I Found You [Chapter 3]

i found you 2

Author: ree

Genre: AU, action, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Main Casts: Im Yoona SNSD, Lee Jonghyun CNBLUE, Lee Donghae Super Junior

Other Casts: Jessica Jung SNSD, Kang Minhyuk CNBLUE, Krystal Jung (Jung Soojung) f(x)

Previous: Prologue | 1 | 2

Disclaimer: Just my imagination

 

 

 

***

Yoona membalikkan badannya dengan gelisah. Ia lalu melirik ke arah jam digital yang terletak di atas nakas di samping tempat tidurnya. Pukul setengah dua belas malam. Terhitung sudah lebih dari setengah jam ia hanya bisa membolak-balikkan badannya dan berkali-kali mengubah posisi tidurnya tanpa sekalipun berhasil memejamkan mata. Tiap kali memejamkan mata, dalam pikiran Yoona selalu terbayang akan kejadian ‘itu’. Kejadian dimana Jonghyun menciumnya secara tiba-tiba. Dan bodohnya, ia hanya berdiri mematung dan tidak melakukan apa-apa saat itu.

Yoona menghela napas panjang dan memandang langit-langit kamarnya. Tanpa sadar, jarinya menyentuh bibir bagian bawahnya. Jujur ia masih terkejut dengan sikap Jonghyun yang tiba-tiba itu. Hanya sekilas, memang, namun cukup ampuh membuat bayangan kejadian itu melekat kuat di otaknya.

“Aku menyukaimu, Yoona-ya.”

“Bisakah mulai saat ini kau hanya melihatku saja?”

“Kalau begitu, aku akan merebutmu darinya.”

Seolah baru tersadar, Yoona segera melepas sentuhan jari di bibirnya dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak! Seharusnya ia tidak boleh bersikap seperti ini. Ia sudah memiliki Donghae, pria yang sudah menjadi kekasihnya selama tujuh tahun. Yang selalu menyayanginya, mengisi hari-harinya, selalu ada saat ia membutuhkannya, dan selalu menjadi mood maker yang bisa membangkitkan suasana hatinya.

Tapi, kenapa bayangan Jonghyun seolah tidak mau hilang dari pikirannya? Seharusnya ia merasa marah sekarang karena sikap pria itu yang seenaknya. Tapi kenapa hatinya tidak berkata demikian?

Yoona beringsut menarik selimutnya sampai ke dada, membenamkan separuh wajahnya di bantal dan kembali mencoba memejamkan matanya. Rasanya ia harus membuang jauh-jauh semua pikiran itu. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan besok dan ia perlu mengistirahatkan otaknya, juga jantungnya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Yoona tersentak, namun tidak mengubah posisinya yang tengah berbaring miring membelakangi pintu. Ia berusaha menajamkan pendengarannya. Tidak salah lagi, itu adalah suara pintu kamarnya yang terbuka. Samar-samar ia dapat mendengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan perlahan kedalam kamarnya. Dan satu-satunya orang yang dapat melakukannya di rumah ini hanyalah orang itu; Jonghyun.

“A…apa yang akan dia lakukan? Kenapa tiba-tiba masuk ke kamar ini??” batin Yoona. Ia memutuskan untuk memejamkan matanya dan pura-pura tertidur. Tangannya mencengkeram erat ujung selimut yang dipegangnya.

 

***

 

Jonghyun membuka pintu kamar Yoona perlahan. Dilihatnya keadaan kamar yang gelap. “Mungkin dia sudah tidur,” pikirnya. Ia melangkahkan kakinya masuk dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan gadis itu.

Jonghyun meletakkan sekotak pensil warna dan sketch book milik Yoona di atas meja belajar yang letaknya berhadapan dengan tempat tidur gadis itu. Ya, saat ini ia bermaksud mengembalikan alat-alat menggambar yang ditinggalkan Yoona di atas meja makan. Sebenarnya bisa saja ia mengembalikannya besok pagi, namun ia sedikit penasaran melihat wajah gadis itu saat tidur sekaligus reaksinya setelah kejadian tadi.

Setelah meletakkan alat-alat menggambar di atas meja belajar, Jonghyun duduk di tepi tempat tidur gadis itu. Yoona bisa merasakannya karena tempat tidurnya tiba-tiba sedikit tertekan kebawah. Diam-diam ia menyesali dirinya yang lupa mengunci pintu. Sekarang yang bisa dilakukannya hanyalah tetap bertahan pada posisinya sampai pria itu keluar.

Jonghyun menatap wajah Yoona lekat-lekat, kemudian mengelus puncak kepala gadis itu dan merapikan setiap helaian rambut yang terjuntai di wajah gadis itu ke belakang telinga. Dengan perlahan Jonghyun mencondongkan tubuhnya dan mendaratkan bibirnya di pipi Yoona.

Jalja.” bisiknya lembut.

Yoona terbelalak. Untuk kali ini ia sudah tidak bisa lagi berpura-pura memejamkan mata. Beruntung saat itu keadaan kamar sedikit gelap dan Jonghyun sudah bangkit dari tempat duduknya sehingga tidak melihat ekspresi wajah Yoona. Setelah pintu kamarnya ditutup, Yoona segera mendudukkan badannya.

“A…apa itu tadi?!” serunya dalam hati. Apa Jonghyun baru saja… mencium pipinya?

Dengan refleks Yoona menyentuh kedua pipinya. Terasa hangat. Dan wajahnya? Aish, wajahnya pasti semerah kepiting rebus sekarang. Ia lalu menempelkan kedua telapak tangannya di dada. Dapat ia rasakan jantungnya berdegup kencang, saking kencangnya hingga rasanya seluruh ruangan itu dipenuhi dengan suara debar jantungnya yang tidak karuan.

Yoona menelan ludah dengan susah payah. Rasanya, ia tidak akan bisa tidur malam ini.

 

***

 

Jonghyun menggosok-gosokkan handuk di kepalanya. Ia baru saja selesai mandi. Ketika hendak membuka lemari pakaian untuk mengambil jaket, tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada laci kecil disamping tempat tidur. Setelah mengenakan jaketnya, Jonghyun membuka laci tersebut dan mengeluarkan benda yang tersimpan didalamnya; sebuah pistol.

Jonghyun mengamati pistol dalam genggamannya. Itu adalah pistol pemberian Jung Woo ketika mereka tidak sengaja bertemu di restoran waktu itu. Ia kemudian merentangkan tangan kanannya ke arah cermin besar dihadapannya, bersikap seolah-olah hendak menembak seseorang. Jonghyun menyipitkan matanya, mengamati pantulan dirinya di cermin. Setidaknya posisi seperti inilah yang harus dilakukannya ketika akan membunuh Yoona nantinya.

Jonghyun menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur dan kembali memandangi pistol itu.

“Just wait for the time, huh?”

 

***

 

Yoona baru saja menyelesaikan sarapannya ketika mendengar suara pintu ditutup. Tak lama kemudian muncullah Jonghyun yang menghampirinya ke depan meja makan.

“Maaf aku sarapan duluan. Aku harus berangkat kerja.” tutur Yoona tergesa-gesa. Ia segera menyambar tasnya dan menyampirkannya di bahu.

“Duduklah dulu. Temani aku sarapan. Aku juga akan mencari kerja setelah ini.” kata Jonghyun tenang. Yoona baru saja hendak membuka mulut ketika pria itu berujar, “Lagipula ini masih jam setengah delapan. Biasanya kau berangkat kerja jam delapan.”

“Baiklah…” Yoona tidak punya pilihan. Ia kembali duduk di kursinya sedangkan Jonghyun duduk dihadapannya. Sepertinya pria itu menyadari kalau Yoona sengaja sarapan duluan untuk menghindari dirinya.

Suasana pagi itu benar-benar canggung. Diam-diam Yoona memperhatikan gerak-gerik Jonghyun yang sedang menikmati pancake dengan maple syrup─menu sarapan pagi itu. Namun ketika pria itu melirik ke arahnya, cepat-cepat Yoona memalingkan wajahnya ke arah lain.

Sadar kalau dirinya sedang diperhatikan diam-diam, Jonghyun meletakkan alat makan yang dipegangnya ke atas piring. Ia melipat tangannya dan menyandarkan badannya ke kursi sambil menatap gadis itu lurus.

Sesekali Yoona melirik ke arah Jonghyun yang tiba-tiba menghentikan makannya dan menatapnya intens. Ia merasa risih diperhatikan seperti itu.

“A…ada apa?” ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

Aniyo. Hanya memastikan kalau kau sedang memperhatikanku.” jawab Jonghyun tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari Yoona.

“Me…memangnya siapa yang memperhatikanmu?”

Jonghyun tidak menjawab. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri tempat duduk Yoona, kemudian menarik tangan gadis itu, “Kaja.”

“Ah, eh, kau sudah selesai sarapan?” tanya Yoona bingung. Ia segera mengambil tasnya dan mengikuti langkah Jonghyun yang terus menarik tangannya menuju pintu keluar.

 

***

 

“Rencananya… kau akan mencari kerja dimana?” tanya Yoona ketika mereka berdua sedang berjalan menuju halte. Daripada terus-terusan bersikap canggung, lebih baik ia mulai mencari topik pembicaraan.

Jonghyun mengedikkan bahu, “Entahlah. Insa-dong?”

“Boleh juga. Nanti kalau sudah dapat pekerjaan hubungi aku ya.”

“Ya.”

Topik pembicaraan selesai. Mereka berdua kembali terdiam. Ternyata cara yang dipakai Yoona untuk mencairkan suasana kali ini kurang berhasil. Sejujurnya Yoona sama sekali bukan tipe gadis yang pendiam, namun baru kali ini ia sampai kehilangan topik pembicaraan. Mereka hanya berdiri dalam diam sambil menunggu bus datang.

“Yoona… soal kemarin…”

“Ah! Itu Donghae oppa!” seru Yoona begitu melihat mobil Peugeot silver melintas didepan halte bus itu. Mobil tersebut berhenti tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Yoona menoleh ke arah Jonghyun yang berdiri disampingnya, “Mianhae, Jonghyun-ssi, sepertinya aku dijemput Donghae oppa. Kau bisa pergi ke Insa-dong sendirian kan?”

Jonghyun terdiam sejenak, “Kau tidak perlu khawatir.”

Mianhae, lain kali kita lanjutkan pembicaraannya.” Yoona menyunggingkan senyumnya, kemudian berjalan menghampiri mobil itu sambil melambaikan tangannya ke arah Jonghyun.

“Ah, Yoona-ya. Baru saja aku mau menghampirimu.” ujar Donghae begitu Yoona membuka pintu mobilnya. Ia sudah membuka seat belt-nya dan bersiap-siap keluar, namun akhirnya harus memakainya lagi.

Yoona tersenyum, “Tidak apa-apa. Ayo kita jalan.”

Donghae melirik kaca spion, “Kau tidak mengajaknya?”

“Ah, ng… dia berbeda arah dengan kita.” jawab Yoona sekenanya. Alasan yang sebenarnya adalah karena dia tidak ingin berlama-lama berdua saja dengan Jonghyun, setidaknya untuk hari ini. Ia perlu menjernihkan pikiran serta menormalkan kerja jantungnya karena ingatan tentang dua kejadian semalam masih terbayang jelas di otaknya.

Donghae mengangguk-angguk, “Baiklah kalau begitu.”

Sebelum kembali melajukan mobilnya, Donghae melirik sekilas ke arah Yoona. Entah kenapa, ia merasa pagi ini gadis itu tidak bersikap seperti biasanya. Dilihatnya gadis itu hanya duduk termangu. Seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkan.

Donghae tersenyum, “Pakai dulu seat belt-mu.” ia mencondongkan tubuhnya ke arah Yoona dan melingkarkan seat belt melewati badan gadis itu.

“Ah, oh, i…iya, benar juga.” jawab Yoona kikuk. Ia segera meraih seat belt disamping jok yang ditempatinya, namun ternyata Donghae sudah lebih dulu memakaikannya. Ia sedikit terkejut ketika menoleh, jarak antara wajahnya dengan wajah Donghae sangatlah dekat. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Dalam jarak sedekat ini, Yoona bisa merasakan hembusan napas segar pria itu yang menggelitik ujung hidungnya.

Donghae menyunggingkan senyumnya sekilas, kemudian dengan perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu. Yoona tersentak. Tiba-tiba saja sikap Donghae kembali mengingatkannya akan kejadian semalam. Yoona terdiam membatu di tempatnya. Diam-diam ia mengepalkan tangannya, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jujur, ini bukan pertama kalinya mereka berciuman mengingat usia pacaran mereka yang sudah menginjak usia tujuh tahun. Namun sebelumnya Yoona tidak pernah merasa setegang ini.

Ketika bibir Donghae nyaris menyentuh bibirnya, dengan refleks Yoona mengatupkan bibirnya dan menutup kedua matanya dengan gugup. Anehnya, yang terlintas di benaknya bukanlah wajah Donghae, melainkan Jonghyun.

Tiba-tiba Yoona merasakan seseorang mengelus puncak kepalanya lembut. Ia pun membuka matanya perlahan.

“Kau ini gugup sekali. Seperti baru pertama kali saja.” dilihatnya Donghae terkekeh pelan, kemudian memundurkan badannya kembali ke tempat duduknya.

Yoona menghela napas lega. Tapi, kenapa ia harus merasa lega? Sebagai pasangan kekasih bukankah hal seperti itu seharusnya wajar dilakukan? Justru aneh kalau ia membiarkan begitu saja orang lain menciumnya, sedangkan kekasihnya sendiri ditolak. Yoona tidak tahu kenapa, tapi entahlah… ia sedang tidak ingin melakukannya saat ini.

Yoona membuang pandangannya keluar jendela. Wajahnya tampak cemas. Ia merasa pasti ada yang tidak beres pada dirinya, hatinya, dan pikirannya.

“Sebenarnya apa yang terjadi denganku?!”

 

***

 

“Ckckck… Yoona-ya, kenapa hasil karyamu jadi berantakan begini? Lihat, gambar apa ini? Hampir semuanya berbentuk abstrak.” Soojung membolak-balik lembaran-lembaran kertas yang dipegangnya sambil geleng-geleng kepala.

Yang ditanya tidak menjawab. Yoona hanya menghela napas panjang sambil bertopang dagu di atas meja kerjanya.

Ya, kau ini kenapa? Tidak biasanya lesu begini.” Soojung mengembalikan kertas-kertas sketsa milik Yoona ke tempatnya semula, “Ada masalah dengan ‘Donghae oppa’-mu?”

Mendengar pertanyaan Soojung, mata Yoona tiba-tiba memanas, seolah ada air mata yang akan keluar. Ia memutar kursinya ke arah Soojung yang berdiri disampingnya dan mendongakkan kepalanya menatap gadis itu.

“Soojung-ah, eotteokhae?!”

 

***

 

Ya, Minhyuk-ah, coba kau potong baguette untuk bruschetta di atas meja itu.” perintah Donghae pada Minhyuk.

“Ah, baiklah.” Minhyuk yang sedang mengaduk bahan untuk topping bruschetta itu segera memotong baguette yang dikatakan Donghae tadi.

“Bukan begitu cara memotongnya. Ini masih terlalu tebal. Kau harus memotongnya setebal setengah inchi dan harus menyerong.” Donghae mencontohkan cara memotong baguette yang baik pada asistennya itu. Minhyuk memperhatikannya dengan seksama dan mengangguk-angguk.

“Donghae-ya.” tiba-tiba terdengar suara seseorang. Baik Donghae maupun Minhyuk sama-sama menoleh. Tampak Jung Woo, ayah Donghae, sudah berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Ah, annyeonghaseyo, Chef.” Minhyuk membungkukkan badannya hormat yang dibalas dengan anggukan kecil dari Jung Woo.

“Ada apa?” tanya Donghae dingin.

“Ada yang ingin ayah bicarakan. Bisa keluar sebentar?”

Donghae tidak langsung menjawab. Jika ia harus sampai menghentikan pekerjaannya, berarti pembicaraan ini sangatlah penting. Tapi jika yang ingin dibicarakan ayahnya adalah soal hubungannya dengan Yoona, ia sudah memiliki beribu-ribu pernyataan tegas untuk menolak perintah ayahnya nantinya.

Donghae menoleh ke arah Minhyuk, “Kau bisa menyelesaikan bruschetta sendirian kan?”

Minhyuk mengangguk mantap, “Tentu saja. Serahkan padaku.”

“Oh iya, untuk hidangan coq au vin, setelah ini tolong ambilkan wine di gudang dan tuangkan kedalam panci. Jangan lupa, kocok dulu pancinya sebelum menuangkan wine.” pesan Donghae.

Lagi-lagi Minhyuk mengangguk, “Arasseo.”

Setelah itu Donghae segera mengikuti langkah ayahnya keluar dari dapur. Ia sengaja berpesan seperti itu pada Minhyuk karena takut pembicaraan dengan ayahnya akan sangat serius dan membutuhkan waktu yang lama. Entah kenapa firasatnya mengatakan seperti itu.

“Ganti dulu pakaianmu dengan setelan disana itu.” ujar Jung Woo setelah mereka berdua sampai di ruang ganti.

Donghae menoleh ke arah yang ditunjuk ayahnya. Di depan lokernya sudah tergantung satu setelan kemeja putih lengkap dengan blazer dan celana berwarna abu-abu. Pria itu mengernyitkan dahi. Untuk apa ia harus mengganti pakaian segala kalau hanya ingin membicarakan sesuatu?

“Kita akan menemui seseorang yang penting.” sahut Jung Woo seolah bisa membaca pikiran Donghae.

Karena pria itu mengucapkan kata ‘orang penting’, mau tidak mau Donghae harus menurut. Bisa saja orang itu adalah rekan bisnis ayahnya dan ingin mendiskusikan masa depan restoran ini dengannya. Ia lalu mengambil setelan itu dan bergegas mengganti bajunya.

 

***

 

“Kenalkan, ini Jessica Jung. Putri dari Jung Dae Jin, teman baik ayah saat kuliah dulu.” Jung Woo memperkenalkan seorang gadis cantik yang sudah menunggu kedatangan mereka di salah satu sudut di restoran itu.

Donghae memperhatikan gadis didepannya. Harus ia akui, gadis yang baru ia ketahui bernama Jessica itu memang cantik. Kulitnya putih mulus, rambutnya yang cokelat dan panjang dibuat sedikit bergelombang dan dibiarkan tergerai, dan mini dress hitam yang dikenakannya membuatnya semakin terlihat anggun. Kelihatan sekali ia adalah gadis berkelas. Ia pasti berasal dari keluarga berada, atau bisa dibilang cukup kaya raya.

Lalu apa sebenarnya maksud ayahnya tiba-tiba mengenalkan dirinya pada gadis ini? Apa untuk menjodohkannya? Rasanya hal itu kuno sekali.

Jessica tersenyum manis dan sedikit menundukkan kepalanya ke arah Donghae, “Bangabseumnida.”

Meskipun awalnya sedikit enggan, pria itu akhirnya mengedikkan kepalanya samar. Setelah itu Jung Woo mempersilakan kedua muda-mudi untuk duduk. Donghae duduk berhadapan dengan Jessica, sedangkan Jung Woo berada di antara mereka berdua.

“Jessica ini adalah salah satu lulusan terbaik di Harvard University. Sekarang ia sedang menyiapkan diri untuk menjadi direktur perusahaan milik keluarganya.” jelas Jung Woo, “Sayang sekali ayahnya tidak bisa datang kesini karena tiba-tiba ada urusan di Jerman.”

“Aku benar-benar minta maaf. Tak kusangka tiba-tiba Appa mengatakan ada urusan mendadak.” jelas Jessica. Terdengar sedikit nada kecewa dalam suaranya.

“Ah, tidak apa-apa. Lain kali kami masih bisa bertemu.” balas Jung Woo sambil terkekeh.

Tiba-tiba saja Jung Woo merasakan ponselnya bergetar. Entah ini kebetulan atau tidak, yang jelas hal ini sangat menguntungkan karena dengan begitu ia bisa meninggalkan Donghae berdua saja dengan Jessica.

Jung Woo menatap display ponselnya sekilas. Rupanya itu telepon dari bosnya. Wajahnya sedikit menegang, namun ia berusaha menutupinya.

“Maaf, sepertinya aku harus mengangkat telepon. Kalian mengobrol saja dulu.” ia pun bangkit dari tempat duduknya. Jessica menundukkan kepalanya sopan.

Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah Donghae. Dilihatnya pria itu mendecak pelan saat ayahnya meninggalkan tempat duduknya.

“Aku sudah mendengar banyak tentangmu. Aku sangat kagum dengan kemampuanmu memasak.” ujarnya.

Donghae melipat kedua tangannya dan menyandarkan badannya di kursi, “Benarkah? Lalu apa lagi yang sudah kau dengar?” tanyanya enggan.

Melihat ekspresi Donghae, Jessica mengulum senyum, “Apa kau begitu penasaran dengan apa saja yang sudah kudengar tentangmu?”

“Tidak.” jawab Donghae cepat. Tampaknya gadis itu bisa menyadari dengan cepat maksud ia bersikap dingin seperti ini. Jadi, ia tidak perlu repot-repot bersikap manis dihadapannya.

“Perjodohan, eh? Ternyata masih ada orang tua yang repot-repot melakukan hal ini di zaman sekarang.” Jessica terkekeh pelan sambil memotong steak dihadapannya dan menyuapkannya kedalam mulut.

Donghae mendengus kecil. Rupanya perkiraannya salah. Tadinya ia mengira Jessica seperti gadis kaya raya lainnya yang tidak cerdas dan hanya bisa menghambur-hamburkan uang ayahnya. Namun ternyata gadis itu cukup pintar untuk mengetahui maksud tindakan orang tuanya yang memaksanya bertemu dengan anak teman baik ayahnya. Dan tampaknya gadis itu tidak begitu mengharapkan Donghae untuk menerima dirinya.

Donghae menatap Jessica tajam, “Dengar, ini mungkin terdengar kekanakan, tapi maaf saja, aku─”

“Sudah punya orang yang dicintai?” potong Jessica. Senyum yang manis dan tenang masih menghiasi wajahnya.

Awalnya Donghae terkejut karena gadis itu bisa menebaknya dengan benar, namun kemudian ekspresi wajahnya kembali datar, “Baguslah kalau kau tahu.”

“Kalau tidak, mana mungkin kau berusaha mati-matian menunjukkan ekspresi tidak senangmu seperti ini didepanku.”

“Sepertinya kau tidak keberatan dengan rencana orang tuamu, atau lebih tepatnya rencana ayahmu dan ayahku.”

Jessica mengangguk-angguk, “Yah, awalnya aku juga tidak mau. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Kalau kita memang tidak berjodoh, setidaknya kita bisa menjalin hubungan sebagai teman, atau mungkin rekan bisnis.”

Donghae mendengus kecil. Harus ia akui, ia menyukai cara berpikiran gadis ini, namun bukan berarti ia menerima begitu saja kehadiran gadis ini dalam hidupnya.

“Kurasa pembicaraan kita sudah selesai. Tanpa kuberitahu pun tampaknya kau sudah mengerti. Aku harus kembali bekerja.” Donghae bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan gadis itu.

“Ng… Lee Donghae?” panggil Jessica. Donghae menghentikan langkahnya dan menoleh.

Jessica tersenyum, “Masakanmu benar-benar enak.”

Donghae tersenyum samar, “Thanks.”

 

***

 

“Brengsek! Apa saja kerjamu?! Dasar tidak berguna!!” hardik pria di seberang telepon. Jung Woo sampai harus menjauhkan ponselnya dari telinganya sebentar karena suaranya yang memekakkan.

“Jo…joisonghamnida, sajangnim. Ini semua karena saya tidak bersikap tegas padanya.” kata Jung Woo takut-takut. Jika berada didepan orang lain ia bisa saja bersikap kejam, namun jika dihadapan bosnya ini, ia lebih memilih untuk mengalah jika masih sayang nyawa.

“Sudah tahu kesalahanmu masih saja dipertahankan! Kali ini aku tidak bisa mentolerir lagi.”

“Saya mohon, berikan saya waktu sedikit lagi. Kali ini biar saya beri anak itu pelajaran.”

Pria di seberang telepon itu mendengus, “Itu bisa kau lakukan nanti. Yang penting sekarang kita fokus ke target utama.”

“Apa rencana yang sudah anda siapkan, sajangnim?” tanya Jung Woo.

“Siapkan orang-orangmu. Sudah waktunya kau bergerak.”

 

***

 

Mwo?! Jadi maksudmu, kau menerima ciuman dari Jonghyun dan menolak Donghae, begitu?!”

Yoona hampir tersedak mendengar pertanyaan Soojung. Dengan panik ia menempelkan jari telunjuknya di bibir, “Ssssttt…!! Jangan keras-keras, Soojung-ah! Kau mau semua orang disini menganggapku wanita gampangan?! Lagipula bukan seperti itu maksudku!”

“Bukankah tadi kau bilang begitu? Itu inti dari ceritamu, kan?” tanya Soojung polos.

“Aish, seharusnya aku tidak menceritakannya padamu. Kau ini suka menarik kesimpulan seenaknya!” kata Yoona frustasi.

“Maaf, mungkin aku sudah tertular virus ‘suka-menarik-kesimpulan-seenaknya’ darimu.”

“Aku tidak sedang bercanda, Soojung-ah.”

“Aku juga.”

Yoona mendengus kesal. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe di dekat kantor yang ramai itu. Gara-gara Soojung berbicara terlalu keras tadi, sepertinya besok ia harus bersiap menerima sindiran serta tatapan sinis para karyawan di kantor itu, terutama para karyawan yang mendengar percakapan mereka di tempat ini.

Soojung menopangkan dagunya ke atas meja, “Jadi, bagaimana?”

“Apanya?”

“Perasaanmu. Kau menyukainya kan?”

“Siapa? Jonghyun? Tidak mungkin.”

Soojung mengangkat sebelah alisnya. Tatapannya menyiratkan kalau ia tidak mempercayai ucapan sahabatnya itu.

“Kenapa kau memandangiku seperti itu sih?!” protes Yoona.

Soojung menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku tidak percaya ucapanmu. Kenapa kau tidak mau jujur?”

Yoona menghela napas berat, “Aku tidak tahu, Soojung-ah. Tiba-tiba saja Jonghyun melakukan itu dan… di saat aku masih terbayang kejadian itu, tiba-tiba saja Donghae juga bersikap seperti itu. Aku tidak siap. Aku benar-benar bingung harus melakukan apa. Sejak kemarin bayangan wajah Jonghyun selalu berputar-putar didalam pikiranku.” Yoona menempelkan dagunya di atas meja dengan lesu. Bibirnya mengerucut, “Aku ini benar-benar gadis yang bodoh ya?”

“Itu namanya cinta, Yoona-ya.” celetuk Soojung.

Yoona tersentak. Ia segera menegakkan badannya lagi dan menatap Soojung.

“Cinta?! Jangan bercanda, Jung Soojung…”

“Tapi itu yang kulihat dari matamu. Yah, untuk sekarang ini mungkin masih terlalu cepat kalau disebut cinta. Yang jelas kau menyukainya.”

Yoona menempelkan sebelah telapak tangannya didepan dada, “Aku? Menyukai seorang Lee Jonghyun yang baru dua bulan kukenal?! Dari cara bicaramu seolah aku lebih menyukainya dibanding Donghae oppa yang sudah menjadi pacarku selama tujuh tahun!”

“Itu sah-sah saja, Yoona-ya. Semua tergantung pada perasaanmu. Hatimu sendiri yang memilihnya.” Soojung mengedikkan bahu, “Yah, bukan berarti aku percaya pada istilah love at first sight.”

Yoona melongo. Ia sama sekali tidak percaya pada apa yang barusan Soojung katakan─atau lebih tepatnya tidak ingin mempercayainya. Rasanya itu mustahil. Tapi, kenapa tiba-tiba ia merasakan dadanya bergemuruh? Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya?

“Tapi, sebaiknya kau pikirkan baik-baik keputusan apa yang akan kau ambil. Jangan sampai menyesal nantinya.” Soojung mengetukkan sumpitnya dan menyuapkan potongan kimbap kedalam mulutnya.

Yoona mendengus pelan dan menggeleng-gelengkan kepalanya kaku, kemudian meneguk air mineral yang ada dihadapannya. Setidaknya itu bisa membantu menormalkan kerja jantungnya yang sejak tadi berdegup tidak karuan. Tidak, ia belum ingin mengakui perasaannya itu. Perasaan yang akan membuat orang yang disayanginya selama ini menderita karenanya.

 

***

 

Jonghyun sedang mengepel lantai di toko alat-alat musik tempatnya bekerja sambilan ketika Park ahjussi, pemilik toko alat-alat musik itu menghampirinya.

“Ada yang mencarimu.” ujarnya.

Jonghyun bergegas menuju bagian depan toko. Dilihatnya Jung Woo sudah berdiri didepan tokonya dengan tatapan tajam. Jonghyun mendecak pelan. Terkadang ia merasa risih karena pria itu selalu tahu dimana ia berada dan terlalu cepat menemukannya.

“Sepertinya kau bekerja dengan giat.” kata Jung Woo setengah bergurau begitu Jonghyun menghampirinya.

“Ada apa?” tanya Jonghyun dingin. Ia tidak suka basa-basi.

“Seperti biasa, kau tidak pernah bersikap sopan pada atasanmu.” Jung Woo kembali menunjukkan wajah serius, “Aku hanya mau memberikanmu ini.” ia mengeluarkan sebuah smartphone berwarna hitam dari dalam saku mantelnya dan memberikannya pada Jonghyun.

Jonghyun menerima ponsel itu, “Kau bilang akan memberikan ponselku setelah aku mendapatkan gaji pertama. Aku bahkan belum sehari bekerja disini.”

“Anggap saja itu sebagai hadiah karena kau telah bekerja dengan giat.”

“Jangan main-main, Jung Woo.” kata Jonghyun tajam.

Jung Woo terdiam sejenak. Sikap dingin yang ditunjukkan Jonghyun terkadang membuatnya terlihat lebih lemah dibandingkan bawahannya itu. Walaupun ia harus mengakui, kemampuan yang dimiliki Jonghyun memang hampir setara dengan dirinya.

“Aku terpaksa memberikannya. Aku bosan bos terus-terusan menagih laporan hasil kerjamu padaku. Jadi biar kau tanggung sendiri. Dia akan menghubungimu nanti.” jelas Jung Woo.

Jonghyun menatap ponsel di genggamannya. Di satu sisi ia cukup senang karena ponselnya sudah dikembalikan, namun di sisi lain ia tidak ingin memiliki ponsel itu jika ujung-ujungnya bos akan menghubunginya secara langsung, karena itu berarti ruang geraknya akan dibatasi. Ia tidak suka bekerja dibawah tekanan.

“Aku hanya sekedar mengingatkanmu saja. Kau…”

Ara.” potong Jonghyun. Ia tahu pria itu pasti akan menanyakan apa dia masih ingat dengan tugasnya atau tidak. Ia sudah jengah dengan pertanyaan seperti itu. Memangnya mereka mengira ia tidak profesional?

“Ah, annyeonghaseyo, Abeonim.” tiba-tiba Yoona sudah muncul di belakang Jung Woo dan membungkukkan badannya disamping pria itu. Cepat-cepat Jonghyun menyembunyikan ponsel yang dipegangnya kedalam saku sebelum Yoona melihatnya.

Jung Woo mendelik tajam ke arah Yoona, menunjukkan ketidaksukaannya seolah gadis itu adalah virus yang harus dijauhi jika tidak ingin terkena penyakit. Ia pun membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan toko tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada gadis itu.

Yoona memperhatikan Jung Woo yang mulai berjalan menjauh, kemudian menghela napas berat. Ayah Donghae itu ternyata masih tidak menyukainya. Namun Yoona memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Ia kembali menyunggingkan senyum dan berbalik menghadap Jonghyun.

“Jonghyun-ssi, chukkae! Akhirnya kau mendapat pekerjaan!” katanya riang. Ia menunjukkan gelas karton berisi espresso yang dibawanya pada pria itu, “Aku sudah janji kan, akan datang kesini kalau kau bilang sudah dapat pekerjaan?”

Jonghyun tersenyum. Memang setelah istirahat makan siang tadi ia mengirim e-mail pada Yoona sesuai permintaan gadis itu. Tak disangka ternyata gadis itu benar-benar datang.

“Masuklah.” ujar Jonghyun kemudian.

Yoona pun masuk kedalam toko mengikuti Jonghyun, dan berdecak kagum ketika melihat kumpulan alat-alat musik yang dipajang rapi didalamnya. Memang toko itu tidak begitu besar, tapi alat musik yang ada didalamnya sangatlah lengkap, mulai dari musik klasik, modern, sampai tradisional.

Kemudian Jonghyun mengajak gadis itu duduk di salah satu kursi yang ada di sudut toko. Ia heran kenapa mata gadis itu bisa berbinar-binar hanya karena melihat kumpulan alat musik yang dipajang disana.

Yoona mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Tanpa sengaja matanya menangkap sebuah ember dan mop yang diletakkan tidak jauh dari situ.

“Ah, kau sedang mengepel ya? Biar kubantu.” ia bergegas mengambil mop itu dan mulai melanjutkan pekerjaan Jonghyun yang tertunda.

Jonghyun buru-buru mencegah Yoona, “Tidak usah. Ini pekerjaanku. Salahku karena meninggalkannya di tengah jalan.”

“Tidak apa-apa. Ini kan hari pertamamu bekerja. Jadi aku mau membantumu.”

Jonghyun merebut mop yang dipegang Yoona dan mengangkat ember yang diletakkan di lantai, lalu mengembalikannya ke ruang janitor.

“Ini bisa kukerjakan nanti. Kau duduklah.” ujarnya. Kalau tidak dipaksa begitu, Yoona pasti masih bersikeras untuk membantunya.

Yoona akhirnya menurut. Ia kembali ke tempat duduknya semula. Sebenarnya, ia sengaja melakukan hal itu agar tidak terjebak dalam suasana canggung karena berdua saja dengan Jonghyun. Jujur ia masih belum berani menatap langsung wajah pria itu. Namun karena sudah terlanjur berjanji akan mengunjungi Jonghyun di tempat kerja, ia memberanikan diri datang kesini.

“Kenapa kau memilih bekerja disini?” tanya Yoona begitu Jonghyun duduk dihadapannya.

“Karena aku cukup suka musik.” jelas Jonghyun, “Untung saja ahjussi pemilik toko ini berbaik hati meminjamkanku beberapa alat musik untuk dimainkan di sela-sela bekerja. Jadi aku tidak cepat merasa bosan.”

“Kau bisa main musik?”

“Yah, begitulah.”

“Wah, aku benar-benar tidak menyangka. Coba perlihatkan padaku!”

Jonghyun melipat kedua tangannya dan menyandarkan badannya di kursi, “Pilih saja alat musik sesukamu.”

Yoona mengerucutkan bibirnya, “Aish, orang ini sombong sekali!” ia lalu beranjak dari kursinya dan mulai mengamati satu per satu jenis alat musik yang ada disana, memilih kira-kira instrumen mana yang harus dimainkan Jonghyun.

“Baiklah, untuk awal, bagaimana kalau gitar?” sahut Yoona sambil menunjuk kumpulan gitar yang dipajang di toko itu.

Jonghyun mengikuti arah pandang Yoona, “Kau serius?”

Yoona mengangguk, “Kenapa? Kau tidak bisa?”

Jonghyun mengernyitkan dahi, “Kau bercanda.” ia langsung bergegas mengambil alat musik yang ditunjuk Yoona. Pria itu tersenyum. Bagaimana mungkin ia tidak bisa memainkan alat musik yang satu ini. Justru memainkan alat musik inilah keahliannya yang sebenarnya. Sudah lama ia tidak memainkannya. Setelah memegang alat musik itu lagi, rasanya ia menjadi bersemangat. Ia tidak sabar untuk segera memainkan instrumen itu.

Yoona bersiap di tempat duduknya dan mengamati permainan gitar Jonghyun. Entah kenapa setelah ia memilih gitar, wajah pria itu tampak berseri-seri, seolah ia sudah menunggu-nunggu dirinya menunjuk alat musik itu.

Setelah menyetel nada yang cocok, Jonghyun mulai memetik senar gitar akustik itu dan memainkan sebuah lagu. Lagu yang dipilihnya kali ini adalah Over The Rainbow. Ia memainkannya dengan penuh penghayatan, membuat Yoona tidak bisa mengedipkan matanya sedetik pun saking terpananya. Sangat sempurna dan hampir tanpa cela. Ternyata pria itu tidak hanya bermulut besar saja, tapi ia benar-benar bisa membuktikan ucapannya tentang keahliannya bermain musik.

Yoona mendengarkan lagu yang dimainkan Jonghyun dengan seksama. Ia ingat, lagu ini selalu dimainkan oleh Yoonji, adiknya, setiap hari ulang tahunnya dengan biola. Tahun lalu pun Yoonji memainkan lagu ini untuknya. Namun karena jarak mereka yang terpisah cukup jauh─ia di Korea dan Yoonji di Amerika─jadi gadis itu hanya memperdengarkan permainan biolanya pada Yoona melalui video call. Meskipun begitu, Yoona merasa sangat senang dengan hadiah yang diberikan oleh adik satu-satunya itu.

Ketika lagu selesai, Jonghyun tidak mendengar tepukan tangan Yoona atas penampilannya yang sempurna sesuai dugaannya. Sebaliknya, gadis itu malah menundukkan wajahnya dengan murung.

“Ada apa?” tanya Jonghyun sambil meletakkan gitar di samping tempat duduk gadis itu.

Yoona sedikit tersentak, “Ah, tidak… aku hanya teringat pada adikku. Dia seorang violist.”

“Benarkah? Kau punya adik?” Jonghyun pura-pura terkejut. Padahal ia sudah tahu kalau Yoona memiliki seorang adik bernama Yoonji yang dulunya tinggal di Detroit.

Yoona mengangguk, kemudian tersenyum lemah, “Selama ini dia tinggal dengan ayahku di Detroit. Terkadang aku rindu juga padanya.” Yoona menghela napas panjang, “Bagaimana keadaannya sekarang ya?”

Jonghyun menatap wajah Yoona. “Kasihan sekali gadis ini.” pikirnya. Ia sama sekali tidak mengetahui keadaan keluarganya yang kacau di Amerika.

“Ya, Im Yoona. Kau tidak tahu kan, bagaimana nasib adikmu yang malang itu sekarang? Dia sudah mati, Yoona-ya. Dia sudah lama mati.”

“Oppa! Oppa!” tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar toko. Baik Jonghyun maupun Yoona sama-sama menoleh. Mereka sedikit terkejut ketika melihat keadaan di luar toko yang ribut karena beberapa siswi SMA yang berkerumun disana.

“Dia lihat kesini! Kyaaaaa…!!! Tampan sekali!!” seru beberapa siswi itu ketika Jonghyun menoleh ke arah mereka.

“Oppa, mainkan lagi gitar itu untukku!!” celetuk salah seorang dari mereka.

“Ya, untukku juga!!” sahut yang lain.

Keadaan di luar toko benar-benar berisik. Mereka hanya bisa mengetuk-ngetuk kaca dari luar karena Park ahjussi sudah menutup pintu toko dengan susah payah sebelum para siswi itu berhamburan masuk. Jika mereka semua sampai masuk, bisa-bisa alat musik yang dipajang di toko itu rusak karena tersenggol badan mereka.

“Wah, sepertinya kau punya penggemar.” goda Yoona.

“Maaf ya, keadaannya jadi ribut begini. Sepertinya mereka terpesona oleh permainan gitarmu, Jonghyun-ssi.” Park ahjussi merasa tidak enak, “Anak-anak muda memang seperti itu. Ketika melihat pria tampan pasti langsung bersemangat. Padahal pacarmu ada disini.”

Yoona yang kaget mendengar perkataan Park ahjussi kemudian menunjuk dirinya sendiri, “A…aku? Ah, tidak, aku bukan─” namun kata-katanya terputus karena Park ahjussi sudah keburu berlalu meninggalkan mereka.

Setelah Park ahjussi menghilang di balik tembok pembatas, Yoona melirik ke arah Jonghyun yang juga sedang menatapnya, dan memaksakan seulas senyum. Perkataan Park ahjussi tadi membuat suasana kembali canggung. Lagi-lagi Yoona teringat kejadian kemarin malam. Untuk menghindari tatapan Jonghyun, ia buru-buru menyambar cappuccino yang dibelinya tadi dan meneguknya.

“Sebaiknya kita pulang. Ini sudah gelap.” kata Jonghyun memecah kesunyian.

“Ah, ng… habiskan dulu espresso-mu. Nanti keburu dingin. Lagipula di luar masih ramai dengan murid-murid SMA itu.” Yoona menyodorkan gelas karton berisi espresso yang dibawanya pada Jonghyun. Jonghyun mengambil gelas itu dan meminumnya.

 

***

 

“Jonghyun-ssi, kau lapar tidak? Bagaimana kalau kita makan?” tanya Yoona begitu mereka berjalan menuju halte. Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk menunggu sampai para siswi SMA itu membubarkan dirinya dari depan toko. Sekarang sudah pukul delapan malam. Perut Yoona sudah mulai terasa perih dan berteriak minta diisi.

“Boleh.” jawab Jonghyun, “Mau makan dimana?”

Yoona mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu, memikirkan kira-kira restoran mana yang sebaiknya mereka datangi untuk makan malam, “Hmmm… dimana ya?”

Tiba-tiba saja sebuah Peugeot silver berhenti tepat didepan mereka. Yoona yang langsung mengenali bahwa itu adalah mobil Donghae segera menundukkan kepalanya begitu kaca mobil terbuka.

“Yoona-ya, masuklah.” sahut Donghae dari dalam.

“Oppa, kau baru pulang?” tanya Yoona.

“Ya. Naiklah.”

Yoona tidak langsung menuruti kata-kata Donghae. Ia melirik sekilas ke arah Jonghyun yang berdiri disampingnya, seolah meminta kepada izin pria itu. Jonghyun yang merasa mengerti kemudian mengedikkan kepalanya, menyuruh Yoona untuk segera masuk kedalam mobil. Yoona mengangguk dan segera membuka pintu mobil. Tak lama setelah pintu ditutup, mobil pun melaju meninggalkan Jonghyun yang masih berdiri di tempatnya.

“Kita mau kemana, Oppa?” tanya Yoona ketika menyadari jalanan yang mereka lalui bukanlah jalan menuju rumahnya.

“Incheon.” jawab Donghae.

“Incheon?! Untuk apa kita kesana malam-malam begini?”

Donghae tidak menjawab. Ia hanya menoleh sekilas ke arah Yoona sambil tersenyum penuh arti.

Setelah hampir dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di pantai Incheon. Donghae menghentikan mobilnya di tempat dimana mereka bisa melihat laut dari dekat, mendengarkan deburan ombak dan merasakan hembusan angin laut di musim gugur.

“Ini. Kau belum makan kan?” Donghae menyodorkan sebuah kotak makan kepada Yoona. Gadis itu duduk menyamping di jok dengan pintu terbuka dan memandangi keindahan Laut Incheon pada malam hari. Angin kencang yang menerpa rambutnya sedikit membuatnya repot karena seringkali menghalangi pandangannya, namun ia bisa mengakalinya dengan menguncir rambutnya.

“Wah, fettuccine bolognese!” seru Yoona ketika membuka kotak makan yang diberikan Donghae.

Donghae yang pindah duduk di jok belakang, tepatnya di sebelah Yoona duduk ikut tersenyum. Gadis itu selalu memberikan respon positif terhadap setiap masakan yang dibuatnya.

“Kau suka?” tanyanya.

Yoona yang sedang menyuapkan pasta itu kedalam mulutnya mengangguk mantap, “Tentu saja. Kau ini tahu saja aku sedang lapar. Jarang-jarang kan, kita makan pasta di pinggir laut?”

“Aku sengaja membawanya di kotak penghangat supaya masih tetap hangat sampai kita tiba disini.” jelas Donghae.

“Memangnya ada apa tiba-tiba kau mengajakku kesini? Sampai membawa bekal segala.” tanya Yoona yang sejak tadi penasaran.

Donghae tidak langsung menjawab. Lagi-lagi ia tersenyum penuh arti, “Habiskan saja dulu makananmu. Tidak baik bicara pada saat makan.”

Yoona mengerucutkan bibirnya. Pria itu sekarang jadi suka bermain rahasia dengannya.

“Baiklah.” Yoona akhirnya menyerah dan kembali melanjutkan makannya diikuti Donghae.

“Yoona-ya…” panggil Donghae begitu mereka selesai makan malam.

Yoona yang baru saja meneguk segelas kecil teh yang juga dibawa Donghae menoleh, “Hm?”

Donghae terdiam sejenak, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berlutut dihadapan gadis itu. Membuat Yoona mengerjapkan matanya karena perlakuan pria itu yang tidak biasa.

Donghae mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah beludru dan membukanya. Tampaklah sebuah cincin yang terbuat dari emas putih dengan taburan berlian kecil di sekelilingnya. Yoona serasa membeku saking terkejutnya.

“Oppa, i…ini…”

Donghae meraih tangan kiri Yoona dan menyematkan cincin itu di jari manisnya. Cincin itu sangat pas berada di jari manis Yoona.

“Yoona-ya, bagaimana kalau kita… bertunangan?”

Yoona tercekat. Tunangan? Jadi maksud Donghae mengajaknya ke tempat ini adalah untuk melamarnya? Ia sama sekali tidak menyangka pria itu akan memutuskannya secepat ini jika mengingat ayah Donghae yang belum merestui hubungan mereka.

Yoona benar-benar bingung pada dirinya sendiri. Harusnya ia merasa senang sekarang karena pujaannya selama ini telah memilihnya menjadi pasangan hidupnya. Tapi kenapa dadanya justru merasa sesak? Sesaat tadi, bayangan wajah Jonghyun terlintas di benaknya, dan entah kenapa membuatnya ragu untuk menerima lamaran Donghae.

Yoona memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya? Yoona tidak ingin menolak lamaran Donghae, tapi hatinya lebih tidak rela jika harus berpisah dengan Jonghyun.

Jonghyun. Jonghyun. Nama itu terus terngiang didalam benaknya. Apa… ini artinya dia lebih mencintai Jonghyun?

Yoona menelan ludah, kemudian memberanikan diri untuk menatap Donghae, “Oppa, aku─”

Kata-kata Yoona terputus saat tiba-tiba Donghae mencondongkan badan ke arahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Yoona, melumatnya dalam-dalam. Yoona terkejut. Ia menutup matanya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Satu per satu butir air mata menetes di pipinya.

“Tidak, Yoona. Bukan dia. Bukan dia.”

 

***

 

Jonghyun baru saja memasuki apartemen Yoona ketika merasakan ponselnya bergetar. Ia mendecak pelan begitu melihat siapa yang meneleponnya.

“Hello, Mr. Lee. It’s been a while, huh?” ujar sebuah suara di seberang telepon.

“Well, yeah…” jawab Jonghyun enggan. Ternyata Jung Woo benar. Tidak sampai sehari, pemimpin geng pasti akan menghubunginya.

“Dari dulu aku penasaran, apa saja yang kau lakukan selama berada di rumah gadis itu?” tanya pria di seberang telepon.

Jonghyun menjatuhkan dirinya di sofa di ruang tamu, “Apa sangat penting mengetahui hal itu bagimu?”

“Kau boleh saja bersikap seperti ini pada Jung Woo, tapi jangan coba main-main denganku. Bagaimanapun juga kau bekerja untukku, ingat?”

Jonghyun memutar bola matanya jengah, “Aku tidak suka bekerja dibawah tekanan.”

“Apa waktu dua bulan itu tekanan bagimu, Mr. Jonghyun Lee? Atau kau hanya mencari alasan saja agar bisa lebih berlama-lama tinggal dengan gadis itu?”

Cih! Tahu apa dia?!” batin Jonghyun jengkel.

“Hanya sekedar informasi saja, Mr. Lee. Cepat laksanakan tugasmu dalam waktu dekat ini, atau aku terpaksa menjalankan rencana ini tanpa dirimu. Dan kau bisa tanggung akibatnya nanti.”

(To be continued)

__________________________________

Hai! Terima kasih sudah menunggu🙂 Chapter ini sedikit ya? Memang, tadinya chapter 3 aku bikin sampe 30 halaman lebih. Karena ngerasa kebanyakan, jadi aku bagi dua. Sebagai gantinya, rencananya minggu depan aku mau ngepost oneshot yang lumayan panjang, hahaha… tunggu ya *promosi*

Sampai jumpa di FF-ku selanjutnya🙂

15 thoughts on “I Found You [Chapter 3]

  1. Jessica disini bukan kakanya soojung kan? Atau iya?
    Kasian bgt ini yoona, sebenarnya nyawanya terancam mau dia sama jonghyun ataupun donghae (secara ayahnya donghae juga terlibat). Dan jonghyun harus cepet2 ambil tindakan nih.. kalo emang dia gamau bunuh yoona, dia harus cepet mikirin jalan keluarnya~
    Aku rasa ngasih tau donghae situasi yg sebenernya mungkin bisa bantu.

  2. jonghyun oh jonghyun~~ kkk sepertinya jonghyun ada keraguan buat ngebunuh yoona, yaa semoga itu krn jonghyun beneran suka sm yoona😀 nice ff thor, selanjutnya sangat ditunggu. fighting!!😉

  3. kasian yoona-nya, udah gk tau apa2 tntang ayah&adiknya yg dh mninggal eh nyawanya terancampun gk tau.. mkin pnasaran ma lnjutannya…

  4. Huuaacchhh,,,,DAEBAKK…
    G’ nyangka msih bnyak yg cinta sama DeerBurning,,..
    Nado choayoo…
    Ceritanya makin seru,..makin semangat nunggu.,,.
    Keep update autornim,…
    Gamsahamnida,,,,,

  5. Itu Donghae tau kalo Yoona ada perasaan sama Jonghyun?
    Kasian Yoona gak tau tentang keluarganya.
    Jonghyun juga kayaknya gak tega nyelakain Yoona.
    Jessi ama Krystal sodara bukan disitu??
    Next, author..

  6. Hmmmmm kyaknya yoona mulai brpaling k jonghyun nih ,, dia udah mulai bngung antara dongahe dan jonghyun ,, jonghyun suka sama yoona bneran atau itu cuma pura2 doang ,, dsini sicca suka sama donghae atau gaaa yaaa ??? Ditunggu lanjutannya ,

  7. wah mianhe Chingu..aku kelewat part 3 ini..ini pun aku tau2 liat part 4 udah ada…V..
    Dan mengenai part 3 ini..huft sumpah gregetan…makin seru jadi makin kesel..kekeke..pengin cepet baca part 4..bye ah..

  8. Jonghyun bner2 suka sm yoona gag siih?? Msi penasaraan..
    Aiishh donghae ngelamar yoona,, di terima gag yaa??kn ayahnya donghae jg gag setuju…
    Ayah yoona masi idup gag tuuh??
    NeexxTtt..

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s