Mutual Weirdness

Title : Mutual Weirdness

Author : HeyItsMia

Rating : PG 13

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Main Cast :  Lee Jonghyun (CNBLUE), Hills Spencer (OC)

Disclaimer : Terinspirasi setelah membaca Love, Stargirl karangan Jerri Spinelli. Ini cerita pertama yang saya tulis dalam bentuk surat atau monolog panjang.

Note : Pernah dipublikasikan di note facebook pribadi.

 

We are all little weird and life is little weird. And when we find someone whose weirdness is compatible with ours, we join up with them and fall into a mutual weirdness and call it love – Dr.Seuss

 

 

Kepada : Gadis Paling Keras Kepala dan Menjengkelkan yang Pernah Kukenal

 

Kau menanyakan padaku sekitar –aku cukup yakin sekarang- sejuta kali dari sejak aku memintamu untuk mempertimbangkan tentang kita, tentang kemungkinan apakah aku mencintaimu. Dan aku juga sudah menjawab sekitar –aku juga yakin tentang ini- lebih dari sejuta kali dan tidak satupun dari jawabanku yang membuatmu puas.

 

Sejujurnya Hills, aku sudah hampir menyerah tentang ini. Tampaknya jawaban apapun yang kuberikan, kau tetap akan menanyakannya lagi dan lagi, sampai aku mungkin akan lebih memilih mati saja daripada diteror terus-menerus dengan pertanyaan yang sama seumur hidupku.

 

Tapi baiklah, untuk terakhir kalinya  –aku bersumpah ini untuk yang TERAKHIR KALINYA- aku akan menjawabnya untukmu.

 

Apakah aku mencintaimu?

 

Kau tidak akan puas jika aku hanya menjawab  : ya, aku mencintaimu kan? Jadi baiklah, akan kucoba sekali lagi untuk meyakinkanmu.

 

Darimana kau mau aku memulai? Dari sejak pertama kali kita bertemu? Setiap detail dari apa yang kurasakan sejak saat itu? Oke, akan kucoba. Dan lihat, aku bahkan tidak menghela nafas sambil memutar bola mata!

 

Jadi, inilah dia, pengakuanku yang paling jujur. Aku bersumpah tidak akan merahasiakan apapun. Bahkan tidak juga hal-hal memalukan  yang pernah kupikirkan tentangmu (kau tentu tahu seharusnya itu sangat pribadi kan?).

 

Kau adalah orang yang paling tidak kubayangkan ketika diberitahu tentang ‘ada jurnalis hiburan dari London yang mau mewawancarai kami’. Dalam bayanganku waktu itu,  yang akan datang adalah seseorang yang tampak lebih profesional. Tahu kan? Tidak dengan rambut berantakan seperti habis berlari dan basah kena hujan, mengenakan baju terusan bunga-bunga dengan dilapisi jaket denim dan sepatu lars merah aneh itu. Tapi tidak bisa dibilang aku kecewa juga. Aku hanya heran dan takjub.

 

Ya, takjub. Kurasa itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat itu. Aku tidak menyangka ada orang yang bisa tampak begitu berantakan namun juga menarik di saat yang sama. Kau sangat tinggi (sekarang aku tahu kau sekitar 170 cm), sangat pucat,  rambutmu begitu gelap, dan matamu yang hijau besar itu seakan menarikku masuk ke dalam danau hijau mistis di tengah hutan yang berisi para peri. Seperti dihipnotis. Aku merasa aneh, tapi bukan dalam artian buruk.

 

Kita duduk dan kau melontarkan pertanyaan-pertanyaanmu dengan profesional. Kau mencoba berbicara dalam bahasaku, dan jujur saja, aksenmu luar biasa buruk. Tapi setidaknya kau sudah mencoba dan aku menghargai itu. Kau mengatakan kalau kau seperempat Korea, dan nenekmu dari pihak ibu berasal dari daerah yang sama denganku. Aku merasa lebih takjub lagi. Kau? Seperempat Korea? Bahkan jika misalnya aku disuruh untuk  menebak kewarganegaraanmu, aku tidak akan bisa. Mungkin saja kau ini sebenarnya setengah Elf  (dari Lord of The Rings), mengingat kulitmu yang begitu pucat.

 

Kata perasaanku saat itu : Aku takjub. Kata mataku : kau cantik. Kau gadis paling cantik yang pernah kulihat  langsung. Sumpah! Ini tidak bisa dibilang berlebihan dan kau tidak perlu memutar bola mata saat aku mengatakan ini. Aku hanya bilang –yang pernah kulihat langsung-  dan itu artinya tidak termasuk Megan Fox. Kau mengerti kan? Setiap orang kan punya standar kecantikan sendiri, jadi terserah padaku untuk memutuskan standarku sendiri!

 

Aku tidak bisa memutuskan apakah saat itu aku langsung jatuh cinta padamu atau tidak. Bahkan sejujurnya, aku tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Aku tidak mengenalmu. Tapi aku memang terpesona, dan ada bagian cukup besar dalam diriku (katakanlah sekitar 70 persen) yang ingin memilikimu. Saat itu juga, untukku. Nah, kedengaran gila kan? Aku tahu. Aku juga berpikir begitu. Tapi kukatakan pada diriku “Tidak! Cewek itu entah berasal darimana. Dia bilang London, tapi bisa saja lebih jauh lagi, dan percayalah, kau tidak akan mau terlibat dengan cewek yang berasal dari tempat yang begitu jauh.”

 

Jadi, begitulah. Aku sok merasa biasa-biasa saja saat kau pergi, kembali ke negaramu. Tapi setelahnya aku jadi berpikir lama sekali. Memikirkan setiap kemungkinan, dan semakin aku memikirkannya, semakin aku tidak bisa menahan diri.

 

Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, kan?

 

Ya. Malam tahun baru itu.

 

Aku akhirnya memberanikan diri untuk menghubungimu. Aku mendapatkan nomor teleponmu dari temanmu Max si fotografer yang datang bersamamu itu- kalau kau mau tahu, ya aku memaksanya karena kau TIDAK MAU meninggalkan identitas apapun padaku.

 

Tahukah kau betapa gugupnya aku saat itu? Aku sudah tampil bernyanyi di depan ribuan orang di berbagai tempat! Tapi kenapa aku gugup saat mau menyanyikan sebuah lagu saja di depan cewek yang tidak begitu kukenal? (bahkan tidak benar-benar di depanmu karena kita melakukan video call dengan kau di London dan aku di Seoul dan yang kutahu tentangmu hanyalah, kau jurnalis majalah hiburan di London). Aku bahkan tidak berani menyanyikan laguku sendiri. Konyol sekali. Jadi akhirnya aku malah menyanyikan lagu orang lain, dengan beberapa nada yang kuaransemen ulang.

 

Aku ingin sekali membuatmu terkesan. Aku ingin kau mempertimbangkan aku. Tapi yang kau lakukan hanya menatapku dengan terpaku dan mengatakan kalau kau tidak tahu.

 

Aku menanyakan padamu, “Apakah kau mau mempertimbangkan aku?” Dan kau menjawab, “Aku tidak tahu…”

 

Nah, bagian mana dari pernyataan  ‘Aku-Tidak-Tahu’ itu yang menurutmu tidak membuatku merasakan sensasi seperti semacam balon yang ditusuk? Kau pasti tidak bisa melihat dari sisiku kan?

 

Situasinya begini : aku repot-repot menghubungimu dari seberang Samudera Pasifik, mengabaikan segala akal sehat dan beresiko tinggi dibilang gila, hanya untuk mendapatkan jawaban Aku-Tidak-Tahu mu. Biar kukatakan saja, itu menyakitkan Hills! Serius!

 

Tapi sialnya, aku telah terjebak antara  keras kepala-setengah gila-dan jatuh cinta. Aku tidak bisa kembali, jadi pilihan yang tersisa untukku hanyalah, mencoba lagi. Benar, teman-temanku bilang aku gila, tapi bukankah kita harus berani mengambil resiko untuk hal-hal yang penting dalam hidup kita? Sejak insiden Aku-Tidak-Tahu itu dan efek apa yang kau timbulkan padaku setelahnya, aku langsung tahu kalau kau penting untukku.

 

Aku dibilang gila tapi akhirnya aku berhasil meyakinkanmu untuk mencoba dan mempertimbangkan aku. Menurutku, itu cukup sepadan.

 

Kita lalu menjalani hubungan paling mustahil dengan kau di London dan aku di Seoul, dengan Samudera Pasifik yang terlalu luas untuk kita seberangi bahkan dengan teknologi bernama pesawat terbang sekalipun. Tapi aku mengabaikan semua hal yang masuk akal. Aku tidak akan bilang kalau aku bahagia dengan itu. Aku merindukanmu nyaris setiap waktu. Aku jengkel setengah mati saat kau membahas-bahas tentang Max yang membuatmu sebal. Maksudku, berada di dua benua yang berbeda saja sudah cukup sulit  tanpa aku harus merasa  cemburu pada cowok Max itu. Dia ada di sana bersamamu,  dan aku berada ribuan mil jauhnya (bahkan mungkin jutaan-karena siapa sih yang benar-benar pernah menghitung luasnya Samudera Pasifik?). Aku berharap ada di sana juga.Tapi ini pilihan kita, jadi aku bertahan. Aku tidak tahu akan  berlangsung sampai kapan, yang aku tahu, suatu saat kita akan bersama-sama, dan kau akan berada dalam jarak jangkau mataku dan juga tanganku.

 

Ada saat-saat dimana rasa rinduku padamu nyaris tak tertanggungkan. Dan saat itu aku bertanya-tanya, apakah kau merasakannya juga. Merindukanku setengah mati. Aku merasa video call saja tidak cukup. Aku ingin memelukmu, membaui rambutmu, menungguimu sampai kau jatuh tertidur, menciummu…merasakan kau berada dalam jarak yang bisa kuraih dengan tanganku. Itu hal berat dan menyakitkan lainnya Hills, asal kau tahu saja! (Ya! Tanpa kau perlu melibatkan Max dalam dalam setiap obrolan lintas pasifik kita!)

 

Aku sangat bersemangat saat akhirnya kami bisa konser di London, di rumah musik rock, di tempat darimana kau berasal. Aku ingin memberimu kejutan, dan kau memang tampak sangat terkejut. Tapi kenapa saat itu harus ada Max LAGI?!! Aku tahu kalian satu tim, tapi rasanya seolah-olah dia memenuhi hidupmu. Bahkan kau mengenakan jaketnya karena hujan turun sangat lebat dan cuaca di London sedang buruk. Oke, aku memang tidak mau kau sakit, tapi astaga, rasanya aku marah dan cemburu sekali. Tapi untung saja rasa rinduku padamu lebih besar jadi kita tidak memulai pertengkaran pertama sebagai pasangan sungguhan di pertemuan pertama. Kita akhirnya hanya duduk di sofamu yang diletakkan di dekat jendela, menatap hujan yang begitu deras di luar, ke jalanan basah, dari jendela.

 

Saat itu, untuk pertama kalinya aku menggenggam tanganmu. Rasanya begitu halus dan lembut dan kecil di tanganku.Kau tersenyum padaku. Kita tidak saling bicara, hanya menatap saja, dan merasa keheningan saat itu sudah cukup.  Aku ingin sekali memelukmu dan mengatakan secara langsung kalau aku mencintaimu. Tapi aku tidak mau merusak momennya, jadi aku diam saja. Rasanya lama sekali, tapi aku tahu kita berdua menikmatinya.

 

Lalu kemudian, berlanjut pada ciuman pertama kita di belakang panggung sebelum konser. Kau sering menuduh kami –para pria- sering melupakan momen-momen penting kan? Kami tidak melupakannya, kami hanya tidak suka sering-sering membahasnya seperti kalian. Dan yeah Hills, jika kau menanyakan padaku kapan tepatnya itu, aku ingat, 22  September  (aku menandainya di kalender, untuk berjaga-jaga pada kemungkinan ini).

 

Aku menikmatinya. Menciummu. Aku mau-mau saja melakukannya berjam-jam kalau aku tidak harus segera naik ke panggung untuk konser dan atau mulut kita tidak kram sesudahnya. Aku selalu menikmati menciummu, sampai sekarang, sampai kapanpun. Kalau-kalau kau penasaran, ya, kau satu-satunya orang yang akan kucium untuk berapapun sisa hidup yang kumiliki di dunia ini. Jadi kumohon supaya kau berhenti mengungkit-ungkit tentang model di klub malam atau model di video klip karena itu luar biasa menjengkelkan, oke?! Tujuanmu kan memang untuk membuatku jengkel kan? Aku memang sangat jengkel, kau menang telak. Nah, mulai sekarang HENTIKAN!

 

Sampai dimana aku tadi? Oh ya, ciuman pertama kita. Aku hanya tidak menduga hal itu kemudian jadi sangat kacau hanya karena salah satu temanku tidak sengaja mengambil selca dan kita ada di latar belakang, tengah berciuman. Yang terjadi setelahnya, seperti yang kau tahu, kekacauan. Aku tidak bilang itu mudah, reaksi dari orang-orang yang menyerangmu karena kau pacarku dan amukan ibumu. Tapi juga bukan seberat yang kau pikir sehingga kau memutuskan menyerah saat itu juga. Aku tidak percaya kau bisa menyerah semudah itu.

 

Kau berkata padaku dengan ringannya, “Maaf Jong, aku tidak cocok berada di duniamu dan aku tidak bisa melihat masa depan apapuh denganmu.  Dalam hidup ada hal-hal yang harus kita lepaskan walaupun kita tidak ingin.”

 

Menurutku, sepertinya saat itu kau memang INGIN  melepaskanku. Dan yeah, itu hal menyakitkan lainnya lagi.

 

Aku memang sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk saat kita memutuskan mencoba, hanya tetap saja rasanya menyebalkan. Aku marah, sakit hati, kecewa, terluka, dan semua hal menyakitkan digabung jadi satu untuk membuat kerusakan yang cukup parah di bagian hati (aku tidak bercanda, sungguh! Dan aku juga tahu ini kedengaran begitu melankolis untuk ukuran pria,tapi terserahlah! Kau, ya kau! Mahir sekali melakukannya!) Tapi kemudian setelah lebih tenang, aku berpikir lagi. Kau mungkin ada benarnya. Hubungan itu terlalu sulit, kita toh tidak bisa mengabaikan Samudera Pasifik dan aku mungkin egois jika tetap memaksamu.

 

Jadi, kita berpisah.

 

(Aku masih tidak percaya telah terbang begitu jauh hanya untuk mendengar kata-kata Aku-Tidak-Bisa-Melihat-Masa-Depan-Apapun-Denganmu!)

 

Ya Tuhan! Itu menyakitkan sekali (oke maaf aku jadi emosi lagi).

 

Selama kita berpisah, aku melanjutkan hidupku. Aku berkencan dengan beberapa orang. Aku sungguh-sungguh berusaha. Aku sempat menyukai salah satunya (bukan berarti aku hanya mau mempermainkan mereka). Namanya Im Yoona. Dia sangat baik, penampilannya tanpa cela, dia tidak mengatakan kata-kata semacam ‘Aku-Tidak-Tahu’ dan ‘Aku-Tidak-Bisa-Melihat-Masa-Depan-Apapun-Denganmu’ padaku. Dan dia juga cantik. Dia bisa menjadi tipeku. Kupikir jika kami bersama, kami akan bahagia. Tapi sialnya, kau terus saja berlarian di kepalaku. Benar-benar menjengkelkan. Kau mendepakku secara sepihak, tapi kau menolak untuk benar-benar pergi dari pikiranku! Seolah rasanya kau tidak menginginkanku tapi bersikeras mau mengendalikan hidupku. Tidakkah menurutmu itu keterlaluan? Kalau kau tanya pendapatku, ya, itu keterlaluan!

 

Jadi, aku berpikir lagi. Aku merasa sejak bertemu denganmu, aku jadi sering berpikir (bukannya sebelumnya aku tidak pernah berpikir). Bagaimana kalau aku mencoba lagi? Bagaimana kalau seandainya aku membuat lompatan besar dalam hidupku, memulai karir internasionalku, dan pindah ke negeri asing di sebelah barat Samudera Pasifik? Kedengaran mendebarkan ya? Aku meninggalkan teman-temanku, keluargaku, negaraku, untuk memulai sesuatu yang benar-benar baru. Aku berhasil meyakinkan semua orang kalau ini untuk kemajuan yang lebih besar dalam karir bermusikku (maksudku, siapa yang tidak mau menjadi bintang rock di rumah musik rock?). Yang tidak mereka ketahui, alasan terbesarku untuk pindah adalah, kau.

Aku tahu, saat memutuskan untuk pindah itu, aku telah membuat sejarah memalukan bagi harga diri kaum pria di muka bumi ini. Aku meninggalkan semua yang kumiliki demi seorang gadis yang mengatakan ‘Aku-Tidak-Bisa-Melihat-Masa- Depan-Apapun-Denganmu’ padaku. Aku ingin membenturkan kepalaku ke tembok supaya aku bangun. Namun sepertinya kerusakan yang terjadi di sana sudah begitu permanen (karena kalau tidak, kurasa aku tidak akan ada di sini sekarang, menuliskan ini, meyakinkanmu untuk ke-SEKIAN JUTA KALINYA). Itu adalah hal paling gila kedua yang pernah kulakukan dalam hidupku (yang pertama saat memintamu mempertimbangkan  aku). Saat itu aku belum terlalu sadar kalau kau bisa membuatku semakin banyak berpikir sehingga membuatku pada akhirnya bisa mengalami kegilaan permanen.

Dan begitulah, kita mencoba lagi. Kau setuju (omong-omong, kurasa kau juga agak gila, tapi bagiku tidak masalah. Aku cukup berpikiran terbuka).

Kita memulai, kita bertengkar setiap waktu, kita berbaikan setelahnya, kita bertengkar lagi, aku membuat kesalahan, kau mematahkan hidungku, aku minta maaf, berbaikan lagi, bertengkar lagi, begitu seterusnya. Kau mahir sekali membuatku jengkel, aku mahir sekali membuatmu jengkel, kita sangat mahir membuat jengkel satu sama lain. Tapi aku tidak keberatan. Aku menikmati bertengkar denganmu, mungkin aku mau melakukannya seumur hidup. Dan kurasa kau menikmatinya juga kan? Mencari masalah denganku?

Lalu, karena aku merasa aku tidak akan bisa menemukan orang lain untuk membuatku mau bertengkar dengannya seumur hidup, aku memintamu menikah denganku. Kuakui mungkin caraku tidak romantis. Kita saat itu duduk di flatmu sambil menonton TV dan aku tiba-tiba bilang, “Bagaimana menurutmu kalau kita menikah?” (kalau kupikir-pikir lagi, memang terdengar seperti main-main ya? Tapi saat itu aku serius, sungguh!), dan kau kembali menatapku dengan terpaku. Tatapan terpaku yang kosong (aku benci sekali melihat tatapanmu yang itu sebenarnya, jujur saja, terutama saat kau memberikannya di saat-saat tidak tepat seperti itu). Kau ketakutan.  Saat itu aku tidak mengerti kenapa kau ketakukan. Kita memang baru memulai lagi, tapi kalau kita merasa nyaman pada satu sama lain, kenapa kita tidak menikah saja? Aku ingin menikah denganmu. Aku ingin kita menikah. Tapi kemudian kau bilang kau belum siap untuk komitmen seumur hidup, katamu kata-kata ‘Bersama-Sampai-Maut-Memisahkan’ itu terdengar mengerikan dan pernikahan membuatmu merasakan sensasi seperti klaustrophobia, mengikat seperti rantai baja dan kau jadi tidak bisa bernafas.

Ya, kau benar, itu hal menyakitkan yang kesekian yang kudengar keluar dari mulutmu.

Tapi akhirnya kau memutuskan untuk setuju. Mungkin kita bisa melangkah ke tahap yang lebih serius lagi. Jadi, aku memberitahu ibuku agar datang ke London, bertemu denganmu sekaligus menghadiri pembukaan konser duniaku yang pertama. Tapi apa yang kau lakukan kemudian? Kau melarikan diri! Aku bisa bersabar selama ini menghadapimu, tapi saat itu aku luar biasa marah. Kau sungguh-sungguh keterlaluan! Aku bisa menerima kalau kau melarikan diri dariku, tapi dari ibuku? Yang terbang jauh-jauh, mengalami jetlag, dan serangkaian hal menyebalkan lainnya selama penerbangan untuk bertemu dengan ‘calon menantunya’ kau malah melarikan diri! Itu keterlaluan dan juga tidak sopan!

Jadi, saat itulah untuk pertama kalinya aku mendepakmu (biar saja aku menggunakan istilah ini, aku benar-benar marah padamu). Aku bertekad kali ini aku tidak akan mengibarkan bendera putih lebih dulu. Aku tidak akan bergeming sampai kau memohon maaf padaku (mungkin sambil menangis supaya lebih dramatis? Apakah kau melihat muncul sepasang tanduk kecil di kepalaku?) Aku benar-benar ingin memberimu pelajaran. Kau akan tahu bagaimana rasanya hidup tanpa aku.

Dan ya, kau minta maaf, menyesal (aku tahu kau benar-benar menyesal, bukan hanya karena kau mengatakannya sambil menangis), tapi aku tetap merasa perlu memikirkannya (nah, aku berpikir lagi). Aku tidak ingin menjalani tur dunia dengan perasaan kacau jadi kubilang untuk sementara kita bisa berpisah dulu. Kita akan kembali memikirkannya jika nanti aku kembali, menata ulang banyak hal, mencoba lebih memahami satu sama lain, dan kau bilang oke sambil menangis. Apakah itu artinya aku cukup berarti sehingga kau meneteskan airmata untukku? Tapi kau kan sering menangis. Kau menangis untuk pizza, film romantis, novel picisan, lirik-lirik lagu cinta cengeng, dan hal-hal yang tidak terlalu penting. Kuharap tangisanmu untukku saat itu tidak sama dengan tangisanmu untuk pizza.

Tapi, saat meminta untuk berpisah sementara waktu, aku hanya tidak menduga kalau akan ada seseorang diantara kita. Kau menolak bertemu ibuku, kau takut menikah denganku, tapi kau pergi ke Turki dengan ADIKKU! Aku tidak percaya saat Sungjoon bilang kalian sedang di Turki, tapi aku merasa harus membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri, jadi, ya, aku pergi ke sana, dan apa yang kutemukan?

Kau. Dengan adikku. Di pasar malam. Berciuman!

Sial Hills! Bagaimana kau bisa melakukan hal itu padaku?! Kurang menyakitkan apalagi perlakuanmu selama ini padaku?! Aku tidak pernah menyangka aku bisa semarah itu padamu (mungkin amarah semacam itu yang merubah manusia menjadi Hulk). Yang jelas rasanya aku ingin marah besar, bertengkar hebat, menumpahkan semua yang kurasakan selama ini, dan tidak mau melihat wajahmu lagi. Lalu aku berteriak, kau balas berteriak padaku, mengatakan segala macam hal tentang cewek pirang yang memanggilku John, cewek yang kucium di video klip, cewek yang menciumku di klub malam, dan entah cewek manalagi. Sebenarnya yang berhak marah itu siapa sih? Aku atau kau? Oke, kita impas. Katakan saja kita sama-sama punya kesalahan dan berhak memaki satu sama lain. Tapi astaga! Itu kan adikku! (Oke, aku tahu kemudian kalau kejadiannya tidak seperti yang aku duga, aku melihat kalian dari jarak beberapa meter jadi kelihatannya seperti kalian berciuman- aku hanya tidak mau mendengar saat itu). Jadi aku pergi dengan marah. Aku mengucapkan hal-hal yang kemudian kusesali, termasuk tentang ‘Kau-Tidak-Lagi-Berada-Dalam-Daftar-Rencana-Jangka-Panjang-Hidupku’, dan kau memakiku dan bilang aku brengsek. Saat itu aku juga berpikir kau brengsek. Kita sama-sama brengsek.

Saat akhirnya kita bertemu lagi di Mark & Spencer, aku sedang  membeli sayuran (Kao yang saat itu jadi teman satu apartemenku, dia mau bersih-bersih dan kau tahu aku tidak suka melakukannya, jadi  aku yang belanja). Aku sudah tidak terlalu marah lagi. Tapi aku tetap terkejut saat melihatmu. Jadi aku memasang wajah datar yang normal dan menyapamu seolah kita tidak saling memaki dan bertengkar hebat sebelumnya, kau tahu? Demi harga diri. Aku tidak mau menunjukkan kalau aku masih memikirkanmu setiap waktu. Kau toh tidak punya kuasa sebesar itu. Astaga, itu menyebalkan sekali. Sungguh. Aku bisa melihat dari tatapanmu kalau kau masih marah padaku, tapi aku mengabaikannya. Dan saat kau melempari kepalaku dengan apel bekas gigitanmu  saat aku melambai dengan santai, aku ingin meledak tertawa. Aku berusaha sangat keras untuk menahan diri, tapi tetap tidak bisa. Kurasa kau bisa melihatnya kan saat itu?

Lalu berlanjut pada kehebohan di Chimes setelahnya, kita bertengkar lagi, aku tidak bisa lagi bersikap sok biasa-biasa saja. Aku ingin kita bicara dan mendengar langsung darimu tentang apa yang terjadi antara kau dan adikku di Turki. Oke, mungkin tidak benar-benar bicara karena yang kita lakukan adalah kembali saling berteriak dan memaki satu sama lain. Aku mendesakmu secara harfiah, mengabaikan tatapan  Ketakutan-Tapi-Keras-Kepalamu dan menunjukkan siapa yang berkuasa di sini. Lalu kau memuntahkan kata-kata itu padaku. Ciuman internasional?! Bahwa Sungjoon adalah pencium yang paling hebat?! Kau ingin membuatku marah sekaligus cari mati ya?! Kau tahu aku tidak akan melepaskanmu setelah itu kan?! Kuakui aku menikmati saat melihatmu berjengit ketakutan saat aku meninju keras dinding tepat di samping telingamu. Kau tidak akan mau macam-macam dan mencari masalah denganku. Tapi itulah dirimu, kau sangat suka mencari masalah denganku. Tampaknya kau telah menemukan tujuan hidup sejatimu : membuatku jengkel sesering yang kau inginkan, dan lalu ketika aku sudah sangat marah, kau berlagak sebagai korban.

Kau tahu apa yang kemudian terpikir olehku dengan  memutuskan tetap bersamamu? Mungkin aku ini masokis.

Aku tahu kau sengaja memprovokasi supaya aku marah dengan membahas-bahas ciuman internasional yang katamu kau lakukan dengan Sungjoon sesering meungkin (memadukan gaya inggris dan korea? Yang benar saja!). Dan aku  memang jadi sangat marah, lalu menciummu dengan penuh emosi (saat itu lebih pada amarah daripada gairah), dan kau menamparku dengan keras, mengataiku brengsek sekali lagi, dan lalu menangis keras. Dan begitu saja, aku langsung menyesal. Serius, bagaimana sih kau melakukannya? Kau yang menyulut peperangan, aku termakan umpanmu, lalu kau menangis dan berlagak sebagai korban, dan aku langsung menyesal. Disinilah aku menyadari betapa tidak adilnya dunia ini dan betapa airmata bisa menjadi senjata yang sangat berbahaya.

Tapi sudahlah, akhirnya kita berbaikan lagi. Berjanji tidak akan saling menyakiti dan marah-marah lagi (yang sepertinya tidak berhasil ya?)

Kita menata ulang, memulai hubungan baru. Aku penasaran, seberapa sering sebenarnya kita mengulang dan berakhir dengan pertengkaran yang sama, tapi tetap saja kita selalu melakukannya, lagi dan lagi, seolah kita terjebak dalam suatu siklus hubungan yang aneh dan tidak bisa keluar  (atau mungkin kita memang tidak mau).

Kita mencoba dewasa, membahas berbagai hal dengan kepala dingin, mendiskusikan hidup kita ke depan berdua dengan berbagai kemungkinan. Yang tidak aku mengerti sampai sekarang, kenapa setelah semua itu, aku tetap tidak bisa melihat orang lain yang bisa kunikahi selain kau –bahkan meskipun kau masih saja takut menikah. Tapi kita akhirnya berhasil mengatasi ketakutan-ketakutanmu yang tidak masuk akal dengan diskusi panjang penuh pertimbangan (nah, sekarang kau lihat kan? Menikah tidak buruk-buruk amat, dulu kau takut sekali melakukan ‘itu’ tapi kalau kau tanya pendapatku sekarang, sepertinya kau cukup menyukainya, ya kan Hills? Mengaku sajalah!).

Kau bilang, dengan menikah kita bisa bertengkar seumur hidup, sesering yang kita mau, dan aku bilang, ya, kita bisa melakukannya.

Dan itu benar. Kita bahkan bertengkar pada malam pertama bulan madu, meributkan tentang benda sialan bernama long torso yang tidak bisa kubuka dan kau membanting pintu tepat di depan hidungku. Lalu ketika aku mengatakan kalau kau ternyata seksi, kau jadi marah karena berpikir selama ini aku menganggapmu tidak seksi. Kubilang, aku suka ukuranmu seperti apapun, tapi kau malah menangis dan menuduhku menghabiskan waktu untuk mengira-ngira ukuranmu. Ya Tuhan, maumu sebenarnya apa sih? Dan memangnya aku sebegitu tidak punya pekerjaannya sehingga hanya memikirkan tentang ‘ukuranmu? (oke, aku memang melakukannya, tapi kan intinya bukan itu!). Kenapa kau selalu meributkan semua hal? Tidak bisakah untuk sekali saja –pada momen yang benar-benar penting seperti bulan madu- kita berhenti berdebat dan bertengkar dan hanya menikmatinya saja? Tapi setelah itu kita tertawa sangat keras, setelah bertengkar untuk kesekian juta kalinya, menertawakan diri kita dan hubungan yang aneh ini, dan lalu melakukan…. (kau tahu kelanjutannya, aku tidak mau membahasnya disini karena itu terlalu pribadi).

Apakah menurutmu, setelah semua itu kau bisa menyimpulkan tentang apakah aku mencintaimu? Bisakah Hills? Karena kalau tidak, aku benar-benar yakin aku hanyalah  masokis sinting yang menikahi seorang gadis yang mengutarakan alasan utama menikah dengan ‘Agar-Kita-Bisa-Bertengkar-Sesering-Yang-Kita-Mau’.

Nah, kau bisa menyimpulkan sendiri. Aku telah menulis dalam sekitar 3500 kata lebih (aku tidak benar-benar menghitungnya, hanya memperkirakan saja) jawaban untukmu, dan aku tidak akan mau melakukannya lagi lain kali. Oke? Kau mengerti?

Kalau sudah, maukah kau membukakan pintu untukku? Kita sudah menikah selama dua tahun, dan aku tidak percaya kau masih saja cemburu pada Bruno dan meributkan tentang aku yang lebih sering mengajaknya jalan-jalan daripada mengajakmu. Dia itu kan Great Dane, astaga! Dia Cuma seekor anjing dan dia perlu jalan-jalan untuk menjaga tungkainya! Masa kau tidak mengerti juga sih? Dan lagipula aku melakukannya karena kau sudah dengan tegas mengatakan kalau dia anjingku dan akulah yang harus mengurusnya. Kau tidak bisa mengunciku di luar dan menanyakan tentang ‘Kemungkinan-Apakah-Aku-Mencintaimu’ hanya karena ini.

Buka pintunya Hills, aku serius!

Dari : Aku (kau tahu siapa, ya, suamimu, tapi kalau kau lupa namaku Jonghyun)

P.S : Kalau aku mati karena hipotermia dan berakhir membeku sebagai mumi es, maka itu salahmu! Suhu sudah mencapai titik beku, Demi Tuhan buka pintu sialan ini Hills!!!

 

_

 

 

_

 

 

Kepada : Kau yang Sama Keras Kepala dan Menjengkelkannya Denganku

 

Aku tidak bisa memutuskan apakah harus tertawa atau menangis saat membaca ‘curahan hatimu’ –lebih tepat disebut begitu karena yang kau tulis sambil mengerang jengkel dan marah-marah, aku yakin sekali- tidak bisa disebut surat Jong. Jujur saja. Tapi well, aku cukup terharu saat membaca di bagian awal, saat kau berpikir lama sebelum memutuskan untuk meneleponku dan meminta untuk mempertimbangkan tentang kita. Itu manis, sungguh!

 

Tentu saja aku tahu kau menganggapku cantik. Aku tidak memutar bola mata saat membacanya.  Aku masih ingat dengan jelas tampangmu yang agak ternganga saat pertama kali melihatku (untung saja kau tidak meneteskan liur atau apa), jadi kau tidak perlu menyakinkanku dengan membawa-bawa Megan Fox (lagipula, dia tidak akan suka padamu sekalipun menurutmu dia cewek paling cantik di dunia, jadi aku tidak masalah. Maaf mengatakan ini).

 

Kenapa rasanya, saat aku membaca ‘curahan hatimu’ itu aku menangkap pesan-pesan terselubung kalau kau menganggapku sangat kejam dengan mengatakan hal-hal menyakitkan padamu seolah-olah satu-satunya orang yang bersalah atas terciptanya hubungan aneh ini adalah aku? Kau sengaja memaksudkannya supaya aku sadar kalau aku memperlakukannya dengan buruk setelah kau berkorban begitu banyak, atau sok merasa kalau kau itu cowok paling baik dan aku cewek kejam? Begitu maksudmu? Aku kok menangkapnya begitu ya.

 

Biar kuluruskan padamu beberapa hal supaya kau berhenti menganggapku sebagai ‘cewek kejam’, yang benar saja!

 

Tentang kata-kata ‘Aku-Tidak-Tahu’ itu yang menurutmu membuatmu merasakan sensasi seperti semacam balon yang ditusuk (aku kagum sekali dengan pemilihan kata-katamu, balon-yang-ditusuk- ya ampun!)

 

Situasinya dari versimu (aku mengutip) “Aku repot-repot menghubungimu dari seberang Samudera Pasifik, mengabaikan segala akal sehat dan beresiko tinggi dibilang gila, hanya untuk mendapatkan jawaban aku-tidak-tahu mu. Biar kukakatan saja, itu menyakitkan Hills. Serius.”

 

Nah, sekarang situasinya dari versiku : Aku tengah berada di kantor, tertimbun dalam berbagai revisi dari berita-berita yang diminta bosku yang nyinyir Mr. Duhammel, dirongrong Max setiap lima detik sekali (aku tidak punya perasaan romantis apapun pada Max sejak pertama kali Jong, asal kau tahu saja), dan tiba-tiba saja mendapatkan telepon dari nomor tak dikenal. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi penelepon gelap saat itu, oke? Tapi saat kau bilang kalau itu kau, aku membeku. Kau tahu kenapa aku tidak mau meninggalkan identitas apapun padamu? Karena alasan itulah tepatnya, Jong. Aku tidak mau terlibat hubungan cinta rumit dengan cowok yang kebetulan bintang rock yang tinggal di belahan bumi bagian timur di seberang Samudera Pasifik. Aku tidak siap untuk patah hati lagi (karena beberapa waktu sebelumnya aku baru saja dicampakkan mantan pacarku demi cewek lain). Dan kau meminta kita melakukan video call, aku setuju (karena sejujurnya aku juga penasaran tentang apa yang mau kau katakan).

 

Kau masih setampan yang kulihat waktu kita pertama kali bertemu untuk wawancara. Kau memakai kemeja kotak-kotak dengan kancing yang dibiarkan terbuka dengan kaos warna putih di dalam. Kau tersenyum padaku, melambai dengan canggung sambil memeluk gitarmu (aku tahu kau gugup, aku bisa melihatnya dari ekspresimu dan sejujurnya itu manis), dan mengatakan kau ingin menyanyikan sebuah lagu untukku. Aku tersanjung. Tidak setiap hari ada cowok yang mau menyanyikan sebuah lagu untukku, terutama tidak dari seberang Samudera Pasifik. Jadi, untuk sementara aku mengabaikan tugas dari Mr. Duhammel, pikirku dia bisa menunggu untuk nanti, dan aku ingin mendengarkan nyanyianmu.

 

Dan nyanyianmu bagus sekali (ya, kau kan memang musisi jadi tidak mengherankan). Aku suka lagunya, aku suka liriknya, dan aku suka ekspresimu saat menyanyikannya untukku. Lalu kemudian, kau menanyakannya, tentang apakah aku mau mempertimbangkanmu, tentang kemungkinan bagi kita untuk mencoba (Itu bukan Malam Tahun Baru, tapi pada siang benderang di London, dan Malam Tahun Baru adalah saat kau menanyakan untuk kedua kalinya. Kalian –para pria- memang tidak mampu mengingat hal-hal dengan begitu detail, akui sajalah).

 

Aku kaget, terpaku, dan menatapmu dengan tatapan kosong. Memangnya aku mau bereaksi bagaimana lagi? Kau benar, kita tidak saling mengenal. Yang kita tahu tentang satu sama lain hanyalah nama masing-masing, profesi, dan negara tempat kita bermukim. Itu tidak bisa dibilang saling mengenal. Bagaimana bisa kau berpikir kalau kita bisa langsung memulai suatu hubungan? Kau sendiri tahu kalau itu kedengaran gila.

 

Jadi tentu saja, saat kau menanyakan padaku apakah aku mau mempertimbangkanmu, aku menjawab aku tidak tahu. Karena pada kenyataannya aku memang tidak tahu. Aku tidak bisa langsung menjawab, di satu sisi aku memang suka padamu, tapi di sisi lain akal sehatku mengatakan itu mustahil (hubungan lintas pasifik maksudku). Aku perlu memikirkannya, jadi kau tidak bisa mengatakan kata-kata ‘Aku-Tidak-Tahu’ ku saat itu membuatmu merasakan sensasi seperti  balon-yang-ditusuk (ya ampun! Aku geli sendiri membaca istilahmu, dasar dramatis!).

 

Seperti yang kau bilang, kau (kita) sepertinya telah terjebak antara keras kepala-setengah gila-dan jatuh cinta. Jadi saat kau menghubungiku lagi di  Malam Tahun Baru, aku tengah berada di Chinatown bersama teman-temanku Valencia dan Angel yang membawa pacar masing-masing Tom dan Kao (Kao yang kemudian menjadi teman satu apartemenmu). Aku merana sekali. Tapi bukan karena itu aku lantas menerimamu. Kau benar, hubungan itu mustahil. Tapi kuputuskan akan mencoba. Aku mau mencobanya denganmu. Aku juga dibilang gila oleh teman-temanku, tapi siapa yang peduli? Aku tidak peduli. Seperti kau, aku mengabaikan semua hal yang masuk akal. Mungkin karena itulah kita berdua cocok, kita sama-sama keras kepala, setengah gila, dan tengah jatuh cinta.

 

Kau bertanya-tanya apakah ada saat-saat dimana aku merindukanmu setengah mati, seperti yang kau rasakan untukku. Jawabannya, ya, Jong. Aku merasakannya. Aku merindukanmu setiap saat dan rasanya menyebalkan sekali. Aku selalu benci musim gugur karena hujan nyaris turun setiap hari, disertai angin kencang, semua perpaduan cuaca buruk untuk membuat suasana hatiku kacau. Aku melihat Valencia dan Tom dan Angel dan Kao setiap hari. Mereka kencan ganda di flat, mengobrol dengan riang membicarakan rencana pernikahan Tom dan Valencia, dan aku sendirian saja, bersikap seolah-olah aku tidak tengah merana dan merindukan pacarku yang berada ribuan mil jauhnya. Aku ingin kau juga ada di sana, tertawa bersamaku, memelukku saat hariku kacau dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Dan seolah semua itu belum cukup buruk, Max terus saja merongrongku (saat itu dia memang semacam terobsesi padaku). Jadi menurutmu dengan siapa lagi aku bisa menceritakan hariku selain denganmu? Aku tidak bisa menceritakannya pada Angel dan Valencia, mereka tengah sedang berbahagia. Dan kalaupun aku bisa, mereka tidak akan mengerti karena pacar mereka tidak berada ribuan mil jauhnya. Dan alasan utamanya adalah, karena aku ingin membaginya denganmu.

 

Itu bukan tentang Max (oke, mungkin aku memang sering mengeluhkan tentang dia, tapi maksudku bukan untuk membuatmu cemburu), itu tentang aku. Aku menceritakannya padamu karena itu membuatku tahu kalau aku dimiliki.

 

Aku-Ingin-Membagi-Setiap-Detail-Dari-Hal-Hal-Yang-Kulalui-Denganmu, Kau mengerti? Sepertinya tidak, mengacu pada isi ‘curahan hatimu’ sebelumnya, aku jadi tahu kalau kau jengkel setengah mati mendengarkan ceritaku.

 

Aku merindukanmu sampai aku tidak tahan. Itu salah satu musim gugur terburuk yang pernah kulalui (ya, ada musim gugur lainnya tapi akan kukatakan nanti).

 

Kemudian saat kau mengatakan tentang variety show itu, yang tentang menikah-menikah itu’. Ya Tuhan, aku cemburu sekali. Oke, aku tahu itu tidak sungguhan, tapi melihat kalian bersama, tampak begitu serasi dan cewek itu yang tampak begitu cocok denganmu, aku tidak tahan. Aku pacar sungguhanmu, tapi cewek itu yang ada di sana, memelukmu, tertawa bersamamu, kalian melakukan banyak hal bersama-sama (dalam konteks variety show itu) dan aku hanya bisa menontonnya dari seberang Samudera Pasifik, sambil mencuri-curi waktu di tengah tumpukan pekerjaanku. Berjauhan saja sudah cukup buruk, tanpa ditambah fakta kalau kau bintang rock dan sepertinya akan selalu ada cewek selebriti super imut di sampingmu. Kuakui aku hampir menyerah saat itu. Aku tidak tahu hubungan kita akan berlanjut seperti apa. Aku tidak butuh drama baru dalam hidupku. Tapi anehnya, setiap mendengar suaramu saat kita berbicara lewat telepon, keraguanku langsung menguap. Aku yakin kita akan baik-baik saja.

 

Dan kemudian, kau datang ke London.

 

Wow, aku benar-benar kaget sekali saat itu. Aku terpana saja, sedikit terguncang tapi dalam artian bagus, sama sekali tidak menyangka kau akan berada di flatku setelah aku mengalami hari panjang melelahkan penuh kesialan. Mr. Duhammel menyuruhku menyusul Max yang tengah memotret para model untuk sampul depan ke Surrey, kehujanan, tersesat, ditabrak seorang model kurus tinggi sehingga diet coke menumpahi bajuku (karena itulah Max meminjamkan jaketnya), dan ketika pulang tumit sepatuku patah. Benar-benar kesialan sempurna. Tapi lalu kau ada di sana, tersenyum lebar padaku.

 

Aku sudah bilang padamu kan kalau aku benci hujan? Aku selalu kacau saat hujan, tapi saat itu aku merasa hujan tidak terlalu buruk. Mungkin karena aku menontonnya turun bersamamu, dari jendela, tanpa saling bicara, hanya saling menggenggam tangan satu sama lain. Dan kau benar, keheningan saja sudah cukup.

 

Dan lalu ciuman pertama kita di belakang panggung sebelum konser (benar, tanggal 22 September). Saat itu, kita masih saling canggung dan malu-malu, tapi aku menyukainya. Aku suka saat melihatmu menggaruk bagian belakang kepalamu dan nyengir salah tingkah saat akhirnya kita melepaskan diri dan kau harus ke panggung. Rasanya sudah lama sekali kita tidak bersikap begitu, -canggung dan malu-malu-, aku suka melihat sisimu yang itu. Kau tampak menggemaskan dan imut dan manis (bukan berarti sekarang kau jadi tidak menggemaskan, tidak imut dan tidak manis, ya, oke sedikit). Saat itu aku berpikir, asalkan denganmu, aku tidak peduli pada betapapun jarak yang memisahkan kita. Aku yakin aku akan bisa melaluinya.

 

Tapi kemudian terjadi kekacauan besar, foto itu tersebar dan tiba-tiba saja banyak sekali orang menyerangku. Aku terguncang, aku belum pernah diserang begitu parah oleh berbagai macam kata-kata menyakitkan dari orang-orang yang tidak kukenal. Kenapa mereka begitu padaku? Mereka kan tidak kenal aku! Apa hak mereka mengata-ngataiku hanya karena aku pacarmu? Saat itu aku mengerti kenapa kau bersikeras ingin menyembunyikan hubungan kita, supaya aku tidak perlu mengalami itu. Aku tahu itu bukan salahmu, tapi tetap saja aku marah padamu. Aku ingat aku mengamuk di kamarku di flat dan melemparkan vas ke meja riasku hingga hancur, lalu aku menangis keras. Aku menolak membuka pintu untuk semua orang, aku ingin merana sendirian. Tapi kemudian kau mendobrak pintuku, dibantu Kao yang saat itu juga sedang di flat dengan Angel, dan menemukanku dalam keadaan paling kacau. Saat itu memang banyak serpihan kaca, tapi aku tidak berniat bunuh diri atau apa, lalu kau memelukku untuk waktu yang sangat lama sampai aku tenang. Kau tidak mengatakan apapun, hanya membiarkanku menangis sampai puas. Kau memang tidak perlu mengatakan apa-apa untuk membuat pelukan itu jadi tempat paling menenangkan di seluruh dunia, Jong. Sungguh!

 

Kupikir masalahnya sudah selesai sampai di sana, tapi kemudian masalah demi masalah datang secara beruntun gara-gara foto selca konyol temanmu dengan kita di latar belakang itu. Ibuku mengamuk, aku dipecat sementara, dan kau juga mau pulang. Aku tidak siap menghadapi semua itu sendirian. Ditambah aku tidak tahu kapan bisa bertemu denganmu lagi. Aku lelah dengan segala macam drama dan hubungan lintas pasifik. Dan ya, akhirnya aku memutuskan menyerah. Kita tidak bisa terus bersama dengan kau di Seoul dan aku di London.

 

Kau tidak mau terima saat aku menyerah, katamu kita pasti bisa melalui semuanya. Tapi sampai kapan Jong? Tidakkah kau lelah? Aku tahu kau juga lelah, iya kan? Kita sama-sama lelah, tapi kita terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Jadi akhirnya supaya kau setuju, aku bilang saja padamu kalau aku tidak bisa melihat masa depan apapun denganmu. Aku merasa kita tidak mungkin bisa pindah ke tempat masing-masing. Kita punya kehidupan yang harus kita jalani.

 

Asal kau tahu saja, bukan hanya kau yang merasa itu menyakitkan, oke? Itu musim gugur terburuk dalam hidupku, tapi bagaimanapun kita harus melanjutkan. Aku patah hati, tapi aku percaya aku akan jatuh cinta lagi.

 

Seperti kau, aku juga mencoba. Aku bertemu orang baru dan (berharap dengan sangat) bisa jatuh cinta lagi. Seharusnya semuanya bisa baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Aku merindukanmu. Aku merindukan suaramu yang kudengar di telepon, aku merindukan cengiran tololmu di Skype, aku merindukan setiap perdebatan yang kita lakukan. Aku benar-benar merindukanmu, Jong. Aku tidak bisa melihat orang lain. Saat itulah aku sadar kalau kau berpotensi besar untuk jadi orang menyebalkan. Pada akhirnya, aku tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa, hubungan itu terasa begitu palsu dan aku tidak mau membohongi diriku.

 

Lalu kemudian, mendadak saja kau kembali. Setelah dua tahun menghilang tanpa kabar (kita memang sepakat untuk tidak bertukar kabar apapun supaya lebih mudah).

 

Kita bicara seperti dua teman lama. Kita membahas hal-hal yang terjadi dalam hidup kita selama dua tahun itu. Dan saat aku menanyakan kenapa kau pindah, kau bilang kau ingin menemukan Nemo-mu yang telah lama hilang. Aku bertanya dengan bodoh , “Maksudmu, Nemo si ikan?”, dan kau tertawa, tawamu yang kusuka dan kurindukan dan bilang, “Kau, Nemo-ku yang telah lama hilang.” Meskipun kau menyamakan aku dengan ikan badut konyol yang hilang, aku tetap mengakui kalau itu agak romantis.

 

Jadi, ya, kita memulai lagi. Sungguh-sungguh memulai hubungan tanpa melibatkan Samudera Pasifik. Berdekatan ternyata malah membuat kita lebih sering bertengkar, mendebatkan semua hal, kita berbaikan lagi, bertengkar lagi, begitu terus. (Omong-omong aku tidak menyesal dulu pernah mematahkan hidungmu, lagipula siapa suruh kau diam saja dan membiarkan cewek itu menciummu? Kau boleh saja memegang sabuk hitam judo dan taekwondo, tapi kaulah yang jangan MACAM-MACAM denganku!!!). Pada beberapa kesempatan aku benar-benar ingin meninjumu atau apa.  Kau benar, kita mahir membuat jengkel satu sama lain. Dan kau juga benar, aku kadang juga suka mencari-cari masalah denganmu. Entah kenapa ada kepuasan tersendiri saat aku berhasil membuatmu marah. Aku bisa tahu kau marah lewat tatapanmu, tapi kau kan tidak bisa apa-apa. Airmataku membuatmu lemah kan Jong? (Ha! Ya, kau juga bisa melihat sepasang tanduk muncul di kepalaku).

 

Kemudian tentang Lamaran-Tidak-Romantis  yang kau lakukan di sofa di flatku saat kita menonton TV. Aku tidak meributkan tentang romantis atau tidaknya. Aku sudah menyerah pada sel-sel romantis yang sangat sedikit kaumiliki. Tapi aku memang sangat kaget. Aku punya berbagai macam ketakutan yang tidak masuk akal. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu (saat itu belum). Aku takut untuk banyak hal, aku belum siap berkomitmen seumur hidup, aku belum siap mengurusi rumah tangga, punya bayi dan sebagainya (Ya Tuhan, punya bayi, dia kan tidak langsung ada, ada proses panjang yang melibatkan sesuatu-yang-keluar-dari-sesuatu). Kalau aku menjelaskan saat itu,kurasa kau tidak akan mengerti, kau hanya akan menganggapku aneh. Belum lagi ibuku yang masih tidak suka padamu. Dan bayangan tentang rantai baja. Pokoknya aku belum siap untuk sesuatu seserius pernikahan. Aku hanya mencoba jujur, dan aku tahu kau kecewa mendengar jawabanku.

 

Tapi setelahnya, aku bicara serius dengan Mum, dengan Valencia, dengan istri kakakku Mike,Vanessa, dengan semua orang yang sudah menikah dan tampaknya pernikahan mereka bahagia. Mereka banyak memberi masukan, jadi aku merasa setengah oke. Kubilang padamu, oke baiklah, kita bisa mencoba. Kupikir kita akan mencobanya pelan-pelan, tapi aku tidak menyangka kau langsung memberitahu ibumu yang langsung terbang dari Seoul untuk bertemu denganku. Ya Tuhan, maksudku aku kan baru SETENGAH OKE  dengan ide tentang menikah. Dan ibumu, astaga, dia secantik dewi-dewi Korea (anggap saja begitu, pokoknya dia cantik sekali), aku langsung merasa diriku sangat berantakan. Aku panik setengah mati. Bagaimana kalau dia tidak menyukaiku? Bagaimana kalau dia memintamu untuk menikah dengan cewek Korea saja? Bagaimana kalau dia tidak terkesan denganku? Aku begitu ketakutan. Aku tidak siap bertemu dengan ibumu, dan akhirnya seperti yang kau tahu, aku melarikan diri seperti pengecut brengsek.

 

Aku tidak akan  membela diri untuk kesalahan yang satu itu. Kau sangat berhak marah padaku. Aku pengecut, keterlaluan, brengsek, dan tidak sopan. Aku tahu. Aku berjanji akan tutup mulut saat kau memarahiku. Tapi kau tidak marah padaku –maksudku, tidak dengan kemarahan yang selama ini kukenal- kau mengacuhkanku. Kau tidak mau bicara padaku, dan satu-satunya saat kau bicara, kau mengatakan kita mesti berpisah untuk sementara waktu dan berpikir ulang tentang hubungan kita. Ini yang kumaksud tentang musim gugur buruk lainnya. Kenapa saat berpisah denganmu, selalu terjadi saat musim gugur? Seperti sinyal alam, seolah aku belum cukup membenci musim gugur sebelumnya. Kita impas, kita sama-sama pernah didepak dan mendepak.

 

Dan ya Jong, kalau kau menanyakan bagaimana rasanya itu bagiku, sama seperti yang kau rasakan : menyakitkan. Aku bukan satu-satunya yang bertindak kejam disini, oke?

 

Kau tidak pernah menghubungiku selama tur duniamu yang panjang. Jadi salahkah kalau aku berpikir kalau kita benar-benar sudah tamat? Bahwa kesalahanku tidak bisa dimaafkan? Aku merana dan sering menangis (aku memang sering menangisi hal-hal tidak penting, tapi saat itu tangisanku untukmu tidak sama dengan tangisanku untuk pizza, sungguh!). Aku melihat berbagai berita di internet (termasuk tentang cewek pirang yang memanggilmu John, kalian dikabarkan bersama dan kau tidak pernah menghubungi aku). Aku benar-benar merasa buruk, terutama karena perpisahan kali ini memang murni salahku. Aku memutuskan keluar dari pekerjaanku supaya bisa lebih konsentrasi untuk merana dan mengurung diri di flat dan menangisimu (oke, memang kedengaran agak dramatis, tapi memang itulah yang saat itu kulakukan), sampai akhirnya aku bertemu dengan adikmu, Sungjoon. Dia baik padaku. Itu bukan semacam hubungan romantis atau apa. Aku hanya butuh seseorang yang cukup dekat denganmu untuk membahas tentang dirimu. Dan siapa lagi yang lebih pas selain adikmu, iya kan?

 

Dia mengajakku ke Turki, dia mau meneliti situs-situs kuno untuk tesisnya dan aku memang sedang sangat ingin pergi sejauh mungkin dari London, dari apapun yang mengingatkan aku padamu. Aku ingin berada di lingkungan yang benar-benar baru, bertemu orang baru dan memulai hubungan baru (kau tidak pernah menghubungiku, ingat?). Aku tidak pernah berpikir akan terlibat hubungan romantis dengan adikmu sekalipun dia lebih tampan darimu, maksudku aku tidak sebodoh itu. Tapi kemudian tiba-tiba saja kau datang, marah-marah, menuduhku macam-macam setelah pergi sekian lama tanpa kabar. Apakah saat itu kau merasa berhak melakukannya? Oke, aku melarikan diri saat bertemu ibumu. Tapi kau sudah MENCAMPAKKAN  aku setelahnya dan tidak memberiku kabar apapun, jadi tentu saja aku merasa benar-benar DICAMPAKKAN. Tapi kenapa kau pergi mencariku ke Turki dan marah-marah, bahkan sekalipun misalnya aku benar-benar berciuman dengan adikmu atau cowok manapun yang aku inginkan, kau kan tidak berhak lagi begitu, iya kan?

 

Kalau-kalau kau belum tahu, itu peraturan yang harus kau patuhi tentang MENCAMPAKKAN SESEORANG. Kau tidak berhak marah padaku dan kau brengsek karena melakukannya.

 

Dan setelah kita bertengkar hebat di Turki, kau mencampakkanku lagi. Mengatakan kalau aku tidak lagi berada dalam daftar rencana jangka panjang hidupmu. Bukankah itu sangat keterlaluan? Katakan saja kau punya tabungan hidup sekitar 80 tahun di dunia ini, dan kau baru 25 tahun, masa kau tidak mau memasukkan aku dalam daftar jangka panjang hidupmu? Siapa yang keterlaluan sebenarnya Jong? Kau atau aku?

 

Aku tidak percaya aku menumpahkan begitu banyak airmata untuk cowok brengsek yang mengatakan ‘KAU-TIDAK-LAGI-BERADA-DALAM-RENCANA-JANGKA-PANJANG-HIDUPKU’ padaku. Hatiku tidak terasa seperti balon yang ditusuk, tapi babak belur seolah habis dihajar petinju profesional. Kau sialan sekali Jong, asal kau tahu saja!

 

Kau tidak bisa melangkah dengan santai, menyapaku seolah kau tidak sudah mencampakkanku dua kali, dan berbasa-basi tentang Turki. Aku ingin sekali mematahkan hidungmu seperti saat aku melihatmu di klub malam dan cewek model itu. Memangnya kau pikir aku punya semacam pabrik hati yang bisa saja langsung mengganti hatiku yang babak belur dan aku bisa berkata riang, “Ya hei, kau! Kau boleh patahkan saja hatiku semaumu karena aku punya banyak persediaan hati baru yang lebih oke.” Begitu? Aku benci sekali padamu.

 

Kenapa kau tidak pergi saja yang jauh dan malah berkeliaran di tempat-tempat yang bisa kulihat? Memangnya sejak kapan sih kau belanja sayur organik di Marks & Spencer? Memangnya itu normal ya dilakukan bintang rock sepertimu? Aku kepingin sekali marah dan ya, aku senang aku berhasil melempari bagian belakang kepalamu dengan apel bekas gigitanku. Aku melihat kau menyeringai tapi sayangnya aku tidak punya selera humor seaneh itu untuk bisa melihat dimana sisi lucunya.

 

Lalu setelah itu di Chimes dan ciumanmu yang brutal dan menyakitkan. Aku merasa luar biasa marah dan terhina. Kenapa kau tiba-tiba bersikeras ingin membahas tentang apa yang terjadi antara aku dan adikmu di Turki? Itu kan bukan urusanmu lagi. Dan kau berteriak-teriak padaku, aku balas berteriak, menamparmu, dan menangis lagi. Kau tahu tidak? Kau satu-satunya orang yang membuatku menangis begitu sering. Aku tidak berlagak sebagai korban saat itu, oke?! Kau bertanya bagaimana aku melakukannya, membuatmu langsung menyesal setelah bertengkar denganku karena aku menangis, aku melakukannya karena kau brengsek! Itulah jawabannya. Tapi kau kemudian memelukku, seperti waktu itu. Dan rasanya begitu kontradiktif saat aku mengatakan kau brengsek tapi kau tetap bisa memberiku pelukan menenangkan.

 

Tapi ya, kita akhirnya saling minta maaf dan berbaikan untuk kesekian kalinya. Kita masih saling meributkan banyak hal tapi kita sudah lebih mencoba mengontrol emosi dan menjadi dewasa. Kita membahas ulang ide tentang menikah. Aku akhirnya bisa membahas ketakutan-ketakutanku denganmu. Kau bilang aku tidak perlu takut, kita bisa melihat itu sebagai sebuah petualangan. Kita sama-sama tidak tahu apa yang menanti di depan sana, tapi pasti akan menyenangkan jika kita bisa mencari tahunya berdua. Kataku, kita bisa bertengkar sesering yang kita mau, dan kau bilang, ya kita bisa melakukannya.

 

Jadi, begitulah. Kita akhirnya menikah. Tapi tahukah kau apa alasan sebenarnya kenapa aku bisa yakin seratus persen tentang menikah denganmu? Saat kita ke Irlandia untuk menengok kelahiran anak kedua Valencia dan Tom. Aku melihat prosesnya, ingat? Itu hal paling mengerikan yang pernah kusaksikan seumur hidupku. Tapi kemudian ketika bayi merah itu lahir, aku melihat Tom begitu bahagia dan dia menangis. Dia berkata lembut pada Valencia, “Kathleen kita…”

 

“Kathleen kita….”

 

Aku membayangkan bagaimana rasanya memiliki seseorang yang dibelakang namanya ada tanda kepemilikan jamak? Katakanlah misalnya, Pearl kita, atau Catherine kita, atau James kita? Aku membayangkan memiliki versi mini yang setengah dirinya adalah bagian dari dirimu dan setengahnya lagi bagian dari diriku. Lalu aku keluar dari ruang bersalin, mual, limbung, dan terguncang, dan kau langsung memelukku. Bahkan tanpa menanyakan apapun kau tahu aku tidak baik-baik saja. Kemudian kau memasangkan headset ke kupingku dan lagu yang kau nyanyikan untukku pertama kali, saat kau memintaku mempertimbangkan tentang kita, mengalun dari sana.

 

Tepat saat itulah Jong, aku yakin tentang menikah denganmu.

 

Tentu saja aku tahu kita akan bertengkar lagi. Semua hal menunggu di depan kita untuk diperdebatkan. Seperti kataku, kita bisa bertengkar sesering yang kita mau, dan ya kita menikmatinya. Kita tidak akan pernah berada dalam situasi ‘kita baik-baik saja’. Kita tidak akan pernah jadi pasangan sempurna, karena kalau kita benar-benar sempurna, apalagi yang mau kita perjuangkan, iya kan?

 

Kita memperdebatkan long torso saat bulan madu. Kita memperdebatkan Bruno yang kau adopsi tanpa persetujuanku. Kita memperdebatkan tisu toilet dan giliran siapa yang harus menggantinya. Kita memperdebatkan apa saja dan lalu menertawakannya sesudahnya.

 

Kau menanyakan apakah aku bisa menyimpulkan, setelah semua itu, apakah kau mencintaiku atau kau hanyalah masokis sinting yang mau menderita karena menikah denganku.

 

Jawabannya ya, aku bisa menyimpulkan. Kau mencintaiku dan kau juga masokis sinting. Aku juga masokis sinting. Anggap saja kita sama-sama masokis sinting.

 

Aku tidak memintamu menulis itu karena cemburu pada Bruno (yang benar saja, masa aku cemburu pada anjing?). Aku hanya senang menyiksamu saja. Kau jengkel setengah mati, iya kan? Nah, sudah kubilang itu merupakan kepuasan tersendiri bagiku. Aku senang melihatmu jengkel tapi tetap melakukan apa yang kuminta (sambil mendengus dan memutar bola mata), membuatku merasa kau begitu tergila-gila padaku (Iya kan? Mengaku sajalah!)

 

Dari : Aku (kau tahu siapa, ya, istrimu, omong-omong namaku Hills)

 

P.S : kau tidak akan mati karena hipotermia, dasar berlebihan! Aku bahkan tidak memakai penghangat ruangan. Menurutku, sedikit udara segar akan baik untukmu.

 

P. P. S : Pintu sialan itu belum akan terbuka sampai besok. Aku melakukannya karena kau lalai menjaga Bruno. Dia mengacaukan dapurku dan menumpahkan kue yang sudah susah payah kubuat untuk ulangtahun pernikahan kita dan aku harus membereskannya (sebenarnya, dia sudah menjilatinya sampai habis).

 

P.P.P.S : Atau kau bisa menginap di tempat Angel dan Kao, bagaimana?

 

 

14 thoughts on “Mutual Weirdness

  1. wkwkwkwkwk sumpah ini kisah cinta yang benar” gila dan cinta memang seperti itu (mungkin)😀
    sempet pengen nangis pas baca bagian surat ajong entah kenapa keinget sama org yg lagi dirumahnya (mungkin)😀

  2. Aduh bagus sekali. Kalo aku gak sampe hati ninggalin jong diluar seharian haha #ngebias
    Bagus banget, serius. Sampe bingung mau ngomong apa. Btw aku sebelumnya baca ff letters to you yeus lanjut baca ff ini. Keren!

    • gapapa, babang ijong kuat kok hehee. Makasih ya udah mau baca. Tapi btw aku jadi bingung kenapa pas di bagian surat ijong tulisannya gede gitu, kayaknya aku salah ngetik apa gimana ya #plak #authorgaje

      • Iya aku juga aneh jadi gede gede gitu. Kepencer kali cuma ya gapapa. Malah bagus tulisannya gede hehe😀

  3. ini baguss bangettt!!

    terbayang rumitnya hubungan mereka, dan syukurnya mereka akhirnya membuat komitmen seumur hidup.
    Dan aku sempet meneteskan air mata pas baca balasan dar Hills .

    ditunggu cerita lainnya ya…. 🙂

  4. Ceritanya panjang yaaa… tapi seru!!
    I like this couple, sooo cute haha..
    kalau baca ff buatan kamu selalu berasa kaya lagi baca novel terjemahan, tata bahasanya rapi trus cara penuturan cerita kamu beda dari ff lainnya🙂
    like this ff so much!!

    • ini sebenernya dari 3 novel yang aku rangkum jadi oneshoot, jadi agak panjang, hehee. Aku baru belajar nulis pendek2, soalnya lebih susah menurutku bikin yang pendek daripada yg panjang.Tapi sukurlah kamu suka. Tengkiuu for reading Hanna😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s