Missing You

missing you

Tittle                : Missing You

Author             : Ridygta Rika

Cast                 : Lee Jong Hyun ; Cho Neora

Genre              : Romance, AU

Length             : Oneshot

Disclaimer       : “Cerita ini murni karya saya, tidak menjiplak karya orang lain. Jika ditemukan suatu kesamaan itu hanya kebetulan semata. Lee Jong Hyun milik CNBLUE dan Cho Neora adalah karakter original yang saya buat.”

 

 

-oOo-

“Kau akan kembali sekarang?” Jong Hyun duduk sambil memperhatikan gadis pendek yang sedang sibuk menyiapkan makan malam mereka.

 

“Tidak sekarang, tapi besok.” gadis itu menjawab tanpa menatap Jong Hyun, berpura-pura tak peduli.

 

Jong Hyun menatap tajam ke arah sang gadis yang masih terlihat sibuk dengan kegiatannya. “Itu sama saja!” pekiknya kasar sambil menggebrak meja lantas berdiri meninggalkan ruangan itu.

 

Gadis itu termangu menatap kepergian Jong Hyun, ia sangat mengerti bagaimana perasaan kekasihnya itu, karena sebenarnya ia juga sakit karena harus berpisah. Tapi, ini adalah terakhir kalinya ia meninggalkan Jong Hyun, setelah ini ia bersumpah tak akan meninggalkan pria tampan itu lagi.

 

Sementara itu Jong Hyun pergi keluar dari apartemennya. Ia butuh udara segar sekarang. Pikiran dan hatinya sedang kacau karena keputusan kekasihnya. Dua minggu yang lalu mereka bertemu kembali setelah hampir 6 bulan tak bertemu, dan sekarang harus terpisah lagi. Dua minggu tentu tidak cukup bagi dirinya untuk melepas rindu, tapi ia tak bisa berbuat banyak untuk mencegah kepergian gadis itu.

 

Kenapa Jong Hyun tidak ikut saja?

 

Oh… jika saja Jong Hyun bisa, tentu dia akan mengikuti kemanapun kekasihnya pergi. Tapi, tanggung jawabnya di negara itu membuat ia tak bisa berbuat banyak. Bekerja sebagai salah satu Dewan Kedutaan Korea Selatan untuk Austria membuat Jong Hyun harus selalu berada di negara tersebut, kecuali untuk urusan resmi.

 

Suhu di Kota Wina hampir mencapai 4 derajat celcius, namun Jong Hyun tak menunjukkan bahwa dia kedinginan. Bukan karena dia memakai mantel atau pun baju tebal lainnya –ia bahkan hanya menggukanan kaos tipis berwarna hitam. Tapi, rasanya suhu Kota Wina malam ini tak sebanding dengan keadaan hatinya. Baru saja ia menemukan ‘okesigen’nya, sekarang harus dipaksa untuk melepas kembali.

 

Di sujut jalan Ring Boulevard, Jong Hyun menghentikan langkahnya, kemudian duduk di sebuah kursi tak jauh dari taman pusat kota itu. Sesekali tubuhnya diterpa angin malam. Kulitnya yang putih pucat nampak membiru karena hawa dingin yang kian rajin menyentuhnya. Tapi, Jong Hyun terlihat tak peduli, ia justru memejamkan matanya, seolah menikmati hembusan angin musim dingin yang lewat adalah angin musim semi yang segar. Memutar kembali memori kebersamaannya dengan Neora, gadis yang ada di apartemennya saat ini.

***

 

Tak Jauh berbeda dengan Jong Hyun, Neora pun merasakan kesakitan yang sama. Hampir dua tahun mereka berdua menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi. Bukan keinginan mereka tentu saja, tapi pekerjaan mereka lah yang menuntut seperti itu.

 

Neora yang adalah seorang penyanyi terkenal, tak bisa begitu saja mengumumkan hubungannya dengan Jong Hyun, terlebih lagi saat ini dia sedang berada di puncak karir. Mau tak mau ia harus menyembunyikannya. Berpura-pura tak mengenal Jong Hyun dan menyangkalnya di depan publik.

 

Tentu saja Jong Hyun sempat menolak. Laki-laki mana yang mau diperlakukan seperti itu? Tidak diakui dan justru harus rela melihat kekasihnya digosipkan dengan laki-laki lain. Tak ada yang mau diperlakukan seperti itu. Termasuk seorang dewan kedutaan muda bernama Lee Jong Hyun.

 

Neora masih begitu ingat ketika Jong Hyun mendiamkannya berhari-hari. Jong Hyun bukan tipe laki-laki yang akan langsung mengeluarkan isi hatinya, dia akan memilih untuk diam dan menghindar. Dan justru itulah yang membuat Neora sering merasa bersalah.

 

Chagi-ya[1]….” Rajuk Neora kala itu. Namun Jong Hyun tak bergeming, ia masih pura-pura sibuk dengan laptopnya.

 

“Bicaralah… jangan diamkan aku seperti ini,” oceh Neora dengan nada putus asa. Seketika luntur sudah pesona bintang yang Neora miliki. Tak ada Neora sang superstar, yang ada hanya gadis manis penyuka warna abu-abu yang sedang marajuk kepada kekasihnya.

 

Jong Hyun sebenarnya tak tahan berdiam lama-lama seperti itu. Itu menyiksanya, karena melihat gadisnya hampir menangis. Namun, sisi egois Jong Hyun lebih mendominasi. Ia lelah, meskipun ia mengerti dengan keadaan Neora, tapi ia ingin membiarkan egonya menang. Hanya sekali, malam itu saja.

 

Neora diam, ia tak mampu lagi berbicara atau merajuk. Ia pun tak akan merengek dan menangis karena dia bukan tipikal gadis seperti itu. Sama seperti Jong Hyun, dia akan diam, namun dengan mata yang berkaca-kaca.

 

Mianhae[2]….” Jong Hyun akhirnya bersuara. Ia menatap Neora yang sedang menunduk. “Aku selalu berusaha untuk mengontrol diri, tapi kali ini aku kalah,” Jong Hyun meraih dagu Neora, menatap manik gadisnya itu yang sudah penuh dengan lelehan air mata. “Uljimayo[3]… air matamu adalah kelemahanku. Aku tak akan pernah memaafkan diriku jika air mata itu keluar.”

 

Kilasan kejadian itu rupanya membuat hati Neora mencelos, perasaan sakitnya kini berganti perasaan hangat mengingat betapa pria bernama Lee Jong Hyun itu mencintainya. Sudah banyak kesakitan yang mereka lalui dan tinggal selangkah lagi untuk menuju gerbang pernikahan, Neora tak mau masalah seperti ini membuat semua rencana indahnya menjadi berantakan. Ia harus meyakinkan Jong Hyun bahwa ia hanya ingin menyelesaikan semua kontrak dan pekerjaan yang masih tertinggal di Seoul, lalu setelah itu mereka bisa menikah dan hidup bersama. Neora kemudian menyambar mantel hangatnya untuk menyusul Jong Hyun.

***

 

Jong Hyun menunduk sambil meremas rambutnya frustasi. Sudah satu jam lamanya ia duduk menyendiri di taman gelap tersebut. Berusaha mengontrol emosinya yang sedang meluap. Perasaan marah, kesal, dan ketidakberdayaan bercampur manjadi satu.

 

Saat mengetahui Neora akan datang dan mengunjunginya, Jong Hyun sangat bahagia. Neora bilang selama satu bulan dia akan menemani Jong Hyun menyelesaikan pekerjaannya, kemudian akan sama-sama kembali ke Seoul untuk melangsungkan pernikahan mereka. Tapi, telepon sialan itu mengacaukan segalanya.

 

Siapa lagi jika bukan agensi Neora yang memintanya untuk segera kembali. Kontrak terkahir, itu yang menjadi alasan! Tentu saja Jong Hyun marah, ia bahkan meninggalkan Neora begitu saja ketika mereka sedang bersama-sama mengunjungi Danube Tower[4]. Beruntung Neora cepat mengejar Jong Hyun sebelum laki-laki itu benar-benar meninggalkannya. Dan yang semakin membuat perasaan pria bergolongan darah O tersebut berkecamuk adalah kenyataan bahwa ia tak bisa menemani Neora kembali ke Seoul karena pekerjaannya di sini.

 

“Kenapa harus kembali secepat itu? Kenapa juga aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku? Kenapa takdir seolah tak pernah menginjikan kita untuk bertemu dalam waktu yang lama?!” Jong Hyun menggerutu cukup keras hingga membuat beberapa orang menatapnya heran karena ia mengoceh menggunakan bahasa korea.

 

“Jangan menggerutu seperti itu, mereka mengira kau orang gila.” Jong Hyun tersentak saat suara lembut Neora menyapa telinganya –bersamaan dengan balutan mantel yang menghangatkan tubuhnya. Pria itu sama sekali tak merasa heran bagaimana Neora bisa menemukannya, karena hampir setiap sore setelah ia pulang, ia selalu mengajak Neora berjalan-jalan ke taman ini.

 

Jong Hyun diam, tak berniat menanggapi ucapan Neora, hingga remasan dingin gadis itu ia rasakan semakin kuat di tangannya. “Jangan seperti ini, jebbal[5]….”

 

Mata kecil Neora menatap Jong Hyun penuh tatap sayang. Tangannya membelai wajah Jong Hyun yang terasa begitu dingin tak ubahnya sebongkah es. Lee Jong Hyun, laki-laki yang begitu Neora cintai dengan segenap jiwa raganya, Laki-laki yang dengan begitu sabar selalu mengerti semua keadaannya, laki-laki yang sering ia sakiti tanpa ia sadari. Laki-laki yang menjadi alasannya meninggalkan hingar-bingar dunia keartisan dan memilih untuk menjadi istrinya.

 

“Kesedihanmu adalah kelemahanku, aku tak akan pernah memafkan diriku jika kesedihan itu terpancar dari wajahmu.” Kata-kata itu pernah diucapkan Jong Hyun dulu, dan sekarang Neora mengucapkannya juga. Terdengar layaknya sebuah janji dari seorang dewi.

 

Tak tahan, Jong Hyun kemudian meraih dagu Neora dan mendaratkan bibirnya di bibir tipis Neora. Melumatnya dengan rakus seolah mereka tak akan pernah melakukan hal itu lagi. Di bawah pepohonan chesnut kedua pasangan berdarah asia itu saling berbagi perasaan dan kehangatan, mengabaikan suasan dingin dan gelap yang melekat di sekitar mereka. Wina, kota yang selalu menampakkan sisi gelap dan dingin kini terlihat menampakan satu sisi lagi yang tersembunyi, yaitu romantis.

 

Mianhae, aku tak bisa menahan kekesalanku saat kau bilang akan kembali besok, itu sangat menadak chagi… aku masih sangat merindukanmu.” Ucap Jong Hyun setelah melepaskan tautannya.

 

“Aku juga tak meyangka akan semendadak itu, tapi tenang saja, dua minggu lagi kita akan bertemu. Aku akan menunggumu disana.”

 

“Tapi, aku tak bisa pulang bersamamu. Pekerjaan itu benar-benar menjeratku.”

 

Gwenchanayo[6]… aku mengerti. Lagi pula aku bukan bayi yang harus selalu kau kawal, kan?”

 

“Tapi, kau adalah gadisku. Aku tak bisa membiarkan gadisku menempuh perjalanan begitu jauh seorang diri.”

 

Ini adalah kali pertama Neora menempuh perjalanan jauh seorang diri. Saat datang ke Austria dua minggu yang lalu, ia bersama teman Jong Hyun yang kebetulan sedang berada di Seoul dan kembali ke Wina.

 

“Sudahlah… aku akan baik-baik saja,” Neora tersenyum, berusaha meyakinkan Jong Hyun bahwa tak akan ada apa-apa dan mereka akan segera bertemu. “Ngomong-ngomong aku kedinginan.”

 

Jong Hyun melirik Neora dan baru menyadari bahwa gadis itu tak mengenakan mantelnya, “Babo[7], kenapa hanya membawa satu mantel?” Jong Hyun mencubit hidung Neora gemas.

 

“Hehe aku terburu-buru hingga tak ingat untuk membawa satu mantel lagi.”

 

“Kemarilah….” Jong Hyun berdiri dan menarik Neora ke pelukannya, berbagi kehangatan bersama. “Sebaiknya kita pulang, kau harus bersiap-siap untuk besok.” Neora mengangguk sambil mengeratkan pelukannya. Mereka kemudian berjalan menuju apartemen Jong Hyun dengan posisi saling memeluk satu sama lain.

 

“Jong Hyun-ah,”

 

“Hmm,”

 

“Bisakah malam ini kau memelukku hingga tertidur?”

 

“Baiklah… apapun yang kau inginkan, baby.”

 

***

 

Dalam balutan kemaja hitam lengan panjang, Jong Hyun nampak tengah serius mempelajari berkas-berkas di depannya. Setelah mengantarkan Neora ke bandara Internasional Schwechat, Jong Hyun kembali bergelut dengan berbagai dokumen kenegaraan di depannya.

 

Sebenarnya ia sama sekali tak konsentrasi dangan itu, pikirannya sedang terpusat kepada Neora. Sejak pagi Neora nampak sangat cantik dan selalu memamerkan senyum manisnya. Mata kecilnya senantiasa mengerjap lucu saat ia tertawa. Membuat Jong Hyun merasakan seberkas perasaan aneh saat terakhir kali melihat Neora tersenyum dan melambaikan tangan. Seperti perasaan perih yang teramat menyakitkan.

 

Cepat, Jong Hyun mencoba menampik perasaan tersebut dan berusaha mengalihkannya dengan bekerja. Ia mengambil i-pad-nya untuk memamantau perkembahangan hubungan kerja sama antara Korea dan Austria, ketika tanpa sengaja ia membaca headline sebuah portal berita online yang membuat dunianya berhenti saat itu juga.

 

“PESAWAT ROYAL DUTCH AIRLINE DENGAN NOMOR PENERBANGAN G088, TUJUAN WINA-SEOUL TERGELINCIR SAAT HENDAK MENDARAT UNTUK TRANSIT DI BANDARA INTERNSIONAL AMSTERDAM. TAK ADA KORBAN YANG DINYATAKAN SELAMAT.”

***

 

Seoul serasa berbeda bagi Jong Hyun. Seharusnya ia kembali ke kota ini tahun lalu untuk melangsungkan pernikahan. Yah… seharusnya, jika kecelakaan itu tak pernah terjadi.

 

Setelah kecelakaan pesawat yang menimpa Neora, Jong Hyun memang tak langsung kembali ke Seoul. Ia bahkan tak mengantarkan kepergian Neora untuk terakhir kalianya. Ia memimilih tetap berada di Wina, berpura-pura mengubur perasaannya di kota klasik itu. Walapun hasilnya, Jong Hyun tak jauh berbeda dengan manekin yang bernyawa.

 

Rasa hangat yang sempat ia dambakan di kota kelahirannya ini sama sekali tak ia rasakan. Jangankan hangat, saat pertama kali ia menginjakan kaki di Bandara Internasional Incheon, salju sudah lebih dulu menyambutnya. Meski tak sedingin dan segelap Wina, Seoul ternyata tak mau kalah menyambut Jong Hyun dengan suasana yang sama.

 

Kenapa kau menyambutku seperti ini? Batin Jong Hyun seraya menatap langit galap diatasnya. Dan sekarang udara serasa semakin dingin saat Jong Hyun sudah berada di samping makam Neora. Gundukan tanah itu telah mengubur kekasihnya, memupus semua harapan indah, serta membawa sebagian jiwanya.

 

“Meskipun aku berusaha meyakinkan diri ini, tetap saja semua tidak sama seperti dulu. Setiap malam-malamku serasa sama, seperti saat kau meninggalkanku.” Jong Hyun meletakkan setangkai bunga mawar merah di atas pusara Neora.

 

“Mulai hari ini aku akan menetap di Seoul, aku akan menemanimu. Kita berada dalam ‘bumi’ yang sama sekarang.” Kulit putih pucat Jong Hyun menyentuh batu nisan yang dingin. Pahatan di batu itu membuat lubang di hatinya yang selama ini perlahan ia tutup kembali terbuka. Bahkan dengan kesakitan yang berlipat ganda.

 

“Hatiku berontak untuk menemukanmu kembali. Mengapa semua ini tidak cepat berlalu? Sulit menjalani hidup ini tanpa kehadiranmu.”

 

Ingin rasanya Jong Hyun menangis, mengeluarkan segala bentuk kesedihan dan keperihannya saat ini. Tapi, ia tak melakukaannya. Perasaan Jong Hyun sudah mati, sebagaimana kematian yang menelusup dan memisahakan mereka. Kepergian Neora telah merenggut semua dunianya.

 

“Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang, tapi hatiku tak pernah berubah. Aku tahu aku memang bodoh karena berharap kau kembali. Jika kau melihatku sekarang kau pasti akan tertawa puas. Ahh… aku merindukan senyumanmu.”

 

Tapi, meskipun dunianya serasa mati, jauh dalam hatinya ia masih menyimpan sejuta perasaan kepada Neora. Senyum getir tersemat begitu saja di bibir tipis Jong Hyun, bersamaan dengan lelehan air mata kerinduannya yang akhirnya keluar tanpa mampu ia tahan.

 

Tak ada gunanya juga menyesali kepergian Neora, tak berguna pula menyalahkan diri sendiri. Ini semua sudah tersirat dalam garis takdir, tak ada seorangpun yang bisa merubahnya. Walaupun, hatinya remuk redam sekarang, tapi Jong Hyun merasa sedikit lebih baik karena bisa berada dalam satu bumi bersama Neora. Meninggalkan Wina dengan semua sudut gelap dan dinginnya. Melepaskan segala kesakitan dan penyesalannya. Merelakan kepergian kekasih hatinya.

 

Ia pun harus pula melanjutkan hidupnya setelah ini, meski ia sendiri pun tak tahu akan seperti apa kehidupan yang akan di jalaninya nanti.

 

“Aku pulang, tapi aku berjanji akan setiap hari datang untuk mengunjungimu.” Jong Hyun membelai batu nisan dingin itu, kemudian menciumnya lembut, sekelebat bayangan wajah Neora menghampiri benaknya, membuat hatinya kembali mencelos merindukan senyuman gadis itu.

 

“Ada atau tak ada, Neora bagiku akan tetap sama. Aku mencintaimu dan sangat merindukanmu.”

 

-FIN-

 

 

 

 


[1] Sayang

[2] Maaf

[3] Jangan Menangis

[4] Salah satu ikon kota Wina, berupa menara setinggi 252 meter yang terdapat sebuah restoran romantis di puncaknya.

[5] kumohon

[6] Tak apa-apa.

[7] Bodoh.

7 thoughts on “Missing You

  1. aduuhh..,
    pngen nangis bareng uri Jonghyun..
    *plak
    ini sad ending nih jadinya???
    aigoo., kasian bnget..,

    suka bnget ff ini,
    dan aku kebawa bnget sama jaln ceritanya..
    aku kaya ngerasain jga gmna rasanya pisah sama orng yng sngat kita sayang dngan cara yang..,tragis,

    rangkaian kata’ny bagus..
    dan sepertinya aku ngga nemuin typo..
    daebak,🙂

  2. wah eonni baru tau juga ada FF mu dsni.
    ckckkckc
    tragis bener sih nasibmu Neora,
    demen bgt ya ma kota Wina?? *bangga nama eonni tercantum. :p
    masih ada typo tuh,
    maap, knp ya, bwt eonni FF nya kurang ada feelnya.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s