Aka-Midori [Chapter 5]

poster akamidori

Title : Aka-Midori (Chapter 5)

Author : Upleize

Genre : Romance, Family, Friendship

Length : Chaptered

Ratings : PG

Cast : Im Yoona, Lee Jonghyun, Jung Yonghwa, Kim Yuna

(You also can find them by your self)

Desclaimer : Original Story, by Author and All Casts are Belong to them self.

Note : Warning typo and Happy Reading! Chapter ini agak panjang dari biasanya.

Aka-Midori

Aku meraih tangannya dan mengajaknya pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Jonghyun hanya pasrah mengikuti arah kakiku melangkah, kurasakan genggamannya dingin. Dia tak berbicara sepatah katapun, tapi aku tahu, dia sedih, terlebih lagi kaget atas kejadian yang disaksikannya tadi, karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku pikir, bisa membuat perasaan Yonghwa terbuka, rasa optimis itu mulai pudar berganti pesimis. Aku bukan siapa-siapa Yonghwa saja, cukup menderita melihatnya, bagaimana dengan Jonghyun?

Kami duduk terdiam di taman, terbenam dalam pikiran masing masing. Kuputuskan untuk membeli minuman yang dijual di sebuah kedai kecil dekat situ.

“Minumlah ini” Kuserahkan sekaleng kopi itu padanya, aku sendiri lebih memilih minum susu kotak. Jonghyun terdiam tak mengatakan apapun, aku tahu perasaannya saat ini, aku bahkan tak berani berbicara apapun padanya.

“Gumawo.” Kulirik Jonghyun, dia tersenyum padaku, Begitulah Jonghyun. Aku menoleh padanya, dia mengocok kopinya sebelum kaleng itu dibuka kemudian diteguk perlahan.

“Hmmmmm..” Tanpa sadar, kami bersamaan menatap langit malam. Tidak sama dengan perasaan kami berdua yang bisa dibilang galau, langit malahan begitu ramai dengan kerlap kerlip bintang.

“Kau? Tidak apa apa?” Kataku ragu, Jonghyun masih tersenyum sambil mendongak ke langit. Dia kemudian menatapku.

“Tadi aku ingin sekali makan toppokki, mau menemaniku makan?” Katanya tanpa peduli pertanyaanku. Aku mengangguk menyetujuinya, jika ini memang bisa membuatnya lebih baik. Dia kemudian berdiri dan meneguk habis kopinya, merogoh saku dan mengambil ponsel. Menelpon seseorang. Aku tak begitu mendengar siapa yang dia telepon.

“Ayo..” Kini giliran Jonghyun yang menarik tanganku.

*

                Kim Yuna begitu gelisah di  kamarnya. Bukan pulang bersama Jonghyun, Yuna malah pulang bersama supir suruhan Jonghyun. Ponsel kekasihnya tidak bisa dihubungi. Dalam benaknya bertanya tanya, apa Jonghyun melihatnya dengan Yonghwa tadi? Muncul penyesalan-penyesalan dalam dada. Yuna mengacak acak rambutnya frustasi dan menyesal. Keputusan untuk kembali ke Korea memang bukan hal yang tepat, dia tidak memikirkan kemungkinan pertemuannya dengan Jung Yonghwa.

Jika memang benar Jonghyun melihat semua ini, dirinya adalah wanita terjahat sedunia. Batin Yuna. Bekali kali ponsel itu bertengger di telinga, berkali kali pula dia harus terima bahwa Jonghyun mematikan ponselnya. Kejadian ini berulang hingga Kim Yuna menyerah, memutuskan untuk tidur dan mencari tahu semuanya setelah besok pagi.

*

Yoona dan Jonghyun menghabiskan malam di sebuah kedai kecil di pinggir jalan, menikmati semua jajanan yang dijual, tak lupa juga soju.

“Jonghyun, jangan terlalu banyak!” Yoona memperingati saat Jonghyun mengangkat gelasnya yang ke tujuh.

Gluk!

“Ahhhh…” Desahnya pelan tanpa ragu. Yoona memperhatikan wajah Jonghyun. Pria ini mungkin terlalu terpukul hingga dia minum cukup banyak.

“Sudah!” Yoona tak tahan dengan kelakuan Jonghyun dan langsung mencegahnya meneguk soju lagi.

“Midori, Gumawo…” Jonghyun menatap Yoona dengan pandangan kosong. Kini dia benar benar mabuk.

“Iya, Jonghyun tapi jangan minum lagi”  Yoona harus berusaha keras merebut gelas soju Jonghyun.

“Ayo kita pulang!” dengan susah payah tubuh Jonghyun dipapahnya. Berjalan perlahan sambil menunggu taksi.

“Omma, Appa….” Jonghyun sudah mabuk berat, tak ada kesadaran lagi  dalam dirinya. Dia terus bergumam dan berbicara sendiri. Yoona tidak sempat mendengar apa yang diucapkannya lagi saking terlalu sibuk memapah.

“Kau ini berat sekali sih!” gerutu Yoona.

“Midori…”

“Apa…?” Yoona menatap Jonghyun malas.

“Aku…. Aku…”

“Kau kenapa Jonghyun?”

“Aku… Bruuuuuuuekkkkk!” Jonghyun langsung muntah tanpa izin. Dan tak salah lagi, baju Yoona kini penuh dengan muntahannya.

“YA!!!!!” Pekik Yoona sangsi. Jonghyun yang tak paham malah terus nyengir.

“Aigooooo…” belum lagi Yoona ingin mengeluh dengan muntahan Jonghyun, hujan deras tiba tiba turun.

“Ahhhh! Kenapa tiba tiba hujan?” tanpa pikir panjang Yoona langsung menarik Jonghyun mencari tempat berteduh.

*

                “Nuna!” Minhwan kaget melihat Yoona yang basah kuyup memasuki rumah. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia membawa seorang pria.

“Apaan? Panggil Minhyuk dan Jungshin, jangan diem aja!” perintah Yoona

“Jungshin! Minhyuk!”

“Ada apa nih?”

“Bawa dia ke kamar kalian. cepat!” perintah Yoona. Ketiga adiknya segera membawa Jonghyun yang tak sadarkan diri.

*

                Silau matahari pagi menangkap langsung wajah Jonghyun, membuatnya bergerak sedikit. Matanya terbuka. Kemudian melihat ke sekeliling, mencoba mengenali ruangan  yang dia yakini bukan kamarnya.

“Kau sudah bangun?” Yoona masuk ke dalam kamar dengan membawa senampan penuh makanan.

“Yoona? Kau?” Jonghyun heran mendapati Yoona.

“Makan dulu nih. Kepalamu sakit?” Yoona tanpa ragu meraba jidat Jonghyun

“Iya, agak sedikit sakit!” Jonghyun meneguk juice mangga buatan Yoona

“Semalam aku membawamu kemari, Aku kan tidak tahu alamatmu dimana. Dan kau ini kalau mabuk sangat tidak tahu diri ya?”

“Ya! Memangnya ada orang mabuk yang tau diri?”

“Pokoknya kau sudah muntah di bajuku!” gerutu Yoona

“Hahahaha.. mau pergi kerja?”

“Iya, pagi ini aku di Poli!” Jonghyun mengangguk mengerti.

“Makanlah, Aku akan meminta Minhyuk mengantarmu pulang.”

“Oh. Tidak perlu, terima kasih ya.” Jonghyun menggenggam tangan Yoona sambil tersenyum. Walau wajah sedih itu masih ada, setidaknya hal ini lebih baik dari wajahnya yang semalam.

*

                Yoona dan Jonghyun berjalan menuruni tangga rumah. Mata Jonghyun liar ke kanan dan ke kiri. Memperhatikan setiap detil bagian rumah yang dia lihat.

“Rumahmu… bagus” Katanya kemudian.

“Eh?” Yoona menoleh

“Iya, Rumah ini unik sekali, aku suka suasananya..” Jonghyun menyusul Yoona yang mendahuluinya. Mereka berjalan menuju ruang makan.

“Kau ingat pria ini?” Yoona menunjuk sebuah foto saat mereka di koridor menuju Ruang makan.

“Ini…?” Jonghyun berpikir.

“Ini rumah dokter Kang, dokter yang merawatmu dulu!” Jelas Yoona. Jonghyun tersenyum mengangguk.

“Beliau menyusul anaknya ke Singapura, dan meminta kami tinggal di rumah ini”

*

                “Jonghyun…”

“Selamat pagi nona Kim.” Jonghyun berusaha menyembunyikan perasaannya. Sebisa mungkin memasang tampang tenang di hadapan Yuna.

“Semalam, er… kau kemana?” Tanya Yuna hati-hati.

“Maaf ya, Aku harus ke rumah sakit semalam” Jonghyun berbohong. Walau agak tak masuk akal, Yuna mengangguk tak berniat menyinggung hal ini lagi.

“Kau, sudah sarapan?”

“Hmmm..” Yuna mengangguk pelan.

“Baguslah, sebentar lagi kita pergi. Aku antar kau ke makam orang tuamu” Jonghyun hendak beranjak dari sana sebelum Yuna menangkap tangannya.

“Hyun?”

“Wae?” Jonghyun berbalik.

“Ani…” Yuna menggeleng, dan mengalungkan tangannya di pinggang dan membenamkan kepalanya di dada Jonghyun. Jonghyun sendiri diam tanpa membalas pelukannya, di dalam benaknya timbul ribuan pertanyaan.

*

                “Aku rasa, aku akan lebih lama di Korea” Jonghyun membuka pembicaraan saat mereka dalam perjalanan menuju makam.

“Eh?”

“Kau kembalilah lebih dulu, aku tahu, kau tidak bisa meninggalkan kelas dalam waktu lama” Katanya lagi.

“Tapi kenapa? Ada yang ingin kau lakukan?” Jonghyun menoleh menatap Yuna tajam. Memang benar, ada yang harus dia selesaikan disini.

“Ani…. Aku hanya ingin lebih lama disini” Jonghyun memalingkan kembali wajahnya.

“Uhmmm” Yuna mengangguk, walau dia sendiri tidak mengerti kenapa suasana mereka saat ini sangat aneh, Jonghyun tampak begitu dingin padanya. Dia kembali bertanya di dalam hati, apa Jonghyun melihatnya semalam?

*

                “Im Yoona!” Teriak Yonghwa. Yoona langsung berbalik dengan wajah masam.

“Ada apa direktur?” Katanya malas.

“Ke ruanganku sebentar” Yonghwa kemudian berlalu tanpa peduli beberapa perawat yang lalu lalang memperhatikan mereka berdua. Dia sudah tidak peduli dengan rumor yang beredar di rumah sakit ini.

——-

“Ada apa Jung Yong ?” Yoona menutup pintunya rapat.

“Apa kau bilang? Jung Yong? Ya! Mau mati?” Erang Yonghwa, namanya diperolok.

“Sudahlah, aku malas bertengkar pagi ini, cepat katakan ada apa?”

“Hmm” Desah Yonghwa, dia duduk di kursi direkturnya. Tanpa ragu, Yoona ikut duduk di hadapannya.

“Kenapa?”

“Ya! Semalam kau kemana? Tidakkah kau tahu aku mencarimu kemana mana?” Yoona membulatkan matanya mendengar teriakan Yonghwa. Pria ini benar benar tak tahu diri pikirnya.

“Uisanim, aku bukan anak kecil lagi, jadi harusnya kau tak perlu mencariku dan mengkhawatirkanku!” Yoona langsung berdiri dan hendak keluar dari ruangan itu. Yonghwa begitu heran dengan sikapnya yang tak acuh pagi itu.

“Im Uisa… Aku belum selesai”

“Maaf sajangnim, aku sedang ada pasien. Lain kali saja kita bicara” Yoona keluar tanpa ragu menyisakan Yonghwa yang terheran heran.

“Gadis menyebalkan!” Gerutunya.

*

                “Dokter Lee Jonghyun!” Sambut professor Ahn, saat Jonghyun masuk ke rumah sakit International Seoul.

“Annyeonghasseyo Seonsangnim” Jonghyun membungkuk memberi salam.

“Kehormatan sekali muridku bisa mampir kemari”

“Ah, Animida….” Jonghyun tersenyum malu.

“Mari, aku akan mengenalkanmu pada murid lain yang brilliant sepertimu!” Prof. Ahn mengajak Jonghyun ke ruangannya. Beliau kemudian menekan beberapa tombol di sebuah box telpon yang ada di meja. Jonghyun sendiri memandang sekeliling ruangan, yang memang sangat Khas dengan prof. Ahn menurutnya.

“Yonghwa-ya! Temui aku sebentar!” Kata Prof. Ahn di telpon. Jonghyun langsung membulatkan matanya. Dia tidak mempersiapkan diri untuk bertemu Yonghwa.

Selang beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan. Dan benar saja, Yonghwalah orangnya. Dia langsung masuk dan membungkuk, belum mengenali Jonghyun yang memperhatikannya juga.

“Ah.. Seonsangnim, ada apa anda memanggil saya kemari?” Mata Yonghwa langsung menatap Jonghyun.

“Dokter Lee Jonghyun?” Yonghwa langsung memasang senyumnya.

“Annyeonghasseyo…”  Jonghyun berdiri dan membungkuk.

“Eh? Kalian saling kenal?” Prof. Ahn terkejut. Tanpa ragu Yonghwa langsung menggenggam tangan Jonghyun.

“Kami saling kenal, saat aku menghadiri konferensi seminarnya di Jepang” Jelas Yonghwa.

“Lee Jonghyun ini adalah muridku saat di Tokyo University.. aku rasa kalian berbeda satu tahun. Yonghwa adalah Sunbae-mu Jonghyun”

“Ah Yeee… Seonsangnim” Kata keduanya kompak.

*

                “Akhirnya kau pulang ke Korea Uisanim!”

“Iya, senang bisa kembali bertemu dengan anda” Jonghyun sudah bisa mengontrol dirinya saat ini.

“Sudah menemui Yoona?” tiba tiba Jonghyun teringat kejadian malam itu. Membuatnya terdiam sesaat dan terus berjalan.

Dari arah berlawanan, Yoona berjalan bersama beberapa dokter lain, sambil mengobrol. Yonghwa sudah melihatnya dan menunggu bagaimana reaksi Yoona saat melihat Jonghyun.

“Eh? Aka?” Yoona akhirnya bisa mengenali Jonghyun. Jonghyun langsung menoleh.

“Midori!” sambut Jonghyun. Beberapa dokter sempat memperhatikan Jonghyun, baru kemudian berlalu meninggalkan Yoona yang berhenti tepat di hadapan Yonghwa dan Jonghyun.

“Wah! Im Yoona, kau tampak berbeda dengan jas putih itu!” Puji Jonghyun.

“Tidak berbeda sama sekali” Balas Yonghwa.

“Apa kau mau minum kopi? Biar aku yang traktir!” Kata Yoona lagi, tanpa memperhatikan Yonghwa.

“Baiklah.. Yonghwa Uisa mau ikut?” Ajak Jonghyun.

“Tidak usah, ini hanya reuni antar sahabat!” Tolak Yoona dan membuat Yonghwa menggerutu dalam hati.

“Bukankah kalian sahabat?” Kata Jonghyun lagi.

“Ayo, kita pergi!” Yoona menarik tangan Jonghyun tanpa mempedulikan Yonghwa yang kesal.

“Cih! Dia pikir dia siapa?” Gerutu Yonghwa marah.

*

                “Ada apa kemari?” Yoona menyeruput Coffe Mocha-nya

“Aku menemui Prof. Ahn.. dia guruku” Jawab Jonghyun pelan.

“Hmmm… Apa kau baik baik saja?” Jonghyun mangangguk sembari tersenyum.

“Ehmmm, Kim…. Yuna?” Yoona bertanya cukup hati hati.

“Hari ini dia pergi menemui teman teman lamanya” Jelas Jonghyun.

“Ohhh..”

“Yoona-ya! Besok, kau ada waktu?” Tanya Jonghyun

“Eh? “

“Ayo kita pergi ke Busan, ke tempat kita dulu, aku ingin ke makam Omoni..”

“Kau serius? Perjalanan Busan cukup jauh” Jonghyun meraih tangan Yoona, mengisyaratkan permohonan.

“Baiklah, Kau pergi bersama Yuna?”

“Anio.. Kita berdua saja”

“Tapi?”

“Ayolah…” Jonghyun mengencangkan genggamannya.

“Arraseoyo..”

“Gumawo”

“Hm,,”

*

                Bunyi peralatan masak memenuhi dapur, aroma masakannya membuat setiap orang ingin bangun dari tempat tidur. Im Yoona sedang turun ke dapur dan memasak bekal untuk perjalanannya bersama Jonghyun.

“Nuna! Tumben banget!” Minhwan dan Jungshin memenuhi dapur dengan wajah kering baru bangun tidur. Mereka merasa heran dengan Yoona yang memasak, biasanya dia hanya akan memasak pada saat tertentu saja.

“Ya! Kalian cepat mandi, bangunkan Minhyuk juga, kita sarapan bersama”

“Waaaahhhh, Nuna kau membuat Kimbab?” Minhwan mencoba mencomot sepotong.

“Choi Minhwan!” Pekik Yoona keras. Jungshin buru buru menyelamatkan Minhwan dari amukan Yoona.

“Wah!  Daebak! “Minhyuk yang hadir di ruang makan dengan keadaan bersih dan rapi.

“Minhyuk-ah, apa kau sakit?” Tanya Yoona dengan Minhyuk hari ini.

“Ah? Apa maksudmu Nuna!”

“Anio… Jungshin, kenapa Minhyuk berubah bersih begini?”

“Dia punya pacar…” Kata Jungshin singkat dan disusul anggukan keras Minhwan

“Ya! Lee Jungshin kau!”

“Benarkah????” Yoona langsung heboh

“Nuna, dia itu adik dokter Jessica Jung, teman Nuna di rumah sakit itu” Tangkas Minhwan lagi.

“Jung Krystal? Wa, Kang Minhyuk Daebak!” Yoona mengacungkan Jempolnya.

“Jungshin!!” Geram Minhyuk. Akan jadi masalah besar jika Nunanya ini sampai tahu.

“Krystal Bilang, kalau Minhyuk malas mandi, dia takkan menerima cintanya.. Hahahahah!”

“Kau yang terbaik adikku!” Yoona buru buru menyeka kepala Minhyuk.

“Kalian akan mati!” Ancam Minhyuk

“HAHAHAHA…”

“Annyeonghasseyo!” Jonghyun muncul di tengah hiruk pikuk.

“Hyung! Wasso? Ayo sarapan bersama Nuna yang masak loh!” Minhyuk mendorong kursi untuk Jonghyun duduk.

“Benar kau yang masak?” Tanya Jonghyun takjub. Yoona mengangguk percaya diri.

“Wah, Im Yoona Daebak! Hmmm.. Oishi-neee” Jonghyun mencicipi sepotong tempura.

“Adik-adikku, hari ini aku akan pergi bersama Hyung kalian dulu ya.”

“Kemana?”

“Aku akan menemaninya ke makam omoni di Busan!” Jelas Yoona.

“Busan?”

“Iya” Yoona mengangguk. “ Aku sudah ijin sama Taec Oppa” Tukas Yoona lagi.

“Arreseo… Hati hati di jalan.”

*

                “Jadi kau memasak untuk perjalanan kita?” Jonghyun melaju dengan kecepatan sedang, mereka sekarang sudah berbelok ke Tol jalur ke busan.

“Iya, dulu.. saat aku belajar masak, aku ingin kau orang pertama yang mencicipi masakanku!” jelas Yoona tanpa ragu.

“Mianhe… aku pergi, dan bukan jadi orang pertama itu”

“Ania, Gwencahana, hmmm.. bagaimana masakanku?”

“Wanjong Masikettaaa!” Jonghyun memberikan Jempolnya.

*

                “Omoni, Hari ini aku kemari bersama Jonghyun” Yoona meletakkan sebuket mawar putih di pusara Ny. Kim.

“Annyenghasseyo.. Omoni.. Maafkan aku baru kembali sekarang” Jonghyun membungkuk memberi hormat.

Keduanya sama sama duduk menghadap pusara Ny. Kim. Mendoakan beliau agar bisa tenang dan berharap bisa hidup lebih baik lagi sesuai harapan beliau.

“Ayo!” Jonghyun menarik tangan Yoona meninggalkan tempat itu. Mereka kemudian pergi ke tempat bekas panti asuhan mereka. Walau setiap tahun Yoona mengunjungi makam ny. Kim namun belum sekalipun dia pergi ke tempat berkas panti asuhan mereka itu lagi.

Keduanya duduk menghadap bangunan tua yang sempat menjadi tempat hidup mereka dulu.

“Sudah lama sekali…” Yoona menyandarkan kepalanya di bahu Jonghyun.

“Iya..” Jonghyun merangkulnya.

“Kau tahu? Dulu setelah kau dibawa orang tuamu, aku selalu menangis setiap hari..”

“Kenapa?”

“Aku pikir, kau akan kembali, aku akan kecewa jika hari terlewat begitu saja” Yoona memandang kosong ke depan.

“Aku juga” tambah Jonghyun.

“Kau?” Yoona menegakkan kepalanya memperhatikan wajah Jonghyun. Jonghyun mengangguk.

“Kau kira Cuma kau yang merindukanku?” Jonghyun tersenyum.

“Maksudmu?”

“Aku juga merindukanmu baboya!” Jonghyun menjitak kepalanya pelan. Yoona kembali menyandarkan kepalanya.

“Arraseoo.. tapi kenapa kau tidak kembali lagi kesini? Tidak tahukah kau, airmataku sudah tumpah berapa kubik?”

“Aku ingin. Tapi aku tidak bisa” Kata Jonghyun singkat.

“Tapi, apa sebesar itu cintamu padaku?”

“Ya! Tentu saja aku mencintaimu Jonghyun, kau yang terbaik, sejak pertama kali!”

“Aku juga mencintai midoriku” Jonghyun mempererat rangkulannya.

*

                Ponsel Jonghyun menggetarkan meja makan di sebuah restoran seafood tempat dirinya dan Yoona sedang makan. Yoona bisa memperhatikan display panggilan masuk itu dari siapa. Kim Yuna. Jonghyun juga melihatnya, tapi dia tak kunjung mengangkatnya.

“Angkat telponnya..” Kata Yoona, dia mengunyah dengan cepat sashimi. Jonghyun hanya terdiam dan terus melanjutkan makan. Ponsel itu akhirnya berhenti bergetar.

“Kenapa tidak diangkat?”

“Setelah ini, Kita ke pantai?” Jonghyun mengalihkan pembicaraan. Hari sudah gelap, mereka akan kembali besok pagi.

“Baiklah” Yoona memandang keluar laut dari jendela. Mereka ada di kawasan Pantai Haeundae.

Setelah menghabiskan makanan, keduanya keluar untuk menikmati pantai. Musim panas hampir tiba hingga suasana tidak terlalu dingin.  Sepertinya ponsel Jonghyun bergetar lagi dan dia belum mengangkatnya.

“Apa kau marah padanya?” Tanya Yoona hati hati

“Ani…” Jonghyun melipat tangannya tersenyum tipis. Mereka berjalan beriringan menyusuri pantai.

“Kau… sama sepertiku? Apa tidak apa apa?” Kata Jonghyun tiba tiba

“eh? Maksudmu?” Yoona balik bertanya

“Aku tahu, kau menyukai Jung Yonghwa itu…” Jonghyun meraih tangan Yoona dan memasukkannya ke dalam jaketnya sendiri. Yoona terkejut dan terus mensejajarkan langkah mereka. Angin malam memang tetap terasa dingin.

“Benar kan?” Jonghyun menyikut Yoona. Yoona tersenyum tipis.

“Tidak, aku tidak berhak apapun atas dirinya, jadi tidak masalah” Yoona mencoba tegar.

“Kau tahu? Dulu aku tidak punya gadis lain selain kau yang kupikirkan Midori… tapi..”

“Tapi semenjak kau bertemu dengannya….”

“Ania… Midoriku yang terbaik” Jonghyun memeluk Yoona pelan, Yoona menepuk bahu Jonghyun.

“Bicara padanya, selesaikan semua ini” Air mata keduanya tak terbendung lagi.

*

                Jung Yonghwa sudah tidak tahan lagi dengan sikap Im Yoona akhir akhir ini yang tak acuh padanya. Dia memutuskan untuk bertanya langsung penyebabnya.

“Tok.. Tok..”

“Masuk”

“Ayo bicara…” Yoona berdiri dan berjalan mengikuti Yonghwa, memang ada yang ingin dia sampaikan juga.

“Kita mau kemana? Bicara disini saja!” Kata Yoona saat menyadari mereka sudah di tempat parkir.

“Masuklah… Kita makan siang bersama” Yoona berhenti melangkah

“Cepatlah!”

“Selalu saja seenaknya” Katanya sembari melangkah masuk ke mobil.

*

                “Makanlah….”

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Yoona menatap Yonghwa tajam.

“Makanlah dulu, nanti baru bicara” Yonghwa menyuapkan sepotong daging ke mulut Yoona. Terpaksa gadis itu mengunyah dan memulai makan.

“Makan yang banyak…”

*

                “sebenarnya akhir akhir ini kau kenapa? Kenapa menjauhiku, kau marah padaku?” Yoona diam tanpa menjawab pertanyaan Yonghwa.

“Jawab aku!” suara Yonghwa meninggi. Hal yang paling dibencinya didiamkan orang lain.

“Apa pedulimu, aku mau marah atau tidak?” Yoona akhirnya menjawab

“Apa Kau melihatku dan Kim Yuna malam itu?” Yonghwa sudah menebak nebak penyebabnya.

“Iya, aku melihatnya… kau jangan pernah berpikir kalau aku marah karena hal itu!”

“Lantas apa?” Yonghwa semakin bingung, perkiraannya meleset sepertinya.

“Jauhi gadis itu, dia sudah punya Jonghyun!” Kata Yoona tegas.

“Jadi semua ini karena Jonghyun? Dan kau, apa hakmu melarangku menemui Kim Yuna?”

“Iya benar! Aku tidak punya hak apa-apa… tidakkah kau sadar kau sudah melukai orang lain?” Yoona berbalik tegas.

“Melukaimu? Atau melukai Jonghyun?” Yoona terdiam. Beberapa saat sebelumnya dia ingin bilang kalau dia memang terluka, tapi belum sempat mengatakannya Yonghwa sudah kembali berucap.

“Kenapa kau harus terluka? Kenapa?” Suara Yonghwa kembali meninggi.

“Aku memintamu melakukan ini, untuk Jonghyun” Kata Yoona lemah sebelum akhirnya menangis. Airmata Yoona jatuh membasahi pipinya yang halus. Dia tidak pernah menyangka Jung Yonghwa yang dia sukai akan berkata kasar seperti itu. Walau tak terdengar kasar, tapi baginya hal ini sangat menyinggung. Tidak ada jalan lain selain pergi menjauh untuk menenangkan diri.

*

Sinar matahari pagi menyorot langsung ke wajah Im Yoona saat Gorden dibuka. Dia menyipitkan matanya kaget. Menggeliat sebentar sebelum menyadari ada yang membangunkannya.

“Nuna! Nuna!” Minhwan mengguncang guncangkan tubuhnya

“Minhwan? Ada apa ke kemarku?”

“Apa kau tidak kerja hari ini? Kau sakit?” Minhwan meraba jidat Yoona dengan punggung tangannya.

“Tidak apa apa kok” Yoona menyingkirkan tangannya sembari bangun.

“Kau mau berangkat ke kampus?” Minhwan mengangguk

“Pergilah, aku tidak sakit kok!” Yoona bangkit dari ranjangnya berjalan ke kamar mandi. Minhwan melayangkan pandangannya sekeliling kamar, di lantai berserakan banyak sekali tissue bekas pakai.

“Baiklah, aku pergi dulu” Minhwan pamit.

“Im Yoona… berapa banyak kau menangis sampai wajahmu buruk rupa begini?” Yoona memandangi wajahnya di cermin. Matanya sembab dan bengkak parah, hidungnya membesar dan merah. Walau wajahnya sudah dicuci dengan air, tapi semua tidak berubah.

“Hah!” Dia kembali menggosok wajahnya dengan air

“Aish! Jinja!” Gerutunya kemudian.

Yoona meraih ponselnya yang ada di atas meja.

Yoboseo? Perawat Cho?”

“…………….”

“Selama tiga hari ke depan aku akan cuti”

“……………………”

“Tidak apa-apa Onnie, hanya, aku ingin beristirahat selama tiga hari saja”

“……………………”

“Gumawo Onnie” Klik!

Pilihan untuk cuti memang yang terbaik, kalau dipikir, dia juga tidak mungkin pergi kerja dalam keadaan buruk rupa begini. Bisa bisa orang yang dia tangisi—Jung Yonghwa—bisa ge-er.

*

Drrttt….drrttt…drrrrttt..

“Taecyeon oppa?”

“Yoona-ya kau di rumah sakit?”

“Aniya, aku di rumah”

“Bisa datang ke kantorku? Aku akan suruh supir menjemputmu”

“Eh? Baiklah” Yoona langsung setuju untuk menemui Taecyeon yang sudah dianggapnya sebagai kakak. Mungkin berbagi dengan Taecyeon akan meringankan bebannya saat ini.

Begitu penampilannya sudah rapi, Yoona turun ke bawah dan menunggu mobil jemputan. Dia sempat memperhatikan seisi rumah yang sudah sangat rapi. Adik-adik melakukan tugas mereka dengan baik. Sesekali dirinya menengok ke taman. Bunga-bunga mawar miliknya tampak segar dan apik, padahal Yoona sudah jarang mengurusinya saking terlalu sibuk dengan pekerjaan.

Yoona berjalan keluar rumah merasa tertarik dengan koleksi bunga mawarnya yang bermekaran indah. Menciumi harum bunga tanpa memetiknya, setidaknya hal ini bisa menenangkan pikirannya sejenak.

“Kau cantik seperti mereka!” Sahut seseorang. Yoona langsung menoleh.

“Jonghyun?” Jonghyun berjalan mendekat memamerkan giginya yang putih. Sebetulnya dia sendiri sedang tidak ingin menemui Jonghyun-Yonghwa saat ini. Mengingat kedua orang ini adalah sumber masalahnya. Ingin rasanya Yoona lari ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat sehingga Jonghyun tidak menemuinya.

Sesaat dirinya mematung memperhatikan Jonghyun. Suasana yang dia ciptakan tiba-tiba canggung, walau hanya Yoona yang merasakannya.

“Er.. Ada apa kau kemari?”

“Aku ingin menemuimu, tapi nampaknya kau mau pergi?” Jonghyun memperhatikan penampilan Yoona yang sudah siap.

“Eh? Iya, aku akan pergi menemui seseorang!” Yoona dengan percaya diri membetulkan tas selempangnya.

“Jangan bilang kau mau pergi kencan? Ya! Kau tidak pergi kerja?” Jonghyun menaikkan alisnya. Yoona tersenyum mengangguk. Sebenarnya dia merasa cemas, kenapa orang suruhan Oppa Taecyeon belum datang juga?

“Dengan siapa?” Tanya Jonghyun penuh curiga.

“Dengan seseorang yang tidak kau kenali”

“Oh, begitu ya, aku pulang saja kalau begitu” Jonghyun berbalik hendak pergi, Yoona kegirangan memandang punggung Jonghyun yang menjauhinya.

Nuguseyo?” Taecyeon dari arah yang berlawanan menghadap Jonghyun yang menghentikan langkahnya. Yoona langsung kaget, dia pikir Taecyeon akan menyuruh supir menjemputnya, kenapa musti dia yang datang sendiri?

Solma, Taecyeon Hyung?” Jonghyun langsung mengenali Taecyeon. Dia  berbalik ke Yoona sembari tersenyum mengejek—menipuku ya?—pikirnya.

Naega Lee Jonghyun hyung!” Jonghyun mengambil tangan Taecyeon untuk disalami.

“Jonghyun?” Taecyeon memandangi Yoona dan Jonghyun—bergantian. Keduanya mengangguk pelan.

Ya!” Taecyeon tanpa ragu memeluk Jonghyun erat. Yoona akhirnya menyerah, tentu saja Taecyeon—yang kaya raya—akan mengajak serta Jonghyun untuk pergi bersama mereka.

*

                Benar saja, Taecyeon mengajak serta Jonghyun untuk pergi bersama mereka di sebuah restoran berkelas di pusat kota.

“Hei, Im Yoona, pasti kau sangat senang kan? Dia kembali?” Goda Taecyeon

“Hehehehe.. tidak juga!” Jonghyun tertawa.

“Tidak usah  ngeles, Oppa tahu, kau mencintainya” Godanya lagi.

Oppa!” Yoona menggerutu. Jonghyun meminum airnya.

“Jonghyun-ah, adikku ini dia hobinya curhat, bisa kau bayangkan? Selama bertahun tahun dia curhat padaku? Bikin kupingku tampak buruk seperti ini” Canda Taecyeon lagi, dia menunjukkan telinganya.

“Oh ya? Dia curhat apa, apa dia pernah bercerita tentangku?” Jonghyun sudah masuk dala permainan Taecyeon

“Dia bilang…”

OPPA!” Yoona marah dan langsung berdiri.

“Aku mau ke toilet!” Yoona meruntuk dalam hati meninggalkan kedua pria yang menggodanya.

Sekarang tinggallah Jonghyun dan Taecyeon, wajah Taecyeon berubah serius.

“Ehm, apa kau tahu? Apa yang terjadi padanya?” Tanya Taecyeon penasaran. Sebenarnya tujuan dia mengajak pergi Yoona adalah untuk memastikan adiknya baik baik saja. Dia mendapat telpon dari Minhyuk, bahwa Yoona menangis semalaman. Taecyeon kemudian menceritakan secara singkat kronologi yang dia ketahui, Jonghyun mengangguk paham, namun tidak berkomentar. Dalam benaknya dia yakin, Yoona menangis karena Yonghwa.

“Membicarakanku ya?” Yoona tiba tiba muncul

Oh? Kau datang?”

“Bagaimana kalau kita ke pantai hari ini? Oppa membeli Bungalow baru, ayo kita kesana!” Taecyeon mengajak keduanya.

“APA?!”

“Ayo!” Dia menarik tangan keduanya.

“Apa kau tidak sibuk hari ini?” Yoona mulai bertingkah untuk tidak ikut. Kalau Cuma bersama Taecyeon sih tidak masalah, tapi semua ini karena Jonghyun. Dia tidak ingin menemui Jonghyun, semua demi menjaga perasaannya sendiri.

“Aku sudah membatalkan semua meeting hari ini! Ayo kita pesta barbeque!!!” Seru Taecyeon semangat.

*

                Jung yonghwa berjalan menyurusuri lorong rumah sakit sambil melihat ke segala arah. Mencari sosok Im Yoona yang belum dia temui hari ini. Dia memutuskan untuk pergi ke departemen tempat Yoona ditugaskan.

“Perawat Cho? Dimana Dokter Im Yoona?” Tanyanya tanpa basa-basi. Beberapa suster tercengan, rumor antar keduanya memang sudah terkenal seantero rumah sakit, membuat Yonghwa tidak peduli lagi.

“Dokter Im, sedang cuti selama tiga hari kedepan.”

“Cuti? dia pikir, ini rumah sakit nenek moyangnya apa?” Yonghwa geram mendengar Yoona yang cuti. Perawat Cho hanya terdiam.

“Hubungi dia, suruh ke rumah sakit sekarang!” Bentak Yonghwa kasar  sebelum dia kembali ke ruangannya dan membanting pintu dengan keras. Yonghwa membenamkan wajahnya di dalam naungan lengan, mengingat pertemuan dengan Kim Yuna semalam.

“Oppa, Mianhe… Aku ingin melupakanmu, aku mencintai Jonghyun, Oppa. Aku tidak ingin menyakitinya. Mulai detik ini lupakan aku, jangan memikirkanku lagi.” Kim Yoona menahan isakannya saat berucap. Yonghwa menutup matanyanya menyisakan remasan airmata yang tumpah di pipi.

                “Kau tahu, aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun Kim Yuna” Yonghwa menggenggam tangan Yuna, seakan tak ingin dilepas.

                “Oppa aku mohon, jangan menyakiti lagi, sudah cukup kita menyakiti ibumu dulu. Aku tidak ingin menyakiti Jonghyun, dia pria yang baik!”

                “Bagaimana denganku? Apa kau pikir aku tidak sakit?” Yonghwa malah memeluk erat Yuna disertai isakan.

                “Mianhe!” Yuna harus berusaha keras untuk melepas pelukan Yonghwa yang erat. Dia pergi begitu saja tanpa penjelasan lebih lanjut. Membuat Yonghwa sangat menderita berjam-jam bahkan berhari-hari setelahnya.

*

                Harusnya Yoona menyadari sejak awal bahwa, Taecyeon akan meninggalkan dirinya dan Jonghyun dengan alasan pekerjaan. Dia tahu betul kakaknya itu, seorang workacholic, jadi tidak mungkin akan meninggalkan pekerjaan hanya untuk hal-hal semacam pergi ke pantai seperti ini. Sekarang suasana yang dia ciptakan malah canggung. Yoona sibuk menatap Jonghyun ceria yang sedang memanggang barbeque.

“Yoona-ya, tolong ambil jeruk nipis!” Yoona langsung berlari mengambil di kulkas dan menyerahkannya.

“Aku mau pulang” Katanya kemudian. Jonghyun membulatkan matanya merasa heran.

“Tapi kita kan belum makan? Kenapa?” Jonghyun sibuk membolak-balik daging panggang dia atas grill.

“Kau makan saja, aku ingin pulang!” Yoona pergi meninggalkan Jonghyun yang kebingungan, antara memanggang daging dan mengejar Yoona.

Ya! Kau ini kenapa?” Jonghyun menyambar tangannya. Sesaat Yoona menatap Jonghyun penuh amarah, karena terlanjur salah tingkah, Jonghyun melepas tangan Yoona perlahan.

“Hari hampir gelap, kita makan dulu dan aku antar kau pulang!” Kata Jonghyun lembut, dia kemudian kembali ke alat pemanggang karena sadar, barbeque hampir gosong.

“Kenapa?” Jonghyun mengentikkan langkahnya, saat Yoona berteriak. Saat menoleh, didapatinya Yoona yang sudah menangis.

“Kenapa aku harus bertemu denganmu lagi?” Teriak Yoona keras, Jonghyun terdiam.

“Kenapa kalian harus ke Korea!” Yoona menangis saat ini. Jonghyun melangkah mendekat, Yoona semakit terisak.

“Kenapa aku harus menyukai Jung Yonghwa” Sahutnya pelan di sela-sela tangisan. Jonghyun menghadap Yoona dan mendekapnya. Bisa dirasakan pukulan pukulan lemah tangan Yoona di dadanya sambil menangis.

“Mianhe, semua jadi sulit bagimu” Jonghyun membelai rambutnya, mencoba menenangkan. Tangis Yoona makin besar.

*

                “Yah… semua gosong!” Jonghyun kecewa menatap semua daging panggannya yang hangus tak bercelah. Yoona tersenyum kecil.

Ya! Kau tertawa? Semua ini gara-gara kau! Aish!” Umpat Jonghyun kesal.

“Aku lapar…”

“Kita makan ramyun saja!”

“Kau yang masak?”

“Baiklah, untuk Aka-ku yang terbaik!” Yoona dengan semangat menuju dapur memasak ramen untuk mereka berdua. Dia sudah tenang, setelah berbagi semua dengan Jonghyun. Jonghyun sendiri cukup merasa bersalah karena Yoona terlibat dengan hal ini dan membuatnya menjadi sulit, kadang kenyataan-kenyataan seperti inilah yang harus dihadapinya. Untuk selanjutnya, dia tidak ingin memikirkan apapun dan membiarkannya mengalir seperti air.

Yoona baru saja memeriksa ponselnya, ada puluhan missed call dari beberapa nomor diantaranya Jung Yonghwa. Setelah menimbang begitu lama, dia memutuskan untuk menelpon Yonghwa setelah mereka makan malam.

“Yoona! Aku mau ke pantai, kau mau ikut?” Teriak Jonghyun

“Kau duluan saja, aku akan menelpon seseorang dulu!” Sahut Yoona dari dapur.

“Siapa? Pacarmu? Jung Yonghwa?” Goda Jonghyun

“Lee Jonghyun kau mau mati ya?”

“Hahahah”

*

Pagi-pagi sekali Yoona sudah berangkat ke rumah sakit. Masa cutinya memang belum selesai, namun Yonghwa menggunakan kekuasaannya sebagai direktur dan menyuruhnya menghadap.

Dengan hati-hati Yoona mengetuk pintu kantor Yonghwa, dia sudah mempersiapkan segalanya. Tidak ada lagi tangisan, setidaknya hal pertama yang bisa dibuat janji hanyalah hal itu.

“Masuklah dokter, direktur ada di dalam!” Kata sekertaris Yonghwa.

“Ah. Kamsahamnida!” Tanpa mengetuk lagi, Yoona langsung membuka pengangan pintu perlahan dan mengintip dari balik pintu.

“Masuklah” Seperti biasa, Yonghwa sedang dengan setumpuk pekerjaannya.

“Duduk” Perintahnya. Tidak seperti biasa, Yoona saat ini memasang tampang tegang dan hanya duduk dengan tenang tanpa berkomentar. Sesekali Yonghwa mencuri pandang di sela-sela coretan yang dia buat di setiap dokumen.

“Maaf, ada perlu apa anda memanggil saya kemari?” Yoona memulai bertanya. Yonghwa kemudian menghentikan pekerjaannya. Melepas kacamata yang bertengger di hidungnya.

“Maafkan aku Im Yoona” Kata Yonghwa kemudian. Yoona agak sedikit terkejut mendengarnya. Pandangan keduanya terkunci beberapa saat. Yoona bisa melihat ketulusan permohonan maaf Yonghwa padanya.

“Er… untuk apa direktur?”

“Untuk kata-kataku tempo hari, maafkan aku karena sudah melukaimu” Kata Yonghwa mantap. Yonghwa mengulurkan tangannya pada Yoona, dengan ragu Yoona menyalaminya, dia sudah memaafkan Yonghwa bahkan sebelum hari ini datang.

Yonghwa menggenggam tangan Yoona selama beberapa saat. Ada yang ingin dia sampaikan. Sesuatu yang penting baginya dan bagi Yoona sendiri.

“Im Yoona…. Aku….”

“Direktur? Presentasinya sudah mau dimulai” Sekertaris Yonghwa tiba-tiba mengetuk dan masuk sehingga Yonghwa tidak melanjutkan kalimatnya.

“Baiklah, aku pergi dulu!” Yoona membungkuk pamit.

“Yoona-ya! Besok, ayo kita pergi nonton film!” Ajak Yonghwa sebelum Yoona keluar dari ruangan.

“Eh?”

“Jam 5.30 aku jemput!”

*

                “Turunlah, makan bersama ibu” Sesaat Jonghyun terdiam, sudah lama sekali dia tidak makan bersama ibunya.

“Hyun-ah, ayolah… besok aku sudah pulang ke Jepang, aku ingin makan bersama kalian!” Pinta Yuna lagi. Jonghyun akhirnya mengangguk menurutinya.

“Jonghyun, kau mau makan bersama ibu?” Jonghyun menatap ibunya sesaat dan duduk kemudian.

“Hari ini aku dan ibu masak, makanan kesukaanmu” Jelas Yuna.

“Iya, Yuna pintar sekali memasak” Boyoung dengan bahagia, meletakkan piring lauk di hadapan Jonghyun.

Kamsahamnida omoni!” Kata Jonghyun datar. Mereka kemudian makan dengan tenang.

*

Kim Yuna dengan susah payah mengangkat kopernya yang sudah siap. Jonghyun datang dan mengangkatnya, meletakkannya sembarangan di kamar.

“Besok aku akan kembali”

“Aku tahu, jaga dirimu baik-baik” Jonghyun menepuk bahu Yuna. Yuna kemudian memeluknya lembut, membenamkan kepala di dada Jonghyun.

“Baik-baiklah dengan ibumu, dia sudah cukup tua untuk selalu merindukanmu.” Katanya.

“Aku tahu.” Kata Jonghyun singkat. Tangan Yuna beralih ke wajah Jonghyun. Pandangan mereka terkunci.

“Ada yang ingin aku sampaikan padamu.” Kata Yuna, dia fokus ke mata Jonghyun.

“Apa kau masih mencintai Jung Yonghwa?” Kata Jonghyun sebelum Yuna berucap. Dia sadar, lambat laun Yuna akan menanyakan hal ini. Yuna terkejut mendengar kata kata Jonghyun, seakan pikirannya bisa terbaca, dia sadar. Jonghyun ternyata, tahu selama ini dia masih mencintai Yonghwa.

Yuna memejamkan matanya, mengambil napas dalam sebelum menjawab. Dia menggeleng.

Ani… Nan neol saranghae Jonghyun” Kata Yuna mantap. Dia kemudian mengecup bibir Jonghyun dengan penuh kasih sayang. Kali ini keputusan melupakan Yonghwa adalah yang terbaik, tidak ada orang yang ingin disakiti lagi.

*

“Nyonya, ada surat panggilan dari sekolah tuan muda” Sekertaris Jang meletakkan secarik amplop merah di depan meja kerja Lee Boyoung, anak satu-satunya Lee Jonghyun membuat masalah lagi di sekolah.

                “Masalah apa lagi yang lakukan kali ini!” Boyoung menepuk mejanya geram.

                “Apa yang kau lakukan kali ini, apa kau tidak lelah membuat masalah terus Jonghyun?”

                “Aku Cuma menghajar guru bu, itu biasa lah… lagian ibu bisa menyogok mereka kan?” Jawab Jonghyun enteng.

                “KAU!” Boyoung hendak melayangkan tamparan pada Jonghyun tapi tertahan. Amarahnya mencapai puncak.

                “Ayo pukul bu! Ah tidak, Direktur! Kau bukan ibuku, tapi direktur!” Jawab Jonghyun, Boyoung langsung menemparnya.

                “Apa yang kau lakukan?” Jonghyun bisa lihat ayahnya masuk ke dalam ruangan itu, sembari marah. Melotot pada ibunya. Masih ingat rupanya ayah padanya.

                “Kenapa kau memukulnya? Harusnya sejak awal aku tahu, hak asuhnya tidak pantas ada di tanganmu!” Bentak Sangwoo ayah Jonghyun.

                “Kau tidak tahu, betapa lelahnya aku dengan anak ini!” Boyoung menunjuk Jonghyun. Jonghyun berubah menjadi nakal dan banyak membuat masalah. Teriakan-teriakan dan pertengkaran kembali terjadi. Inilah rutinitas mantan suami-isteri ini.

                “HENTIKAN!” teriak Jonghyun. Matanya berkaca.

                “Aku tahu, kalian sama sekali tidak menyayangiku” Katanya lagi. Dia kemudian berlari keluar ruangan

“Jonghyun! Jonghyun!”

Dan tidak kembali lagi selama bertahun-tahun.

Keringat bercucuran deras di wajah Jonghyun. Badannya menggeliat gelisah, kadang terdengar isakan-isakan yang menyisakan airmata. Napasnya tersengal-sengal seakan sedang memimpikan hal yang paling buruk. Sesaat kemudian, Jonghyun tersadar dan membuka matanya. Dia kembali memimpikan hal yang sama, kejadian beberapa tahun yang lalu saat dia kabur dari rumah lantaran lelah dengan pertengkaran orang tuanya.

Butuh waktu lama untuk Jonghyun sadar, ada seseorang yang bertengger di tepi tempat tidurnya. Duduk sambil tertidur. Dia menyalakan lampu dan mencoba mengenali orang itu, yang tak lain adalah ibunya Lee Boyoung. Jonghyun merasa kaget dan kemudian mulai menyadari apa yang dikatakan Kim Yuna memang benar, ibunya semakin beranjak tua. Tanpa ragu, Jonghyun mengangkat ibunya ke tempat tidur dan menyelimuti beliau, rasanya sudah lama sekali tidak ada kegiatan berbakti seperti ini. Dia sendiri kemudian tidur di sofa yang ada di kamar itu. Diam-diam Lee Boyoung tahu tentang tindakan Jonghyun tadi, dan di sangat bahagia cuma sesederhana itu.

*

                Yonghwa sadar, malam itu mungkin pertemuan terakhirnya dengan Kim Yuna. Hari ini Yuna berangkat ke Jepang tepat disaat dirinya akan nonton film dengan Im Yoona. Ini memang jalan yang terbaik bagi mereka. Dengan besar hati membuka lembaran baru, Yonghwa merapikan penampilannya di depan cermin toilet, menyemprot sedikit parfum kemudian melongo melihat jam. Sudah saatnya.

Yoona menunggu Yonghwa di halte bus dekat rumah sakit. Tak bisa dipungkiri, dia bahagia dengan keadaan yang berbalik 180 derajat ini. Jung Yonghwa mengajaknya nonton film, entah ini seperti kencan atau tidak, yang jelas semua tangisnya terbayar.

‘Aku… sudah baikan dengan Yonghwa’ Sungguh kekanakan, tapi inilah pesan yang diketiknya untuk Jonghyun.

‘Hari ini, Yuna kembali ke Jepang’ Balasan yang tak ada hubungannya sama sekali dari Jonghyun. Yoona menyeringai kecil menatap display ponselnya.

“Apa kau akan terus berdiri di sana sambil tersenyum seperti orang gila?” Yonghwa sudah parkir di depan halte bus. Yoona menoleh sembari tersenyum.

“Naiklah” Yoona kemudian naik dengan hati-hati ke mobil Yonghwa.

“Kau tahu? Cuma kau satu satunya gadis yang pernah naik mobilku ini.”

“Lalu kenapa?”

“Kau harus merasa bangga dengan itu!”

“Cih. Tidak akan!”

“Harus!”

“Tidak!”

Percakapan seperti biasa akan kembali berlanjut. Seakan tidak pernah terjadi masalah apapun.

Sementara Jonghyun mengantar Yuna di Bandara. Yuna paham betul maksud Jonghyun. Semoga dengan tinggal di Korea untuk sementara, Jonghyun bisa memperbaiki hubungannya dengan ibu.

“Jaga dirimu baik-baik”

“Kau juga. Sampaikan salamku pada Omoni.”

Begitu berjalan menuju tempat check-in Yuna berpapasan dengan seseorang yang dikenalnya. Sebetulnya bukan berpapasan mereka hampir bertabrakan jika Jonghyun tidak menariknya ke samping mengindari troli wanita itu.

“Maafkan saya!” Wanita itu  menunduk

“Maafkan kami!” Yuna dan Jonghyun merasa tidak enak dengan wanita itu.

“Kau?” Wanita itu kemudian mengenali Yuna.

“Oh? AnnyeonghasseyoOremanieyo.. Jung Sajangnim!” Yuna kembali membungkuk, Jonghyun agak bingung. Wanita itu menatap Jonghyun kemudian berlalu begitu saja.

“Nugu?”

“Itu.. ibunya Yonghwa Oppa”

*

                “Bereskan gadis itu!” perintah Jung Sohee pada sekertarisnya. Tak sanggup lagi dia menahan kemarahannya. Dia menjadi sangat murka dengan Yonghwa—anaknya, masih berhubungan dengan gadis miskin, yang bekerja sebagai penari kelas bawah Kim Yuna.

                Begitu mendapat perintah, Sekertaris Choi langsung menyusun strategi untuk membuat Kim Yuna enyah dari hadapan Jung Yonghwa. Kim Yuna dikirim menjauh dari Yonghwa, di perlakukan keji, dan bahkan hampir dijual—kalau saja dia tidak berhasil meloloskan diri.

                Berbulan-bulan Kim Yuna menghilang entah kemana. Hubungan Yonghwa dengan Ibunya—Jung Sohee menjadi semakin buruk.

                “Kenapa ibu melakukan semua ini padanya?” Isak Yonghwa saat itu.

                “Sampai kapanpun Ibu tidak akan merestui hubungan kalian, kapan kau sadar? Dia tidak sepadan denganmu!”

                “Tapi, aku mencintainya”

                “Cinta? Persetan dengan semua itu,  kau boleh melakukan apapun, asal tidak menemuinya lagi”

                “Boleh aku tanya sesuatu? Kenapa Ibu begitu membencinya?”

                “Karena dia gadis miskin. Itu saja, Ibu tidak suka kau bergaul dengan yang tidak sepadan denganmu, apalagi sampai menjalin cinta seperti itu!”

                Jung Sohee mulai kewalahan. Sekeras apapun usahanya memisahkan Yonghwa dan Yuna. Yonghwa tetap mencintai Yuna. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan cara lain. Yuna diminta untuk menjauhi Yonghwa setelah dibuat menderita selama bertahun-tahun. Tidak diterima di sekolah manapun dan hidup terlunta-lunta di jalanan sepeninggal orang tuanya. Yuna diminta untuk menemui Yonghwa dan menyampaikan secara langsung untuk berpisah.

                “Oppa.. jangan temui aku lagi, jangan memikirkan aku lagi, jangan hadir dalam kehidupanku lagi!”

                “Apa maksudmu?”

                “Aku ingin kau membenciku seperti ibumu membenciku, dan  seperti aku membenci kalian!”

                Yuna akhirnya benar-benar hilang dari kehidupan Yonghwa. Jung Sohee mengirimnya ke Jepang, di sebuah sekolah tari terkenal membiayai segala kehidupannya hingga Yuna lulus dan  bekerja sebagai guru di sekolah yang sama.

*

 

                “Apa kau menemui gadis sialan itu lagi?” Yonghwa menyerngit mendengar pertanyaan ibunya. Dia paham, yang dimaksud gadis sialan adalah Yuna.

“Cukup ibu, jangan sakiti dia!” Balas Yonghwa.

“Ternyata benar, kau menemuinya. Dasar gadis busuk!”

“Aku sudah berhenti mencintainya!” Kata Yonghwa datar, dia kemudian berdiri dari tempatnya duduk. “Jangan ganggu kehidupannya lagi” Lanjutnya.

“Asal kau berjanji”

“Aku berjanji, tidak menemuinya lagi”

Bahkan hingga detik ini, Yonghwa masih belum terlalu paham kenapa ibunya begitu membenci Kim Yuna, hanya dengan alasan dia cuma gadis miskin rasanya tidak masuk akal. Sesaat dia berpikir, namun memutuskan untuk tidak terlalu tenggelam di dalamnya. Yonghwa berjalan meninggalkan ibunya.

“Aku memegang janjimu!” Teriak Sohee. Kali ini dia mempercayai Yonghwa. Dia pikir, Kim Yuna sudah bersama pria lain dan kehidupan barunya. Untuk mengganggu Yonghwa lagi rasanya tidak mungkin. Lupakan semuanya adalah pilihan terbaik.

“Halo? Sekertaris Choi, apa kau sudah cari tahu, siapa gadis yang dekat dengan Yonghwa saat ini?”

“Dia seorang dokter yang bekerja di Rumah Sakit yang sama dengan Tuan Muda Sajangnim”

“Siapa dia?”

Namanya Im Yoona, dia adik perempuan Direktur perusahaan Golden.corp”

“Adik Taecyeon? Aku baru tahu kalau direktur muda itu punya adik”

“Iya, Im Yoona adiknya, dia berada dalam urutan keluarga Ok Taecyeon”

“Oh? Jadi mereka berasal dari panti asuhan yang sama? Baiklah, jangan biarkan Yonghwa melirik gadis lain lagi, aku rasa dia gadis yang tepat untuknya”

“Baik Nyonya” klik!

Sudut bibir Sohee terangkat, dalam benaknya berharap semoga Yonghwa bisa melupakan Kim Yuna dan mendapat kebahagiaan baru. Walau mengetahui keadaan Yoona seorang yatim-piatu, Jung Sohee tetap tidak berniat berusaha untuk memisahkan mereka, seperti dia memisahkan Yuna dan Yonghwa. Semua bukan karena status keluarga atau derajat, kenyataannya ada alasan lain kenapa dia bisa sangat membenci Kim Yuna.

“Yobo~” Jung Sohee mendekap foto mendiang suaminya Jung Yongmin penuh cinta. Setitik airmata jatuh di sudut matanya. Menandakan kerinduan yang dalam, sudah cukup lama dia bertahan sendirian membesarkan kedua anaknya, mengantarkan anak sulungnya Tiffany ke pernikahan dan menanggung beban berat selama bertahun-tahun. Tiffany saat ini berada di China menyusul suaminya Hwang Jaebum yang bekerja di sana. Sesekali pulang untuk menengok Ibunya Sohee dan adiknya Yonghwa.

*

                Semua beberapa hari terakhir berjalan lancar di rumah keluarga Jonghyun. Hubungan dengan ibunya—Lee Boyoung semakin membaik. Boyoung merasa, Jonghyun kembali ke masa 15 tahun lalu, yang periang, penyayang, dan tidak membangkang. Tiada yang bisa menjelaskan betapa bahagia dia saat ini.

“Jonghyun, Ibu merindukanmu” Boyoung memeluk anaknya sambil terisak, semuanya kini berbeda, badan Jonghyun sudah mampu menyelubungi badannya yang kurus.

“Maafkan ibu nak!” Boyoung semakin terisak. Sudah lama sekali dia hidup sendirian tanpa anaknya. Menyesali setiap waktu yang terlewatkan begitu saja, andai waktu bisa kembali berputar, dia lebih memilih tetap utuh bersama keluarganya dulu.

Jonghyun hanya terdiam mendengar kata-kata ibunya. Dia bahkan lebih merindukan Ibunya. Yuna benar, ini saatnya memperbaiki hubungan mereka yang renggang selama bertahun-tahun.

“Sudahlah, jangan menangis lagi. Ibu? Ayo kita pergi memancing hari ini!” Kata Jonghyun kembali. Bukan merespon perkataan Jonghyun, Lee Boyoung makin terisak haru.

“Anakku kembali!”

“Iya ibu…”

“Anakku”

Jonghyun menelpon Yoona untuk ikut bersama mereka.

“Kau mengajak seseorang?” Tanya Boyoung

“Iya, aku mengajak Yoona, sahabatku!”

“Yuna?” Boyoung menyerngit, bagaimana bisa Yuna kan ada di Jepang? (Pelafalan Yoona terdengar seperti Yuna)

“Iya, dia sahabat kecilku Bu.. aku belum sempat mengenalkannya pada Ibu!”

“Sahabat kecilmu? Maksudmu Kim Yuna? Dia kan ada di Jepang?” Jonghyun tertawa mendengar kalimat bingung ibunya.

“Im Yoon ah bu… namanya!” Jelas Jonghyun sambil cekikikan.

*

                “Annyeonghasseyo Omoni!” Yoona membungkuk memberi salam begitu Jonghyun dan Ibunya menjemput.

Aigooo.. Nomu Yeppo! Annyeonghasseyo!” Jonghyun terkekeh mendengar perkataan ibunya. Semua orang yang baru melihat Yoona akan bilang dia cantik. Im Yoona memang tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

“Hehehe…”

“Naiklah” Yoona langsung naik ke dalam mobil Jonghyun. Mereka akan pergi memancing.

“Im Yoona imnida Omoni” Yoona memberi salam lagi

“Jadi? Kau yang menyelamatkan Jonghyun 15 tahun lalu?” Yoona melirik Jonghyun. Tampaknya dia sudah bercerita banyak. Yoona mengangguk malu.

Gumawoyo Yoona-ssi” Ibu Jonghyun membelai punggungnya.

“Hahaha… itu sudah lama Omoni!”

“Tapi kau selalu mengungkitnya!” Goda Jonghyun

“Hei, diamlah”

“Hahahahah”

*

                “Wah Omoni, banyak sekali makanannya?” Yoona berseru saat kotak makanan dibuka. Hari ini Boyoung khusus memasak untuk piknik mereka bertiga.

“Aku memasaknya tadi pagi”

“Jonghyun-ah… Ayo makan!” Tegur Yoona pada Jonghyun yang sibuk memancing.

“Hei, Kau lihat? Disini ikannya banyak sekali, aku mendapat banyak!” Jonghyun menunjukkan serangkai ikan yang sudah dikawat—hasil pancingannya.

Omoya.. Daebak!” Yoona berlari menyambut Jonghyun.

Drttt.. drrtt.. drrtt.. ponsel Jonghyun bergetar.

“Yoona-ya! Pegang ini dulu” Jonghyun menyerahkan ikannya pada Yoona.

“Aku akan masakkan soup ikan pedas, bagaimana Omoni?” Boyoung mengangguk ceria.

Sementara Jonghyun memperhatikan display ponselnya. Ini telpon dari sekertaris Jang—sekertaris ayahnya.

Yoboseo? Paman ?”

“…………………………..”

“Apa?!” Jonghyun berteriak, menatap Ibunya.

“Jonghyun-ah, ada apa?”

Omma…. Appa…” Ponsel Jonghyun terjatuh dari tangannya yang bergetar, air matanya menetes perlahan. Boyoung dan Yoona segera mendekatinya.

“Jonghyun? Kau kenapa?” Jonghyun tak menjawab saat ditanya, dia hanya mematung. Yoona memungut kembali ponsel Jonghyun yang jatuh, bisa dilihatnya panggilan masih tersambung, dia langsung menyerahkannya pada Boyoung.

Yoboseo?…………………..”

To be continued.

 

Thanks for wait, read, and leave comment for this series J

 

5 thoughts on “Aka-Midori [Chapter 5]

  1. Msh bngng , jd yonghwa msh suka sama yuna , yuna juga sama , sdngkan jonghyun suka juga sama yuna , ? Kiraiin jonghyun bkal suka sama yoona ,😦 knapa emaknya yonghwa benci bnget sama yuna , ??

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s