The Morning Dew

the morning dew 3

 

The Morning Dew

written by Summer

Main Cast: f(x)’s Jung Soojung and CNBLUE’s Kang Minhyuk || Genre: Romance and Fluff || Length: Ficlet || Rating: PG-13 || Disclaimer: Inspired by my life and other fanfiction ||

Also posted in my blog with another pairing

Morning without you is a dwindled dawn

 -Emily Dickinson-

 

 

“Kau masih marah ?”

.

.

Aku mendengus keras. Pertanyaan retoris yang menyebalkan. Apakah wajahku yang ditekuk tanpa senyum ini masih ingin dipertanyakan ? Aku membuang muka, malas untuk melihat laki-laki dengan kemeja biru dan jas hitam di lengan yang duduk di sampingku.

Ia tertawa, laki-laki yang kusebutkan tadi malah terkekeh geli melihatku. Brengsek. Aku masih pura-pura tak mau melihat, tapi ujung mataku dengan sangat kurang ajar mencari-cari apa yang sedang ia lakukan. Dan sedetik kemudian aku menggeram dalam hati. Dia, laki-laki itu, setelah menertawakan sikapku, kini malah memilih untuk sibuk dengan benda persegi tipis yang selalu ia bawa kemana-mana. iPad.

 Dasar tak mau kalah, dia ganti mengacuhkanku ternyata. Sialan.

Setengah jam dengan kepala menoleh ke kiri dan diam tanpa gerakan ternyata membuat leherku seperti terasa lepas. Suara-suara datar dan formal yang mengumukan bahwa penerbangan dari Korea ke Sidney akan segera diberangkatkan bahkan tak menghiburku sama sekali. Dan bodohnya aku lupa membawa buku atau majalah untuk menyibukkan diri sendiri. Well, aku bosan dan leherku benar-benar pegal. Ujung bola mataku masih melirik, dan laki-laki itu masih sibuk dengan anak kesayangannya. Matanya bahkan tak lepas dari layar sebesar binder buku catatanku saat masih kuliah. Mungkin dia sedang melihat angka-angka bagus di pasar saham. Tipikal orang pekerja keras. Sekaligus menyebalkan.

Sungguh, satu menit lagi aku tak menggerakkan salah satu badanku, mungkin aku bisa jatuh dalam keadaan kaku. Dan itu sama sekali tidak elit. Aku berfikir berusaha mencari strategi. Ini perang. Aku dan dengannya sedang bermusuhan. Well, dia masih sibuk, bergerak sedikit tidak akan menurunkan harga dirimu kan ?

Mataku masih meliriknya, memastikan kalau dia masih benar-benar terpaku dengan iPadnya. Hanya butuh satu kali gerakan, kalau kau melakukannya dengan cepat dan benar, tak akan ada satu detik, bisikku berulang-ulang, berusaha meyakinkan diri. Aku orang yang tidak sabar dan harusnya aku menyadari itu sejak awal. Saat aku berusaha menggerakkan leher, tiba-tiba suaranya mengintrupsi kegiatanku,

“Sudah merasa pegal ?”

Aku terlunjak, nyaris jatuh dari kursi tunggu kalau saja kedua tanganku tak berpegangan di kedua sisi logam tempatku duduk. Aku memalingkan muka dan mendapati matanya masih sibuk melihat layar iPad. Namun bibirnya melengkung, geli melihat responku. Sial. Aku merutuki kecerobohanku dalam hati, kenapa di depan laki-laki itu aku selalu tampak bodoh ? Namun peperangan belum selesai, aku masih bisa memperbaiki harga diriku.

Aku menatap keramaian di depanku dengan angkuh. “Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, Kang Minhyuk”, balasku dengan tangan terlipat di dada.

Dia menghela nafas panjang dengan sedikit berlebihan. Membuka topeng tenangnya yang ia pasang tadi “C’mon Soojung, kita sudah sama-sama dewasa, bukan ? Apa masalah sepele seperti ini harus kita perdebatkan ?” keluhnya panjang lebar.

Aku menaikkan sebelah alis dan mendengus keras. “Sepele buatmu, tapi tidak untukku.”

“Oh ayolah, sayang”, erangnya lagi merasa lelah.

Aku melempar tatapan peringatan -berhenti-memanggilku-seperti-itu-atau-aku-akan-pergi- pada Minhyuk. Namun seperti biasa dia mengabaikan peringatan tersiratku dan masih memasang ekspresi yang sama.

Tapi aku juga tak mau kalah. Aku tetap bersikukuh pada pendapatku. Kalau dia belum minta maaf, maka aku akan tetap menutup mulut seperti sekarang. Sebenarnya aku tak begitu marah, hanya kesal saja. Yeah, agak sinting kalau merasa tak kesal. Coba bayangkan, orang waras mana yang membangunkanmu jam empat pagi dan memaksamu untuk mengantarkannya ke bandara. Padahal kau baru saja tidur jam tiga pagi tadi. Tidak sempat mandi bahkan ganti bajupun tidak. Aku hanya sempat menyambar mantel hitamku bekas tadi malam. Well, siapa yang tidak merasa kesal coba ?

Aku masih menatap ke depan, berpura-pura melihat orang yang berlalu lalang dengan koper-koper besar di dalam troli. Pemandangan klise. Membosankan.

Untuk kedua kalinya, laki-laki menyebalkan itu mengehela nafas. Tapi jika di dengar lebih dalam, helai nafasnya terdengar seperti menyerah. Well, itu bagus. Laki-laki itu harus meminta maaf karena mengganggu rutinitas pentingku.

Okey, okey, aku minta maaf”, serunya sembari mengangkat tangan. “Aku minta maaf karena mengganggu tidurmu, aku minta maaf karena memaksamu untuk mengantarku ke bandara, dan . . .” tangannya memaksa wajahku untuk menoleh ke arahnya, “aku minta maaf karena telah membuatmu marah.” Ia mengatakan itu dengan senyum miring andalannya yang selalu sanggup membuatku kehabisan nafas.

Sial, aku selalu tak bisa lama-lama marah dengannya kalau seperti ini. Dasar Kang Minhyuk curang !

Aku terdiam, belum mau menjawab permintaan maafnya. Alasan resminya adalah aku masih ingin meneruskan acara kemarahanku padanya, namun kenyataannya adalah, aku sedang berfikir dan memilih nada suara mana yang harus aku keluarkan. Aku masih tak ingin memaafkannya sebegitu mudah.

“Jadi ?” ia bertanya dengan alis terangkat. Ia menunggu jawabanku.

Awalnya aku berniat untuk mencercanya dengan berbagai kata-kata karena aku masih berpura-pura marah. Tapi sialnya aku tak sengaja melihat bola matanya yang berwarna coklat tua. Bola matanya membara. Dan memandangi bola matanya adalah sebuah kesalahan fatal. Untuk sepersekian detik, secara ajaib semua kalimat yang telah kususun rapi, tiba-tiba menghilang entah kemana.

“Bagaimana ? Kau memaafkanku atau tidak ?” tuntutnya gusar.

Aku memejamkan mata. Untuk kelima kalinya dalam tujuh pertengkaran dengan Minhyuk, sepertinya aku harus menyerah lagi. “Baiklah aku memaafkanmu”, ujarku dengan nada tak rela. Benar-benar mengenaskan. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang gembira. “Dan kau tak boleh mengulanginya lagi”, sambarku galak.

Dia tertawa, entah tertawa karena gembira atau malah mengejekku. “Yes, ma’am”, ucapnya patuh.

Aku mendengus melihat tingkahnya yang kekanak-kanakkan. Tapi mau tak mau aku harus mengakui bahwa sudut-sudut bibirku berkedut untuk membentuk lengkungan. Aku senang melihatnya bahagia dan aku senang melihatnya tertawa.

“Jadi, kita sudah tak bertengkar lagi kan ?”

Aku memutar bola mata. “Kalau kau masih ingin melanjutkan boleh saja,” sindirku sinis.

Ia membuat ekspresi merana dan terkejut yang berlebihan. “Hanya orang bodoh yang mau mengajakmu bertengkar, darl.”

Aku mendelik kesal dan mencubit pinggangnya. “Maksudmu apa, huh ?!”

Ouch !” Ia meringis dan mengaduh kesakitan. “Kenapa kau malah mencubitku ?!” serunya tak terima. “Ini termasuk dalam pelanggaran hak asasi manusia, kau tahu ? Akan kuadukan kau ke polisi.”

Astaga, aku benar-benar ingin memukul kepalanya dengan koper. “Adukan saja kalau kau berani”, cibirku jengkel. For God’s sake aku sepertinya benar-benar gila. Bisa-bisanya aku bertunangan dengan laki-laki kekanak-kanakak macam Minhyuk. Payah !

Ia langsung memasang ekspresi cemberut yang selalu ia tunjukkan jika keinginannya tak terpenuhi. Benar-benar wajah yang menipu, andai saja supervisor di perusahaannya tahu bagaimana wajah asli manager mereka, Minhyuk bisa menjadi bahan lelucon seumur hidup.

“Permisi Manager Kang, sudah saatnya.”

Suara itu mengintrupsi kegiatan kami berdua. Benar-benar suara penyelamat. Karena kalau tidak mungkin akan ada perang lagi antara aku dan Minhyuk. Dan aku lelah harus bertengkar dengan laki-laki kekanak-kanakan itu.

“Tunggu lima menit lagi”, pinta Minhyuk kepada Lee Yeejin –sekretarisnya yang pernah membuatku marah kepada laki-laki itu karena cemburu.

Minhyuk menunggu sampai sekretarisnya tak terlihat lagi dan berdiri. Aku merapikan jaketku dan mengikuti kegiatannya dari belakang. Tiba-tiba ia berbalik dan memegang kedua bahuku. “Apa ?” tanyaku tak mengerti.

Tatapannya tajam dan membuatku merinding seketika. “Dengarkan ucapanku baik-baik.” Kata-katanya pelan dan perlahan. Ekspresinya tak bisa ditebak.

Aku terdiam dan mengangguk tertahan.

“Selama aku di China, jangan berbuat aneh-aneh, jangan melakukan hal bodoh, jangan pergi kemanapun di luar Seoul, jangan selingkuh dengan pria lain-” kedua bola mataku langsung membulat dan berniat membantah ucapannya, tapi dia langsung melemparkan tatapan yang sanggup membuatku mengkeret, “-dan jaga dirimu dengan baik.”

Mataku menyipit, tak mengerti dengan sikap berlebihan calon suamiku ini. “Astaga, Minhyuk kau kan pergi hanya tiga hari saja.” Terlihat sekali kalau dia ingin membantah tapi aku menyambarnya lebih cepat. “Dan lagipula aku bukan anak kecil lagi, Tuan-Sok-Perfek.”

“Intinya, kau tak boleh membuatku cemas selama aku tak ada disini”, sahutnya tetap bersikukuh.

“Oke, oke. Aku akan menjadi gadis baik-baik selama kau pergi. Aku akan diam di rumah, tak akan pergi kemanapun, dan tak akan melirik laki-laki lain meski aku ingin. Puas ?” balasku sebal.

Ia menyeringai lebar. “Sangat.”

Aku menaikkan alis mendengar jawabannya. Kepalaku melongok dan melihat Lee Yeejin yang menggerakkan mulutnya tanpa suara, mengingatkan bahwa sudah saatnya untuk boarding pass. Well, ini tak akan selesai dalam waktu singkat kalau aku tak mengalah.

“Nah, sekarang sudah saatnya untuk sang manager pergi.” Aku mengambil jas hitamnya yang tersampir di punggung kursi dan membantunya memakai. “Seorang manager harus berpakaian layaknya manager”, ujarku sembari merapikan kerah kemeja biru lautnya. Ia hanya diam, tak bersuara, namun aku yakin sekarang ini bibirnya pasti melengkung indah. Aku menarik bagian depan jas hitamnya dengan sekali sentakan. “Nah, sekarang sang manager sudah keren.”

Ia tertawa keras mendengar gurauanku. Tangannya mengambil tas coklat yang selalu ia bawa sementara tangan yang lain meremas bahuku pelan. “Aku pergi”, pamitnya. Ia berjalan cepat menghampiri sekretarisnya yang sudah berwajah khawatir -takut kalau-kalau mereka telat melakukan boarding pass- dan melambaikan tangan padaku.

Aku membalas lambaian tangannya dan berbalik pergi. Aku hanya tidur selama satu jam dan berniat mengganti jatah tidurku yang hilang nanti di rumah. Lagipula kantorku masuk jam sembilan, masih ada waktu sekitar dua jam untuk tidur (kalau aku beruntung).

Aku sedang menguap ketika mendengar suara sepatu yang beradu dengan lantai. Ada suara mendekat. Mungkinkah Minhyuk ? Aku berbalik dan menatap orang yang berdiri di depanku dengan bingung. Ternyata benar Minhyuk. “Ada apa ? Apa ada barang yang tertinggal ?” tanyaku tak mengerti.

Ia mengangguk dengan nafas tersengal-sengal. Laki-laki itu pasti berlari gila-gilaan. Sepertinya barang yang ia lupakan benar-benar penting. Aku mengerutkan kening. “Jadi, apa yang kau lupakan ?”

Ia menunduk, mensejajarkan tingginya denganku. Dan tiba-tiba segalanya terjadi begitu cepat. Dia menularkan nafasnya yang hangat dan membuat mataku terbuka lebar. Bagus, aku tak lagi mengantuk. Ia berdiri lagi dan berbalik dengan mengulum senyum. “Aku melupakan itu”, bisiknya nyaris tak terdengar.

Ia pergi meninggalkanku dengan santai sementara orang-orang menontonku sembari cekikikan pelan. Bahkan ada yang bersiul menggoda dari kejauhan. Aku memegangi bibir tak berdosaku yang baru saja dikecupnya pelan. Hanya butuh satu detik untuk membuat pipi dan telingaku memanas.

 

Kang Minhyuk sialan.

 

Close your eyes and I’ll kiss you, Tomorrow I’ll miss you.”

-Paul McCartney-

 

THE END

 

Aloha semuanyaaaa !

Gila ini ficlet teraneh yang pernah aku bikin. Gaje absurd tingkat dewa -_- Entahlah, ga tau deh kenapa akhir-akhir ini susah banget buat nulisnya. Kayaknya lagi terserang writer’s block deh u.u Well, di FF ini aku cuman pengen bilang, buat yang udah punya pacar dan suka ngambek sama pacarnya gara-gara hal sepele, aku kasih saran, mending jangan sering-sering ngammbek deh. Entar ujung-ujungnya dicium sama pacarnya kayak ficlet barusan lho kekekekeke😀 *saran yang aneh*

Oh ya, summer mau mengucapkan,

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Maaf ya kalau selama ini summer punya salah yang disengaja ataupun enggak sama reader semua. Maaf kalau komentar summer gaje dan pernah bikin sakit hati. Maaf kalau FF yang summer buat ga pernah bagus dan memuaskan reader semua. Intinya summer ga pernah berniat kayak gitu. Well, di hari yang fitri ini, mari kita bersihkan diri dan hati, dan memulai lembaran yang baru. Okey ? Hehehehe

 

Papoy ! ^ ^

28 thoughts on “The Morning Dew

  1. Hahhaha. .
    Emng dah minhyuk itu aneh. .
    Bsa:nya lari cuma bwt nyium doang.
    Wkwkkwkwk
    Pngen liat mreka bnran kisu.yg d drama kurang lama.wwkkwkwk

  2. aww manis nyaaa.. bikin envy deh *pout
    cinta banget sama couple ini muach muach :* hahaha
    ayo author tulis ff hyukstal yang banyak, aku suka gaya menulisnya😀

  3. huwaaaaaa…
    so sweet bnget, sumpahhh demi apa pun,..
    kang minhyuk neomu neomu sarange…

    ni ff’ny bagus bnget, rangkaian kata’ny aku suka bnget..

    poko’ny daebak lah,🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s