Star I Used to Know

cats

.:. f(x) Krystal & CNBLUE Minhyuk ;angst;monologue?;3,068 words.:.

yen yen : if you’re expecting a sweet kiss at the end of this story, so don’t read this one. because you’ll never find.

________________________________________

i told you, this is a monologue.

________________________________________

yang tertulis; tentang seseorang yang menyerupai bintang.

Guru geografiku benar: California akan sangat padat semakin tahun. Bukan hanya karena penduduknya yang terus bertambah. Bukan. Tapi semakin banyaknya gedung-gedung bertingkat yang dibangun di atas daratan ini. Semakin banyak sekolah, toko kopi, pub, hotel berbintang dan bangunan-bangunan pencakar langit yang lain. Efeknya udara semakin panas. Tidak banyak tumbuhan di sini, karena terbatasnya lahan yang dapat ditanami. Bahkan kadang-kadang, saat malam menjelang, udara masih terasa gerah. Aku sering membuka jendela kamar saat malam tiba. Membiarkan tirainya menari-nari bersama angin. Setidaknya itu membantu menghilangkan rasa gerah.

Bintang selalu kelihatan lewat jendela. Bersinar, terang dan indah. Aku menyukainya, sangat menyukainya. Sejak dulu. Sejak aku berumur enam belas tahun. Sejak aku kedatangan tetangga baru saat itu. Saat pertama kali aku beranggapan bahwa California adalah tempat yang indah. Saat pertama kali aku sedekat itu dengan lawan jenis. Saat pertama kali aku merasa jantungku bertalu-talu ketika berada di dekatnya. Dan mungkin—mungkin saja—saat itu adalah saat pertama kali aku merasakan cinta.

Sebelum dia datang hidupku biasa-biasa saja. Bahkan bisa dibilang begitu membosankan dan suram. Aku tidak punya teman dan tidak akan pernah tertarik untuk berteman dengan para remaja bermata biru dan kulit pucat di sini. Begitu juga dengan mereka. Tidak ada yang peduli padaku, tidak ada yang mendekatiku apalagi mengajakku untuk bergabung bersama mereka. Itu tidak apa-apa, omong-omong.

Aku senang berada dekat dengan Sooyeon. Setiap sepulang sekolah aku selalu menghambur masuk kamarnya, dan dia akan menyambutku dengan senyum. Kami nonton film bersama, dia kadang membaca buku untukku. Dan di momen-momen itu, aku seakan lupa di daratan mana aku berpijak. Yang kurasakan hanyalah perasaan damai dan bahagia.

Sooyeon suka bercerita tentang Korea—karena dia tahu aku menyukainya. Bagaimana kehidupan di sana, tradisi masyarakatnya, makanan-makanannya, sekolah-sekolahnya, hiburannya dan Sooyeon bilang orang-orang di sana sangat ramah. Aku belum pernah pergi ke Korea selama ini. Ayah dan Ibu sudah pindah ke California sebelum aku lahir. Dan setelah mendengar cerita-cerita itu, aku selalu berpikir bahwa mungkin saja suatu hari kedua orangtuaku akan pulang ke sana dan aku akan tinggal di sana. Bersama orang-orangku. Bahagia. Namun hingga umurku enam belas, tidak ada tanda-tanda apa pun. Ayah dan Ibu menikmati kehidupan di sini. Begitu juga Sooyeon. Tapi tidak denganku.

Hingga sampai pada suatu hari, di sebuah liburan musim panas yang begitu menyengat. Sooyeon memberitahuku bahwa rumah kosong di sebelah rumah kami telah kedatangan penghuni baru. Sebenarnya itu bukan berita yang membuatku tertarik. Aku bukanlah tipe orang yang cukup peduli dengan lingkungan sekitar. Tapi setelah Sooyeon menambahkan bahwa keluarga itu berasal dari Korea, aku senang bukan kepalang. Saat itu sedang sarapan, dan aku sedang mengunyah  sosis panggang buatan Ibu. Tapi aku terus bertanya, Benarkah? Benarkah itu Sooyeon? Benarkah itu Bu, Yah? anggota keluargaku membenarkan. Dan nilai tambahnya adalah bahwa mereka punya anak yang seumuran denganku. Lelaki. Namanya Kang Minhyuk.

Aku ingin menemuinya. Aku berkata tak sabaran, kaki terhentak-hentak di bawah meja.

Habiskan dulu makanmu. Sooyeon memberitahu, berjanji akan mengantarku setelah itu. Dan aku menjadi sangat patuh. Segera menghabiskan makan dan membersihkan mulut. Lalu Ibu menitipkan pie apel untuk diberikan pada keluarga Kang. Aku girang bukan main, aku bersikeras membawanya, Sooyeon membiarkan. Lalu kami menuju rumah sebelah dan memencet bel.

Hanya ada tiga manusia di rumah itu. Suami istri dan seorang anak lelaki yang telah Sooyeon katakan padaku. Mereka ramah dan baik. Mereka juga memuji betapa baiknya keluarga kami karena menyambut kedatangan mereka, diberi pie gratis pula. Anak lelaki bernama Kang Minhyuk itu berada di lantai atas, di kamarnya—begitulah yang Mrs. Kang katakan padaku. Karena aku diijinkan menghampirinya langsung di sana, jadi aku cepat-cepat berlari menaiki anak tangga. Membuka pintunya dan menemukan dia di sana. Tengah berbaring di atas tempat tidurnya, menatap langit-langit dan aku benar-benar ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Dia melompat, wajahnya tampak terkejut. “Siapa kau?”

“Soojung. Aku tetanggamu, rumahku di sebelah. Itu.” Aku menunjuk rumah kami, lewat jendelanya aku bisa melihat kamarku yang berhadapan dengannya.

“Dan kenapa kau masuk ke sini semaumu?”

“Ibumu mengijinkanku. Sungguh.”

“Oh ya Tuhan.” Da mengerang, tampak frustasi.

Saat itu aku tidak tahu kenapa dia melakukannya, saat itu aku terlalu muda dan terlalu lugu atau lebih tepatnya dungu. Jika saja kami bertemu di usiaku yang sekarang ini, maka saat itu yang kulakukan adalah mundur perlahan, memutar kenop pintu dan menyelinap keluar. Kembali ke lantai bawah atau ke rumahku sendiri. Seharusnya aku tahu sejak pertama dia tak menyukaiku.

Aku ingat setelah itu aku berputar-putar mengitari kamarnya, memeriksa barang-barangnya, membolak-balik buku-bukunya dan duduk di tempat tidurnya meski dia memintaku keluar berkali-kali. Dengan bodohnya aku hanya menganggap dia malu padaku dan semakin aku lama di sana maka dia akan jadi terbiasa.

Esoknya aku datang lagi, masuk kamarnya lagi, berputar-putar dan mengecoh di sana. Besoknya aku melakukannya lagi. Besoknya juga. Besoknya lagi. Lagi. Dan pada akhirnya ketika pagi datang, dia dengan sigap keluar kamarnya, menguncinya dan keluar rumah. Saat itu kupikir dia keluar rumah karena ingin mengajakku bermain, oleh karena itu aku terus mengikuti langkahnya. Dia bilang aku pengutit, aku hanya tertawa karena tidak mengerti maksud sesungguhnya kata itu. Dia bilang aku pengganggu. Aku bilang tidak, karena aku memang merasa tidak mengganggunya, aku merasa tengah mengenalkan California padanya.

Lalu liburan musim panas berakhir, dan kami harus kembali ke sekolah. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, sekolah sangat memuakkan dan mengerikan. Tapi tahun ini kuyakin semua akan menjadi sangat baik. Aku punya teman. Teman yang berkulit putih bercahaya, warna mata hitam, rambut hitam. Sama sepertiku.

Dia selalu menyendiri selama di sekolah. Aku mengikutinya ke mana-mana. Dia tidak punya teman tapi kukatakan padanya itu salah. Karena dia punya aku. Kami terus bersama-sama kemanapun. Bahkan saat wisata alam, aku terus berada di sampingnya. Dia tidak banyak bicara, aku memahaminya karena bahasa inggrisnya cukup buruk. Kami pulang sekolah bersama, kadang naik bus dan duduk bersebelahan, kadang juga dia ngotot mengajakku jalan kaki karena tidak suka dengan anak-anak di dalam bus. Tapi jalan kaki rasanya menyenangkan saat bersamanya.

Setiap momen yang kulalui bersamanya terasa sangat istimewa. Dan aku bersumpah akan mengingat semua itu dengan baik.

Di liburan musim panas berikutnya, aku menemukan dia berbaring di atas atap rumahnya. Memandangi bintang-bintang yang berhamburan di langit. Saat itu aku tidak sengaja bangun di tengah malam dan membuka jendela karena udara terlalu gerah. Aku terkejut dan kagum, juga penasaran bagaimana rasanya berbaring di sana. Jadi aku ikut merangkak ke sana, menaiki atapnya pelan-pelan. Dia memejamkan matanya, tanpa sadar aku juga di sana bersamanya.

“Kukira kau pencuri yang mengintai rumah korban.” Aku berbisik, pelan. Bisa saja orangtuanya tidak tahu anaknya tidur di sini.

“Soojung! Apa yang kaulakukan di sini?” matanya membelalak, tubuhnya refleks terduduk.

“Mengikutimu tentunya. Wah aku heran, bagaimana mungkin kau punya ide sebrilian ini. Ini sungguh hebat Minhyuk.” Aku takjub, memandangi kota dari atas atap ini. Lampu-lampu gemerlapan. Angin berembus ramah dan menyejukkan.

“Kau selalu menguntitku.” Dia berujar, wajahnya masam, menatapku dalam-dalam.

“Kita kan teman.” Aku membaringkan tubuh di sana, seperti yang dia lakukan sebelumnya. Dia masih duduk, tapi kemudian kembali berbaring lagi. Kami sama-sama terdiam. Aku menikmati angin yang lembut terus menari-nari di sekitarku.

“Minhyuk, apa yang kaupandangi dari sini?” aku bertanya.

“Bintang-bintang.” Matanya menatap langit, aku menoleh padanya sekilas, tapi kemudian mendongakkan wajah menatap langit. “Kau lihat bintang-bintang itu? Sangat indah kan?” dia menunjuk langit, aku menjawab ya. Dan kutemukan seulas senyuman tipis di bibirnya.

“Kau menyukai bintang-bintang itu?”

“Ya.” Dia menjawab pelan namun jelas.

Aku memperhatikan wajahnya diam-diam. Menelusuri lekuk-lekuk wajahnya dengan mataku. Menyadari betapa indahnya dia. Menyadari bahwa dia cukup berbeda malam itu. Dengan senyum dan wajah yang tampak damai.

“Kau pasti tidak suka harus pindah ke California.” Karena meski aku tidak pernah pindah ke California, aku tetap tidak menyukai ide tinggal di sini.

“Bisa dibilang begitu. Tempat ini terlalu aneh bagiku.” Matanya masih menatap langit, masih tampak damai.

“Ini sudah satu tahun, dan kau seharusnya terbiasa.” Aku berkata seolah-olah aku cukup bangga tinggal di sini.

“Tapi ini berbeda, ini California, bukan Seoul.” Ada bunyi keputusasaan di dalam suaranya, matanya sarat akan kerinduan. Aku bertanya-tanya apakah Ayah dan Ibuku pernah merindukan Seoul seperti Minhyuk melakukannya.

“Aku tahu, tapi Minhyuk, bagaimanapun tempatmu sekarang adalah California.”

“Aku tahu Soojung. Aku tahu.”

“Jika kau merasa tidak nyaman dengan kota ini, kau bisa temui aku. Mungkin aku bisa merubah sesuatu agar kau merasa nyaman.” Kudengar tawanya, pelan tapi gurih dan membuatku kecanduan. Mungkin itu adalah tawa pertamanya di sini. Maksudku tawa tulusnya.

“Terima kasih, Soojung. Kau memang temanku.” Dia menoleh padaku sepersekian detik, menatap mataku lembut dan aku tahu dia sungguh tulus mengatakannya.

Kusadari, malam itu adalah kali pertama kami benar-benar dekat. Kali pertama dia benar-benar menganggap keberadaanku. Kali pertama dia menganggapku teman. Dan kupikir itu permulaan yang bagus. Dan saat itu aku berharap akan ada bintang jatuh. Agar aku bisa membuat permohonan. Tapi bintang tak pernah jatuh. Berkali-kali kami bertemu di atas atap, hampir setiap malam. Mengobrol, membisu, menikmati angin, menonton galaksi dan tertidur. Aku tetap berharap akan ada bintang jatuh. Tetap tidak ada hingga musim gugur datang.

Saat musim gugur datang, saat itulah aku merasa semuanya semakin jelas. Ketika aku harus mengikuti perkemahan musik, dia mengantarku ke perkemahan. Menyetir selama dua jam hanya demi aku, membantuku membawa perlengkapan-perlengkapanku. Dan meski aku mengharapkan pelukan atau kecupan, satu elusan di rambutku rasanya sudah cukup. Aku memerhatikan sosoknya yang mulai mejauh, pipiku merona dan menghangat. Jantungku berdebar-debar tak keruan.

Malamnya ketika aku berbaring sendirian di atas tanah perkemahan, memandangi bintang sendirian setelah meneleponnya. Ada sesuatu yang aneh yang kurasakan. Seperti suatu kehampaan di rongga dadaku. Bintang-bintang berkerlipan, aku mencoba memejamkan mata. Yang kulihat adalah wajah Minhyuk. Bagaimana dia cemberut. Bagaimana dia tertawa. Bagaimana dia tertidur bersamaku di atap. Dan terus terulang dibenakku sensai yang kurasakan saat kulit kami secara tak sengaja bersentuhan ketika kami berbaring berdekatan, bagaimana elusan tangannya di rambutku mengalirkan sengatan-sengatan listrik yang manis. Jantungku berdebar-debar, aku menekan telapak tangan di dada, tapi rasanya malah sakit. Dan wajahnya terus berputar-putar.

Mungkin… mungkin… itulah kali pertama aku jatuh cinta padanya.

Aku sekali lagi berharap akan ada bintang jatuh malam itu. Aku akan membuat permohonan seperti yang sudah kunantikan begitu lama. Tapi bintang tak kunjung jatuh. Padahal permintaanku begitu sederhana: aku hanya ingin tetap bersamanya. Terus bersamnya.

Aku tidak punya kesempatan untuk melihat bintang jatuh, seperti aku yang tidak punya kesempatan untuk mengantar kepergiannya. Rumahnya kosong melompong saat kukunjungi sepulang perkemahan musik musim gugur. Yang ada hanya beranda yang dipenuhi dedaunan kering. Ayah bilang mereka kembali pulang ke Korea, sehari sebelum kepulanganku ke rumah. Aku terlambat. Aku tidak punya kesempatan. Aku tidak bisa berharap lagi.

Dan saat itu pula aku menyalahkan bintang-bintang atas semua yang terjadi.

Meski begitu, aku tidak bisa berbohong. Aku tetap menyukai bintang, tetap memandanginya setiap malam meski itu membuatku semakin merindukannya. Rasanya begitu sakit dan tersiksa. Dia tidak pernah memberitahuku akan pergi, meski kami sudah berteman hampir dua tahun. Dia juga tidak menghubungiku kembali. Aku sering bertanya-tanya, kehidupan apa yang dia punya di sana sehingga tidak mengingatku sama sekali. Sebahagia apa dia si sana. Dan semudah itukah dia melupakanku.

Aku ingat dulu kami pernah berjanji akan mengunjungi beberapa tempat di California bersama. Dia berjanji. Dan aku sungguh percaya semua janji-janji itu akan terwujud. Tapi, meski jalan-jalan ke Disney Land begitu sederhana, tetap saja dia tidak mampu menepatinya. Saat itu aku sadar, bahwa janji begitu mudah dibuat. Dan manusia juga dengan sangat mudahnya melupakan janji mereka. Hutang mereka.

Aku tidak pernah lagi berbaring di atas atap. Pada awal kepergiannya aku masih merangkak ke sana. Dengan bodohnya malah berharap dia akan datang dan membawakanku jaket atau selimut, seperti yang biasa dia lakukan padaku. Meski aku tahu dia pergi jauh jutaan kilometer dariku, tapi aku tetap berharap. Hingga rinduku terus menimbun di relung hatiku, hingga rasanya begitu berat dan aku tak mampu bernafas lagi. Hingga aku menangis dan terlihat begitu hancur.

Di penghujung musim gugur aku berhenti memandangi bintang dari atas atap. Sooyeon sudah mengetahuinya dan dia tidak ingin aku sakit, keadaanku memburuk karena itu. Jadi aku berhenti dan berniat akan kembali ke sana setelah musim dingin berakhir. Namun saat musim bahkan belum datang menyapa, rumah itu sudah kedatangan penghuni baru lagi. Sepasang suami istri yang baru saja menikah, pindahan dari Portland. Hatiku hancur saat itu juga. Sooyeon memelukku, aku menangis di sana. Tahu bahwa takkan bisa berbaring di sana lagi. Tahu bahwa perlahan-lahan semuanya akan semakin berubah.

Tidak apa-apa Soojung. Inilah awalnya, kau akan memulai sebuah hari yang baru. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan lamamu. Semua memang terasa menyakitkan, tapi percayalah suatu hari kau tidak akan menyesal pernah melakukan perubahan.

Begitu Sooyeon berkata padaku.

Dan waktu terus berlanjut. Umurku terus bertambah dan keadaan semakin banyak berubah. Aku benar-benar tidak pernah merangkak naik ke atas atap. Tapi bintang-bintang masih kelihatan saat aku membuka jendela di musim panas. Dan parahnya aku masih memikirkannya. Bahkan setelah tujuh tahun berlalu. Setelah aku tumbuh dewasa dan bergelar sarjana. Hatiku masih meringis saat menatap bintang, aku masih merindukannya. Lagi dan lagi. Lebih dan lebih. Tapi setidaknya aku tidak lagi menangis kali ini. Tidak ada air mata untuk masa lalu. Itu janjiku. Dan aku tidak ingin menjadi seperti Minhyuk yang dengan mudah melupakan janjinya.

Tetangga sebelah sudah melahirkan tiga orang anak. Dan sebagian besar rumah itu sudah dirombak. Jadi tempat bersejarah kami dulu sudah tidak ada lagi. Atapnya sudah semakin luas namun unik dan mahal. Aku tidak pernah berkeinginan untuk menaiki atap lagi. Aku terlalu tua dan tubuhku cukup berat. Rumah kami juga sebagian besar telah dirombak. Sooyeon sudah menikah dan punya seorang anak perempuan yang cantik sepertinya. Namun kamarku tidak ikut mengalami perombakan. Aku menyayangi ruangan ini. Kamar tidurku, jendela yang membiarkanku menatap bintang. Kamar tidur yang dulunya berhadapan dengan kamar tidur Minhyuk. Dulu aku suka bertopang dagu di ambang jendela, menatapnya di balik jendelanya. Dulu rasanya begitu bahagia sehingga begitu sulit untuk dilupakan sekarang.

Ibu kembali ke Korea. Seperti yang kutanya dulu, ternyata dia merindukan Korea, kampung halamannya dan ingin menghabiskan masa tuanya di sana. Jadi kami sempat mengantarnya ke Korea, bersama Ayahku yang dimasukkan ke dalam peti dan masuk bagasi pesawat. Ayah terbaring damai di tanah kelahirannya, di rumahnya—aku menyaksikan bagaimana dia tersenyum sebelum wajahnya ditutupi tanah.

Aku kembali ke California. Pada akhirnya, aku lebih memilih kota ini. Karena di sinilah aku dilahirkan. Dan omong-omong, setelah tujuh tahun berlalu tanpa kabar, aku menemukan Minhyuk. Akibat iseng berselancar di internet. Dia terlihat sangat dewasa, tegas dan pastinya semakin tampan—lewat foto-fotonya yang kulihat. Dulu saat kami masih berumur belasan tahun dan berbaring di atas atap sambil menonton bintang-bintang, kupikir cita-citanya adalah menjadi seorang astronom. Aku berpikir begitu karena dia begitu menyukai bintang-bintang dan seluruh isi galaksi. Tapi mungkin aku salah. Dia tidak  pernah bercita-cita menjadi astronom, tetapi menjadi bintang. Menjadi bintang di tanah airnya sendiri, seperti sekarang ini. Dia bintang… bersinar. Lucu rasanya membayangkan begitu mudah kami menjadi begitu jauh, terpisah oleh ribuan pulau dan lautan. Padahal dulu, kami selalu bersama, bersentuhan.

Dia pernah beberapa kali mengadakan konser di Amerika, dan aku dengan antusias membeli tiketnya saat dia tampil di California. Aku berbaur dengan ribuan penonton lain yang haus akan dirinya, yang mencintainya. Aku memerhatikan baik-baik dia yang berdiri di atas panggung. Bermain dengan musik, bekerja sama dengan irama. Dibalut cahaya lampu-lampu yang menakjubkan. Tersenyum. Tertawa. Melambai. Pada semua orang, padaku juga. Tapi dia tidak melihat keberadaanku. Aku yang berdiri seratus meter darinya. Aku yang menahan tangisku, aku yang ingin naik ke atas panggung dan memeluknya. Dia benar-benar tidak menyadari keberadaanku. Dan sesederhana itulah kisah ini benar-benar berakhir.

Aku dan seseorang yang dulu kukenal.

Aku dan seseorang yang tak kan pernah mampu kujangkau.

▬▬

Kali ini musim panas datang lagi. Tetangga sebelah berniat merombak rumah mereka lagi. Istrinya tengah mengandung anak yang keempat. Sooyeon dan suaminya berencana akan punya anak lagi tahun ini. Ibu menelepon sore kemarin untuk mengabari bahwa dia sehat-sehat saja dan bahagia. Rumput-rumput liar di makam Ayah sudah dibersihkan. Anak perempuan Sooyeon akan masuk sekolah dasar akhir musim panas ini. Namanya Soohe, dan abang iparku bilang dia cukup gugup memikirkan sekolah barunya. Malamnya Soohe mengetuk pintu kamarku dan masuk saat aku duduk di tepian jendela, memandang bintang-bintang. Mungkin bintang jatuh hanya ada di dongeng. Tapi jika itu benar-benar nyata, aku jugga tidak tahu apa yang akan kuharapkan.

“Ibu bilang, kau senang menonton bintang-bintang.” Dia melompat ke pangkuanku, aku memainkan rambut hitamnya yang halus. Dia ceria, berbanding terbalik dengan aku ketika seusianya.

“Ya.” Aku berkata, masih membelai rambutnya.

“Dan Ibu bilang kau suka naik ke atas atap juga.” Suaranya terdengar manis dan lembut.

“Dulu aku melakukannya, tapi sekarang aku sudah cukup tua untuk berhenti, Baby.”

“Oh. Dan memangnya, apa yang kaulakukan jika ke atap?”

“Seperti kata ibumu, menonton bintang-bintang.”

“Seperti yang kaulakukan sekarang?”

“Yep!”

“Bisakah kita ke atap sekarang, seperti yang pernah kaulakukan dulu.”

Aku mengangguk. Dulu aku selalu takut akan ada orang yang menemukan kami menonton bintang di atas atap. Aku takut orang lain akan bergabung atau akan mengikuti kami. Itu tidak boleh, karena bintang-bintang hanyalah milik kami dan aku tidak akan pernah sudi membaginya dengan siapa pun. Tapi malam ini pikiran itu sirna sudah. Karena nyatanya tidak ada apa pun yang tersisa dari hari-hariku yang dulu. Kali ini kami akan merangkak menaiki atap, aku akan berlaku seolah-olah ini adalah yang pertama bagiku. Ini adalah ide brilian milikku dan belum ada siapa pun yang pernah melakukannya.

“Hati-hati.” Aku berpesan padanya sepelan mungkin, takut Sooyeon akan menemukan kami di sini.

“Lihat! Cantik sekali. Aku akan datang ke sini lagi besok.” Dia bersorak, tampak begitu bahagia. Sebahagia saat pertama kali aku melakukan ini. Bertahun-tahun yang lalu. Bersamanya.

“Yeah, mereka sangat cantik.” Aku bergumam. Kuperhatikan langit malam ini yang begitu indah. Udara musim panas kali ini sudah tidak terlalu gerah. Pemerintah telah melakukan program penghijauan di setiap tempat.

Soohee mendekat, memeluk lenganku. Aku terkekeh pelan, dia pasti kedinginan. Aku memeluknya, mengelus rambutnya lagi. Aku akan melakukan hal yang sama jika aku punya anak suatu hari nanti.

“Soojung, kadang-kadang kau kelihatan sangat sedih, boleh kutahu kenapa?” suaranya yang hangat menyentuh leherku.

“Aku tidak tahu.” Jawabku lemah.

“Mungkin kau kesepian. Nenek bilang kau tidak menyukai California sejak kecil.”

Aku mengangguk.

“Jangan sedih. Jangan beranggapan kau benar-benar sendirian di sini. Ibu, ayah dan aku selalu ada bersamamu, bukan?”

Rasanya hatiku begitu perih. Rasanya aku ingin menangis. Begitu banyak yang peduli padaku, bahkan gadis sekecil Soohe juga peduli.

“Aku tahu, Sohee.”

“Jadi, jangan pasang wajah murungmu lagi, oke?”

“Oke.”

“Janji?” Sohee mengacungkan jari kelingkingnya.

“Em…”—aku sedikit ragu—“janji.” Tapi akhirnya menautkan jari kelingking padanya.

“Nah. Ini baru bibiku!” dia berseru, aku mengacak rambutnya.

Malam semakin larut dan udara semakin dingin, aku menggendongnya masuk lewat jendelaku. Sohee merengek agar tidur denganku malam ini. Kami berbaring di tempat tidur, dia mengisi ceruk lenganku. Jendela sudah ditutup, tapi samar-samar bintang masih kelihatan.

Terang… bersinar… dan cantik.  []

________________________________________

jika kalian ingat; saya pernah menulis cerita ini sebelumnya dalam bentuk drabble dan dimasukkan ke dalam 5 songs challenge─birdy, wings. dan saya akan balik lagi dengan fanfiksi dengan genre yang sama… semoga kalian gak kabur baca cerita saya haha!

30 thoughts on “Star I Used to Know

    • aduh jangan nangis dong. di luar lagi hujan, gak berhenti-henti lagi, kalo kamu nangis nanti banjir dong. wkwk. btw thanks sudah membaca fanfic ini🙂

  1. Haduh, ngena banget ceritanya.
    Sedih banget nasib Soojung ampek mau nangis. Ngebayangin Soojung nonton konser Minhyuk, tapi Minhyuk nggak tau -mungkin nggak inget- dia, huhuhuuu.
    Keren, thor..
    Huuuuaaaaaa.. #nangisbeneran
    Keren..

  2. dek, kamu tuh… gilaaaaa! udah lm ga baca cerita km, begitu baca, perasaannya langsung kerasa bgt :’). Good job, sis. Shrusnya km nulis novel dek, soalnya ini feel nya dapet bgt
    Anyway,msh inget dek ceritaku yg pernah aku minta pdpt sm km? krn km tmsuk org yg aku hormati, aku mau kasih tahu, hehe, Alhamdulillah novel pertamaku udah terbit. http://twitpic.com/dkojsl . mksh yaaa komentarnya dulu. Gomawooo :3

    • halo…. aku kangen kakak ini. apa kabar nih, udah lama banget gak ngobrol di twitter. aku juga kepingin nulis novel, tapi aku orangnya mudah bosan, dari ide satu pindah ke ide lain lagi. dan kalo gitu pasti susah banget kan buat lanjut nulis, apa lagi bikin satu novel yang minimal 150 halaman…

      wahhh selamat ya. aku janji bakalan beli novelnya. aduh aku terharu banget nih novelnya udah terbit. semoga makin sukses ke depannya ya kak!!🙂

  3. ah ceritanya bikin mewek, cerdas dan penulisanya bagus.

    jarang ada ff yang kayak gini, daebbaak thor, ibaratnya aku dan bintang, saat kecil kita tumbuh bersama, ketika besar kita tanpa menyapa

  4. Thor, bikin sequel dong, please..
    Kerasa banget sedihnya. Baca ginian d iringi lagu balad langsung tumpah nih air mata. pliiis pliis pliiis…
    Bahagiain mereka pliiis..

  5. author berbakat , tulisanmu bagus bgt. aku serasa baca novel yg ditulis oleh penulis professional.
    aku lgsg suka sm tulisanmu dan akan jadi penggemar karya2mu. ditunggu karya2 lainnya ^^

  6. dan pada akhirnya selalu ada yang melupakan dan dilupakan :’)

    menyentuh…, soojung yang selalu mengingat kenangannya dengan minhyuk, dan minhyuk yang telah menemukan kebahagiaan barunya.

    aku suka cerita ini, beautiful :’)

  7. Wooho, keren thor ;-; kata2 yang author pilih bener2 cantik/? Semuanya jadi enak dibaca. Sadnya juga dapet. Penulisannya rapi dan unik. Walaupun ada beberapa yang typo. Aku udah baca ini sejak bulan2 yg lalu, tapi aku baru comment sekarang;-; keren thor, aku selalu suka semua tulisan author. Kata2nya dan alurnya yang enggak kecepatan. Walaupun sad ini asyik buat dibaca. Author jg author di exoff kan thor? Aku pernah baca fanfic2 yg author kirim ke sana dan semuanya bagus2. Fighting ya thor!❤

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s