Love is no big truth [Chapter 1]

LINBT cover

Author: kim sung rin

Rating: PG16 ,

Genre: romace, AU

Length: chaptered

Main Cast:

– Lee Jonghyun

– Lee Junghsin

– Cho Soo Yeon [OCs]

– Ga In [OCs]

Other Cast:

– Jung Yonghwa

– Kang Minhyuk

– Cho Kyuhyun

Disclaimer: Terinspirasi dari salah satu lirik lagu yang berjudul Love is no big truth , selebihnya ceritanya milik saya.

[Teaser]

~~~

Jonghyun dan Soo Yeon sudah berada di taman yang terletak tak jauh dari gedung fakultas mereka. Keduanya duduk dengan canggung, bahkan tidak saling memulai pembicaraan padahal sudah hampir 15 menit mereka duduk disana.

Soo Yeon melirik jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir jam 5 sore, itu tandanya 1 jam lagi dia harus benar-benar sampai dirumah kalau tidak dia akan kena omelan sang kakak yang bernama Cho Kyuhyun karena mereka sudah berjanji untuk bermain warframe bersama.

“Kalau kau tidak mau bicara dan tidak ada yang ingin dibicarakan lebih baik aku pulang.” Soo Yeon beranjak namun langkahnya sukses terhenti dengan tangan Jonghyun yang menahannya agar tidak pergi.

“Aku ingin bicara, sungguh.” Ucap Jonghyun. Soo Yeon menghela napasnya, mencoba sabar dengan lelaki yang sama sekali tidak ingin ditemuinya.

“Baiklah, waktumu lima menit. Kau mau bicara apa?” Soo Yeon kembali ke posisi duduknya, dengan tangan yang melipat didepan dada.

“Kau pasti sudah dengar dari Yonghwa hyung bahwa aku memintamu untuk menjadi backing vocal saat acara pentas nanti.” Jonghyun masih menatap lurus ke pot bunga yang berada ditaman itu, berusaha bertahan untuk tidak menatap langsung kedua mata Soo Yeon.

“Dan kurasa kau juga pasti sudah dengar dari nya bahwa aku tidak mau menjadi backing vocal band mu itu.” jawab Soo Yeon ketus.

Jonghyun kini menatap mata Soo Yeon yang dingin. Gadis itu nampak malas-malasan sekali untuk meladeninya yang berusaha bicara serius dengannya.

“Kenapa? Apa kau masih marah denganku?” Jonghyun tak terima. Banyak alasan yang mungkin saja bisa menjadi latar belakang Soo Yeon untuk menolak ajakan tersebut. Tapi, Jonghyun yakin betul ini karena masalah dua tahun lalu, yang sampai sekarang menggantung begitu saja.

Soo Yeon terkekeh pelan, namun sukses membuat Jonghyun kesal setengah mati. Seringai di wajah gadis itu terlihat lebih menyeramkan saat dia menatap wajah Jonghyun dengan intens.

“Marah katamu? Aku tidak ada waktu untuk marah dengan lelaki sepertimu. Kuberitahu ya, apa kau tidak punya orang lain selain aku? Atau kau sudah merasa bersalah denganku sekarang?” kicau Soo Yeon tajam. Jonghyun dapat melihat bahwa mata Soo Yeon berkaca, refleksi dari perasaannya saat ini tapi lelaki itu mencoba untuk tidak mencampur adukkan perasaannya juga sekarang.

“Bukan begitu kan aku sudah –“

“Waktu mu habis! Sampai jumpa!” potong Soo Yeon yang saat itu langsung pergi dari hadapan Lee Jonghyun. Gadis itu tidak ingin berlama-lama bersama denganya karena itu sama saja membuatnya kembali mengingat kejadian dua tahun dulu -saat semuanya salah paham. Dan dengan bantuan jemarinya, air mata yang sempat jatuh itu terhapus dari wajah mulus Soo Yeon.

Sedangkan Jonghyun hanya memandang punggung Soo Yeon yang semakin menjauh dan tidak berusaha untuk menahannya -seperti sebelumnya. Jauh di lubuk hatinya, dia merasa sangat bersalah dengan gadis itu -yang seharusnya saat ini mempunyai hubungan yang baik-baik saja dengannya.

~~~

Pintu masuk menjeblak terbuka, membuat Kyuhyun terkejut bukan kepalang karena memang saat ini dia sedang menonton film horror di ruang tengah, sendirian.

“Aish~ kau mengagetkanku saja!” kesal Kyuhyun begitu mendapati adik perempuannya melangkah masuk dan duduk disampingnya. Dia mem-pause film horror itu dan masih mengurut dadanya akibat rasa kaget yang berlebihan.

“Kau saja yang terlalu penakut. Kalau tidak berani jangan coba-coba nonton sendiri.” Soo Yeon berkata dengan datar sambil membaringkan tubuhnya di sofa. Kyuhyun menatap adik perempuannya yang tengah melamun sekarang.  Dia yakin sekali sesuatu telah terjadi dengan adiknya.

“Kenapa wajahmu murung seperti itu? kau tidak mendapatkan buku untuk judul skripsimu?” Tanya Kyuhyun . Soo Yeon tidak langsung menjawabnya. Gadis itu menelungkupkan wajahnya ke tumpukan bantal untuk beberapa menit dan kembali dengan wajah yang berurai air mata.

Ya! Kau ini kenapasih sebenarnya? Jangan bermain tebak-tebakan tentang perasaanmu, aku sungguh tidak bisa membacanya sama sekali.” Oceh Kyuhyun yang panik sekaligus kesal karena Soo Yeon tidak langung menceritakan apa yang sedang terjadi.

“Aku butuh waktu sendiri  oppa.” Soo Yeon akhirnya bangkit dari duduknya dan berlari ke dalam kamarnya.

Kyuhyun yang melihat itu semua terbengong-bengong karena aneh dengan sikap adiknya –yang biasanya riang-  murung senja ini. Dan tiba-tiba saja dia teringat sesuatu.

Ya! Jadi kita tidak jadi main warframe?” oceh Kyuhyun yang mungkin tak akan terdengar oleh Soo Yeon yang sudah berada dalam kamarnya di lantai dua.

~~~

Jonghyun masih berada di apartmen Yonghwa. Masih setia mengulik gitarnya sejak sore tadi. Yonghwa yang melihatnya hanya mampu menghela napas. Kenapa? Karena setelah penolakan Soo Yeon seminggu yang lalu, Jonghyun tampak lebih diam dari sebelumnya. Konsentrasi saat bermusik pun jadi kacau. Yonghwa bukannya tidak tau apa yang sedang terjadi, dia masih ingat betul masalah dua tahun lalu, yang membuat Jonghyun tidak makan selama tiga hari dan juga membuat Soo Yeon berlibur sementara ke Jepang.

“Sudahlah, apa kau masih memikirkannya?” Yonghwa memutuskan untuk duduk dihadapan Jonghyun. Lelaki itu malah tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya.

“Tidak hyung. Aku sedang mencoba mencari melodi yang sedikit beda dari lagu aslinya. Seperti aransemen baru agar penampilan kami tidak membosankan nanti.” Elak Jonghyun. Untuk beberapa saat Jonghyun meregangkan tangannya dan memutuskan untuk tidak memegang gitarnya sementara waktu.

Jashik~,” Yonghwa menyenderkan punggungnya di sofa setelah menyambar toples cemilan di hadapannya, “Kau mungkin bisa bohong dengan teman-teman bandmu. Tapi kau tidak bisa melakukan hal itu kepadaku, kau mengerti?”

Lagi-lagi Jonghyun hanya tersenyum dan meraih cola milik Yonghwa kemudian mengikuti langkah Yonghwa –menyenderkan punggungnya di sofa.

“Hyung, aku tidak tau harus bicara apa. Terlalu banyak yang aku pikirkan sekarang ini.” Gumam Jonghyun yang masih terdengar oleh Yonghwa.

“Kau bukannya terlalu banyak pikiran, kau itu hanya kurang peka dan juga kurang beraksi. Semua ini gara-gara pertemuanmu dengan Soo Yeon kan? Dan jangan coba-coba bilang aku salah.” Potong Yonghwa yang melihat Jonghyun membuka mulutnya dan bersiap untuk membantah.

Jonghyun menghela napasnya –lagi. Semua yang dibicarakan Yonghwa memang benar. Dia tidak peka dengan apa yang dirasakan oleh Soo Yeon dan juga dia tidak berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kesalah pahaman ini terjadi cukup lama, sampai-sampai Soo Yeon benar-benar tidak mau bertemu ataupun berkomunikasi dengannya.

“Aku tahu itu hyung,” ucap Jonghyun pelan, “Aku juga menyakitinya. Dan aku menyesal sekarang.”

Yonghwa menatap Jonghyun yang sudah dianggap sebagai adiknya itu dengan memelas. Semua ini memang tak mudah untuk keduanya. Tapi, memang Soo Yeon tidak salah dan Jonghyun tidak menyadarinya. Soo Yeon berusaha menolong Jonghyun pada waktu itu. Jonghyun lah yang terlalu keras kepala. Yah, cinta memang buta. Dan itu jugalah yang membuat Jonghyun terbawa kedalam rasa canggung dengan Soo Yeon selama bertahun-tahun.

“Sudahlah, jangan memikirkan hal itu terus. Kau punya tanggung jawab yang lain.” Ucap Yonghwa santai sambil menepuk-nepuk pelan punggung Jonghyun.

“Tanggung jawab yang lain?” Jonghyun mengerutkan keningnya.

Yonghwa mengangguk, “Ya, kau harus bertanggung jawab dengan perutmu. Cepat makan sekarang!”

~~~

Soo Yeon menatap malas Laptopnya. Sedari tadi yang dilakukannya hanyalah memandang kosong layar laptop dan menggerak-gerakkan kursornya secara asal. Beginilah yang terjadi selama dua minggu belakangan ini. Skripsinya kembali terabaikan walaupun sebenarnya Soo Yeon sangat berusaha untuk mengerjakan skripsi tersebut.

Soo Yeon mengacak rambutnya dengan kesal. Seharusnya saat ini dia tidak memikirkan hal lain selain skripsi. Tapi apalah daya. Selalu Jonghyun yang berlarian di pikirannya. Kenapa juga aku harus memikirkannya? Bukankah aku membenci dia? Pikir Soo Yeon.

“Soo Yeon~~ cepat kemari! Tolong aku!” suara teriakan Kyuhyun membuat Soo Yeon kaget setengah mati dan berlari menuju sumber suara –ruang tengah.

“Ada apa huh?” Soo Yeon mendapati Kyuhyun sudah berpijak diatas sofa, dengan tangan kanannya yang sedang menggenggam sapu. Tangan kirinya bergetar menunjuk kearah belakang televisi.

“K…kulihat tadi ada kecoa terbang! T…tolong bunuh dia.” Ucap Kyuhyun gemetaran.

Seketika Soo Yeon menganga dan terdiam. Pria dewasa yang jauh lebih besar takut dengan makhluk kecil seperti kecoa? Batin Soo Yeon gemas.

“Aku tau kau pasti ada masalah, tapi tolong jangan melamun sekarang, sungguh sangat tidak tepat! Tolong bunuh segera sebelum kecoa itu terbang kearahku lagi!” teriak Kyuhyun geregetan.

“Cerewet! Bagaimana kalau kecoa itu terbang kearahku?” ucap Soo Yeon setengah jijik.

“Kalau kecoa itu terbang kearahmu aku akan minta maaf. Haaa! Itu dia, cepat tangkap dan bunuh!” Kyuhyun kembali berteriak sambil menunjuk-nujuk kecoa yang dimaksud. Teriakan mengganggu itulah  yang membuat Soo Yeon kesal dan ingin memukul kakak laki-lakinya itu.

Pluk! Soo Yeon berhasil membunuh kecoa itu dengan kakinya, menyisakan cairan tubuh kecoa yang menempel di lantai.

“Ini tanggung jawabmu!” Soo Yeon  menunjuk bangkai kecoa lalu melenggang begitu saja menuju kulkas untuk mengambil cemilan, meninggalkan Kyuhyun yang nampak ingin muntah membayangkan dirinya membersihkan sekaligus membuang binatang yang dibencinya itu.

Setelah Kyuhyun –dengan terpaksa- membersihkan bangkai kecoa itu, dia menarik Soo Yeon untuk duduk di sofa bersamanya. Menurut Kyuhyun, sifat Soo Yeon ini sungguh tidak biasa. Memang sih dia selalu menyebalkan, tapi melihatnya sering murung dan jauh lebih pendiam dari biasanya sungguhlah tidak wajar.

“Kau kenapasih sebenarnya?” Kyuhyun memulai membuka pembicaraannya sambil memilih dvd yang akan mereka tonton berdua.

Soo Yeon yang saat itu sedang mengunyah kue coklat hanya menggeleng tak mengerti, “Memangnya aku kenapasih? Sepertinya aku baik-baik saja.” Terangnya yang melanjutkan untuk mengunyah kue coklat lagi.

Kyuhyun menghentikan tangannya yang sedang sibuk mencari dvd lalu menoleh kearah Soo Yeon.

“Yang benar saja! Aku ini kakakmu, walaupun aku tidak bisa menebak apa yang terjadi, tapi tetap saja  kau tidak bisa berbohong denganku terlebih tentang perasaanmu. Tak biasanya kau banyak diam seperti ini. Biasanya tanpa kusuruh pun kau sudah curhat macam-macam.” Gerutu Kyuhyun keki.

Soo yeon menaruh kue coklatnya dan menghela napas panjang. Oppa mengetahui bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, batin gadis itu. Ada satu hal yang membuatnya enggan untuk cerita dengan Kyuhyun. Ya, karena kyuhyun sangat emosian. Dia pasti tidak terima begitu saja adiknya dipermainkan oleh lelaki seperti Jonghyun. Menurut Soo Yeon, sebuah keberuntunganlah yang membuat Kyuhyun tidak mengetahui masalahnya dengan Jonghyun –yang sudah dua tahun ditutupi olehnya-. Hampir beberapa kali Soo Yeon kelepasan membahas masalah ini, tapi selalu sukses tertutupi.

Dan kali ini rasanya Soo Yeon ingin sekali menangis. Kakaknya itu menatapnya dengan keki, tapi jelas kedua manik matanya menyiratkan kekhawatiran. Dia tidak bisa menutupi semua ini lebih lama lagi dengan kakak laki-lakinya, yang merupakan orang tuanya saat di Seoul karena ayah dan ibu mereka berada di Busan untuk menjalankan bisnis keluarga mereka. Wajah lugu sekaligus mengesalkannya membuat Soo Yeon menghambur kearah Kyuhyun lalu memeluknya.

“Aku tau pasti ada sesuatu yang kau tutupi.” Jawab Kyuhyun sambil mengelus rambut sebahu milik Soo Yeon. Adik perempuan satu-satunya itu menangis tersedu-sedu, masih belum ingin mengutarakan isi hatinya.

“Oppa, maafkan aku menutupi ini semua,” kata Soo Yeon setelah hening beberapa menit, “Aku tidak ingin oppa menghabisi lelaki itu, Lee Jonghyun.”

“Lee Jonghyun? Apa dia yang waktu itu pernah mengantarkanmu kerumah saat kau sedang sakit? Sewaktu kau KKN?” Kyuhyun memastikan. Soo Yeon mengangguk, “Benar dia orangnya. Tanpa kau tahu, aku mempunyai konflik terhadapnya. Dan ini menyangkut hatiku, dan mungkin hatinya juga. Karena itu jugalah dua tahun yang lalu aku memutuskan untul liburan ke Jepang, itu semua untuk menghindarinya.” Soo Yeon mencurahkan isi hatinya. Kyuhyun jadi teringat dua tahun lalu, saat adiknya itu ngotot sekali ingin liburan ke Jepang padahal Kyuhyun ingin sekali menjenguk kedua orang tua mereka di Busan.

Kyuhyun tak bisa melakukan hal lain, kecuali memeluk adiknya itu dengan sangat erat.

“Dan aku bertemu dengannya dua minggu yang lalu. Dia mengajakku untuk menjadi backing vocal bandnya saat nampil diacara pentas seni  bulan depan. Aku menolak, tentu saja. Tapi dengan beraninya dia mengajakku bicara seolah kami tidak pernah terlibat masalah apapun. Dan aku gagal untuk menghindarinya. Melihatnya mengingatkanku pada kejadian dua tahun yang lalu, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu.” lanjut Soo Yeon yang diakhiri dengan isak tangis yang lebih hebat dari sebelumnya. Jujur saja, hatinya sakit. Dua tahun belum cukup untuk menghilangkan rasa sakit itu.

Kyuhyun menghela napasnya sambil mengelus sayang puncak kepala Soo Yeon. Dia tidak menyangka adiknya sudah dewasa sekarang. Masalah yang dihadapinya bukan lagi karena tidak ingin les atau tidak sengaja merusak mainan temannya. Masalahnya sekarang ini menyangkut hati, perasaannya.

“Kau sudah bicara kepadanya?” Tanya Kyuhyun hati-hati. Dia menatap wajah Soo Yeon yang bersimbah air mata. Gadis itu hanya menggeleng lemah.

“Entahlah. Aku tidak ingat apakah aku berhasil bicara dengannya untuk menyelesaikan masalah ini. Yang jelas aku sama sekali tidak ingin memikirkannya walaupun akhirnya aku memikirkannya. Aku menjauh darinya, kurasa itu adalah keputusan yang tepat.” Soo Yeon menyudahkan acara curhat itu dengan senyum yang sangat dipaksakan, “Sudah, jangan mencoba membahas hal ini lagi, oppa. Yang penting aku sudah menceritakannya padamu dan kau tidak penasaran lagi.”

Kyuhyun yang biasanya cerewet dan mudah membantah hanya bisa terdiam walaupun banyak sekali pertanyaan yang berputar di otaknya.

~~~

Soo Yeon mengejar Jonghyun yang tampak marah. Setelah bersusah payah akhirnya gadis itu berhasil menangkap lengan Jonghyun dan menariknya untuk berhenti.

“Jonghyun, dengarkan aku dulu! Kau tidak tau tentang gadis itu. Tolong jangan salah paham, aku tidak mau kau terluka karenanya.” Pekik Soo Yeon sunguh-sunguh. Dengan wajah penuh peluh dan napas tersengal dia menunggu jawaban Jonghyun yang semakin menatapnya tajam.

“Jangan menggangguku lagi!” Jonghyun melepaskan cengkraman tangan Soo Yeon dengan sekali hentakan.

“Aku mencintaimu!” Jonghyun sukses terhenti lagi. Dengan tangan mengepal dia berbalik, masih menjaga jarak dengan Soo Yeon.

“Benar kan? Kau bukan gadis baik-baik, persis seperti yang Ga In bilang. Kini aku tau kenapa kau begitu melarangku untuk mendekati Ga In. Semua itu karena perasaanmu! Egois sekali!”

Soo Yeon menggelengkan kepalanya dengan cepat, tidak ingin Jonghyun salah paham, “Tidak! dengarkan aku dulu! Aku melihat sendiri bahwa Ga In –“

“Cukup!” potong Kyuhyun dengan suara lantang, “Aku membencimu!”

Andwae!” Soo Yeon terpekik kaget. Wajahnya penuh peluh sekarang, diiringi dengan rasa sesak yang memenuhi relung hatinya. Kejadian dua tahun lalu tergambar jelas di mimpinya barusan dan itu membuat air matanya jatuh secara tak sadar, bercampur dengan peluhnya.

Dia lalu melirik ponselnya yang tergeletak di nakas. Ada panggilan masuk, mungkin itu jugalah yang membuatnya terkejut dan bangun dari tidurnya.

Sejenak dia mengernyitkan keningnya begitu melihat nama penelpon yang tertera di layar ponselnya.

“Lee Jungshin? Untuk apa dia menelponku tengah malam begini?”

TBC

~~~

 

15 thoughts on “Love is no big truth [Chapter 1]

  1. Semoga lekas selesai konfliknya Dan jadi tomantis kedepannya…hahaaaaa maunya
    Ditunggu kelanjutannya thor, tankyou.

  2. bagus ceritanya, tapi emang ada ya Bahasa Indonesia ‘menjeblak’ ? Di perindah lagi ya bahasanya pasti lebih bagus lagi🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s