FIVE SONGS CHALLENGE

Five Songs Challenge
various; yonghwa-jonghyun-minhyuk-jungshin. juniel-krystal-suzy.

pg-13. angst, friendship, love.

five songs, five drabbles.

 by yen yen mariti

initpin5tu_副本

How it works:

1. Pick a character, pairing or fandom you like.

2. Put iTunes or equivalent media player on random.

3. For each song that plays, write something related to the theme you picked inspired by the song. You have only the time frame of the song: no planning beforehand: you start when it starts, and no lingering afterward; once the song is over, you stop writing. (No fair skipping songs either; you have to take what comes by chance!)

 

 

♪ Junhee adalah nama korea Juniel ; Soojung adalah nama korea Krystal ; Sooyeon adalah nama korea Jessica.

♪ Terinspirasi dari banyak sekali Five Songs Challenge yang pernah saya baca dan tersebar di internet.

 

 

Home – Gabrielle Aplin

(cnblue/solo; yonghwa/juniel)

Junhee rindu rumah … dia ngin pulang

5songs


They say home is where your heart is set in stone 
 where you go when you’re alone 
 where you go to rest your bones. 
 It’s not just where you lay your head 
 not just where you make your bed. 
 As long as we’re together, does it matter where we go? 
 Home… Home…


Sebelumnya orang-orang mengenal Yonghwa dan Junhee sebagai pasangan yang paling manis dan serasi. Beberapa temannya menyarankan agar mereka menikah saja setamat SMA dan Junhee dan Yonghwa hanya tersenyum malu-malu. Tapi kemudian realitas datang menjungkirbalikkan keadaan. Dan kanker datang merenggut senyum di wajah Junhee. Ketika upacara kelulusan, Junhee melepas genggaman tangan Yonghwa “Jangan pernah mencariku lagi.” Dia berpesan pada lelaki itu dan setelahnya mereka benar-benar berpisah.

Junhee menetap di Amerika demi alasan pengobatan, meski dia sendiri tidak pernah lagi percaya dengan itu semua. Tidak ada yang bisa mengenyahkan kanker dari dalam dirinya. Dan Yonghwa menjadi seorang mahasiswa normal seperti yang lain, tapi masih sering merindukan Junhee.

Suatu hari, ketika Junhee tidak sanggup lagi untuk mendudukkan badannya sendiri dan warna pucat sudah mendominasi tubuhnya, gadis itu menemukan Yonghwa duduk di samping ranjang rumah sakitnya yang tidak pernah diganti selama bertahun-tahun.

Yonghwa mempelajari bagaimana kanker telah merampok helai demi helai rambut Junhee, bagaimana kanker telah menghisap habis daging gadis itu, dan bagaimana kanker juga hampir merenggut rangkaian memori dari gadis itu.

Junhee tidak tahu siapa itu Choi Junhee, siapa nama ibunya atau ayahnya, juga nama sahabat karibnya yang tinggal di Busan, Junhee lupa dia pernah bertengkar dengan Yonghwa, dia benar-benar tidak ingat pernah mencampakkan lelaki ini.

“Jangan memaksakan diri,” Yonghwa mencoba menghibur ketika gadis itu berusaha keras untuk mengingat. “Hal yang tidak bisa dihindari dari memori adalah kehilangan.”

Tapi satu hal yang Junhee yakin bahwa dia benar, dia ingat dan tidak akan dia lupakan selamanya adalah: Jung Yonghwa berbau rumah, sinar matanya menyiratkan kepulangan, embusan napasnya membuatnya merasakan betapa aman, nyaman dan damainya rumah. Dan dari sinilah, Junhee tahu apa yang benar-benar dia inginkan sekarang.

“Aku ingin pulang, aku rindu rumah.” Dia berkata sejelas mungkin dengan lidah yang kelu dan bibir yang dipenuhi luka.

Yonghwa meraih tangannya, meremasnya pelan, menyiratkan bahwa dia akan melakukan seperti yang Junhee inginkan. “Ayo kita pulang.”

Karena rumah adalah tempat paling nyaman untuk tinggal, tempat  paling tepat untuk melepas segala beban dan tempat paling damai untuk beristirahat.

Junhee kembali ke Busan bersama Yonghwa. Dan di sana, teman-teman lamanya berkumpul untuk menyaksikan bagaimana dia tertidur dengan bahagia di rumah yang dirindukannya.

Selamanya.

***

Wings – Birdy

(cnblue/f(x); minhyuk/krystal)

bintang-bintang selalu mengingatkan Soojung akan Minhyuk

large (4)

Under a trillion stars
 We danced on top of cars
 Took pictures of the state
 So far from where we are
 They made me think of you
 They made me think of you

 

California selalu saja terasa memuakkan bagi Soojung. Ada saat-saat dia ingin kabur ke belahan dunia yang sepi. Tapi bagaimanapun juga, dia tetap terperangkap di kota yang tidak pernah mati ini.

Ketika dia berumur enam belas, Sooyeon memberitahunya bahwa ada anak lelaki seumurannya yang baru saja pindah dari Seoul. Belakangan Soojung baru mengetahui namanya adalah Kang Minhyuk dan dia tidak banyak bicara. Soojung menyukainya dan dia terus mengajaknya bicara. Soojung terus berkata bahwa mata Minhyuk terlihat sangat lucu setiap saat meski Minhyuk tidak pernah memedulikannya.

Dan di suatu malam di musim panas yang membosankan, ketika Soojung tanpa sengaja membuka pintu jendela kamarnya di lantai dua, dia menemukan Minhyuk tengah berbaring di atas atap rumahnya yang berada tepat di samping rumah Soojung. Gadis itu tidak ragu-ragu untuk ikut merangkak dan berbaring di sana.

“California pasti membuatmu muak, ya kan?” Soojung memulai percakapan.

“Ya, tapi bintang-bintangnya tidak.”

Soojung mendongak ke langit dan menemukan triliunan bintang berhamburan menonton mereka dari atas. Dan itu benar-benar indah. “Aku tidak tahu akan seindah ini.”

“Kalau begitu kau harus datang ke sini setiap malam.” Minhyuk berkata. Itu sebuah kode rahasia yang menyatakan bahwa dia mulai menerima Soojung untuk masuk ke dalam hidupnya.

Dan mulai keesokan malamnya, Soojung selalu merangkak ke atas atap rumahnya bersama Minhyuk. Menonton bintang bersama-sama. Di saat-saat itu Soojung senang memperhatikan raut wajah Minhyuk  yang tenang dan tampak bahagia. Dan semudah itulah Soojung menemukan sisi baik dari kota yang sebelumnya dia benci ini, dan sesederhana itu pulalah dia menyadari bahwa dia jatuh cinta pada Minhyuk.

Dia berharap akan ada bintang jatuh, agar dia bisa membuat permohonan.

Aku mohon … aku mohon. Selamanya akan seperti ini.

Soojung ingat saat-saat kulit bahu mereka bersentuhan dan rasanya begitu hangat, dia ingat saat-saat dia tertidur dan kepanya bersandar di bahu Minhyuk.

Soojung ingat … akan selalu ingat.

Bahkan setelah tujuh tahun berlalu dan keluarga Minhyuk telah meninggalkan California empat tahun sebelumnya. Bahkan ketika dia berselancar di internet dan secara tidak sengaja mengetahui bahwa Minhyuk telah debut sebagai anggota band di Korea sana.

Soojung begitu ingat bahwa dia mencintai bintang-bintang itu dan bagaimana dia merindukan satu bintang yang telah pergi darinya.

***

Cancer – My Chemical Romance

(cnblue; yonghwa/jonghyun/minhyuk/jungshin)

suster Jihyo ingin mereka tampil di hari pernikahannya

W68_20Jenise_20Max_238_large

Oh, my agony
 Know that I will never marry
 Baby, I'm just soggy from the chemo
 But counting down the days to go


Cancer adalah nama band Yonghwa, Jonghyun, Minhyuk dan Jungshin. Nama itu diambil bukan karena keempat anggota berzodiak yang sama, yaitu cancer. Bukan. Melainkan mereka punya penyakit yang sama.

Mereka semua bertemu di rumah sakit yang sama, jadwal terapi yang sama. Yonghwa adalah penghuni lama rumah sakit, dan dia mengenal semua orang di sini. Dan sebagai anggota yang tertua, dia punya tanggung jawab akan ketiga anggota yang lain, meski dia juga sama sakitnya.

Hari itu rumah sakit heboh. Suster Jihyo—suster favorit Minhyuk—akan menikah dan mereka diminta untuk tampil di hari pernikahan. Mereka tidak bisa menolak. Mereka suka tampil dan menghibur orang-orang, lagi pula.

Tapi satu pertanyaannya, apakah mereka cukup kuat. Apakah Minhyuk cukup tegar untuk menggebuk drumnya selama empat menit. Sebab mereka semua tahu, Minhyuk telah jatuh cinta pada Jihyo sejak pertama kali dia dirawat di sini.

Ketika hari pernikahan tiba dan mereka masih punya beberapa menit sebelum naik panggung, keempatnya kabur ke ruang tangga darurat yang tidak dihuni siapa pun selain kecoa dan tikus yang menjijikkan.

Jonghyun membawa beberapa camilan, Minhyuk mencuri sebotol wine mahal dari sana. Seharusnya dia tidak boleh minum alkohol, tapi Yonghwa membiarkannya. Dia mengerti hari ini pasti begitu berat bagi Minhyuk.

“Suster Jihyo cantik sekali bukan?” Minhyuk mulai meracau. Dia tidak ahli dalam alkohol, tapi tetap memaksakan diri. “Dokter Park pasti sangat beruntung memilikinya.”

“Kawan, jangan terlalu melankolis begitu!” Jungshin menepuk-nepuk pundak Minhyuk, dan dia hanya tertawa.

“Apakah suatu hari kita juga akan menikah, hyung?” Jonghyun menyandarkan punggungnya di dinding yang dingin dan catnya mengelupas. Yonghwa mengumpat karena tidak suka pertanyaannya. “Lupakan … lupakan,” Jonghyun berkata. Tapi tetap saja pertanyaannya membekas di hati ketiga temannya, termasuk hatinya juga.

Apakah mereka akan menikah suatu hari nanti? Apakah mereka punya kesempatan?

Yonghwa menyukai seorang gadis bernama Juhyun, tetangganya yang cantik. Setiap dia pulang ke rumah, dia selalu mengintip lewat jendela kamarnya. Berharap menemukan Juhyun, tapi gadis itu tidak terlihat lagi. Gadis itu sudah menikah, dan Yonghwa tidak pernah mengutarakan perasaannya.

Jonghyun menyukai gadis yang tinggal di sebelah kamar inapnya. Dia selalu mencuri pandang saat makan siang di kafetaria rumah sakit. Jonghyun tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun pada gadis itu. Dan dia menutup rapat-rapat perasaannya. Sebab gadis itu juga penderita kanker. Sebab mereka tidak punya kesempatan untuk bersama. Sebab mereka bisa mati kapan saja.

Sedangkan Jungshin, anggota termuda mereka, menyukai gadis yang satu sekolah dengannya. Dia selalu berusaha agar bisa duduk di samping gadis itu di dalam bus. Dia selalu berusaha menjadi yang terbaik di kelas agar gadis itu tertarik padanya. Meski dia  tidak akan pernah mengikuti pelajaran olahraga. Tapi gadis itu tidak pernah menengok sekali pun padanya. Dan Jungshin hanya bisa mencintainya diam-diam.

“Kau siap?” Yonghwa bertanya pada Minhyuk.

“Tentu,” Minhyuk menjawab mantap dan jujur.

Musik dimulai, suara Yonghwa mengalun lembut. Minhyuk menggebuk drumnya semangat, Jonghyun dan Junghsin juga melakukan hal yang sama dengan gitarnya.

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Siapa yang akan mati lebih dulu di antara mereka. Tapi mereka tahu pasti bahwa semua akan berubah perlahan-lahan. Gadis-gadis yang mereka cintai pasti akan menikah satu persatu dan mereka bisa saja tampil di pernikahan gadis-gadis itu. Mereka mungkin akan berhenti mencintai gadis-gadis itu dan jatuh cinta lagi pada orang lain, tapi yang pasti mereka akan tetap mencintai secara diam-diam. Mereka akan jatuh cinta sendirian. Dan yang selalu dilakukan oleh orang-orang yang mencintai secara diam-diam adalah selalu siap untuk merelakan.

Seperti Minhyuk hari ini.

***

 

If You Could See Me Now – The Script

Minhyuk hanya ingin ayahnya bangga padanya

(cnblue;minhyuk!centric)

5songss


And I'll never get to show you these songs
 Dad, you should see the tours that I'm on,
 I see you standing there next to Mom
 Both singing along, yeah arm in arm


Saat berumur delapan tahun Minhyuk ditanya ayahnya, “Apa cita-citamu?”

Dan dia dengan sangat bangga menjawab, “Pilot!” karena dia pikir pasti menyenangkan bisa terbang di angkasa sepanjang hari. Jadi mulai hari itu, ayahnya membelikan buku-buku yang dapat membantunya mengenali angkasa, pesawat-pesawat dan pilot.

Lalu kemudian waktu berjalan dan Minhyuk berubah menjadi anak remaja berusia tiga belas. Dia tidak pernah lagi membaca buku-buku pilotnya, dia tidak pernah membicarakan apa pun yang berhubungan dengan itu pada ayahnya. Jadi ayahnya pikir dia sudah menyerah. “Tidak apa-apa, kau masih punya kesempatan untuk menentukan cita-cita yang lain.”

Dan kali itu dia menjawab, “Ayah, jika besar nanti aku akan sekolah kedokteran.” Dan itu sungguh membuat ayah dan ibunya bangga. Lalu ayahnya mulai lagi—membelikan buku-buku kedokteran untuknya.

Minhyuk beranjak dewasa dengan cepat. Dia adalah anak lelaki yang malas, dan nilai-nilai di pelajaran IPA selalu anjlok. Ketika kelulusan tiba, ayah dan ibunya sudah dapat memprediksi bahwa dia tidak akan bisa masuk sekolah kedokteran.

Minhyuk bisa melihat senyum palsu ayahnya. “Tidak apa-apa, jadi dokter juga tidak begitu hebat, Nak.” Ayahnya menepuk-nepuk bahunya pelan. Tapi Minhyuk bersumpah dia bisa melihat cahaya sedih di mata ayahnya. Cahaya yang redup karena harapannya dihempas jatuh membentur dasar tanah.

Minhyuk mulai semua dari awal lagi. Dia berkutat dengan akuntansi tiap hari. Ayahnya bilang dia bisa bekerja di perusahaan bergengsi jika tamat nanti. Minhyuk belajar dengan sungguh-sungguh, dan kali ini dia berjanji tidak akan menyerah lagi. Tapi satu hal yang dia sadari, dia tidak suka akuntansi. Dia tidak suka kegiatan mencatat menghitung dan menyalin itu.  Tapi dia tidak pernah mengatakan kepada ayahnya. Dia tidak ingin mengecewakannya sekali lagi.

Suatu saat, dia bertemu Yonghwa dan Jonghyun. Dua lelaki Busan yang mengenalkan musik padanya, dan dia benar-benar jatuh cinta. Saat itu Minhyuk benar-benar sadar bahwa yang akan kekal pada dirinya adalah musik. Bukan penerbangan atau medis atau ekonomi.

“Kau hebat sekali.” Ayahnya berkata saat dia memberitahu bahwa mereka sudah dikonfirmasi agensi akan debut. “Ayah selalu bangga padamu, kau tahu.” Ayahnya menepuk-nepuk pundaknya. Minhyuk bisa merasakan ramahnya sentuhan itu. Tidak ada raut kekecewaan di mata ayahnya, yang ada hanyalah cahaya redup yang tenang namun lelah. Dan Minhyuk lupa menyadari betapa sudah tua ayahnya. Dan dia mungkin bisa pergi kapan saja.

Misalnya, saat pertama kali CNBLUE tampil di khalayak umum. Dan ayahnya tidak ada di antara kerumunan para penonton.

Begin Again – Taylor Swift

(cnblue/miss a; jungshin/suzy)

Seoul mengingatkan Suzy akan banyak hal

 

large (5)


And I want to talk about that
 For the first time
 What's past is past


Pagi itu gerimis menghiasi Tokyo, Suzy menengadahkan tangan ke luar jendela, bermain-main bersama titik-titik air dari langit sebelum telepon berdering dan dia mendengar hembusan napas ibunya. Wanita empat puluhan yang sudah empat tahun tak dia temui.

Suzy bisa merasakan betapa bahagia ibunya saat itu. “Ibu akan menikah,” ibunya memberitahu dengan gembira. Suzy mengangguk pelan, meski dia tahu ibunya takkan pernah melihat anggukan itu.

“Kau akan datang kan?” ibunya bertanya, hati-hati. Ini aneh, bagaimana sepasang ibu dan anak bisa begitu canggung bahkan hanya lewat percakapan di telepon.

“Tentu, Bu.” Dia menjawab sebaik mungkin.

“Aku tahu kau akan datang, Sayang.” Ibunya bergumam dari ujung sana. Suzy mengukir senyum kecil. Sayang—sudah begitu lama dia tidak mendengar sapaan itu. Dulu dia merindukannya, tapi sekarang dia merasa asing.

“Sampai bertemu Bu.”

Telepon ditutup. Gerimis masih menghiasi Tokyo. Suzy berbaring di atas tempat tidurnya dengan kepala kosong.

Dulu, saat dia kira-kira masih berumur tujuh atau delapan tahun. Suzy bermimpi akan duduk di salah satu bangku pesawat ditemani ayah dan ibunya, melakukan perjalanan kecil ke Negara lain. Dan dia akan senang bertanya kepada keduanya; “Apa awan juga manis seperti permen kapas?” Lalu ayah dan ibunya bergantian menjelaskan.

Suzy memimpikan itu—bahkan sampai hari ini.

“Semua akan baik-baik saja,” Jungshin berbisik di sebelahnya. Suara pramugari terdengar samar-samar ditelinganya.

“Kuharap begitu, Oppa.” Suzy membalas. Jungshin meraih tangannya, meremasnya pelan. Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu tegap Jungshin, lalu tertidur…

Seoul membuka kembali memori-memori tua yang berusaha Suzy hapuskan. Misalnya, warung yang menjual kue beras di ujung jalan rumahnya. Ibu selalu membeli sekantung kue beras dari sana, dan mereka sekeluarga akan menikmatinya sambil menonton TV di sore hari. Lalu toko es krim kecil di persimpangan jalan, Ayah senang membawanya ke sana. Suzy akan melompat-lompat sambil berkata dia ingin es krim stoberi dengan toping buah. Dan beberapa tetangganya yang masih menghuni rumah mereka sejak Suzy kecil. Mereka tumbuh tua, mereka punya cucu, dan mereka bahagia. Mengingatkan Suzy betapa dulu dia begitu bahagia, dia tidak ingin tumbuh dewasa. Tapi tidak ada yang bisa menghentikan pertumbuhannya, meski otaknya tidak mengalami perkembangan sebagaimana seharusnya, tapi tubuhnya terus tumbuh, seragam sekolahnya berganti, dia menemukan Ayahnya selalu sibuk, Ibu yang jarang masak. Tawa-tawa tidak pernah lagi terdengar menghiasi rumah dan dari hari ke hari semua itu berubah menjadi teriakan dan tangisan yang menghancurkan hatinya.

Lalu lemari pakaian dan semua buku-buku Ayah tidak lagi ditempatnya. Surat perceraian ditandatangani. Ibu menangis selama beberapa hari dan tidak peduli padanya. Dan di situlah semua bermulai. Kecanggungan, rasa asing, kekecewaan dan putus asa. Suzy meninggalkan rumah dan bersumpah tidak akan pernah pulang lagi.

Tapi dia mengingkari janjinya hari ini.

“Kau tahu kenapa?” Jungshin masih menggenggam tangannya, bahkan saat mereka tiba di lokasi pernikahan dan orang-orang semakin ramai berdatangan, lelaki itu tidak pernah melepaskannya sama sekali. Suzy hanya menggeleng. “Karena kau masih mencintainya. Ibumu.”

Mungkin dia masih mencintai Ibunya, juga Ayahnya. Tapi Suzy hanya tidak ingin terluka lagi. Jadi dia membiarkan dirinya tidak ambil peduli terhadap keluarganya.

Ayahnya melambai, tersenyum padanya. Dia melakukan hal yang sama, tapi tidak ada pelukan hari ini. Bahkan setelah empat tahun tidak bertemu.

“Ibumu cantik sekali kan. Dia tampak sangat bahagia hari ini.”

“Ya, dia sangat bahagia, dan lupa umur.” Suzy berkata di samping ayahnya, lelaki paruh baya itu tertawa.

“Apa Ayah masih mencintainya?” suara Suzy terdengar bergetar pelan.

“Ya.”

“Kenapa Ayah datang ke pesta pernikahan ini, tidakkah itu menyakitkan?”

“Aku hanya ingin memastikan dia bahagia, aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia sudah menemukan seseorang yang tepat.” Ayahnya menjawab, menggenggam segelas vodka, matanya suram dan pedih, Suzy bisa melihat itu.

“Itu pasti menyakitkan.” Suzy bergumam.

“Dan Suzy, aku juga akan memastikan suatu hari kau akan sama bahagianya, seperti ibumu hari ini, bersama lelaki itu.” Mata ayahnya mendelik ke arah Jungshin yang sedang berbicara dengan orang-orang. “Dia lelaki yang baik.”

Suzy membiarkan bibirnya membentuk senyum, ayahnya pamit pulang setelah mengecup dahinya sekali. Suzy mengakui betap cepat ayahnya tumbuh tua. Betapa mata itu memberitahunya bahwa dia begitu kesepian.

“Aku takut, Oppa.” Suzy memberitahu Jungshin ketika taksi melaju menuju bandara. “Aku mungkin akan seperti Ayah.” Hatinya sakit, matanya hampir terbakar oleh air mata.

“Ketakutan akan menghancurkanmu. Sekarang biarkan rasa takut itu pergi, dan biarkan dirimu melepaskan masa lalu, Suzy.” Junghsin meremas tangannya, kehangatan menjalar. “Karena dengan begitu, kau tidak akan takut untuk menerima kebagiaan yang telah kusiapkan untukmu.”

Suzy tersenyum, mengangguk pelan. Matanya mengerjap, memberi tanda bahwa dia percaya pada Jungshin dan dia siap melepaskan masa lalu serta rasa takut itu. “Aku percaya padamu, Oppa.” Dia berbisik di telinga Jungshin, lelaki itu meraih wajahnya dan menempelkan bibirnya pada dahi Suzy.

#

wow saya sulit percaya bakalan bikin five songs challenge, karna menurut saya ff yang seperti ini sulit dan penuh tantangan. sebenernya ff ini sudah lama ditulis, hanya saja gak kelar-kelar.

dan jika kelima lagu di atas belum pernah kalian dengar/download, saya sangat menyarankan kalian buat download lagu di atas (terutama home – gabrielle aplin , wings – birdy *omg! ini favorit saya*)

dari ke lima drabbles di atas, adakah yang masuk list favorit kalian??

Terima kasih untuk yang membaca dan meninggalkan jejak. Bertemu lagi di cerita selanjutnya. Yuhuuuu!!!

18 thoughts on “FIVE SONGS CHALLENGE

  1. yuhuuu sepertinya author kita yg satu ini belum bisa bener” hiatus *bersyukur
    aku suka sam ceritanya sih , cuma masih gangerti sama five songs challenge ini -__-” … mungkin bisa dibantu jelasin , hehehehe

    • aku belum nulis lagi, ini kan ff lama yg gak kelar-kelar. jadi gini, setiap lagu punya cerita. jadi di sini punya 5 cerita (drabble) masing-masing. aku bingung mau jelasinnya haha. cari di google deh, banyak kok yg bikin five songs challenge.

  2. Aku belum tahu lagunya, tapi dari cerita yang author buat, lagu-lugu ini pasti indah seperti cerita yang author buat.. Ditunggu ya thor fanfic yang menyentuh lagi #lebay😀

    • ceritanya gak termasuk bagus2 banget. tapi lagunya sudah dijamin bagusss banget. disarankan buat segera download hihi.
      thanks for reading dear^^

  3. huah huah nyesek. paling nyesek yang cerita ke 4 paling sedih yang kelima. tapi kok kayaknya pernah denger cerita yg ke4 ya.
    yang lebih pas lagi cerita terakhir. menutup cerita2 sebelumnya yang bikin drop. sedih aku bacanya. T_T

  4. hello….aku new reader.
    setiap lagu dan alurnya tuh nyentuh bgt, sedih dan miris tapi ternyata dr sini, aku bisa belajar kebahagiaan dalam hidup tuh sederhana. Apalagi kisah band cancer yg bkin aku terpana.

    kmu bkin aku berencana donlot lagu”ny kecuali MCR yg cancer sbab aku punya lagu itu hhe.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s