A way to catch you (Chapter 10-END)

awtcy-cover

 

Title : A way to catch you

Author: Kim Sung Rin

Rating: PG 15

Genre: Romance, AU

Length: Chaptered

Main Cast:

-Lee Jonghyun

-Han Eun Jin (OC)

-Han Min Jin (OC)

-Lee Jungshin

Other Cast:

-Suho (EXO)

-Lee Taemin (SHinee)

-Lee Hyun In (Lee Jonghyun sister)

-Lee Jinki (SHINee)

-Choi Jun Hee (Juniel)

-Seo Yuna (AOA)

Disclaimer: My Own stories, perdana publish disini, tapi ada di wp pribadiku juga.

previous part : [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9]

~~~

Author pov

“Haah~ akhirnya semua ini selesai, tak kusangka akan secepat ini.” Jungshin merenggangkan tangannya dan menyenderkan kepalanya di bangku café. Eun Jin pun menghela napas lega kemudian menyesap goguma latte-nya.

“Aku malah memprediksi hal buruk yang rasanya membuatku susah tidur. Tapi memang Tuhan berkehendak lain dan aku sangat berterima kasih karenanya.” Min Jin tersenyum senang sementara Jungshin menoleh kearahnya.

Chagiya~ kau suka mimpi buruk ternyata? Apa kau perlu aku temani tidurmu biar kau tidak jadi mimpi buruk?”

Ya! Hentikan Jungshin-ah!” Eun Jin melempar gumpalan tissue kearah Jungshin, “Jangan bicara yang tidak-tidak didepanku!” lanjutnya lagi. Wajah ‘terganggu’ Eun Jin membuat Jungshin cemberut dan kembali menyenderkan kepalanya di bangku café.

Kali ini tatapan Eun Jin beralih ke Jonghyun. Hatinya berdebar begitu kedua mata mereka saling menatap dan Jonghyun menyunggingkan seulas senyum yang terselip diantara guratan lelah wajahnya.

“Jadi,” Jonghyun merendahkan suaranya, “mau ikut aku kedapur sebentar?”

Aish~ jangan melakukan hal macam-macam di café ini Jonghyun!” kendati Jonghyun sudah merendahkan suaranya, Min Jin yang duduk tepat didepannya dapat mendengar seuntai kalimat Jonghyun yang barusan di ucapkannya.

“Memangnya aku mau berbuat apa?” Jonghyun menghela napas kesal, “Ini tidak seperti yang ada dipikiranmu!”

Arra arraa, pergilah kedapur agar aku dan Min Jin bisa berduaan lagi.” Jungshin mengedipkan sebelah matanya kearah Min Jin yang langsung tersipu malu saat itu juga.

Eun Jin mendecak, dia tidak terlalu suka melihat pasangan cheesy seperti kakaknya dan Jungshin itu. dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti Jonghyun kedapur.

Wae? Apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?” Tanya Eun Jin to the point.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Aku ingin mengenalkan seseorang kepadamu.” Ucap Jonghyun parau. Eun Jin mengernyitkan dahinya.

“Siapa yang kau maksud?” Eun Jin berdebar sekaligus penasaran. Dirinya mulai takut dan sedikit ciut dengan topik pembahasan yang random ini.

“Kau akan segera mengetahuinya. Untuk itu maukah kau ikut denganku ke Busan besok pagi?”

Eun Jin menghela napasnya lalu mengangguk ragu, “Arasseo, aku akan pergi denganmu tapi …”

“Hanya kau!” potong Jonghyun, “Tanpa Jungshin dan Min Jin.”

Eun Jin menghela napasnya saat itu juga.

“Baiklah, hanya aku.”

~~~

Eun Jin membiarkan angin menerobos masuk melalui jendela mobilnya -yang saat ini dikendarai Jonghyun- dan mengacak-acak rambut lurusnya. Selama perjalanan yang hampir memakan waktu lima jam itu, baik Jonghyun dan Eun Jin tidak banyak bicara. Eun Jin tidak bisa menebak apa yang sedang difikirkan Jonghyun saat ini karena wajahnya terlihat datar dan minim senyum seperti biasanya.

Setelah melewati perjalanan panjang, Akhirnya Jonghyun memarkirkan mobil Eun Jin disuatu tempat, dekat dengan pantai Haeundae.

Eun Jin hanya bisa diam, belum mau menanyakan siapa dan kenapa mereka harus bertemu ‘seseorang’ itu ditempat seperti ini. Namun setelah mereka berjalan selama lima menit, barulah Eun Jin sadar kalau mereka berada disebuah makam sekarang. Dan Jonghyun berjalan tak sabar didepannya, menuju sebuah pusara putih  yang berada tepat dibawah pohon beringin besar.

“Yuna-ya, annyeong.” Jonghyun menaruh seikat bunga tulip putih yang dibawanya, begitupun dengan Eun Jin yang memberi bunga yang serupa.

“Aku datang untuk menepati janjiku,” ucap Jonghyun lagi setelah diam beberapa saat. Jonghyun kini telah menghempaskan dirinya disamping pusara tersebut dan mengelusnya dengan lembut seolah mengelus gadis yang barusan disapanya.  Eun Jin menatap pusara putih itu dengan tatapan penuh tanya. Dia belum bisa menebak siapa sebenarnya gadis yang dipanggil Yuna itu.

“Sebelum kau melanjutkannya,” Eun Jin menyela, “Bolehkah aku tau siapa Yuna ini?” Eun Jin berbicara dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Jonghyun yang terlihat jauh lebih muram saat mereka menginjakkan kaki di makam ini.

Jonghyun menghela napasnya dan tersenyum menatap Eun Jin, “Ah~ aku lupa untuk memberitahaunya kepadamu. Dia Yuna –Gadis yang special untukku sebelum aku bertemu denganmu.”

Eun Jin mengangguk setelahnya. Kini dia telah mengira-ngira Kenapa Jonghyun selama ini mempunyai hati yang dingin dan tidak mudah bergaul dengan orang lain. Mungkin, dia belum bisa menerima kenyataan kalau dia ditinggal oleh Gadis tersebut.

Jonghyun kembali menatap pusara putih itu lagi, “Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku datang menepati janjiku,” Jonghyun tersenyum kecut sambil mengusap pusara tersebut, “Untuk melupakanmu.”

Eun Jin segera menengadahkan kepalanya dan menatap wajah Jonghyun. Lelaki itu Nampak tersenyum dengan terpaksa, masih setia menatap pusara putih itu. Tampaknya ini berat sekali untuknya, tapi dia sungguh-sungguh mengutarakan isi hatinya terlebih itu semua dilakukan didepan kekasih barunya, Eun Jin.

“Jonghyun-ah,” Eun Jin menyela perkataannya lagi, “Aku tidak pernah berkata kau harus melupakannya kan? Jadi kurasa kau tidak per –”

“Aku berjanji untuk melupakannya jika aku sudah menemukan lagi gadis yang aku cintai, Eun Jin ah.” Jonghyun memotong perkataan Eun Jin, dan itu sukses membuat wajahnya memerah dan diam total.

“Aku sadar, ini tidak seharusnya aku lakukan. Menutup hatiku dan tidak bergaul dengan orang. Aku juga tidak hadir pada saat Yuna dimakamkan. Aku terus-terusan merasa bersalah atas kematian Yuna. Betapa bodohnya aku saat itu, dan aku menyesal telah melakukan itu semua. Meninggalkan bumi ini tentu bukan kemauan Yuna, tapi itu sudah menjadi takdir dan aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan itu.” ucap Jonghyun lagi.

Eun Jin tidak dapat berbuat apa-apa kecuali mengusap punggung Jonghyun dengan sayang untuk menenangkan lelaki tersebut.

“Aku tahu itu. Semua ada waktunya. Dan kuyakin Yuna akan senang dengan hal ini, bahwa kau tidak lagi menutup hatimu kepada  orang disekitarmu. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri, Jonghyun ah.” Lanjut Eun Jin, senyuman tulusnya diberikan untuk Jonghyun, berharap lelaki itu jauh lebih kuat dan bersiap menghadapi hidup yang selama ini berusaha dihindarinya.

Jonghyun menarik tubuh Eun Jin dan menangis disana. Eun Jin yang terkejut akhirnya mengelus kepala dan punggung Jonghyun bergantian.

“Menangislah sepuasmu, Jonghyun-ah. Tidak akan kubiarkan kau menangis lagi setelah ini.” Kata Eun Jin.

~~~

Eun Jin pov

“Cinta bisa mengubah seseorang.”

Sebelumnya aku tidak mempercayai kalimat itu. Tapi aku melihat dengan kedua mataku sendiri bahwa kalimat itu memang benar dan terjadi tepat didepan mataku.

Dan itu semua terjadi pada Jonghyun, kekasihku sekarang ini. Jika aku mengingat-ingat dirinya saat awal aku bertemu dengannya dan dengan dirinya yang sekarang sungguh sangat sulit dipercaya. Dulu lelaki ini jarang sekali tersenyum, bahkan dia hampir tidak pernah tersenyum. Dan dia tidak suka berkumpul dengan orang lain, dia lebih senang menyendiri dan tidak peduli orang sekitarnya.

Tapi, lihatlah sekarang. Lesung di pipinya selalu muncul setiap kali aku memandang wajahnya. Sifatnya jauh lebih hangat dan penyayang dan dia mulai banyak berinteraksi dengan orang lain. Seperti sekarang ini, dia sedang bicara dengan Jungshin dan keluargaku untuk merencanakan pernikahan Min Jin dan Jungshin. Beberapa anak saudaraku nampak menarik-narik ujung kemejanya untuk mengajaknya bermain dihalaman.

Dengan tatapan lembutnya dia menatap mata anak-anak kecil itu dan menggandenganya menuju halaman belakang setelah sebelumnya menyudahi obrolan mengenai pernikahan Min Jin dan Jungshin.

“Dia menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya ya,” tiba-tiba Min Jin sudah berdiri disampingku dengan secangkir kopi ditangan kirinya.

Aku tersenyum, “Ya, kau benar. Dan aku hampir tidak percaya bahwa semua ini terjadi, terlebih pada -dirinya. Ini semua benar-benar keajaiban.”

“Kau beruntung bisa mendapatkannya dan bisa mengubahnya sampai sejauh ini. Rasanya aku seperti mengenal Jonghyun yang baru sekarang.” Aku mengangguk membenarkan. Ya, aku sangat suka Jonghyun yang sekarang.

Min Jin menyesap kopinya dan tiba-tiba tersedak karena merasakan ada sepasang tangan yang melingkar dipinggangnya.

“Kurangi minum kopi chagiya, itu tidak bagus untuk lambungmu.” Ucap Jungshin sambil mengecup puncak kepala Min Jin. Dan seketika ruangan ini gaduh dengan sorak-sorakan. Aku biasanya akan kesal dengan sikap Jungshin yang cheesy ini. Tapi, aku tidak dapat menahan senyumku.  Beberapa hari yang lalu Min Jin sempat sakit dan dirawat dirumah sakit selama dua hari. Kecintaannya terhadap kopi membuatnya terkadang melupakan makan siangnya sehingga lambungnya mengalami luka. Melihatnya begitu menjaga Min Jin rasanya aku senang sekali, dan bahagia karena tidak ada lagi one-sided-love antara Jungshin dan Min Jin.

“Eun Jin-ah. Kemarilah!” Eomma melambaikan tangannya memanggilku. Aku segera berlari kearahnya dan memegangi lengannya saat dia berjalan karena kondisinya belom pulih benar semenjak kejadian percobaan bunuh diri dua bulan yang lalu.

Ne eomma. Kau ingin berbicara denganku?” aku berjalan pelan menyeimbangi langkah eomma. Ia mengangguk dan mengajakku masuk kedalam ruang kerjanya yang berada di lantai dua.

Aku segera menyuruh eomma duduk dikursinya karena kelihatannya eomma lelah sekali.

“Coba tolong ambilkan kotak yang berada di laci nomor 2 lemari itu.” eomma menunjuk satu lemari kaca besar yang berdiri tepat disamping sisi pintu masuk. Aku segera mengambilnya dan memberikannya ke eomma.

“Kurasa, ini sudah waktunya.” Ucap eomma. Aku mengerutkan keningku tak mengerti, “Apa maksudmu eomma?”

“Cobalah buka kotak itu dan kau akan tau jawabannya.”

Aku menatap eomma lama, mencoba membaca wajahnya yang terlihat tenang. Aku lalu membuka kotak hitam yang berada dipangkuanku. Dan saat itu juga lah aku tercengang.

Ini adalah plate namaku sebagai CEO perusahaan keluarga kami, CK Coorporation. Itu berarti aku akan menggantikan posisi eomma yang selama ini menjadi CEO di perusahaan kami.

Eomma, apakah semua ini benar?” Aku menatapnya ragu. Seingatku eomma pernah bilang untuk terus berkarir di CK Coorporation dan memajukannya. Tapi, kenapa sekarang dia menyerahkan jabatannya kepadaku?
Eomma terlalu lelah untuk menjalani ini semua sayang,” eomma menghela napas, “dan itu semua membuatku jauh dengan putri kembarku. Beruntung aku diberi kesempatan untuk memperbaiki itu semua. Dan aku tidak ingin kejadian buruk yang aku alami terulang lagi.”

Aku memeluk eomma. Ini pasti berat untuknya. Tapi aku tidak yakin dengan apa yang eomma putuskan karena sesungguhnya aku tidak menginginkan posisi itu.

Eomma, maafkan aku berbicara seperti ini sebelumnya tapi aku tidak bisa menerima ini semua.”

Sesuai dugaanku, eomma tentu terkejut dengan keputusanku. Aku mengelus wajahnya dengan lembut dan menatap kedua manik matanya dengan sungguh-sungguh.

“Aku tidak menginginkan posisi ini.  Aku tahu bahwa eomma ingin salah satu dari anakmu untuk memimpin perusahaan. Tapi kau harus setuju denganku kalau wanita tidak terlalu cocok mengepalai sebuah perusahaan. Mereka memang berpikir logis, tapi tak jarang mereka menyertai perasaan mereka sehingga terkadang itu membuat mereka lama untuk memberi keputusan. Jadi, maaf sekali aku harus menolak ini semua demi majunya CK Coorporation eomma.

Eomma menatapku lama dan tidak bersuara sama sekali sampai akhirnya dia menghela napasnya panjang.

Arasseo, aku yakin kau akan bicara seperti ini kepadaku.” Eomma menutup kembali kotak hitam yang berada didalam pangkuanku. Masih belum ada senyum diwajahnya.

Eomma gwaenchanayo?” aku memeluknya dari belakang, dan seketika itu pula eomma mengelus tanganku dan terkekeh pelan.

Aish~tentu saja sayang. Aku sangat berterima kasih sekali karena kau mau jujur denganku. Tapi, menurutmu siapa yang cocok untuk CEO perusahaan kita?”

“Hanya eomma yang tau siapa yang cocok dengan posisi ini.” Ucapku tersenyum, dan itu membuat eomma penasaran.

Aish~ Ayolah katakan saja siapa yang pantas menjadi CEO perusahaan kita.” eomma nampak malas menebak-nebak.

“Ayolah, eomma pasti mengetahuinya. Eomma hanya perlu berfikir sedikit keras dari sebelumnya dan kau akan menemukan jawabannya.” Ucapku tersenyum. Eomma merasa dipermainkan namun sejurus kemudian rasanya dia sudah mengetahui siapa orang yang aku maksud.

Buru-buru eomma menyambar ponsel di mejanya dan menyambungkannya kepada seseorang.

“Sekertaris Shim, bisa kau datang dan mengobrol sebentar dengannku? Ada yang ingin aku sampaikan.” Eomma menatapku dan tersenyum penuh arti.

~~~

 

 

 

Author pov

Chagiya, kenapa kau terus termenung hmm?” Jungshin kembali memeluk punggung Min Jin. Gadis itu terkekeh pelan sambil mempererat pelukan Jungshin.

Aniyo, i’m okay honey.” Min Jin bergelung manja dengan Jungshin. Nampaknya jawaban itu tidak membuat Jungshin lega, malahan membuatnya ingin bertanya lagi dan lagi.

“Katakan kenapa, apakah ada yang membebani fikiranmu?” Jungshin kini membalikkan badan Min Jin sehingga dia bisa melihat mata Min Jin dan menyelusurinya.

Arraseo arraseo, aku akan jujur denganmu.” Kata Min Jin gusar. Gadis itu menarik Jungshin agar menjauh dari balkon karena angin malam mulai sering berhembus dan menggelitik tubuh mereka.

“Aku hanya memikirkan eomma,” Min Jin menghela napasnya, “Aku tidak tega meninggalkannya sendirian setelah kejadian bunuh diri itu.” lanjut Min Jin. Jungshin masih mendengarkan dengan baik, tapi tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut Min Jin. Hanya wajah khawatir dan kedua tangannya yang saling meremas jari-jari yang kini bertautan.

“Lalu? apa yang kau khawatirkan, chagiya?” Kali ini Jungshin yang berbicara. Min Jin menatap wajah Jungshin dan menghela napasnya lagi.

Well, Kau kan pernah bilang ingin tinggal di Busan jika kita sudah menikah. Dan kau sudah mendengar alasanku kan? Jadi kupikir kita tidak akan bisa ke Busan.” Min Jin masih menundukkan wajahnya, enggan menatap raut wajah Jungshin.

“Aku benar-benar minta maaf,” Min Jin bersuara lagi. “Aku sebenarnya sangat ing –“

Kalimat Min Jin terputus, disambut dengan degupan jantungnya yang memompa melampaui batas. Dia dapat menatap mata indah Jungshin sedekat ini, dan juga terpaan nafas hangat Jungshin disekitar pipinya.

Ya, Jungshin tengah mengecup permukaan bibir Min Jin sekarang.

“Aku tidak bilang kita harus tinggal di Busan setelah kita menikah. Tinggal dimanapun asal bersama denganmu sebagai pendamping hidupku tentu aku akan sangat senang.” Jungshin mengelus rambut Min Jin. Gadis itu Nampak terlampau senang sampai-sampai dia melompat untuk memeluk Jungshin.

Gomawo untuk semua pengertianmu. Aku sangat mencintaimu, chagiya.” Bisik Min Jin yang sedang berada dalam dekapan Jungshin. Ungkapan cinta itu membuat wajah Jungshin sumringah dan senyum lebarnya terpatri di wajah lonjongnya.

Nado.” Balas Jungshin.

~~~

10 month later

Badan langsing dan tinggi semampai itu dibalut dengan dress putih yang menjuntai. Dengan tirai jarring-jaring yang menyamarkan wajahnya. Pemilik badan itu adalah Han Min Jin, yang saat ini sedang gusar  mengecek penampilannya di cermin dan memastikan semuanya baik-baik saja.

Eun Jin yang melihatnya hanya bisa menghela nafas. Rasa kesalnya kembali mencuat ke ubun-ubun, karena sarannya tidak diikuti sama sekali oleh kakak 15 menitnya itu –yaitu untuk duduk tenang sampai upacara pemberkatan akan dimulai.

“Mau sampai kapan kau berdiri didepan cermin itu?” Eun Jin menatap Min Jin kesal, “Akan ada saatnya kau akan berdiri lama, saat upacara pemberkatan nanti. Jadi, sekarang duduklah dengan tenang dan jangan terus-terusan menatap dirimu dicermin. Itu malahan membuatmu dua kali lebih gugup dari sebelumnya.” Entah sudah berapa kali Eun Jin mengatalkan hal ini, sampai-sampai rasanya tenggorokannya kering sekali dan dia butuh air untuk menyegarkannya.

Dan saat Eun Jin selesai menyegarkan tenggorokannya dan berniat untuk membuang botol kosong ditangannya, saat itulah pintu ruang tunggu mempelai wanita menjeblak terbuka. Memperlihatkan Taemin dan Suho yang saat itu diperintahkan untuk membantu ‘event organizer’. Dan saat itu juga wajah keduanya melongo, menatap Min Jin dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Noona, apa aku sudah bilang kau sangat cantik hari ini?” Taemin masih terlihat takjub. Min Jin tersipu malu dan menutupi wajahnya dengan buket bunga peony yang akan digenggamnya nanti.

“Dan apa aku sudah bilang kalau bedakmu terlalu tebal sehingga wajahmu terlihat seperti badut?” Kali ini Suho yang angkat bicara. Tanpa menunggu lama, kepalanya sudah mendapatkan jitakan dari Min Jin.

Ya! Kau dongsaeng yang mengesalkan sekali, Suho ya.” Min Jin bersungut kesal dan mulai khawatir mengecek dandanannya.

“Aku kan cuma bercanda noona,” kata Suho sambil mengelus kepalanya yang ngilu, “hiburan biar kau tidak terlihat gugup.”

“Apa kalian kesini untuk menjemput Min Jin karena acara akan segera dimulai?” Tanya Eun Jin. Taemin seketika itu memukul keningnya sendiri.

“Kau benar noona, aku hampir lupa! Kalau begitu ayo kita masuk ke tempat upacara pemberkatan sekarang!” kata Taemin semangat.

~~~

“Ayo semuanya merapat! Aku akan melempar bunga ini sebentar lagi.” Suara Min Jin menggema di ruangan itu. Setelah acara pemberkatan selesai dan menyandang gelar baru sebagai ‘istri’ dari Lee Junghsin, Min Jin tidak ingin melewati acara yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang belum menikah, yaitu pelemparan bunga. Gadis-gadis dan lelaki yang belum menikah sontak berkumpul, berharap mendapatkan bunga yang dilempar oleh Min Jin dan segera menyusulnya menikah.

Eun Jin tersenyum dan hanya mengamati itu semua dari belakang, tidak berniat untuk mengikuti ritual itu.

“Kenapa tidak bergabung?” suara Jonghyun setengah mengagetkan Eun Jin. Sejak pagi kekasihnya itu memang sibuk sekali mengurus pernikahan Jungshin dan Min Jin sehingga baru sekaranglah dia baru bisa bersama lagi dengan Eun Jin.

“Aku sedang tidak mau saja. Aku lebih senang disini, menatap wajah Min Jin dan Jungshin tersenyum sangat bahagia.”

Jonghyun mengusap kepala Eun Jin dengan sayang lalu menggenggam tangan Eun Jin dengan hangat.

“Jadi,” bisik Jonghyun, “Kapan kita menyusul Jungshin dan Min Jin?”

DEG! Aliran darah Eun Jin memacu cepat kerja jantungnya, membuatnya hampir sulit bernafas. Dapat dirasakannya wajahnya mulai memanas, apalagi tatapan Jonghyun tak lepas darinya.

“Baiklah, kurasa wajah kepiting rebusmu itu adalah jawaban agar kita cepat-cepat menyusul Jungshin dan Min Jin. Bukankah begitu?”

Eun Jin hanya tersipu malu dan merengkuh lengan kekar Jonghyun lalu menyenderkan kepalanya disana.

“Kurasa begitu.” Kekeh Eun Jin.

~~~

THE END

Note

Hallo semuanya! sudah lama tidak post FF disini, kkkk. dan kali ini mau ‘ngelunasin’ FF series aku ini.

terima kasih buat semua temen-temen yang udah nyempetin waktunya untuk baca dan comment di FF aku dan mendukung FF ini, aku sangat terima kasih sekali *bow* semoga kedepannya aku bisa menyajikan FF yang lebih bagus lagi untuk menghibur temen-temen disini.

nantikan ff-ff aku yang lainnya ya. sekali lagi, I HEART YOU GUYS!! *cipok basah* dan untuk perpisahan ini semoga kalian meninggalkan komentar setelah membaca part terakhir ini.

anyyeong! ^^ *tebar uang Junghsin (?)*

9 thoughts on “A way to catch you (Chapter 10-END)

  1. Yeyyyy akhirnyaa happy ending,tp JongEun couple kurang greget pas endingnya dkit bner adegan berduanya.tp ttep bgus koq thor keep fighting ya buat ff selanjutnya q suka cast jonghyun eunjin hehe

  2. lama bgt ya thor penyelesaiannya 1 thn bwt nyelesain 10chapt hahaha. Aku rangkum comment utk seluruh chap ya… Pertama, masih bingung kadang2 di author pov nya kok make kata aku ya??? Kedua, kurang panjang deh thor menurut aku. Ketiga, alurnya kecepetan menurut aku. Tp yg aku suka dr semuanya scene romantisnya dpt bgt bikin senyum sendiri. Permintaan terakhir, bikinin after story dong thor hehehe. Maaf kalo commentnya krg berkenan hehehe. Jeongmal gomawo thor.

    • hahaha soalnya aku sering pulang malem dan juga lagi smester akhir jadi jarang ada waktu buat nerusin ff kkk.
      berarti salah ketik itu (^^; )> haha. emang gak mau bikin panjang panjang, takut gak tuntas hihi.
      insya allah aku bikin afterstorynya, kalo sempet hehe.
      gomawo ya udah baca ^^

  3. Ya ampun thor….aku fkir udah gag dilanjutin..brapa bulan yah..udah lama ky.a dr part yg trakhir kali…

    Chukae.. Happy ending smua.a hahaha akhir.a jonghyun bsa buka hati.a…:D

  4. Akhir yang bahagia, senang sekali semuaya berubah semakin membaik, dan sikembar itu benar-benar beruntung. Well kau sukses membuatku iri dengan si kemabar.

    Sweet! sweet

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s