THORN

THORN

cnblue/snsd; jonghyun/yoona | pg-17 | oneshot

by yen yen mariti

 

Aku memiliki banyak duri. Apakah kau masih bisa memelukku ?

 

SONY DSC

 

 

Malam sudah begitu larut. Suara tawa Ibunya masih terdengar, suara pria itu juga. Suara soju yang dituang lalu suara gelas kaca yang berdenting juga ikut masuk mengusik rongga telinganya. Jarum jam dinding yang nyaring sekali kedengarannya, lingkaran hitam di bawah matanya. Dia tetap tidak bisa terlelap. Mungkin hingga pagi datang, mungkin hingga jika suara cicitan burung mulai terdengar dan mungkin jika suara tawa itu lenyap, bau soju itu sirna dan terakhir pria brengsek itu pergi dari rumahnya dia mungkin bisa terlelap.

Lalu jika pagi datang, ketika dia sudah memakai seragam SMA-nya, dia akan kembali merasa jenuh. Melihat sarapan tertata rapi di meja kayu kecil di atas lantai rumahnya yang rata. Melihat sosok wanita paruh baya itu tersenyum ketika dia mengacuhkannya, menolak memakan sarapan yang telah dibuatnya. Dan wanita paruh baya yang enggan dipanggilnya Ibu itu memanggilnya dengan lembut, menyodorkan beberapa lembar uang kertas yang katanya sebagai uang sakunya. Terpaksa dia menerima uang itu. Uang yang baru saja Ibunya dapatkan dari pria malam tadi.

 

 

Keadaan sudah sedikit berubah. Kini dia setidaknya bisa tidur lebih awal dan bangun tanpa harus mengenakan seragam SMA seperti dulu lagi. Dia membereskan keadaan kamarnya seadanya saja, merangsek ke arah dapur apartemen pribadinya untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.

Dan ketika matahari sudah agak tinggi dan memancarkan cahaya dengan sedikit angkuh…

 

“Aku hanya ingin tahu apa kau sudah sarapan atau belum.”

Gadis itu menenggak susunya hingga habis separo, kemudian mengunyah roti lapis kejunya lagi. Satu tangannya dia gunakan untuk menahan ponsel yang melekat di telinga kanannya.

“Aku ingin bertemu denganmu. Setidaknya sore nanti. Bagaimana ?” suara di seberang bertanya hati-hati. Tenang, dan gadis yang mendengarnya itu merasa tidak terganggu.

“Jangan menyiksa diri sendiri, kau terlalu sibuk. Bertemu denganku bukanlah sebuah keharusan. Pekerjaanmu lebih penting,” balasnya pada pria yang meneleponnya. Dapat dia dengar setelah dia berkata demikian pria di seberang sana mendehem pelan.

“Tentu saja kau adalah keharusan, aku merindukanmu Yoongie,” pria itu sedikit mendesah di uIm kalimatnya. Membuat si gadis merasa serba salah dan bingung harus menjawab apa.

“Akan kuhubungi lagi kau nanti,” ujar pria itu kemudian setelah beberapa detik menunggu gadis itu berbicara namun tak kunIm bicara juga. Lalu sambungan terputus. Sekarang hanya ada kesunyian menyelimuti pagi itu.

 

Tidak ada Ibunya saat dia membuka mata di pagi hari, dan tidak ada pula sarapan yang sudah siap di atas meja. Tapi tetap ada suara lembut mengawali paginya. Suara yang selalu mengatakan ‘aku merindukanmu’ dan juga ‘aku mencintaimu’. Suara itu tak jauh lembutnya dari suara Ibunya dulu. Tapi itu bukan Ibunya, itu suara seorang Lee Jonghyun untuk Im Yoona.

 

 

Gadis yang bernama lengkap Im Yoona itu hanya terdiam. Berdiri dengan kokoh, dengan wajah yang tidak tersenyum di balik kaca bening yang membatasi antara dirinya dengan wanita paruh baya kurus kering.

Matanya begitu tajam, menatap wanita paruh baya yang sama sekali tak menyadari keadaannya saat itu.  Ada sarat kebencian dan kemarahan di balik tatapan tajam itu. Namun tentu saja ada sarat kerinduan dan penyesalan di antara semua.

Jonghyun berpikir Yoona akan menangis. Gadis itu akan merosot ke lantai ruangan yang dingin itu. Tapi Jonghyun begitu bodoh, berapa lama sudah dia mengenal Yoona ? seorang Im Yoona tidak pernah menangis. Itu fakta ! Menangis hanya akan membuat semuanya semakin buruk, dan dunia akan menertawakanmu, itu prinsip Yoona.

Sesakit apa pun… semenyedihkan apa pun. Tidak akan ada air mata dari seorang Im Yoona.

 

“Kapan semuanya akan pasti. Entah dia akan sembuh atau bahkan mati,” ujar Yoona pada dirinya sendiri dan Jonghyun dapat mendengarnya dengan jelas. Pria itu hanya diam, masih setia berdiri di samping gadis itu. Masih cemas, masih berpikir bahwa dia akan menahan Yoona jika nanti gadis itu tidak mampu berdiri lagi.

“Aku muak. Aku benar-benar membencinya,” telapak tangannya menekan-nekan dinding kaca yang menjadi penghalang antara dia dan wanita itu.

“Yoong…” Jonghyun meletakkan satu tangannya di bahu gadis itu.

“Ayo pulang,” ucap Yoona tiba-tiba. Dan dia mendahului Jonghyun melangkah. Tidak aneh, bahkan sampai akhir pun dia tidak menangis.

Jonghyun mendesah beberapa kali melihat gadis itu masih mampu melangkah dengan tegar. Mereka meninggalkan tempat di mana wanita paruh baya itu tinggal selama empat tahun terakhir. Tempat yang mungkin menjadi tempat terakhir wanita yang enggan untuk Yoona panggil dengan sebutan ‘IBU’. Tempat kotor yang Yoona benci, temat yang menampung sekumpulan manusia-manusia kotor yang menderita penyakit yang lebih cocok dibilang hukuman dari Tuhan atas kedurhakaannya—HIV AIDS.

 

 

Malamnya, ketika dia sedang sibuk mengetik tugas-tugas kuliahnya.

“Ada apa?” tanya Yoona langsung pada pria yang kini meneleponnya.

Aku merindukanmu,” jawab Jonghyun—pria yang menelepon itu.

Yoona tertawa pelan mendengar jawaban Jonghyun barusan, “Ada apa denganmu?”

Kenapa kau bertanya ada apa denganku Yoong ?”

“Ah tidak, kau hanya terdengar lucu mengucapkannya,” Yoona tertawa lagi di sela kalimatnya.

Apa setiap hari ketika aku berkata aku merindukanmu kau hanya beranggapan aku ini lucu Yoongie ? kau seakan tidak mengenalku Yoong-ah. Inilah aku, aku yang selalu meneleponmu setiap hari. Aku yang ingin mendengar suaramu dan melihat wajahmu setiap hari. Kau adalah keharusan bagiku. Aku mencintaimu Im Yoona.

Yoona tertegun. Apa yang baru saja diucapkan pria itu ? kenapa dia begitu terdengar putus asa ?

Aku akan berangkat ke Jepang besok,” ucap Jonghyun setelah keduanya sama-sama terdiam untuk waktu yang lama.

Kali ini Yoona menggigit bibir bawahnya, “Kau… hanya pergi sebentar kan?” tanyanya agak ragu. Tentu saja dia ragu, ini untuk pertama kalinya hatinya merasa terperanjat mendengar pria itu akan meninggalkan Korea dan untuk pertama kalinya pula dia merasa berat. Atau mungkin dia baru menyadarinya?

Di seberang sana Jonghyun mengukir senyum,”Hanya dua minggu. Aku akan segera menemuimu jika pulang nanti.

Yoona bernafas lega, “Mmm…” gumamnya kemudian. Lalu mereka sepakat memutus sambungan telepon.

 

Entah bagaimana, tapi sekarang Yoona merasa tidak nyaman ketika mengingat Jonghyun akan pergi selama dua minggu. Mungkin dengan perginya Jonghyun nanti paginya akan terasa sunyi, atau malamnya akan terasa sangat panjang. Yang jelas semua akan terasa hambar tanpa sosok pria itu.

Jonghyun bukan kekasih Yoona. Hubungan mereka tidak begitu pasti. Mereka bertemu di bangku SMA bertahun-tahun yang lalu. Dengan status Jonghyun sebagai sunbae dan Yoona sebagai hoobae. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana alurnya sehingga mereka bisa sedekat itu. Tidak bisa terpisahkan, seperti kertas yang di olesi lem.

Jonghyun sering berkata ‘aku mencintaimu’ pada Yoona. Dan gadis itu sungguh sering membutakan matanya, membutakan hatinya dan menutup rapat telinganya. Meski dia tahu Jonghyun tulus dengan perkataannya, namun Yoona masih ragu. Bukan terhadap Jonghyun tapi terhadap dirinya sendiri.

Im Yoona, pantaskah bersanding dengan seorang Jonghyun yang begitu sempurna ?

Pertanyaan yang selalu terngiang di dalam diri gadis itu. Dan pertanyaan itu pula yang membuat hubungannya dengan Jonghyun menjadi tidak begitu pasti.

 

 

Kembali ke masa lalu, mengingat beberapa penggal kejadian yang pernah dia ciptakan bersama Jonghyun…

 

“Kau bodoh atau apa, kau terluka kenapa masih bisa berjalan seperti ini?!” dia bertanya namun nadanya tinggi seolah menghentak gadis itu dengan kasar.

Yoona menimpali, “Hanya luka kecil,” tanpa senyum sedikit pun.

Jonghyun mengggelengkan kepala beberapa kali, gadis ini masih tidak berubah. Angkuh, dia selalu ingin terlihat kuat. “Naik!” Jonghyun mengisyaratkan agar gadis itu naik ke punggungnya.

Hanya gelengan kecil dari Yoona.

“Cepat!” tidak pernah Jonghyun sedingin ini. Yoona berdecak kesal namun pada akhirnya menurut. Naik ke atas punggung pria itu, melingkarkan tangannya pada leher pria itu juga.

Mereka bergerak lambat menyusuri jalanan malam dengan suasana yang dingin. Seragam sekolah Jonghyun ternoda oleh darah yang keluar dari lutut Yoona. Gadis itu tidak menangis, meski rasanya begitu sakit. Itu sudah sering terjadi, dan dia merasa terbiasa. Perlakuan buruk teman-temannya di sekolah.

Teman? mereka bukan teman. Mereka adalah remaja-remaja brengsek yang mengusik hidupnya. Yang mampu mencemoohnya setiap hari, yang juga membuat pribadi Yoona tahan banting akan cacian-makian, akan rasa jijik dan akan rasa sakit meski darah bercucuran.

Satu-satunya orang yang pantas dikatakan teman adalah pria itu… Lee Jonghyun. Tapi Yoona masih merasa ragu.

 

“Turunkan aku di sini saja,” pintanya pada Jonghyun.

“Tidak, aku akan mengantarmu sampai rumah,” lalu dia meneruskan langkahnya menuju rumah Yoona. Gadis itu bermuram wajah.

“Tidak perlu, aku bilang di sini!” katanya lagi, kali ini dengan nada sedikit meninggi. Dan respon Jonghyun hanya diam dengan kaki yang masih meneruskan langkah.

 

Mereka tiba di depan rumah Yoona. Sebuah rumah sederhana dan minimalis. Tentu saja, mereka hanya berdua di rumah itu. Yoona dan Ibu, tapi terkadang akan ada banyak tamu untuk Ibu. Salah, bukan terkadang. Namun setiap malam.

 

“Yoongie, kau kemana saja. Ibu mengkhawatirkanmu,” dia—wanita paruh baya itu sudah berdiri sejak lama di depan pintu rumahnya, menunggu anaknya pulang.

Jonghyun menurunkan Yoona, gadis itu berucap terima kasih pada Jonghyun. Lalu Ibunya melihat darah yang memenuhi kedua lututnya. Dia mendesah dan bertanya heran beberapa kali pada Jonghyun maupun Yoona . Jonghyun menjawab seadanya, Yoona hanya diam.

“Terima kasih sudah mengantar anakku pulang,” ucap Ibu Yoona tulus pada Jonghyun. Pria muda itu tersenyum malu.

“Masuklah, kita bisa minum teh bersama.” Ajak Ibu Yoona, pada Jonghyun lagi. Jonghyun berpikir beberapa saat. Wajah Yoona tak karuan, Jonghyun memerhatikan Ibu Yoona. Wanita paruh baya itu mengenakan pakaian tidak pantas untuk seumuran dirinya—Menurut Jonghyun.

“Bagaimana?” suara Ibu Yoona menyadarkan Jonghyun, dia ingin menjawab namun Yoona menghentikannya.

“Sunbae kelelahan, lebih baik cepat pulang.”

Jonghyun setuju, lalu pamitan pada Ibu Yoona, dia membalik badan. Melangkahkan kaki menjauh. Tidak begitu jauh sebenarnya, dia bersandar di balik tembok tinggi di sudut jalan itu. Dan dapat di dengarnya dengan jelas suara pria berhidung belang menyerukan nama Ibu Yoona seraya berkata dengan nada menjijikan ‘Kau lama sekali sayang!’

Saat itu juga Jonghyun mengerti.

Mengerti akan hidup Yoona—meski tak sepenuhnya. Alasannya tidak pernah tersenyum atau pun menangis, alasannya membenci wanita paruh baya tadi serta alasan kenapa siswa-siswi di sekolah memandangnya dengan tatapan menjijikkan.

 

 

Mungkin dia terlalu sibuk—pikir Yoona. Dia menimbang-nimbang ponselnya yang berlayar hitam. Jonghyun berkata dua minggu dan sekarang dua minggu dua hari. Tidak tepat !

Jonghyun menelepon hanya empat kali. Hari pertama dia di Jepang, empat hari kemudian, dua hari kemudian dan terakhir satu hari yang lalu. Sebentar saja, karena Jonghyun berkata dia begitu sibuk. Yoona  berkata ‘Tidak apa-apa’ pada Jonghyun. Dia tidak bisa jujur, walau sekali saja. Dia masih tidak bisa berucap seperti Jonghyun ‘Aku merindukanmu’

 

Layar ponselnya terang benderang. Yoona melihatnya dengan mata membulat dan dengan gerakan cepat menekan tombol hijau kemudian menempelkan benda tersebut ke telinganya.

Dia mendengarnya. Deruan nafas pria itu…dan kata-kata pertama yang diucapkan pria itu adalah ‘Aku merindukanmu. Im Yoona.’

Gadis itu merasakan pipinya memanas. Sayang tidak ada cermin, jadi dia tidak bisa melihat pipinya merona atau tidak saat itu.

Jonghyun tidak menuntut Yoona agar mengucapkan kata yang sama. Namun entah apa yang terjadi. Begitu mendesak, tidak bisa ditahan, gadis itu memejamkan mata dengan bibir yang berucap ‘Aku merindukanmu, Jonghyun Oppa’

Terdiam lebih dari sepersekian detik. Yoona merasakan kedua ekor matanya basah dan hatinya merasa lega. Di seberang sana pria itu tersenyum memandang langit kota Fukuoka yang cerah dan mendadak hatinya lebih cerah dari keadaan langit Fukuoka saat itu.

 

“Aku kembali besok, kita bertemu, umm?”

“Umm..” Yoona mengerakkan kepala. Kemudian sebuah senyum tipis namun terlihat begitu cantik terukir di wajahnya.

 

Detakan jantungnya cepat namun berirama. Hatinya bertanya ‘Apakah aku harus mengakui perasaan ini?’

Dan pria itu juga, dia menggenggam sebuah kotak kecil yang di dalamnya terdapat sepasang cincin suci, hatinya tertawa bahagia. ‘Kau milikku, selamanya.’

 

 

Yoona berdiri di depan pintu apartemen Jonghyun. Dia menekan angka-angka di samping pintu agar dapat masuk ke dalam. Dan ketika terdengar buyi BIIPPP gadis itu masuk ke dalam apartemen langsung menuju dapur.

Cukup lama dia menghabiskan waktunya di dapur, bergulat dengan perkakasnya. Dan hasilnya meja makan dipenuhi dengan berbagai macam kejutan. Dia mengukir senyum kemudian dilihatnya pantulan dirinya lewat gelas kaca. Dia berbeda hari itu. Im Yoona yang cantik terlihat lebih cantik lagi dengan penampilan yang berbeda. Dia sengaja melakukannya, untuk Jonghyun—ucap hatinya.

 

BIIPPP

 

Terdengar suara pintu apartemen dibuka seseorang. Yoona mengernyitkan dahi dan hidungnya bersamaan. Dia pikir Jonghyun akan tiba setengah jam lagi.

“Oppa?” bukan panggilan untuk Jonghyun. Tapi untuk seorang pria yang begitu akrab dengan Jonghyun. Yang sehari-hari Jonghyun panggil dengan sebutan ‘Hyung’

“Jonghyun belum pulang?” tanya Pria bertubuh tegap dan tinggi itu.

“Sebentar lagi mungkin,” jawab Yoona. Pria itu memasang wajah mengerti. Lalu mereka duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Yoona baru saja menyiapkan seteko teh hangat untuk pria itu. Dia tidak menjamu pria itu untuk duduk di depan meja makan untuk menyantap masakan yang baru saja dibuatnya, itu hanya untuk Jonghyun—tegasnya dalam hati.

 

Mereka tidak banyak bicara hanya beberapa pertanyaan dari pria itu mengenai hubungan Yoona dengan Jonghyun. Dan gadis itu seakan tidak begitu peduli hingga menjawabnya dengan tidak sungguh-sungguh.

Gadis itu begitu cantik—pikir pria itu. Benar, Yoona begitu cantik. Bahkan artis papan atas Korea Selatan pun tak mampu menandingi kecantikannya yang alami itu.

Pria itu merangsek, sedikit demi sedikit mendekatkan tubuhnya pada tubuh Yoona. Gadis itu merasa risih, dia menjauh namun pria itu mendekat, Yoona bergerak dan pria itu juga. Lagi.. lagi dan lagi… hingga Yoona terhimpit di antara sofa dan tubuh pria itu. Tubuh Yoona sedikit menggigil ketika merasakan embusan nafas pria itu.

 

“Kau mau apa Oppa?” Yoona masih menjaga nada bicaranya, berusaha sopan.

Pria itu tersenyum sinis,”Aku menginginkanmu,” sebuah jawaban singkat.

Yoona mengerti dan dia memberontak. Pria itu begitu kuat, dia mencengkeram kedua bahu Yoona hingga gadis itu tidak bisa melarikan diri atau setidaknya memperbesar jarak di antara mereka.

Pria itu seperti iblis, menatap Yoona dengan nafsu yang membara. Yoona menangis ketika bibirnya berhasil dijamah pria itu. Bahkan Jonghyun pun tidak pernah memeluknya, apalagi menciumnya seperti itu.

Bibirnya berdarah, Yoona memberontak dan pria itu menggigit kasar bibirnya. Perih amat sangat. Terlalu memalukan untuk diceritakan, tapi singkatnya pria itu berhasil menyatukan dirinya dengan diri Yoona. Yoona menggigit bibir bawahnya, merasakan perih yang amat sangat disusul dengan cairan merah yang mengaliri paha putihnya.

 

“Hentikan,” dia memukul dada pria itu. Kakinya menerjang perut pria itu. namun Yoona masih kalah.

Pria itu kesal, “Kau pelacur!” kemudian tangannya melayang di pipi kanan Yoona.

“TIDAK!”

“Seperti Ibumu,” ucap pria itu lagi dan menciumi Yoona lagi. Dengan penuh nafsu, dengan tiada rasa bersalah sedikitpun.

Yoona menangis lagi, sakit yang menjalari tubuhnya dan batinnya. Tiba-tiba dia teringat akan wajah cantik ibunya, akan senyum ibunya, akan suara lembut ibunya. Tiba-tiba dia mengingat kejadian lampau, saat dia berkata dengan dingin ‘Aku benci Ibu’ saat dia mengacuhkan ibunya, saat dia berhasil membuat ibunya menangis.

Terlalu banyak air mata hingga wajahnya basah. Semuanya terasa sakit, lalu hatinya berkata lirih ‘Ibu, sakit.. seperti inikah yang kau rasakan saat pria-pria brengsek itu menyentuhmu. Ibu…’

 

Semuanya sudah usai. Pria brengsek itu telah berhenti bergerak di atas tubuh Yoona dan dia pun telah memakai kembali pakaiannya dengan lengkap. Berbanding terbalik dengan Yoona yang tanpa sehelai benang pun, menangis memeluk dirinya sendiri dengan bibir yang berdarah, dengan kedua pipi yang juga sama.

Pria lain yang juga ada di sana, yang baru saja tiba, yang masih mengeret kopernya terdiam mematung melihat apa yang ditangkap matanya.

 

“KAU! BRENGSEK!!” dia maju kemudian menghantamkan tinjunya pada pria itu. Pria brengsek itu. Tidak puas, lagi dan lagi dia melayangkan tinjunya pada pria itu hingga pria itu terkapar tak berdaya dan Jonghyun menendangnya keluar dari apartemennya.

Tidak perlu penjelasan, dia sudah tahu. Yoona tidak bersalah, dia juga tidak berpikir bahwa mungkin Yoona menggoda pria yang dipanggil Jonghyun dengan sebutan ‘Hyung’ itu. Yoona tidak sepert itu. Dia gadis baik-baik, dan perlu diketahui dia membenci laki-laki, namun tidak pada Jonghyun.

Jonghyun menyelimuti tubuh Yoona. Gadis itu masih menangis dan memeluk tubuhnya.

 

“Oppa…” lirihnya, dia menatap Jonghyun dengan matanya yang bengkak.“Aku kotor. Seperti Ibu.”

Jonghyun menggelengkan kepala berkali-kali, menyangkal apa yang dikatakan gadis itu, “Tidak Yoong.”

“Maafkan aku,” gadis itu menangis perih. Dan di saat keadaan sudah seperti itu, dia baru menyadari dengan sangat baik bahwa dia mencintai pria itu. Im Yoona mencintai Jonghyun. Tapi Yoona berpikir semuanya sudah terlambat. Dia kotor sekarang, Jonghyun mungkin akan membencinya juga lalu meninggalkannya. Kemudian dia tidak punya siapa-siapa lagi.

Jonghyun merengkuh gadis itu kedalam pelukannya, erat. Dia ikut menangis lalu menciumi puncak kepala Yoona. “Aku mencintaimu,” ucap Jonghyun.

Yoona menangis semakin kencang, dia ingin membalas ucapan Jonghyun. Tapi sekali lagi, dia berpikir dia tidak pantas untuk itu.

“Kita berpisah saja Oppa.”

“Tidak akan. Aku mencintaimu Yoong.”

“Tidak bisa Oppa, aku kotor, aku kotor!”

Pertengkaran-pertengkaran seperti itu berlanjut dan diakhiri dengan suara tangisan yang semakin nyaring.

“Tidak peduli bagaimana keadaanmu. Aku masih sama, hatiku tetap mencintaimu. Percayalah. Kau milikku Im Yoona. Milikku selamanya, tidak akan pernah kubiarkan kau menjauh dariku.”

 

Im Yoona tidak bisa menjawab. Dan itulah yang terjadi di ujung malam itu. Kemudian dua hari setelah itu mereka berada di dalam pesawat menuju Fukuoka.

‘Terlalu banyak kenangan buruk untuknya di sini,’ lirih Jonghyun dalam hati. Pesawat meluncur di angkasa. Yoona memandang kumpulan awan putih. Jonghyun tidak berbohong akan kata-katanya, dia akan membuat gadis itu bahagia. Dan kali ini Im Yoona tidak dapat meragukannya lagi. Baik dirinya, diri Jonghyun dan cinta mereka…memang tidak pantas diragukan.

 

-The End-

 

haii, sebenarnya ini ff lama. iyaa saya belum nulis ff lagi. ini ditulis waktu saya masih kelas 3 SMP, jadi harap maklum kalo bahasanya beda sama bahasa yang biasa saya pake sekarang. ff ini juga pernah dipost di blog lain . dan omong-omong, besok hari kedua saya ujian mid semester…

31 thoughts on “THORN

  1. baguuuuuuuuuuus
    terharu bacanya…
    jonghyun percaya yoona dan akan buat dia bahagia. aaaaaaaa suka bgt.

    ditunggu karya berikutnya dan jongyoon couple tentunya hehehe.

  2. bagus bgt thor ceritanya….
    berhasil membuatku nangis….
    feelnya dpt bgt..

    paling suka…
    Tidak peduli bagaimana keadaanmu. Aku masih sama, hatiku tetap mencintaimu. Percayalah. Kau milikku Im Yoona. Milikku selamanya, tidak akan pernah kubiarkan kau menjauh dariku.”

  3. Sumpah aku was2 baca nih ff.wktu jonghyun ke jepang aku kira ntar dia kcelakaan trz yoong sndria terpuruk tpi tryta engga..eh pas tau yoondiperkosa mlah lbih parah..ksian bgt hidupnya untung jonghyun setia coba ada squel nya psti lnih greget ..heje aku suka deerburning .ditnunggu ff2 deerburning slnjutnya

  4. aish, jonghyun baik banget.. dia bener” tulus sama yoona… itu cowo siapa sih? –” berani bgt megang-megang *keroyok itu cowo* maaf thor, terbawa suasana, dan merasa kesal dengan pria yang ga tau derajat wanita –“.. wah selamat berjuan thor mid’a *cahyo*😀 ditunggu ff selanjtnya🙂

    • maaf.. fanfic ini sudah terlalu lama (hampir 3 tahun) jadi saya benar2 gak punya feeling lagi buat fanfic ini. maaf sekali ya.
      tapi terima kasih sudah membaca🙂

  5. oh ya ampun Chingu..aku nangis nih baca ff mu..,keren bnget cerita ny..daebak bnget deh..
    Jujur aku baru nemu ni blog..kebetulan aku lagi suka Deerburning..cari2..eh’ nemu ini blog..ff pertama yg aku baca disini ya ini…gilaaaa,keren ni ff..jadi pengin baca Deerburning yg lain..nde annyeong..

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s