuk sedang tertekan sekarang”

“Aku tidur dengan sahabatku, dan aku harus datang padanya seperti tidak ada hal yang terjadi pada kami begitu? Ditambah pemandangan menyakitkan yang aku lihat sehari sesudah kami menghabiskan malam bersama, aku tidak bisa”

“Kau tak tahu apa-apa tentang itu Chaerin, yang harus kau tahu adalah apapun yang kau lihat waktu itu tidak seperti apa yang kau pikirkan, sungguh” Kata Junhyung. Chaerin hanya menarik nafas  panjang dan menghembuskannya keras. Junhyung menepuk bahu Chaerin.

“Lebih baik kita segera pergi dari tempat ini, aku tak seharusnya membiarkan sepatu menginjak tempat murahan ini” Ajak Junhyung.

 

***

Tubuh Minhyuk tergeletak di sofa, sebatang rokok yang masih menyala terselip dijemarinya, mata Minhyuk tertutup, nafasnya panas, sesekali ia terbatuk dan menggigil kedinginan. Ia jatuh sakit, tubuhnya pucat, bibirnya memutih. Seisi apartemennya hanyalah kepulan asap tipis karena terlalu banyak rokok yang ia hisap terus menerus.

Ketika Minhyuk tengah meratapi nasibnya, bel apartementnya berbunyi, tapi Minhyuk terlalu enggan untuk bergerak barang sedikit untuk membuka pintu. Tapi bunyi bel itu tak kunjung berhenti, akhirnya Minhyuk dengan lemas turun dari sofa dan berjalan terseok mendekat kearah pintu, ia membukanya dan ia terdiam.

Chaerin tengah berdiri dihadapannya, gadis itu tampak kaget melihat keadaan Minhyuk, tentu saja karena yang Chaerin lihat bukanlah seperti Minhyuk tapi lebih pantas disebut mayat hidup.

“Kang Minhyuk, kau ken…. Ya!! Kang Minhyuk!!” Belum sempat Chaerin menyelesaikan kalimatnya, tubuh Minhyuk sudah ambruk kearah Chaerin karena lemas. Saat tangan Chaerin berusaha menopang, ia bisa merasakan hawa panas dari tubuh Minhyuk. Dan Chaerin tahu, apa yang membuat Minhyuk seperti ini bukanlah hal sepele.

-TBC-

 

10 thoughts on “Seoul Night Life [Part 4]

  1. huaaaaaaa part ini sedih huhuhuhuhu
    setelah sekian lama nunggu, makin dibikin penasaran aja nih sama si kakak , huhuhuhu
    itu endingnya bikin gregetan😀😀
    sukaaaaa bgt sama surat dr omma minhyuk yg bilang ” Sekarang kau tahu kenapa Omma tak pernah melarangmu berpesta dan bersenang-senang? Walaupun Omma tahu itu salah, tapi Omma tak mau kehilanganmu, seperti Omma kehilangan Appa”
    Can’t wait part 5 nya :’)
    FIGHTING (ง`▽´)ง

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s