Seoul Night Life [Part 5]

Seoul night life

Author: Hanna Moran

Rating: PG17

Genre: romance, family, Friendship

Length: chaptered

Cast:

– Kang Minhyuk CNBLUE

-CL/Chaerin 2NE1

Other cast:

– Junhyung Beast

Desclaimer: Inspired by some western movie

Note: [Part1] [Part 2] [Part 3] [Part 4]

****

Chaerin melihat angka yang tertera pada thermometer digital ditangannya, suhu tubuh Minhyuk nyaris 40 derajat celcius. Kini laki-laki itu tengah meringkuk dibalik selimut tebal yang baru saja Chaerin sampirkan. Chaerin menghela nafas, ia tak bisa membayangkan keadaan Minhyuk kalau saja ia tak datang, mungkin Minhyuk akan mati kesepian di apartmentnya.

Chaerin meletakan thermometer dinakas tepat disamping tempat tidur Minhyuk, ia hendak keluar kamar Minhyuk saat tangan Minhyuk yang mengintip dari balik selimut menangkap tangan Chaerin tepat saat Chaerin akan melangkah pergi.

“Tetap disini” terdengar suara berat dan serak Minhyuk, perlahan Minhyuk menarik tangan Chaerin mendekat, membuat Chaerin terduduk di sisi tempat tidur Minhyuk, tapi tangan Minhyuk memeluk pinggang Chaerin membuat Chaerin terbaring disisinya, Minhyuk membagi selimut tebalnya dengan Chaerin dan memeluk Chaerin erat seolah Chaerin akan kabur jika Minhyuk tak memeluknya erat.

“Aku harus membereskan ruang tamu, sangat berantakan karena ulahmu” Kata Chaerin sembari berusaha melepaskan pelukan Minhyuk.

“Nanti saja, akan ada orang yang membereskannya”

“Aku juga harus mengambil air untuk mengompresmu, supaya suhu tubuhmu cepat normal”

“Aku akan sembuh dengan sendirinya”

“Aku…”

“Chaerin, jangan mencari alasan lagi. Aku sedang sakit, jadi tak mungkin melakukan hal macam-macam denganmu” Kata Minhyuk, Chaerin hanya terdiam

“Nikmati saja dipeluk oleh cinta pertamamu” Kalimat Minhyuk membuat Chaerin mendongak menatap wajah Minhyuk yang begitu dekat dengan wajahnya, Mata Minhyuk terpejam, nafas panas dari hidungnya menerpa rambut Chaerin, jantung Chaerin tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ya, kini ia ada dalam pelukan cinta pertamanya, laki-laki yang ia temui saat ia masih kecil sebagai teman sekelasnya kini telah berubah menjadi seorang laki-laki yang tetap ia cintai.

Tangan Chaerin bergerak mengusap dada Minhyuk, ia tahu ditempat dimana tangannya diletakan ada rasa sakit dan perih yang tengah Minhyuk rasakan, rasa sakit yang ia rasakan selama bertahun-tahun dan sudah Minhyuk kubur jauh-jauh dalam hatinya, tapi kini rasa sakit itu harus kembali ia rasakan, bahkan mungkin rasa sakitnya berkali-kali lipat lebih parah.

Perlahan Chaerin menutup matanya, ia pun lelah. Semalam sehabis ia menyelesaikan pekerjaannya sebagai DJ, dan dini hari Junhyung memaksanya ikut dengannya dan meninggalkannya di depan apartment Minhyuk. Ia belum beristirahat barang sedetikpun, jadi ia pikir tak ada salahnya ia ikut tertidur seperti Minhyuk.

 

****

Chaerin terbangun, matahari sepertinya hampir bertukar posisi dengan malam, karena bias warna orange dan merah terpantul dari balik tirai kamar Minhyuk. Chaerin bangun seorang diri, Minhyuk sepertinya sudah agak lama meninggalkan kamarnya.

“Sudah bangun?” Tanya Minhyuk saat Chaerin keluar dari kamarnya, Minhyuk tengah berdiri dengan secangkir kopi hitam panas ditangannya.

“Kali ini kau masih berpakaian lengkap” kata Minhyuk sambil tersenyum mengejek, tapi senyum itu langsung pudar saat ia melihat raut wajah Chaerin yang terlihat tersinggung, malu dan kesal. Tentu kejadian di mana ia dan Minhyuk tidur bersama masih membuatnya kaget dan sebal.

“Maaf, aku tidak bermaksud” sesal Minhyuk.

“Aku dengar kau bertemu dengan ayah kandungmu” Chaerin berusaha mengalihkan pembicaraan, kali ini raut wajah Minhyuk yang berubah kaku dan tegang.

“Ayah kandungku sudah mati ,Chaerin”

“Kau sedang lari dari kenyataan, Minhyuk”

“Dia tidak pantas muncul lagi di hadapanku, kalau saja aku tak tahu kalau ibuku masih mencintainya bahkan hingga ia meninggal, aku sudah membunuhnya”

“Lalu bagaimana keadaanya?”

“Ia sakit, miskin dan menderita, ia tinggal dengan seorang anak perempuannya”

“Kau tau ia sakit, miskin dan menderita tapi kau masih tega ingin membunuhnya? Apa kau tidak berfikir rasanya jadi anak perempuannya yang akan ditinggalkan pergi oleh ayahnya? Aku dan kau pernah merasakan rasanya di tinggal mati orang yang kita sayangi, aku akan mengutukmu seumur hidup kalau kau melakukan hal yang sama pada orang lain”

Hening. Suasana diruangan itu seketika berubah menjadi hening. Chaerin dan Minhyuk kembali berkutat dengan pikiran mereka masing-masing.

“Aku harus pulang, aku akan bekerja sebentar lagi”

“Berhentilah menjadi DJ di club murahan itu”

“Kalau aku berhenti bekerja disana, mau dengan apa aku membayar sekolah adikku?”

“Kalau aku bilang aku yang akan membiayai semua kebutuhan adikmu kau pasti protes, kalau begitu bagaimana kalau aku kembali bekerja di Kings, kau akan aman disana, tidak akan ada yang menganggumu, aku akan ada disana”

“Tidak saat ini, aku akan memikirkannya nanti. Kau sudah terlihat lebih baik, kalau begitu biar aku pergi” sebelum Chaerin pergi Minhyuk lebih dulu menarik tubuh Chaerin dan mengapitnya diantara dinding ruang tamu dan tubuhnya.

“Aku harus pergi Minhyuk, nanti bossku marah” , Minhyuk tak menggubris protes Chaerin, tubuh Minhyuk kembali mendekat pada tubuh Chaerin.

“Keras kepala sekali cinta pertamaku ini, apa ini bisa membuatnya berhenti menjadi keras kepala?” Tepat saat kalimatnya berakhir Minhyuk mengecup bibir Chaerin dalam, hingga Chaerin terbuai dalam pelukan dan ciuman Minhyuk.

Cinta pertama, satu hal yang ditangkap pendengarannya adalah bahwa ia tak hanya memendam perasaanya seorang diri, bahwa Minhyuk juga memendam hal yang sama, memendam cinta pertamanya dan tak pernah bisa mengungkapkannya untuk waktu yang sangat lama. Hingga akhirnya kalimat itu terucap, keduanya sudah saling mencintai untuk waktu yang sangat lama.

 

***

Minhyuk tengah memperhatikan Chaerin yang kini tengah melahap makan malamnya, kali ini Minhyuk berhasil menahan Chaerin diapartementnya. Minhyuk memperhatikan Chaerin, Minhyuk sendiri tengah berusaha menutupi masalahnya dari Chaerin, ia tidak ingin Chaerin tahu beban yang tengah ia pikul.

“Hei, kau harus makan juga, kau belum sembuh benar” kata Chaerin sembari memperhatikan Minhyuk, Minhyuk memberikan senyuman yang bisa membuat hati semua wanita meleleh tiba-tiba tak terkecuali dengan Chaerin sebelum ia melahap sepotong daging asap buatan Chaerin.

Ponsel Minhyuk berbunyi, Minhyuk melirik pada ponselnya, dan Chaerin menangkap perubahan raut wajah Minhyuk yang walaupun Minhyuk berusaha menyembunyikannya sekeras mungkin, Chaerin tetap merasakan perubahan emosi pada Minhyuk saat laki-laki itu beranjak menuju balkon untuk berbicara dengan si penelepon.

“Ini bukan urusanku jadi berhentilah menghubungiku” Terdengar suara Minhyuk datar tetapi penuh emosi.

“Aku mohon, tolong ayahku, ayahmu juga. Ia terbaring dirumah sakit karena ia terus memikirkanmu, ia tak mau makan beberapa hari ini hingga ia jatuh sakit. Ia dirawat diruang ICU saat ini”

“Ia bukan ayahku, jadi berhenti memohon padaku untuk bertemu dengannya!!”

“Aku mohon… aku mohon. Ia tengah sekarat, yang ia panggil hanya namamu dan nama Ibumu”

“Aku tak peduli kalau ia sekarat saat ini, aku akan membiarkan dia mati disana”

“Tolong… aku mohon. Aku tak mau ia sekarat seperti ini. Aku Mohon”

“AKU BILANG BERHENTI MEMOHON PADAKU UNTUK DATANG, AKU TAK AKAN DATANG BAHKAN JIKA IA  MATI SEKALIPUN!!!” Minhyuk berteriak dengan emosi lalu ia melempar ponselnya kelantai, nafasnya memburu cepat, Minhyuk mengepalkan tangannya demi meredam emosinya.

Chaerin yang mendengar teriakan Minhyuk segera berlari dan menghampirinya, ia melihat ponsel Minhyuk tergeletak di lantai, sambungan ponsel itu belum terputus.

“Yoboseo…” Chaerin berbicara pada orang yang menelepon Minhyuk tadi, terdengar isakan seorang gadis.

“Yoboseo.. siapapun yang sekarang bicara padaku, tolong aku dan ayahku”

Chaerin melirik Minhyuk yang kini hanya diam menerawang dengan tampang kesal.

“Aku Chaerin, teman Minhyuk. Ceritakan apa yang terjadi”

“Aku Sanmi, adik tiri Minhyuk. Saat ini ayahku tengan dirawat di ruang ICU, ia jatuh sakit karena depresi tak mau makan ataupun keluar kamar sejak Minhyuk datang kerumah. Ayahku ingin sekali bertemu dengan Minhyuk dan meminta maaf. Dokter bilang kondisi ayahku terus menurun dan bisa semakin lebih buruk. Aku mohon bujuk Minhyuk untuk datang, setidaknya hingga kondisi ayahku membaik, aku mohon… aku tak mau kehilangan ayahku dengan cara seperti ini, ia sudah cukup banyak menderita aku tak mau ia lebih menderita lagi” Gadis itu terus terisak.

“Baiklah, aku akan membawa Minhyuk kesana. Katakan pada ayahmu untuk bersabar”

“Chaerin, apa yang baru saja kau katakan? Kau akan membawa aku bertemu bajingan itu?”

“Minhyuk, Ia tengah sekarat. Tak bisakah kau berbelas kasihan, bagaimanapun ia ayah kandungmu”

“Dia pantas mati Chaerin”

“Pikirkan apa yang Omma mu akan rasakan jika tahu anaknya membiarkan laki-laki yang ia cintai menderita seorang diri hingga sekarat? Ini yang disebut anak yang berbakti. Aku kecewa padamu Minhyuk” Chaerin menatap Minhyuk dalam, Minhyuk masih mempertahankan egonya, hingga ia lihat Chaerin mengambil jaket yang tersampir di sofa dan mengenakannya.

“Kau mau kemana?” Tanya Minhyuk

“Kalau kau tak mau menemui ayah kandungmu, biar aku yang pergi, setidaknya aku ini masih manusia yang punya hati dan otak. Tidak sepertimu” Chaerin meninggalkan Minhyuk seorang diri. Kata-kata terakhir Chaerin menampar Minhyuk begitu keras, hingga tanpa Minhyuk sadar kakinya berlari menyusul Chaerin yang sudah lebih dulu pergi.

***

Seorang gadis tengah duduk menunggu, matanya merah karena terus menerus menangis. Dihadapannya, di ruangan lain yang dipisahkan kaca besar terdapat ayah kandungnya yang kini sedang terbaring tak sadarkan diri.

“Minhyuk-ssi” Panggil gadis itu saat ia melihat Minhyuk tengah berjalan dilorong rumah sakit, Chaerin berjalan disampingnya.

“Apa yang terjadi padanya?” Tanya Minhyuk dengan datar, seolah hanya basa-basi belaka.

“Setelah kau meninggalkan rumah beberapa hari lalu, ayah tak mau makan dan berbicara, hingga ia jatuh sakit dan beristirahat dirumah. Lalu saat aku meninggalkannya seorang diri untuk membelikannya makanan ia berusaha keluar kamar seorang diri, tapi ia terjatuh dan penyakitnya kambuh semakin parah”

Minhyuk menoleh keruangan yang terbatas kaca besar, ia menemukan sosok ayah kandungnya tengah berbaring lemah dengan mata tertutup. Banyak peralatan kedokteran yang terhubung ketubuh rentanya, nafasnya sangat berat seolah oksigen adalah benda terberat yang harus ia hirup.

“Ia selalu memanggil namamu setiap kali ia mengingau, Minhyuk-ssi” Penjelasan tambahan itu membuat Minhyuk mendengus.

“Temui dia, bicaralah padanya sebentar saja setidaknya ia tahu kau datang menjenguknya, mungkin ia akan lebih cepat pulih setelah kau bicara dengannya” Chaerin berbisik disamping Minhyuk.

“Tidak ada yang harus kau bicarakan dengannya, kita pulang saja” Kata Minhyuk berbalik.

“Ah satu lagi, semua biaya rumah sakit biar aku yang tanggung. Apa itu sudah cukup?” Tanya Minhyuk pada Sanmi, yang ditanya hanya mengangguk dan Minhyuk meninggalkan ruangan ICU itu.

 

****

“Itu balasan yang setimpal untuknya” Minhyuk menatap lurus kedepan, ia dan Chaerin ada didalam mobil Minhyuk tapi mobil itu masih terparkir di halaman rumah sakit.

“Tapi ia sudah cukup menderita dengan itu semua, ia sudah meminta maaf atas kesalahannya, kenapa kau tidak bisa memaafkannya? Semua orang pernah melakukan kesalahan, kau dan aku juga punya kesalahan”

“Chaerin, gelas yang pecah tidak akan pernah bisa utuh walaupun ratusan kali kau meminta maaf padanya, dan pecahannya tetap bisa melukai siapapun yang menyentuhnya”

“Ia ayah kandungmu Minhyuk, berhentilah menjadi keras kepala”

“Aku tak pernah minta ia menjadi ayah kandungku. Ayahku hanya Kim Song Il”

“Terserah kau saja!! Aku akan menungguinya disini” Chaerin hendak turun dari mobil saat tangan Minhyuk menahannya, bahkan mencengkeramnya terlalu keras.

“Untuk apa? Kau akan membuang waktumu”

“Biarkan saja, aku hanya tak ingin gadis yang adalah adik tirimu itu menjadi sepertiku” Chaerin melepaskan cengkeraman tangan Minhyuk dengan kasar dan segera berlari keluar dari mobil. Minhyuk geram, ia memukul stir mobilnya, tak lama ia menyalakan mesin mobilnya dan membelah jalanan malam kota Seoul dengan kecepatan sangat tinggi.

 

****

Ponsel Minhyuk terus berdering, tetapi si pemilik malah mengacuhkannya. Minhyuk tengah meneguk bergelas-gelas minuman beralkohol, telinganya hanya mampu mendengar suara berisik dan dentuman lagu-lagu disko yang dimainkan seorang DJ, kesadaran Minhyuk mulai berkurang, ia setengah mabuk.

Suasana remang-remang disekitarnya membuat Minhyuk semakin tenggelam dalam minumannya, seolah semakin banyak ia meminumnya maka persoalan hidupnya akan semakin berkurang, setidaknya itu yang saat ini Minhyuk yakini.

Sebuah pesan masuk, mungkin si penelepon sudah lelah menunggu Minhyuk menjawab panggilannya hingga akhirnya ia mengirim sebuah pesan. Dengan sempoyongan Minhyuk mengambil ponselnya dan membaca pesan di kotak amusk ponselnya.

-Dimana kau? Di club? Aku hanya ingin memberitahumu bahwa ayah mu sudah sadar, ia ingin sekali bertemu denganmu walaupun sebentar. Itupun kalau kau sudi. –

“Agggh!!! Chaerin untuk apa kau mengurusi hidup orang tak berguna itu!!” Geram Minhyuk hingga ia melemparkan ponselnya ke lantai membuat ponselnya berserakan begitu saja. Minhyuk menunduk,kepalanya sakit, semuanya terlihat berputar-putar. Dadanya sesak, ia tak pernah sesesak ini sebelumnya, bukan sesak karena alcohol yang ia minum atau karena suasana club yang begitu hiruk pikuk tetap sesak yang disebabkan banyaknya masalah dan pikiran yang melanda hidupnya.

****

Sudah dua hari Minhyuk tak bertemu Chaerin, Minhyuk datang ke club dan juga apartement Chaerin tapi menemukan gadis itu dimanapun. Minhyuk sebenarnya tahu dimana ia akan menemukan Chaerin tapi ia terlalu enggan mendatangi tempat itu.

Pelan-pelan ada rasa rindu yang masuk kedalam hati Minhyuk, ingatan Minhyuk kembali pada saat-saat ia masih kecil selalu bermain bersama Chaerin, saat Ibunya meninggal Chaerin ada disana untuk menemaninya dan Minhyuk mengingat saat ia dan Chaerin tidur bersama, saat mata Minhyuk terbuka orang pertama yang ia lihat adalah Chaerin yang tengah terlelap dalam dekapannya, sudah tak ada lagi batas antara dirinya dan Chaerin. Lalu saat Chaerin menghilang, Minhyuk merasakan kehilangan yang sangat walaupun ia tahu Chaerin pasti baik-baik saja, tapi ingin rasanya Minhyuk datang dan memohon maaf padanya. Dan betapa leganya ia saat dirinya terpuruk dan Chaerin muncul dengan wajah cemas dibalik pintu.

Minhyuk tahu mereka sudah tumbuh menjadi orang-orang dewasa tapi dimata Minhyuk, Chaerin tetaplah teman kecilnya. Dibalik citra Chaerin yang begitu kuat, DJ CL yang begitu terlihat angkuh dan glamor tapi Minhyuk tetap melihat Chaerin sebagai gadis lembut yang perhatian.

Minhyuk menarik nafas panjang dan merogoh sakunya mengambil ponselnya, menekan beberapa nomer dan menunggu jawaban.

“Dimana kau?” Tanya Minhyuk

“Dirumah sakit”

“Sudah kubilang tinggalkan ia seorang diri disana”

“Tidak mau. Dokter bilang keadaannya semakin membaik walaupun ia masih mengalami depresi”

“Aku tak mau tahu keadaannya, cepat pulang. Kau tidak akan dibayar olehnya untuk menjadi seorang perawat”

“Temui ayahmu dulu baru akan pulang”

“Ayahku? Ayahku hanya Song Il dan beliau tidak sedang dirumah sakit jadi aku tak akan kesana”

“Terserah kau saja”

“Ya! Lee Chaerin, kau…”

Tuuut Tuut Tuut

Sambungan telefon sengaja diputus membuat Minhyuk geram, ia mengacak-acak rambutnya frustasi, ia menyandarkan tubuhnya ditembok kamarnya. Sekelebat terbayang keadaan ayah kandungnya yang terbaring lemah di ruang ICU. Minhyuk mengambil figura foto ibunya didekatnya dan menatap lekat wajah ibunya difoto itu.

“Omma.. apa yang harus aku lakukan? Aku begitu membencinya Omma, tapi kenapa kau masih terus mencintainya? Kenapa Omma? Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku begitu membencinya, dia yang membuat kita menderita, dia yang mengkhianati dan meninggalkan kita. Omma, berapa banyak cinta yang kau miliki untuk laki-laki itu? Apa lebih banyak dari rasa benciku padanya?”

****

Minhyuk kini tengah duduk di ruang santai rumah mewah Jong Il, asisten kepercayaannya menghubungin Minhyuk dan meminta Minhyuk datang ke rumah Jong Il setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di perusahaan.

“Kau sudah datang, nak” Sosok Song Il muncul dan duduk disofa diseberang Minhyuk.

“Aku dengar kau sudah bertemu dengan ayah kandungmu, bagaimana?” Tanya Song Il, Minhyuk terdiam, ia tahu pasti ini alasan Song Il memintanya datang.

“Apa dia orang yang baik?” Tanya Song Il setelah lama Minhyuk tak memberinya jawaban.

“Tidak, aku tidak menyukainya. Aku lebih menyukai menjadi anak tirimu” Jawab Minhyuk, Song Il terkekeh mendengar jawaban Minhyuk.

“Aku ingat, saat kau masih kecil kau selalu merengek pada Ibumu kalau aku ini galak, kau tidak suka padaku dan ingin pergi dari rumah ini untuk mencari ayahmu. Tapi, kenyataan membuat semuanya terbalik ternyata”

“Minhyuk terdiam, ia ingat cerita masa kecilnya itu dan sekarang ia merasa begitu bodoh”

“Tidak apa kalau kau masih belum bisa menerimanya, aku mengerti. Lagi pula aku masih menganggapmu anakku, dan akan selalu begitu” Senyum bijaksana Song Il mengembang, membuat Minhyuk sadar sosok ayah seperti Song Il yang selama ini ia butuhkan.

“Aboji, boleh aku bertanya sesuatu padamu? Tentang Omma”

“Tentu, tanyakan saja…”

“Aboji tahu Omma tak benar-benar cinta padamu, Omma menyimpan cintanya untuk ayah kandungku yang justru meninggalkannya. Lalu, kenapa kau masih mencintainya dengan begitu tulus, apa alasannya?” Tanya Minhyuk, matanya memandang dalam pada mata Song Il.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta pada Chaerin? Ia hanya seorang DJ di club, orang tuanya sudah tak ada dan ia hidup miskin, kenapa kau masih mencintainya?” Minhyuk heran mendengar Song Il malah memberinya pertanyaan lain, bukannya menjawab pertanyaannya.

“Aku tak punya alasan apa-apa. Aku hanya mencintainya dengan begitu saja, tanpa alasan”

“Itu juga yang terjadi padaku dan ibuku. Aku mencintainya begitu saja, tanpa alasan. Setiap kali aku melihat ibumu, aku selalu merasa ingin ada disampingnya selalu, melindunginya dan mencintainya sampai mati tanpa alasan walaupun aku tahu ia tak mecintaiku seperti aku mencintainya, itu bukan masalah besar untukku selama ia ada disampingku. Dan, itu juga yang mungkin ibumu rasakan pada ayah kandungmu, tanpa alasan”

“Jadi kita hanya sekumpulan orang-orang bodoh yang mencitai tanpa alasan?”

“Minhyuk, kau masih muda dan kau belum bisa benar-benar memahami. Jadi datanglah pada ayah kandungmu, ajak ia bicara sebagai anak laki-lakinya dan kau akan memahami mengapa ibumu begitu mencintainya, dan aku yakin aku tidak akan membencinya lagi” Song Il berdiri dan menepuk punggung Minhyuk memberi dorongan semangat, lalu Song Il berlalu meninggalkan Minhyuk sendiri untuk memberinya waktu berfikir.

***

Minhyuk berdiri terpaku dipintu ruang ICU, matanya menatap lekat pemandangan didepannya yang terhalang kaca ruang ICU. Chaerin tengah menyuapi ayah kandungnya makan siang, mereka terlihat berbincang walaupun Minhyuk tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi terlihat seperti sesuatu yang menyenangkan terlihat dari senyuman Chaerin.

Chaerin terlihat lebih cantik tanpa polesan make up yang biasa ia kenakan saat menjadi DJ, tak ada kesan kuat, sombong ataupun glamor pada dandananya hari ini, ia terlihat senang menemani ayah kandungnya, ia menyuapinya dengan hati-hati dan telaten, ia seperti seorang anak perempuan yang tengah merawat ayahnya sendiri.

Dan Minhyuk kembali terpaku saat melihat sorot mata aah kandungnya, walaupun raut pucat dan wajah tua itu tampak jelas tapi sorot mata ayah kandungnya begitu menghipnotis Minhyuk. Sorot mata hangat yang meneduhkan, Song Il juga memiliki sorot mata hangat seorang ayah tapi berbeda dengan sorot mata yang dimiliki ayah kandungnya, sorot mata yang tak Minhyuk dapat dari Song Il, sorot mata yang sangat Minhyuk rindukan dan selalu ingin Minhyuk lihat setiap hari. Perlahan tangan Minhyuk menyentuh kenop pintu ruang ICU, jantungnya berdegup, ada rasa aneh yang menghinggapinya melihat hangatnya perbincangan antara Chaerin dan ayah kandungnya, rasanya Minhyuk ingin membuka pintu itu dan memeluk ayah kandungnya, ia begitu merindukannya, merindukan dan membutuhkannya secara tiba-tiba, dan tanpa alasan.

-TBC-

 

Author’s note:

Maaf karena ff ini lama sekali updatenya *deep bow* semoga kalian para readers ga bosen nunggunya ya🙂

Hmm… ff ini mungkin 2 atau 3 part lagi FF ini akan selesai🙂 jadi mohon sabar menunggu ya readers semua, pasti di update kok FFnya. Terima kasih semua🙂

 

 

 

 

10 thoughts on “Seoul Night Life [Part 5]

  1. Akhirnya Minhyuk punya keinginan buat jenguk ayahnya, aku udah sempet kesel pas liat Minhyuk yang keras kepala..
    Oke, ditunggu ya thor lanjtan partnya🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s