Principle of Love

pol poster.jpg

 

 Title: Principle of Love

 

Author: tiarawr

 

Rating: T

 

Genre: AU, romance, hurt

 

Length: oneshot

 

Main Cast:

  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Krystal/ Jung Soojung f(x)

 

Support Cast:

  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Kwon Sohyun 4minute

 

Disclaimer: Characters belong to themselves. I just own the story. 100% fiction. Don’t take it too serious. Sorry for the bad story, and plagiator please stay away!

 

Note: Minhyuk and Krystal are my #1 biases. So it’s my pleasure to write stories about them. Happy reading and please be a good reader! ^^

 

***

 

Normal pov

 

Soojung melepaskan genggaman tangan Minhyuk.

“Mian oppa, aku tidak bisa menerima cintamu…” jawab Soojung lirih. Ia memalingkan wajahnya ke tempat lain. Tak berani menatap sepasang mata sipit di depannya.

Dada Soojung bergemuruh. Menolak cinta laki-laki yang sangat kau cintai merupakan sesuatu yang sulit. Rasanya sangat berat saat kebahagiaan sudah ada di hadapanmu dan kau dipaksa untuk melepasnya. Buliran air mata sudah memaksa untuk keluar dari kelopaknya. Dengan sedikit memaksa ia tahan air mata itu sekuat tenaga.

Minhyuk hanya tersenyum getir. Pernyataan cinta yang pertama kali ia lontarkan kepada seorang gadis langsung mendapatkan penolakan.

“Wae Soojungie?” Minhyuk kembali membawa kedua tangan Soojung ke dalam genggamannya.

Hening. Soojung tidak langsung menjawab. Wajahnya sudah memerah menahan tangis.

“Aku tidak bisa, oppa. Mian,” jawab Soojung nyaris tidak terdengar. Ia takut jika ia menangis saat ini juga maka Minhyuk akan langsung membawanya dalam dekapannya. Ia takut jika hal itu terjadi maka akan semakin sulit baginya untuk melupakan Minhyuk.

Rahang Minhyuk mengeras. Ia bangkit dan mengacak-acak rambutnya dengan tangannya yang terbebas dari perban.

“Apa aku pernah berbuat jahat padamu? Apa aku bukan laki-laki yang baik untukmu?” tanya Minhyuk setengah memaksa.

Kalau Minhyuk laki-laki brengsek, tidak mungkin Yonghwa mengizinkannya untuk menyatakan cinta pada Soojung. Sebelum menyatakan cintanya, Minhyuk sudah terlebih dahulu meminta izin kepada Yonghwa. Tentu saja oppa Soojung yang sangat protektif itu memberikan lampu hijau bagi Minhyuk untuk mendekati yeodongsaeng kesayangannya itu.

Soojung hanya tertunduk. Ia merasa sangat bersalah.

Melihat yeoja di depannya tak kunjung menjawab, Minhyuk kembali duduk di hadapannya.

“Beri aku satu alasan kenapa kau menolakku Soojungie,”

Soojung masih terdiam. Ia hanya menunduk sambil memainkan ujung seragam perawatnya.

Tiba-tiba Minhyuk teringat sesuatu.

“Apa karena prinsip bodohmu itu?” tanya Minhyuk tepat sasaran.

Soojung menatap Minhyuk lalu kembali menunduk.

“Aniya oppa, aku hanya tidak ingin seperti eommaku…” kata Soojung. Hampir seperti tangisan.

Minhyuk frustasi. Tentara berpangkat sersan itu berlutut di hadapan Soojung. Ditariknya tangan Soojung ke dalam genggamannya.

“Tatap aku Soojungie,” pinta Minhyuk.

Soojung enggan untuk menatapnya.

Minhyuk gemas dan mengangkat dagu Soojung lembut. Membuat mata indah itu mau tak mau menatap mata sipit milik Minhyuk.

“Aku tidak akan meninggalkanmu seperti appa meninggalkan eomma. Bisakah kau percaya padaku Soojungie?” kata Minhyuk sungguh-sungguh. “Aku sangat mencintaimu,”

Soojung memandang mata Minhyuk intens. Yang dipandang membalas pandangannya dengan penuh cinta dan ketulusan. Ucapan itu terdengar tulus dan mampu membuat yeoja manapun menjadi sangat bahagia. Tapi tidak dengan Soojung. Walaupun sangat berat, ia telah membulatkan tekadnya.

“Mianhaeyo Minhyuk oppa…”

 

***

 

Soojung pov

 

Hari ini adalah hari terakhir aku merawat Minhyuk oppa di rumah sakit. Setelah sebulan lebih menjalani perawatan, ia telah diperbolehkan pulang oleh dokter Lee.

Rasanya ada bagian dari diri ini yang tidak rela. Tidak rela akan kepergiannya.

Soojungie, kau sudah menolaknya itu artinya kau harus rela melepasnya. Kuatkan hatimu. Kata suara-suara di dalam hatiku.

Minhyuk oppa sudah gagah dengan mengenakan seragam militernya. Luka tembak itu kini telah sepenuhnya pulih. Tubuh tinggi tegapnya kini sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Ia sudah siap untuk kembali bertugas.

Kami berdua berjalan beriringan menuju lobby tempat Yonghwa oppa sudah datang untuk menjemputnya.

Dari kejauhan aku bisa melihat kalau namja bergigi gingsul itu sangat sumringah begitu melihat kami berjalan berdua.

“Ya, kalian berdua sangat cocok sekali!” seru Yonghwa oppa. Pemborosan kata-kata.

Kami berdua langsung salah tingkah. Minhyuk oppa berusaha menutupi rasa canggungnya dengan tertawa kecil.

“Hyung, bisakah kau pergi duluan ke mobil? Ada yang ingin kubicarakan dengan dongsaengmu,” pinta Minhyuk oppa sopan.

Yonghwa oppa mengangguk mengerti.

“Baiklah, aku tidak akan mengganggu dua orang yang sedang jatuh cinta. Annyeong Soojungie!” pamitnya sambil mengedipkan mata.

Ya! Apa Yonghwa oppa lupa kalau aku sudah menolaknya? Aish, dia ini mengapa senang sekali menggodaku.

Sepeninggal Yonghwa oppa, suasana menjadi canggung.

Minhyuk oppa berdiri di hadapanku. Aku tahu kalau ia tengah menatapku, tapi aku terlalu takut untuk menatapnya.

“Soojungie, terimakasih karena telah merawatku dengan sungguh-sungguh selama aku di sini,” katanya membuka percakapannya.

Aku menggeleng.

“Aniya oppa, itu sudah kewajibanku untuk merawat semua pasien yang membutuhkan perawatan,” jawabku sambil tersenyum. Kuberanikan diri untuk menatapnya. Bisa saja ini pertemuan terakhir kami.

“Baiklah, aku pergi dulu Soojungie. Sampai bertemu lagi,” Minhyuk oppa memberikan senyumnya yang paling tampan kepadaku. Gemuruh di dada ini semakin menjadi kala ia mengelus lembut puncak kepalaku.

“Hati-hati di jalan. Annyeong, oppa,” jawabku.

Minhyuk oppa membungkuk sekali sebelum akhirnya berbalik meminggungiku. Namja tinggi itu melambaikan tangannya padaku sebelum ia lenyap dibalik pintu.

 

***

 

Minhyuk pov

 

Suasana Palestina di tengah malam sangat mencekam. Senapan para tentara Israel akan selalu siaga penuh. Ada gerakan mencurigakan sedikit saja maka desingan peluru akan terdengar saat itu juga. Kami para tentara Korea Selatan yang akan menjaga keamanan di sini. Mataku masih bersiaga menyisir keadaan sekitar agar tetap aman.

Tiba-tiba terdengar suara dari arah kanan.

“Hyukkie, kau harus memperjuangakan cintamu pada Soojung. Aku tahu sesungguhnya ia sangat mencintaimu,” kata Yonghwa hyung.

Yah, apa yang ada di pikiran komandan ini. Di tengah tugas dia sempat-sempatnya menghiburku yang masih terkena sindrom-patah-hati?

Aku tertawa mendengar perkataannya.

“Aku tidak mau ditolak sampai dua kali hyung,” jawabku seadanya. Mataku masih fokus memantau keadaan sekeliling.

“Ya! Tentara macam apa kau? Baru ditolak sekali saja kau sudah menyerah? Apa kau mau aku menurunkan jabatan sersanmu?” kata Yonghwa gemas. Ia heran dengan Minhyuk yang langsung menyerah begitu menghadapi perempuan. Sangat kontras ketika ia sedang bertugas.

Minhyuk menatap seniornya itu lesu.

“Aku tidak mau Soojungie melanggar prinsipnya hyung. Biarkanlah ia cukup bahagia dengan apa yang ia yakini,” jawabku pasrah.

Memang sangat berat ketika kau memutuskan untuk berhenti memperjuangkan cintamu. Rasanya ada bagian dari dirimu yang tak rela menerima keputusan itu.

Yonghwa hyung melepas topinya dengan kesal.

“Prinsip Soojung hanya akan menghalangi kebahagiaanya. Aku tahu kau itu laki-laki yang tepat untuknya Hyukkie! Perjuangkan ia!”

 

***

 

Normal pov

 

Soojung meletakkan ponselnya di meja. Ia baru saja melakukan telepon jarak jauh dengan Yonghwa. Tangisnya sudah tak bisa ditahan lagi. Bila Sohyun belum tidur, sahabatnya itu pasti akan menghibur dan memeluknya.

Soojung beranjak ke balkon. Di sini ia menangis ditemani desiran angin malam.

 

“Jangan kau lepas kebahagiaanmu hanya karena masa lalumu! Jangan biarkan masa lalu membelenggu kehidupanmu! Kepergian eomma dan appa adalah musibah. Bukalah hatimu untuknya, Soojung-ah!”

Jangan terbelenggu oleh prinsip bodohmu itu Soojungie. Pria yang akan membahagiakanmu sudah datang. Pertahankan ia, jangan sampai kau lepaskan!

 

Selama hidupnya, baru kali ini Yonghwa memarahinya sampai membentak seperti ini. Soojung tahu bahwa ia telah membuat oppa yang sangat menyayanginya itu kecewa. Ia telah melakukan kesalahan besar dengan menyia-nyiakan cinta tulus dari Minhyuk.

Jika Yonghwa sampai memaksanya, itu artinya Minhyuk merupakan pria yang tepat untuknya. Ia tahu kakaknya itu sangat protektif kepadanya sehingga tidak sembarangan pria yang ia izinkan untuk mendekati dirinya.

“Aku baru saja mulai melupakannya, kenapa kau ingatkan aku tentang dia, oppa? Kau tahu aku tidak akan pernah bisa menerimanya…“ bisiknya lirih.

“Kalaupun aku harus mempertahankannya, aku takut! Aku terlalu takut akan bernasib sama seperti eomma yang ditinggal appa!” Soojung tertunduk.

 

“Buang jauh-jauh rasa takutmu Soojung-ah. Eomma dan appa sudah bahagia di sana. Kalau kau terus takut seperti ini, kapan kau bisa hidup bahagia?”

 

Itu yang selalu dikatakan oleh Yonghwa bila ia sedang mengingat tentang orangtuanya. Pertama appa yang tertembak saat tugas. Lalu eommanya yang meninggal karena depresi…

Soojung menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya. Ia benar-benar bingung dengan ini semua.

Sebagai pengganti orangtuanya, Yonghwa sudah memberi restu untuk Soojung bersama Minhyuk. Menurut Yonghwa, dari sekian banyak laki-laki yang ia kenal, hanya Minhyuk yang pantas untuk mendampingi Soojung.

Dari cerita Yonghwa, Soojung tahu kalau Minhyuk adalah bungsu dari dua bersaudara. Walaupun anak bungsu, menurut Yonghwa, Minhyuk bukanlah pria yang manja. Ia sangat mandiri dan gentleman. Hal itulah yang membuat Yonghwa langsung memberikan restu ketika Minhyuk meminta izin kepadanya.

“Eomma, appa, otokkhe?” bisiknya sambil memandangi bintang-bintang di langit.

 

***

 

Soojung pov

 

Sejak pertama kali kedatangannya di sini aku merasa Tuhan telah mengirimkan seseorang yang sudah lama kunantikan. Seseorang yang mampu membuat hatiku berdebar-debar untuk pertama kalinya. Seseorang yang mampu membuat hariku indah hanya dengan segala candaan dan rayuan gombalnya. Padahal orang itu saja tak mampu bangkit sendiri dari bangsalnya tapi ia mampu membuatku begitu bahagia. Ini aneh!

Tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Kukeluarkan sebuah topi berwarna hijau zamrud dari saku. Kupeluk erat topi bercorak loreng tersebut. Bau khas orang itu tercium jelas dari dalamnya. Topi ini tak sengaja kutemukan terjatuh di bawah bangsal. Mungkin ia tak sengaja meninggalkannya? Topi berbordir ‘KMH’ pada sisi kanan itulah yang membuatku selalu ingat kepadanya.

Ponselku bergetar. Jantungku langsung berdebar-debar begitu tahu siapa nama pengirim pesan yang baru saja masuk.

 

From: Minhyuk oppa

Soojungie,kau sdg apa? Di korea jam brp skrg?

Aku baru sj menyelesaikan patroli malamku.

Terimakasih krn kau tlh merawatku dgn sgt baik

 

Aku senyum-senyum sendiri layaknya orang gila. Minhyuk oppa memang sering mengirimiku pesan. Terkadang ia menanyakan kabarku atau hanya sekedar ingin tahu apa kegiatanku. Aku tidak munafik, aku senang sekali ia memperhatikanku walaupun statusku yang bukan sebagai kekasihnya.

Segera kuketik balasannya.

 

To: Minhyuk oppa

Aku baru saja selesai makan siang oppa. Di

Korea skrg jam 2 siang. Cheonma oppa^^

 

Tak sampai 1 menit Minhyuk oppa sudah membalas pesanku. Aku tak menyangka mengirim pesan dari Palestina ke Korea itu tidak membutuhkan waktu yang lama.

 

From: Minhyuk oppa

Baiklah,aku istirahat dulu. Jaga dirimu baik2 soojungie.

Ps. wlpn aku bkn kekasihmu…aku sgt merindukanmu

 

Demi Tuhan, kalimat terakhir itu sukses membuat wajahku blushing.

 

***

 

Normal pov

 

Sebulan berlalu dan kehidupan Soojung masih seperti biasa. Ia masih sering bertukar kabar dengan Minhyuk baik melalui telepon maupun sms. Tidak ada pengakuan cinta diantara keduanya. Soojung menganggap bahwa diantara mereka hanya ada hubungan yang bernama teman. Tidak lebih.

“Mengapa kau lebih sering menghubungi Minhyuk, Soojungie? Apa kau sudah melupakan oppa, hah?” tanya Yonghwa pada suatu sore.

Soojung memindahkan ponselnya ke telinga kiri.

“Minhyuk oppa itu mantan pasienku, jadi aku harus terus memantau perkembangan kesehatannya, oppa!” elak Soojung.

Jelas ia berbohong. Mana ada perawat yang masih memantau perkembangan pasiennya yang telah keluar dari rumah sakit? Keculali jika ada yang spesial yang terjadi diantara keduanya.

“Jinjja? Mengapa kau tidak pernah perhatian seperti itu padaku? Aku juga pernah luka Soojung-ah, walaupun tidak tertembak seperti Minhyuk, sih,” kata Yonghwa sambil terkekeh.

“Justru itu, Minhyuk oppa lebih pantas dikhawatirkan dibanding Yonghwa oppa,”

“Oh, jadi kau lebih perhatian pada Minhyuk dibandingkan denganku? Ya ya ya Soojungie sepertinya kau sedang jatuh cinta,” kata Yonghwa sambil tertawa jahil.

“Oppa menyebalkan!” klik telepon langsung diputus oleh Soojung.

Intensitas Soojung untuk menghubungi Minhyuk jauh lebih banyak dibandingkan ketika menghubungi Yonghwa. Oppa Soojung satu-satunya itu hanya menerima telepon dari Soojung setiap seminggu sekali. Terlihat jelas bukan, siapa yang menjadi prioritas utama Soojung.

Tadi pagi Soojung menerima kabar yang menyenangkan. Yonghwa memberinya kaba bahwa dua hari lagi Yonghwa dan pasukannya akan kembali ke Korea. Ya, setelah sebulan bertugas di Palestina, sudah waktunya bagi pasukan pimpinan Yonghwa untuk pulang ke negaranya dan digantikan oleh pasukan dari negara lain.

‘Sebentar lagi Minhyuk oppa akan pulang ke Korea. Ah, rasanya aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengan dirinya’ batin Soojung senang.

Wajah Soojung tak henti-hentinya mengulas senyum. Setiap berpapasan dengan perawat maupun pasien di lorong rumah sakit, ia akan meberikan senyum termanisnya itu. Hal itu yang membuat Sohyun bingung.

“Hal apa yang telah membuat sahabatku yang cantik senyum-senyum seperti ini?” tanay Sohyun menyelidik.

Soojung tidak menjawab pertanyaan Sohyun. Ia hanya mengulas senyum yang mengundang rasa penasaran Sohyun.

“Apa ini ada kaitannya dengan si Tuan-Yang-Telah-Ditolak-Namun-Sangat-Kau-Rindukan itu?” goda Sohyun. Ia menggunakan nama panggilan khususnya yang ia buat ketika Soojung bercerita bahwa ia sangat mencintai Minhyuk.

Soojung cemberut digoda seperti itu oleh Sohyun.

“Sohyunnie, aku sudah melarangmu untuk memanggilnya seperti itu,” Soojung merajuk.

Sohyun hanya tertawa melihatnya.

“Ara, ara, aku hanya bercanda Soojung-ah,” Sohyun berhenti tertawa melihat wajah Soojung yang tak kunjung tersenyum.

“Jadi, yang membuatmu tersenyum dari tadi pagi itu Minhyuk oppa kan?” tebak Sohyun tepat sasaran.

Soojung mengangguk malu-malu. Ia bangkit lalu memeluk Sohyun sangat erat.

“Aku senang karena aku bisa bertemu lagi dengannya Sohyunnie! Yonghwa oppa bilang du ahari lagi mereka akan pulang ke Korea!” teriak Soojung.

“Ya! Kau mau membuatku sesak napas Soojung-ah? Lepaskan!”

Soojung melepas pelukannya dan berlonjak kesenangan.

“Mian. Aku terlalu senang Sohyunnie!” raut wajah Soojung sangat menunjukkan kebahagiaan.

Sohyun tersenyum penuh arti. Tak pernah ia melihat Soojung sebahagia ini.

‘Mengapa kau tidak jujur pada perasaanmu sendiri Soojung-ah?’ batin Sohyun.

 

***

 

Normal pov

 

Soojung dan Sohyun baru selesai menikmati makan siang. Hari ini pasien sedang tidak terlalu banyak sehingga mereka bisa menikmati waktu istirahat lebih lama dari biasanya.

Sohyun baru saja hendak merapikan rambutnya ketika ia melihat Soojung menjatuhkan ponselnya.

“Soojung-ah! Apa yang terjadi?”

Wajah Soojung memucat. Mulutnya tak sanggup lagi berkata-kata. Matanya yang berkaca-kaca membuat Sohyun kebingungan.

“Tenangkan dirimu Soojung-ah,” Sohyun panik. Ia menyeret kursi terdekat dan meminta Soojung duduk. Sepertinya sahabatnya itu baru saja mendapat kabar yang cukup membuatnya terkejut.

Sohyun cukup cerdas dengan tidak memberikan banyak pertanyaan kepada Soojung. Walaupun ia penasaran, tapi ia menunggu hingga sahabatnya itu tenang.

“Apa yang terjadi, Soojung-ah?” tanyanya hati-hati setelah dilihat napas Soojung mulai teratur.

Bukan menjawab Soojung justru memeluk Sohyun erat-erat. Tangisnya pecah seketika.

“Sohyunnie….” isak Soojung.

Sohyun membelai lembut rambut Soojung.

“Ada apa Soojung-ah?” ulangnya kembali.

“Min… Minhyuk oppa…” bisik Soojung lirih.

“Ada apa dengannya? Bukankah sebentar lagi ia pulang?”

Tangis Soojung semakin kencang. Tanpa diberitahu pun Sohyun tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres yang telah terjadi.

Soojung berusaha mengatur napasnya agar kembali normal.

“Yonghwa oppa baru saja memberitahuku kalau Minhyuk oppa…”

Sohyun sama sekali tidak berniat untuk menyela. Ia membiarkan Soojung untuk menyelesaikan kalimatnya.

Soojung melepaskan pelukannya. Yang terjadi kemudian adalah hal yang keluar dari mulut Soojung membuat Sohyun sangat terkejut dan tangisan dari mulut Soojung semakin kencang.

 

***

 

Soojung pov

 

Mengapa sesuatunya berjalan begitu cepat?

Rasanya baru kemarin aku mengenalnya, merawatnya, tersipu malu karenanya, bahkan menolaknya… Mengapa ia harus pergi secepat ini? Apakah Tuhan sedang menghukumku karena aku telah menyia-nyiakannya?

Hari ini Yonghwa oppa tiba di Korea. Ia berkata kalau aku harus menjemputnya di bandara. Bukan untuk menjemputnya, melainkan untuk melihat peti jenazah Minhyuk oppa yang terakhir kalinya sebelum ia akan dimakamkan oleh keluarganya.

Ya Tuhan, mengapa kau ambil kebahagiaan dariku secepat ini? Mengapa disaat aku akan membuka hatiku padanya kau mengambilnya untuk selama-lamanya?

Dengan perlahan air mata membasahi pipiku. Hati ini begitu sakit. Rasanya sangat perih. Aku bahkan belum sempat untuk menunjukkan rasa cintaku padanya. Belum sempat bagiku untuk menjemput kebahagiaanku tapi takdir sudah berkata lain. Sang Pemilik Kebahagiaan itu telah membawa kebahagiaanku ke tempat yang abadi. Tempat dimana aku tidak akan sanggup untuk menggapainya kembali.

Sebuah tangan berkibas-kibas di hadapanku. Ternyata tangan Sohyun.

“Soojung-ah, kau melamun?” tanya Sohyun. Sejak kapan ia sudah ada di ruangan ini?

“Aniya,” jawabku sambil menyeka air mata di pipiku.

Aku tahu Sohyun pasti melihat air mata yang ada di pipiku. Namun Sohyun cukup bijaksana dengan tidak menanyakan mengapa aku menangis.

“Baiklah kita harus bersiap-siap,” kata Sohyun.

Bersiap-siap?

“Kita mau kemana Sohyunnie?” seingatku kami tidak ada rencana untuk berjalan-jalan sama sekali.

Sohyun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Ya, jangan bilang kau lupa? Jam 4 sore nanti kita mau menjemput Yonghwa oppa kan?” kata Sohyun.

Aku menepuk keningku pelan.

“Aish, Jung Soojung paboya! Mengapa aku bisa lupa seperti ini?” kataku sambil terkekeh pelan.

“Nde, ayo kita bersiap-siap,” kataku. Sangat kontras dengan nada suaraku yang ceria, sesungguhnya aku sama sekali tidak bersemangat.

 

***

 

Normal pov

 

Dua orang perawat itu sedang menunggu di dekat sebuah pintu yang bertuliskan “Kedatangan”.

Mata Soojung tak pernah lepas dari pintu itu sementara kepalanya ia sandarkan di pundak Sohyun.

“Apakah Tuhan sedang menghukumku, Sohyunnie? Mengapa ia pergi ketika aku baru saja membuka hatiku untuknya? Apakah aku kuat? Aku takut aku akan pingsan begitu melihat Yonghwa oppa membawa peti jenazahnya,” kata Soojung. Tatapan matanya kosong.

“Kau pasti kuat. Soojung yang kukenal itu sangat kuat. Kau pasti bisa mengikhlaskan semuanya Soojung-ah,” hibur Sohyun sambil tersenyum.

Suasana di depan pintu itu cukup ramai dengan orang yang berlalu lalang.

“Bagaimana rasanya kalau kau kehilangan Jaejin oppa, Sohyunnie?” ujar Soojung menyebut nama kekasih Sohyun.

“Aku akan mencoba tegar. Mungkin ia bukan seseorang yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk bersamaku,” jawab Sohyun.

“Ketika ia dijemput oleh Yonghwa oppa aku sempat berpikir kalau ini merupakan pertemuan terakhir kami. Ternyata hal itu jadi kenyataan Sohyunnie,” Soojung tertawa getir.

“Ternyata saat itu bukan pertemuan terakhir kalian. Hari ini, Tuhan masih memberikan kalian berdua kesempatan untuk bertemu,” jawab Sohyun.

Soojung menatap Sohyun bingung, namun Sohyun meneruskan kalimatnya.

“Bila kau masih diberi kesempatan oleh Tuhan, aku meminta kau jujur pada perasaanmu Soojung-ah. Kau hidup di masa kini, bukan di masa lalu. Jangan jadikan masa lalumu sebagai penghalang untuk meraih kebahagiaan, arachi?”

Soojung mengangguk. Ia paham. Ia tak ingin melakukan sesuatu yang bodoh lagi. Ia tak ingin melepaskan kebahagiaan itu dan menyesal seumur hidup.

Mereka berdua kembali diam. Wanita dari pengeras suara baru saja mengumumkan bahwa pesawat dari Palestina sudah mendarat dengan selamat.

Soojung menegakkan tubuhnya. Dadanya semakin bergemuruh. Perasaannya makin tidak karuan.

‘Ya Tuhan, kumohon kuatkan aku. Aku tahu Minhyuk oppa bukan kekasihku, tapi, kumohon…’ batin Soojung.

“Kenapa oppa lama sekali? Sekarang sudah pukul 5 sore,” gumam Soojung. Ia mencoba menenangkan dirinya.

Sohyun mengelus pundak sahabatnya itu.

“Tenang Soojung-ah, pasti sebentar lagi,” hibur Sohyun.

Di hati kecilnya Soojung sangat berharap bahwa ‘ia’ yang dimaksud Sohyun adalah Minhyuk. Betapa ia ingin menukar apapun miliknya demi bisa melihat namja itu. Betapa ia ingin mengubah keputusan bodohnya di masa lalu. Namun ia tahu bahwa yang dimaksud oleh Sohyun adalah Yonghwa.

Soojung berusaha tegar walupun ia tak tahu apakah ia mampu untuk tegar.

“Sohyunnie, aku takut,” bisik Soojung. Dari detik ke detik penantiannya rasa tegar itu mulai runtuh.

Sohyun hanya tersenyum. Ia mengecek ponselnya ketika ada pesan yang baru saja masuk.

“Apa kau lapar Soojung-ah?” tanya Sohyun sambil mengelus perutnya sendiri.

Soojung menggeleng.

“Aniya, kau lapar?”

“Nde. Aku akan membeli beberapa makanan ringan untuk kita berdua. Kau tunggulah di sini, aku akan segera kembali,” ucap Sohyun sambil bangkit dan berjalan ke arah kafetaria.

Sepeninggal Sohyun kenangan-kenangan tentang Minhyuk berkelebatan di dalam benak Soojung.

Soojung masih ingat bagaimana namja itu sangat lemah ketika dua peluru itu sudah dikeluarkan dari tubuhnya. Ia ingat bagaimana manjanya Minhyuk kepadanya ketika namja itu masih belum mampu bangkit sendiri. Ia ingat ketika Minhyuk memintanya untuk memanggil “oppa” dengan alasan bahwa ia adalah anak buah Yonghwa. Ia ingat bagaimana Minhyuk tidak mau makan kalau bukan ia yang menyuapi. Ia juga ingat Minhyuk yang selalu memintanya untuk mengajaknya jalan-jalan ke taman ketika sore tiba. Ia juga ingat ketika Minhyuk ingin selalu ditemani olehnya ketika sedang menjalani fisioterapi.

 

Kau tahu Soojungie, hal apa yang membuat luka bekas tembakan ini pulih dengan cepat?”

Aniya oppa, aku tidak tahu,”

Dokter Lee bilang karena hatiku sedang jatuh cinta, jadi seluruh tubuhku juga merespon obat-obat itu dengan positif,

 

Soojung kembali mengulas senyuman mengingat percakapan singkatnya dengan Minhyuk.

 

***

 

Soojung pov

 

“Yonghwa oppa!” seruku ketika Yonghwa oppa baru saja keluar dari balik pintu.

Aku langsung menghambur ke dalam pelukannya. Dari pintu yang sama keluar pria-pria yang berpakaian sama seperti Yonghwa oppa. Wajah mereka menyiratkan rasa lelah namun tidak tampak rasa sedih pada wajah tentara-tentara itu. Tidak seperti mereka yang baru saja kehilangan seorang teman.

“Gwenchana, Soojungie?” tanya Yonghwa oppa pelan.

“Aku baik-baik saja, oppa bagaimana? Bagaimana dengan teman-teman oppa?” tanyaku.

“Kami semua baik-baik saja kecuali satu orang,”

Aku tahu, satu orang yang oppa maksud Minhyuk oppa kan?

Akhirnya tangisku pecah juga. Air mataku membasahi seragam militernya dan aku tahu Yonghwa oppa mengetahui hal itu.

Yonghwa oppa mengelus rambutku lembut. Ia membisikkan “Gwenchana,” berkali-kali. Tapi aku tahu semua tidak akan baik-baik saja. Bagiamana kau akan baik-baik saja ketika kau baru saja kehilangan orang yang sangat kau cintai?

Yonghwa oppa melepaskan pelukanku. Ia mengangkat daguku.

“Soojungie, ikhlaskan ia,” kata Yonghwa oppa.

Aku hanya mengangguk.

“Jawab oppa dengan jujur, apakah kau mencintai Minhyuk?”

Aku mengangguk. Aku sudah tak sanggup berkata-kata.

Yonghwa oppa kembali menarikku ke dalam pelukannya. Oppa kesayanganku ini sangat mengerti keadaanku yang sedang membutuhkan tempat untuk berbagi.

“Aku sangat menyesal telah menyia-nyiakannya, oppa,” bisikku lirih.

Setelah Yonghwa oppa pergi, Sohyun mengirimiku pesan. Ia harus segera kembali ke rumah sakit karena ada pasien baru yang masuk.

Ah Soojungie, nasibmu sungguh menyedihkan. Sudahlah baru saja kehilangan seseorang yang sangat kau cintai, kini sahabatmu tidak bisa menemanimu dalam masa-masa sulit ini. Kau pasti bisa menghadapi ini Jung Soojung!

Aku melangkah untuk mencari toilet. Aku harus merapikan penampilanku. Tak kusangka menangis cukup mampu membuat penampilan berantakan.

Aku berjalan sambil mengetik pesan untuk Yonghwa oppa.

DUK!

Karena terlalu asyik mengetik pesan, aku tak memperhatikan jalanku. Aish Soojungie, kau menabrak seseorang.

“Mianhaeyo, aku tidak terlalu memperhatikan jalan,” kataku tanpa mengangkat kepalaku. Penampilanku sedang tidak rapih dan aku takut dimarahi.

Baru saja aku hendak melangkah kembali, tangan kekar seseorang yang kutabrak itu menahanku.

“Apakah kau seorang perawat?” tanya orang itu.

Darimana ia tahu kalau aku seorang perawat? Aku tidak sedang memakai seragamku.

Seseorang itu yang ternyata seorang namja itu mengangkat tanganku untuk menyentuh dadanya. Dapat kurasakan dadanya berdebar-debar. Siapa ia yang dengan kurang ajarnya menyentuh tanganku?

“Di dalam sini ada yang sakit. Apakah kau bisa menghilangkan rasa sakitnya?”

Aku mengangkat wajahku. Siap untuk memarahi namja menyebalkan ini. Namun bukan caci maki yang keluar dari mulutku. Tangisku kembali pecah ketika aku tahu bahwa seseorang yang sedang menahan tanganku itu adalah Minhyuk oppa!

“Minhyuk…oppa?” bisikku lirih. Hampir tak percaya dengan apa yang aku lihat.

Namja itu tersenyum. Apakah ini sunguh-sungguh Minhyuk oppa? Bahkan kedua mata yang berubah menjadi garis itu masih sama! Ya Tuhan!

“Nde, Soojungie. Ini aku,” jawab Minhyuk oppa.

Rasa sedih, rindu, menyesal, cinta, kesal, marah menjadi satu. Ekspresi apa yang akan keluar juga tidak tahu. Yang kutahu adalah rasa kesal dan marah yang cukup mendominasi hingga kini aku memukul-mukul dadanya.

“Oppa jahat! Minhyuk oppa jahat!” kataku sesenggukan sambil terus memukul sementara ia hanya terkekeh.

“Bogoshippoyo, perawat cantik,” ucapnya. Terkesan jujur dan tulus.

Minhyuk oppa menahan kedua tanganku sehingga aku tidak bisa memukul-mukulnya lagi.

“Aku benci Minhyuk oppa!” teriakku kepadanya.

Minhyuk oppa membawaku ke dalam pelukannya. Dekapannya terasa menenangkan. Bau khasnya langsung memasuki rongga pernapasanku. Aku tidak menyangka bahwa aku masih bisa merasakan pelukan nyaman ini darinya.

Ya Tuhan, kumohon jangan ambil kebahagiaan ini dariku.

Ia membelai rambutku dan mengecup puncak kepalaku.

“Maafkan aku Soojungie, ini semua adalah kesalahpahaman sekaligus rencana bodoh Yonghwa hyung. Sohyun juga tahu tentang hal ini,” katanya.

Mau rencana bodoh ataupun kesalahpahaman, yang ku tahu aku bahagia karena Minhyuk oppa ternyata masih hidup. Sosoknya sungguh-sungguh nyata dan kini sedang memelukku.

Minhyuk  oppa melepaskan pelukannya dan menyeka air mataku.

“Uljimayo,” katanya sambil tersenyum. “Hatiku sangat sakit melihatmu menangis. Maafkan aku yang harus ikut dalam drama menyebalkan ini,”

Rasanya aku ingin waktu berhenti berputar.

“Aku mencintaimu Soojungie,” pengakuan yang terasa begitu indah di telinga.

Kebahagiaan ini sudah ada di depanmu Soojungie, jangan kau lepaskan lagi. Aku seperti mendengar suara eomma dan appa di dalam benakku.

Aku mengangguk sebelum membalas pernyataan cintanya, “Aku juga mencintaimu Minhyuk oppa,”

Minhyuk oppa mengecup keningku. Hanya ada satu kata yang ada di dalam benakku: bahagia.

Kami berpelukan cukup lama. Melalui pelukan ini kami sama-sama melepaskan rasa rindu kami. Terlintas beberapa hal yang ingin kuketahui.

“Mengapa Yonghwa oppa bilang kalau Minhyuk oppa sudah meninggal? Itu bohong kan? Lalu apa yang terjadi pada oppa selama di Palestina?” tanyaku.

Aku dan Minhyuk oppa masih berpelukan. Kami seperti tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Yang kami pedulikan hanyalah rasa rindu yang sekian lama tertahan.

“Aku tidak bermaksud membohongimu Soojungie, tapi memang benar ada makhluk yang bernama Minhyuk yang meninggal. Dia adalah seekor kucing milik Jonghyun hyung. Ia menemukan kucing Palestina itu ketika sedang patroli malam, lalu mengadopsinya. Dua hari sebelum kami tiba, kucing bernama Minhyuk itu meninggal karena tertembak oleh peluru nyasar tentara Israel,” jelas Minhyuk oppa.

Aku mendengarkannya dengan serius.

“Aku turut sedih, oppa…” kataku.

Minhyuk oppa tersenyum.

“Tidak apa-apa. Jonghyun hyung sudah move on kok hehe. Ah, Yonghwa hyung pernah berkata bahwa kau langsung menjatuhkan ponselmu begitu ia mengabari kalau Minhyuk meninggal, apa itu benar Soojungie?”

Aku mengangguk dan langsung membenamkan wajahku di dadanya. Aku malu karena Minhyuk oppa tahu kalau aku sangat mengkhawatirkannya.

“Aigoo ternyata yeoja cantik ini sangat mengkhawatirkanku,” aku yakin sekarang ia mengelus puncak kepalaku sambil tersenyum.

“Aku tidak peduli. Yang penting oppa sehat dan selamat,”

Akhirnya kami melepaskan pelukan panjang itu.

“Lalu mengapa kucing itu diberi nama yang sama seperti Minhyuk oppa?” tanyaku penasaran.

Minhyuk oppa terkekeh sebelum menjawab.

“Jonghyun hyung itu memang….” lagi-lagi Minhyuk oppa tertawa.

“Hyung dan Jungshin sialan itu bilang kalau kucing itu memiliki mata sipit yang sama sepertiku sehingga mereka namainya Minhyuk,” jawabnya.

“Arasseo,” akhirnya aku bisa tertawa tanpa beban. Rupanya semua ini hanyalah sebuah kesalahpahaman. Akunya saja yang terlalu bodoh dan terlalu khawatir sehingga langsung mengartikan bahwa yang tewas itu Minhyuk oppa.

“Aku lega ternyata oppa baik-baik saja,” kataku jujur.

Minhyuk oppa membelai puncak kepalaku penuh sayang.

“Aku ini tentara hebat, aku pasti baik-baik saja. Walaupun pernah tertembak buktinya aku bisa pulih kembali, bukan?” katanya percaya diri.

Aku tersenyum melihatnya yang begitu percaya diri. Tiba-tiba aku teringat Sohyun.

“Oppa, apa Sohyun tahu kalau yang meninggal itu bukan Minhyuk oppa?”

Minhyuk oppa mengangguk.

Ah, Sohyunnie. Sahabatku itu rupanya ikut merencanakan hal ini. Aku tidak tahu harus berterimakasih atau kesal kepadanya.

“Jadi, maukah kau mengubah prinsipmu menjadi hidup bahagia bersamaku Soojungie?” tanya Minhyuk oppa.

Aku memandang matanya dan hanya menemukan ketulusan di sana.

Aku mengangguk malu. “Oppa janji tidak akan meninggalkanku?”

Minhyuk oppa mengecup keningku sekali lagi.

“Janji. Aku tidak akan meninggalkanmu, Soojungie,” ucapnya sungguh-sungguh.

 

***

-END

 

Ps: Author nggak suka buat cerita yang sad ending, jadi biarkanlah mereka berdua bersatu ^^

Ada yg bisa nebak prinsip apa yang bikin Soojung nolak Minhyuk?

21 thoughts on “Principle of Love

  1. Ah sumpah kangen bingitz baca ff hyukstal,
    apalagi happy ending di sini^^
    prinsipnya apa ya? ya gitu deh pokoknya/? *jawaban macam apa*
    Ohya squel juga dong thor, tapi jangan sampe sad ending-_-
    tetap berkarya lagi ya^^ hidup hyukstal!

  2. Astaga..q pkir bkal sad ending..tp q udah curiga tu wktu sohyun ngingetin buat jmput yong d bndara..soalnya skapny biasa aja..#pdhal q udah berurai air kali loh

  3. Waw keren thor ceritanya romance bgt , aku pertama kali nebak juga bakal sad end , tapi pas aku mikir lagi kayaknya gak mungkin pasti yong oppa ngerjain soojung ternyata benerkan . Aduh jonghyun + jungshin oppa reseh yaa masa minhyuk oppa yang ganteng disamain sama kucing hadeh apa banget . Cie cie aku suka adegan diff ini pas minhyuk sama soojung ketemu apalagi pas minhyuk ngarahin tangan soojung ke dada ciat ciat so sweet banget . Fighting thor jangan bosen bikin ff hyukstal yaa.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s