30 Years Old

30 years old

 

30 Years Old

Author                  : Mona

Genre                   : Sad, angst, AU

Rating                   : PG-13

Length                  : One Shoot

Cast                       :

–          Lee Jonghyun (CNBLUE)

–          Kim Bok Min (OCs)

Disclaimer           : Nama author udah ada, liat di atas

Note                      : Happy Reading😀

Credit Poster     : http://crowndenominium.wordpress.com/

***

Dia bukan wanita aneh. Dia memang selalu sedingin itu. Tapi dia punya kehangatan tersendiri. Dia bukan orang yang ramah, tapi dia akan selalu mengingat setiap orang yang dikenalnya. Dia gadis matematika. Dia selalu memperhitungkan semuanya. Tebakannya tak pernah meleset, walaupun meleset hanya sedikit, dan sisanya benar. Dia bukan tak perduli, tapi dia sakit hati. Hatinya masih baik, akan bergerak saat seseorang memintanya. Hanya saja hati itu sudah lama tak bergerak, dan mati.

***

“Bisakah kau tak mengikuti ku?!,” gadis itu berteriak kesal pada lelaki di belakangnya. Tapi tetap saja pria itu terus mengikutinya.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Pria itu tetap mengikutinya. Gadis itu mendengus kesal.

“Apa yang kau inginkan?”

Hening. Tak ada jawaban yang diterima gadis itu. Pria itu hanya memandang dalam mata gadis itu. Tatapan gadis itu sangat tajam.

“Aku hanya ingin berterimakasih”

Gadis itu menatap pria yang lebih tinggi darinya, mulai dari ujung kepala sampai sepatu hitam mengkilat yang dipakai pria itu. Dia anak orang kaya. Tentu saja, sudah dapat dilihat dari penampilannya.

“Itu hal biasa, aku sering melakukannya”

Gadis itu berjalan dan meninggalkan pria itu. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah. Suara berat itu kembali memanggilnya.

“Bok Min-ssi! Kau makan apa setiap hari sehingga kau bisa sepintar itu?”

Gadis itu terdiam sejenak, lalu menjawab, “Makan saja ikan setiap hari”.

Itu katanya, lalu berlari cepat meninggalkan pemuda itu di lorong yang agak gelap dan sepi. Sangat sepi, hanya ada mereka berdua di sana. Dan hanya ada pria itu sekarang.

***

Satu tahun, itu sudah cukup. Pria itu tahu nama gadis itu. Tak bisa melupakannya. Pria itu, Lee Jonghyun. Mulai dari kepintaran gadis itu, dia bisa menyelesaikan beberapa soal dengan cepat. Dia bisa menangani anak-anak berandal di kelas. Tapi satu yang tak bisa dilakukanya, mempercayai orang lain.

“Kau baik hati,” ujar Jonghyun sambil menyelaraskan langkahnya bersama Bok Min.

Gadis itu tersenyum, lalu menatap pria itu “Aku tak yakin”. Sebuah pukulan cukup keras melayang di lengan Jonghyun. Pria itu sedikit meringis, sakit.

“Bagaimana?,” tanya Bok Min sambil melihat Jonghyun kembali. Dia tersenyum simpul, lalu berlari meninggalkan Jonghyun.

“Ayo kita ke tempat itu!,” teriak gadis itu sambil melambaikan tangannya ke arah Jonghyun.

Jonghyun hanya tersenyum dan mulai berlari mengejar gadis itu. Jantungnya berdegup semakin kencang. Keringat mulai bercucuran membasahi wajahnya. Dia tak peduli itu. Mereka selalu melakukan ini, tidak setiap hari, dua kali dalam seminggu. Mereka tak pernah bosan, selalu ada yang berbeda di setiap kesempatan. Entah rambut Bok Min yang bertambah panjang, gaya gadis itu, atau Jonghyun yang baru saja memotong rambutnya, dan ketampanannya yang semakin bertambah. Semua gadis menyadari hal itu, kecuali gadis ini. Ia tak pernah melihat Jonghyun sebagai seorang lelaki, ia hanya menganggap Jonghyun sebagai daun yang akan gugur dan terbang menghilang.

Semilir angin mulai berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut Bok Min. Jonghyun dapat menghirup wangi floral dari shampoo yang digunakan gadis ini. Menyenangkan. Sangat menyenangkan.

“Berapa usia harapan hidup mu?”

Hening. Hanya hembusan angin yang terdengar. Jonghyun mengatupkan bibirnya, ia masih berpikir.

“Selama mungkin yang ku bisa,” jawab Jonghyun sambil memandang langit biru yang mulai menggelap. Awan hitam mulai mendekat, saling menyatu satu sama lain. “Bagaimana dengan kau?,” Jonghyun balik bertanya.

“30 tahun”

Hening. Angin tak berhembus. Seakan ia tahu apa yang dirasakan oleh Jonghyun.

“Sependek itu?,” tanya Jonghyun menuntut penjelasan.

“Aku sudah lelah menjalani separuh usia harapan hidup ini,” jawab gadis itu tegas, tak terdengar keraguan darinya.

“Apa yang kau kerjakan selama hidup mu?”

“Berpikir dan merasakan. Semua manusia melakukan hal itu sepanjang hidupnya”

***

Berpikir dan merasakan. Semua manusia melakukan hal itu sepanjang hidupnya”, semua kata ini masih terlintas di kepala Jonghyun. Sampai saat ini, diusia 30 tahun. Dia tak tahu di mana Bok Min berada, gadis itu menghilang setelah kelulusan. Tapi ada sesuatu yang tak akan hilang, bahwa Jonghyun mencintai gadis itu. Gadis itu tak tahu, tapi ia yakin gadis itu merasakan sesuatu yang janggal disetiap pertemuan mereka. Mulai dari sudut mata Jonghyun yang curi-curi memandang gadis itu. Memalukan, ia tak pernah berani menyatakan perasaannya.

BRUK!

Beberapa kantung belanjaan jatuh di sana, bahkan pembawanya pun ikut terjatuh. Dan Jonghyun baru tersadar dari lamunannya. Kim Bok Min. Gadis itu ada di sini. Jonghyun membantu merapikan beberapa barang yang berserakan. Ada buah, sayur dan masih banyak lagi. Beberapa telur pecah, dan Jonghyun menyesali kelakuannya.

“Apa kau tak punya mata?!,” bentak Bok Min pada pria itu.

Satu detik, dua detik, tiga detik. Mata mereka masih menatap. Gadis itu mengenal mata itu, Lee Jonghyun. Dia tersenyum.

“Dunia memang sempit,” ujar gadis itu sambil mengambil cepat kantung belanjaan, lalu berjalan pergi.

Mereka melakukannya kembali, gadis itu berjalan di depan Jonghyun dan Jonghyun mengikuti gadis itu. Langkah mereka sama, kiri-kanan-kiri-kanan dan berhenti disebuah gerbang hitam.

“Mau mampir?,” tawar gadis itu sambil berjalan masuk dan membiarkan pintu itu tetap terbuka.

Jonghyun berjalan masuk, lalu membungkuk hormat kepada wanita paruh baya yang tengah duduk sambil merajut.

“Annyeonghasseyo,” sapa Jonghyun lembut.

Wanita itu membetulkan letak kacamatanya, lalu tersenyum ramah. “Akhirnya putriku membawa seorang pria.” Jonghyun tersenyum samar, bahkan tak terlihat. Dia bukanlah pria di mata Bok Min.

“Eomma, dia bu..”

Dengan cepat Jonghyun menarik tangan gadis itu untuk diam. Dia ingin wanita paruh baya itu merasa senang dengan kehadiran seorang pria sebagai pacar putrinya. Atau ia hanya ingin satu kali saja mereka bermesraan seperti saling bergandengan, atau tersenyum dan memanggil mesra nama pasangan mereka. Jonghyun ingin hal itu. Sangat menginginkannya.

“Kapan kalian menikah?”

“Eomma..”

Jonghyun kembali menarik tangan gadis itu untuk diam. Bahkan wajah Bok Min mulai memerah karena kesal.

“Secepatnya ahjumma”

Cukup satu jam Bok Min menahan rasa kesalnya. Sudah cukup ia menjadi boneka yang dimainkan oleh Jonghyun hari ini.

“Apa kau gila?!,” bentak Bok Min.

Jonghyun bersandar pada dinding, ia mengelus telapak tangannya. Masih terasa hangat. Tangan gadis itu sangat hangat. Dia tersenyum ke arah Bok Min.

“Memang apa susahnya menikah?”

“Bahkan aku tak punya pacar, Jonghyun-ah”

“Bagaimana dengan ku? Aku pria yang baik, kau bisa memilih ku”

Gadis itu tersenyum kecut. Lalu berjalan meninggalkan pria itu. “Baiklah. Hanya menikah bukan? Itu tak sulit,” ujar gadis itu sambil berjalan pergi meninggalkan Jonghyun.

Wajah Jonghyun berubah. Sangat kaget. Tentu saja, ia mulai berpikir bahwa gadis itulah yang gila, bukan dirinya. Ia menerima lamaran ini? Tidak, ini bukan lamaran. Jonghyun hanya berbicara asal, dan ia tak tahu bahwa Bok Min akan menjawabnya seperti itu.

***

Satu persatu rencana mulai terhapus dari papan itu. Mulai dari baju pernikahan, cin-cin, tempat resepsi, dan sebagainya. Mereka telah menyebarkan undangan untuk hari bahagia itu. Hanya satu catatan yang tertulis di sana, Menjalaninya bersama-sama. Itu yang tertulis di sana.

Bok Min memandang papan itu, ia tersenyum. Lalu ia mengambil spidol dan menulis satu catatan di sana.

“Melupakan masa lalu?,” tanya Jonghyun yang melihat apa yang ditulis gadis itu.

Bok Min mengangguk cepat, lalu tersenyum lagi. Jonghyun tak mengerti dengan wanita ini, dia agak aneh. Tapi disetiap ke anehan gadis itu, terselip satu alasan yang masuk akal.

***

Pagi itu, awan gelap mulai menutupi langit. Beberapa orang mengeratkan mantel yang mereka pakai, udara semakin dingin. Beberapa orang berjalan menuju sebuah bangunan yang tinggi, mereka menggunakan pakaian formal mereka. Para lelaki menggunakan jas hitam, dan beberapa wanita menggunakan dress selutut yang terlihat formal namun santai.

Di bagian pojok gedung, ada sebuah ruangan kecil. Seorang wanita dengan gaun putih dan panjang sedang berdiri disana. Ia tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.

“Aku tak menyangka akan memakai gaun pernikahan”

Jonghyun tersenyum, lalu berjalan mendekat dan memeluk gadis itu lembut. Jonghyun ikut tersenyum ketika melihat pantulan mereka berdua di cermin, dan ia ingat sesuatu. Jonghyun berdiri di depan Bok Min, lalu mengecup singkat bibir tipis wanita itu. Gadis itu tak kaget sedikitpun, walau itu ciuman pertamanya.

“Selamat ulang tahun yang ke-30,” ucap Jonghyun sambil menatap dua bola mata hitam Bok Min.

Bok Min tersenyum. “Sudah waktunya”.

Jonghyun terdiam, ia tak mengerti. Mungkin waktu pernikahan akan segera dimulai.  Senyum Jonghyun kembali merekah. Pria itu berjalan keluar dari ruangan, menuju altar. Karena ini yang harus dilakukannya. Ia akan berjalan ke altar, dan saat waktu di mulai, ia akan menjemput Bok Min dan berjalan ke altar lagi.

Bok Min menjentikan jarinya, tanda Jonghyun harus menjemputnya sekarang. Jonghyun memulai langkahnya, satu langkah, dua langkah, tiga langkah dan Bok Min mengeluarkan sesuatu menodongkan benda itu ke arah Jonghyun.

“Berhenti, atau akan ku tembak”

Jonghyun berhenti. Dia mulai bingung dengan yang dilakukan gadis itu. Beberapa tamu mulai berteriak histeris, beberapa lagi berjalan keluar dari gedung. Jonghyun kembali melangkahkan kakinya.

“Aku tidak main-main, Hyun-ah,” ujar Bok Min. Tak terdengar keraguan darinya saat ia berbicara.

Seorang wanita paruh baya mulai berjalan mendekat ke arah putrinya, dan Bok Min menodongkan senjata itu kepada wanita paruh baya. Wanita itu berhenti berjalan. Ia tak menduga putrinya akan melakukan hal ini.

“Semoga ini permintaan terakhir eomma. Aku tak bisa melanjutkan semua keinginan eomma. Eomma sudah melihat pernikahan putri mu bukan? Aku sangat bahagia melihat ini,” ujar Bok Min. Beberapa butiran bening mulai meluncur di pipinya.

Bok Min menatap Jonghyun, “Kau benar. Menikah tidaklah sulit. Dan sampai di sini”

DOR!

Peluru melubangi kepala Bok Min, darah segar mulai keluar dari sana. Tubuh Jonghyun bergetar, ia mulai melangkahkan kakinya. Namun Bok Min kembali menodongkan pistolnya, “Jangan mendekat. Atau kau akan sama seperti ku”. Jonghyun kembali diam, namun hatinya tak kuat. Ia tak kuat melihat Bok Min yang telah terbaring lemah. Tidak bisa. Ia melangkahkan kakinya cepat, ia tak perduli jika Bok Min menembaknya.

“Dasar! Harusnya kau tak memperdulikan ku”

Suara gadis itu mulai bergetar.

“Diamlah, ambulance akan segera datang,” kata Jonghyun dengan isakan.

“Tidak perlu, ini batas hidup ku. Tiga puluh tahun. Maaf, aku tak bisa membiarkan mu menjadi seorang duda. Lebih baik sekarang”

“Tidak.. Hidup mu masih lama”

Suara mereka semakin memelan, beberapa orang melihatnya dengan tatapan iba. Tapi apa perdulinya mereka?

“Jangan percaya pada cinta,” ujar gadis itu untuk terakhir kalinya.

***

“Kau yang gila!”

Jonghyun terus berteriak sekeras mungkin. Ia terus berteriak di pinggir danau sambil terisak. Dia benar-benar gila sekarang.

“Ku bilang kau yang gila, Bok Min,” ujar Jonghyun melemah.

“Jangan percaya pada cinta”, kata itu masih membekas di ingatan Jonghyun.

“Apa cinta terlalu menyakitkan untuk mu? kalau begitu biarkan saja cinta ini tumbuh tanpa kau ketahui. Hiduplah sesuka hati mu. Jangan pedulikan orang lain jika itu mau mu!,” Jonghyun kembali berseru ke arah langit.

Waktu itu, di siang hari yang terik. Ia dan gadis itu berjalan menyusri trotoar jalan. Hanya berdua.

“Kau percaya cinta?”

Gadis itu kembali menanyakan hal aneh pada Jonghyun.

“Tentu saja. Karena aku merasakannya,” jawab Jonghyun sambil terkekeh.

“Aku tidak. Cinta itu menyakitkan. Bisa kau lihat. Untuk apa pria dan wanita menikah? Kalau hasilnya mereka akan berpisah. Mereka akan bercerai atau salah satu dari mereka akan pergi. Itu terlalu menyedihkan”

Jonghyun tersenyum, ia tak bisa menjawab apapun. Semuanya benar.

“Memang kau tak pernah merasakan cinta?,” Jonghyun balik bertanya.

“Pernah, satu kali,” jawab gadis itu singkat.

Mereka berhenti berjalan, saling memandang satu sama lain. Jonghyun mulai bertanya kembali, “Siapa orang itu?”. Sayang, sebuah pesawat melintas, Jonghyun tak dapat mendengar suara gadis itu. Dan sekarang ia tak bisa mendengar suara gadis itu lagi.

Jonghyun memejamkan matanya, berusaha mengingat gerakan tiap inchi bibir merah muda merona itu. Jonghyun membuka matanya, ia menemukan jawaban gadis itu.

“Orang di depan ku saat ini”

Jonghyun kembali memejamkan matanya, berusaha mengingat pria yang ada di depan Bok Min. Dia tersenyum kecut. Dia, Lee Jonghyun. Dia lah yang berada di depan Bok Min saat itu. Jonghyun menggigit bibir bawahnya. Dia menyesal tak mendengar jawaban Bok Min saat itu. Andai ia memikirkannya saat itu, ia bisa menggenggam tangan gadis itu bukan? Bahkan lebih lama.

Jonghyun kembali teringat pada papan itu. Ia ingat tulisan yang pernah dibacanya, “Melupakan masa lalu”. Benarkah ia harus melupakannya? Melupakan masa lalu yang meninggalkan jejak di tiap memorinya. Tidak, itu sangat sulit. Jonghyun kembali berteriak kesal dengan semuanya. Sangat kesal dan menyesal.

***

Mereka selalu melakukan ini, tidak setiap hari, dua kali dalam seminggu. Mereka tak pernah bosan, selalu ada yang berbeda di setiap kesempatan. Entah rambut Bok Min yang bertambah panjang, gaya gadis itu, atau Jonghyun yang baru saja memotong rambutnya, dan ketampanannya yang semakin bertambah. Semua gadis menyadari hal itu, kecuali gadis ini. Ia tak pernah melihat Jonghyun sebagai seorang lelaki, ia hanya menganggap Jonghyun sebagai daun yang akan gugur dan terbang menghilang.

Semilir angin mulai berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut Bok Min. Jonghyun dapat menghirup wangi floral dari shampoo yang digunakan gadis ini. Menyenangkan. Sangat menyenangkan.

“Berapa usia harapan hidup mu?”

Hening. Hanya hembusan angin yang terdengar. Jonghyun mengatupkan bibirnya, ia masih berpikir.

“Selama kau hidup aku akan hidup,” jawab Jonghyun sambil memandang langit biru yang mulai menggelap. Awan hitam mulai mendekat, saling menyatu satu sama lain.

“Benarkan? Bagaimana jika aku pergi pada usia 30 tahun?,” tanya Bok Min penasaran.

“Ajaklah aku”

Mereka berdua terkekeh.

Andai Jonghyun menjawab pertanyaan 15 tahun lalu dengan hal ini, mungkin Bok Min akan mengajaknya pergi. Andai ia bisa memutar waktu itu kembali, ia akan membuat hatinya tak merasakan hal itu.

“Cinta itu menyakitkan, kau benar Bok Min”

***

Saat musim gugur itu kembali datang,
Menerbangkan ribuan daun yang berguguran,
Mungkin aku telah terbang juga.

Di saat musim panas mencairkan salju dingin,
Mungkin hati ini telah melunak dan tak sekeras dulu lagi,
Walau kau tak bisa merasakannya.

Di saat musim hujan menyapu debu,
Mungkin jejak yang dulu ada akan terhapus.

Di saat musim semi kesekian kali datang,
Bunga indah kembali bermekaran,
Dan ku harap kau bisa melupakan gadis yang dulu pernah berdiri di bawah sinar matahari.

 

END

 

4 thoughts on “30 Years Old

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s