Start and Finish

Cover Start and Finish

 

Start and Finish

Pagi ini masih sama sepeti kemarin, minggu lalu, bulan lalu, dan satu tahun yang lalu. Burung-burung yang bersiul, udara pagi yang dingin dan menyejukan. Semua ini selalu menyambut dirinya setiap hari. Satu tahun lalu, ia masih mengawalinya dengan senyuman. Tapi kali ini tidak, dia tak akan memaksa dirinya untuk tersenyum. Dia tak sebahagia dulu. Ketika dia menemukan seorang pria yang sangatlah ajaib.

Mata gadis itu menatap jendela yang menyilaukan, matahari pagi telah memasuki kamarnya. Sekali lagi, gadis itu menatap keluar. Membayangkan dirinya bersama dengan pria itu, menyiram satu persatu tanaman bersama, lalu saling berkejar-kejaran satu sama lain.

Kini bola matanya menatap ke arah sofa, sofa cokelat yang kosong. Kali ini ia membayangkan dirinya dan dia tengah melihat sebuah majalah, atau membaca sebuah novel yang sama sekali  tak dimengerti oleh pria itu.

Gadis itu memejamkan matanya, berusaha menelan rasa sakit yang selalu menghantuinya disetiap pagi. Gadis itu menyibakan selimut putih yang menutup tubuhnya. Dingin. Hawa dingin itu merasuk ke dalam tubuhnya, membuat gadis itu enggan untuk bangun. Dan sekali lagi ia terbaring, menutup kembali tubuhnya dengan selimut.

Jam dinding masih menunjukan pukul tujuh pagi, dan masih ada waktu tiga jam sebelum ia benar-benar keluar dari kamarnya dan kembali pada sore hari. Tapi sebuah suara memanggilnya, membuat gadis itu membuka kembali matanya. Bola mata itu mencari sosok yang memanggilnya, namun nihil. Tak ada satupun orang selain dirinya di kamar itu.

Dulu, ia tak sendirian. Ada seorang pria lugu yang selalu menemaninya. Ia senang mengajari semua hal yang ada di bumi. Mulai dari pakaian, buku, bagaimana mengatakan cinta, dan mengatakan berpisah pada orang yang di sayanginya. Pria ini tak bodoh, hanya saja dia bukanlah pria biasa.

***

Sebelumnya, belum pernah terpikir untuk melihat sebuah kejadian ajaib di depan matanya. Patung yang menjadi manusia, itu sama sekali tak mungkin. Gadis itu menampar pipinya keras, namun sama saja. Pria ini masih tetap berada di depannya. Malah, memandangnya lucu.

“Siapa kau?”

Seharusnya pertanyaan tersebut gadis itulah yang menanyakannya, tapi semua berbalik ke arahnya.

“Park Hyeri. Siapa kau?”

Suara gadis itu sedikit gemetar. Walau sedikit memaksakan dirinya untuk bertanya seperti itu. Walau setampan apapun pria di depannya, tetap saja ia takut.

“Kang Minhyuk. Aku tak percaya bisa hidup kembali”

Gadis itu berusaha menelaah tiap kalimat yang keluar dari bibir pria itu. ‘Hidup kembali? Apa ia sudah meninggal?,’ pikir gadis tersebut.

***

Hari-hari mulai berlalu. Layaknya seperti pelajar, tiap hari mereka melakukan hal-hal aneh yang sangat asing untuk dilihat. Bagaimana cara menyalakan TV, mencari chanel yang diinginkan, memainkan telepon genggam, mengetik di komputer, dan masih banyak lagi.

“Masa depan membuat ku bingung”

“Tidak, jika kau berhasil menguasainya”

Berulang kali pria itu mengatakan kata ‘Sulit’ dan selalu di tiap harinya. Bibirnya tak pernah lupa untuk mengatakan hal itu, bahkan semenit pun.

“Baiklah, apalagi yang harus ku pelajari?”

“Masih banyak. Mungkin ada yang ingin kau tanyakan?”

Gadis ini sudah terlalu bingung untuk mengajarkan berbagai hal. Namun, hanya beberapa yang ia bisa. Mungkin, jika pria ini tertarik pada sesuatu, ia akan mengerti.

“Apa itu.. Cinta?”

Gadis itu mengatupkan mulutnya, dia tak berani mengatakan sepatah katapun tentang cinta. Dia terlalu sibuk bekerja, bahkan untuk memikirkan masa depannya bersama lelaki lain pun, belum pernah.

“Cinta itu manis dan pahit”

Hanya itu yang dapat dikatakannya. Dia tak berpengalaman soal cinta, tapi ia pernah merasakan disaat ia merasakan hatinya berdebar-debar. Dan satu lagi, ia merasakan hatinya seperti bawang yang sedang di iris. Sangat perih.

“Seberapa manisnya?”

“Mungkin semanis gula”

“Bisakah aku merasakannya?”

Gadis itu kembali terdiam. Dia bukanlah peramal yang bisa meramal nasib seseorang. Ia juga bukan Tuhan yang bisa menentukan garis-garis untuk menentukan pasangan hidup seseorang. Ia juga bukan peri cinta yang bisa menyatukan dua orang.

“Mungkin”

Itulah kata yang keluar dari mulutnya. Tapi semua itu benar. Dia memang tak tahu apapun tentang jalan kehidupan pria ini. Mungkin ada jalan berliku di depan sana, atau jalan menurun di esok harinya. Gadis itu menggosok kedua telapak tangannya, berusaha menghilangkan rasa dingin yang mulai menjalar masuk ketubuhnya.

“Dingin?”

Mungkin ini yang kedua kalinya, ia dapat merasakan sebuah kehangatan di dalam hatinya. Merasakan sebuah tubuh hangat yang memeluknya. Pria ini tengah memeluk tubuhnya, membiarkan sebuah kehangatan merambat masuk ke dalam tubuh gadis tersebut. Rasanya, ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di perutnya, rasanya geli.

Seperti sebuah peringkat, level kesepuluh telah dipecahkan oleh pria ini. Sebuah peringkat untuk meruntuhkan dinding tebal yang melapisi gadis tersebut. Belum pernah ada yang meruntuhkannya sampai level 5. Hanya saja, ada kemungkinan untuk pria ini.

Hari demi hari mulai berlalu, pria itu tak selugu yang dulu. Dia mulai tahu cara menggoda wanita. Dan gadis itu menyesal telah mengajarkan padanya.

“Bagaimana kalau aku mencintai mu?”

Gadis itu hanya tersenyum, tetap memotong sayur-sayuran yang akan dimasaknya. Sudah banyak perkataan manis yang diucapkan pria ini dan telah berhasil menipunya. Ia tak mau semua terjadi lagi. Ia tak mau tersipu malu di depan pria ini sekali lagi.

“Aku bersungguh-sungguh”

Mungkin, pria ini benar-benar mengatakannya dengan tulus. Gadis itu dapat merasakannya dari suara dalam yang dikatakan pria tersebut. Gadis itu hanya tersenyum ke arah sang pria. Ia tak mau menyebut nama pria itu, bahkan sejak mereka bertemu. Ia takut tak bisa melupakan nama tersebut.

Pria itu memeluk lembut gadis itu. Membenamkan kepalanya pada bahu hangat gadis tersebut. Minhyuk dapat merasakan jantungnya yang berdebar di belakang punggung Haeri.

“Kau sudah terlalu pintar, kau sudah tahu bagaimana mengatakan cinta. Tapi, kau pasti belum tahu cara berpisah bukan?”

Gadis itu mengelus lembut pipi Minhyuk, menikmati tiap menit kehangatan yang ia rasakan dari pria ini. Cinta, dapat membuatnya bahagia. Tapi, ia takut akan rasa sakit saat ia ditinggalkan.

“Itu bukan masalah, kita akan bahagia selama bersama. Jadi, nikmatilah”

Haeri memutar tubuhnya, menggantungkan tangannya pada leher Minhyuk. Bibirnya mengeluarkan alunan nada yang mengiringi dansa mereka. Sesekali, mereka bergerak ke kanan, kiri atau mundur. Mereka melakukannya sesuai hati mereka. Melupakan semua kenyataan, berbagi kehangatan satu sama lain.

“Saranghae”

Kata itu meluncur dengan mudahnya dari pria itu, mungkin dia masih belum mengerti arti cinta. Jika ia mencintai seseorang, dia harus merelakan hatinya untuk menahan rasa sakit yang tak tertahankan.

***

 “Bagaimana cara berpisah?”

Pertanyaan itu baru saja dilayangkan Minhyuk pada dirinya. Numun, gadis itu berpura-pura tak peduli. Dia terlalu egois untuk membiarkan Minhyuk pergi. Dia masih ingin merasakan cinta tulus itu. Dan bisakah selamanya?

“Apakah dengan mengatakan selamat tinggal saja sudah cukup?”

Pria itu terus melayangkan beberapa pertanyaan pada gadisnya. Ia masih terlalu lugu untuk semua itu. Dan seharusnya pria tersebut tak memulainya terlebih dahulu.

“Apa kau ingin meninggalkan ku?”

Tanya Haeri tanpa menatap Minhyuk. Ia masih tak sanggup melakukannya, ia takut tak dapat melupakan pria itu.

“Aku hanya takut meninggalkan mu. Maka dari itu, aku ingin tahu bagaimana caranya agar tak menyakiti mu”

“Kalau begitu jangan tinggalkan aku”

“Kita manusia, kita dapat pergi kapanpun sesuai yang Tuhan kehendaki”

Tangis gadis itu mulai meledak, ia tak kuasa menahan butiran bening yang tadi sempat tertahan di pelupuk matanya. Dan pria itu memeluk gadisnya. Membuat gadis itu merasa aman sebisa mungkin.

“Maaf karena aku terlalu egois. Tapi, aku benar-benar ingin kau tetap di sini”

Gadis itu menutup mulutnya kemudian, berusaha memendam suara isaknya agar tak terdengar.

“Itu bukan salah mu, tapi salah ku”

“Maaf karena aku memulai semua ini, maaf suatu saat nanti aku akan mengakhirinya. Tapi, aku hanya ingin tahu bagaimana caranya agar kau tak menyesal setelah aku pergi”

Gadis itu tetap terisak, ia masih tak bisa menjawabnya. Dia terlalu sakit setelah mendengar semua ini. Menyesal? Tentu saja ia akan menyesal. Andai ia tahu lebih awal, ia akan pulang ke rumah, membiarkan arkeolog lain yang menemukan pria itu, bukan dirinya.

***

 “Bisakah aku memeluk mu?”

Gadis itu tersenyum, lalu melingkarkan tangannya pada pinggang lelaki tersebut. Hangat. Sangat hangat, ia belum pernah merasakan ini lagi sebelumnya. Kemarin, ia merasakan hawa dingin yang sangat menusuk, setelah pria itu bertanya bagaimana caranya berpisah. Tapi, kehangatan itu kembali padanya.

“Jangan pernah bertanya seperti itu lagi”

Pria itu hanya mengangguk, di bibirnya terpasang senyuman manis. Rasanya, ruangan itu beberapa kali lebih terang. Mungkin tak membutuhkan lampu untuk menerangi ruangan itu, hanya cukup dengan senyumnya.

“Terimakasih”

Pria itu berkata sambil tersenyum dan menatap mata hitam itu. Mengajak gadisnya untuk ikut tersenyum.

“Tidak. Cinta tak mengenal ‘Terimakasih’ dan ‘Maaf’. Mereka hanya mengenal romantisme, kesenangan dan sakit. Hanya itu”

Bodoh. Kenapa ia mengatakan hal itu? Sakit? Tidak, ia belum merasakannya sampai sekarang dan berharap sampai kapan pun.

“Baiklah. Aku senang bersama mu, dan sedih jika meninggalkan mu”

Gadis itu tersenyum. Pria ini terlalu pintar untuk hal ini. Dan sekali lagi gadis itu tersenyum pada Minhyuk.

Malam ini langit bertaburan dengan bintang. Layaknya sebuah baju indah dengan manik-manik di atasnya. Manik itu dapat hilang. Sama halnya seperti bintang yang mulai tertutup awan sejak hari itu.

***

Semuanya menghilang, suara itu, wajah itu, kehangatan itu. DIA telah kembali pada kehidupannya. Menjadi sebuah benda yang tak dapat bergerak. Mungkin ia masih dapat melihat keseharain gadis itu, hanya bernapas tanpa tujuan hidup. Jika boleh memilij, ia akan terjun pada jurang yang dalam. Membiarkan rasa sakit itu mulai menghilang diiringi kematiannya. Tapi ia tak bisa, masih ada sebuah pekerjaan yang dilakukannya.

Angin pagi masih berhembus pagi ini, gadis itu membuka telapak tangannya. Berusaha menangkap angin yang terus berhembus di sekitarnya.

Angin. Mereka tak dapat ditangkap, walaupun mereka tertangkap. Mereka akan kembali terlepas saat kau membuka telapak tangan mu. Sama halnya seperti cinta, kau tak bisa menggenggamnya se-erat mungkin, mereka akan sesak, lalu mati. Dan kau tak bisa melonggarkannya, karena mereka akan pergi.

Kau tak dapat menunggu cinta yang telah pergi, karena mereka tak akan kembali. Jangan melihat kebelakang, karena kau akan jadi pecundang.

 

END

 

9 thoughts on “Start and Finish

  1. hmmmm..,
    ini, jadi’ny sad ending yah??
    aku ngga spenuhnya ngerti nih..,
    jdi Minhyuk ntu dteng dri masa lalu ya??
    mnjelma dlm bntuk boneka yng bisa idup??
    dan pkerjaan apa yng msih hrus dilakukan??
    duh..,
    mian ya.., hehe,
    atau, apa bakal ada sequelnya??/abaikan

    terlepas dri itu, aku suka bnget ff ini.,
    rangkaian kata’ny bagus,..
    daebak,🙂

    • yup, sad ending..
      sebenarnya, awal aku bikin kisah ini itu begini. Aku kepikiran ttg seorang arkeolog yg menemukan sebuah patung. Patung dr masalalu yang berubah menjadi manusia..

      iya gpp kok, aku jg ngeraguin orang bakal ngerti cerita ini atau enggak. dan udh lama bgt aku ngirim cerita ke sini -V

      Sequel ya? aku agak ragu.. bahkan ga kepikiran untuk buat *plakk
      kata”nya bagus? wkwkwk aku msh ga percaya jujur.. Karena aku jg masih belajar untuk bikin kalimat. Mungkin kata-katanya jadi bagus karena setiap ff aku dihayati dengan kegalauan wkwkwk..

      makasih banyak ya udah baca😀

  2. fix.. ini sedih banget..
    mungkin awal2 aku nggak ngerti, tp lama2 nyatanya minhyuk adalah boneka yg hidup. datang lalu pergi. menyedihkan..
    tapi aku suka rangkaian kata2nya.. ada feelnya..
    semangat semangaaat😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s