[Oneshot] Lifetime Story

PicMonkey Collage

 

Author: hannamoran

Genre: Romance

Rating: PG-15

Length: oneshot

Casts: Jonghyun (CNBLUE), Yoona (SNSD)

Desclaimer: I got inspiration from one of my favorite author Leeyaaa’s story “Bench, Backyard and Twilight”

Note: Enjoy and happy reading, wait for your comments below😀

*****

 

Buku berwarna biru kusam.

Dengan lembaran-lembaran foto yang suah menguning dimakan waktu.

Sepasang tangan yang mulai keriput menyentuh permukaan foto-foto lama itu.

Mata yang sudah mulai rabun karena faktor usia, mata yang masih terlihat indah dibalik bingkai kaca mata tebalnya, menekuni tiap gambar-gambar dalam helaian foto tersebut.

 

****

  Buuugh!!

  Tubuh mungil seorang gadis tersungkur diatas tumpukan tebal salju, membuat luka perih dipermukaan telapak tangan gadis kecil berumur 8 tahun yang tak sempat ia pakaikan sarung tangan. Gadis itu berusaha bangkit berdiri untuk menghindari rasa dingin yang semakin menusuk kulitnya. Tapi gadis kecil itu sulit berdiri karena luka dilututnya yang membuat lututnya berdarah.

  Gadis itu mulai menangis, ia terisak karena dingin yang ia rasakan juga luka di lututnya yang mulai terasa perih, tangisnya semakin keras saat 4 orang anak laki-laki yang adalah kakak kelasnya mendekat. Ia tahu kedatangan mereka bukan pertanda baik.

  “Im Yoona. Kenapa kau menangis?” Tanya salah satu anak laki-laki yang berdiri paling belakang, ketua dari kelompok. Anak laki-laki itu bertanya diikuti tawa mengejek.

  “Hei!! Berikan coklat itu pada kami!!” Anak laki-laki lain dengan ukuran badan paling besar mendekat kearah Yoona dan merebut bungkusan coklat yang ada di genggaman Yoona, membuat tangis Yoona makin menjadi, tapi tak ada yang mendengarnya karena lapangan sekolah yang sudah sepi karena anak-anak lain yang sudah meninggalkan sekolah ditambah salju yang berhenti turun beberapa menit lalu membuat anak-anak enggan bermain di lapangan.

Lagi, kelompok anak laki-laki itu menertawain Yoona yang tak berdaya ketika coklat miliknya diambil paksa.

  “Ayo kita pergi, ada guru yang melihat kita” Si ketua kelompok berseru dan berjalan meninggalkan Yoona yang masih terduduk ditanah, ketiga anak yang lain mengikutinya. Tapi setelah beberapa langkah, seorang anak laki-laki yang sedari tadi hanya diam menoleh kearah Yoona, ia memperhatikan Yoona sebentar lalu kembali mendekat kearah Yoona, anak laki-laki itu menyodorkan tangannya untuk membantu Yoona berdiri. Dengan ragu-ragu Yoona menerima uluran tangan itu, setelah laki-laki itu berhasil membantu Yoona berdiri, ia berlutut dan menepuk-nepuk kaki Yoona membersihkan salju yang mengotori kaki Yoona.

  “Lee Jonghyun, apa yang kau lakukan? Cepat kemari, kita main kerumahku ya” Si ketua kelompok berseru, anak laki-laki itu memperhatikan Yoona lagi dan kembali berjalan meninggalkan Yoona untuk mengikuti teman-temannya yang lain.

  “Lee Jonghyun” Bisik Yoona mengulangi nama anak laki-laki itu.

 

****

Senyum terbentuk di bibir perempuan yang kini membuka lembar baru dari album foto yang ada dipangkuannya, menunjukan foto-foto lain yang tak kalah tuanya. Lagi mata perempuan itu menelusuri setiap foto, memorinya berputar ke puluhan tahun lalu saat ia masih mengenakan seragam sekolah menengah pertama, saat ia masih remaja.

 

Rambut panjang Yoona yang diikat seperti ekor kuda bergerak-gerak saat Yoona berjalan menuju ke lapangan dibelakang sekolah. Dari kejauahn ia melihat beberapa anak laki-laki tengah berlarian dilapangan mengejar sebuah bola. Yoona tersenyum saat melihat seorang anak laki-laki yang lebih tua beberapa tahun darinya tengah berlari kesana kemari, dengan keringat yang mengucur deras dari kening dan lehernya. Yoona duduk bersila disisi lapangan.

  Priiit

  Suara peluit berbunyi menandakan permainan bola selesai dan para pemain boleh beristirahat. Anak laki-laki yang sedari tadi Yoona perhatikan tengah membasuk wajah berkeringatnya dengan handuk, Yoona segera menghampirinya.

  “Ini” Yoona menyodorkan sebotol air mineral, laki-laki itu menerimanya dan segera membuka tutupnya, menegak isi minumannya hingga nyaris habis.

  “Kenapa kau masih disekolah? Harusnya kau sudah pulang dari dua jam yang lalu kan?” Tanya anak laki-laki itu.

  “Aku menunggumu, aku tahu hari ini jadwal club sepak bola latihan”

  “Untuk apa kau menungguku Yoona? Lebih baik kau pulang dan kerjakan pekerjaan rumahmu untuk besok”

  “Ya, Jonghyun. Aku tak ada pekerjaan rumah untuk besok”

  “Im Yoona, bulan depan kita akan ujian akhir semester, lebih baik kau belajar”

  “Lee Jonghyun, aku peringkat 1 disekolah ini, tidak belajar satu hari tidak akan membuatku bodoh seketika”

  “Aiish… anak ini” Jonghyun menatap kesal pada Yoona yang malah menunjukan cengiran bodohnya.

  “Hei Lee Jonghyun!! Asik sekali ya kalau pacarmu menemanimu latihan seperti itu setiap hari” Seseorang berseru dari sisi lapangan yang lain membuat seisi lapangan menjadi berisik menyoraki Jonghyun dan Yoona.

  “Ya, Im Yoona ini bukan pacarku, ia pengasuhku yang setia membawakanku minum” Kata Jonghyun disusul gelak tawa yang lain.

  “Jung Yong Hwa!! Tidak bisakah kau berhenti mengganguku?” Tanya Yoona kesal pada Yonghwa, orang yang sama yang dulu menertawakannya saat ia jatuh ditumpukan pasir ketika ia masih duduk dibangku sekolah dasar.

  “Aku lebih tua darimu Yoona, kenapa kau memanggilku seperti itu?”

  “Masa bodoh!!” Yoona melipat tangannya dengan kesal. Bukan hanya kesal pada Yonghwa yang terus menganggunya, juga pada Jonghyun yang selalu menganggapnya hanya sekedar teman, tidak pernah lebih.

 

Perempuan tua yang tengah menikmati sorenya diatas kursi goyang itu mengalihkan pandangannya sesaat dari album foto yang tengah ia buka, dengan sedikit gemetar ia mengangkat secangkir teh dan menyesapnya. Lagi perempuam itu bernostalgia dengan foto-foto lama dirinya.

 

****

Jonghyun tengah mengusap rambut seorang gadis, senyum tergambar diwajah sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta itu, hingga mereka tak sadar kalau Yoona tengah mengamati tak jauh dari tempat keduanya tengah bermesraan. Yoona melihat jam dipergelangan tangannya, dan mendengus. Jonghyun bilang mereka akan pulang dari sekolah bersama, karena Mi Young, kekasih Jonghyun mengikuti klub tari hari ini, tapi lama Yoona menunggu digerbang sekolah Jonghyun tak juga muncul hingga Yoona mencarinya kesekeliling sekolah dan menemukan Jonghyun dan Mi Young tengah bermesraan di padang rumput belakang sekolah yang sepi.

  Yoona hendak meninggalkan mereka saat ia mendengar namanya di panggil.

  “Yoona…” Yoona berbalik menyahut panggilan Mi Young.                                   

  “Hai Onni” Yoona melambaikan tangannya setengah hati.

  “Kau pasti mencari Jonghyun, ya?” Mi Young melirik Yoona dan Jonghyun bergantian.

  “Tadi Jonghyun bilang onni ada club tari, jadi dia mengajakku untuk pulang bersama, tapi aku tunggu ia tak muncul juga. Ternyata kalian sedang disini”

  “Oh itu, pelatih club tari tidak masuk mendadak, jadi club tari ditiadakan hari ini. Aku kira Jonghyun sudah memberitahumu” Mi Young dan Yoona melirik Jonghyun bersamaan, yang dilirik hanya tertawa tanpa dosa sambil menggaruk rambut tebalnya yang tidak gatal.

  “Mian Yoona, aku lupa mengabarimu. Aku terlalu senang karena Mi Young pulang lebih awal. Maaf ya”

  “Yoona, maafkan Jonghyun ya, kalau begitu kita pulang saja sekarang,jadi kita bisa pulang bertiga, bagaimana?” Mi Young memberikan sebuah ide.

  “Anio… kalau kalian masih mau disini tidak apa-apa, biar aku pulang sendiri saja” Yoona menolak halus, tidak nyaman menggangu Jonghyun dan Mi Young.

  “Sudah ya, aku pulang duluan” Yoona melambaikan tangan seadanya lalu setengah berlari meninggalkan Jonghyun dan Mi Young yang kembali asik berduaan.

 Di tengah perjalanan Yoona mendengus kesal, melihat kebersamaan Jonghyun dan Mi Young selalu membuatnya kesal, ia yang memendam perasaan sejak lama pada Jonghyun merasa diacuhkan setiap kali melihat Jonghyun dan Mi Young bersama.

  “Apa kau tidak bisa melihat aku disini?” Desis Yoona sambil menendang batu sembarangan dijalan.

  “Apa selamanya kau akan melihatku hanya sebagai teman, Jonghyun?” Yoona berjalan semakin cepat, sesekali ia menghentakan kakinya karena rasa kesal yang masih ia rasakan.

***

Bibir perempuan tua itu terangkat membentuk sebuah senyuman, di otaknya masih segar ingatan-ingatan masa mudanya. Rasanya ia ingin mengulang kembali masa-masa itu.

 

“Kang Minhyuk, kau lihat Jonghyun tidak?” Yoona bertanya pada seorang teman Jonghyun yang tengah duduk-duduk.

  “Didalam” Tunjuk laki-laki itu, benar saja dari jendela Yoona bisa melihat sosok Jonghyun yang tengah menunduk lesu, Yoona segera menghampirinya.

  “Hei… belum pulang?” Tanya Yoona, ia menarik bangku dihadapan Jonghyun dan mendudukan dirinya disana, sedikit lelah setelah berjalan cukup jauh dari fakultasnya menuju ke gedung fakultas Jonghyun yang berada diujung kampus.

  “Mi Young mengakhiri hubungan kami sepihak” Kata Jonghyun, wajah lesu jelas tergambar

  “Aku sudah tahu, makanya aku kemari untuk melihat kondisimu, kau pasti terpukul”

  “Aku baik-baik saja” Kata Jonghyun. Yoona tertawa mengejek.

  “Bagaimana seorang Jonghyun bisa baik-baik saja ditinggalkan oleh cinta pertamanya, kau terlihat kacau Jonghyun! Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi” . Jonghyun menghela nafas sebelum bercerita.

  “Mi Young bilang orang tuanya menyuruhnya bertunangan dengan seseorang yang sudah dijodohkan dengannya sedari kecil, lalu mereka akan menikah dan mereka akan pindah ke luar negeri. Mi Young bilang dia tidak mau dan akhirnya kami melanjutkan hubungan kami, tapi aku menemukan keganjilan akhirnya aku meminta penjelasannya dan ia mengakui kalau sebenarnya cerita perjodohan itu bohong. Ia sudah berpacaran dengan laki-laki lain dibelakangku sejak 3 bulan lalu. Akhirnya ia memutuskan hubungan kami, padahal aku masih berniat mempertahankannya”

  Pletaaak!!

  Sebuah buku diktat tebal mendarat dikepala Jonghyun, membuat Jonghyun meringis dan melayangkan pandangan pada pelaku pemukulan yang tak lain adalah Yoona.

  “Jonghyun babo!!”

  “Ya!!” Jonghyun hendak mengajukan protes tapi Yoona melanjutkan kalimatnya

  “Apalagi yang mau kau pertahankan dengan perempuan yang jelas-jelas sudah selingkuh? Harusnya kau yang mengakhiri hubungan kalian bukannya Mi Young, issh!! Babo” Yoona kesal.

  “Aku mencintainya, sangat mencintainya!!” Jonghyun membela dirinya, Yoona berkacak pingang, ia tahu benar seberapa besar cinta yang Jonghyun punya untuk Mi Young.

 “Lupakan Mi Young, Jonghyun. Kau tahu? Laki-laki yang baik akan mendapatkan seseorang yang baik juga, begitupun sebaliknya. Kau orang yang baik, kau pasti akan mendapatkan gadis yang baik juga, aku percaya itu” Dengus Yoona, sekarang giliran Yoona yang terdiam.

“Jonghyun, apa aku cukup baik untukmu?” Tanya Yoona dalam hati. Yoona yang sedang termenung sadar saat Jonghyun bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkannya.

  “Mau kemana?”

  “Aku tidak mau jadi laki-laki patah hati dan menyedihkan, aku mau pergi saja ,perutku lapar”

  “Tunggu aku! Aku juga lapar, aku berjalan kaki dari gedung fakultasku kemari sangat menghabiskan tenaga” Yoona setengah berlari mengejar Jonghyun yang sudah berjalan dikoridor.

  “Kau yang bayar!” Seru Jonghyun. Yoona hendak menolak tapi akhirnya ia setuju juga, ia tahu Jonghyun pasti masih patah hati, Jonghyun hanya berusaha terlihat kuat, mungkin sedikit makanan gratis bisa membuat Jonghyun merasa lebih baik.

  “Ya! Jonghyun!! Aku bilang tunggu” Yoona mengejar Jonghyun yang sudah mendahuluinya cukup jauh.

****

Tangan keriput itu masih mengelus permukaan album fotonya, sinar matahari sore juga angin musim panas yang berhembus tak mengusiknya dari kursi goyang kesayangannya. Tangannya sesekali membetulkan letak syal yang melingkar di lehernya, sekedar untuk menghangatkan tubuh rentanya.

 

  Yoona tengah duduk disebuah kafe menunggu kedatangan Jonghyun. Sesekali Yoona membetulkan ikatan rambutnya. Waktu berjalan cepat hingga kini Yoona dan Jonghyun sudah bekerja, Yoona bekerja sebagai seorang guru taman kanak-kanak sedangkan Jonghyun bekerja disebuah perusahaan elektronik besar Korea. Yoona menyesap minuman hangat yang ia pesan sambil menunggu kedatangan Jonghyun.

  Ting!!

  Suara bel yang berbunyi bila pintu café terbuka, Yoona menoleh memastikan jika itu Jonghyun, ternyata bukan. Yang datang adalah pasangan kekasih yang kini duduk diseberang Yoona. Si gadis memeluk buket bunga besar dengan tulisan Happy Valentine pada pita-pitanya. Yoona jadi teringat sesuatu, ia melihat ke sekeliling café, café itu didekorasi dengan hiasan bernuansa pink, karena hari ini memang bertepatan dengan tanggal 14 Februari. Yoona sedikit menyesal karena ia melupakan hari ini sebagai hari valentine, biasanya ia menyiapkan hadiah kecil untuk Jonghyun dan memberikannya atas nama persahabatan, tapi akhir-akhir ini Yoona sibuk hingga melupakannya. Yoona melihat ada sebuah cake yang terlihat menggiurkan dalam etalase café, Yoona hendak memesannya sebagai ganti hadiah untuk Jonghyun.

  “Duduklah” Pinta Jonghyun, Yoona kembali duduk, dan Jonghyun duduk dihadapan

  “Mau pergi kemana?” Yoona terlonjak kaget saat ia akan membeli cake tiba-tiba Jonghyun sudah muncul di belakangnya.

“Tadinya aku mau membelikanmu cake itu sebagai hadiah hari valentine” Yoona menunjuk sederet cake di dalam etalase. Jonghyun tersenyum, menunjukan senyum yang selalu disukai Yoona.

  “Kalau begitu tunggu disini” Jonghyun beranjak mendekati etalase, Yoona memperhatikannya dengan tatapan aneh, kenapa hari ini Jonghyun terlihat lebih segar dan berseri-seri dan terlihat lebih manis dan ramah?

  “Ini” Jonghyun meletakan sebuah cheese cake dihadapan Yoona, dan sepotong kue lain untuk dirinya sendiri.

  “Ada apa denganmu? Kau terlihat berbeda hari ini”

  “Hmm… aku mendapatkan kenaikan jabatan dan gajiku dinaikan dua kali lipat”

  “Jinjja? Selamat!! Aku tahu kau adalah karyawan berprestasi”

  “Jadi anggap saja ini perayaan kecil-kecilan kita ya. Habiskan kuenya” Kata Jonghyun.

  “Mendapatkan kenaikan gaji dua kali lipat tapi kau hanya memberikanku sepotong kue ini? Pelit sekali … eh apa ini?” Yoona menghentikan ocehannya saat sesuatu yang keras ada dimulutnya, lalu ia mengeluarkannya dengan hati-hati.

  “Cincin?” Yoona menatap Jonghyun bingung

  “Gaji dua kali lipatku sudah berubah kedalam bentuk cincin untuk hadiah valentinemu”

  “Astaga Jonghyun, kau boros sekali. Untuk apa kau memberikanku hadiah semahal ini hanya untuk hari valentine seperti ini?”

  “Aiiish, tadi kau bilang aku pelit, setelah aku berikan cincin kau bilang aku boros. Apa salah aku membelikan sesuatu yang mahal untuk orang yang aku cintai?” Kalimat Jonghyun membuat Yoona membeku ditempat, ia menatap Jonghyun tak percaya.

  “Kau … apa kau bilang? Kau mencintaiku?” Tanya Yoona, tangan Jonghyun menggapai tangan Yoona, meraih cincin dalam genggaman Yoona dan memasangkannya di salah satu jari Yoona, tak lupa Jonghyun mencium jari-jari Yoona.

  “Sejak kapan?” Tanya Yoona

  “Sejak pertama kali aku melihatmu terjatuh ditumpukan salju” Kata Jonghyun, membuat Yoona semakin terpaku.

  “Tapi maaf, aku sempat meragukan perasaanku padamu saat aku akhirnya bersama dengan Mi Young beberapa tahun lalu, tapi saat itulah aku sadar kau satu-satunya yang ada untukku, dan saat itu aku sadar bahwa perasaan ku padamu tidak pernah hilang bahkan semakin besar” Penuturan Jonghyun membuat Yoona meneteskan airmata haru.

  “Jangan menangis, ini baru hadiah pertama” kata Jonghyun mengusap air mata Yoona.

  “Maaf, ini kurang romantis. Kau tahukan aku bukan laki-laki romantis” Yoona mengangguk. Suasana café semakin ramai dan malam mulai menjelang.

“Kita, pulang yuk. Biar aku tunjukan hadiah lainnya” Dengan mantap Jonghyun menggandeng tangan Yoona. Saat mereka sampai di pintu café, Jonghyun melangkah kearah kanan, dan Yoona berbelok ke kiri.

  “Halte bisnya disana” Tunjuk Yoona kearah kiri. Jonghyun tersenyum dan mengeluarkan sesuatu mengkilap dari saku celananya, menekan sebuah tombol dan sebuah mobil hitam tak jauh dari mereka berbunyi singkat.

  “Hasil kerja kerasku” Kata Jonghyun bangga, Yoona kembali tersenyum.

  “Aigoo.. Tuan Lee si pekerja keras” Kata Yoona bercanda, Jonghyun menuntun Yoona.

  “Buka bagasinya”

  “Bagasi? Kau tidak berencana menyuruhku duduk dibagasi kan?” Jonghyun terkekeh mendengar Yoona.

  “Sudah, buka saja” Yoona membuka bagasi mobil Jonghyun saat beberapa balon berbentuk hati yang terikat beterbangan dan melayang dari dalam bagasi mobil, dan sebuah kue coklat besar dengan tulisan berwarna pink diatasnya tampak. Yoona membaca tulisan itu

 Would you be my girl?

  Yoona terkesima, Jonghyun merangkul bahu Yoona, lagi air mata bahagia Yoona tumpah. Jonghyun dan Yoona saling berpandangannya hingga Yoona memeluk Jonghyun erat, menumpahkan rasa bahagia yang tak terbendung di dada bidang Jonghyun.

  “Apa jawabanmu?” Tanya Jonghyun

  “Ya, aku mau menjadi kekasihmu. Aku mencintaimu… sangat” Kata Yoona sembari mengeratkan pelukannya pada Jonghyun.

 

****

Lembar-lembar sudah dilampaui, puluhan foto sudah berhasil membawa ingatannya kembali, tiba di lembar terakhir. Tangan keriput itu menutup album foto tebal dalam pangkuannya. Lalu meletakannya disebuah meja bulat besar di sampingnya. Lalu ia mengambil album foto lainnya dan membuka halaman pertamanya. Seketika senyuman lebar mengembang di bibirnya, saat-saat paling membahagiakan dalam hidupnya tergambar jelas dalam setiap foto-foto dalam album yang baru saja ia buka.

 

  Yoona terlihat gugup saat kakinya menginjak tangga pertama di pelataran gedung gereja. Bukan gugup karena hari ini adalah hari terakhirnya sebagai gadis, atau gugup karena mulai hari ini ia tidak akan tinggal bersama kedua orang tuanya, bukan juga ia gugup karena ia takut akan tersandung gaun putih panjang yang ia kenakan. Ia gugup, karena sebentar lagi ia akan berjanji dihadapan Tuhan untuk selamanya mendampingi dan membahagiakan laki-laki yang sangat ia cintai, laki-laki yang sama yang ia temui di sebuah café 3 tahun lalu, laki laki yang menyelipkan sebuah cincin didalam cake kesukaannya. Laki-laki itu kini tengah menunggunya dibalik pintu gereja dan siap berjanji selalu bersama apapaun keadaan yang mereka hadapi nanti, cinta mereka berdua tidak akan berakhir.

  “Yoona, kemari” Lamunan Yoona tersadar saat tangan ayahnya terulur untuk menuntunnya menemui laki-laki yang akan menjadi bagian hidup Yoona selamanya. Akhirnya Yoona melangkah dengan pasti memasuki gedung gereja, semua memandang pada mempelai perempuan yang baru saja datang, tapi mata Yoona hanya tertuju pada sosok Jonghyun yang sedang berdiri dalam tuxedo hitam gagah, memandangnya juga. Rasanya Yoona ingin berlari dan memeluk Jonghyun saat itu juga.

  Yoona meneteskan airmata bahagianya lagi saat janji pernikahan sudah ia dan Jonghyun ucapkan, mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Jonghyun mengecup kening Yoona dan bibir Yoona, mereka berbagi senyum kebahagiaan bersama. Baik Yoona ataupun Jonghyun tak bisa menggambarkan kebahagiaan mereka dengan kata-kata. Jonghyun menggandeng Yoona yang kini menjadi istrinya ke pekarangan Gereja untuk selanjutnya mereka mengadakan pesta resepsi yang sederhana namun penuh arti. Langkah baru mereka sebagai pasangan suami istri disambut oleh taburan bunga-bunga dari para undangan.

Mata yang masih dibalik bingkai kaca mata itu kini mulai berkaca-kaca. Mengingat saat-saat bahagia itu ia kini merasa terharu lagi. Ia mengusap air matanya dengan tangannya yang sedikit gemetar. Ia membalikkan halaman selanjutnya, senyum itu kembali terlihat di wajahnya.

***

Yoona mencengkeram kuat tangan Jonghyun yang sedari tadi dengan setia disampingnya. Sementara tangan Yoona yang lain memegangi perutnya yang membuncit. Ia meringis beberapa kali saat ia merasakan bayi dalam perutnya menendangnya, Yoona ingin berteriak saking saktnya tapi ia menahannya dan semakin mencengkeran tangan Jonghyun semakin kuat. Jonghyun yang terlihat panik mengusap kening Yoona berusaha menenangkannya.

  “Yoona.. bertahan ya, kau pasti kuat… Aku mohon bertahan” Bisik Jonghyun. Yoona yang semakin kesakitan dan berkeringat hanya mengangguk pelan.

  “Nyonya Yoona, proses persalinan akan segera dimulai. Mohon berkonsentrasi dan ikuti petunjuk dokter dengan baik ya” Seorang dokter datang dibantu beberapa perawat membantu proses persalinan Yoona. Beberapa kali dokter mengarahkan Yoona untuk menarik nafas dan mendorong, Yoona melakukannya dengan baik walaupun rasa sakit yang amat sangat disekujur tubuhnya tapi ia terus berusaha. Jonghyun yang masih memegangi tangan Yoona terus membuat Yoona bersemangat, sesekali Jonghyun mengelap keringat di wajah Yoona dan mengecup kening Yoona. Dorongan terakhir hingga akhirnya suara tangisan bayi mungil memekakan telinga. Yoona yang lemas menoleh pada Jonghyun.

  “Kau berhasil Yoona, kau berhasil melahirkan anak pertama kita” Jonghyun terlihat bahagia, walaupun masih dengan tubuh lemah Yoona juga tersenyum bahagia.

  “Selamat Tuan dan Nyonya, anak pertama anda berjenis kelamin laki-laki. Sehat dan sempurna” Seorang perawat membawa seorang bayi mungil yang baru saja selesai dibersihkan. Jonghyun menerima anak laki-laki itu dengan perasaan bangga dan haru. Bayi laki-laki itu menggeliat dalam pelukan ayahnya. Jonghyun membawanya mendekat pada Yoona.

  “Ini anak laki-laki kita. Dia sangat sehat dan mirip denganmu” Jonghyun dan Yoona mengamati bayi mungil dalam dekapan mereka, Yoona menangis gembira, kebahagiaannya dan Jonghyun semakin lengkap.

  “Kita beri nama Lee Jong Yoon, bagaimana?” Yoona bertanya pada Jonghyun. Jonghyun tampak berfikir sebentar.

  “Boleh juga, itu nama yang bagus. Terima kasih Yoona, kau sudah memberikanku kebahagiaan yang lain” Jonghyun mencium Yoona, tak mempedulikan tatapan iri dan jahil dari para perawat dan juga dokter.

***

Tatapan sendu itu beralih pada halaman rumahnya, saat pintu gerbang terbuka dan masuklah sosok laki-laki yang sudah 45 tahun mengisi hidupnya, membuatnya begitu bahagia bahkan disaat-saat sulit sekalipun. Laki-laki itu Jonghyun. Walaupun usianya kini menginjak 72 tahun tapi dimata Yoona sosok laki-laki itu tak pernah berubah sejak pertama kalo ia mengenalnya. Jonghyun menuntun seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun yang berjalan dengan riang disamping kakeknya.

“Nenek..” Bocah itu berlari mendekati Yoona

“Lee Dongyun, dari mana saja kau dan kakek seharian?” Tanya Yoona

“Kakek mengajakku ke danau dan kami memancing, lihat nek! Aku mendapatkan 3 ikan besar” Bocah itu dengan bangga menunjukan ikan tangkapannya.

“Dongyun, kau mandi dulu ya. Sebentar lagi appa dan omma mu akan datang menjemput” Kata Jonghyun.

“Yaaa… apa aku tidak bisa lebih lama berlibur ditempat kakek dan nenek?”

“Lusa kau sudah mulai masuk sekolah , sayang. Liburan selanjutnya kau boleh berlibur lagi disini ya” Yoona menghibur cucunya yang terlihat agak kecewa.

“Nanti kakek ajak aku memancing lagi ya”

“Tentu , cepat mandi lalu kita akan buat makan malam untuk menyambut appa dan omma mu ya” .

Setelah Dongyun meninggalkan ruang keluarga, Jonghyun duduk disebelah Yoona. Jonghyun mengenggam tangan Yoona seperti yang ia lakukan setiap hari disepanjang hidup mereka.

“Kau pasti lelah, seharian bermain dengan Dongyun”

“Kau juga pasti lelah seharian melihat-lihat album foto kita”

“Terima kasih sudah bersama denganku selama ini. Kau selalu berharga untukku” Yoona menyandarkan tubuhnya pada Jonghyun, Jonghyun mengusap jemari Yoona.

“Terima kasih juga untuk tidak pernah lelah mencintaiku” Balas Jonghyun.

Mereka menikmati sore yang hangat dimasa tua mereka bersama-sama, dengan rasa cinta yang akan terus bersama dengan mereka disepanjang usia mereka.

 

end.

23 thoughts on “[Oneshot] Lifetime Story

  1. kyaaaaaaaaaaaa unyuuuuk sekali
    sukaaaa sukaaaaa sukaaaaa
    jonghyun khilaf bentar tp ujung2nya kembali ma yoona jg aaaaaa *terharu
    love this couple soooo much
    thank you author udah buat cerita bagus buat pasangan ini🙂
    keep writing ditunggu karya berikutnya!!

  2. Untuk yang ke sekian klinya..
    Saya harus berpaling dari musketeers.. Demi deerburning.(poor kyuhyun.. Hehehe)..
    .
    Sangat..Sangat menikmati baca ini..
    Seperti lihat drama replay 1994 dan 1997..
    .

  3. aaaaa so sweet banget jongyoon!!!!!
    walau gimanapun jodoh emang gak kemana, pasti balik lagi hahaha. makasih author-nim bagus ceritanya ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s