Before You Go

BEFORE YOU GO

(cnblue/f(x)) kang minhyuk/jung soojung

Dulu gadis itu mencintai bunga matahari.

Dulu gadis itu selalu datang, seperti musim panas.

Dulu judul kisah ini adalah Cinta.

sooj-1

//

Musim panas datang dan pergi. Bunga matahari mekar dan layu. Dan mereka masih bertahan dalam kisah ini.

“Kau… Minhyuk,” Soojung memberitahu, ada senyum kecil di bibirnya. “Kang Minhyuk. Dan aku Soojung—Jung Soojung.” Dia menekan jari telunjuknya pada dada Minhyuk, pada dadanya kemudian.

Minhyuk memperhatikan bagaimana mata indah itu berkedip. Pelan dan teratur. Ada ketenangan, juga setitik kebahagiaan di sana. Berkedip lagi, dan Minhyuk dapat menonton kilasan balik dari sana.

Seperti dua anak kecil yang berlarian di tengah musim panas. Di antara bunga matahari yang bermekaran yang bergoyang bersama angin. Suara tawa dan teriakan yang mengalahkan ombak di pantai. Kikikan-kikikan tertahan yang mengisi rumah pohon mereka.

Itu pernah terjadi, Minhyuk selalu mengingatnya. Meski hal yang tak dapat dielakkan dari memori, adalah kehilangan.

“Jung Soojung,” Minhyuk mengulurkan tangannya, menyentuh wajah gadis dengan bola mata hitam—sehitam rambut panjangnya yang rapi. Membiarkan jari-jemarinya mempelajari struktur wajah Soojung. Tulang pipinya, dulu dia pernah mendaratkan kecupan kecil di sana, juga dahinya.

“Kau akan pergi?” Soojung bertanya, membiarkan tangan halus Minhyuk terus bermain di wajahnya tanpa merasa terganggu sedikit pun. Sentuhan itu, entah mengapa, rasanya sangat familiar.

“Um.” Minhyuk memberikan anggukan pelan, meski hatinya menggeleng. Dan tangannya berhenti menyusuri wajah Soojung. Tapi matanya belum mau berhenti menatap mata indah gadis itu.

“Kau akan datang besok?” Soojung bertanya, nadanya seperti memohon. Dan Minhyuk sudah mendengar ini entah sejak kapan, yang jelas Soojung selalu menanyakan hal yang sama, juga meminta hal yang sama. Setiap hari. Minhyuk berharap ini akan terus terjadi, dan dia berharap suatu hari nanti dia tidak akan mengeluh dan bosan akan suara gadis ini—itu adalah apa yang sangat Minhyuk takutkan.

“Tentu.”

“Janji?”

“Janji, Soojung.”

//

Musim panas datang dan pergi. Dia selalu di sana setiap pagi, mendahului kuncup bunga matahari yang belum mekar juga.

“Halo,” seseorang menjawab panggilan teleponnya, setelah harus membiarkan nada tunggu berdengung sedikit lebih lama.

“Halo,” dia menjawab, tapi matanya mengintip ke bawah.

“Halo, aku Jung Soojung. Siapa kau?” suaranya riang, seperti seseorang yang baru lahir. Terkejut dan bahagia menyaksikan betapa indahnya dunia, tanpa pernah tahu kapan dunia itu akan memberinya rasa sakit.

“Kang… Minhyuk.”

“Oh.”

“Kau mengenalku?” secercah harapan selalu mengisi ceruk hatinya yang kosong selama bertahun-tahun belakangan ini.

“Tidak.” Soojung menjawab. “Kurasa begitu.”

Dan ketika secercah harapan itu mengisi ceruk hatinya, tanpa sempat memberikan sekuncup cahaya pun, selalu saja harapan itu pudar, pudar, pudar… tapi tidak pernah menghilang sepenuhnya.

“Tidak apa-apa.” Minhyuk menjawab. Mengisi rasa pahit itu dengan sisa-sisa senyum yang dia punya. “Apa yang kaulakukan, omong-omong?”

“Aku belajar. Ini aneh ya, mereka bilang aku sangat pintar, tapi anak sebelah bilang ini pelajaran anak SD. Masa aku harus belajar pelajaran anak SD lagi. Eh, tapi apa sih SD itu, omong-omong?” suara tawa memenuhi sambungan telepon pagi itu. Gigi-giginya terlihat bersinar kala itu.

“Tidak apa-apa, manusia selalu melakukannya; mengulang dari awal. Jangan cemas, mereka benar, kau pintar.” Minhyuk memberanikan diri maju satu langkah, satu langkah lebih dekat pada Soojung. Minhyuk memperhatikan senyum dan tawa yang menyisakan kebahagiaan di wajah Soojung.

“Aku senang sekali mendengarmu bicara seperti tadi. Rasanya sangat… sangat…–“

“Familiar, Soojung?”

“Ya! Fami… familiar. Rasanya aku sering mendengarnya, tapi nyatanya tidak.”

“Itu yang disebut dengan De Javu.”

“Apa lagi itu?”

“Kau harus mencari tahunya sendiri, hitung-hitung menambah wawasan.”

“Oh-“

“Soojung…”

“Ya?”

Suara burung tidak pernah terdengar lagi. Kali terakhir mereka mendengarnya, itu terjadi saat mereka hanyalah sepasang remaja yang tidak pernah takut untuk jatuh cinta. Tapi manusia selalu merasa waktu berjalan sangat cepat. Tanpa mau menunggu siapa pun yang lengah, untuk melangkah bersama. Bahkan, cinta pun tak bisa mengalahkan kekuatan waktu.

“Kau ingin melihat bunga matahari?”

“Tidak… aku rasa aku tidak terlalu menyukainya.”

“Soojung?”

“Ya?”

“Tidak apa-apa. Aku harus menutup telepon sekarang.”

“Oh. Ya, oke. Baiklah kalau begitu.”

Bip.

Minhyuk berdiri di sana, dan jika saja Soojung mendongak, gadis itu pasti akan menemukannya. Berdiri di sana, menatapnya, mencengkeram pagar pembatas erat-erat, mencegahnya melompat bebas ke tanah. Tapi keadaan membuat Minhyuk lebih sering mengintip dari jarak seperti ini.

Soojung menulis, melanjutkan apa yang dia kerjakan sebelum Minhyuk menelepon. Foto-foto Polaroid bertebaran di atas mejanya. Bunga matahari… bunga matahari…

Selalu ada bunga matahari sebelumnya. Setidaknya beberapa tahun yang lalu, saat keduanya masih begitu muda dan polos. Selalu tidak ada bantahan ketika jari-jemari mereka saling bertaut satu sama lain. Ada rasa saling memiliki, dan tidak ingin kehilangan satu sama lain.

Bunga matahari saksinya. Senyum malu-malu di bawah senja musim panas, dan kecupan-kecupan manis yang mereka ciptakan.

Minhyuk ingat itu. Satu tahun… dua tahun… tiga tahun…

Soojung selalu memimpikan itu semua. Terbangun di pagi hari dan terdiam selama beberapa detik untuk memikirkan mimpinya tapi kemudian melupakannya hingga benar-benar tidak meninggalkan bekas di otaknya.

Lalu… Kang Minhyuk.

“Kang Minhyuk?” suaranya terdengar ragu di kala mengucap nama itu Minhyuk mengernyitkan dahi, jantungnya melompat-lompat. Mungkin musim panas kali ini akan membawa keajaiban, pikirnya. Mungkin ingatan-ingatan itu akan kembali dengan sendirinya. “Kang Minhyuk? Aku tidak mengenalnya.” Soojung menggeleng pelan, berkata pada dirinya sendiri. Lalu menyobek kertas-kertas yang bertuliskan nama lelaki itu. Lelaki yang menunggunya dan mencintainya.

//

Musim panas datang dan pergi. Dia masih setia dan sama sekali tidak putus asa. Selalu ada panggilan telepon untuknya. Rutin, dari tahun ke tahun. Lama dia menantikan gadis itu untuk meneleponnya, tapi itu bukan dia. Itu kakaknya.

“Ini sudah lama sekali kan?” suara mereka mirip, tapi sekali lagi, ini sungguh bukan Soojung.

“Sooyeon-“

“Apa pikiranmu masih sama?” tapi suara gadis ini tak pernah seriang Soojung.

“Sooyeon-“

“Ini permintaan sederhana, Minhyuk. Dan ini kulakukan untuk kebaikanmu, kau tahu.”

“Kebaikan macam apa?”

Helaan napas terdengar halus, “Berhenti, Minhyuk. Sudah cukup. Kau menyakiti dirimu sendiri. Tinggalkan Soojung. Kau tidak akan mengubah apa pun yang terjadi padanya sekarang. Kau hanya mengubah dirimu sendiri, menjadi seseorang yang terluka. Jangan menipu sendiri. Tidak bisakah kau menerima kenyataan?”

“Sooyeon, ini tidak terdengar seperti itu.” Minhyuk tertawa, meski dia tahu dia adalah seseorang yang suka memalsukan tawanya.

“Tahun pertama, dia melupakan acara kencan kalian. Tahun ke dua, dia lupa alamat rumahmu. Tahun ke tiga, dia tidak ingat nomor teleponmu. Tahun ke empat, dia melupakan ulang tahunmu. Tahun ke lima, dia tidak mengingat namamu. Dan tahun ke enam—kini—dia melupakan dirinya sendiri.” Minhyuk bisa membaca suara Sooyeon, gadis itu terisak, tapi berusaha menelan isakan itu sebaik mungkin.

“Aku tahu.”

“Maka dari itu, bisakah kau berhenti saja. Dia tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi. Dan kau sudah jatuh terlampau jauh.”

“Tapi aku tidak bisa berhenti.”

“Kenapa?”

“Kau tidak akan mengerti alasannya, Sooyeon. Karena kau bukanlah aku, maupun Soojung. Kau tidak pernah menjadi salah satu di antara kami.” Minhyuk menjawab, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada sebelum ikut terisak bersama Sooyeon. Sebelum senja terakhir di musim panas berakhir dan semua orang harus menunggu tahun depan lagi agar bunga matahari mekar dan berharap gadis itu secara ajaib akan kembali. Itu hampir mustahil. Semustahil bintang jatuh di siang hari. Tapi tidak ada yang bisa menghentikan mengalirnya sebuah harapan.

Karena, meski hidup selalu memberinya pilihan sederhana seperti melupakan atau dilupakan, dan meninggalkan atau ditinggalkan. Minhyuk dan Soojung tidak pernah memilih satu pun di antara pilihan sederhana itu.

Yang mereka lakukan adalah bertahan, berusaha untuk mengingat dan tinggal. Meski Alzheimer menguasai kisah ini.

//END

21 thoughts on “Before You Go

  1. yakkkk😦 aq pengenn,nya yg happy endingg !!!
    tapp guk apalah yang penting mah ini dah baguss ^^ lain kalli bikin yang happy ending ea ^^
    ok keep writng and always fightingg !! ^^

  2. cerita singkat yang mengesankan. bahasa yang kamu pilih enak banget dibacanya. feelnya juga nyampe. mungkin akan sedikit membingungkan masalah alurnya karena ini terkesan perpindahan waktunya cepet banget. tapi buat aku sendiri ini keren dan aku suka.

    ditunggu fict kamu yang lain esp minhyuk krystal hahaha! semangat!

  3. howaaa.. gaya penulisan author masih sama seperti biasanya, dalam dan menganyutkan… Kok Soojung bisa lupa secepat itu ya? Apakah dia terkena sebuah penyakit?
    Ditunggu lagi ya ff menyentuhnya🙂

  4. alzheimer selalu berhasil bikin bumbu pedih di cerita pasangan kekasih
    huhuhu..sedih juga baca ff ini
    dapet rekomendasi ff hyukstal dr temen, niatnya mau menghibur diri, taunya malah nyesek setelah baca
    tp gpp, bagus bangeeetttt ceritanya jd gak nyesel meskipun nyesek, hehe
    cerita km bagus banget, rangkaian kata2nya oke sekali, adegan2nya menyayat hati, hal2 kecil seperti bunga matahari, dll jg nambah keren ceritanya

    “Karena, meski hidup selalu memberinya pilihan
    sederhana seperti melupakan atau dilupakan,
    dan meninggalkan atau ditinggalkan. Minhyuk
    dan Soojung tidak pernah memilih satu pun di
    antara pilihan sederhana itu.”
    dan bagian itu yg paling aku suka

    pokoknya ini bagus sekali🙂
    makasih udah buat cerita sebagus ini
    terus berkarya, author🙂
    semangat!

  5. aahh sedih, menyentuh banget kisahnya. orang kaya minhyuk di dunia ini tuh sekarang susah banget dicari. :’)
    “setia” satu kata sederhana tapi mahal harganya :’)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s