Heart

heart

Title : Heart

Author : Mona

Rating : PG-13

Genre : Romance, sad

Length : One Shoot

Main Cast: Lee Jonghyun (CNBLUE), Park Hyun Hee (Ocs)

Other Cast: Park Hyera (Ocs)

Disclaimer: Asli buatan saya sendiri, dan terinspirasi dari seseorang yang teramat tampan. Ini hanya kebohongan, yang sebenarnya menjadi inspirasi saya adalah sebuah sepeda barulah seorang pria.

Note: Just happy reading🙂 and don’t forget to give me a comment

Heart

Ini hanya tentang hati. Hati yang tak dapat mengatakan apapun. Ia hanya dapat merasakan seberapa sakitnya saat orang lain mencampakan dirinya atau betapa bahagianya saat orang itu datang kembali. Dia –gadis itu- merutuki hatinya sendiri. Ia dapat kesal sewaktu-waktu, tapi akan merasa baik setelah beberapa menit, setelah itu ia akan tersenyum bersama orang yang telah menyakiti hatinya.

***

Dia mulai membuka matanya hari itu, menatap langit-langit yang terlihat lusuh. Sudah sangat tua sepertinya. Dulu, ia akan melihat langit-langit berwarna putih bersih dengan sebuah lampu yang telah dimatikan. Dulu akan ada suara lembut yang membangunkannya. Tapi suara itu bukan untuknya sekarang.

Jadi ia mulai bangkit, berjalan menuju lemari kayunya yang telah rusak. Bahkan pintunya sudah tak dapat terpasang dengan baik. Sama seperti hatinya yang tak dapat merasakan apapun sekarang.

***

Ia mulai berjalan menuju ruang makan, ia dapat mendengar suara-suara yang mulai ramai. Biasanya ia akan ada dikegaduhan pagi itu. Tapi sekarang tidak, tak ada tempat yang tersisa untuknya. Gadis itu berdiri diam sebelum keluar dari tembok tempat persembunyiannya. Apakah ia harus keluar dan langsung pergi? Dan tak mendengar suara yang memanggilnya untuk sarapan? Atau ia harus diam beberapa menit sampai mereka pergi? Lalu berjalan keluar? Entah, gadis itu memilih untuk duduk diam dibalik tembok. Dia dapat mendengar piring dan garpu yang beradu. Dia dapat menghirup enaknya sandwich isi yang masih hangat. Perutnya mulai berbunyi. Tidak, dia tak dapat memakan makanan itu lagi. Dan dia tak bisa makan di meja itu lagi. Ia hanya bisa tidur dan belajar di rumah ini. Selebihnya ia harus mencarinya sendiri.

“Kajja kita berangkat,” ucap sebuah suara lembut.

Gadis itu dapat mendengar suara langkah kaki yang mulai menjauh. Bahkan mereka melupakan dirinya untuk berangkat bersama. Menyedihkan. Gadis itu mulai bangkit, berjalan keluar rumah. Udara sejuk mulai menyapanya, menyapu lembut pipi putih yang mulai pucat itu. Dia berdiri di depan gerbang, menunggu seseorang yang masih memperdulikannya.

TING!

Telinganya dapat mendengar suara bel sepeda yang mulai mendekat. Ia tahu siapa itu. Dia mulai memaksakan sebuah senyum terukir di bibirnya, lalu mendongak seperti orang yang -sangat- baik-baik saja.

“Ayo naik, Hyun Hee,” ujar pria itu pada gadis di depannya.

Gadis itu berjalan, lalu duduk dibantal empuk yang disiapkan oleh pria itu. Tangan kanannya mulai memeluk pinggang pria itu. Hangat. Sangat hangat. Ia suka tiap kehangatan dari pria itu. Hanya saja, ia tak tahu kapan pria itu akan pergi.

“Bagaimana pagi ini?”

Kenapa pria itu harus menanyakan hal ini? Hyun Hee tak tahu apa yang harus ia katakan untuk menjawabnya.

“Baik, sangat baik”

Ia tak tahu ini hari keberapa, dan ia tak tahu sudah berapakali ia membohongi pria ini. Ia tak ingin merepotkan pria itu lagi bahkan berkali-kali. Ia tak mau menyusahkannya, lagi.

“Kita sampai,” kata pria itu sambil menurunkan kakinya untuk mengerem.

Gadis itu turun, lalu menunggu pria itu memarkirkan sepedanya di tempat yang agak luas tak jauh darinya. Gadis itu mendengar sebuah kendaraan bermesin halus yang tengah melaju mendekat. Ia tahu kendaraan siapa itu.

“Sampai jumpa nanti malam, eomma,” ujar seorang gadis sambil melambai ke arah mobil.

Hyun Hee hanya dapat diam, tenggorokannya terasa tercekat. Dulu, dialah yang akan turun dari mobil, melambaikan tangannya dengan sebuah senyuman kepada pria dan wanita di dalam mobil itu. Tapi sekarang tidak.

“Ayo,” kata pria itu sambil menarik tangan Hyun Hee.

“Biarkan aku jalan sendiri, Jonghyun,” ujar Hyun Hee sambil melepaskan tangannya dari genggaman Jonghyun.

Pria itu, Lee Jonghyun. Dia selalu berada di samping gadis ini. Bahkan ketika gadis itu tahu siapa dia yang sebenarnya. Jonghyun melihat gadis itu menatap Hye Ra. Gadis itu membawa roti di tangannya. Dan Jonghyun mengerti dengan gadis ini.

“Ayo ke kantin dulu”

“Tidak, aku masih kenyang”

“Jangan berbohong”

Gadis itu menunduk. Bagaimana pria ini tahu? Apakah perutnya berbunyi dengan sangat keras? Hingga pria ini tahu bahwa ia belum memasukan apapun ke dalam perutnya.

“Aku masih bisa menahannya, hingga istirahat tiba,” ujar Hyun Hee sambil tersenyum.

Jonghyun tak dapat melakukan apapun. Ia tak dapat memaksa gadis itu, ia takut menyakiti hati Hyun Hee.

***

Mereka berdua –Jonghyun dan Hyun Hee- duduk berhadap-hadapan di sebuah meja. Ada seplastik roti di atas meja, Jonghyun baru membelinya.

“Makanlah,” kata Jonghyun sambil mendorong roti itu.

“Tidak, kau pasti juga lapar,” kata gadis itu sambil mendorong roti itu kembali.

“Aku sudah sarapan, kau belum,” pria itu kembali mendorong roti itu.

Gadis itu tersenyum, lalu mengambil roti berisi cokelat itu. Dia membelahnya menjadi dua, memberikannya pada Jonghyun. Jonghyun tersenyum, mengambil roti itu dari Hyun Hee.

“Pindah saja ke rumah ku,” ujar Jonghyun sambil memperhatikan roti yang sedang dilahapnya.

“Apa kau bercanda?,” tanya Hyun hee, lalu terkekeh pelan.

“Tidak, ku jemput pukul tiga”

Apakah dia seorang malaikat? Hyun Hee tak pernah tahu siapa Jonghyun yang sebenarnya, apakah ia seorang pangeran yang menolong seorang putri? Tidak, itu hanyalah dongeng. Kenapa pria ini memperdulikannya disaat semua orang menganggap dirinya tak ada?

***

Jonghyun mempercepat gerak kakinya, ia terus mengayuh sepedanya dengan cepat. Dia kembali membunyikan bel sepedanya. TING! Gadis itu menengadahkan kepalanya, tersenyum samar ke arah Jonghyun.

“Wah, banyak sekali bawaan mu”

Gadis itu kembali tersenyum, lalu membawa tas sekolah dengan tangannya.

“Apa kau yakin tak apa?”

Gadis itu terlihat ragu, bahkan dia terus menatap Jonghyun sedari tadi, memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Bukankah kau akan tahu, apakah mereka menyayangi mu atau tidak?”

Gadis itu mengangguk pelan, lalu duduk dibantal merah kecil di sepeda itu. Mereka mulai bergerak perlahan. Dan Hyun Hee masih memandang rumah itu. Bisakah ia kembali merasakan kehangatan itu? Ia hanya berharap mereka akan mencarinya.

Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah yang tak terlalu besar milik Jonghyun. Ada seorang wanita yang masih menggunakan celemek. Hyun Hee menebak-nebak umur wanita itu, sekitar 40 tahun. Tapi masih terlihat sangat muda.

Wanita itu memeluk gadis itu. Hyun Hee tersenyum, setelah beberapa bulan tak merasakan pelukan ini, ia sadar bahwa ia benar-benar merindukan pelukan seorang ibu.

“Kelarga baru kami seorang gadis cantik? Eomma benar-benar berterimakasih pada Jonghyun”

Wanita itu benar-benar terlihat bahagia. Hyun Hee dapat merasakan bahwa ada semangat untuk hidup. Masih ada yang menginginkannya di rumah ini. Mungkin ini kehidupan barunya. Tak ada balkon dengan udara dingin yang menemaninya sekarang, rumah ini tak bertingkat. Tapi ia punya dua orang, yang mungkin akan ada di sampingnya.

***

PRIT!

Sebuah peluit terdengar nyaring pagi ini. Dari kamar baru Hyun Hee. Hyun Hee menutup telinganya cepat. Lalu membuka matanya cepat. Dia tak pernah berpikir bahwa pria itu sejahil ini.

“Apa kau ingin membuat ku kena serangan jantung?!”

Jonghyun terkekeh pelan, lalu mengecup dahi Hyun Hee cepat. Hyun Hee hanya dapat diam, jantungnya berdebar kencang. Dan dalam tiga detik, dia kembali sadar.

“Pagi ini akan menyenangkan, bangunlah”

Jonghyun menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh Hyun Hee, dia menarik tangan gadis itu untuk keluar. Mungkin ada yang ingin ditunjukannya. Mereka berjalan menuju ruang makan, Jonghyun melepas tangan gadis itu, lalu membiarkan Hyun Hee berdiri diam di sana.

“Ayo makan”

Wanita itu memanggil Hyun Hee, menyuruh gadis itu untuk ikut bergabung di meja makan.

“Tapi hanya ada tiga piring di sana”

“Kami bertiga, dengan kau,” kata Jonghyun sambil menarik Hyun Hee yang terlalu lama.

“Kami tinggal berdua sejak tahun lalu, appa Jonghyun meninggal karena kecelakaan,” terang ibu Jonghyun.

“Mianhae,” lirih Hyun Hee.

“Untuk apa meminta maaf? Justru kami senang dengan kedatangan mu”

Jonghyun dan eommanya tersenyum ke arah Hyun Hee. Senyum di bibir Hyun Hee merekah. Benarkah mereka senang dengan kedatangannya? Sangat membahagiakan.

Mereka makan bersama, menikmati tiap menit kebersamaan. Ibu Jonghyun yang hangat, membuat Hyun Hee nyaman saat di dekatnya. Dia bisa merasakan kasih sayang yang benar-benar tulus. Ia tak ingat hari yang lalu, dia hanya ingat hari dan seterusnya.

Dan mereka tumbuh bersama, selalu bersama. Layaknya seorang kakak dan adik yang diasuh oleh ibunya. Jadi, mereka tak pernah melewatkan semenitpun tanpa kebersamaan.

Hari ini malam tahun baru, semua orang akan pergi melihat kembang api. Begitu juga dengan Jonghyun, ia ingin mengajak Hyun Hee ke sana, tapi gadis itu terus menolak dengan alasan ibunya akan kesepian. Sehingga Jonghyun disuruh membelikan beberapa camilan untuk tengah malam mereka. Hyun Hee lebih suka membuat kehangatan tersendiri di rumah, bahkan ia sering melupakan Jonghyun karena ibunya. Tapi, itu bukan masalah, walau gadis itu terus mengingat ibunya, Jonghyun dapat memastikan bahwa ia ada di dalam hati gadis itu.

“Eomma mau biskuit kering?,” tawar Hyun Hee sambil menyodorkan sepiring kue-kue manis.

Perempuan yang mulai terlihat tua itu tersenyum, lalu menguap lelah. Perempuan itu menatap Jonghyun, memberi isyarat untuk keluar, tentunya dengan gadis itu. Mengisyaratkan agar mereka berdua menikmati malam tahun baru dengan kembang api di festival yang tak jauh dari rumah. Jadi Jonghyun menarik gadis itu dan berjalan melewati gang-gang kecil dan gelap. Tapi mereka tak membutuhkan penerang untuk berjalan, karena mereka hanya membutuhkan cinta sebagai penunjuk arah.

Mereka berdua duduk dibawah pohon dengan tikar yang mereka sewa. Ada beberapa cahaya terang di langit, berkilau, lalu menghilang. Sama seperti Hyun Hee, dia masih mempertanyakan kapan pria ini pergi? Meninggalkannya seperti yang lain.

“Kau tak sedih?,” Jonghyun kembali bertanya, bertanya tentang masa lalunya sekarang.

“Bukan kah kenyataan terkadang menyakitkan”. Gadis itu tersenyum, lalu menundukan wajahnya.

Hyun Hee, seorang gadis yang awalnya hidup bagaikan seorang putri. Ia mempunyai semuanya, dapat memiliki semuanya. Dia putri dari keluarga Park. Tidak, sebenarnya dia bukan anak mereka, ibunya menukar dia dengan anak dari keluarga Park. Hye Ra bagaikan sebuah bunga indah yang menelannya dalam-dalam. Sial. Itu sangat menyakitkan, disaat ia akan bersama dengan orang tuanya, dia harus menyendiri, menyedihkan. Dia benci pada ibunya yang telah menukar dia dengan Hye Ra. Karena, semua orang terus melimpahkan kesalahan padanya. Ia tak ingin ditukar, ia juga menginginkan kasih seorang ibu. Hangatnya belaian tangan ibu di kepalanya. Tapi, ia hanya dapat diam, merasakan sendiri sakitnya sebagai seorang penjahat besar.

“Bahkan mereka tak mencariku, Hyun-ah”. Sekali lagi gadis itu tersenyum, kecut.

Mereka tak mencarinya, disaat Hyun Hee meninggalkan rumah hari itu. Menyedihkan. Sebelumnya ia tahu, kalau mereka tak akan mencari bahkan memperdulikannya. Tapi, ia berharap pada bintang yang tak mungkin dicapai. Disaat ia terbang, sayapnya lepas, dan terjatuh dengan keras ke tanah. Menyakitkan. Mungkin seharusnya ia tak melakukan hal itu. Tapi, jika tidak, ia tak akan menemukan kebahagiaan bersama Jonghyun dan seorang perempuan yang ia anggap ibunya sekarang.

“Tapi kau lupa satu hal Hyun Hee,” Jonghyun mulai berbicara, masih memandang langit yang mulai sepi. Mungkin tinggal mereka berdua.

Gadis itu tersenyum, lalu menatap Jonghyun, menantikan perkataan yang akan keluar dari mulutnya.

“Aku berharap hanya akan ada kebahagiaan saat kau pindah ke rumah ku. Kau bisa melupakan semua rasa sakit itu, menciptakan dunia baru dalam memori mu. Tapi, ternyata masih tidak bisa, kau tetap akan mengingat seberapa sakit saat mereka mencampakan mu. Menganggap mu tak ada. Tapi satu hal yang perlu kau ingat,” Jonghyun menghentikan perkataannya, memegang kedua bahu Hyun Hee sambil menatap manik mata gadis itu dalam.

“Kau punya ibu yang tengah beristirahat di rumah. Kau punya seorang kakak yang akan terus membantu mu, memberi mu semangat saat kau susah saat itu. Kau punya seorang pria yang bisa kau andalkan, dia tak mempermainkan mu selama ini, kau tahu siapa pria itu bukan? Jadi, kau punya semuanya, jangan pernah bandingkan keluarga kecil ini dengan keluarga mu yang dulu. Karena kami punya kehangatan yang lebih dari mereka, lebih dari yang kau harapkan”

Gadis itu tersenyum, dari bola matanya, memantul cahayan kembang api yang ada di langit. Ya. Hatinya akan ada di sini bersamanya sekarang.

“Aku punya seorang ibu yang cantik dan ia sedang istirahat di rumah. Aku punya seorang kakak yang tampan dan selalu bisa diandalkan. Aku punya seorang pria yang bisa menjaga ku, memberikan ku kebahagian. Lebih dari yang orang lain miliki. Aku punya segalanya. Maaf aku tak merasakannya saat itu, tapi percayalah, hati ini akan ada di sini mulai sekarang”.

Gadis itu tersenyum sekali lagi, memandang mata Jonghyun yang hangat. Ia ingat saat pria ini menyanyi di jalan untuk mendapatkan uang. Padahal itu tak terlalu penting, hanya tas Hyun Hee yang telah lusuh dan mulai terlihat tak layak pakai. Ibu nya tak mempunyai cukup uang untuk memenuhi kebutuhan yang tak terlalu penting. Sehingga Jonghyun menyanyi di jalan. Suaranya lumayan, bisa menarik beberapa orang untuk menyisihkan uang untuk orang tak berkecukupan. Pria ini punya segalanya, ia punya keberanian untuk segala hal. Hyun Hee pernah berpikir bahwa gadis yang memiliki Jonghyun akan sangat beruntung. Ia tak yakin jika Jonghyun akan terus bersamanya, jadi dia mulai merusak bunga yang mulai tumbuh di hatinya. Merusak segala perasaan di sana.

“Tapi aku harus pergi,” ujar Jonghyun yang masih menatap Hyun Hee.

“Pergilah jika kau mau, dan kembalilah jika kau ingin”. Hyun Hee tak dapat melarang pria itu untuk pergi, dia juga tak dapat menutup pintu saat pria ini kembali. Jonghyun yang membukakan pintu untuknya, untuk sebuah hidup yang lebih baik. Jadi, ini adalah balas budi atau sebuah perasaan tak tega karena cinta? Hyun Hee tak dapat membedakannya. Yang jelas, ia mengharapkan pria ini kembali.

Jonghyun melepaskan kalung dengan sebuah cin-cin di lehernya, memakaikannya di leher Hyun Hee.

“Maaf jika tak bagus,” lalu dia terkekeh pelan sambil memeluk gadis itu.

“Aku berjanji, akan menggantinya dengan yang lebih bagus saat aku pulang”

“Ya, saat kau benar-benar pulang ke rumah,” Hyun Hee tersenyum.

***

Gadis itu masih menunggu, menunggu, dan menunggu. Ia tak tahu kabar pria itu, ia tak tahu apakah ia akan kembali padanya atau tidak. Apakah ia masih bisa menggantungkan harapan pada pohon harapannya. Jonghyun pergi ke LA. Dia bilang akan belajar tentang musik di negara besar, ia tak tahu di belahan dunia mana pria itu berada. Dia tak tahu apakah Jonghyun tidur dan makan dengan baik di sana. Tapi ia yakin kalau pria itu akan selalu baik di tiap harinya, jadi dia mempercayai pria itu.

Ini sudah empat tahun seribu delapan ratus dua hari, sudah lewat dari hari yang mereka janjikan. Hyun Hee hanya tersenyum saat hari itu datang, dan berpikir bahwa pesawat sedang bermasalah. Dan ini hari yang ketiga dari tanggal yang ditentukan, Hyun Hee masih menunggu. Ia tak menunggu di bandara, ia menunggu di bawah pohon sakura saat musim gugur. Dan hangatnya matahari sore mulai tak terasa, karena angin yang terus bertiup.

Saat itu ia mulai berpikir bahwa pria itu tak akan kembali. Ia benci dengan dirinya sendiri, kenapa ia selalu mengingat janji-janji yang tak akan ditepati. Dan ia bukanlah siapa-siapa untuk di ingat oleh Jonghyun. Dia bukan ibunya, atau adiknya, atau pacarnya. Dia hanyalah gadis yang terlihat memelas, seperti kucingyang kehilangan tempat tinggal. Lalu dipungut oleh seorang pria yang menjadi tuannya, menyedihkan.

Saat itu pukul lima sore, ketika semua orang baru saja pulang dari pekerjaanya, dan berjalan pulang ke rumah. Hyun Hee mengikuti semua itu, ia berjalan menuju rumah. Bukan rumah yang berbentuk bangunan, ia ingin rumah yang selalu mendekapnya, Lee Jonghyun, dia ingin rumah ini. Bisakah ia menemukannya?

Dan ketika ia mengingat awal pertemuannya dengan pria itu, di jalan yang sama yang ia lalui sekarang. Saat itu ia membawa kantung belanjaan, dan Jonghyun mengendarai sepedanya. Mereka selalu bertemu di sore hari, di pukul lima lewat dua puluh menit, di saat matahari mulai meredup. Di saat pria itu tersenyum padanya di detik ketiga saat mata mereka bertemu. Di saat pria itu berhenti dan mulai memboncengnya dengan sepeda tua yang ia miliki. Tanpa sadar Hyun Hee merindukan sepeda tua yang rantainya mulai berdecit, ia tak tahu di mana sepeda itu sekarang. Sepeda itu di jual oleh Jonghyun sebelum dia pergi. Dan Hyun Hee kembali menemukannya, menemukan pria dengan jaket abu-abu berjalan berlawanan arah. Dia tersenyum, benarkah? Benarkah itu pria yang ia inginkan? Dia terus berjalan, menatap pria itu. Satu detik, dua detik, tiga detik kemudian mata mereka bertemu. Tak ada senyuman dari keduanya, lalu mereka saling melewati satu sama lain. Satu langkah, dua langkah, Hyun Hee berhenti, lalu tersenyum kecut. Harusnya ia menyiapkan hatinya, dan harusnya ia lebih menyadari kalau ia bukanlah siapa-siapa untuk pria itu. Hyun Hee kembali berjalan sampai ia mendengar suara itu.

“Kau berubah, Hyun Hee-ya”

Hyun hee mengulum senyum, menitikkan beberapa air mata di pipinya. Setidaknya pria itu masih ingat namanya.

“Apa kau tak merindukan ku?”

Pria itu masih bertanya, menatap punggung Hyun Hee yang tak jauh darinya. Gadis itu berbalik, lalu memeluk pria itu.

“Tidak, aku tidak berubah, aku masih sama. Tentu aku merindukan mu, sangat merindukan mu”

Jonghyun hanya tersenyum saat gadis itu mulai menangis dan menceritakan seberapa kesepiannya ia tahun-tahun yang dilaluinya. Sementara Jonghyun hanya dapat meminta maaf atas waktu yang telah ia gunakan untuk meninggalkan gadis itu.

“Jadi kau pulang ke rumah sekarang?,” tanya Hyun Hee memastikan.

“Ya. Aku pulang ke rumah untuk orang yang aku cintai, unuk gadis yang ku sayangi. Dan untuk perempuan yang akan menjalani hidupnya bersama ku. Dan untuk seorang ibu yang akan mengurus anakku,” Jonghyun tersenyum sambil melepas kalung yang masih berada di leher Hyun Hee. Lalu menyematkan cin-cin di jari manis gadis itu.

“Jadi ini lamaran?,” tanya Hyun hee sambil menatap cin-cin, lalu menatap Jonghyun.

“Ya, jika kau mau kita bisa menikah besok”

“Tidak. Aku tak mau cepat-cepat menjadi seorang ibu. Aku masih ingin berdua dengan mu”

Jonghyun hanya tersenyum, lalu mereka bejalan bersama di antara kerumunan orang yang berjalan sendiri. Terkadang mereka tertwa sambil membiarkan rasa rindu itu menguap secara perlahan.

Dan saat Jonghyun menggenggam tangan gadis itu, dan tak membiarkannya pergi meninggalkannya. Ia akan memaksa gadis itu tetap di sisinya, dan memaksa gadis itu tidak bangun sebelum ia juga bangun dari tempat tidur. Ini hidupnya, sebuah kebahagiaan yang ia ciptakan bersama pria itu, ia suka segalanya, dan kehangatan di tiap detiknya.

***

Aku menemukannya di sana,
diantara beberapa pria yang berbaris,
dia tampan, aku suka senyumannya,
dia terlihat seperti pria yang dingin,
tapi aku menyukainya.

Dia buka seorang ksatria bergitar seperti idola ku,
dia juga bukan penabuh drum yang handal,
dia hanya pria tinggi berkulit putih dengan senyum yang manis seperti madu.

Aku percaya saat ibuku mengatakan,
bahwa kesedihan akan tergantikan dengan kebahagiaan,
aku juga percaya akan sebuah cinta yang menghangatkan,
dan seseorang akan menemukannya saat waktu itu datang.

 

END

5 thoughts on “Heart

  1. Sweet.. Awal yg sedih tapi berakhir bahagia bagi hyun hee, feelnya dapet. Aku suka alur ceritanya, bahasanya jg bagus.. Keren deh🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s