1 4 3 or 9 12 25

ngapain1 4 3 or 9 12 25

Title             : 143 or 91225
Author         : IMELIA STERILIA
Rating          : General
Genre           : Romance
Length         : One Shoot
Main Cast     :
– Lee jiyoo
– Lee jihyun
– Lee jonghyun

 

 

 

 

 

 

 

 

“ Langit itu tak berbisik, dia hanya mengikuti kemana suara hatinya pergi.

Dia datang tanpa awalan, dan pergi tanpa akhiran, sama dengan cinta.

Cinta yang seharusnya tidak untukku, tapi dia hadir dijiwaku.

Jiwa kosong yang selalu membutuhkan kehangatan sang fajar.

Diawali dengan fajar yang hangat, dan diakhiri dengan senja yang menyilaukan.”

 

“Aku bertemu dengannya lagi tadi pagi.” Ucap jihyun sambil meloncat-loncat kegirangan didalam kelasnya.

“Siapa?” Tanya jiyoo sambil mendongak kearah jihyun yang masih berdiri dihadapannya.

Dilihatnya sahabatnya itu dengan tatapan malas, dan kemudian menyenderkan tubuhnya dipunggung bangku.

“Ini, aku mendapatkan fotonya tadi pagi.” Ucap jihyun sambil beringsut kesamping jiyoo dan memperlihatkan sebuah gambar diponselnya.

‘Waaw.. kau gila, kau bisa mendapatkan fotonya sedekat ini?” pekik jiyoo sambil merebut ponsel milik sahabatnya itu.

Jihyun mengangguk-anggukkan kepalanya mantab. Dia tersenyum cerah sambil masih memperhatikan ponselnya yang sudah ditangan jiyoo.

“Aku mendapatkannya juga tanpa rencana, tiba-tiba saja tadi pagi aku bertemu dengannya lagi di bus, lalu aku berdiri didekatnya, saat aku mengirim sms tadi pagi, saat itu juga pikiran untuk memotretnya muncul. Jadi.. inilah hasilnya.” Ucapnya sambil masih tersenyum cerah.

“Haishh.. tapi kenapa dari samping sih? Aku penasaran dengan wajahnya.” Ucap jiyoo.

“ Tenang, besok kau datang kesekolah denganku saja, nanti aku akan menunjukkan padamu yang mana orangnya.” Ucap jihyun sambil merebut kembali ponselnya.

“Tidak, terima kasih!?” jawab jiyoo enteng.

“Wae?”

“Lebih baik aku jalan kaki daripada aku harus berdesak desakan didalam bus, ah..membayangkannya saja aku sudah mual. Sudahlah, aku mau sarapan.”

“ Itu bisa mengurangi kemacetan jalan lee jiyoo ssi. Kau harus tahu itu.”

“Arrayo.. Aku lapar, aku kekantin dulu.” Ucap jiyoo sambil bangkit dan berjalan menuju kantin.

“Jiyoo, tunggu aku!” teriak jihyun sambil berlari kecil menyusul langkah jiyoo.

‘Ck.. jangan teriak-teriak memanggil namaku.” Ucap jiyoo sambil menjitak pelan kepala jihyun.

“Wae? Memang ada apa? Biasanya aku juga begini, salah?” Tanya jihyun polos.

“Tapi jangan sekarang!Arra!?” ucap jiyoo sambil memandang kesekeliling kantin.

“Arra.” Ucap jihyun sambil mengerucutkan bibirnya.

Dia berjalan mengikuti langkah jiyoo sambil bersenandung kecil memasuki kantin, suasana sedikit ramai, padahal ini masih pagi.

“Ck.. kenapa ramai begini sih, hyunnie, kau cari tempat duduk ya, aku akan memesan makanan.”

“Okey, belikan aku susu coklat ya.” Ucap jihyun sambil berlalu meninggalkan jiyoo

Jiyoo menggerutu kecil karena pesanan jihyun, dia memperhatikan sekitar dan tersenyum kecil.  “Dia ada”, gumamnya.

5 menit berlalu dan jiyoo melangkah menuju tempat dimana jihyun duduk, langkah pelannya terhenti saat tahu jihyun duduk disatu meja dengan orang yang dibatinnya tadi.

“Hish..kenapa disitu sih.” Gumam jiyoo pelan. Dia melangkah ragu kearah meja itu.

“Hyunnie, ayo pindah, disana ada tempat kosong.” Ajak jiyoo.

“Wae??  Disinikan juga ada tempat yoo.” Ucap jihyun masih enggan beranjak pergi dari tempat duduknya.

“Sudahlah, ayo pindah.” Ucap jiyoo tertahan. Dia sedikit melirik kesisi kiri jihyun, kemudian tersenyum canggung kearah seorang namja yang sedari tadi memperhatikannya dengan seksama.

“Shierro! Disini saja yoo, aku lelah. Kalau kau mau disana, kesana saja sendiri.” Jawab jihyun cuek kemudian mengambil susu kotak yang ada dinampan jiyoo. Jiyoo sedikit ragu, dia menggigit bibirnya sambil berfikir. Akhirnya, dia mengikuti keinginan sahabatnya ini dan duduk dengan ragu disebelah jihyun.
Jihyun tersenyum penuh kemenangan kearah jiyoo yang ditanggapi dengan tatapan membunuh jiyoo. Kekehan pelan jihyun membuat jiyoo semakin memaki dirinya dalam hati kenapa mau mengikuti sahabatnya ini. Dia tidak bisa apa-apa sekarang, namja yang tadi memperhatikannya hanya tersenyum kecil kemudian kembali bergelut dengan teman-temannya.

“Yoo, kau tidak mau menyapanya?” bisik jihyun pelan. Jiyoo menoleh cepat kearah jihyun dengan tatapan penuh tanya. Jihyun mengendikkan dagunya pelan kearah namja yang duduk diserong depan jiyoo. Jiyoo menoleh ragu dan pelan kearah namja yang dimaksud,kemudian dia hanya tersenyum dan memakan makanan dihadapannya tanpa komentar apapun.

“Ck.. kenapa sih?”

“ Sudahlah, cepat habiskan susumu itu, sebentar lagi bel masuk.” Ucap jiyoo santai.
Jihyun merengut kesal kearah jiyoo, dia tahu kalau sahabatnya ini menyukai teman sekelas mereka. Jonghyun, Lee jonghyun, namja itu dikenal memiliki aura tersendiri, dia tampan, tinggi, suaranya bagus, dan hanya dengan senyumannya saja bisa membuat semua gadis disekolah ini pingsan, dia salah satu namja terkeren disekolah ini.

Jihyun menatap sahabat disebelahnya ini dengan pandangan tidak percaya, jihyun yakin keduanya memiliki perasaan yang sama, tapi hanya saja mereka masih belum berani mengungkapkannya. Terkadang dia heran, hanya dengan bertemu dan saling tatap saja bisa membuat senyum termanis jiyoo muncul.

“Aku mencintainya dalam diam hyun.” Selalu kata-kata seperti itu yang terucap di mulut jiyoo. Jihyun hanya mendengus sebal.

“ Lalu? Kalau sampai dia direbut orang lain? Kau bagaimana?”

“ Berarti dia bukan jodohku, walaupun aku akan sakit, itu akan sebentar, karena aku akan menemukan pria lain dihidupku, begitu pula dirinya.”

“Mencintai dalam diam itu susah ya, ingin rasanya dekat dengan orang yang kita sukai tapi tidak bisa.”

“Bisa, hanya saja, kita harus menahan rasa kita ini supaya kita bisa dekat dengannya. Tidak perlu nomor ponsel atau apapun itu, semua akan berjalan baik-baik saja jika komunikasi kita dengan orang yang kita sukai lancar.”

——
Suasana kelas yang lengang membuat jihyun malas, dia menoleh kearah kanan dan kiri, hanya bangku kosong karena semua siswa berlari keluar kelas. Jam kosong membuat semua siswa senang dan melakukan berbagai aktifitas diluar kelas.

“Jiyoo, apa kau tidak lelah?”

“Lelah?” Tanya jiyoo sambil menoleh kesahabatnya itu.

“Kau ingin bermain diluar? Kau saja, aku malas, panas.” Ucap jiyoo lagi.

“Bukan itu.” Jawab jihyun malas sambil merebahkan kepalanya dimeja kelas.

“Lalu apa?” Tanya jiyoo yang kembali berkutat dengan buku bacaan ditangannya.

Jihyun terdiam, dia mengamati sosok yang sedang tertidur tenang sambil memakai heatset ditelinganya. Dia menatap wajah tampan teman sekelasnya itu dalam diam. Tanpa berpikir apapun juga, hanya melihat.
Jiyoo melirik sedikit kesahabatnya itu, tidak ada pergerakan sama sekali, kemudian dia memalingkan wajahnya, menengok kearah belakang sudut kelas ini. Dia kembali tersenyum, senyum manis yang selalu dia tunjukkan jika dia melihat ke namja itu, jonghyun.

“Kau mencuri pandang lagi ya.” Ucap jihyun sambil memutar kepalanya menghadap sahabatnya. Jihyun mengamati sahabatnya itu masih sambil kepalanya di meja.  Dia masih malas mengangkat kepalanya hanya untuk memandang dengan jelas wajah sahabatnya itu. Jiyoo mengernyit kecil.

“Siapa?” tanyanya santai sambil kembali membaca.

“Ck.. “ Jihyun berdecak kecil kemudian akhirnya mengangkat kepalanya. Dia menatap jiyoo yang masih membaca, kemudian mengalihkan arah pandangnya kesudut kelas, berbalik lagi memandang jiyoo. Beberapa kali dia melakukannya, hingga akhirnya dia mendengus kasar.

“Jonghyun-ah! Kau tidak tidur kan? Jiyoo mencarimu!?” teriak jihyun lantang hingga jonghyun membuka matanya dan menatap jihyun penuh tanya.

“Hya! Apa yang kau lakukan? Aku tidak mencarinya sama sekali!?” Bisik jiyoo sambil menarik lengan jihyun mendekat. Suaranya pelan, tapi jihyun bisa mendengarnya. Dia kemudian bangkit dan melangkah kearah jonghyun.

“Yak jihyunnie!?” Teriak jiyoo pelan. Jihyun tidak menggubris sama sekali dan semakin mempercepat langkahnya sebelum jiyoo menggeret tangannya pergi dari kelas ini. Saat sudah dihadapan jonghyun, namja itu melepas heatset yang masih terpasang ditelinganya.

“Ada apa?” Tanya jonghyun santai.

“Bisakah kau berbicara dengan temanku? Dia menyukaimu, sangat! Sampai dia tidak bisa mengungkapkannya. Aku juga tahu kalau kau menyukainya, jadi, bisakah saat ini kau mengalah dan mengajaknya bicara? Dikelas ini hanya dia yang tidak kau ajak bicara. Itu membuatku berpikir bahwa anggapanku benar 100%. Kau bisa membohongi teman-teman lainnya tapi tidak denganku jonghyun-ah.”

Jonghyun diam, dia menatap jihyun yang berdiri tegak dihadapannya, kemudian memalingkan wajahnya dan melihat kearah jiyoo yang berdiri dikursinya. Jonghyun tersenyum, kemudian dia menatap jihyun lagi.

“Apa temanmu mau, kelihatannya wajahnya tidak seperti itu.” Ucap jonghyun santai.

Jihyun membalikkan badannya dan menatap jiyoo yang menatapnya penuh amarah. “Kau akan mati lee jihyun”, itulah arti tatapan jiyoo, jihyun hanya menyengir kemudian menatap jonghyun kembali.

“Mau taruhan denganku tidak?” Tanya jihyun sambil menyeringai.

“Mwo?” Tanya jonghyun penuh tanya. Dan jihyun tersenyum jahil sambil membisikkan sesuatu ketelinga jonghyun.  Jonghyun mengernyit sambil menatap jihyun. Jihyun tersenyum penuh arti kearah jonghyun. Dan sedetik kemudian, dimple jonghyun terlihat jelas dan dia mengusap kepala jihyun pelan dan beranjak berdiri.

Jihyun tersenyum girang sambil berlari keluar kelas melewati jiyoo. Jiyoo berusaha menghalangi jihyun tapi sia-sia saja. Jihyun sudah berlari  cepat dan tersenyum penuh arti kearah jiyoo. Jiyoo hanya mengumpat pelan sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal sambil beranjak ingin mengejar jihyun.

“Yoo-ya.” Panggil jonghyun menghentikan langkah jiyoo. Jiyoo berhenti, kemudian dengan ragu berbalik dan memandang jonghyun.

“Y- ya?” Tanya jiyoo berusaha tenang.

“ Tidak apa, kau tidak makan siang?”

“Ah.. itu.. nanti saja, lagipula aku belum lapar.” Ucap jiyoo.

“ Mau bersama?” Tanya jonghyun sambil tersenyum manis kearah jiyoo.

“ Tidak.” Ucap jiyoo cepat. Jonghyun mengernyit.

“Maksudku nanti aku menyusul, setelah mencari jihyun.” Ucap jiyoo menjelaskan.

Jonghyun kemudian terlihat tersenyum lagi.

“Baiklah, aku akan menunggumu.” Ucap jonghyun sambil berlalu.

Jiyoo masih berdiri dan terdiam ditempatnya. Dia menunduk sejenak, kemudian mengangkat wajahnya. Dia melihat kearah bangku tempat jonghyun duduk tadi. Melangkah pelan dan menyentuh meja namja itu.

“Gomawo.” Ucapnya sambil tersenyum manis, senyum khas miliknya yang hanya bisa ditujukan untuk segala hal tentang jonghyun. Dan akhirnya, dia beranjak keluar dan mencari sahabat tercintanya itu.

Disisi lain,namja bernama jonghyun itu tersenyum menunjukkan dimple khas diwajahnya, menatap punggung gadis yang baru saja diajaknya bicara.

“ Jihyun-ah, aku akan berterima kasih padamu saat ini.” Gumam jonghyun kemudian melangkah menuju kantin sekolah.

 

—-
Jiyoo memutar matanya mencari jihyun dikantin sekolah. Dia sudah menyusuri semua tempat yang sering dikunjungi jihyun disekolah ini, dan nihil, dia tak menemukan sahabatnya itu dimanapun. Ini adalah tempat terakhirnya mencari jihyun.

Tatapannya terhenti didua sosok disudut kantin yang dengan asiknya bercengkrama.

“Ya Tuhan, apalagi yang dia lakukan?” jiyoo bergumam sambil melangkah kearah jihyun. Dilihatnya sahabatnya itu menatapnya.

“Yoo… sini-sini.” Teriak jihyun sambil melambaikan tangannya.Jiyoo tersenyum sinis, tapi senyumnya itu hilang saat seseorang didepan jihyun menengok menatapnya.

“Eh?” gumam  jiyoo pelan.

“ Kau datang, duduklah.” Ucap jonghyun sambil menggeser duduknya. Memberikan ruang disebelahnya. Jiyoo ingin menolak dan ingin duduk disebelah jihyun.

“Duduklah yoo, bangkuku cuman satu.” Ucap jihyun polos. Jiyoo membelalakkan matanya dan berdecak kecil. Dan dengan pelan duduk disebelah jonghyun.

Jihyun tersenyum kecil menatap sahabatnya itu. Dia membayangkan bagaimana bisa sahabatnya itu memendam perasaannya dan bisa bersikap tenang dihadapan orang yang disukainya.

“Yoo-ya, kau tidak makan?” Tanya jonghyun.

“Ani, nanti saja. “ jawab jiyoo sambil tersenyum kecil.

“ Aku pesankan ya, kau bisa sakit!?”

Jiyoo terkesiap sebentar, perhatian jonghyun sangat tidak wajar, dia ingin menolak, tapi namja disebelah jiyoo  sudah beranjak pergi.

“Ah.. senangnya.” Ucap jihyun sambil menatap jiyoo dihadapannya.

Jiyoo mendengus kecil, kemudian bersedekap sambil memperhatikan jihyun.

“Apa yang kau katakan padanya tadi lee jihyun?”

“Apa? Tidak ada, memangnya aku melakukan apa?” Tanya jihyun sok tidak tahu.

“Akan kubuat perhitungan denganmu jihyunnie!?” Ancamnya.

Senyuman penuh arti jihyun membuat jiyoo penasaran. Mau tidak mau, dia juga harus berterima kasih pada sahabatnya ini karena jonghyun berbicara dengannya. Mungkin tidak ada yang akan mengira jika ini baru pertama kalinya jonghyun berbicara dengannya. Karena ketenangan sikap jiyoo, semua temannya tidak berpikir sama sekali akan hal itu. Begitu pula dengan jonghyun, dia juga bisa bersikap tenang dimanapun dia berada. Begitu juga dihadapan orang yang disukainya.


“Ji.. aku pulang dengannya, kau tidak papa kan pulang sendiri?”

“ Eh?” jiyoo menoleh cepat kearah suara itu. Jonghyun sudah berdiri disamping bangkunya.

Jonghyun tersenyum kemudian menarik pergelangan tangan jiyoo. Jiyoo memekik kaget dan terseret mengikuti langkah panjang jonghyun.

“Eh tunggu.. tapi jihyun bagaimana?” Jonghyun menatap yeoja dihadapannya kemudian berpaling menatap jihyun yang tersenyum senyum  sendiri.

“Ji.. kau keberatan?”

“Apa?” Tanya jihyun sok tidak mengerti. Jonghyun mengangkat tangan jiyoo yang dipegangnya.

“Ini, aku pulang dengannya. Tidak apa-apa kan?”

“ JJong, tapi kasihan jihyun sendirian.”

“Gwencana! Aku juga ada keperluan yang harus kuselesaikan dulu. Jadi pulanglah duluan yoo, bersama jonghyun tentu saja.” Jawabnya sambil mengendikkan bahunya cuek. Jiyoo mengumpat pelan disamping jonghyun.

“ Gomawo Ji, besok akan kutraktir lagi. Annyeong.” Ucap jonghyun sambil melambaikan tangannya dan kembali menarik jiyoo keluar kelas.

Jihyun terkikik kecil, dia teringat bagaimana raut wajah jiyoo yang  ingin memakinya waktu keluar kelas. Dia tersenyum senang, mengganggu jiyoo ternyata sangat menyenangkan, apalagi jonghyun sangat gampang. Dua sejoli yang saling memendam perasaan suka mereka, jihyun geleng-geleng kepala sambil beranjak keluar dari keluar kelas.

Otaknya masih berputar kali ini, dia berjanji pada jonghyun tentang 1000 burung kertas milik jiyoo. Seandainya jonghyun tahu, dia pasti akan tersenyum senang memiliki jiyoo. Sebuah harapan tanpa batas yang dibuat jiyoo, yang hanya jiyoo yang tahu, tuangan tulisan disetiap kertasnya, tulisan tangan tulus milik jiyoo.

“Aku akan mengambilnya, jadi maafkan aku kali ini yoo.” Seringai jihyun sambil tersenyum evil.

 

 

 

TBC ~ Burung kertas ~ From Me to You ~

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “1 4 3 or 9 12 25

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s