A Letter To

Title: A Letter to

Author: ItsMia

Rating: G

Genre: Romance

Length: Ficlet

Main Cast:

-Kang Minhyuk (CNBLUE)

-Angel Carter (OC)

Disclaimer: I own the plot, I own angel, and I didn’t own Minhyuk

Note: Pernah dipublikasikan di blog dan note pribadi

Kepada : Gadis-yang-Tinggal-di-Belahan-Bumi-Bagian-Barat-di-Seberang-Samudera-Pasifik

 

Nah, aku menulis surat untukmu.

 

Kau masih ingat saat kita berdiri di atas Skybar di Lebua pada malam terakhir kita di Bangkok? Saat itu aku menanyakan apakah aku boleh menghubungimu setelah kita berpisah, dan kau bilang boleh saja. Katamu, kita bisa saling mengirimkan e-mail atau melakukan video call atau mengobrol lewat chatroom di facebook. Tapi kemudian, aku memikirkan ide yang jauh lebih hebat. Aku akan mengirimimu surat. Surat sungguhan. Surat yang akan kau terima di kotak posmu dengan cap stempel internasional. Hebat kan?

 

Awalnya aku mau melibatkan burung (burung pengantar surat) seperti manusia di masa lalu. Tapi kau kan tinggal sangat jauh, dan rasanya aku akan menjadi orang yang sangat kejam jika memaksa seekor burung untuk terbang melintasi Samudera Pasifik hanya untuk mengantarkan suratku. Belum lagi nanti aku bisa mendapatkan masalah dari para pecinta hewan. Jadi kuputuskan  untuk menggunakan cara yang biasa saja, yaitu menggunakan pos.

 

Sebelum aku mengoceh tidak karuan, aku ingin menanyakan pertanyaan yang seharusnya kutanyakan lebih awal. Sesuai fungsinya, sebuah surat seharusnya memuat pertanyaan sehubungan dengan orang yang akan menerima surat kan? Maka aku juga akan menanyakannya padamu.

 

Hei, bagaimana kabarmu?

 

Aku melihat fotomu kemarin di internet dan kau tampak hebat jadi aku yakin kau baik-baik saja. Tapi yang mau kutanyakan adalah kabarmu, apa yang terjadi dalam hidupmu, setiap detailnya, aku mau mendengar hal paling remeh sekalipun. Tapi aku mau bersabar untuk nanti, jika kau bersedia membalas suratku. Sementara itu aku akan mengabarkan tentang aku saja, bagaimana?

 

Aku mengasumsikan kalau kau setuju.

 

Kau mungkin akan tertawa jika aku bilang akhirnya aku mengambil drama itu. Drama yang waktu itu pernah ditawarkan padaku saat kita masih di Bangkok. Aku bilang saat itu kalau aku masih memikirkannya kan? Nah, sekarang aku sudah mengambilnya, bermain di sana sebagai salah seorang ‘pewaris kaya’ (mereka menyebutnya begitu) dan punya lawan main yang sangat cantik. Aku akan menceritakan tentang dia nanti. Kalau kau tanya apakah aku menikmatinya, maka aku akan menjawab : ya, aku menikmatinya. Aku cukup suka berakting dan tampaknya aku punya cukup banyak penggemar dan cukup tampan untuk bersanding dengan aktor-aktor muda lainnya (kau boleh menyebutku aktor juga, aku tidak keberatan). Tapi meskipun aku menyukai dunia ini -maksudku akting- aku tetap akan bermusik. Aku ini bintang rock kan? Selain membuat para gadis jatuh cinta, keahlianku yang sebenarnya adalah memainkan musik rock (itu bukan aku yang bilang, tapi kau, tapi aku juga tidak keberatan).

 

Kemarin sehabis syuting, aku dan beberapa kru serta pemain menghabiskan waktu di sebuah kafe di daerah Gangnam. Sebenarnya kafenya biasa-biasa saja, khas kafe, keren dengan desain minimalis modern dan furnitur baru yang mengkilap. Tapi aku tertarik dengan mejanya yang dilapisi formika yang dicat merah. Aku jadi ingat kafe yang pernah kita datangi di Piccadilly musim gugur tahun lalu. Kafe unik dengan daftar menu yang dipasang pada kayu yang membentuk jam di tengah ruangan. Saat itu kau mentraktirku sebagai permintaan maaf atas kejadian yang terjadi malam sebelumnya di bar di Mayfair (oke, maaf aku tidak bermaksud mengungkit yang satu itu). Tapi, karena itulah kita jadi bertemu lagi. Aku langsung menyukai kafe itu sejak pertama kali. Aku suka bunyi denting mesin kopi pink rapsberry yang terletak tidak jauh dari meja kita saat itu. Aku menyukai cuaca muram musim gugur di London yang terasa berbeda, dan aku menyukai obrolan kita yang terjadi setelahnya.

 

Kau bilang, kau ingin melakukan petualangan mendebarkan sekali seumur hidup. Kau ingin melancong ke Thailand, berenang menuju Kho Phi Phi seperti di film The Beach dan kita menduga-duga apakah di sana ada monster laut seperti Loch Ness. Kau menyukai Thailand begitu juga aku. Kau benci ular, dan aku juga. Kita memiliki kesamaan lebih banyak daripada yang pernah kita duga sebelumnya. Kita mengobrol sampai larut malam, seolah-olah kita telah mengenal untuk waktu yang sangat lama. Kita tinggal di sana sampai pegawai kafe itu mengusir dengan sopan, dan dalam perjalanan pulang menuju flatmu di Soho (kau bersikeras aku tidak perlu mengantar tapi aku tetap melakukannya karena aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu), kita berdebat tentang apakah Kho Phi Phi berada di Phuket atau bagian dari Provinsi Krabi tanpa menyadari kalau keduanya benar.

 

Kau tidak tahu kan kalau malam itu aku nyaris tidak bisa tidur karena memikirkanmu? Nah, sekarang kau tahu.

 

Aku hampir-hampir tidak sabar untuk menemuimu lagi setelahnya, jadi aku mengikutimu ke universitas (kalau kau penasaran kenapa aku bisa tahu jadwalmu mengajar, aku menanyakannya pada Jonghyun -Jonghyun yang pacarnya Hills-temanmu-yang kebetulan temanku juga). Dia menatapku dengan curiga saat itu, tapi aku bilang padanya kalau ada beberapa hal yang perlu kutanyakan tentang puisi Edgar Allan Poe untuk lirikku dan kau kan mengajar Sastra. Jadi dia percaya. Saat itu aku baru menyadari ternyata aku cukup mahir berbohong. Kau tampak senang melihatku menunggu di depan gedung fakultas, begitupun saat kubilang aku punya tempat menarik yang ingin kutunjukkan padamu. Jadi kesanalah kita, ke bioskop bawah tanah super seram di pelosok East End dan menonton film horror Thailand. Kurasa, aku tidak akan pernah melupakan wajah ketakutanmu saat aku berteriak keras di telingamu tepat saat wajah hantunya muncul secara close-up di layar besar. Aku belum pernah tertawa sekeras itu selama bertahun-tahun.

 

Oh ya, nama hantunya Ingchan, bukan Chaba. Kau benar.

 

Aku mengalami liburan paling menyenangkan di London setelahnya, berkat kau. Sebelum kemudian kau meledak di bangku di pinggir Sungai Thames. Bagaimana aku bisa menyebutnya? Aku ngeri dan bingung setengah mati. Aku tidak pernah mahir menghadapi gadis yang menangis, terutama ketika bukan aku yang menyebabkannya. Mungkin akan lebih mudah jika aku yang membuatmu menangis, karena aku akan tahu bagaimana cara menebusnya. Tapi kau menangis karena dia kembali, Kao-mu, setelah menghilang sekian lama tanpa kabar. Jadi, tentunya kau akan mengharapkan dia yang akan membuatmu berhenti menangis kan? Tapi sayangnya, di sana saat itu hanya ada aku. Kita duduk dengan canggung. Aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku hanya duduk saja di sana, menunggu kau berhenti, mendengarkan apapun yang kau katakan, dan lalu mengulurkan saputangan. Sekarang kalau kuingat-ingat lagi, aku sungguh payah. Seharusnya saat itu aku memelukmu, tapi aku tidak tahu apakah aku berhak melakukan itu. Aku kan cuma orang asing, aku jengkel sekali karena faktanya memang itulah aku.

 

Orang asing.

 

Aku sekarang punya satu lemari penuh kotak bekas jus jeruk, kalau-kalau kau mau tahu. Kemarin Jungshin menemukannya dan menatapku seolah-olah aku sudah gila. Aku tidak gila, dia hanya tidak mengerti kalau setiap orang punya satu obsesi aneh. Obsesiku adalah mengumpulkan kotak bekas jus jeruk. Aku tidak mau mengotori bumi dengan lebih banyak sampah bekas jus jerukku, jadi aku mau menyimpannya saja. Siapa tahu suatu saat nanti bisa berguna, iya kan? Aku yakin kau mengerti.

 

Aku juga menonton video Britney Spears yang ada tari-tariannya, dan kali ini Yonghwa yang menemukanku menonton video itu sambil tertawa. Dari tatapannya aku tahu apa yang tengah dia pikirkan. Oke, mungkin memang sedikit aneh, aku tertawa dengan serius saat menonton video Britney Spears yang ada tariannya, tapi seperti Jungshin, dia kan tidak mengerti. Aku tidak menonton videonya -aku melampaui itu- aku mengenang seorang gadis yang punya obsesi untuk mengikuti setiap koreografi yang ada di tarian Britney Spears.

 

Aku tidak pernah merasa begitu berat saat harus meninggalkan suatu tempat untuk pergi ke tempat lainnya seperti aku meninggalkan London saat itu. Tapi aku tetap harus pergi. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah aku akan bisa bertemu denganmu lagi, dan memang, aku bersyukur kau tidak ikut mengantarku ke bandara karena kalau kau melakukannya, pasti akan lebih sulit lagi bagiku. Jadi, aku berangkat ke Thailand sendirian, dengan konyol berpikir kau akan ikut denganku. Memangnya, kau akan senekad itu untuk mengikuti seorang cowok asing ke negeri asing dan meninggalkan semua kehidupanmu? Jelas tidak.

 

Jadi tidak heran, ketika aku melihatmu dalam mobil pick-up berisi sayuran di rimba Pulau Krabi, aku tidak mempercayai mataku. Aku pastilah tertidur sangat lelap waktu itu, memimpikanmu. Tapi ketika benar-benar melihat, kau sama nyatanya dengan semua sayuran yang ada di tengah-tengah kita. Aku merasa seperti…..aku bahkan tidak bisa mengungkapkan. Aku sangat-sangat-sangat bahagia. Kau ada di pedalaman Thailand. Kita ada di pedalaman Thailand, berpetualang, berdua saja, bahkan tanpa pernah benar-benar merencakannya sebelumnya. Tidakkah menurutmu itu seperti takdir kosmik? Bagiku, iya. Itu jelas takdir kosmik.

 

Setelahnya berlangsung sangat menyenangkan. Thailand, Pulau Krabi, Kau, Aku, Petualangan. Bisakah aku menyebut itu bahkan lebih hebat daripada liburanku ke London? Ya. Seribu kali Ya. Kita berbaur dengan alam. Kita bihajar dan menghajar preman Thailand yang jago muaythai. Kita meresapi kehidupan Thailand dari rimba pulau Krabi ke Skybar di Lebua. Adakah liburan yang lebih hebat dari itu? Kurasa tidak.

 

Aku tahu aku tidak punya harapan, tapi tetap saja aku tidak bisa menahan diriku untuk satu harapan. Meskipun hanya persentase sangat kecil dari keseluruhan persentase yang mungkin.

 

Apakah kau menyukaiku? Aku tahu kau bilang kau menyukaiku, maksudku suka yang ‘itu’. Kau tahu kan? Tidak, kurasa kau tidak tahu. Tapi sekarang kau akan tahu.

 

Aku menyukaimu. Suka yang ‘itu’. Tapi aku tidak menulis surat ini untuk tujuan itu -menyatakan perasaan- karena seperti yang telah kukatakan ketika kita bertemu di Busan saat pernikahan Hills dan Jonghyun, aku senang melihatmu bahagia. Aku senang tidak lagi bertemu denganmu saat kau sedang ‘kacau’. Sepertinya dia memang punya efek seperti itu ya? Menyembuhkan-patah-hati. Kao-mu. Aku tahu selamanya kau hanya akan melihat pada dia saja, dan walaupun aku merasakan semacam -ditusuk-tepat-di-bagian-jantungku-berada- tapi aku tidak apa-apa. Aku menerima itu sebagai bagian dari mencintai, memilihmu dengan sadar untuk melukaiku, memberikan kuasa penuh untuk menusukku-tepat-di-bagian-jantungku-berada. Aku jadi terdengar sangat bijaksana ya? Itu artinya kau boleh tidak mempercayai perkataan teman-temanku bahwa aku orang yang cengeng.

 

Apalagi? Apakah suratku terlalu kepanjangan? Apakah kau bosan membacanya?

 

Oh ya, tentang lawan mainku itu. Yang cantik. Aku sudah berjanji akan menceritakan tentang dia. Namanya Krystal dan sepertinya dia calon yang cukup potensial bagiku. Aku yakin kau tidak keberatan kalau aku pergi dengannya sekali dua kali ke bioskop untuk menonton film horror Thailand (aku sudah menanyakan padanya apakah dia suka, dan dia bilang dia suka).

 

Yang mau kukatakan sebenarnya dalam surat ini adalah (ini surat paling panjang yang pernah kutulis untuk seseorang, kau boleh percaya itu), aku turut berbahagia untukmu dan Kao. Kalian sangat cocok untuk satu sama lain. Dia membuatmu menangis dan dia akan membuatmu tertawa. Karena kalau dia tidak seberarti itu, untuk apa kau menangis untuknya, iya kan? Jadi aku yakin, dia orang yang tepat.

 

Kuakui aku cemburu padanya, tapi aku tidak bohong saat kukatakan aku ikut bahagia. Sungguh! Aku bukan orang egois yang ingin memaksakan keinginanku saat kau tidak mau. Seperti katamu, kita bisa berteman, menjadi teman yang sangat baik.

 

Aku tidak akan bisa datang saat kalian menikah karena jarak yang sangat jauh dan jadwal-jadwal yang harus kupenuhi atas nama profesionalitas. Tapi aku menyempatkan diri untuk memberi kalian hadiah. Aku menyisipkan dua buah tiket konser jika nanti kalian berkunjung ke Seoul, konserku. Kuharap kalian mau datang. Tapi kalau tidak, tidak apa-apa.

 

Oke, sepertinya aku tidak tahu mau menulis apalagi. Ini sudah terlalu panjang. Oh mungkin ada satu lagi.

 

Aku merindukanmu, Angel Carter.

 

Untuk terakhir kalinya, aku ingin menyebut namamu dengan cara yang ingin kulakukan, seperti saat kau memperkenalkan diri padaku di bar keren di Mayfair.

 

“Hei, aku Angel, Angel Carter -temannya Hills- Hills yang pacarnya Jonghyun, kau ingat?”

 

Biar kuralat sedikit, pertanyaannya bukan apakah aku ingat? Tapi, bagaimana aku bisa lupa? Hanya kau yang punya mata coklat paling besar dan paling indah yang pernah kulihat, jadi jawabannya : ya, aku ingat, dan akan terus ingat.

 

 

Dari : Pria-Yang-Tinggal-di-Belahan-Bumi-Bagian-Timur-di-Seberang-Samudera-Pasifik,

Kang Minhyuk.

 

PS : Aku sekarang menyebut diriku ini pria -bukan cowok-. Kaget? Ya, aku juga. Omong-omong aku mau berulang tahun yang ke 24 sebentar lagi, jadi aku hanya 3 tahun lebih muda darimu.

 

 

 

 

 

21 thoughts on “A Letter To

  1. Aaaah~ suka~
    Emang lagi seneng baca cerita dlm bentuk surat begini. Dan ini… bagaimana harus mengatakannya… pokoknya suka. Berasa akulah si Angel Carter, dan berasa aku bener2 dpt surat dr Minhyuk. Iya, Minhyuk yg itu. Drummer-nya CNBLUE ^^
    (Hehe, maafkan ketidakjelasan komenku ini)
    Sekali lagi, ini keren😄

  2. wow… aku suka cara kamu menyusun kata di FF ini…
    nyaman bacanya…
    dan ya ampuuuunn… itu Minhyuk so sweet banget sih… jadi gemes sama si brownies itu… hahaha…
    good job chingu… keep writing…😀

    • iyaaaaa, Minhyuk gemesin banget *masukin Minhyuk ke kantong dan simpan buat diri sendiri* *salah fokus*. LOL. Makasih kamu udah mau baca dan ngasih komen😀

  3. Nothing i can say but It’s so brilliant!!! Really… !!
    One of best fanfiction I ever read!!!
    Ceritanya beda dari ff yang pernah aku baca sebelumnya, berasa baca surat yang ditujuin buat aku, penuturan ceritanya bikin emosi and feel pas bacanya naik-turun.. pokoknya keren!!
    Posting lebih banyak FF disini ya, now you are one of my favorite fanfiction author!!😄

    • Wow i think that’s too much, but to be honest your compliment blow me away. Haha. May i?
      Thank you so much for reading hana, i’m soooooooo appreciate it. Really🙂

  4. Dear Mia,
    ada sejuta gadis yang bernama Mia di dunia ini. Tapi hanya satu Mia yang kukenal dan yang senang menulis. Jadi, ketika melihat tulisan ini, aku tahu betul itu pasti kau.

    Dear Mia,
    aku sudah pernah membaca surat ini di Sunrise dan maafkan aku karena baru meninggalkan jejak sekarang.

    Dear Mia,
    kuharap kapan-kapan kau mau mengirim tulisanmu lagi ke sini.

    Dear Mia,
    I loved this so much… keep writing.

    Love,
    Stargirl.

    WKWKWKWKWK
    udah alay belum???? :p

    • LOL, eventhough this is so-alay- but still, it means a lot to me Dear Yeowon, especially when i know that Yours much better than Mine, and especially when I admired all of story that you’ve ever write😀. Thank you.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s