They Can’t Love

they cant love

cnblue/artist; yong-hwa/chae-ah | ficlet | sad romance;one sided-love

“Now there’s no more reasons to meet him in the future”

“Bisa kau panggilkan Na Mi-Rae untukku?” Yong-Hwa, atau Se-Joo, berkata dengan berbinar-binar di dalam bus, sedang mencari sesuatu.

Chae-Ah, atau Seo Yoo-Kyung menggeleng lemah. “Tidak mau,” dia berkata sesuai naskah. “Kenapa aku harus membawanya ke sini, kenapa kau selalu menyuruh-nyuruhku. Kau tidak bisa mengerti, bagaimana rasanya disuruh-suruh olehmu. Oleh orang yang kucintai.” Dia menangis. Ini hanya syuting, dia  benar-benar harus menangis meski dia tidak sedih.

See-Joo mematung di belakangnya. Kamera terus menyorot mereka berdua di dalam bus yang gelap. Dan segera setelah scene itu berakhir, semua orang mengambil jeda masing-masing untuk bernapas.

“Aktingmu tadi sangat bagus.” Yong-Hwa menemui Chae-Ah, gadis itu tersenyum malu-malu.

“Kau juga, terima kasih sudah bekerja sama dengan baik.”

“Terima kasih kembali.” Yonghwa membalasnya, lalu mengambil minum dan duduk sendirian. Bermain-main dengan ponselnya.

Kadang Chae-Ah ingin tahu apa yang dilakukan Yong-Hwa dengan ponselnya. Apakah dia sedang mengirim pesan dengan anggota bandnya, atau dengan gadis yang  dia sukai. Chae-Ah lebih penasaran lagi siapa yang Yong-Hwa sukai, mungkinkah itu Park Shin-Hye, atau Seo Ju-Hyun, atau Jun-Hee. Dia mengintip, seolah dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi mereka selalu duduk dengan jarak panjang di luar jam syuting. Tidak ada obrolan lain selain terima kasih dan semangat.

Chae-Ah menghitung, masih ada beberapa episode lagi sebelum pertemuannya dengan Yonghwa berakhir. Dan dia ingin tahu, apakah dia akan menjadi seseorang Yonghwa ingat suatu hari nanti, setelah drama ini berakhir.

Managernya mendatanginya, dengan ponsel di tangannya. “Chae-Ah, ada telepon.”

Ibunya menunggu di seberang sana, dia berdehem sebelum menyapa. “Hai Bu.”

Suara ibunya selalu menjadi suara yang dia kenal, hangat dan ramah. Tapi akhir-akhir ini terdengar kesepian. Dia belum berkunjung ke rumah ibunya untuk waktu yang lama. “Kau cantik di drama barumu.” Ibunya memuji, seperti biasa. Dia hanya tersenyum, tanpa ibunya tahu. “Dan juga, si Se-Joo itu kelihatan sangat tampan.”

Chae-Ah tertawa pelan, “Namanya Yong-Hwa, Bu. Jung Yong-Hwa.” Katanya lembut, dan didengarnya Ibunya sedang melafalkan nama itu di ujung telepon.

“Apakah dia baik seperti di drama?”

“Tentu, dia ramah pada semua orang.”

“Itu bagus.” Ibunya terus bicara, dia juga. Sekitar dua menit tujuh detik, sebelum manager memanggilnya dan mereka harus mengakhiri pembicaraan yang menyenangkan itu.

Waktunya pergi ke tempat lain, menjadi orang lain dan menangis lagi seperti yang dia lakukan tadi. Dia senang melakukannya, tapi kadang-kadang dia juga bosan. Chae-Ah mencari-cari, Yong-Hwa bicara dengan seseorang di telepon, wajahnya membuat banyak ekspresi; tawa, cemberut dan lucu. Sekali lagi, Chae-Ah ingin tahu siapa yang menelepon lelaki itu.

“Chae-Ah, cepat. kita sudah terlambat.” Managernya berteriak, sambil melambai-lambai padanya. Dia berjalan ke mobil. “Kau menunggu apa?”

“Aku belum pamitan padanya.” Chae-Ah masuk ke mobil, tapi matanya masih dapat menangkap sosok Yong-Hwa di sana, tengah tertawa, bahagia. Managernya tidak tahu siapa yang dia maksud. Chae-Ah tidak berusaha menjelaskan, sebab dia juga tahu, Yong-Hwa juga tak cukup peduli dengan kehadirannya.

Hari ini dia resmi melepas nama Seo Yoo-Kyung, dan managernya tengah mendiskusikan peran barunya dengan seseorang di telepon. Dia akan istirahat sebentar sebelum kembali lagi bermain peran di layar kaca.

Semua kru bersenang-senang malam itu, dia juga sedang mencoba. Lee Dong-Gun melambai padanya, dia berjalan mendekat. Yoon Eun-Hye tersenyum dan dia membalasnya. Mereka berpesta dengan sangat meriah. Tapi matanya cukup waspada untuk setiap gerakan yang dilakukan Yong-Hwa. Lelaki itu kadang memandangi layar ponselnya yang bersih, kadang mengetikkan sesuatu di sana, kadang terlihat putus asa.

Lagi-lagi dia ingin tahu. Kali ini Chae-Ah ingin tahu apa yang sedang dipikirkan Yong-Hwa. Siapa yang ditunggunya, siapa yang dikiriminya pesan.

Dia mendekat, lelaki itu menyadarinya dan mengantongi ponselnya cepat-cepat. Lalu tersenyum, “Pestanya menyenangkan, kan?”

“Ya.” Jawabnya gugup. “Kau baik-baik saja?”

“Eh?”

“Maaf, tapi kau kelihatan gelisah.” Chae-Ah mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang bercampur aduk ekspresi. Dia selalu bersikap hati-hati agar tak ada siapa pun yang tahu dengan apa yang dirasakannya, juga yang dipikirkannya.

“Dia mengabaikanku.” Yong-Hwa meberitahunya, tertawa pelan dan dia tahu itu palsu. “Dia bilang dia sibuk, tapi aku tahu dia bohong…”

Malam itu Chae-Ah pura-pura tertarik dengan topik yang dia bincangkan dengan Yong-Hwa. Dia bahkan memberi masukan-masukan pada lelaki itu. Dia ber-akting bahkan ketika kamera tidak sedang menyorotnya. Dia terus bernapas dalam kepalsuannya.

“Kau bisa meneleponnya,” Managernya memberi usul. Seminggu setelah pesta perpisahan Marry Him if You Dare.

Chae-Ah terlihat tak bersemangat akhir-akhir ini. Dan dia selalu memandangi ponselnya. “Apa yang harus kukatakan padanya. Alasan apa yang harus dibuat agar kami bisa bertemu?” dia hampir tertawa. Dia punya nomor Yong-Hwa di kontak ponselnya. Dia bahkan hampir memberi ikon hati pada kontak Yong-Hwa, tapi dia buru-buru membatalkan niat itu.

“Reunian juga bisa dijadikan alasan.” Managernya berkata lagi, di antara kesibukannya mengurusi jadwal baru Chae-Ah.

Dia menggeleng pelan. Memandangi ponselnya. Yong-Hwa bahkan tidak pernah menelepon atau mengiriminya pesan saat mereka masih syuting bersama. Ini menyedihkan, cinta yang bertepuk sebelah tangan selalu memberi rasa sakit pada salah satu pihak saja.

“Tidak ada alasan untuk bertemu dengannya.” Chae-Ah menggumam pelan. Jarinya bergerak ragu di layar ponselnya. Mengetuk kontak Yong-Hwa yang tersimpan di sana.

Dia mengetuknya lagi, sebuah pertanyaan muncul di layar. Hapus nomor ini?

“Tidak ada alasan lagi untuk menemuinya di masa depan.” Dia mengetuk pilihan Ya. Dan begitu saja, dia mencoba untuk mengakhiri kisah cinta sepihak ini.

//end.

[{ ah TIDAKKK! setelah ngikutin drama ini dari awal sampai akhir, saya ngerasa ditipu *killed* seharusnya yoo-kyung sama se-joo. seharusnya se-joo nikah aja!!! *oke, abaikan curhatan tidak jelas ini HAHA}]

16 thoughts on “They Can’t Love

  1. Bgus thor..!! cp yah yeoja yg bkin Yongppa byk exspresi..?
    cinta spihak..antra chae-ah dan Yongppa..? jinjja..?
    ok .. , aku tggalin jejak.. abaikan koment gx jelas nih..
    gomawo thor..

    • omg!! komen kamu genius banget, sumpah aku geli sendiri plus angguk-angguk bacanya… cinta sepihak praktis dan gak repot kan? wkwk

      • iya kakak.. tapi kebanyakan cinta selalu bikin org lain susah. Contohnya tmn aku, masa tiap kali liat cowo yg dia suka, aku dicubitin. Kan nyusahin org lain itu namanya hahaha😀

  2. ahh,, aku juga kecewa sama dramanya kenapa park se ju gk nikah aja sma seo yukyung kan endingnya na mi rae gk pilih siapa siapa.. kan lebih dapet feelnya.. tapi aku lebih suka dia sama seo ju hyun .. hehehe..
    tapi tapi .. bagus thor ceritanyaa.. semangat ..😀

  3. agak sedih juga sbenernya se joo ma yookyung gak jadian ato nikah -.- si yonghwa kemistrinya lbh dapt sm chae ah ktimbang eunhye.. mungkin krna mirae gk ska sm sejoo.. klu di bumbui sm kiss scene ni drama psti tambh seru *plakk waahhh author imajinasinya kren bsa gt chae ah ska ma yong kkkkekkeke

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s