Seventeen

Gambar

 

Seventeen

cnblue/others.

teenager-drama-angst.

Yang mengherankan adalah; kenapa sweet harus diletakkan di depan angka tujuh belas. Apakah menjadi tujuh belas tahun semanis itu?

 i.

Bel pulang sudah berdering beberapa waktu yang lalu, tapi sekolah masih belum kosong. Minhyuk duduk di tepi lapangan basket, menonton dua sahabatnya—Jonghyun dan Jungshin—tengah beradu basket seperti biasa.

“Halo!” Soo menghenyakkan dirinya di samping Minhyuk. Senyumnya tersungging manis di bibir. Keningnya basah oleh keringat, dan helaian rambutnya menempel di kulit., baru saja menyelesaikan latihan dengan tim pemandu sorak sekolah.

“Hai Soo.” Minhyuk merasakan dirinya disuntik semangat, menemukan Soo—gadis paling cantik dan top di seantero sekolah, menyapanya duluan, dan nilai tambahnya, gadis ini adalah pacarnya. “Lelah?” tanyanya, merapikan helaian rambut Soo yang berantakan.

“Tidak, nih kubawakan makanan.” Soo mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya. Kemudian membukanya dan menunjukkan isinya yang sudah dipastikan akan membangkitkan selera siapa saja yang melihatnya.

“Wow.” Minhyuk berdecak kagum dan menerima sumpit dari Soo, memulai mencicipi makanan yang dibawakan Soo. “Buka mulutmu,” Minhyuk menyodorkan makanan pada Soo sepotong daging sapi yang tampaknya memang sungguh lezat. Soo menggeleng. “Ayolah Soo.” Minhyuk membujuk.

“Tidak!”

“Astaga, kenapa kau selalu menolak makan semua bekal-bekalmu. Ibumu membuatkan ini semua buatmu, bukan buatku. Oke?”

“Itu buat kau, tahu!” jawab Soo jengkel. Dia benci saat ketahuan bahwa bekal itu memang dibuatkan ibunya untuknya, dan dia benci Minhyuk sering sekali memaksanya memakannya.

Minhyuk menyambar pergelangan tangan Soo, menggenggamnya. “Wah coba lihat ini. Betapa kurusnya kau. Kau latihan setiap hari tapi hanya minum susu setiap kali kita ke kafetaria. Astaga Soo, apa yang sebenarnya ada di kepalamu.” Minhyuk berkata dengan frustasi.

Soo menghindari tatapan Minhyuk, dan pura-pura tertarik memperhatikan Seol—gadis paling pintar di sekolah—yang lewat di depan mereka, memanggul ranselnya dan membawa tumpukan buku di dekapannya. Sejujurnya, Soo iri dengan Seol, Soo pernah memimpikan dirinya sepintar Seol. Tapi mimpi hanya mimpi, dan dia adalah Soo seorang pemandu sorak, bukan Soo yang selalu memenangkan penghargaan.

“Sudah Minhyuk, aku tidak mau bertengkar karena hal sepele seperti ini. Habiskan makanmu, aku mau pulang sekarang. Oke?”

“Oke.” Final Minhyuk, dan tidak ada protes apa-apa lagi setelah itu. Dia tidak menghabiskan makanan Soo, dan Soo pulang dengan cemberut.

Minhyuk tidak mengerti, Soo berpikir dalam perjalanan pulang. Dia tidak mengerti, betapa Soo harus menjadi sempurna agar bisa bertahan. Dia tidak akan makan sepotong daging pun jika itu bisa membuat posisinya sebagai pemandu sorak terancam. Dia akan menyerahkan segalanya agar tetap menjadi Soo yang populer di sekolah. Dia mengubur jati dirinya yang sebenarnya sedalam mungkin agar bisa masuk ke pergaulan yang diidamkan semua remaja.

Dan Soo juga tidak mengerti, kenapa hidupnya serumit ini. Padahal dia hanyalah gadis tujuh belas tahun.

 

 ii.

Jonghyun berhasil menjebloskan bolanya ke ring dan melompat girang. “Lihat itu. Lihat itu, Jungshin! aku menjebol kau. Ha ha ha.” Jonghyun tertawa sepuas-puasnya. Dan setelah perutnya terasa kram, dia berhenti dan menghampiri Jungshin, meninju bahu sahabatnya.

“Mampus kau!” Jungshin menyumpahinya dan berjalan mendahului Jonghyun. Dia berpapasan dengan Seol. Gadis itu selalu menundukkan kepalanya dalam-dalam ketika berjalan, seolah dia berusaha menemukan koin tercecer di atas tanah.

“Rupanya aku tahu kenapa kau tadi kebobolan.” Jonghyun berhasil menyusulnya dan mulai mengejek. “Rupanya grogi karena pujaan hati lewat ya?” tawanya mulai terdengar lagi.

“Diam Jonghyun, brengsek!”

“Oke.” Dan Jonghyun diam karena tidak mampu lagi tertawa, perutnya benar-benar sakit.

Jungshin merasakan jantungnya melompat-lompat saat Seol semakin mendekat ke arahnya. Perutnya mual, telapak tangannya basah. Jatuh cinta memang penyakit, dan Jungshin percaya sekaligus benci sekali dengan kenyataan itu. Dia berusaha mengintip mata Seol yang tersembunyi, tapi tak pernah berhasil, dan gadis itu melewatinya begitu saja. Dan Jungshin kembali mengatai dirinya sendiri pengecut.

Jungshin pengecut karena berpura-pura pada Jonghyun bahwa dia tidak tergila-gila pada Seol.

Jungshin pengecut karena tidak pernah mencoba bicara pada Seol.

Jungshin pengecut karena setiap hari hanya memandangi punggung Seol menjauhinya.

Jungshin pengecut karena Jungshin hanyalah seorang Lee Jungshin yang tidak punya apa-apa selain berteman dengan Minhyuk sang ketua osis dan Jonghyun si jagoan basket sekolah.

Jungshin pengecut karena nilai matematika, dan biologi dan matematika dan kimia dan seluruhnya hancur memalukan.

Jungshin pengecut karena dia selalu membayangkan—saat waktunya tidur dan dia terlentang di atas tempat tidurnya, menonton langit-langit penuh sarang labah-labah—bahwa dia suatu hari menjadi sesuatu yang pantas dibanggakan agar pantas bersanding dengan Seol.

Tapi bagaimanapun, dia tetap Lee Jungshin. Dan umurnya baru tujuh belas tahun.

 

 iii.

 

Kelas benar-benar sudah kosong, hanya menyisakan Seol di sana. Dia buru-buru membereskan buku-bukunya, dan saking banyaknya bukunya, hingga ada beberapa yang berjatuhan ke lantai dan dia mengembuskan napas frustasi.

Seol duduk di bangkunya, memijat pelipisnya perlahan. Pusingnya tidak pernah hilang. Terlalu banyak yang dia tampung di dalam kepalanya. Dia harus selalu mengingat, dan ketika lupa dia selalu panik. Otaknya tidak pernah beristirahat sebagaimana seharusnya.

Kepalanya berpaling ke luar. Ke lapangan yang sepi. Hanya diisi empat orang anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan yang dikenalnya sebagai anggota pemandu sorak sekolah. Matanya terus memperhatikan pemandangan itu, melihat bola yang diperebutkan dua laki-laki. Lalu beralih pada laki-laki yang mencoba menyuapkan makanan pada pacarnya. Seol terhipnotis pada semua itu.

Ponselnya bergetar dan otaknya kembali panik. “Halo.. halo..” katanya buru-buru.

“Kau di mana, jam pulangmu seharusnya lima belas menit yang lalu. Astaga Seol!” suara ibunya mengisi rongga telinganya, terdengar marah dan kecewa.

“Bu… maaf, Bu. Aku akan bergegas.” Katanya buru-buru yang dicampuri takut.

“Bergegaslah. Kau tidak punya banyak waktu, guru privatmu akan tiba dalam lima menit. Setelah itu kau harus ke tempat kursus…”

Seol memejamkan mata mendengar  ibunya menyebutkan tempat-tempat yang harus dia datangi dan aktivitas apa saja yang harus dilakukannya sepanjang hari.

“Baik Bu. Baik.” Seol mengakhiri percakapan, dan membereskan buku-bukunya lalu turun ke lantai bawah, dia harus pulang secepat mungkin.

Seol melewati lapangan basket, dia ingin berhenti jika saja itu mungkin. Dia ingin menyaksikan pertandingan basket antara dua laki-laki yang tadi dilihatnya dari lantai dua. Tapi dia yakin, jika melakukan itu, ibunya akan menghukumnya sesampainya dia di rumah.

Seol memperhatikan punggung Lee Jungshin tanpa diketahui laki-laki itu. Dan ketika Jungshin berbalik, dia buru-buru menundukkan wajahnya. Dan kembali melangkah cepat-cepat. meski hatinya benar-benar ingin tinggal di sana lebih lama.

Jemputannya sudah menunggu di depan gerbang sekolah dan Seol masuk tanpa mengatakan apa-apa. Mobil bergerak perlahan, dan dari kaca spion, dia melihat Lee Jungshin memperhatikan mobilnya yang meluncur. Jantung Seol berdebar-debar kencang.

Jika saja dia lebih berani. Jika saja dia tadi tinggal. Jika saja mereka berdua bisa bicara.

Tapi Seol tahu bahwa “jika” adalah harapan kosong. Dan terngiang di kepalanya suara ibunya, “Kau baru berumur tujuh belas tahun Seol—tujuh belas! Dan Ibu tahu apa yang terbaik untukmu. Ini semua demi masa depanmu.”

Ya, Bu. Teruslah dikte hidupku. Karena aku hanyalah anakmu yang baru berumur tujuh belas tahun.

 

iv. 

 

“Sudah selesai tertawa belum?” Jungshin bertanya dengan kesal pada Jonghyun tapi temannya itu mengabaikan. “Hoi Jonghyun, lihat siapa yang datang. Berhentilah menertawaiku, dan lihat siapa yang datang.”

Jonghyun berhenti tertawa, masih memegangi perutnya yang sakit dan dengan kesadaran yang masih melayang bersama tawa-tawanya tadi, matanya menemukan Hye di ujung lapangan basket. Berbincang dengan Minhyuk, menggantikan Soo yang sudah pergi duluan.

“Jonghyun!” Hye melambaikan tangan seraya tersenyum padanya.

“Selamat berkencan, Lee Jonghyun.” Jungshin berbisik pelan di telinganya dan membawa Minhyuk agar berpisah dari mereka berdua.

“Harimu menyenangkan?” Hye bertanya. Mereka berjalan beriringan. Gedung sekolah jauh di belakang mereka. Dan keramaian toko mulai menyambut mereka.

“Lumayan. Kau?”

“Aku oke.” Balas Hye padanya, masih tersenyum. “Tapi kau tidak kelihatan oke, Jonghyun?” Hye mengutarakan pernyataannya, namun mengucapkannya seolah-olah itu adalah pertanyaan.

“Tidak. Aku oke. Sungguh.”

“Oh.” Sahut Hye. “Mungkin kau memang oke, sebelum aku datang menemuimu.”

Jonghyun mengernyitkan dahi. “Apa?” dan bertanya.

“Jangan pura-pura. Aku tahu betul kau. Setiap kali aku datang menemuimu, suasana hatimu selalu berubah.” Hye mengucapkan itu begitu santai. “Ayolah Jong, saatnya jujur-jujuran sekarang.” Dia mengerling jenaka.

“Aku tidak mengerti kau bicara apa.”

“Oh. Kalau begitu aku akan bicara duluan.”

“Silahkan.”

Hye tampak mengambil napas panjang. “Aku minta maaf, Jonghyun.” Dan sebelum Jonghyun mnginterupsinya, Hye melanjutkan. “Aku bodoh sekali waktu pertama kali kita jadian. Kupikir kau benar-benar suka padaku. Yah, seperti aku yang suka padamu. Nyatanya tidak kan? Kau hanya… kasihan padaku. Aku terlalu tergila-gila padamu dan kau tidak punya pilihan lain selain menerimaku. Tapi akhir-akhr ini, aku dapat pencerahan, sepertinya,” Hye terkikik lembut. “Kau tidak pernah menyukaiku sebesar aku menyukaimu. Kau selalu berhenti tertawa saat melihat kehadiranku. Kau selalu berkata oke, meski harimu buruk sekali. Kita tidak banyak bicara dan kelihatannya akulah yang selama ini mencoba mencairkan suasana. Setelah bertanya-tanya belakangan ini, kupikir aku mengerti.” Hye mendongak dan menatap Jonghyun, lalu meraih tangan Jonghyun.

“Aku melepasmu. Sungguh melepasmu. Aku tidak akan muncul lagi di depanmu, aku bersumpah. Dan maafkan aku untuk segalanya.” Hye berkata tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya. “Jaga dirimu baik-baik. Aku pasti akan sangat merindukanmu.” Hye meremas jemari Jonghyun sebelum melepasnya. “Dah, Jonghyun.” Dan Hye mengecup pipi Jonghyun sebelum meninggalkan laki-laki itu di belakangnya.

Kedewasaan tidak ditentukan oleh umur. Dan Hye yakin, meski dia hanyalah anak perempuan berumur tujuh belas tahun, dia bisa mengambil keputusan sebagaimana yang akan manusia dewasa lainnya lakukan.

 

v.

 

Alaram berdering dan Jonghyun meloncat dari tempat tidurnya. Dia merogoh ponselnya di bawah bantal, dan tidak menemukan pesan selain pesan Jungshin dan Minhyuk. Lalu Jonghyun memutuskan mandi dan berangkat ke sekolah dengan buru-buru.

Di kafetaria mereka makan bertiga di meja yang sama, ditambah Soo yang bergabung di samping Minhyuk, menghisap susunya lewat sedotan kecil dan mereka berdua berdebat kecil tentang pentingnya makan. Jonghyun diam saja.

Rasanya aneh, Jonghyun tidak menemukan jantungnya berdebar-debar saat Soo duduk di hadapannya. Dia bahkan tidak peduli lagi Soo duduk di sana atau tidak. Matanya mencari-cari di antara murid lain yang sedang mengantri makan siang mereka. Tidak ada Hye di sana.

“Kehilangan, Jonghyun?” Jungshin bertanya pelan. Jonghyun tidak menjawab, hanya memutar-mutar sedotan minumannya. “Dia pergi, meninggalkan sekolah. Amerika, kudengar.”

Hati Jonghyun mencelos dan otaknya berusaha mencerna apa yang dikatakan Jungshin. Lalu dia ingat apa yang dikatakan Hye padanya beberapa minggu yang lalu. Dia akan pergi. Dia tidak akan menemui Jonghyun lagi. Jadi beginikah Hye mengucapkan selamat tinggal padanya?

Bulan juni hampir berakhir dan mereka siap dengan datangnya liburan musim panas. Jonghyun mengecek ponselnya secara berkala dan sungguh tidak ada pesan yang dikirim Hye untuknya. Jonghyun bangun di tengah malam, dan saat itu tanggal lahirnya. Biasanya Hye akan meneleponnya tepat tengah malam, menyanyikan lagu ulangtahun dengan versinya sendiri, membisikkan harapan-harapannya untuk Jonghyun dan mengakhirinya dengan ucapan ‘aku menyayangimu’.

Dan malam ini, hingga pukul tiga pagi dia menunggu, tidak ada telepon. Tidak ada pesan singkat. Ponselnya sunyi sekali, hingga Jonghyun jatuh tertidur dan terbangun pukul tujuh pagi disambut teriakan heboh teman-temannya, mengucapkan selamat ulangtahun.

Jonghyun mengecek ponselnya yang penuh pesan ucapan selamat ulangtahun dari teman-temannya, tapi tidak satu pun dari Hye. Jonghyun mengusap wajahnya kesal. “Astaga, aku tidak tahu rasanya diabaikan. Aku tidak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan. Ya Tuhan, kenapa dadaku sesak sekali?”

“Jong, kau bicara sendiri?” Jungshin bingung.

“Ya, Jungshin. Ya, aku bicara. Katakan padanya aku merindukannya.” Jonghyun terisak lembut pagi itu. Berharap bisa kembali ke hari terakhir, ketika mereka berjalan beriringan di pertokoan. Dan ketika Hye memegang tangannya, menyiratkan perpisahan. Jonghyun bersumpah jika bisa kembali, dia akan memohon pada Hye untuk tinggal, dia akan berkata bahwa dia menyukainya, menyayanginya, mencintainya… tergila-gila padanya.

Jonghyun rela kembali menjadi dirinya yang berumur tujuh belas hari itu. Tapi Jonghyun ulangtahun yang ke delapan belas hari ini. Dan realitas menamparnya.

thank you for reading.

xx

15 thoughts on “Seventeen

  1. lah jadi jonghyun sukanya sama soo, tapi baru sadar kalo dia suka sama seo. haduh… telat, seo udah sama yong. #kalo itu seohyun tapi

    • hai terima kasih sudah baca.
      Jonghyun memang pernah suka sama Soo, tapi yang Jonghyun suka kemudian bukan Seol, tapi Hye. gak ada yang namanya Seo di cerita ini, melainkan Seol. dan Seol gak punya hubungan apa-apa sama Jonghyun, melainkan sama Jungshin.

  2. Semua ceritanya gada yg ga bagus… semua keren!! Tapi cerita ke III nth kenapa berkesan, mungkin karena aku pernah ada di posisi seol ya –,– cuma berani liat dari jauh doang kkk.
    jadi anak 17 taun emang banyak enaknya, tapi banyak ga enaknya juga huhuhu… tapi nikmatin deh usia2 remaja, jadi orang dewasa ntr lebih ga enak lagi hehehe..
    good job author!!

  3. woah,bener bner remaja bangt,ada cinta dalam hati,cinta monyt,sama cinta yang terlambat,.
    Haha,ada banyak bentuk cinta yang emang remaja banget..

  4. hallo, akhirnya aku baca ff kamu lagi disini huhu…
    setuju banget kalo umur 17 itu sweet, umur menuju kedewasaan. jadi dewasa gk enak, masalahnya lebih banyak dan ribet… huhu

    btw ff nya tetap bagus seperti biasa🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s