5 Songs Challenge : Broken Heart

PicMonkey Collage Broken Heart

How it works:

1. Pick a character, pairing or fandom you like.

2. Put iTunes or equivalent media player on random.

3. For each song that plays, write something related to the theme you picked inspired by the song. You have only the time frame of the song: no planning beforehand: you start when it starts, and no lingering afterward; once the song is over, you stop writing. (No fair skipping songs either; you have to take what comes by chance!)

Author : Hanna Moran

Lenght: Oneshot

Genre: Sad, Romance

Note: Secara kebetulan lagu-lagu yang diputar di playlist bertema patah hati jadilah rangkaian cerita patah hati ini. Cast-nya hanya CNBLUE dan para gadisnya. Seperti judulnya, jangan berharap banyak pada happy ending ya🙂 Happy reading😀

****

Story 1

It’s been a year, winter, summer, spring and fall
But being without you just ain’t livin’ ain’t nothing at all
If I could travel back in time
I’d relive the days you were mine

– Incomplete, Sisqo-

  Mobil mewah hitam itu sudah menempati salah satu slot parkir VVIP sebuah gedung apartement, pengemudi didalamnya keluar, masih dengan setelan jas rapi, sepatu hitam mengkilap dan dasi yang sudah sedikit melonggar di lehernya. Laki-laki itu tampak seperti orang kebanyakan, langkahnya tegap menuju pintu lift yang terbuka, membawanya melesat menuju lantai 24.

Pintu terbuka setelah laki-laki itu menekan serentetan kode keamanan, laki-laki itu masuk dan melepaskan jas hitamnya dan menggeletakannya sembarangan di senderan sofa putih susu ditengah ruangan. Ia juga membuka dua kancing teratas kemeja putihnya dan membiarkan dasinya tergantung begitu saja. Laki-laki itu memejamkan matanya, selain kelelahan setelah seharian berhadapan dengan banyak berkas, bertemu banyak orang, ia juga telah menyelesaikan tugasnya yang lain hari ini, ia sudah selesai berakting menjadi manusia yang sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Ia menghela nafas panjang, menunjukan kalau ia yang sesungguhnya tidak dalam keadaan baik-baik saja, ia berusaha terlihat baik-baik saja sejak setahun lalu. Sejak sebuah amplop putih dengan pita merah maroon diatasnya dihantarkan menuju pintu apartementnya oleh seorang gadis cantik yang selalu dikagumi, perempuan yang mampu menghentikan waktu hanya dengan senyumannya, gadis yang selalu memenuhi hati dan pikiran laki-laki itu.

“Yonghwa-ssi, aku akan menikah dengan kekasihku bulan depan, aku harap kau datang” Kalimat itu yang membuat Jung Yonghwa merasa dijungkir balikan dalam semalam, hidupnya berubah. Ia rela menukar semua yang ia punya untuk membuat waktu berputar mundur, ia tak ingin melihat senyum wanita itu saat ia mengatakan “Aku akan menikah” bahkan dengan laki-laki yang tak pernah yonghwa temui wujudnya.

Tubuh Yonghwa terduduk lemah disofa, sebelah tangannya memijat pelipisnya pelan, sejak setahun lalu ia menjadi seorang penderita migraine parah dan juga menderita insomnia. Sejak ia melihat gadis cantik itu terbalutkan gaun putih indah dengan tudung kepala yang cantik, sejak ia melihat seorang lelaki menggandeng tangannya menuju altar, sejak ia melihat taburan bunga-bunga dan senyuman bahagia itu, Yonghwa tak lagi menjadi Yonghwa yang dulu, setengah nyawanya seperti hilang, hidupnya seperti kehilangan arti, ia seperti ingin mati. Setahun lalu hidupnya tak lengkap lagi, ia kehilangan wanitanya.

****

Story 2

Even if she forever…Doesn’t know my heart, it’s okay

I just need her to be where I can see her

Just as always, with those charming eyes, gestures, words

She just needs to exist, that’s all I need

-One Sided Love, Lee Hi-

  Jonghyun meletakan beberapa buku yang tertumpuk rapi di atas meja, membuat perempuan didekatnya mendongak dan segera menyembunyikan lembaran kertas yang tengah ditulisinya.

“Ck, aku tahu kau sedang menulis puisi cinta untuk hyungku kan?” Jonghyun menarik kursi dan duduk berhadapan gadis itu.

Gadis itu tersipu malu, dan Jonghyun menikmati semburat merah yang mulai terlihat dikedua pipi gadis itu. Gadis yang selalu terlihat cantik dimatanya. Sayang, kecantikan itu bukan untuknya.

“Kenapa kau tidak menggunakan email saja?  Itu lebih mudah”

“Apa kau tidak merasa aneh mengirim puisi dengan menggunakan email? Aku lebih suka cara lama, lagi pula di camp wajib militer kan tidak bebas menggunakan fasilitas Internet. Oh, satu lagi, ini terlihat lebih romantis bukan?”

Suara lembut gadis itu melantun menembus indra pendengaran Jonghyun, membuat detak jantung Jonghyun terus terpacu tak terkendali.  Sayang, suara lembut itu bukan untuknya juga.

“Aku penasaran bagaimana reaksi Hyung tiap ia membaca puisi darimu, ia pasti tertawa geli” Canda Jonghyun, yang diajak bercanda memelototinya sebal tapi tetap saja dimata Jonghyun itu sangat menggemaskan.

“Hei, aku hanya bercanda. Hyung pasti senang membaca puisimu, ia pasti membacanya berulang-ulang hingga kertasnya kusut dan tak berbentuk. Ngomong-ngomong, sudah berapa lama Hyung di camp wajib militer ya?”

“14 Bulan! Tinggal 7 bulan lagi dan dia akan bebas tugas” Terlihat binar senang dimata coklat gadis itu, mata yang selalu membuat Jonghyun terhanyut, dan sekali lagi keindahan mata itu bukan untuknya.

“Kau sabar sekali menunggu Hyungku”

“Tentu, karena aku mencintainya, menunggunya menyelesaikan wajib militer 2 tahun bukanlah hal sulit untukku”

“Seberapa besar cintamu pada Hyungku?” Gadis itu menerawang, tak menyadari raut serius diwajah Jonghyun.

“Besar… Sangat besar, Jonghyun. Jika kau mempunyai terlalu banyak uang hingga kau bisa membeli seluruh bintang dilangit, tapi itu terlalu sedikit jika dibandingkan dengan cintaku pada Hyungmu”

Rasa sakit itu mulai merambati hati Jonghyun, ia tahu akhirnya akan begini, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan tapi ia tidak pernah menyesalinya. Jonghyun bangkit berdiri, takut hatinya tak bisa bertahan lebih lama lagi jika ada didekat gadis itu. Ia meninggalkan gadis itu yang kembali berkutat dengan puisinya tentang cinta yang dikatakannya sangat terlampau besar.

    Matamu cantik, walaupun kau tak pernah melihatku

    Senyummu teduh, walaupun kau tersenyum bukan untukku

    Suaramu merdu, walaupun bukan mengucapkan namaku

    Cintamu besar walaupun bukan untukku

    Tapi selama kau masih ada disana, selama aku masih bisa didekatmu

    Selama kau masih bisa hadir dalam hidupku, aku merasa cukup.

    Aku tidak butuh seluruh bintang diangkasa

    Karena kau bintangku walaupun hanya bisa ku lihat dari jauh.

Jonghyun menuliskan puisi cintak tak terbalas untuk dirinya sendiri.

****

Story 3

Because there’s something left, I still have something left

That’s why I can’t forget you

Things I still have to tell you, things I wasn’t able to tell you

I’m sick of it, I’m sick of the same old words

-Tired, Urban Zakapa-

-Flashback-

“Kita akhiri saja semuanya hari ini” Suara Minhyuk yang menembus pendengaran seorang gadis terdengar salah.

“Mwo?” Hanya kata tanya itu yang bisa keluar dari bibir si gadis diujung telefon.

“Kita akhiri saja semuanya hari ini, kau bilang kau tak bisa terus bertahan dalam hubungan jarak jauh seperti ini kalau begitu kita akhiri saja. Seperti kau, aku juga ternyata tidak bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh seperti ini” Tak ada jawaban dari pernyataan Minhyuk tadi, yang Minhyuk dengar diujung telefon sana hanyalah suara nafas berat, mungkin gadis itu tengah menangis.

“Ya, kita akhiri saja disini” Akhirnya si gadis berbicara

“Kita lanjutkan hidup kita masing-masing” Akhirnya gadis itu menyetujui.

“Terima kasih banyak” Lalu sambungan telefon jarak jauh itu terputus begitu saja, si Gadis di ujung telefon yang memutuskannya. Dan sejak detik itu, Minhyuk tak pernah bisa menghubungnya lagi.

-Flashback end-

Minhyuk termenung di balkon sebuah restoran sejak 30 menit lalu. Percakapan telefon terakhir kalinya dengan mantan kekasihnya kembali berputar ditelinganya, saat itu Minhyuk tengah menyelesaikan kuliahnya di Australia 2 tahun lalu, saat itu menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang gadis  di Korea terasa begitu sulit. Kini setelah Minhyuk kembali ia ingin bertemu dengan gadis itu lagi, bukan untuk memintanya kembali karena Minhyuk tahu mantan kekasihnya sudah bersama dengan orang lain, tapi Minhyuk ingin mengatakan sesuatu yang belum sempat ia ucapkan padanya 2 tahun lalu, karena gadis itu tak memberinya kesempatan.

Hal yang belum sempat didengar dan tahu itu terus menghantui pikiran Minhyuk selama ini, hingga Minhyuk memberanikan diri untuk menunggu mantan kekasihnya di sebuah café yang tepat berseberangan dengan butik milik gadis itu, terlihat samar-samar di lantai dua seorang perempuan tengah sibuk dengan helai-helai kain dan beberapa manekin, ia terlihat sibuk dan baik-baik saja hingga ia tak sadar ada Minhyuk yang tengah memperhatikannya.

4 Jam sudah Minhyuk menunggu, hingga petang dan matahari mulai terbenam saat sosok gadis itu keluar dari butiknya. Gadis itu berjalan menuju mobilnya yang terparkir agak jauh dari pintu butik. Minhyuk bergegas menyusulnya yang kini terlihat sedang merogoh tas tangannya mencari sesuatu didalamnya.

“Annyeong” sapa Minhyuk saat jaraknya hanya beberapa meter, yang disapa menoleh dan kini diam terpaku ditempatnya berdiri, menatap lurus kedepan, menatap mata yang pernah ia rindukan bertahun lalu.

“Minhyuk?”

“Hi, Lama tidak berjumpa. Kau tampak baik-baik saja, aku senang” Minhyuk tersenyum, gadis itu pun tersenyum, rasa cintanya pada Minhyuk sudah lama hilang tapi senyum hangat laki-laki itu masih tampak menyenangkan dimatanya.

Perlahan Minhyuk mendekat dan mendekap tubuh gadis itu, yang dipeluk tampak terkejut tapi ia membiarkan Minhyuk memeluknya hangat.

“Maaf, untuk dua tahun yang lalu. Aku tak bermaksud menyakitimu”

“Aku sudah memaafkanmu, jauh sebelum kau meminta maaf”

“Tapi ada hal yang belum aku sampaikan padamu, aku tak sempat memberitahukannya padamu, aku harus memberitahukannya padamu sekarang juga”

“Apa? Katakan saja”

“Aku merindukanmu” . si Gadis memundurkan tubuhnya, perlahan melepaskan pelukan Minhyuk dan menatap matanya dalam.

“Kau tau kan aku tak mungkin kembali padamu”

“Ya, aku tahu, tapi aku selalu memikirkannya setiap saat. Aku tak memintamu kembali padaku, aku hanya ingin kau mendengar apa yang tak sempat kau dengar” Minhyuk kembali memeluknya.

“Aku merindukanmu, sekarang aku bisa benar-benar melepaskanmu. Berbahagialah dengan hidupmu sekarang” Kata Minhyuk. Mereka saling memberikan senyum. Hingga Minhyuk berbalik dan meninggalkan gadis itu. Minhyuk masih menyimpan rasa cintanya pada gadis itu untuk dirinya sendiri.

****

Story 4

My friends been telling me that I should let you go
You broke a lot of hearts and then you run away
I refuse to believe any of that it’s true
But I’ll hate it when they’re right and tell me told you so

-In To You, Adhitia Sofyan-

Mereka bilang jangan mau berpacaran dengan Jungshin, anak laki-laki itu terkenal berandalan dan suka mempermainkan perasaan perempuan. Ia memacari banyak gadis, memberikannya berjuta harapan tapi lalu ia mencampakan mereka begitu saja, menggoreskan luka dihati mereka.

Tapi tidak dengan gadis berambut sebahu yang kini tengah menggengam tangan Jungshin, mereka berjalan beriringan meninggalkan gedung sekolah. Sesekali mata bulat gadis itu melirik Jungshin yang lebih tinggi darinya, melihat apa yang sedang dilakukan Jungshin. Laki-laki dengan penampilan urakan khas pemimpin kelompok disekolah itu menatap lurus kedepan. Genggaman tangan Jungshin begitu hangat ditengah udara musim gugur.

Gadis itu tahu beberapa pasang mata menatap kearah mereka, gadis itu juga tahu apa yang terlintas di pikiran orang-orang itu, mereka pasti berfikir betapa bodoh dirinya masih mau berpacaran dengan Jungshin ditengah banyaknya pembicaraan buruk tentang Jungshin. Tapi gadis itu mencintainya, terlalu mencintainya hingga ia menutup telinganya dari komentar sekelilingnya, yang ia tahu ia ingin bersama dengan Jungshin dan itu yang ia miliki sekarang.

“Jangan hiraukan mereka” kata Jungshin seolah bisa membaca jalan pikiran kekasihnya, lalu tangan yang saling bergandengan itu terlepas, tangan Jungshin beralih merangkul pundak gadisnya membuat gadis itu semakin merasa nyaman.

“Hmm… mereka hanya terlalu bodoh” gadis bergumam.

Mulai gelap saat akhirnya mereka harus benar-benar berpisah. Gadis itu sudah sampai didepan pintu rumahnya.

“Aku akan sangat merindukanmu” Kata Jungshin, gadisnya tersipu.

“Kita akan bertemu lagi besok pagi”

“Masuklah”

Pintu tertutup dan Jungshin menapaki jalan pulang, hingga di tengah keramaian Jungshin berhenti karena ponselnya bergetar, ada satu pesan masuk dari seseorang yang merindukannya tapi bukan gadis berambut sebahu yang baru saja ia antar pulang.

Kini ditengan cuaca malam yang dingin, gadis berambut sebahu itu tengah mengeratkan mantel tebalnya. Beberapa waktu lalu ia terdiam di balik pintu rumahnya, ada rasa ragu-ragu dalam hatinya setiap kali ia melihat sorot mata Jungshin, ia tak pernah menemukan dirinya disana. Hingga teori-teori orang tentang Jungshin mulai bermunculan dipikirannya, ia meragukan Jungshin.

Dan sekarang teori-teori singkat orang tentang Jungshin terbukti. Setelah ia menyelinap keluar rumah yang kini ada didepan matanya adalah adegan mesra seorang pria tengah merangkul seorang gadis dan menciumnya seperti yang sering dilihat didrama-drama romantis, dan kali ini pemeran utama prianya adalah Jungshin.

Gadis itu berbalik, membenamkan kepalanya di balik hoodie tebalnya dan berjalan pulang, ia menunduk dalam karena matanya mulai basah. Akhirnya ia sadar teori itu benar adanya, ia membuktikannya seorang diri bahwa luka yang digoreskan ternyata cukup dalam.

****

Story 5

I never knew I could hurt like this

                                              “I wish I could talk to you for awhile”

Miss you but I try not to cry As time goes by

But it’s like you’re gone too soon

Now the hardest thing to do is say bye bye

-Bye Bye, Mariah Carey-

Disinilah pernikahan mereka yang baru berumur 1 tahun berakhir.

Dikompleks pemakaman yang di khususkan bagi para prajurit dan tentara perang yang tewas saat bertugas. Gadis itu kini tengah memainkan setangkai mawar putih disebelah gundukan tanah yang basah sehabis diguyur hujan tadi pagi.

“Jonghyun-a… Jonghyun-a” Gumam gadis itu sambil mengusap nisan yang terukir nama suaminya.

Jonghyun, seorang tentara perang tewas setelah 3 peluru menembus tubuhnya, 1 peluru tepat mengenai otak kanannya yang membuatnya meregang nyawa. Kejadian itu terjadi saat Korea Utara menyerang Korea Selatan diperbatasan, Jonghyun dengan gagahnya membela negaranya walaupun pada akhirnya peti matilah yang mengantarkannya pulang.

Dan gadis yang kini menangisinya seorang diri sudah tahu benar resikonya menjadi istri seorang tentara perang. Tapi ia tak pernah tahu rasa sakitnya ditinggalkan hingga seminggu lalu ponselnya berdering memberitahukan mimpi terburuk itu datang dan menjadi kenyataan.

“Jonghyun-a… kenapa secepat ini? Kita baru saja menikah, 1 tahun itu sangat singkat. Apa tidak boleh kalau aku ingin bersamamu lebih lama lagi?” Gadis itu mengusap air matanya yang menetes di pipinya. Ia melihat sekelilingnya, hanya ada dia seorang diri disana, awan abu-abu sudah menggantung dilangit, tapi gadis itu tidak peduli.

“Aku tidak akan menangis, sekuat tenaga aku tidak akan menangis. Orang-orang bilang kau akan menderita di surga sana kalau aku menangisimu, kalau begitu aku tidak akan menangis” Ia menghapus air matanya, hingga hanya menyisakan bekas mascara yang luntur terkena airmatanya.

“Jonghyun-a… Jonghyun-a….” Gadis itu memanggil lagi dengan suara yang mulai serak, berharap ada yang menyahut panggilannya tapi hanya ada angin musim dingin yang menemaninya. Gadis itu mengeratkan mantel tebal yang membalut tubuhnya.

“Jonghyun-a… dulu kau pernah bilangkan kalau sehabis masa tugasmu selesai kita akan jalan-jalan keliling Korea? Kau ingatkan kau bilang akan membawaku ke villa di atas bukit dan kita akan menghabiskan waktu kita bersama? Kau masih ingat juga kau bilang akan memasakan makan malam untukku dan kita akan membuat makan malam romantis? Apa kau ingat?” Semua pertanyaan itu tak ada yang menjawab, tapi gadis itu tak menyerah.

“Karena sekarang kau sudah ada di surga sana, maukah kau menungguku? Hingga saatnya nanti, hingga aku juga akan ada disurga, kita akan bertemu lagi. Kita akan melakukan banyak hal yang belum sempat kita lakukan” Tapi pada akhirnya air mata itu tak bisa dibendung lagi, gadis itu terisak hebat, tubuhnya bergetar, hatinya sakit seperti ribuan duri ditaburkan didalamnya.

“Kau mau menungguku kan Jonghyun? Seperti aku akan menunggu saat-saat kita bertemu lagi itu tiba. Aku akan menunggu waktunya tiba, aku akan selalu mencintaimu” Gadis itu memeluk bingkai foto kecil dalam dekapannya, foto pernikahannya dengan Jonghyun, dan ia meletakan mawar putih itu didekat nisan suaminya tepat saat rintik-rintik hujan turun.

–end–

*Untuk lagu leehi, lirik he dan his diganti menjadi she dan her karena sudut pandang cerita diambil dari sudut pandang Jonghyun (laki-laki)

12 thoughts on “5 Songs Challenge : Broken Heart

  1. wuaaah i miss your story kak🙂
    paling suka sama jungshin version❤
    but, i feel smth different here, idk why -_-'
    oh, jgan masukin ke ati kak, seem like my brain kinda strange, hahaha
    waiting the next story ^^~

  2. deeek…. cerita kamu ngejlebb banget ada satu cerita yg mirip bgt sama pengalaman aku huhuhu…. ceritanya baguussss… apalagi kalo bagian Jonghyun cast ceweknya itu aku~😄

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s