Pandora [Chapter 1]

pandora

Author: ree

Genre: AU, tragedy, crime, mystery

Rating: PG-15

Length: chaptered

Casts: Krystal Jung (Jung Soojung) f(x), Kang Minhyuk CNBLUE, Kai (Kim Jongin) EXO

Disclaimer: Just my imagination

***

 

 

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

3.35 PM

“Aneh.”

Entah sudah keberapa kalinya kata itu diungkapkan Soojung, baik yang keluar dari mulut maupun yang hanya ia ungkapkan dalam hati. Entah sudah keberapa kalinya ia menggumamkan kata itu ketika membaca catatannya sendiri mengenai bukti yang ia temukan di tempat kejadian perkara, dan entah sudah berapa lama waktu yang ia habiskan untuk duduk bersandar di kursi beroda dalam ruangan luas yang sama sekali tidak tampak seperti ruangan di kepolisian itu, memandangi foto yang sengaja ia tampilkan dari proyektor dengan kening berkerut dan kedua tangan terlipat di depan dada.

Ruangan tersebut bergaya minimalis, dengan hampir setengah bagiannya dipenuhi dengan rak-rak berisi alat-alat laboratorium, sepertiga bagian untuk komputer dan peralatan sejenisnya, sedangkan seperenam bagian sisanya untuk sofa dan dinding putih yang sengaja dikosongkan untuk menampilkan gambar atau video dari proyektor, seperti yang dilakukan Soojung kali ini. Sayangnya gambar dan video yang ditampilkan bukanlah film romantis seperti yang sering ada di drama televisi.

“Aku benar-benar tidak mengerti maksud keberadaan dua luka itu…” batin Soojung sambil menggigiti kuku ibu jarinya─kebiasaan yang tanpa sadar ia lakukan jika sedang berpikir.

Suara pintu terbuka bertepatan dengan helaan napas Soojung, yang kesal karena segala spekulasinya saat ini hanya berakhir dengan jalan buntu. Ia melirik sekilas, dan tidak perlu kaget melihat siapa yang datang berhubung orang yang bisa masuk ke ruangan itu memang hanya dirinya dan orang itu saja.

“Wah, padahal aku baru meneleponmu satu setengah jam yang lalu.” Minhyuk─orang yang baru datang itu─melepas mantel yang dikenakannya dan segera menggantinya dengan jas lab putih yang tersampir di salah satu kursi sebelum menghampiri Soojung.

“Dan aku datang satu jam yang lalu.” sahut Soojung. Pandangan matanya masih belum terlepas dari gambar didepannya.

Minhyuk mendecak, “Harusnya aku tidak meneleponmu di jam kerja. Kukira kau tidak akan langsung datang kesini. Kau tahu Inspektur Jung pasti ingin menerima banyak informasi darimu.”

“Kau tahu aku tidak pernah mengabaikan teleponmu.”

Minhyuk tersenyum. Senyum kecut sebenarnya, karena meskipun perkataan Soojung terdengar manis, ia sadar itu hanya karena ia adalah salah satu informan penting.

“Sudah dapat petunjuk?” tanyanya sambil meletakkan gelas karton berukuran sedang di meja disamping tempat Soojung duduk.

Lagi-lagi Soojung menghela napas, “Sesuai dugaanku, korban kehilangan darah dalam jumlah yang cukup besar. Dan aku tidak tahu apakah ada hubungannya dengan dua luka berbentuk lubang di pangkal lehernya itu. Hanya dua lubang itu satu-satunya tempat keluar darah di tubuhnya dan rasanya tidak mungkin mengeluarkan darah sebanyak itu dari sana.” Ia memiringkan kepalanya, mengamati gambar yang tampak seperti dua luka menganga itu lebih seksama, “Alat apa yang digunakan dan yang terpenting… untuk apa si pelaku melakukan itu? Benar-benar cara membunuh yang aneh.”

“Bagaimana dengan CCTV di tempat kejadian?”

“Kebetulan mati karena rusak. Alat itu baru diperbaiki sehari setelah kasus itu terjadi.”

“Lalu satpam yang berjaga saat itu?”

“Pingsan setelah mengalami benturan di kepalanya. Mungkin karena perlawanan dari si pelaku yang panik karena tertangkap basah. Mereka mengalami gegar otak ringan dan ketika dimintai keterangan, mereka hanya mengatakan kalau pelakunya laki-laki. Mereka tidak begitu jelas melihat wajahnya, jadi aku tidak bisa tahu bagaimana ciri-cirinya.”

Minhyuk mengangguk-angguk, “Benar-benar kebetulan bagi si pelaku.” Gumamnya. “Lalu analisismu?”

“Entahlah… lubang itu terlalu kecil untuk dikatakan sebagai lubang bekas bor. Mungkin kedengarannya konyol, tapi hanya alat itu yang terpikir setelah melihat bekas luka itu. Mungkin bisa juga pulpen atau benda tajam lain yang berukuran lebih kecil, tapi melihat tidak adanya percikan darah di sekitar luka, rasanya tidak mungkin jika luka yang menembus daging itu dihasilkan dari benda yang berukuran lebih kecil dengan cara ditusuk berkali-kali.”

Minhyuk tersenyum. Lagi. Namun kali ini bukan senyum kecut seperti sebelumnya. Ia lalu berjalan ke arah meja yang penuh dengan peralatan laboratorium dan menyalakan sebuah mikroskop yang terletak di atasnya.

“Sayangnya, aku tidak menemukan unsur besi atau logam di sekitar lubang itu.”

Soojung terbelalak. Ia langsung memutar kursinya menghadap Minhyuk, “Kau sudah memeriksanya?? Mayat itu? Jangan-jangan… ini informasi yang mau kau berikan?” tanyanya antusias kemudian meneguk minuman dalam gelas karton yang diberikan Minhyuk tadi. Keningnya langsung berkerut, “Ya! Lagi-lagi kau mengganti cappuccino-ku dengan green tea!”

“Kurasa kau sudah terlalu banyak mengonsumsi kafein, nona Jung Soojung. Tubuhmu perlu asupan polifenol untuk melawan radikal bebas.”

“Ck, harusnya kau belikan aku teh oolong saja kalau begitu.” Soojung mengerucutkan bibir, bukan merajuk karena tidak dibelikan teh oolong, melainkan karena tidak diperbolehkan lagi minum kopi oleh dokter yang sedang sibuk mengatur fokus mikroskop dibelakangnya itu.

Ya. Kang Minhyuk, pria yang merupakan teman masa kecilnya itu adalah seorang dokter bedah yang merelakan setengah dari waktu kerjanya untuk membantu Soojung. Setiap hari, hingga ia memutuskan untuk membuat satu ruangan khusus yang ia gunakan sebagai tempat penelitian segala hal yang berkaitan dengan kasus yang sedang diselidiki oleh gadis itu. Ruangan ini seolah menjadi markas mereka berdua untuk mengungkap kasus, karena entah apa yang dipikirkan gadis itu, ia lebih memilih untuk menyelidiki semuanya sendirian meskipun secara diam-diam. Ia bahkan lebih percaya pada informasi yang disampaikan Minhyuk ketimbang informasi yang ia terima dari tim forensik dan tim medis yang menangani korban. Kedudukan ayah Minhyuk sebagai kepala rumah sakit otomatis memudahkan jalan baginya untuk memeriksa korban-korban yang berkaitan dengan kasus yang ditanganinya, seperti kasus kali ini.

“Apa yang kau temukan?” entah sejak kapan Soojung sudah berada disamping Minhyuk yang sedang mengamati objek melalui mikroskop.

Minhyuk menggeser kursinya dan menarik kursi lain tepat di depan mikroskop untuk diduduki Soojung, “Sel mukosa mulut dan saliva.” Jelasnya begitu gadis itu menempelkan kedua matanya pada lensa okuler. Ia sengaja membawa preparat sel mukosa yang ditemukannya ketika  mengotopsi mayat tersebut tadi.

Soojung mengerjap tidak percaya, “Maksudmu…  kedua lubang itu tercipta karena mulut yang menempel? Atau dengan kata lain… bekas gigitan?”

“Mungkin kau tidak percaya. Tapi yah… itulah yang kutemukan.”

Soojung terdiam, memikirkan kemungkinan baru yang langsung berseliweran di otaknya. Rasanya analisisnya kali ini adalah analisis yang paling tidak masuk akal sepanjang karirnya sebagai detektif.

“Kuharap kau tidak memintaku memeriksanya lagi. Aku sudah mengumpulkan bukti penting lainnya yang kira-kira kau butuhkan. Kau tahu, keluarga korban tidak menginginkan anak gadisnya menjadi kadaver selamanya di ruang mayat.” Celetuk Minhyuk.

“Angkat teleponmu.” Ujarnya begitu mendengar ponsel Soojung berdering.

Gadis itu mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya─yang belum sempat ia lepas sejak masuk ke ruangan itu─dan menghempaskannya ke atas meja begitu melihat nama yang tertera di layarnya. Ia pun mendecak.

Tak butuh waktu lama bagi orang yang menelepon Soojung tadi untuk mengirimkan pesan setelah panggilannya diputus dengan sengaja. Dengan berat hati Soojung pun membaca isi pesan tersebut.

“Ayahmu?” tanya Minhyuk begitu melihat perubahan raut wajah Soojung. Cukup lama ia mengenal gadis itu untuk mengetahui satu hal yang menjadi penyebab mood-nya langsung berubah dalam hitungan detik.

Soojung tidak menjawab. Namun gerak-gerik yang ditunjukkannya sudah cukup menjadi jawaban bagi Minhyuk.

“Pergilah. Aku akan─”

“Bisakah kau beritahu aku sekarang?”

“Ng?”

Soojung menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar, “Tidak ada yang penting. Jadi, bisakah kau memberitahuku hasil otopsi yang kau dapat sekarang?”

***

Kyunghee University, Seoul

4.15 PM

“Maksudmu vampir?”

Soojung menghentikan kegiatan membaca bukunya. Ia menoleh ke arah Seohyun, kakak kelasnya semasa SMA yang masih tampak asyik menelusuri baris demi baris kalimat yang terususun dalam buku yang sedang dibacanya. Gadis itu bekerja sambilan sebagai penjaga perpustakaan di kampus mereka dan Soojung sering mengunjungi perpustakaan tersebut jika sedang jenuh dengan pekerjaannya.

“Vampir? Maksudmu makhluk khayalan itu? Memangnya mereka benar-benar ada?” tanya Soojung dengan tampang yang seolah berkata ‘kau-pasti-sedang-bercanda’.

Seohyun mengambil satu dari tumpukan buku-buku yang ada di sebelahnya dan menyodorkannya ke hadapan Soojung, “Setidaknya para gadis menganggap mereka ada, bahkan ingin bertemu dan menjalin hubungan dengan mereka. Wajah tampan, kulit putih pucat─”

“Eonni!” rajuk Soojung dengan suara tertahan. Beruntung ia masih ingat berada dalam perpustakaan. Jika tidak, ia pasti sudah mengeluarkan lengkingannya yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksetujuan dengan penjelasan yang diberikan Seohyun.

“Kau terlalu banyak membaca buku fantasi.” Ia memutar bola mata, jengah.

“Aku sedang membaca biografi Ban Ki Moon, kalau kau belum tahu.” Dengan wajah tanpa dosa Seohyun menunjukkan sampul buku yang sedang dibacanya pada Soojung.

“Tunggu disini sebentar.” ia bangkit dari tempat duduknya dan menghilang dibalik rak-rak buku tinggi yang berada beberapa meter dari tempat mereka duduk. Gadis berambut panjang itu kembali sekitar lima menit kemudian dengan satu eksemplar buku tebal di tangannya.

“Baca ini. Mungkin kau bisa mendapatkan petunjuk.” Ujarnya sambil menggenggamkan buku itu pada Soojung.

Soojung mengamati buku pemberian Seohyun tersebut. Buku usang dengan desain antik yang Soojung yakini sudah terbit berpuluh-puluh tahun yang lalu. Buku dengan kertas yang telah menguning itu sukses membuat Soojung terbatuk-batuk karena debu didalamnya ketika ia membuka halaman pertama.

“Jadi bagaimana?” tiba-tiba Seohyun bertanya.

“Apa?”

“Soal temanmu itu, Kang Minhyuk. Kira-kira kapan ia punya waktu senggang? Adik temanku yang pernah kuceritakan waktu itu sepertinya sudah tidak sabar bertemu dengannya.”

“Tidak ada. Dia tidak akan pernah punya waktu senggang untuk hal semacam itu.” jawab Soojung sambil membuka satu per satu halaman buku tersebut dengan hati-hati.

“Kau bohong ya?” tanya Seohyun tidak percaya.

Soojung menutup bukunya kasar, “Aku tidak akan pernah menyewakan Minhyuk, eonni.”

Seohyun menatap Soojung lekat-lekat. Entah kenapa reaksi gadis itu langsung berubah ketika ia menyebutkan nama Minhyuk, “Kau berkencan dengannya?”

“Aku tidak akan membiarkan Minhyuk berkencan dengan orang lain, apalagi ikut kencan buta dengan orang yang tidak jelas asal-usulnya seperti itu.” ujar Soojung tegas, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Seohyun.

“Dia adik temanku. Aku mengenalnya, dan kurasa ia orang yang baik.” Seohyun menunjukkan ponselnya pada Soojung, “Gadis itu terus menanyakan─”

Belum sempat Seohyun menyelesaikan kalimatnya, Soojung sudah lebih dulu menyambar ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Ia sengaja membalas pesan gadis yang diceritakan Seohyun barusan.

“Dia tidak akan punya waktu untuk meladeni hal semacam itu. Seharusnya kau tidak perlu terlalu memikirkannya. Kuliah saja yang benar.” Kira-kira seperti itulah pesan yang dikirimkan Soojung melalui ponsel Seohyun.

“Ya! Kalimatmu kasar sekali…” Seohyun tampak cemas setelah melihat pesan yang dikirim Soojung karena gaya bahasanya sangat berbeda dengan dirinya. Ia takut adik temannya itu akan menjadi salah paham nantinya.

“Tolong jangan menanyakan hal seperti itu lagi, eonni…” kali ini suara Soojung melembut, atau lebih tepatnya terdengar seperti memohon.

“Kau yakin? Meskipun dia orang yang penting? Kalau kau mau tahu, gadis ini adalah teman korban dari kasus yang sedang kau tangani.”

“Ah, jadi gadis itu…” Soojung tampak tidak terkejut, “Dia tidak sepenting itu. Aku sudah menginterogasinya kemarin dan informasi yang diberikannya tidak banyak membantu.”

Seohyun melongo. Tampaknya ia benar-benar tidak bisa melawan Soojung.

“Sebenarnya sepenting apa Minhyuk bagimu?”

Ponsel Soojung berdering tepat setelah Seohyun melontarkan pertanyaannya. Menyadari siapa orang yang meneleponnya, gadis itu pun beranjak dari tempat duduknya dengan malas-malasan.

“Eonni, sepertinya aku harus pergi. Terima kasih atas bukunya.” Ia tersenyum sekilas dan hendak melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sebelum Seohyun kembali memanggil namanya.

“Kau mau kemana?”

Soojung terdiam sejenak, kemudian mengedikkan bahu, “Candle light dinner?”

***

“Kemana saja kau? Kenapa tidak datang? Kau tidak tahu seperti apa rasa malu yang harus kutanggung jika bertemu dengan ayahnya karena kelakuanmu?” ujar seseorang di seberang telepon dengan gusar begitu Soojung menjawab panggilannya. Ia bahkan tidak memberi kesempatan gadis itu untuk sekedar mengucapkan kata ‘yeoboseyo’.

Soojung memejamkan kedua matanya rapat-rapat, tampak jengah dengan semua gerutuan orang tersebut. Hanya orang itulah satu-satunya yang membuat ia merasa seperti burung yang terjebak dalam sangkar.

Soojung mendengus, menyesali dirinya yang tidak bisa mengatakan ‘tidak’ untuk semua hal yang diperintahkan orang itu, setidaknya untuk saat ini.

Gadis itu kembali melangkahkan kakinya, memutuskan untuk lagi-lagi menuruti perkataan─atau mungkin lebih tepat disebut paksaan─orang itu.

“Aku akan kesana, Ayah…”

***

Itaewon, Seoul

6.10 PM

“Wah, aku tidak menyangka orangtua kita harus repot-repot merencanakan makan malam ini.”

Soojung mendelik begitu mendengar Kim Jongin, pria yang saat ini duduk di seberang mejanya berujar. Pria flamboyan yang selalu terlihat rapi dengan dasi dan setelan kerja itu terdengar tidak enak hati karena Soojung terpaksa menuruti perintah ayahnya untuk makan malam dengannya, meskipun jelas-jelas gadis itu tahu ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa tidak nyaman.

“Oh ya? Tapi reservasi tempat ini tertulis atas namamu. Tiga hari yang lalu.” Celetuk Soojung yang langsung membuat wajah Jongin sedikit menegang. Gadis itu pun melanjutkan kalimatnya, “Kecuali kalau ayahmu benar-benar niat menyiapkan semua ini atas namamu. Ia bahkan tahu aku tidak suka segala minuman yang mengandung alkohol. Benar-benar ayah yang perhatian.”

Jongin menyeringai, menyadari dirinya yang tidak akan mampu berbohong didepan gadis itu, “Oke, detektif Jung, aku mengaku kalah. Akulah yang menyiapkan semua ini.”

Soojung hanya tersenyum mencibir. Ia benci menghadapi kenyataan harus berada di satu tempat kerja dengan Kim Jongin, inspektur muda yang walaupun menurutnya kemampuannya tidak bisa dibilang sangat handal, tapi sangat populer di kalangan polisi wanita. Dan ia benci menghadapi kenyataan ayahnya harus punya kedudukan sebagai orang kepercayaan ayah Jongin sehingga harus menuruti keinginan pria itu untuk menjodohkan anaknya dengan dirinya.

“Apa reaksiku tidak cukup menyadarkanmu? Aku tidak suka konspirasi seperti ini.” Soojung menunjukkan sorot mata dingin dan mengintimidasi, namun tampaknya Jongin tidak peka─atau pura-pura tidak peka.

“Apa semua yang kulakukan ini tidak cukup menyadarkanmu?” Jongin balik bertanya. Ia rasa ia tidak perlu lagi repot-repot memberikan kode pada gadis itu kalau ia sama sekali tidak keberatan dengan keputusan ayahnya, karena sebenarnya ia juga merasa tertarik dengan Soojung.

“Bagaimanapun juga kau sudah datang kesini, berarti kau peduli.” Ia melanjutkan kata-katanya sebelum Soojung sempat membuka mulut.

“Aku peduli pada ayahku.” Soojung menyambar segelas air putih dihadapannya dan meneguknya sekali, “Terima kasih atas makan malamnya. Katakan saja pada ayahmu kita sudah mengobrol banyak. Atau katakan saja apa yang terjadi sebenarnya.” Ia langsung bangkit dari tempat duduknya, tak tahan untuk berada disana lebih lama lagi.

“Kau bahkan tidak memesan apapun, Soojung-ssi.” Sahut Jongin begitu Soojung melangkah disampingnya. Ia menahan tangan gadis itu yang otomatis menghentikan langkahnya juga.

“Aku akan mengantarmu. Setidaknya sebagai bukti jika ayahku menyelidiki black box mobil yang kubawa.”

***

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

3.35 PM

“Jadi ini rumahmu?” Jongin menundukkan sedikit kepalanya agar bisa melihat bangunan disamping tempat ia memberhentikan mobil dengan lebih jelas. Tempat dimana Soojung memintanya untuk memberhentikan mobilnya itu sama sekali tidak tampak seperti tempat tinggal, karena hanya berupa bangunan kecil berbentuk balok dengan cat kelabu dan beberapa buah jendela kecil yang sangat tidak menarik.

“Kurasa kau tidak memiliki kapasitas sejauh itu untuk menanyakannya.” Sahut Soojung sinis.

“Jaga ucapanmu, Soojung-ssi. Semuanya bisa terekam.” Jongin memperingatkan. Cara bicara Soojung barusan jelas-jelas menunjukkan bahwa hubungan mereka tidak baik dan ia tidak ingin ayahnya mengetahui kenyataan tersebut.

“Aku tidak peduli.” Soojung membuka seat belt-nya, “Thank you, anyway. Kuharap kau menyesal memberiku tumpangan.” Ia membuka pintu disebelahnya dan buru-buru keluar tanpa memberikan kesempatan pria itu untuk mengucapkan ‘sampai jumpa’ atau kalimat apapun yang terdengar manis.

Soojung segera melangkahkan kakinya masuk. Bangunan dengan desain yang teramat minimalis itu memang bukan rumahnya. Ia merasa sangat malas pulang ke rumah dan bertemu dengan ayahnya setelah kejadian itu. Bangunan tersebut adalah ‘markas’ yang dibuat Minhyuk, yang sengaja membeli bangunan yang dari luar tampak sangat membosankan agar tidak menarik perhatian orang-orang. Namun tentu saja semua itu tidak perlu dijelaskannya pada Jongin.

“Bagaimana makan malamnya?” tanya Minhyuk yang ternyata masih berada di tempat itu, sibuk berkutat dengan tabung reaksi dan erlenmeyer berisi cairan yang Soojung tidak begitu mengerti. Entah pertanyaannya itu sindiran atau bukan, yang jelas Soojung enggan untuk menjawabnya.

“Dilihat dari ekspresimu, kemungkinannya hanya dua hal,” Minhyuk menurunkan masker yang dipakainya hingga ke dagu untuk memudahkannya bicara, “Makanannya tidak enak, atau lilinnya mati.”

“Lucu sekali, Kang Minhyuk.” Soojung menghempaskan tubuhnya ke sofa, terlalu lelah untuk memperhatikan pekerjaan yang sedang dilakukan rekan terbaiknya itu.

Minhyuk terkekeh. Tentu saja ia paham apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya senang menggoda gadis itu saja.

“Malam ini aku mau menginap disini. Kau pulang saja.” Ujar Soojung. Tanpa sengaja matanya menangkap buku tebal yang baru ia ingat sejak tadi dibawanya, “Ah iya, aku ingin bertanya sesuatu…”

“Apa?”

Soojung mengamati sampul buku dihadapannya lekat-lekat. Ia baru sempat membaca beberapa halaman awal dan masih tidak ingin mengakui kalau dirinya mulai mempercayai apa yang tertulis didalamnya.

“Kau… percaya vampir?”

Dahi Minhyuk mengernyit, “Vampir? Kau sedang demam ya? Apa yang kau bicarakan?”

Soojung menggigit bibir. Kalau bisa, ia juga ingin tahu apa yang sedang ia bicarakan. Sepertinya kasus kali ini telah membuat otaknya kusut sehingga pikirannya melantur.

Tiba-tiba ponsel Soojung berdering. Ia sempat mendengus kesal karena berpikir ayahnyalah yang meneleponnya, namun ekspresinya langsung berubah begitu melihat nama Inspektur Jung yang tertera di layarnya.

Spontan Soojung langsung menegakkan badannya. Telepon dari Inspektur Jung. Pasti hal yang penting.

“Yeoboseyo?”

“Soojung-ah, cepat pergilah ke Myeong-dong. Ada kasus pembunuhan yang katanya sangat mirip dengan kasus yang sedang kau tangani.” Terdengar suara Inspektur Jung di seberang telepon.

Soojung terbelalak, “Benarkah? Aku akan segera kesana.” buru-buru ia menyambar tasnya dan meraih gagang pintu.

“Ada apa?” tanya Minhyuk tepat sebelum Soojung membuka pintu tersebut.

“Pakai mantelmu. Kita harus ke Myeong-dong segera.” Jawab gadis itu cepat. Dengan sigap Minhyuk melepaskan masker dan sarung tangan karetnya, kemudian mengenakan mantel sesuai dengan perkataan gadis itu. Tak lupa ia membawa kunci mobil dan beberapa peralatan kecil yang kira-kira diperlukan seperti sarung tangan dan pinset. Panggilan kasus di malam hari sudah menjadi pekerjaan rutin bagi Soojung dan juga bagi dirinya, yang sering diminta gadis itu untuk ikut menyelidiki apa yang terjadi di tempat kejadian secara langsung.

***

Sementara itu, tanpa disadari Soojung dan Minhyuk, mobil sedan hitam milik Jongin masih terparkir di depan bangunan tersebut. Ia yang masih tidak percaya bahwa tempat itu adalah tempat tinggal Soojung memilih untuk berada disana lebih lama dengan jarak yang agak jauh di belakang, dan sama sekali tidak menyangka jika mobil yang keluar dari rumah itu adalah Marcedes putih milik pria teman baik Soojung. Ia memang belum mengetahui namanya, namun pernah beberapa kali melihatnya beserta mobilnya di sekitar kantor kepolisian.

Tanpa pikir panjang Jongin mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa tombol. Rasa penasarannya pada gadis itu semakin bertambah karena Soojung malah memutuskan untuk bermalam di tempat yang ia spekulasikan sebagai tempat tinggal pria itu dan bukan ke rumahnya sendiri. Ia merasa cemburu. Dan ia rasa ia perlu mencari tahu.

Yeoboseyo?” sahutnya ketika panggilannya tersambung, “Inspektur Jung, aku ingin tahu, apa sedang ada kasus?”

“Ya. Di daerah Myeong-dong. Ada apa memangnya?”

“Apa kau mau kesana? Ah, tidak… Hanya saja aku sedang dalam perjalanan menuju ke daerah itu. Bagaimana kalau aku aja yang menanganinya, Inspektur? Jadi kau tidak perlu datang.”

***

Myeong-dong, Jung-gu, Seoul

10.15 PM

Entah ekspresi seperti apa yang harus Soojung tunjukkan begitu melihat korban pembunuhan didepannya. Bukan rasa takut ataupun jijik, melainkan rasa kecewa yang teramat sangat. Soojung kecewa. Ia kecewa kasus yang sama persis dengan kasus yang terjadi beberapa hari yang lalu harus kembali terulang, dan kecewa karena dirinya belum juga bisa mengungkap kasus tersebut sebelum terjadi kasus serupa.

“Apa ini pembunuhan berantai?”

Ketegangan yang dirasakan Soojung sedikit berkurang tatkala Minhyuk melingkarkan sebelah tangannya di bahunya dan mengusapnya pelan, “Ini semua bukan salahmu.”

Soojung mengangguk samar, mengiyakan perkataan Minhyuk sekaligus meyakinkan dirinya sendiri. Tidak ada waktu untuk menyesali apa yang telah terjadi. Yang harus ia lakukan sekarang adalah bergerak cepat untuk menemukan pelakunya.

“Kau tahu, aku selalu curiga dengan dua luka di leher itu.” tunjuk Soojung ketika dirinya dan Minhyuk berjongkok agar bisa memeriksa keadaan korban lebih dekat, “Mungkin terdengar konyol, tapi… inilah maksud pertanyaanku tadi. Ini benar-benar analisis yang paling mungkin untuk saat ini sekaligus paling tidak masuk akal, tapi aku berpikir bahwa kedua pembunuhan ini adalah ulah─”

“Vampir?” sambung Minhyuk dengan kening berkerut. Tiba-tiba wajahnya tampak seolah baru menyadari sesuatu. Ia melirik arlojinya, “Maaf Soojung-ah. Aku baru ingat ada urusan. Sepertinya aku harus pergi.”

“Nanti pulanglah dengan Inspektur Jung atau anak buahnya yang kau percaya. Jangan pulang sendirian.” Pesannya setelah ia dan gadis itu bangkit berdiri.

“Soojung akan pulang denganku.” Tiba-tiba seseorang menyahut.

Baik Soojung maupun Minhyuk sama-sama terkejut ketika melihat sosok pemilik suara tersebut. Jongin, yang entah sejak kapan sudah berada tidak jauh dari sana, tampak berjalan santai menghampiri mereka sambil tersenyum penuh arti.

“Bagaimana kau─”

“Korban adalah Lee Song Nam, 42 tahun, pemilik bar yang ada di ujung jalan ini. Memiliki seorang anak laki-laki usia lima belas tahun yang tinggal dengan mantan suaminya setelah mereka bercerai. Awalnya ia adalah seorang penyanyi café, tapi kemudian memutuskan untuk membuka usaha bar sendiri.” Jelas Jongin tanpa diminta. Ia seolah ingin menunjukkan pada Soojung maksud keberadaan dirinya berada di tempat tersebut─selain menyusul Soojung tentunya.

Soojung masih mencerna semua yang dikatakan Jongin ketika pria itu menambahkan, “Aku yang akan bekerja sama denganmu menangani kasus ini menggantikan Inspektur Jung, detektif Jung Soojung.” Ia lalu menoleh ke arah Minhyuk dengan tampang merendahkan, “Jadi anda bisa pergi, ng…” sengaja ia gantungkan kalimatnya dengan maksud mengetahui nama pria di samping Soojung.

“Kang Minhyuk.” jawab Minhyuk singkat.

“Oh, jadi anda bisa pergi dengan tenang, Kang Minhyuk-ssi.” Jongin menambahkan kalimatnya.

Minhyuk menatap pria itu datar. Ia tidak begitu suka dengan penyebutan akhiran ‘-ssi’ dibelakang namanya yang dari nadanya jelas-jelas bukan digunakan untuk menunjukkan sikap hormat.

Minhyuk kembali menghadap Soojung, “Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik.” Ia mengusap puncak kepala gadis itu sekilas dan buru-buru melangkahkan kakinya menuju Marcedes putih miliknya yang terparkir di pinggir jalan.

Baik Jongin maupun Soojung sama-sama terdiam hingga Minhyuk dan mobilnya menghilang dari pandangan. Pria itu lalu kembali memamerkan senyum kemenangan, sangat kontras dengan Soojung yang hanya bisa mendecak.

“Jadi, bukti-bukti apa saja yang sudah kau dapat, detektif Jung Soojung?”

“Sial.”

***

Kang Minhyuk’s Apartment, Sogong-dong, Jung-gu, Seoul

10.45 PM

Minhyuk memasuki pintu apartemennya dengan tergesa, diam-diam merutuki dirinya yang baru menyadari satu hal yang penting. Dengan langkah lebar ia menelusuri tiap sudut ruangan bergaya minimalis itu. Seperti dugaannya, seluruh ruangan itu kosong. Bungkusan berisi strip tablet penambah darah yang sengaja disiapkannya di atas meja bahkan letaknya tidak berubah sejak ia meninggalkan apartemennya tadi pagi.

Merasa haus, Minhyuk pun membuka lemari es dan mengeluarkan sekotak orange juice. Ia baru menuangkan minuman tersebut kedalam gelas ketika tiba-tiba terdengar sebuah suara.

“Kau sudah pulang?”

Harus Minhyuk akui ia sedikit terkejut. Ini bukan pertama kalinya orang itu muncul tiba-tiba dihadapannya. Tampaknya ia harus berusaha menyesuaikan diri mengingat ia masih akan berurusan dengan orang tersebut untuk jangka waktu yang belum ditentukan.

Setelah menormalkan denyut jantungnya, Minhyuk mendudukkan dirinya di kursi makan dan menatap tajam orang itu, “Duduk.”

Pria berkulit putih pucat dengan ekspresi lugu dan sedikit linglung itu dengan ragu menuruti perkataan Minhyuk. Ia lantas menundukkan kepalanya, menyadari bahwa pria dihadapannya sedang tidak berada dalam mood yang baik sekarang.

“Dari mana saja kau?” tanya Minhyuk dingin, tampak seperti seorang ibu yang mencemaskan anak laki-lakinya.

Pria itu tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya semakin dalam.

“Aku sedang bertanya padamu.”

Pria itu menghela napas berat, “Maafkan aku…”

“Itu tidak menjawab pertanyaanku. Dari mana saja kau?”

Butuh waktu yang cukup lama bagi pria itu untuk menjawab dengan suara lirih, “Aku haus… jadi…”

Minhyuk menopangkan kedua sikunya ke atas meja dan dengan frustasi mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia mengerang, “Sudah kuduga itu kau.”

“Maafkan aku… Aku─”

“Apa tablet yang kuberikan padamu tidak cukup?”

“Aku tidak memakan makanan seperti itu…”

“Apa kau tidak bisa menahannya?”

“Aku sudah berusaha, tapi…”

Minhyuk menopangkan dahinya dengan tangan, berusaha memutar otak mencari jalan keluar untuk permasalahan yang menurutnya sangat tidak biasa ini. Ia tidak pernah menghadapi hal seperti ini sebelumnya, dan bahkan masih tidak percaya jika ini semua nyata.

“Mulai besok jangan pernah keluar tempat ini sebelum aku pulang.” Ujarnya dengan nada mengancam setelah beberapa saat terdiam, “Dan ingat baik-baik…”

Minhyuk menggantungkan kalimatnya sejenak dan menatap pria itu lurus, membuatnya menelan ludah menunggu kata-kata selanjutnya.

“Aku tidak mengizinkanmu untuk menghisap darah manusia lagi.”

(to be continued)

_____________________________

Hai! Maaf menunggu lama. Karena aku janji comeback di bulan Desember, jadi aku nge-post bulan ini hehe…

Chapter ini sedikit. Iya, emang ga panjang-panjang kok. Tapi semoga dengan chapter yang pendek ini semua bisa mulai paham jalan ceritanya.

Chapter berikutnya aku belom tau bakal di-post kapan. Mungkin agak lama, karena dua minggu lagi aku UAS. Sepertinya rentang waktunya bakal sama kayak Black Flower, gapapa kan ya? Hahaha… *digampar*

Oke, kalo gitu sampai ketemu di chapter selanjutnya. Aku selalu menghargai comment dari kalian. No bashing, okay?🙂

31 thoughts on “Pandora [Chapter 1]

  1. wow.. ga nyangka kalo penghisap darah itu kenal sama minhyuk o.O
    dan pantes aja minhyuk ga percaya sama yang dikatakan soojung, karena dia sendiri udah tau siapa yang ngelakuin..
    Tapi siapa ya itu cowo? kulit putih pucat, dan penghisap darah. Penasaran..
    Ditunggu thor lanjutannya🙂

  2. waaah.. aku suka cerita misteri tapi ada unsur fantasy kyk gini…
    pasti yg jadi vampire si dede Jonghyun kaaaan~~? soalnya jelas2 di cover itu ada siluetnya jonghyun. hahahaha…😀
    masih ditunggu untuk penjelasan asal usul si vampire sampe bisa ‘berurusan untuk jangka waktu yang belum ditentukan’ dengan minhyuk…
    Fighting chingu…😀

  3. wah,,,,aq suka nich cerita misteri2 ginih,,,,he3
    klo ada tulisan pria berkulit putih pucat pasti keingat abang hyun #abang bening bgt sih ^^
    lanjuttttttttttttttttttttttttttttt

  4. crtanya keren chingu..bikin pensran n ikut berspekulasi dgn jln crtanya..bhsanya mudah dimengerti n menarik..aku suka ma ceritanya..hee
    ditunggu next chap-nya chingu..
    faighting🙂

  5. Duh, betul2 penuh misteri. Minhyuk kok bisa sama ‘vampir’? Apa hubungan mereka? Aihh jgn sampe deh gegara ini hubungan minhyuk dan krystal jadi renggang…
    Update soon

  6. halo Kak Ree!
    senang akhirnya di publish juga. cerita ini semacam obat kangen karena Bona-Chanyoung udah nggak bakal muncul di TV lagi.
    overall, aku suka banget sama cerita ini. kayaknya Kak Ree emang udah spesialis cerita misteri/crime ya. dan lagi-lagi Minhyuk jadi dokter, hihihihi. gatau kenapa menurutku dia cocok jadi dokter.
    well, yang aku nggak nyangka, ternyata ada unsur fantasinya ya. Vampir-nya pasti Jonghyun nih. tapi seriusan masa kalo Jonghyun yang membunuh dua orang tersebut? semoga nggak ya😦
    terus aku juga mulai bertanya-tanya apa korelasi-nya dengan judul Pandora. soalnya Pandora itu kotak/guci/kendi (lupa nih) berisi kejahatan itu kan?
    pokoknya aku akan menunggu seri ini dengan setia. take your time, Kak Ree. semoga UAS-nya sukses dan project berjalan lancar.
    terimakasih untuk ceritanya😀

  7. wooooooooowwwwwww, vampire, beneran vampire atau mutasi genetik yang gagal (hahaha, ikutan berfantasi) bakal ada perang antara soojung dan minhyuk nih kayaknya.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s