Change (Yonghwa Story)

change

 

Title: Change – Yong Hwa Story

Author: nyimasRDA

Rating: G

Genre: romance, tragedy

Length: Chaptered

Main Cast:

– Jung Yong Hwa

– Park Shin Hye

Other Cast:

– Lee Jong Hyun

– Kang Min Hyuk as Park Min Hyuk

– Jung Tae Kyung (OC)

– Akira Misako (OC)

Note: cerita ini hanya khayalanku saja, dan semua yang aku tulis adalah murni hasil pemikiranku. Mohon commentnya. FF ini juga udah pernah aku publish di blog pribadi aku. maaf untuk banyaknya typo dan salah penulisan serta gramar dalam percakapan bahasa inggrisnya, gomawo ^^.

Jepang 2010

Seorang pria tampan terlihat sedang memasuki sebuah hotel mewah, di belakangnya berjalan dua orang dengan setelan jas berwarna hitam. Salah satu diantaranya mendekat kearah namja itu, membisikkan sesuatu yang membuat mata sang bos berkilat.

“Polisi kota sedang menuju tempat ini.”bisik pria berjas hitam itu membuat namja yang berada di depannya terkejut.

“Mwo?! Apa yang kau katakan?”tanya namja itu dengan nada dingin, meskipun sudah bertahun-tahun dirinya menetap di Jepang namun ia tetap menggunakan bahasa Korea dengan lancar.

“I’m sorry sir.”ujar pria itu lagi menundukkan kepalanya.

“So, what can we do?”

“I think we should go from here.”ujar pria yang lain. “Jika yang dikatakan Tae Kyung itu benar, maka tempat ini sudah tidak aman untuk kau datangi.”lanjutnya masih dengan berbisik.

“Kau benar Hyun, tempat ini sudah tidak aman. Oke, we go from here.”ujar pria itu kemudian. “Tae Kyung, go get the car and take me away from here.”ujar namja itu pada pengikutnya di sebelah kiri.

“Master, aku akan satu mobil denganmu.”ujar pria yang dipanggil Hyun pada bosnya itu.

“Wae? Kenapa kau ingin satu mobil denganku?”

“Entahlah, tapi perasaanku tidak enak. Aku hanya ingin menjaga tuanku dengan baik, itu saja.”jelasnya dengan nada yang sopan.

“Yya Jong Hyun-nie, kenapa kau masih saja menganggapku tuan, eoh?”tanya namja itu sedikit kesal.

“Mianhe master, kau memang tuanku. Aku tidak mungkin bersikap biasa saja padamu.”jawab namja yang bernama Jong Hyun itu menundukkan kepalanya.

“Terserah kau sajalah.”

“Yong Hwa-kun.”panggil seorang wanita dari balik tubuh namja tampan itu.

“Anata dare (siapa kau)?”tanya namja yang ternyata Yong Hwa itu dengan malas, wajahnya sama sekali tak menunjukkan ketertarikkan.

“Did you forget me? You’re really a bad guy.”ujar wanita itu masih dengan senyum yang ia buat-buat kemudian berjalan mendekati Yong Hwa.

“Don’t talk too much, tell me who you are.”jawab Yong Hwa lagi masih menunjukkan ekspresi wajah yang dingin.

“I was the daughter of Your business colleague, my name is Akira Misako.”ujar wanita itu centil.

Jong Hyun yang melihat Akira semakin mendekat ke arah Yong Hwa segera berjalan ke depan namja itu. Dirinya dengan sigap melindungi Yong Hwa, sekalipun dari wanita berparas cantik seperti Akira.

“You? What are you doing? I was talking to Yonghwa, why are you standing in front of me?”ujar Akira penuh dengan kekesalan.

“I’m sorry if you uncomfortable with my attitude but I couldn’t let strangers talk to my master.”jawab Jong Hyun tegas.

“What?! Are you crazy? You think I’m going to hurt Yonghwa? I wouldn’t hurt my future husband.”jawab Akira dengan nada tinggi, wanita ini sudah tidak tahan dengan sikap Jong Hyun.

Jong Hyun terdiam, dalam hati ia merasa tidak enak karena menghalangi calon istri tuannya namun fikirannya itu segera ia singkirkan. Ia merasa apa yang ia lakukan adalah yang paling tepat. Jong Hyun sangat tahu banyak orang yang mengincar nyawa Yong Hwa, mungkin saja wanita di hadapannya ini merupakan salah satu dari orang-orang itu.

“Calon suami? Apa kau gila! Aku bahkan tidak mengenalmu! Ayo Jong Hyun kita pergi dari sini.”ajak Yong Hwa pada tangan kanannya itu.

“Aigoo tuanku yang tampan memang tidak pernah bisa bersikap manis. Hal itulah yang membuatku semakin dendam padamu Yong. Kau menjadi pewaris si tua bangka itu padahal kau bukanlah anak kandungnya. Aku yang lebih dulu tinggal bersamanya, tapi justru kau yang menjadi ketua kelompok mafia ini. Sedangkan aku hanya menjadi pesuruhmu, apa kau fikir aku akan diam saja? Aku akan merebut kembali apa yang seharusnya jadi milikku.”ujar seseorang dari balik tembok hotel, memperhatikan Yong Hwa dan Jong Hyun yang telah melangkah pergi.

Yong Hwa terdiam di bangku belakang mobil pribadi miliknya, sedangkan Jong Hyun duduk dengan tegap di bangku depan sebelah supir. Matanya yang sangat tajam terus memperhatikan sekeliling, sesekali Jong Hyun menatap atasannya dari kaca spion.

Jung Yong Hwa adalah namja tampan yang merupakan pemimpin kelompok Jung, kelompok mafia paling terkenal di Jepang. Usianya yang masih terbilang muda tak menghalangi dirinya untuk memimpin kelompok yang sudah banyak pengikutnya tersebut. Kecerdasan dan juga kepiawaiannya dalam memainkan strategi membuat Yong Hwa dipercaya oleh tuan Jung Sang Woo untuk mengambil alih jabatan.

“Master, ada telphone dari tuan Jang.”ujar Jong Hyun menyadarkan Yong Hwa dari lamunannya.

“Tuan Jang?”tanya Yong Hwa singkat, ia seperti pernah mengenal nama penelphone itu.

“Tuan Jang adalah partner tuan Jung terdahulu, ia pemasok heroin terbesar bagi kelompok kita.”

“Benarkah? Kalau begitu biar aku bicara dengannya.”ujar Yong Hwa lalu mengambil ponsel yang Jong Hyun sodorkan.

Yong Hwa terlibat pembicaraan serius dengan seorang pria yang diketahui bermarga Jang itu. Sesekali namja ini memijat keningnya pelan, berusaha mengusir lelah yang tentu saja selalu ia rasakan. Yong Hwa mengalihkan pandangannya menatap jalanan kota Jepang, kemudian kembali memfokuskan diri pada percakapannya dengan tuan Jang.

“Apa kau ingin aku melakukan itu? Kau tidak sedang bercanda, tuan Jang?”tanya Yong Hwa tersenyum sinis.

Jong Hyun melirik sekilas ke arah kaca spion, matanya memperhatikan ekspresi yang dikeluarkan oleh namja penolong hidupnya itu. Dalam hatinya ia sangat ingin Yong Hwa berhenti dari pekerjaannya yang sangat berbahaya ini, namun ia juga tidak bisa mengatakan hal yang sangat ia inginkan itu. Karena itulah ia berusaha mati-matian melindungi Yong Hwa, bahkan ia rela jika dirinya harus kehilangan nyawa asalkan bosnya ini selamat.

“Haha, ternyata reputasiku sudah begitu menyebar?”ujar Yong Hwa lagi, ia sangat ingin menghentikan pembicaraan ini.

“Jadi kau mengancamku?”tanya Yong Hwa akhirnya, kali ini ia sudah benar-benar muak dengan percakapan panjang dan melelahkan itu.

“Tidak masalah jika kehilangan pemasok heroin sepertimu. Aku bisa mencari kelompok lain yang pasti akan dengan senang hati bekerja sama dengan kelompok Jung.”ujar Yong Hwa lalu memutuskan sambungan dengan tuan Jang.

“Apa ada masalah?”tanya Jong Hyun pelan dengan bahasa Korea.

“Tidak, tidak ada masalah. Kau jangan khawatir, semua baik-baik saja.”jawab Yong Hwa tanpa memandang pengawalnya itu.

 

***

Seorang pemuda dengan pakaian serba hitam terlihat memasuki sebuah klub malam. Pemuda ini menutupi identitas dirinya dengan menggunakan kaca mata hitam dan topi, tak lupa pemuda ini juga mengenakan masker penutup mulutnya. Pemuda ini membawa sebuah tas punggung ukuran besar, setelah sampai di dalam klub, pemuda ini segera mengedarkan pandangannya, mencari sosok laki-laki paruh baya yang sesuai dengan foto yang kini ada dalam genggamannya.

Musik yang menghentak keras dan penuhnya pengunjung klub malam terbesar di kota Jepang itu seolah tidak membuatnya terganggu. Matanya terus menyusuri setiap sudut klub, tak ia gubris semua rayuan wanita jalang yang menghampirinya, justru pemuda ini menatap jijik ke arah mereka kemudian berjalan menjauhi tempatnya berdiri saat ini.

Pemuda ini berjalan kearah toilet pria di sudut klub, melepas kaca mata hitamnya dan tersenyum sinis ketika melihat pria yang ia cari sejak tadi tengah duduk bersama beberapa wanita-wanita berpakaian seksi, di hadapan pria itu tergeletak banyak minuman yang sudah terbuka. “Aku mendapatkanmu, tuan.”ujar pemuda itu pelan lalu bergegas masuk ke dalam toilet.

Pemuda ini mengunci pintu toilet dari dalam dan membuka tas punggung besarnya, mengeluarkan hampir seluruh isinya hanya dengan sekali gerakkan. Dengan cekatan pemuda ini merakit sebuah benda yang biasa ia gunakan dalam menjalankan misinya. Setelah tersambung sempurna, pemuda ini membuka sedikit pintu toilet dan membidikkan sebuah snipper miliknya. “Ucapkan salam perpisahan pada hidupmu sekarang.”pemuda itu berkata pelan lalu menarik pelatuk pada pistol panjang miliknya.

Senyum mengembang di wajah tampan pemuda ini ketika terdengar jerit histeris para wanita malam yang berada disekitar jasad yang baru saja ia tembak. Mata peluru itu bersarang tepat di kepala pria itu, membuatnya menghembuskan nafas terakhir saat itu juga. Seluruh pengunjung klub berlari ketakutan ketika melihat seorang pria paruh baya tengah terkapar dengan darah segar mengalir melalui kepalanya. Saat semua perhatian terfokus pada jasad pria itu, si penembak jitu ini keluar dari klub dengan bebasnya tanpa ada seorangpun yang menyadarinya.

“Berhasil?”tanya sebuah suara pada pemuda itu ketika dirinya sudah masuk ke dalam mobil sedan hitam.

“Menurutmu?”tanya pemuda itu tanpa memandang si penanya. “Cepat kita pergi dari sini Jong Hyun-nie, sebelum mereka menyadari keberadaan kita.”lanjut pemuda itu masih tanpa memandang Jong Hyun, pengawal pribadinya.

“Baik master.”jawab Jong Hyun lalu menjalankan sedan hitamnya dengan cepat, membelah kota Jepang yang terlihat semakin ramai.

Jong Hyun, namja tampan dengan tubuh putih dan tatapan tajam itu kini tengah memfokuskan dirinya pada jalanan di depannya. Ia tak sekalipun mengalihkan pandangannya pada tuannya yang duduk di bangku belakang.

“Tidak bertanya alasanku membunuh kali ini?”tanya namja tadi membuat perhatian Jong Hyun terpecah.

“Sekalipun aku bertanya, kau tidak akan pernah memberi tahu alasannya, kan? Jadi lebih baik aku diam saja.”jawab Jong Hyun santai.

“Haha, benar juga. Aku tidak pernah mengatakan padamu alasanku membunuh orang-orang itu. Asal kau tahu saja, aku punya alasan kuat untuk melakukan itu.”jawab pemuda tadi berusaha akrab dengan Jong Hyun.

“Yong Hwa-ah, mengapa kau lakukan semua ini?”tanya Jong Hyun akhirnya, membuat tawa namja itu berhenti.

“Aku punya alasan sendiri, kau harus percaya padaku. Aku melakukan ini untuk kebaikkan kelompok Jung.”jawab pemuda yang ternyata adalah Yong Hwa.

“Kalau begitu beritahu aku apa alasanmu. Buat aku percaya, dan beri aku alasan untuk tetap berada disisimu sebagai pengawal pribadimu. Bukankah kau yang mengatakan ingin aku tak menganggapmu lagi sebagai atasanku. Bagaimana aku bisa bersikap biasa saja, jika kau bahkan tak pernah menganggapku sebagai teman.”ujar Jong Hyun panjang lebar membuat Yong Hwa terperangah.

“Aku melakukan ini karena perintah tuan Jung.”ujar Yong Hwa singkat.

“Apa tuan Jung meminta anda untuk membunuh?”

“Ani, bukan begitu. Aku melakukan apa yang diajarkan oleh tuan Jung, menghabisi siapa saja yang menjadi penghalang jalanku. Untuk bertahan hidup kita harus mengorbankan sesuatu yang berharga dalam hidup kita, karena itu aku membunuh orang-orang yang mempunyai kekuasaan kuat sehingga dengan mudah aku bisa memimpin kelompok mereka.”jelas Yong Hwa panjang lebar.

“Hanya itu alasanmu?”

“Si tua bangka Jang itu memintaku untuk menyerahkan kelompok Jung padanya, jika tidak kulakukan ia mengancam akan berhenti mengirimkan heroin pada kelompok kita dan akan membunuh semua pengikut keluar Jung. Apa kau fikir aku bisa terima semua permintaannya? Apa kau kira aku akan begitu saja menyerahkan kelompok Jung?”

“Karena itukah kau membunuhnya?”tanya Jong Hyun yang dijawab anggukan oleh Yong Hwa. “Dan untuk korban-korban yang lain? Kau punya alasan yang sama?”tanya Jong Hyun lagi.

“Mereka selalu meremehkan diriku, memandang kemampuanku dengan sebelah mata seolah aku tidak mampu memimpin kelompok Jung dengan baik. Aku muak dengan tingkah laku mereka.”

“Jika itu alasanmu membunuh si tua-tua itu, lalu bagaimana dengan Rika-chan? Bukankah kau menyukainya?”

“Kau gila? Aku menyukai si jalang itu? Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa aku menyukai wanita yang bahkan memberikan keperawanannya hanya untuk sebuah mobil mewah. Wanita yang bahkan tak mampu menghargai dirinya sendiri. Aku justru sangat membencinya.”

“Menurutku kau mencintainya, karena itu kau membunuhnya.”

“Asal kau tahu saja, aku membunuhnya karena dia mencoba menggoda Tae Kyung. Aku tidak ingin Tae Kyung hyung jadi santapan wanita gila sepertinya.”

“Jika kau mengetahui kebenaran kalau Tae Kyung juga salah satu dari penghianat-penghianat itu, bagaimana?”tanya Hyun Hyun membuat Hyun Hwa memandangnya sinis.

“Itu tidak mungkin! Tae Kyung adalah orang yang mendukungku selama ini, jadi itu tidak mungkin.”

“Kau bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya, hyung.”ujar Hyun Hyun pelan.

“Apa kau bilang?”

“Ah tidak, aku tidak bilang apa-apa.”jawab Hyun Hyun segera.

 

***

 

“Yong.”panggil sebuah suara.

“Tae Kyung hyung, masuklah.”ujar Yong Hwa.

“Kau sudah dengar kabar tentang ketua kelompok Jang?”tanya Tae Kyung membuat Yong Hwa yang sedang minum tersedak.

“Kelompok Jang? Ada apa dengan ketua kelompok Jang?”Yong Hwa berusaha tenang agar tidak membuat Tae Kyung curiga.

“Ku dengar ia mati dibunuh.”

“Begitu?”ujar Yong Hwa memandang kesegala arah.

“Ne. Aku khawatir denganmu.”

“Eoh?”tanya Yong Hwa sedikit ketakutan, ia takut Tae Kyung tahu kebenarannya.

“Kau adalah pemimpin kelompok paling muda, pengalamanmu tidak banyak. Aku takut kau akan dibunuh sama seperti yang lainnya.”ujar Tae Kyung.

“Bagaimana bisa aku membunuh diriku sendiri, hyung. Aku tidak akan mati terbunuh, kecuali ada kelompok lain yang menaruh dendam padaku.”ujar Yong Hwa dalam hatinya. “Kau tenanglah hyung, aku memiliki kau dan Jong Hyun sebagai pengawalku. Aku akan aman jika bersama kalian.”

“Karena itulah aku takut.”

“Maksudmu?”tanya Yong Hwa tidak mengerti.

“Aku tidak percaya dengan Jong Hyun. Bisa saja dia membunuhmu ketika kau lengah. Kau terlalu mempercayainya.”ujar Tae Kyung.

“Itu tidak akan terjadi, hyung. Aku sangat tahu bagaimana Jong Hyun, ia tidak mungkin mengkhianati kepercayaanku.”

“Kau terlalu lemah Yong, sebaiknya kau lebih waspada. Orang yang terlihat baik belum tentu benar-benar baik. Ingatlah dengan baik apa yang aku katakan ini.”pesan Tae Kyung lalu pergi meninggalkan Yong Hwa.

Yong Hwa terdiam memikirkan apa yang Tae Kyung katakan tentang Jong Hyun. Ia tidak ingin mempercayai apa yang dikatakan Hyungnya itu, namun juga tidak bisa dengan mudahnya melupakan kata-kata itu. Kembali Yong Hwa teringat dengan kejadian yang mempertemukan dirinya dengan Jong Hyun. Lima tahun lalu, saat Yong Hwa tengah ikut tuan Jung berkunjung ke pinggir kota jepang. Yong Hwa tanpa izin pergi berkeliaran sendirian, mengunjungi semua tempat yang menurutnya menarik perhatian tanpa pengawalan.

Naas bagi Yong Hwa, seseorang yang mengenali dirinya adalah pewaris kelompok Jung berniat untuk menculik dan membunuh dirinya. Yong Hwa yang saat itu adalah bocah ingusan dengan mudah tertangkap oleh para gerombolan itu. Yong Hwa melawan sekuat tenaga, mencoba mengaplikasikan semua jurus bela diri yang ia kuasai, namun sayang kelompok yang menculiknya lebih kuat dari yang ia fikirkan. Jumlah yang lumayan banyak dan usia yang jauh diatas Yong Hwa membuat namja ini kalah telak dan tak mampu lagi melawan. Saat hari ketiga dari penyandraan dirinya, Jong Hyun yang secara tidak sengaja melewati gedung tua tempat Yong Hwa disekap kemudian berusaha menyelamatkannya.

Jong Hyun dengan akal cerdiknya memutar suara sirine mobil polisi dari sebuah tape usang yang ia temui di tempat sampah. Semua anggota kelompok itu berlari ketakutan, meninggalkan si sandera begitu saja. Setelah merasa aman, Jong Hyun melepaskan Yong Hwa. Namja tampan ini mengantar Yong Hwa muda kembali kepada tuan Jung. Yong Hwa yang sangat tahu diri meminta kepada tuan Jung untuk mengajak Jong Hyun ikut bersama mereka ke kota. Awalnya tuan Jung menolak karena melihat kepribadian Jong Hyun yang serampangan dan tak mau di atur, ia tidak ingin memasukkan sembarang orang dalam kelompoknya, belum lagi alasan Jong Hyun adalah gelandangan membuat tuan Jung semakin menolak keinginan Yong Hwa. Namun bukan Yong Hwa namanya jika ia tidak bisa membujuk tuan Jung untuk menuruti apa yang ia inginkan.

Tuan Jung memperbolehkan Jong Hyun ikut bersama mereka asalkan namja ini mau merubah penampilannya dan belajar bagaimana caranya beretika. Sejak itulah Jong Hyun selalu bersama Yong Hwa. Bagi Jong Hyun, Yong Hwa adalah penyelamat hidupnya. Jika bukan karena Yong Hwa mengajaknya untuk ikut dan tinggal bersama mungkin saat ini Jong Hyun hanya tinggal nama.

“Jika kau tidak mau menjauh dari ‘hewan peliharaan’mu itu, maka aku yang akan membuat kalian terpisah. Dengan begitu aku akan dengan leluasa membuat kau celaka.”ujar seseorang memperhatikan Yong Hwa dari balik pintu ruangan.

 

***

“Yong, kita dalam masalah besar.”ujar Tae Kyung saat Yong Hwa sedang menikmati makan siangnya.

“Kenapa Hyung? Ada masalah apa?”

“Kelompok dari Korea yang bekerja sama dengan kita tiba-tiba ingin membatalkan perjanjian, mereka menilai kau tidak kompeten dalam memimpin kelompok.”

“Apa alasan mereka menilaiku begitu?”tanya Yong Hwa sedikit kesal kemampuannya kembali dipermasalahkan.

“Entahlah, aku juga bingung. Mungkin karena usiamu yang tergolong masih belia.”jawab Tae Kyung membuat Yong Hwa naik pitam.

“Apa mereka tidak bisa melihat bagaimana caraku memimpin kelompok? Sudah berapa kali kita berhasil memasukkan barang terlarang itu tanpa diketahui oleh pihak kepolisian. Mereka fikir karena siapa semua itu bisa berjalan lancar?! Semua itu aku yang fikirkan!! Semua rencana-rencana gila juga taktik-taktik hebat itu siapa yang merancangnya, eoh?! Kenapa selalu saja bermasalah dengan umurku yang masih muda?! Memangnya kenapa jika aku memimpin kelompok diusiaku yang baru 21 tahun ini?! Apa mereka meragukan kemampuanku?! Aku muak dengan mereka yang terlalu banyak permintaan!!!”teriak Yong Hwa penuh emosi, kali ini ia benar-benar hilang kendali. Namja ini menggebrak meja makan, mendorong semua hidangan lezat yang tersaji disana.

“Tenanglah Yong, kita fikirkan bersama jalan keluarnya.”

“Bagaimana mungkin aku bisa tenang, Hyung. Semua yang aku lakukan tak pernah mereka anggap, apa mereka fikir mereka akan mampu menjalankan usaha berbahaya ini jika tidak ada sumbangsih dari otakku ini?!”ujar Yong Hwa masih dengan wajah penuh dendam.

“Kau harus bersabar, aku pasti akan membantumu.”

“Dimana Jong Hyun? Aku membutuhkannya saat ini. kenapa aku tidak melihatnya sejak kemarin?”tanya Yong Hwa tanpa memperdulikan apa yang Tae Kyung katakan.

“Bocah itu pergi dari sini, mungkin sedang menjilat ketua kelompok lain. Tidak puas dengan hanya memperdaya dirimu.”jawab Tae Kyung dengan penekanan dalam setiap kalimatnya.

“Itu tidak mungkin! Jong Hyun tidak mungkin melakukan itu padaku.”bisik Yong Hwa dalam hati.

“Aku menemukan cara agar kelompok dari Korea tidak membatalkan kerja sama.”ujar Tae Kyung membuat Yong Hwa melirik ke arahnya. “Mungkin mereka seperti ini karena kau tidak pernah mau turun langsung setiap kali ada pertemuan dengan mereka.”lanjut Tae Kyung.

“Maksudmu?”

“Selama ini kau selalu menyuruhku untuk datang kesemua pertemuan yang mereka selenggarakan, bahkan jika pertemuan itu kelompok kita yang membuatnya kau tetap enggan untuk bertatap wajah dengan mereka. Mereka merasa sedang bekerja sama dengan mahluk asing. Bahkan kelompok-kelompok lain tidak ada yang tahu bagaimana rupa pemimpin kelompok Jung yang baru. Kau selalu menyembunyikan dirimu. Mungkin itu yang membuat mereka ingin membatalkan kerja sama ini.”

“Untuk apa menunjukkan diriku pada mereka? bukankah yang penting semua yang aku rencanakan berjalan lancar? Aku juga punya alasan kenapa aku tidak pernah menunjukkan diriku di depan mereka. Aku tidak ingin bernasip sama dengan tuan Jung.”

“Aku mengerti alasanmu, tapi mereka tidak. Mereka ingin bertemu dengan pemimpin kelompok Jung yang nyata, bukan hanya orang kepercayaan seperti diriku.”

“Seharusnya mereka lebih bersyukur karena bisa bertemu dengan namja hebat sepertimu dan bekerja sama dengan kelompok mafia terbesar. Manusia-manusia itu terlalu banyak keinginan.”

“Kau benar, manusia memang terlalu banyak keinginan.”

“Jadi bagaimana Hyung?”

“Temuilah mereka, datanglah kepertemuan kita selanjutnya.”

“Apa dengan begitu mereka tidak akan membatalkan kerja sama?”

“Kita coba saja, tak ada salahnya kan kita berusaha?”

“Baiklah, kau atur jadwalku untuk bertemu dengan mereka. Aku akan menemui mereka ketika Jong Hyun kembali.”

“Aku rasa tak perlu menunggunya kembali.”

“Wae? Kenapa tidak perlu? Jong Hyun adalah pengawal kepercayaanku.”

“Karena dia tidak akan kembali.”jawab Tae Kyung dengan senyum sinisnya. “Tenang saja, aku akan menjagamu. Kau bisa aman ketika bersama di Korea.”lanjut namja ini.

Yong Hwa berdiri tegap di Bandar Udara International Incheon, namja ini menatap malas keseluruh penjuru ruangan tempat dirinya menunggu kedatangan orang yang akan menjemputnya dan Tae Kyung. Yong Hwa masih sibuk dengan fikirannya sendiri, kekhawatiran yang ia rasakan terhadap pengawal pribadinya semakin menjadi ketika ia tidak bisa menghubungi namja itu. Berkali-kali Yong Hwa mencoba menelphone Jong Hyun, namun yang ia dapati hanya perekam pesan otomatis yang menjawab telphonenya.

Sudah puluhan kali Yong Hwa berusaha terhubung dengan Jong Hyun, ratusan pesan telah ia kirimkan namun tak satu juga yang terkirim. Namja ini sudah bertanya pada seluruh anggota kelompok kepercayaannya, namun tak satupun dari mereka yang tahu keberadaan Jong Hyun.

“Yong, kajja kita pergi dari sini.”ujar Tae Kyung tepat disaat Yong Hwa ingin menghubungi Jong Hyun.

Yong Hwa mengikuti Tae Kyung dari belakang, dirinya terlalu enggan untuk menghadiri pertemuan ini. Namun semua itu harus ia lakukan mengingat kelompok dari Korea ini merupakan kelompok yang memberikan keuntungan terbesar bagi kelompok Jung, ia tidak mungkin dengan begitu saja membiarkan kelompok dari Korea memutuskan kerja sama yang sudah terjalin puluhan tahun.

Lama Yong Hwa berdiam diri, mendengarkan setiap penjelasan yang Tae Kyung katakan tanpa berniat untuk menjawab. Sungguh ia sudah lelah dengan semuanya ini. Tanpa perlu mendengar penjelasan dari Tae Kyung pun Yong Hwa sudah mengetahui betul bagaimana detil kerja sama itu bisa terjalin dan segala strategi untuk menjalankan kerja sama itu dengan baik.

“Kau lelah?”tanya Tae Kyung saat sadar kalau Yong Hwa sama sekali tak memperhatikan apa yang ia katakan.

“Sedikit, aku kurang tidur belakangan ini.”

“Kalau begitu tidurlah sebentar. Perjalanan masih cukup jauh, jadi kau bisa mengistirahatkan tubuhmu sejenak.”

“Gomawo Hyung.”

Tae Kyung melirik sinis ke arah belakang dan memperhatikan wajah tampan Yong Hwa dengan alis terangkat sebelah. Mata Yong Hwa terturup rapat, tersirat dengan jelas raut lelah dari setiap senti kulit putih bosnya ini.

“Tidurlah selamanya hingga kau tak merasa kelelahan lagi.”ujar seorang namja pelan.

 

***

Jong Hyun berusaha keras membuka ikatan kencang pada kedua pergelangan tangannya. Rasa nyeri yang ia rasakan akibat gesekan antara kulit putih dan seutas tali tambang tak lagi ia hiraukan. Saat ini yang ia fikirkan hanyalah keselamatan Yong Hwa, namja tampan yang merupakan atasannya itu sedang dalam bahaya. Beberapa waktu lalu Jong Hyun yang berpura-pura tidak sadarkan diri tanpa sengaja mendengar percakapan dari dua orang penjaga yang sedang bercengkrama di balik pintu ruangan tempat dirinya disekap.

“Apa benar kalau ketua kelompok Jung yang baru akan dibunuh?”ujar seorang pria membuat Jong Hyun mendongakkan kepalanya, menatap nanar pintu ruangan yang berjarak beberapa meter dari tempatnya diikat.

“Dari yang aku dengar sih begitu. Seseorang sedang merencanakan untuk membunuhnya.”jawab namja lain semakin membuat Jong Hyun marah.

“Bukankah dia punya pengawal yang sangat hebat? Selama ini tidak ada satu orangpun yang berhasil mendekatinya, jangankan mendekati untuk tahu bagaimana rupanya saja sangat sulit.”

“Benar juga, tapi orang di dalam sana itu adalah salah satu diantara dua pengawal pribadinya. Jika satu sudah tertangkap, akan lebih mudah menyingkirkan yang satu lagi.”

“Iya sih, tapi apa benar namja di dalam ini pengawal pribadi ketua kelompok Jung? Kenapa dia lemah sekali? Bagaimana caranya menangkap dirinya?”

Kedua namja itu masih sibuk dengan pembicaraan mereka, sedangkan Jong Hyun masih berusaha melepaskan ikatan di pergelangan tangannya. Tangannya sedikit terhempas, Jong Hyun tersenyum sekilas ketika tahu sedikit demi sedikit ikatan tali itu mulai terlepas. Tak sampai lima menit ikatan itu telah terlepas seutuhnya, meninggalan segaris luka pada kulit putih namja yang sangat jago bela diri taekwondo ini.

Brak!! Dalam sekali hentakan Jong Hyun mendobrak pintu ruangan yang digunakan untuk mengurung dirinya, membuat kedua namja yang sedang bergosip tadi terkejut. Keduanya kemudian berdiri dan mengambil sikap kuda-kuda, bersiap untuk menyerang Jong Hyun.

“Bagaimana bisa dia lepas?”tanya seorang diantara dua namja itu, dari suaranya terdengar jelas bahwa dirinya sangat ketakutan.

“Dimana Yong Hwa? Dimana pria yang kalian bicarakan itu?!”teriak Jong Hyun membuat kedua pria itu mundur selangkah.

“Siapa Yong Hwa? Kami tidak mengenalnya.”jawab namja yang lain dengan usaha yang sangat keras.

“Jangan main-main denganku, cepat katakan dimana Yong Hwa sekarang. Dimana Jung Yong Hwa sekarang?!”

“Yya! Siapa kau berani berteriak pada kami, eoh?”

“Bajingan! Kau masih berani bicara dengan mulut kotormu itu, eoh?! Cepat katakan dimana ketua kelompok Jung sekarang?! Atau kau lebih ingin aku patahkan lehermu?”gertak Jong Hyun yang tak dijawab oleh kedua orang itu.

Tanpa aba-aba dua namja besar itu menyerang Jong Hyun, berusaha memukul atau melakukan apa saja yang mampu membuat namja bermata tajam ini kalah. Namun sayang semua usaha kedua namja ini tidak berhasil, dengan sekali pukulan Jong Hyun merubuhkan namja dengan tampang mesum dan sedikit brewok pada wajahnya, namja ini jatuh tersungkur di atas sebuah meja kayu yang kini sudah tak berbentuk setelah berbenturan dengan tubuhnya.

Ringisan mulai terdengar dari mulut-mulut namja itu, bau darah segar mulai menyeruak dan menusuk indra penciuman Jong Hyun, membuat namja ini semakin hilang kendali.

“Aku beri kalian satu kesempatan lagi, katakan dimana Yong Hwa saat ini atau ku buat tubuh kalian tak berbentuk lagi.”

“Mereka ada di Korea. Seseorang merencanakan akan membunuh tuan Jung muda di Korea, tepatnya disalah satu gudang tua di pinggir kota Seoul.”

Setelah tahu dimana Yong Hwa saat ini, Jong Hyun langsung berlari meninggalkan kedua namja itu. Ia berlari sekencang mungkin, mencari taxi atau mobil yang mau menumpanginya ke bandara. Tiba-tiba ide gila muncul di kepala namja ini, dengan sigap Jong Hyun memecahkan kaca sebuah mobil yang terparkir di dekatnya kemudian menghidupkan mesin mobil tanpa kunci yang entah bagaimana bisa Jong Hyun lakukan. Secepat kilat namja ini membawa mobil hasil curiannya itu membelah kota Jepang.

“Sial! Kita akan dalam masalah sekarang, cepat hubungi bos besar dan katakan namja gila itu berhasil melarikan diri.”

***

 

Tae Kyung mengendarai mobil sewaannya dengan santai dengan Yong Hwa yang masih saja diam di bangku sebelah kanannya. Namja ini terus tersenyum, seolah akan memenangkan undian yang sangat besar. Sementara Yong Hwa asyik musik yang mengalun masuk ke dalam tubuhnya melalui earphone yang terpasang nyaman pada telinganya. Matanya terpejam, seolah menikmati semua dentuman-dentuman berbagai alat musik yang bersatu sehingga menciptakan melody yang indah.

Yong Hwa membuka matanya ketika merasa mobil yang ia tumpangi sudah berhenti, bola mata bening miliknya menatap seluruh gambaran yang terpampang jelas di hadapannya, keningnya bertautan, memberikan ekpresi bingung yang sangat jelas dapat dilihat. Yong Hwa beralih memandang Tae Kyung yang duduk manis di bangku supir, namja ini tak melepaskan senyum di wajahnya barang sedetikpun.

“Apa kita akan bernegosiasi di tempat seperti ini?”tanya Yong Hwa memecah keheningan yang terjadi antara dirinya dan Tae Kyung.

“Ne. Ketua kelompok itu ingin mengadakannya disini, karena menilai tempat ini jauh dari keramaian.”

“Kalau begitu cepat kita temui dia, aku ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah ini.”Yong Hwa membuka pintu mobil kemudian berjalan masuk ke dalam sebuah gedung tua di pinggir kota Seoul.

Yong Hwa memandang tempatnya berdiri saat ini dengan tatapan bingung, namja ini sedikit heran melihat tempat pertemuan yang menjadi kesepakatan antara kelompoknya dengan kelompok mafia dari Korea ini. Saat ini matanya hanya menangkap bertumpuk-tumpuk mobil tua yang kini lebih pantas disebut rongsokan. Namja ini mengernyitkan keningnya, seolah berfikir kenapa kelompoknya harus bernegosiasi ditempat seperti ini.

Yong Hwa masuk semakin dalam, dirinya benar-benar dibuat bingung. Kecurigaan demi kecurigaan mulai masuk dalam tubuhnya, menggerogoti akal sehatnya dan membuat dirinya semakin waspada. Tak hanya lokasi pertemuan yang mencurigakan, namun keadaan di gedung tua itu juga membuat Yong Hwa semakin yakin dirinya dijebak. Namja ini mundur selangkah ketika melihat segerombolan namja dengan perangai seperti preman datang mendekati dirinya.

Tubuh namja-namja ini sangat berbeda jauh dengan Yong Hwa. Otot-otot tubuh terlihat jelas pada tubuh namja ini yang memang sengaja ia pamerkan, seolah ingin membuat Yong Hwa lari ketakukan.

“Dimana bos kalian?”tanya Yong Hwa singkat.

“Bos?”

“Iya, bos kalian yang akan bernegosiasi denganku dan Tae Kyung Hyung.”jawab Yong Hwa yang membuat gerombolan namja berbadan kekar itu tertawa.

“Bernegosiasi? Apa kau fikir akan ada orang yang mau bernegosiasi di tempat seperti ini? wajahmu saja yang tampan, ternyata kau sangat bodoh.”ujar namja yang lain dengan seringai mengejek, dan Yong Hwa sangat membenci itu.

“Begitukah? Jadi apa alasan kalian menghampiriku?”tanya Yong Hwa dengan kewaspadaannya yang semakin meningkat.

“Tidak ingin apa-apa, hanya ingin mengetahui seberapa hebat kepala mafia sepertimu dalam berkelahi.”jawab namja yang lain, tersenyum ketus membuat gigi calingnya sedikit terlihat.

“Jangan banyak berbasa-basi! Cepat habisi dia!”suruh seorang namja bertubuh paling besar yang disusul dengan kericuhan yang membahana.

Yong Hwa menghindari pukulan pria berambut pirang coklat dan membuat tubuh pria itu berbentur dengan pria lain dari kelompoknya, kemudian namja ini menendang dengan sempurna pada perut pria berbadan sedikit tambun yang berada di depannya. Baku hantam tak mampu lagi dihindarkan, semakin lama semakin memanas. Beberapa kali Yong Hwa harus menghindar dengan sesah payah karena nyaris terkena pukulan.

Yong Hwa terjatuh saat seorang namja memukulkan sebuah balok kayu tepat pada punggung Yong Hwa, membuat dirinya mengerang kesakitan. Menghadapi segerombolan namja dengan ukuran tubuh yang berkali-kali lebih besar bukanlah perkara mudah, apalagi itu dilakukan Yong Hwa seroang diri. Sekalipun dirinya adalah petarung terbaik di Jepang dan menguasai beberapa jenis bela diri, hal itu tak membuatnya menang dengan mudah. Yong Hwa memegangi perutnya sekilas ketika sebuah tinju bersarang dengan kuat disana, pelipis sebelah kirinya sudah dialiri oleh darah segar, penglihatannya mulai kabur disusul dengan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Membuat Yong Hwa harus berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan dirinya.

 

Yong Hwa pov

Aku jatuh terjerembab, merasakan nyeri diseluruh tubuhku. Ku angkat tangan kananku, menyeka darah yang sudah sedikit mengering dari pelipis kiriku, lalu memegangi sudut bibir yang juga sudah terluka. Aku kembali mengalihkan pandanganku, menatap satu persatu dari sepuluh namja bertubuh besar yang menyerangku. Beberapa diantara mereka berdiri dengan nafas ngos-ngosan dan luka di beberapa bagian tubuhnya. Aku tersenyum sekilas, senyum bangga karena mampu membuat kesepuluh namja itu terluka, walaupun luka yang ku terima berlipat-lipat kali lebih banyak dibanding dengan mereka.

Aku berusaha bangkit – kali ini dengan susah payah – untuk memulai pertarungan lagi, walaupun aku sudah tak sekuat beberapa waktu lalu. “Hyun, dimana kau? Kenapa kau tidak menjagaku disaat seperti ini?”tanyaku dalam hati kemudian meringis ketika tonjokan itu mengenai perutku.

Aku teringat dengan Tae Kyung Hyung yang datang bersamaku, kenapa dia tak juga datang padahal ini sudah sangat lama. Apa mungkin dirinya juga terjebak dengan gerombolan lain? Aku harap dirinya baik-baik saja.

“Sudah cukup main-mainnya.”ujar sebuah suara yang sudah sangat ku kenal, suara seseorang yang selalu memberikan dukungannya padaku.

Aku tersenyum senang ketika mendengar suara namja yang sudah lama ku kenal ini mulai datang mendekat. Jantungku seolah meletup-letup sangking senangnya, aku akan selamat dari maut, terlepas dari mereka yang berusaha membunuhku ini.

“Cepat pegang dia.”lanjut suara itu lagi, kali ini membuatku tercekat.

Aku berusaha kembali meyakinkan diriku bahwa apa yang barusan kudengar adalah sebuah kesalahan, bahwa Tae Kyung Hyung datang ketempat ini untuk menolongku. Namun sayang apa yang ku dengar ternyata adalah sebuah kenyataan. Masih dengan keterkejutan yang menguasai diriku, aku menatap matanya dengan heran. Jika aku adalah seorang wanita, mungkin aku sudah menangis tersedu dan memukul-mukul dada namja dihadapanku ini karena penghianatan yang ia lakukan.

Aku merasakan tangan kananku ditarik paksa oleh seseorang, membuatku mengalihkan pandangan dan menatapnya dengan tatapan membunuh walaupun aku yakin aku tak akan sanggup melakukan itu. Cengkramannya sangat kuat, membuatku meringis tertahan. Tangan kirikui pun ditarik paksa dengan cengkraman yang lebih kuat, yang aku yakin kalau tanganku akan patah jika terus dipegangi seperti ini.

“Kau terluka parah.”ujar Tae Kyung Hyung dengan nada yang kutahu sebagai nada mengejek, aku tak menjawab dan tak ingin menjawab. Aku hanya menatapnya datar, tanpa ekspresi sedikitpun, mungkin diriku terlalu terkejut untuk menunjukkan ekspresi apapun.

Yong Hwa pov end

 

“Bagaimana rasanya? Apakah sakit?”tanya Tae Kyung lagi, kali ini disertai oleh senyum sinis yang menghiasi wajah putihnya. “Aku rasa sakitnya tak sebanding dengan sakit yang aku rasakan selama ini.”lanjutnya lagi membuat Yong Hwa terkejut.

“Apa maksudmu?”ujar Yong Hwa akhirnya.

“Hahaha, kau bertanya apa maksudku? Apa kau tak pernah menyadari bahwa kau telah menyakiti aku? Kau ini bodoh atau apa?”

“Aku sungguh tak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Kau merebut segalanya dariku.”tuding Tae Kyung, namja ini berjalan mendekati Yong Hwa dengan tatapan kebencian. “Kau merebut kepercayaan Appa, kau membuat Appa lebih menyayangi dirimu, kau merebut kursi pemimpin di kelompok kita, dan kau membunuh Rika, gadis yang sangat aku cintai.”lanjut Tae Kyung membuat Yong Hwa tercekat.

“Jika kau memang menginginkan kursi pemimpin itu, aku akan memberikannya dengan suka rela. Bukankah kau tahu kalau aku memang tidak pernah menginginkan diriku menjadi pemimpin.”

“Omong kosong! Kau tidak perlu berpura-pura baik lagi dihadapanku!”

“Terserahlah, tapi yang aku katakan semuanya benar. Kau bisa mengambil semuanya jika kau memang menginginkannya, aku tidak peduli. Bahkan aku membiarkanmu memimpin semua kegiatan kelompok kita.”

“Ya, kau benar. Kau memang membiarkanku memimpin semua pertemuan dengan kelompok mafia lain yang menjalin kerja sama dengan kelompok kita. Tapi kau tidak menjadikanku sebagai pemimpin, kau menjadikanku sebagai budakmu. Kau memerintahkan diriku untuk melakukan semua rencanamu, tanpa pernah kau pertanyakan pendapatku.”teriak Tae Kyung penuh emosi, namja ini terlihat seperti ingin menangis. “Kau tahu, aku sudah muak. Aku sudah sangat muak Jung Yong Hwa! Apalagi saat aku tahu kalau dirimu yang sudah merebut kehidupan gadisku, kau sudah membunuh wanita yang sangat aku cintai.”lanjutnya lagi kini mencengkram kerah kemeja Yong Hwa.

“Aku melakukan itu karena dia mempermainkanmu! Aku tidak rela kalau kau dipermainkan seperti itu!”Yong Hwa berusaha menjelaskan alasan dirinya membunuh Rika.

“Aku tidak ingin dengar, aku tidak ingin tahu, dan aku sudah tidak peduli. Terserah dengan segala macam alasan kau melakukan pembunuhan itu, yang jelas aku sudah enggan melihat wajahmu. Aku sudah menunggu saat ini sejak lama, dengan tanganku ini aku akan mengakhiri hidupmu, aku akan membalaskan dendam Rika.”Tae Kyung berkata lirih sambil mengeluarkan sebilah belati dari saku celananya.

Yong Hwa terdiam, tenggorokannya tercekat. Degub jantungnya kini sudah tak beraturan. Keterkejutan atas pengkhianatan Tae Kyung saja sudah membuatnya kehabisan nafas, dan kali ini ia melihat Tae Kyung akan membunuhnya. Tae Kyung menyentuhkan mata pisau miliknya ke wajah Yong Hwa, menekannya sedikit sehingga membuat wajah tampan namja itu mengeluarkan sedikit darah segar. Senyum penuh kemenangan terukir jelas di wajah Tae Kyung ketika menusukkan belati perutnya.

“Selamat tinggal adik kecilku.”ujar Tae Kyung pelan kemudian berjalan meninggalkan Yong Hwa yang terlihat sudah kehabisan banyak darah, di belakang namja ini mengekor gerombolan preman yang merupakan anak buahnya.

Yong Hwa mengerang kesakitan ketika merasakan sebuah belati menancap dalam perutnya. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya, pandangannya mulai mengabur dan persendiannya mulai terasa nyeri. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, Yong Hwa berjalan keluar dari gudang tua di pinggir kota Seoul. Langkah kaki Yong Hwa semakin berat, lama kelamaan namja ini semakin kehilangan kekuatannya sampai akhirnya Yong Hwa jatuh pingsan.

“Eomma, malam ini aku akan menginap di rumah Eun Hye Eonnie.”ujar seorang wanita melalu sambungan telfon.

“….”

“Ne, nanti akan aku sampaikan salammu pada Ibu Eun Hye Eonnie.”lanjut yeoja itu lagi.

“Omo! Eomma tunggu sebentar, ne. Aku ada perlu sebentar, nanti aku telphone lagi.”yeoja ini lalu mematikan sambungan telphonenya ketika melihat sosok namja tergeletak di tengah jalan, Yeoja ini menghentikan mobilnya kemudian berlari ke arah Yong Hwa yang sudah jatuh pingsan.

Yeoja ini terkejut ketika melihat tubuh Yong Hwa yang sudah dipenuhi oleh darah, yeoja ini mengulurkan tangannya untuk memeriksa nafas Yong Hwa.

“Hhhh.”desah yeoja ini singkat, ia sangat bersyukur Yong Hwa masih bernafas. “Tuan, kau tidak apa-apa?”pertanyaan konyol ini keluar begitu saja dari mulut yeoja ini.

“Aku rasa kita harus ke rumah sakit.”ujarnya dalam hati lalu memapah Yong Hwa menuju mobilnya.

Dengan secepat kilat yeoja ini mengendarai mobil miliknya menuju rumah sakit terdekat. Selama dalam perjalanan yeoja ini tak hentinya berdoa dan sesekali melirik ke arah bangku belakang, memeriksa keadaan namja yang kini terlihat semakin pucat.

“Tolong! Cepat bawa kursi roda, kasur atau apa saja untuk menarik namja ini. Cepat lakukan!”teriak yeoja ini ketika dirinya sudah berada di depan pintu UGD rumah sakit.

Seluruh perawat panik ketika melihat Yong Hwa yang bersimbah begitu banyak darah. Dengan cepat para perawat itu membawa Yong Hwa ke ruang operasi.

“Maaf nona, anda tidak bisa masuk ke dalam. Mohon untuk anda melengkapi administrasi selama kami melakukan perawatan.”ujar seorang perawat ketika melihat yeoja ini hendak masuk ke dalam ruang operasi.

“Apa kalian akan menyelamatkannya? Aku mohon selamatkan dirinya.”ujar yeoja ini berlinang air mata.

“Kami akan berusaha semampu kami. Kami harap nona bisa tenang dan menunggu kami menyelesaikan tugas dengan baik, permisi.”ujar perawat itu lagi kemudian meninggalkan yeoja ini.

Berjam-jam yeoja ini duduk di depan pintu ruang operasi, tubuhnya yang sudah lelah tak juga ia istirahatkan, pakaian yang kini tengah penuh dengan darah namja tadi masih menempel di tubuhnya. Yeoja ini melirik sekilas ke arah jam tangan miliknya, manik matanya tak henti mengeluarkan air mata.

“Yeoboseyo.”ujar yeoja ini ketika merasakan ponselnya bergetar.

“Noona, kau dimana?”tanya seorang namja dengan nada khawatir.

“Ah, aku di rumah sakit Hyukkie.”

“Mwo?! Kau di rumah sakit? Tapi kenapa? Apa kau sedang tidak enak badan?”tanya Min Hyuk mulai panik.

“Ani, bukan aku.”

“Shin Hye!!! Dimana kau, eoh?!”teriak seorang yeoja yang membuat telinga yeoja ini sakit.

“Eun Hye Eonnie, kau membuat gendang telingaku pecah.”

“Aku tidak peduli! Cepat katakan dimana kau?”

“Aku di rumah sakit, sedang menunggu temanku selesai di operasi.”

“Kenapa tidak memberitahuku?”

“Mian, aku lupa.”

“Baiklah aku kesana, kau di ruang apa?”

“Akan aku kirimkan lewat pesan nama rumah sakit dan ruangan apa.”ujar Shin Hye lembut lalu memutuskan sambungan telphonenya.

Shin Hye kembali terdiam, matanya memandang lurus pada ponsel miliknya. Berkali-kali Shin Hye mendesah pelan, berusaha menenangkan dirinya. Tak berapa lama kemudian pintu ruang operasi terbuka, seorang namja paruh baya dengan jas putihnya menghampiri Shin Hye yang kini sudah berdiri dengan wajah tegang.

“Bagaimana keadaannya?”tanya yeoja ini cepat.

“Namja itu kehilangan banyak darah sehingga membuat tubuhnya sangat lemah. Tapi untung saja dia bisa melewati masa kritis itu. Saat ini kita hanya perlu menunggu dirinya sadar, setelah itu baru kami dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut.”jelas dokter itu dengan ramah.

“Begitukah? Syukurlah, aku fikir dirinya tidak akan selamat.”

“Kau sangat beruntung dapat menyelamatkan namjachingumu itu. Kami sedang mengurus kepindahannya ke kamar rawat, kau bisa mengurus semua keperluannya selama berada disini.”

“Eh? Dia bukan namjachinguku, aku hanya menemukannya tergeletak dipinggir jalan saja.”

“Benarkah? Aku fikir dia namjachingumu, karena kau terlihat sangat mengkhawatirkannya. Kau memang wanita yang baik nona Park. Kalau begitu aku permisi dulu, ne.”

“Ne, gamsahabnida uisa-nim.”

Shin Hye ikut mendampingi Yong Hwa yang terlihat masih terlelap ketika Eun Hye dan Min Hyuk datang. Kedua temannya ini memandang wajah Shin Hye dengan curiga, apalagi ketika melihat banyaknya darah pada baju yang dipakai yeoja ini.

“Siapa dia?”tanya Min Hyuk ketika melihat siapa yang terbaring di belakang Shin Hye.

“Aku juga tidak tahu.”jawab Shin Hye pelan.

“Mwo?!”teriak Min Hyuk dan Eun Hye bersamaan.

“Yya! Pelankan suara kalian!”ujar Shin Hye setengah berbisik.

“Shin, katakan pada kami siapa namja itu.”tanya Eun Hye dengan mata memicing.

“Aku sungguh tidak tahu Eonnie.”

“Lalu? Kenapa kau membawanya kesini? Apa kau menabrak dirinya?”

“Tidak, bukan begitu. Aku menemukannya tergeletak dipinggi jalan dekat gedung tua ketika akan menuju rumah Eun Hye Eonnie, karena panik lalu aku membawanya kesini.”

“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Aku tidak tahu.”

“Aigoo, kau ini selalu saja bertindak seenaknya.”

“Tunggu saja sampai namja ini sadar, lalu kita akan tanyakan identitasnya.”ujar Min Hyuk.

“Ne, Min Hyuk benar.”

“Selama namja ini tidak sadar, aku akan menjaganya.”

“Apa itu tidak masalah? Bagaimana dengan ibumu?”tanya Eun Hye khawatir.

“Eomma pasti akan mengerti.”

 

***

Sudah satu minggu Yong Hwa dirawat, namun namja ini belum juga sadar. Selang-selang masih terus menempel pada tubuh namja itu, di hidungnya pun masih bertengger alat bantu pernapasan. Wajah Yong Hwa mulai mengurus, namun tak membuat dirinya kehilangan ketampanan. Shin Hye dengan setia masih menunggui dirinya, merawat dan juga memperhatikan namja yang tidak dia kenal ini. Beberapa kali ibu Shin Hye datang untuk menemani putri kesayangannya ini. Nyonya Park sangat bangga karena mempunyai putri yang sangat baik hati seperti Shin Hye.

“Shin, kau tidurlah dulu.”ujar nyonya Park pelan.

“Ani Eomma, aku tidak mengantuk.”

“Kalau begitu kau makan dulu, ne? Eomma membawakan sayur kesukaannmu.”bujuk nyonya Park.

Shin Hye terdiam dan memandang wajah Yong Hwa sekilas kemudian tersenyum manis ke arah namja ini.

“Hey namja asing, ini sudah hari ke tujuh kau terbaring tak sadarkan diri. Apa kau tidak lelah? Cepatlah sadar.”ujar Shin Hye singkat lalu beranjak mendekati ibunya.

Nyonya Park menyuapi putri semata wayangnya dengan sangat perhatian, tak lama kemudian pintu ruang rawat terbuka dan menampilkan sosok namja tampan dengan mata sipit dan senyum menggemaskan.

“Hyukkie.”panggil Shin Hye membuat senyum namja itu semakin mengembang.

“Apa dia belum juga siuman?”tanya Min Hyuk yang berdiri tepat di samping Yong Hwa.

“Belum, semoga saja secepatnya.”jawab Shin Hye tertunduk lemas.

Min Hyuk hanya diam memandangi wajah Yong Hwa. Kemudian pandangannya teralihkan oleh gerakan pelan pada jemari tangan namja yang terbaring lemah ini, matanya membulat seolah meyakinkan penglihatkannya.

“Noona, namja ini bergerak.”ujar Min Hyuk membuat Shin Hye terkejut.

“Omo! Kau benar, Hyukkie cepat panggilkan dokter.”ujar Shin Hye saat melihat tangan Yong Hwa kembali bergerak.

Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan Yong Hwa yang saat ini sudah sadar sepenuhnya. Shin Hye tersenyum senang, begitu juga dengan Min Hyuk dan nyonya Park.

“Kau sudah siuman? Apa kau baik-baik saja?”tanya Shin Hye lembut.

“Kau siapa?”

“Aku Shin Hye, Park Shin Hye.”ujar Shin Hye memperkenalkan dirinya.

“Kenapa kau membantuku?”tanya Yong Hwa lagi.

“A-aku tidak tahu, memangnya salah jika aku membantumu?”

“Tidak, hanya saja kau akan menyesal pernah membantuku.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Aku seorang kepala mafia Jepang.”aku Yong Hwa yang membuat Shin Hye, Min Hyuk dan nyonya Park terkejut.

“Jangan bercanda, apa kau fikir kami akan percaya?”tanya Min Hyuk tertawa.

“Aku serius, kau bisa mencari tahu tentang kelompok Jung.”

“Kau sangat-sangat tidak lucu.”ujar Min Hyuk lagi.

“Memangnya kenapa kalau kau adalah kepala mafia? Apa salahnya membantu dirimu?”tanya Shin Hye dengan polosnya.

“Nona, seharusnya kau sadar kenapa kau menemukan seorang namja dalam kondisi seperti itu.”

“Apa yang salah dengan kondisimu itu.”

“Aku ditemukan dalam keadaan bersimbah darah dengan pisau yang masih menancap di perutku, apa kau tidak berfikir kenapa keadaanku seperti itu?”tanya Yong Hwa yang membuat Shin Hye terdiam. “Seseorang ingin membunuhku.”lanjut namja ini lagi membuat mata Shin Hye berkaca-kaca.

“Jangan banyak bicara dulu, kau harus memulihkan tenagamu.”ujar nyonya Park singkat.

“Ani ahjuma, aku harus mengatakan yang sebenarnya. Jika tidak kalian akan dalam masalah.”jawab Yong Hwa cepat. “Dengarkan aku nona, seseorang berusaha membunuhku saat itu dan jika ia mendengar kabar kalau aku telah kau selamatkan maka dirimu dan juga orang-orang dekatmu akan terancam.”

“Kalau begitu selamatkan ibuku dan juga Min Hyuk.”ujar Shin Hye tegas.

“Apa maksudmu?”tanya Yong Hwa sedikit bingung.

“Bukankah kau bilang kalau kau adalah kepala mafia? Karena itu aku memintamu untuk menyelamatkan ibu dan Min Hyuk.”

“Persoalannya tidak semudah itu. Orang yang ingin membunuhku adalah orang kepercayaanku di kelompok, aku tidak mungkin bisa menyelamatkan kalian.”

“Aku hanya meminta kau menyelamatkan ibuku dan juga Min Hyukkie, sedangkan aku akan terus merawatmu.”

“Mwo?! Yya noona! Apa yang kau katakan eoh?”ujar Min Hyuk terkejut.

“Diamlah Hyukkie, jangan ikut campur.”

“Tapi noona.”

“Eomma, aku minta padamu untuk segera pergi tinggalkan Seoul bersama Min Hyuk. Selamatkan diri kalian, pergilah sejauh mungkin. Aku akan menemui kalian jika keadaan sudah lebih baik.”ujar Shin Hye pada ibunya yang hanya dibalas anggukan oleh nyonya Park.

“Kau akan menyesal jika tetap melakukan itu.”

“Ani, aku tidak akan menyesal. Aku akan menjagamu, sampai kau sembuh lalu kita akan menyusul Eomma dan Min Hyuk.”

 

***

Seoul 2013

Yong Hwa pov

Aku membuka kedua mataku ketika merasakan matahari mulai masuk melalui celah jendela kamarku dan mendapati sosok bidadari tengah terlelap dalam dekapanku. Ku pandangi wajah bidadari di hadapanku ini, menikmati indahnya cipataan Tuhan yang bisa aku miliki. Samar-samar dapat kurasakan wangi coklat yang menyeruak keluar dari helaian rambut coklatnya. Mataku terus saja menyusuri setiap titik wajah putih miliknya, menatap hidung mungil serta bibir yang berwarna pink merona itu.

Ku lirik sekilas jam dinding yang menggantung dekat jendela, kemudian kembali melingkarkan tanganku pada tubuh malaikatku ini. Masih teringat dengan jelas bagaimana awal pertemuanku dengan dirinya, dan bagaimana kebaikan hatinya mampu merubahku menjadi seperti sekarang ini. Kehidupanku yang gelap telah berubah menjadi terang setelah kedatangannya. Park Shin Hye, gadis dengan perawakan lembut dan penyayang inilah yang mampu merubahku dan membuatku bisa kembali merasakan hidup.

Beberapa tahun lalu, saat aku masih tinggal di Jepang, aku adalah seorang kepala mafia. Aku juga merupakan seorang berhati dingin yang akan mampu menghabisi siapa saja yang menghalangi jalanku. Siapa yang tak mengenalku saat itu? Namja muda dengan wajah dingin serta penampilan yang serampangan, namja yang menjadi target utama kepolisian Jepang, namja yang paling dicari oleh para kelompok mafia lainnya. Aku tak mengenal kata takut. Sudah berpuluh-puluh orang yang kuhabisi nyawanya dengan sangat kejam, sudah banyak kelompok mafia yang aku habisi pemimpinnya.

Bukan tanpa alasan aku bersifat seperti itu, karena aku dibesarkan oleh seorang yang sangat ditakuti di Jepang. Keluarga ku terdahulu, maksudku Ayah dan Ibu kandungku tewas saat terjadi perampokan di rumahku. Aku yang masih berusia delapan tahun melihat dengan jelas kedua orang tuaku dibunuh secara keji. Aku menyaksikan dengan kepalaku sendiri bagaimana belati itu menghujam jantung ayahku dan mengoyak dengan kasar wajah ibuku. Aku terdiam, terdiam dengan kedua kaki bergetar. Yang saat itu ada dalam fikiranku hanyalah aku ingin ikut kedua orang tuaku.

Seluruh hartaku habis, semuanya dibawa oleh perampok tak berperasaan itu. Jika saja mereka mengetahui ada seorang anak yang bersembunyi dibalik pintu lemari, mungkin mereka akan menghabisinya juga. Aku berlari sekuat yang aku bisa setelah para perampok itu meninggalkan jasad kedua orang tuaku, mencoba mencari bantuan dari siapa saja yang aku temui dijalan. Nihil, tak ada satu orang manusiapun yang mau membantuku. Berhari-hari aku tidur dijalanan, dan berhari-hari aku tidak makan. Aku yang mulai putus asa kemudian berniat untuk menyusul kedua orang tuaku. Namun, ketika aku hendak menabrakkan tubuhku pada sebuah truk yang melintas dijalanan, tanganku ditarik oleh seorang pria tua, pria yang kemudian membesarkanku menjadi seorang kepala mafia.

Tumbuh menjadi laki-laki yang kuat, menguasai hampir seluruh ilmu bela diri membuat diriku menjadi namja tak terkalahkan. Aku mewarisi kelompok ‘Jung’ yang merupakan kelompok mafia terbesar di Jepang. Setiap hari aku bergelut dengan bahaya. Mengedarkan obat-obat terlarang dalam sekala besar, dan sesekali menjual gadis-gadis dari desa. Sampai satu ketika salah satu bawahanku berkhianat. Si brengsek itu bekerja sama dengan kelompok mafia lain untuk melawanku. Aku yang bodoh karena terlalu percaya padanya hanya bisa mengikut apa yang ia katakan, namja ini membawaku ke kota Seoul. Dia membawaku ke sebuah gudang dengan alasan akan ada transaksi besar-besaran disana, namun ternyata ia justru menancapkan belati itu ke dalam perutku.

Aku menyeret tubuhku untuk keluar dari gudang tua itu, berusaha sekuat tenaga mencari pertolongan. Dapat kurasakan darah segar mengalir dari perutku, semakin lama semakin membuat tubuhku tak bisa digerakkan. Pandanganku mulai kabur dan sedetik kemudian aku jatuh pingsan. Aku fikir aku akan mati saat itu juga, namun ternyata Tuhan menginginkan hal lain. Dengan seluruh kebijaksanaan Ia mengirimkan malaikat untuk menyelamatkanku dari maut, Ia mempertemukanku dengan Shin Hye yang akhirnya mengangkat jiwaku yang sudah terperosok jauh dalam jurang kehancuran, dan dengan segala kebaikkan yang Tuhan miliki, Ia memerintahkan gadis itu untuk membersihkan hatiku dan noda-noda hitam pekat akibat perbuatanku.

Yong Hwa pov end

 

Shin Hye pov

Aku berusaha sekuat tenaga mengontrol debaran jantungku, debaran yang selalu saja berdetak ribuan kali lebih cepat setiap kali berdekatan dengan namja di hadapanku ini. Samar-samar aku merasakan hembusan nafasnya di atas puncak kepalaku. Aku menggerakkan tanganku yang bebas dan meremas dada sebelah kiriku singkat, berusaha menenangkan diriku dari rasa gugup yang selalu ada saat bersama harta berhargaku ini.

Jung Yong Hwa, namja yang entah mengapa mampu membuatku jatuh hati. Namja yang dengan segala sikap kasar dan dinginnya mampu membuat pertahananku goyah. Perlahan aku merasakan tangan kekar miliknya melingkari pinggangku, yang tentu saja membuat jantungku ini kembali berdetak cepat dan seketika itu juga aku rasakan wajahku memanas.

“Mau sampai kapan kau berpura-pura tidur, nyonya Jung?”tanya namja tampan di depanku ini yang sontak membuatku terkejut. “Aku tahu kau sudah terjaga sejak tadi.”lanjutnya lagi yang kini sukses membuatku membuka mata.

“Kau mengerjaiku?”tanyaku dengan nada yang sengaja kubuat manja.

“Ani, untuk apa aku mengerjaimu?”tanya namja ini dengan wajah polos.

“Terserahlah.”aku berpura-pura marah dan ini justru membuatnya tertawa.

Shin Hye pov end

 

Yong Hwa pov

“Mau sampai kapan kau berpura-pura tidur, nyonya Jung?”tanyaku tiba-tiba yang membuat tubuh yeoja dalam pelukkanku ini menjauh beberapa senti. “Aku tahu kau sudah terjaga sejak tadi.”lanjutku sambil tersenyum menggoda, dan dapat ku lihat dia membuka matanya cepat.

“Kau mengerjaiku?”tanya istriku ini dengan nada yang ia buat semanja mungkin.

“Ani, untuk apa aku mengerjaimu?”aku balik bertanya, membuat wajahnya semakin bersemu merah.

“Terserahlah.”jawab Shin Hye berpura-pura marah, tapi justru membuatku semakin gemas dan akhirnya tertawa.

Aku terus saja memperhatikan wajahnya yang sudah berwarna merah padam, membuat Shin Hyeku ini semakin cantik. Aku kembali menarik tubuhnya mendekat, kemudian menenggelamkan wajahnya pada dada bidangku.

Yong Hwa pov end

 

“Chagi.”panggil Yong Hwa ketika melihat Shin Hye menarik diri dari pelukkannya.

“Jangan panggil aku chagi.”ujar Shin Hye cepat, masih berusaha mengontrol detak jantungnya.

“Wae? Apa kau mau aku panggil yeabo?”tanya Yong Hwa sambil menarik Shin Hye lagi.

“Mwo?!”

“Jujur saja, kau mau aku panggil yeabo, kan?”

“Jangan bercanda!”

“Aku tahu apa yang ada dalam fikiranmu.”ujar Yong Hwa namun tak mendapat jawaban. “Shin.”panggil Yong Hwa lagi membuat istrinya ini menatap wajah tampan Yong Hwa.

“Ne?”

“Gomawo.”ujar Yong Hwa membuat Shin Hye menatapnya bingung.  “Terima kasih karena kau telah menyelamatkanku bahkan mempertahankan diriku sekalipun bahaya mengintaimu. Aku sangat-sangat berterima kasih. Kau adalah harta paling berharga dalam hidupku. Saranghae Jung Shin Hye.”Yong Hwa menyelesaikan kata-katanya membuat Shin Hye tersenyum senang, yeoja ini melingkarkan tangannya pada pinggang Yong Hwa dan mencium bibir suaminya ini singkat.

 

END

5 thoughts on “Change (Yonghwa Story)

  1. agak gantung thor, yg mw bunuh yonghwa kmn? blm jelas bisa muncul lg apa gmn gtu? jonghyun jg dimana kan udah mw nyusul tuh, di bkn chapter seru ni thor

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s