Crush (Part 6)

crush cover

 

Judul: Crush – part 6

Author: emotionalangel4

Rating: PG-15

Genre: Romance, Angst, AU

Lenght: Chaptered

Main Cast:

Lee Jonghyun CN Blue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Other Cast:

Jung Yonghwa CN Blue sebagai Im Yonghwa

Lee Jungshin CN Blue sebagai Lee Jungshin

Tiffany Hwang SNSD sebagai Tiffany

Jessica Jung SNSD sebagai Jessica

Kim Taeyeon SNSD sebagai Kim Taeyeon

Im Seolong (OCs)

Im / Ham Haera (OCs)

Han Taejo (OCs)

Disclaimer: The story is pure from my imagination. FF ini sebelumnya sudah pernah dipost di blog pribadiku. Namun versi ini sudah diedit dan diberi sedikit perbaikan.

Prolog –  Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

 

“Nnnggggg” Yoona menggeliat malas di atas kasurnya. Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lagi-lagi mengganggu kenyamanan tidurnya pagi ini. Yoona mencoba untuk menenggelamkan kepalanya lebih dalam pada selimut tebal yang masih terbungkus rapih di tubuhnya. Namun ia merasakan kepalanya begitu berat dan berdenyut. Rasanya seperti dihantam palu besar ribuan kali. Yoona memijit pelan kepalanya masih dengan mata tertutup. Matanyapun terasa sulit sekali dibuka seperti ada besi ratusan kilo yang bergelayut manja di kelopak matanya pagi ini.

Dengan lemah Yoona meraba sisi kanannya, tempat biasa ia meletakkan jam bekernya yang seharusnya sudah berbunyi pagi ini. Namun beberapa kali dicari, ia tak kunjung berhasil menemukan benda bersuara nyaring tersebut. Akhirnya, dengan terpaksa Yoona bangkit dari posisi tidurnya dan mencoba membuka mata walaupun hal tersebut terasa begitu sulit baginya. Setelah mampu melawan rasa sakit pada kepala dan matanya, Yoonapun mengerjapkan matanya beberapa kali agar dapat melawan sinar matahari yang masih terasa begitu terik baginya.

Setelah berhasil mengumpulkan seluruh kesadarannya, Yoona merasa ada sesuatu yang janggal pada pagi ini. Saat ini Yoona berada pada sebuah kasur lipat. Dan seingatnya, ia sama sekali tidak memiliki kasur lipat dirumah. Lalu ia menoleh kesamping kanan, tempat biasa ia meletakkan beker dan air putih di atas meja kecil yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Namun ia tidak dapat menemukan benda tersebut, baik itu jam beker kesayangannya, segelas air putih yang biasa ia sediakan untuk diminum pada pagi hari, ataupun meja kecil yang terbuat dari kayu mahoni tersebut. Semuanya tidak ada di sana. Yoonapun menyingkap selimut yang sedari tadi masih berada di atas tubuhnya. Dan alangkah terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa ia tidak mengenakan piyama yang biasa ia gunakan ketika tidur, melainkan sebuah gaun pesta yang sudah kotor dan berbau alkohol.

“Kau sudah bangun?”

Suara berat itu menyadarkan Yoona dari keterkejutannya. Dan Yoona kembali terkejut berkali-kali lipat ketika mendapati sosok lelaki yang saat ini berada beberapa meter di hadapannya. Apa yang sebenarnya terjadi?

“K-Kau… A-Ada apa ini?” jawab Yoona terbata-bata. Refleks, ia segera menarik kembali selimut yang tadi sempat ia singkap ke sisi kanannya. Otaknya tanpa perintah telah berasumsi bermacam-macam kemungkinan.

“Tsk!” Lelaki tadi menggeleng-geleng malas menanggapi reaksi berlebihan Yoona. Iapun meneruskan pekerjaannya di meja makan yang tadi sempat tertunda.

Yoona yang mengatahui sifat lelaki itu, akhirnya menghapus bersih pikiran-pikiran konyol yang tadi sempat terlintas di kepalanya. Itu pasti tidak mungkin. Lee Jonghyun bukanlah lelaki seperti itu. Yoona masih mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam. Dan setelah beberapa menit ia bergumul dengan ingatannya sendiri, akhirnya ia mengetahui alasannya sampai di tempat ini dan dengan kondisi seperti ini. Tadi malam ia mabuk berat setelah pertengkaran hebat dengan ayahnya. Ya, Yoona ingat semuanya sekarang.

“Cuci mukamu. Setelah itu sarapan” perintah Jonghyun sambil melemparkan handuk ke arah Yoona. Yoona menangkap handuk tersebut dan segera beranjak ke kamar mandi.

 

-ooo-

 

“Ssssshhh” Yoona meringis pelan ketika tangannya tanpa sengaja menyentuh luka sobek pada sudut bibirnya saat ia membersihkan wajah di wastafel. Ia kemudian menatap wajahnya yang terpantul di dalam cermin. Luka sobek pada kedua sudut bibirnya terlihat jelas di sana. Wajahnya benar-benar berantakkan; rambutnya begitu kusut, lipstik pada bibirnya sudah berantakan tidak karuan dan kedua matanyapun terlihat sembab. Yoona memperhatikan kedua matanya itu, seingatnya ia tidak menangis semalam. Lalu kenapa matanya jadi seperti ini?

“Aiiiiish! Cinca!” rutuknya kesal. Ia baru menyadari bahwa sedari tadi Jonghyun melihat wajahnya yang seperti ini. Sungguh, ini benar-benar aib. Bahkan kakak kandungnya belum pernah sekalipun melihat wajahnya yang kacau balau seperti ini. Rasanya saat ini ia ingin menenggelamkan kepadanya di dasar laut untuk menghilangkan rasa malunya.

Yoona keluar dari kamar mandi setelah sedikit merapihkan dirinya. Dilihatnya Jonghyun telah duduk di meja makan. Jonghyun yang melihat Yoona telah keluar dari kamar mandi memanggilnya dan mengisyaratkan agar Yoona duduk di sampingnya. Yoona melangkah ragu ke arah Jonghyun, masih malu jika mengingat penampilannya beberapa menit yang lalu.

Setelah Yoona duduk tepat di sebelah Jonghyun, Jonghyun memutar kursinya agar menghadap berhadapan dengannya. Lelaki itu kemudian mengambil sehelai kapas dan membalurkannya dengan obat luka dari dalam kotak obat yang telah disediakan sedari tadi. Tanpa kata, Jonghyun mengoleskan kapas yang telah dibaluri obat luka tersebut pada sudut bibir Yoona. Yoona sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba Jonghyun namun ia tidak menolak ataupun melawan tindakan lelaki tersebut.

“Sssssshhhh” Yoona meringis ketika merasakan perih yang ditimbulkan obat luka tersebut saat menyentuh luka di bibirnya.

“Mianhe” Jonghyun menghentikan kegiatannya mengobati luka Yoona ketika menyadari ekspresi kesakitan gadis itu.

“Gwenchanna” ucap Yoona sambil tersenyum. Meyakinkan Jonghyun bahwa ia baik-baik saja.

Jonghyun melanjutkan mengobati luka Yoona. Kali ini Jonghyun terlihat lebih lembut dan berhati-hati. Yoona dapat melihat dengan jelas wajah lelaki di hadapannya ini. Wajahnya dengan wajah lelaki ini hanya berjarak beberapa sentimeter. Bahkan Yoona dapat merasakan hembusan hangat napas yang keluar dari hidung Jonghyun. Secara tiba-tiba Yoona menjadi kaku dan kikuk. Ia mencoba mengontrol suara jantungnya yang mulai menggila agar tidak dapat terdengar oleh lelaki itu.

Beberapa menit kemudian, Jonghyun selesai mengobati Yoona setelah menempelkan plester luka pada kedua sudut bibirnya. Jonghyun kemudian mengambil dua tangkup sandwitch yang telah ia buat tadi pagi ke dalam piring dan menyodorkannya ke hadapan Yoona.

“Makanlah” ucap Jonghyun singkat dan kemudian iapun menaruh satu tangkup sandwitch ke atas piringnya sendiri.

“Gomawo” ucap Yoona lirih.

Mereka makan dalam diam. Tidak ada satupun dari mereka yang mencoba membuka pembicaraan. Yoona melirik Jonghyun melalui sudut matanya, kemudian kembali melahap sandwitch tuna buatan Jonghyun dengan khidmat. Dalam hati ia bersyukur bahwa saat ini yang berada di sampingnya adalah Jonghyun. Lelaki ini sedikitpun tidak menanyakan tentang kondisinya atau tentang masalah yang terjadi padanya tadi malam. Satu lagi sifat menyebalkan Jonghyun yang Yoona sukai. Ia tidak pernah mau mencampuri urusan pribadi orang lain. Dan Yoona benar-benar berterimakasih untuk itu.

 

-ooo-

 

“Ku antar kau pulang” tawar Jonghyun setelah meraka menyelesaikan sarapan pagi mereka.

“Ani. Aku mau ke cafe. Hari ini jadwalku kerja” tolak Yoona halus.

“Dengan kondisi seperti ini?” tanya Jonghyun sambil memandang Yoona dari atas sampai bawah.

Yoona mengikuti pandangan Jonghyun pada dirinya dan mendapati kenyataan bahwa kondisinya memang tidak memungkinkan untuknya pergi ke cafe. Tidak dengan gaun pestanya ini.

“Tsk!” Yoona berdecak kesal. Ia memang tidak bisa masuk cafe dengan pakaian seperti ini, namun ia juga tidak ingin pulang ke rumah. Jika ia pulang sekarang, keadaan di rumah akan bertambah runyam.

Beberapa menit kemudian, Jonghyun memberikan sesuatu kepada Yoona. Yoona mencoba melihat lebih jelas sesuatu yang diberikan Jonghyun tersebut dan membentangkannya dengan kedua tangan. Ternyata itu merupakan sebuah kemeja bewarna putih polos -model standar untuk kemeja lelaki- dan juga celana jeans berwarna biru dongker yang jelas-jelas bukan ukuran Yoona.

“Apa ini?” tanya Yona bingung.

“Kemeja dan celana” jawab Jonghyun singkat.

“Maksudku, untuk apa?”

“Kau boleh memakainya. Kau bilang mau pergi ke cafe kan?”

Yoona terdiam sesaat. Masih mencerna kata-kata Jonghyun. Jadi ia harus mengenakan kemeja ini? Kemeja kebesaran dan celana jeans yang juga pasti kebesaran di tubuhnya? Yoona kembali berpikir, pasti teman-temannya di cafe akan menertawainya karena selera fashionnya yang berubah tiba-tiba. Namun di satu sisi, ia juga tidak bisa pergi ke cafe dengan kondisi seperti ini. Pakaiannya saat ini juga pasti akan menjadi obrolan besar di antara teman-temannya –terutama Jessica- karena pakaian yang ia kenakan saat ini adalah salah satu koleksi limited edition dari Gucci. Ketimbang harus menjelaskan mengenai gaun ini kepada Jessica, akhirnya Yoona lebih memilih untuk merubah fashionnya hari ini.

 

-ooo-

 

Jam 8 pagi @ Amore Cafe

 

“Pagi, eonni” sapa Yoona ketika ia memasuki cafe tempatnya bekerja itu.

“Pagi, Yoon-ah” jawab Taeyeon yang sedang sibuk merapihkan meja dan kursi sebelum cafe buka hari ini.

“Yoonie…Ada yang berbeda dengan mu hari ini” Jessica yang tiba-tiba muncul dari dalam pantry segera menatap Yoona penuh selidik.

“Waeyo eonni?” tanya Yoona dengan ekspresi acuh tak acuh. Sengaja terlihat biasa saja agar tidak menambah kecurigaan Jessica.

“Ada apa dengan bajumu itu? Bukankah itu baju pria?” tanya Jessica to the point. “Iya kan Tae?” lanjutnya meminta dukungan Taeyeon.

“Iya, itu terlihat bukan style mu, Yoon-ah” timpal Taeyeon yang saat ini telah menghentikan kegiatannya dan lebih tertarik memperhatikan Yoona.

“Tsk! Ani, eonni. Apa kau tidak tau kalau style ini akan keluar pada rancangan musim panas Karl Lagerfeld tahun 2019 nanti?” jawab Yoona asal.

Saat ini penampilan Yoona memang terkesan maskulin. Gadis itu mengikat rambutnya dengan gaya kuncir kuda ke belakang secara acak. Ia mengenakan kemeja putih berukuran besar milik Jonghyun dengan melipat lengan kemeja itu sampai bawah siku dan membuka tiga kancing di atasnya sehingga memperlihatkan tanktop hitam miliknya –yang kebetulan tidak kotor- di dalamnya. Kemeja putih itu Yoona masukkan bagian bawahnya ke dalam jeans berwarna biru dongker milik Jonghyun yang juga kebesaran untuk Yoona. Yoona juga mengenakan sepatu nike berwarna merah putih milik Jonghyun yang kebetulan berukuran pas dengannya.

“Ya! Kau kira aku bodoh? Mana ada style musim panas dengan kemeja dan jins kebesaran seperti itu!” protes Jessica. “Ah! Aku tahu!! Kau menginap di rumah pacarmu ya? Dan kau meminjam bajunya. Iya kan?”

Kalimat terakhir Jessica sukses membuat Yoona tersedak tanpa alasan. Namun Yoona masih berusaha tetap tenang menanggapinya.

“Sica-yah, kau seperti tidak pernah tidur di rumah seorang pria saja” Hongki tiba-tiba ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. Ia kemudian menghampiri Yoona dan mengeluarkan sebuah senyuman konyol penuh arti.

“Yoona-yah” Hongki menepuk pelan pundak Yoona sok pengertian. “Jangan pikirkan perkataan Jessica. Aku mengerti pasti bajumu basah karena kegiatan kalian semalaman kan? Dan jika dilihat dari bibirmu yang terluka itu, permainan kalian pasti sangat kasar tadi malam. Ckckck…” ledek Hongki yang disusul oleh ledakan tawa dari semua pegawai di dalam cafe.

“Hongki oppa!!!!” teriak Yoona kepada lelaki yang suka menggodanya itu. Yoona begitu malu mendengar perkataan Hongki yang cukup frontal dan kontroversial. Hongki terlihat menikmati reaksi Yoona dan tertawa terpingkal-pingkal.

Di sisi lain, Jonghyun yang juga ikut mendengarkan obrolan rekan-rekan kerjanya dari balik meja kasir hanya bisa menyembunyikan senyumnya. Melihat wajah Yoona yang memerah akibat menahan marah dan malu membuat Jonghyun menikmati obrolan singkat itu dan ia tidak berniat untuk membantu gadis itu kali ini.

 

-ooo-

 

“Yoon-ah, meja nomor 15 order. Tolong ya…”

“De, eonni” Yoona mengambil buku menu di atas meja dekat pantry dan berjalan menuju meja nomor 15 untuk memberikan menu dan mencatat pesanan pelanggan di meja nomor 15 tersebut.

“Silahkan, ini menunya” Yoona menyerahkan buku itu pada seorang pelanggan.

“Ah, de. Aku pesan hot chocolate saja” jawab pelanggan tersebut tanpa melihat buku menu terlebih dahulu.

Yoona mengangguk kemudian mencatat pesanan pelanggan di sebuh note kecil yang selalu dibawanya. “De, tolong tunggu sebentar” ucap Yoona ramah. Ketika hendak membalikkan tubuhnya, Yoona cukup terkejut mengetahui bahwa pelanggan yang saat ini dilayaninya adalah gadis yang dari kemarin membuat perasaannya tidak karuan. Gadis itu Tiffany Hwang.

“Nona, Tunggu sebentar!!” panggilan tiba-tiba Tiffany membuat langkah Yoona terhenti.

“Aku sepertinya pernah melihatmu beberapa waktu yang lalu” ucap Tiffany sambil memiringkan kepalanya terlihat berpikir.

Yoona juga ikut berpikir. Dia belum pernah bertatap muka sebelumnya dengan Tiffany. Apakah Tiffany melihatnya ketika ia mengintip Tiffany dan Jonghyun di taman belakang tempo hari? Yoona merasa gugup. Namun buru-buru ia tepis pikirannya. Tiffany tidak mungkin melihatnya dari jarak sejauh itu.

“Aku yakin pernah melihatmu” Tiffany terlihat masih berpikir dan bergumam kepada dirinya sendiri.

“Mungkin beberapa hari yang lalu ketika kau kesini?” Yoona mencoba membantu Tiffany yang masih berpikir.

“Ani. Aku yakin bukan di sini” jawab Tiffany yakin.

Yoona yang melihat Tiffany masih berpikir, kembali melangkahkan kakinya untuk memberikan pesanan Tiffany kepada Hongki oppa. Namun tiba-tiba Tiffany kembali berseru.

“Ah! Aku ingat!!” ucap Tiffany pada akhirnya. Gadis itu terlihat senang karena mampu menggali kembali memorynya yang sempat hilang tadi. “Aku melihatmu di pesta pembukaan Lotte Mall kemari malam!” seru Tiffany senang.

Yoona yang kaget akan perkataan Tiffany, refleks berbalik menghampiri Tiffany dan segera memotong ucapannya agar tidak terdegar oleh orang lain.

“Nona, kau salah orang” elak Yoona

“Ani. Aku melihatmu bersama Siwon-sii tadi malam. Ku dengar kau meru__“

“Nona, bisa kita bicarakan itu nanti di tempat lain?” potong Yoona cepat.

 

-ooo-

 

“Ini, minumlah” Yoona memberikan sekaleng minuman soda kepada Tiffany yang sedang duduk. Saat ini mereka tengah berada di taman kota yang berlokasi 3 blok dari Amore Cafe. Yoona mengajak Tiffany ke sini untuk membicarakan mengenai pertanyaan Tiffany di cafe tadi.

“Gomawo” ucap Tiffany sambil mengambil kaleng soda dari tangan Yoona.

Yoona duduk di sebelah Tiffany dan membuka kaleng sodanya kemudian meminum isinya beberapa teguk. Yoona masih bingung mau memulai pembicaraan ini dari mana. Ia terlihat masih berpikir untuk memulai percakapan ini dengan hati-hati.

“Itu benar kau kan?” akhirnya Tiffany yang memulai pembicaraan. Gadis itu menatap Yoona tak berkedip, menunggu jawaban.

“Aku berada di sana karena diminta menjadi model ambasador Lotte Mall tersebut” terang Tiffany. Ia merasa karena mereka belum saling mengenal, maka dari itu Yoona merasa canggung dan ragu untuk berbicara padanya. Maka Tiffany mencoba menceritakan mengenai dirinya terlebih dahulu.

“Aku model. Tapi aku masih amatir. Begitu dapat tawaran dari Lotte Corp, aku begitu senang. Tidak menyangka perusahaan sebesar itu memilihku untuk menjadi model salah satu Mallnya” lanjut Tiffany jujur. Gadis itu tersenyum kepada Yoona. Yoona dapat menangkap aura kebahagiaan dari wajah gadis tersebut.

Lama mereka terdiam. Yoona masih belum juga mengeluarkan sepatah katapun semenjak duduk di bangku taman ini. Ia lebih tertarik melihat beberapa anak yang sedang berlarian di taman dan sepasang kekasih yang tengah menikmati makan siang mereka di bawah pohon oak tidak jauh dari tempatnya berada.

Tiffany masih memperhatikan Yoona. Ia juga tidak mau memaksa Yoona untuk menjelaskan mengenai kejadian tadi malam. Karena ia sadar betul, Yoona juga memiliki hak mengenai privasinya.

“Baiklah Yoona-sii, kalau begitu aku pamit. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan” ucap Tiffany pada akhirnya. “Aku tidak akan membicarakan hal ini kepada siapapun. Aku berjanji” Tiffany membentuk pola V pada jari telunjuk dan jari tengahnya sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya kepada Yoona.

Tiffanypun bangkit dari duduknya. “Senang bisa berbincang denganmu, Yoona-sii” ucap Tiffany sambil membungkuk hormat kepada Yoona. Yoonapun balas membungkuk hormat pada gadis itu. Ia dapat merasakan bahwa gadis dihadapannya ini tidak seburuk yang ia kira. Gadis ini begitu bersahabat dan ramah. Sorot mata serta senyumnya juga terlihat tulus, persis seperti senyum Minhyuk.

“De, sama-sama. Lain kali akan ku ceritakan. Jika aku sudah siap”

Tiffany hanya tersenyum mendengar perkataan Yoona. Ketika baru beberapa langkah menjauhi tempat Yoona, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Yoona.

“Oh iya Yoona-sii. Tolong jaga baik-baik kemeja itu. Itu kemeja favorite Jonghyun oppa”

Yoona terbelakak kaget dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia beberapa kali mengerjapkan matanya untuk membuat dirinya sadar bahwa kalimat yang baru saja ditangkap oleh pendengarannya tidak keliru. Yoona masih dapat melihat punggung Tiffany yang semakin menjauh. Ingin rasanya ia memanggil Tiffany kembali dan meminta penjelasan dari apa yang baru saja diucapkan gadis tersebut. Ia sama sekali tidak mengira Tiffany sampai mengetahui bahwa kemeja yang ia kenakan ini adalah milik Jonghyun. Ternyata Tiffany memang bukan orang biasa di kehidupan Jonghyun, ia pasti memiliki peran penting dalam hidup Jonghyun sebelumnya.

 

-ooo-

 

13.00 KST @Coffe Shop depan St. Mary Hospital

 

Yonghwa melangkah cepat memasuki kedai kopi kecil yang berada persis di depan Rumah Sakit St. Mary di pinggir kota Seoul. Ia baru saja tiba dari Jepang dua jam yang lalu dan segera melesat menuju kedai ini untuk menemui seseorang.

Yonghwa memandang sekeliling. Mencari sosok orang yang dengan sengaja dihubunginya kemarin pagi untuk bertemu di kedai ini. Setelah mengedarkan pandangan ke seluruh menjuru kedai, akhirnya Yonghwa dapat menemukan sosok yang dicarinya. Ia segera melangkahkan kaki menuju meja tempat orang tersebut tengah menunggunya.

“Annyeong Haseyo, Tuan Han?” tanya Yonghwa ragu kepada pria setengah baya yang sedang menyeruput kopinya di meja seorang diri.

“De. Kau Im Yonghwa?” tanya pria tersebut kepada Yonghwa.

“De, Tuan. Saya Im Yonghwa” Yonghwa memperkenalkan diri sembari membungkuk hormat.

“Ah, duduklah Yonghwa-sii”

“Kamsha Hamnida” Yonghwapun duduk berhadapan dengan pria tersebut.

“Terimakasih atas waktumu siang ini, Tuan Han” ucap Yonghwa setelah memesan Ice Americano kepada salah seorang pelayan.

“Aniyo. Aku yang seharusnya berterimakasih, Yonghwa-sii. Terimakasih karena telah menghubungiku”

“Kau pasti terkejut atas kehadiranku yang tiba-tiba ini. Dan terimakasih juga karena kau telah menjaga ibuku selama ini. Aku benar-benar berhutang budi padamu” Yonghwa kembali membungkukkan tubuhnya hormat kepada pria hadapannya itu.

“Kau tidak perlu berterimakasih untuk itu, Yonghwa-sii. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai suami ibumu”

Yonghwa tersenyum mendengar perkataan Tuan Han. Pria paruh baya di hadapannya ini adalah Han Taejo, suami dari ibunya. Mereka menikah 3 tahun yang lalu saat ibunya sudah bercerai dengan ayahnya, Im Seolong. Yonghwa bersyukur ibunya mendapatkan pria sebaik Tuan Han. Pria inilah yang selama 9 bulan terakhir dengan sabar menjaga dan merawat ibunya yang sedang sakit seorang diri.

Yonghwa mengetahui semua informasi tersebut dari Jungshin. Tidak ada satupun informasi tentang ibunya yang terlewat oleh Jungshin, termasuk tentang kehidupan ayah tirinya ini. Tuan Han merupakan duda dengan satu anak. Istrinya meninggal 8 tahun yang lalu akibat kecelakaan di sebuah bus yang ditumpanginya. Sedangkan anak satu-satunya yang saat ini berusia 21 tahun tengah menimba ilmu di sebuah universitas swasta di daerah Ulsan.

Ini kali pertama Yonghwa bertemu dengan ayah tirinya, setelah hampir satu bulan ia mengetahui keberadaan dan kondisi ibunya. Sampai saat inipun Yonghwa belum bertemu langsung dengan ibunya. Ia hanya mendapatkan kabar mengenai kondisi ibunya dari dokter ataupun dari Jungshin yang sengaja ia minta untuk mencari informasi tersebut.

“Bagaimana kondisi ibu sekarang?” tanya Yonghwa. Sudah hampir satu minggu ini ia tidak mengunjungi ibunya dan tidak juga mendapat kabar mengenai kondisi ibunya.

“Belum ada perubahan” jawab Tuan Han singkat. Yonghwa dapat melihat gurat kesedihan di wajah pria paruh baya ini. Namun pria ini telihat sabar dan tidak sedikitpun mengeluh mengenai kondisi yang dihadapinya saat ini.

Yonghwa mengusap wajahnya pelan. Merasa sedih mendengar kondisi ibunya. “Apa yang bisa kulakukan, Tuan Han?” tanya Yonghwa pelan menahan kesedihannya yang tiba-tiba meluap begitu mengingat kondisi ibunya. Sebenarnya inilah tujuannya menemui Tuan Han. Ia ingin berdiskusi dengan ayah tirinya ini mengenai tindak lanjut yang akan ditempuh untuk kesehatan ibunya.

Tuan Han hanya terdiam menanggapi pertanyaan Yonghwa. Matanya terlihat menerawang jauh ke depan. Yonghwa sendiri tidak dapat menebak apa yang sedang dipikirkan pria ini.

“Bagaimana jika ibu dipindahkan ke Rumah Sakit yang lebih baik di pusat kota?” Saran Yonghwa. Ia merasa ibunya dapat ditangani lebih baik dengan fasilitas lengkap yang tersedia di Rumah Sakit pusat di Seoul.

Tuan Han menatap Yonghwa lama. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja dengan irama pelan dan teratur, terlihat tengah berpikir. “Apakah itu yang terbaik?” Tuan Han balik bertanya, bukan kepada Yonghwa tapi lebih kepada dirinya sendiri. Sebenarnya ia bersedia jika memang dengan jalan itu istrinya dapat sembuh. Namun bagaimana dengan perkerjaannya? Ia tidak mungkin bisa berkerja jika harus menjaga istrinya yang dirawat di Rumah Sakit yang berjarak jauh dari tempatnya bekerja. Bagaimanapun juga ia membutuhkan uang untuk membiayai perawatan istrinya. Apalagi Rumah Sakit di Seoul memiliki tarif yang jauh lebih mahal daripada Rumah Sakit di wilayah ini.

“Masalah biaya, biar aku yang menanggungnya” ucap Yonghwa yang seolah-olah dapat membaca kekhawatiran Tuan Han. “Kalau diperlukan, aku juga akan menyewa orang untuk merawat ibu. Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan ibu” Yonghwa mencoba meyakinkan Tuan Han.

Pria itu kembali terdiam beberapa saat. Jari telunjuknyapun kembali mengetuk-ngetuk ujung meja dengan teratur. “Aku tahu kau menginginkan yang terbaik untuk ibumu” Akhirnya Tuan Han kembali membuka suara setelah hampir 3 menit terdiam. “Aku tidak keberatan. Namun ada baiknya kau tanya pendapat ibumu secara langsung. Temuilah dia” sarannya.

“Tidak Tuan. Kurasa aku tidak bisa. Kehadiranku hanya akan membuat kondisi ibu memburuk” tolak Yonghwa. Ia tidak ingin ibunya kembali teringat kejadian-kejadian buruk ketika ia masih menjadi keluarga Im.

“Aniyo, Yonghwa-sii. Kurasa ibumu akan senang bertemu denganmu saat ini. Kau bisa meningkatkan kembali semangat hidupnya. Ia butuh dukunganmu” Tuan Han mencoba meyakinkan Yonghwa. “Temuilah dia”

 

-ooo-

 

Ruang Perawatan Kelas II Kamar 204, St.Mary Hospital

 

“Yeobo, aku datang. Bagaimana kondisimu?” Tuan Han melangkah masuk ke dalam kamar 204.

“Aku baik-baik saja. Kau sudah makan siang?” tanya wanita dari dalam kamar. Yonghwa dapat mendengar suara lemah seorang wanita di dalam kamar rawat inap tersebut. Yonghwa sendiri masih berdiri di balik pintu kamar. Sebenarnya dirinya belum siap dengan pertemuan tiba-tiba ini.

“Masuklah” terdengar suara Tuan Han dari dalam kamar. Yonghwa tahu betul kepada siapa kalimat tersebut ditunjukkan.

Yonghwapun melangkahkan kakinya pelan memasuki kamar tersebut. Ia dapat melihat seorang wanita setengah baya dengan baju pasien berwarna biru muda tengah berbaring di ranjang pasien. Tubuhnya begitu kurus dan rambutnya sudah mulai menipis. Wanita itu menatap Yonghwa tidak percaya. Beberapa detik kemudian, air mata sudah mengalir di kedua pipi tirusnya.

“Yonghwa-yah” suara wanita itu terdengar serak disela tangisnya.

Yonghwa masih terpaku di ambang pintu. Matanya sudah mulai memanas. Dadanya juga kembang kempis menahan emosinya yang begitu saja meluap ketika melihat wanita di hadapannya itu. Yonghwa berjalan pelan ke arah wanita itu tanpa melepaskan pandangannya. Rahangnya mengatup kuat untuk menahan cairan yang mendesak keluar dari sudut matanya. Sudah empat tahun berlalu semenjak ia bertatap muka dengan wanita itu. Wanita itu kini terlihat begitu kurus dan lemah. Penyakit yang dideritanya telah dengan cepat menggerogoti tubuhnya. Wanita itu memandang Yonghwa lekat sambil menahan isaknya yang semakin kuat.

“Eomma” ucap Yonghwa setengah berbisik ketika dirinya telah berdiri di sisi ranjang wanita itu. Saat itu juga, cairan bening yang sedari tadi ia tahan keluar membanjiri pipinya. Ia tidak peduli lagi sekarang. Rasa rindu dan rasa sedihnya bercampur aduk saat ini. Ia benar-benar tidak mampu mengendalikan emosinya. Rasa sesak yang menghimpit dadanya selama ini tiba-tiba menumpuk berkali-kali lipat sehingga ia tidak dapat lagi membendungnya. Yonghwa menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan seluruh beban yang menghimpit rongga dadanya selama 4 tahun terakhir.

“Eomma… Eomma…” lirihnya. Yonghwa memeluk ibunya erat. Menenggelamkan wajahnya di pundak kurus ibunya itu. Kembali merasakan kehangatan pelukan wanita itu lagi. Kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. “Eomma, mianhe. Mianhe…” ucap Yonghwa disela isakannya.

Tidak ada yang berbicara. Hanya ada suara isakan tangis yang memenuhi seluruh sudut ruangan. Pertemuan ibu dan anak setelah empat tahun itu tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Semuanya terjadi begitu saja. Rasa rindu, rasa sedih, rasa bahagia, semuanya tercampur menjadi satu dalam isakan-isakan tertahan kedua manusia itu.

Setelah semuanya mampu mengontrol emosinya dan kembali tenang, wanita itupun membuka kembali suaranya. “Kau sudah besar, Yonghwa-yah. Kau hidup dengan baik kan?” tanya wanita itu sambil tersenyum lemah.

Yonghwa dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu setelah menyeka cairan bening yang sedari tadi menumpuk di kedua kantung matanya. Wajah wanita itu terlihat begitu pucat dan kurus. Terlihat juga bibirnya yang pecah-pecah dan rambutnya yang mulai menipis mungkin akibat dari seringnya kemoterapi yang telah dijalaninya. Namun kehangatan mata wanita itu tidak berubah. Yonghwa sangat rindu dengan tatapan teduhnya itu.

“Ne, eomma. Maafkan aku karena baru bisa mencarimu sekarang. Maaf” lirih Yonghwa. Ia kembali memeluk ibunya dan mengecup lembut kening wanita di hadapannya itu.

“Ani. Terimakasih telah mencariku, Yonghwa-yah. Terimakasih” ucap ibunya pelan. Mencoba menahan air mata yang hendak kembali keluar dari sudut matanya.

“Bagaimana keadaaan Yoona? Apa dia mengetahui keadaanku sekarang?” tanya ibunya mengenai putri bungsunya itu. Terlihat ekspresi cemas yang tiba-tiba terpancar dari wajah tirusnya.

“Aniyo, eomma. Aku belum memberitahunya bahwa aku telah bertemu denganmu. Tapi aku akan menceritakannya nanti”

“Ani. Ani. Ani” potong ibunya cepat. “Jangan beritahu dia mengenai kondisiku sekarang. Aku tidak ingin membuatnya sedih dan cemas. Jangan beritahu dia, Yonghwa. Ku mohon”

Yonghwa memandang ibunya lekat. Mencoba memikirkan permintaan ibunya tersebut. Ibunya terlihat bersungguh-sungguh akan permintaannya itu. Yonghwa sendiri juga tidak ingin membuat adik satu-satunya itu kembali terpuruk setelah mendengar kondisi ibunya yang seperti ini. Namun di satu sisi, Yoona berhak tahu mengenai kondisi ibunya. Yoona juga berhak merawat ibunya di saat-saat kritis seperti ini. Yonghwa bergelut dengan pikirannya sendiri. Bingung memutuskan mana yang terbaik bagi semuanya.

“Aku tidak akan memberitahu Yoona mengenai kondisi eomma, asal eomma mau dirawat di Rumah Sakit pusat di Seoul. Bagaimana eomma?” Yonghwa mencoba memberikan penawaran terbaik untuk ibunya.

Wanita itu membulatkan matanya. Terlihat kaget dengan permintaan tiba-tiba Yonghwa. “Waeyo? Kenapa aku harus pindah?” tanyanya bingung.

“Aku ingin eomma mendapatkan perawatan yang lebih baik di sana. Fasilitas di Rumah Sakit pusat lebih lengkap dari Rumah Sakit ini, eomma. Semuanya biar aku yang urus. Bagaimana? Kurasa ini yang terbaik untuk semua” Yonghwa mencoba meyakinkan sambil menggenggam lembut tangan kiri ibunya dengan kedua tangannya. Menyalurkan keyakinan dan kekuatan yang ia miliki dari ujung-ujung jarinya.

Wanita itu tidak segera menjawab permintaan Yonghwa, melainkan menatap pria tua yang sedari tadi duduk di kursi di sudut ruangan itu. Meminta pendapat pria yang saat ini menjadi satu-satunya orang yang paling setia menemaninya. Pria itu menganggukkan kepalanya pelan. Meyakinkan wanita itu bahwa jalan itulah yang memang terbaik saat ini.

“Arasho” Wanita itupun akhirnya menyetujui permintaan anak sulungnya.

 

-ooo-

 

“Jungshin-ah, tolong kau urus semuanya. Aku ingin dia mendapatkan pelayanan terbaik di sana. Pastikan semuanya berjalan lancar. Hubungi aku jika kau membutuhkan bantuanku”

Ne. Arasho, hyung

“Gomawo, Jungshin-ah” Yonghwa mengakhiri sambungan teleponnya dengan Jungshin. Ia meminta Jungshin untuk mengurus masalah kepindahan ibunya ke Rumah Sakit pusat di Seoul untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik. Apapun akan ia lakukan demi kesembuhan ibunya.

Yonghwa kembali konsentrasi dengan jalan di depannya. Duapuluh menit yang lalu ia telah meninggalkan St. Mary Hospital dan saat ini tengah mengemudikan mobilnya ke suatu tempat.

Selah tiba di tempat yang dituju, Yonghwapun menghentikan mobilnya di tepi jalan dan mengambil ponselnya. Ia menekan dial speed pada angka dua yang telah ia simpan di pengaturan ponselnya sejak lama.

“Waeyo oppa?” terdengar suara yang tidak asing dari ujung telpon.

“Yoon-ah. Kau di cafe sekarang?”

“Ne. Waeyo?”

“Aku ada di seberang. Kemarilah”

Tidak ada suara beberapa saat. “Ne, aku melihatmu oppa” ucap Yoona kemudian. “Tunggu sebentar”

Yoonapun berjalan keluar cafe dan segera menuju mobil BMW warna merah keluaran terbaru yang terparkir tidak jauh dari cafenya. Iapun segera membuka pintu dan duduk di kursi depan.

“Annyeong, oppa” sapa Yoona riang setelah menutup pintu mobil.

“Annyeong, Yoon-ah” Yonghwa mengacak poni Yoona gemas.

“Kapan oppa kembali?”

“Tadi pagi. Tadi oppa ada urusan sebentar dan segera kemari setelah selesai” jelas Yonghwa sambil mengelus lembut rambut Yoona. Tiga hari di Jepang membuatnya rindu pada adik satu-satunya ini. Yonghwa menatap Yoona sambil tersenyum. Namun tatapannya terhenti pada sudut bibir Yoona. Senyum yang tadi terkembang di wajahnya seketika menghilang.

“Apa ini???” tanya Yonghwa penasaran sambil memegang subut bibir Yoona. Wajah Yonghwa tiba-tiba mengeras dan keningnya berkerut, menandakan ia tidak suka dengan apa yang sedang dilihatnya.

“A-Aniyo oppa. Ini bukan apa-apa” Yoona terlihat kikuk. Situasinya tidak bagus sekarang. Yoona lupa dengan keadaan wajahnya saat ini. Jika tahu akan seperti ini, ia seharusnya menolak bertemu Yonghwa tadi.

“Siapa yang melakukannya??” tanya Yonghwa tegas. Yoona sempat takut melihat sorot mata kakaknya yang tiba-tiba berubah. Iapun memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan menuntut kakak satu-satunya itu.

“A-Aniyo oppa. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Ini kecelakaan. Aku sedikit ceroboh kemarin” Yoona menjawab masih dengan memalingkan wajahnya. Ia tahu betul, jika ia memandang mata kakaknya saat ini, maka semua pasti terbongkar. Ia tidak bisa mengelak lagi.

Yonghwapun memutar kepala Yoona untuk menatap mata gadis itu. “Katakan pada oppa, siapa yang melakukannya?” Yonghwa kembali bertanya setelah berhasil menatap mata Yoona.

Yoona tidak menjawab.

“Apa ini perbuatan appa??” tanya Yonghwa langsung.

Yoona kembali tidak menjawab. Mendengar kata ‘appa’ kembali mengingatkan Yoona pada kejadian tadi malam. Yoona menarik wajahnya dari tangan Yonghwa dan kembali memalingkan wajahnya. Ia tidak bisa lagi mengelak. Yonghwa jelas sudah tahu jawabannya.

“Brengsek!!!” geram Yonghwa sambil memukul kemudi di depannya. Emosinya tiba-tiba tersulut setelah melihat kondisi adiknya. Jadi ini yang dilakukan si brengsek itu kepada adiknya selama ia tidak ada di rumah? Jadi ini yang Yoona alami selama tiga tahun ia meninggalkan Korea? Ia salah jika mengira ayahnya telah berubah.

Yonghwapun menghidupkan mesin mobilnya, bersiap melesat ke suatu tempat untuk membuat perhitungan.

Namun Yoona menghentikan gerakan Yonghwa. Yoona mematikan mesin mobil yang tadi sempat dihidupkan Yonghwa sebelum lelaki itu sempat melajukan mobilnya. “Jangan, oppa. Tidak seperti ini”

“Ini hanya akan memperburuk keadaan” lanjut Yoona. Suaranya terdengar lebih tenang saat ini.

“Tidak ada yang lebih buruk dari perlakuannya terhadapmu” geram Yonghwa.

“Oppa, jika kau menemuinya sekarang, apa kau pikir semuanya akan berhenti begitu saja? Semuanya akan terus berlanjut, oppa. Jika kau pergi, maka ia akan melampiaskan kekesalannya padaku berkali lipat. Itu hanya akan menyakitiku lebih dalam”

Yonghwa tercekat. Ia terdiam di tempatnya. Tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Benar kata Yoona, jika ia membuat perhitungan pada si brengsek itu saat ini, itu hanya akan merugikan Yoona. Ia pasti akan melampiaskan kekesalannya pada Yoona berkali-kali lipat ketika Yonghwa tidak berada di dekat Yoona. Dan Yonghwa tidak ingin hal itu terjadi. Ia merasa gagal melindungi Yoona. Merasa gagal menjadi seorang kakak.

“Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak mungkin membiarkanmu seperti ini” tanya Yonghwa frustasi.

“Aku punya ide, oppa. Tapi oppa harus mendukungku” Yoona menatap mata Yonghwa lekat. Terlihat keyakinan di balik mata coklatnya itu.

 

-ooo-

20 thoughts on “Crush (Part 6)

  1. daebaaaakkk!!! Apa rencana yoona???? Trus apa 4thn yg lalu itu knp apa hubnya dg jong hyun + yoona?? Cepetan thor di update. Ga sabar niih.

  2. Ooowww… jonghyun minjemin kemeja kesayangannya ke yoona… ommo ommo… udah mulai ada rasakah???? ^^. Hhmmm feeling2nya ni kejadian 4th yg lalu saling berhubungan ni… maju terus thor!!!

  3. ADMIN TOLONG SEGERA TERBITKAAAAANNNNNNNN KELANJUTANNYA,
    g sabar ini. hhhmmm eonni, part yongseonya yang banyak yaaa

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s