Oppa (Chapter 1)

oppa

 

 

Title : Oppa

 

Chapter : 1/?

 

Genre : Family, Romance

 

Rating : PG13

 

Main Cast :

– CNBlue Minhyuk as Kang Minhyuk

– F(x) Krystal as Kang Soojung

 

Other Cast :

– SHINee Minho as Choi Minho

– F(x) Sulli as Choi Sulli

– CNBlue Jungshin as Lee Jungshin

~ Red Pumpkins as Author(?)

 

Disclaimer : Ide muncul setelah bongkar editan lama dan nemu itu poster, jadilah ff ini. Ide milik saya, tapi poster hasil google yang diedit sesuka hati. Selamat membaca dan tinggalkan komentar kalian🙂

 

 

 

 

 

 

Kang Soojung.

Iya, itu namaku. Setidaknya itu yang kutahu sekarang.

 

Soojung yang yatim piatu, aku tinggal bersama kakakku. Kakak laki-lakiku, yang tidak pernah berlaku layaknya seorang kakak kepadaku. Bukan, dia bukan orang yang kasar ataupun hobi memukuli orang jika tak mau melakukan apa yang ia mau.

 

Kami hidup berdua dengan usaha yang kakakku lakukan setelah orang tumpuan hidup kami pergi dalam sebuah kecelakaan.

Cukup lama kejadian itu, usiaku baru 3 tahun, kata kakakku. Aku sama sekali tidak ingat apapun tentang ayah dan ibu. Kami hidup berdua karena yang kutahu dari kakak adalah ayahku adalah anak tunggal, serta ibuku yang berasal dari panti asuhan. Tak ada saudara yang menanggung ataupun menampung kami.

 

Aku sering berpikir, benarkah dia kakakku? Aku tidak bermaksud tidak puas masih memilikinya setelah apapun menghilang, hanya saja aku merasa aneh. Aneh saat teman-temanku bercerita tentang kakak mereka yang begini dan begitu, kakak mereka berlaku layaknya seorang kakak kepada adik. Melindungi, menghangatkan, menyayangi, tak jarang aku melihat mereka memberi tatapan yang terpancar tulus saat menjemput teman-temanku. Mungkin ini bukan perasaan aneh, tapi iri.

 

Iri. Kakakku tak pernah bicara padaku, kecuali aku bertanya padanya. Itupun jarang dia jawab kalau bukan hal penting. Dia tak pernah tersenyum padaku, sejak aku membuka mata saat berada di ruangan perawatan dan tanganku diperban setelah kecelakaan itu hingga sekarang. Dia hanya megulurkan apa yang ingin dia berikan padaku, dia hanya meletakkan apa yang aku butuhkan, dia hanya membuang apa yang tidak kusuka.

 

Dia melakukan semua tanpa sedikitpun bicara padaku. Bahkan untuk menatapku ataupun tergesek kulitku, aku tak ingat kapan terakhir kali itu terjadi. Dia melakukan itu hingga sekarang, saat usiaku 18 tahun. Usia dimana aku harus tahu apa yang menyebabkan dia tak menganggapku ada di sekitarnya. Tidak, aku seharusnya tahu dari dulu apa penyebabnya. Dia kakakku dan aku adiknya. Bukankah kami keluarga? Satu-satunya keluarga.

***

 

-Author Pov-

 

 

 

Jam kota mendentangkan bunyinya 9 kali. Gerimis kecil masih mengikuti langkah Soojung menuju rumahnya, sepatu putihnya berubah menjadi coklat setelah keluar dari area sekolahnya terkena kubangan air yang terlindas kendaraan. Sekali lagi gadis itu melihat jam tangannya, memastikan kalau jam kota itu tidak berbohong.

 

“Apa oppa belum pulang?” gumam Soojung melihat gerbang kayu rumahnya yang masih tertutup. Sebenarnya dia berharap kalau kakaknya belum pulang, dia takut kalau kakaknya akan marah kalau tahu Soojung pulang selarut ini. Walau nyatanya itu tak pernah terjadi.

 

“Oppa?” Soojung menggeser pintu rumahnya. Ruangan depan menyala lampunya, yang berarti ada yang di rumah. Kakaknya.

 

Soojung melepas sepatunya yang basah lalu menghela napas, dia hanya punya sepatu itu untuk sekolah dan sekarang benda itu basah, kotor lagi. Tidak mungkin dia berangkat besok memakai sandal atau sepatu kakaknya yang kebesaran. Dia memukul kepalanya, menyesali kebodohannya karena tidak membawa sandal cadangan atau dia seharusnya melepas sepatu dan telanjang kaki saat pulang tadi. Supaya sepatunya selamat.

 

Pasrah, dia berbalik menuju ruang tengah dimana biasanya mereka ‘bersantai’ bersama. Namun, Soojung tak menemukan kakaknya disana. Hanya ada kotak berwarna orange bergambar ayam dan kawan-kawan, makanan yang sekali lihat bisa langsung mengocok perut. Lupa akan kakaknya, Soojung langsung duduk menghampiri kotak itu. Benar saja, isinya memang makanan. Perut gadis itu makin keras berbunyi, apalagi setelah berjalan jauh selarut ini.

 

“Oppa, kalau ini untukku akan kumakan!” Soojung setengah berteriak dan langsung menyumpit nasi tersebut. Kakaknya tidak menjawab, dan kali ini Soojung tak peduli. Rasa lapar mengalahkan segalanya.

Termasuk pertanyaan yang tadi sempat melintas saat pertama melihat kotak makanan itu. Tak biasanya kakaknya membeli makanan, karena saat pulang pasti kakaknya membawa bahan mentah untuk dimasak makan malam dan sarapan esok.

 

“Mungkin oppa juga baru pulang.” pikir Soojung. Dia melirik pintu kamar kakaknya yang ada di sebelah kiri kamarnya. “Apa oppa sudah makan?” pikirnya lagi. Dia berdiri sedikit untuk melihat bak sampah di dapur, mungkin ada kotak sisa makanan kakaknya. Kosong.

 

“Mungkin oppa sudah makan di luar.” Soojung menarik kesimpulan sendiri. Dia bukan tak peduli atau tak mau bertanya ke kakaknya, tapi dia takut akan kecewa karena tidak akan ada jawaban.

***

 

 

Soojung mengikat rambut coklatnya keatas, dia baru saja selesai mandi dan membersihkan sepatunya. Dia tidak mencuci sepatu itu, hanya mengelap dengan kain basah sekedar menghilangkan noda dan lumpurnya. Berhasil walaupun masih tersisa goresan lumpur.

 

Soojung menoleh kamar kakaknya sebelum masuk ke kamarnya. Dia baru sadar kalau sejak tadi lampu kamar itu tidak menyala. Soojung berbalik langkah, memberanikan diri menggeser pintu kamar kakaknya dan mengintip sedikit. Bukan apa-apa, dia hanya ingin memastikan kalau kakaknya memang ada disana dan baik-baik saja. Soojung merasa agak aneh dengan kakaknya hari ini. Walau tiap hari memang terasa aneh, tapi hari ini anehnya lain.

 

Soojung menghela napas dan tersenyum lega, seorang lelaki tidur berselimut hingga batas dada dan terlihat nyaman terlelap. Soojung kembali menutup pintu dan masuk ke kamarnya.

 

“Mungkin oppa lelah,” gumam Soojung sebelum mematikan lampu kamarnya, “Aku akan masak sarapan besok untuknya.” ucapnya diiringi senyum sebelum benar-benar tertidur.

***

 

 

Soojung berlari mengambil sepatunya yang kemarin dia letakkan di dekat pemanggang di dapur, raut kecewa di wajahnya terlihat jelas. Sepatunya masih basah dan lumpur yang menempel makin terlihat lebih dari kemarin. Soojung menggigit bibirnya, haruskah dia ke sekolah dengan sepatu kotor begini? Tak ada pilihan lain.

 

Soojung keluar dari rumah, duduk di kursi panjang di bawah pohon besar yang tumbuh di depan rumahnya. Pohon itu punya bayangan yang luas untuk peneduh, juga angin yang sejuk di pagi seperti ini. Soojung menghela napas lagi sebelum memasangkan sepatu ke kakinya. Bersamaan dengan itu, kakaknya keluar dan mengunci pintu rumah.

 

SRAK!

 

Soojung mengangkat wajahnya, melihat kakaknya tiba-tiba merebut sepatu kanannya dan langsung melemparkan benda itu ke ember berisi air di depan Soojung.

 

“Oppa..” Soojung terheran. Ditambah takut dengan wajah kakaknya yang terlihat memerah.

 

Soojung agak kehilangan keseimbangan begitu kakaknya mengangkat kaki kirinya dan melepas paksa sepatu yang baru dia pakai, dan sepatu kiri itu mengalami nasib yang sama dengan pasangannya. Dilempar ke ember air.

 

“Oppa.. Itu sepatu..” Soojung kesulitan bicara. Matanya mengikuti langkah kakaknya yang kembali membawa bungkusan dan memberikannya ke Soojung bersamaan dengan kunci rumah. Soojung bengong melihat kakaknya yang berlalu keluar dari gerbang rumahnya.

 

Soojung membuka bungkusan itu, yang berisi sepasang sepatu baru. Warna putih.

Mata gadis itu panas. Berair. Lagi-lagi tak tahu kenapa, dia kadang merasa sangat senang saat kakaknya peduli padanya tak peduli itu hal sekecil apa, tapi sikap dingin kakaknya membuat perasaan senang itu lagi-lagi tenggelam.

 

Soojung menengadahkan wajahnya. Menahan airmatanya supaya tak turun. Dia tersenyum, menghela napas panjang seperti biasa tapi kali ini terasa agak berat.

Soojung melihat jam tangannya, dia buru-buru memakai sepatu itu sebelum waktunya berjalan ke sekolah tersita dengan memikirkan hal yang menyiksa dirinya.

***

 

 

“Soojung-ah.”

 

“Oh?” Soojung yang sejak istirahat sibuk dengan tugasnya menolehkan wajahnya ke Sulli, yang tiba-tiba menyikutnya dan menyodorkan sekaleng soda. Soojung tersenyum dan menerima minuman itu. Memang, dia hanya numpang duduk gratis di kantin tanpa memesan apapun. Dia lupa membawa dompetnya.

 

“Gomawo.” ucapnya, lalu mulai meneguk soda tersebut.

 

“Ya, oppaku memang selalu tahu kalau kau sedang kehausan.” Sulli meneguk sodanya sendiri.

 

Brrrrrbbb..!

 

“Yah! Soojung-ah!”

 

Soojung segera mengelap bibirnya yang belepotan setelah menyemburkan soda dengan tangan. Tanpa peduli pada Sulli yang sibuk mengelapinya dengan tissu Soojung menoleh ke belakang. Dia tahu persis dimana dia harus mencari orang yang dimaksud Sulli. Tak akan jauh dari tempat dia berada.

 

Benar saja, matanya menangkap seorang laki-laki yang langsung mengalihkan pandangannya dengan gugup setelah mata mereka bertemu beberapa detik yang duduk 2 meja darinya. Soojung tersenyum lalu mengangkat bahunya.

 

“Sampaikan terimakasih untuknya.” kata Soojung, membuat Sulli yang memeriksa pekerjaannya mendongak dan melebarkan matanya.

 

“Mwo? Kau.. Bilang.. Apa?”

 

Soojung tersenyum, “Terimakasih, katakan ke oppamu.”

 

“Daebak!” Sulli sampai tak sadar memukul meja yang dia tempati, sempat menjadi sorotan manusia sekantin, “Kau yang biasanya cuek ke oppaku, hari ini kau.. Kau benar-benar Soojung? Kang Soojung?” ucap Sulli dengan pandangan tak percaya.

 

Soojung menggigit bibirnya, tersenyum kecut. Mendengar kata ‘cuek’ yang dikatakan Sulli tiba-tiba mengingatkannya ke kakaknya. Ya, selama ini dia yang selalu mendapat perlakuan itu. Setiap saat.

 

“Kenapa? Aku hanya ingin kau bilang padanya terimakasih, kalau tidak mau ya sudah.” ucap Soojung lalu mengambil bukunya.

 

“Kenapa? Ini jelas sebuah perkembangan, Soojung-ah! Kau yang selama ini diam saja meski kau tahu Minho oppa mengejar-ngejarmu dari dulu, hari ini ingin megucapkan terimakasih padanya?!”

 

“Aku tidak bilang begitu, kau yang katakan padanya.” balas Soojung santai, tanpa mau menoleh ke Sulli berusaha konsen ke soal yang dia baca.

 

“Apa sajalah itu, bagiku itu perkembangan! Ah, oppa pasti senang kalau aku memberitahunya, kalau kau hari ini tidak cuek padanya.” Sulli menepuk-nepuk pundak Soojung.

 

“Tapi Soojung-ah, kau salah makan obat apa hari ini? Kau mulai bosan mendiamkan oppaku? Kau sudah mulai menyadari kehadiran oppaku?” tanya Sulli, sangat penasaran ditambah semangat menggebu.

 

“Karena aku tahu bagaimana rasa tak nyamannya dianggap tak ada di sekitar orang yang kita sayang, Sulli-ah.” gumam Soojung, matanya kosong menatap kertas di depannya.

 

“Mwo? Kau bilang apa?”

 

“Apa?” Soojung tersadar, “Ah, hentikan. Aku belum selesai tugas ini. Aku tidak mau dihukum Park sonsaeng. Sana pergi.”

 

Sulli tersenyum lalu mencubit pipi Soojung, “Belajar yang rajin!”

***

 

 

Soojung mengelap keringat di dahinya. Dia menoleh ke jendela ruangan dengan kaca besar yang sejak pulang sekolah dia hadapi, masih penuh dengan titik air. Gadis itu terduduk, kakinya lelah sejak tadi tak berhenti beradu dengan lantai dan musik. Saking tak inginnya berdiri supaya kakinya tak bertambah lelah, Soojung menyeret badannya ke meja panjang yang agak pendek untuk mengambil air dan melihat jam di ponselnya.

 

“Jam 8.15? Cepat sekali?” Soojung meneguk air berion yang diberi gurunya setelah anggota klub itu pulang.

 

Matanya kembali melirik jendela, masih hujan. Sederas kemarin, tapi lebih lama dari kemarin. Soojung memijat pergelangan kakinya. Bulan depan dia diajukan untuk kompetisi oleh klub tarinya. Oleh karenanya, dia diharuskan berlatih lebih. Sebenarnya latihannya selesai sejak sore tadi, tapi karena hujan telah turun dari siang dan belum reda hingga jam ini, Soojung lebih memilih mendekam di ruangan klub dan berlatih sambil menunggu hujan reda. Lagipula, dia tidak berniat membasahi sepatunya lagi. Setidaknya dia akan menunggu hingga gerimis kecil atau pulang dengan telanjang kaki.

 

Soojung meremas perutnya. Lapar.

Dia selalu menyesali kelalaiannya. Kemarin dia tak membawa sandal cadangan hingga sepatunya basah, dan hari ini dia mengulangnya ditambah meninggalkan dompetnya di rumah. Air yang diberi gurunya tersisa sedikit, mungkin tak cukup untuk sekali tegukan.

Soojung berdiri lalu mengambil tasnya, mencari baju ganti. Kulitnya lengket, tak mungkin mandi di sekolah, dia takut berlama-lama di kamar mandi umum sendirian apalagi malam begini. Soojung sendiri ingin pulang sambil hujan-hujanan supaya kulitnya tak lengket, tapi sepatunya berteriak tak setuju.

 

Selesai mengganti baju, beruntung untuk Soojung. Hujan telah reda. Untung juga karena dia sudah mengunci ruangan klub sebelum ganti baju, jadi dia tak perlu berputar arah kembali kesana. Dia bisa langsung pulang.

 

“Astaga, aku benar-benar kelaparan.” katanya, sambil berjalan di teras sekolah. Udara dingin tentunya tak berpihak kepadanya.

 

Soojung mengamati bangku tiap teras yang dia lewati, hidungnya menghirup udara dalam-dalam. Terasa segar bau rerumputan dan tanah yang terbasahi air. Berbeda dengan siang yang penuh polusi.

 

“Kang Soojung.”

 

“Mwo?!” Soojung tersentak kaget saat ada yang menepuk pundaknya di persimpangan teras. Jantungnya nyaris meledak kalau saja Soojung tak cepat sadar yang menepuknya itu manusia, dari sapaan samar dan canggung yang tertangkap saat Soojung melebarkan matanya.

 

“A.. Annyeong..”

 

Soojung menekan dadanya sambil terbengong, matanya berkedip menyesuaikan cahaya supaya bisa mengenali rupa orang itu.

 

“Minho oppa?”

***

 

 

“Terimakasih sudah datang, silahkan berkunjung lagi.”

 

Kasir jangkung itu menghampiri kawannya yang masih sibuk membereskan meja setelah pelanggan yang mereka jadikan penutup hari itu pergi.

 

“Biar kuselesaikan, kau cepat pulang.” ucapnya seraya merebut kain yang dijadikan lap meja oleh kawan yang tak beda tinggi darinya.

 

“Kenapa tiba-tiba kau jadi baik?”

 

“Bukan apa-apa, ini hampir pukul 10 malam. Kalau tidak ada minimarket atau toko yang buka, adikmu makan apa malam ini? Sudah sana, biar sisanya aku yang urus.”

 

Lelaki itu tersenyum lalu berbalik ke pintu di sebelah meja kasir, mengambil tasnya.

 

“Gomapta, Jungshin-ah. Kuharap kau tak meminta ganti untuk ini.” ucap lelaki itu lalu berjalan ke pintu keluar.

 

“Minhyuk-ah!” panggil Jungshin, lelaki itu menoleh.

 

“Mwo?”

 

“Besok berangkat agak pagi ya? Aku ada perlu mungkin hingga pukul 9.”

 

“Pantas saja.” Minhyuk berlalu dengan decakan tanpa menghiraukan cengiran Jungshin.

 

Tak mungkin kawan bekerjanya itu mau mengerjakan tugasnya selain ada imbalan. Lagipula, siapa yang ikhlas mengerjakan tugasnya sebagai sesama pegawai restoran kue tanpa imbalan? Gaji mereka juga tak seberapa, walau restoran kecil itu cukup ramai tapi boss mereka pelit. Hanya mengerjakan dua orang sebagai pelayan dan kasir dan 1 orang sebagai koki. Minhyuk sudah berencana akan keluar dari sana setelah gajinya bulan ini dibayar.

 

Berjalan pulang, Minhyuk menyempatkan diri mampir ke kedai kecil untuk membungkus sekotak makanan. Bukan untuknya tapi seperti yang Jungshin katakan, untuk adiknya. Dia memang belum makan dari siang dan malam ini dia hanya memakan sepotong kue yang dia dapat dari percobaan koki tempatnya bekerja. Ingin beli dua kotak, tapi isi kantongnya tak seberapa. Bukan tak cukup, tapi dia sudah menghitungnya bulan ini.

 

Minhyuk melangkahkan kakinya keluar kedai setelah membungkus makanan tersebut, bersamaan dengan sebuah mobil yang melaju kencang dan menyemburkan isi kubangan air jalan tepat ke celana Minhyuk. Lelaki itu mengumpat ke arah mobil yang mulai menjauh. Tentu saja sia-sia, selain pandangan pelanggan kedai ke arahnya.

 

Minhyuk melihat celananya, baru sadar kalau tadi sempat turun hujan. Dia teringat adiknya, terutama sepatunya.

***

 

 

Langkah Soojung berhenti sejenak begitu menemui tong sampah di bawah tiang listrik jalan yang ia lewati. Sejak tadi dia mencari benda itu untuk kertas sisa pembungkus roti yang dari tadi hanya dia remas. Dia cukup mendukung program yang sedang digalakkan dunia, mencintai kebersihan. Namun, kakinya terlalu lelah -atau malas- menghampiri tong itu, dia melempar begitu saja kantong kertas yang daritadi dia pegang, tepat jatuh di bawah tong sampah. Gadis itu cuek lalu melanjutkan jalannya, hingga lelaki yang daritadi berjalan di sampingnya tersenyum. Minho.

 

“Kenapa tidak buang dari tadi kalau akhirnya tidak pada tempatnya?” Minho membuka suara, tepatnya membuka kecanggungan mereka yang sejak meninggalkan sekolah sama sekali tidak bicara apapun.

 

Soojung menoleh malu lalu menggaruk tengkuknya, “Setidaknya masih bisa dijangkau tukang sampah, tidak jauh dari tempatnya kan?” elaknya.

 

Minho mengangguk, mengiyakan. Atau mungkin tak tahu harus membalas bagaimana. Dia terlalu sibuk memikirkan gadis di sampingnya hingga bingung apa yang harus dia lakukan. Ditolehnya Soojung yang kini mendongak ke langit menghitung bintang yang terlihat, tak sadar kalau senyumnya makin melebar. Bagaimana tidak, kalau biasanya dia hanya bisa melihat Soojung dari kejauhan dan sekarang bisa sedekat ini, kalau biasanya dia hanya mengintip Soojung bercanda dengan adiknya dan berharap dia bisa ada diantara mereka -di dekat Soojung- dan sekarang dia bisa bicara langsung dengan Soojung, kalau biasanya dia menitipkan apa yang ingin dia berikan ke Soojung lewat adiknya dan hari ini dia bisa memberikannya langsung, walaupun harus beberapa jam mengumpulkan keberanian. Hari ini, dia merasa Soojung mau berhenti menjauh saat dia menghampirinya.

 

Kalau dipikir, Minho sendiri merasa lucu. Dia tidak sebahagia ini ketika mendapat juara atletik, tapi hanya dengan berjalan bersama dan melihat Soojung dari dekat rasanya tak ada kebahagiaan lain. Minho mengenal Soojung sejak lama, gadis itu bersahabat baik dengan adiknya, dia tahu banyak hal tentang Soojung dan Soojung juga sering bolak-balik ke rumahnya -mengunjungi Sulli-, tapi untuk bilang ‘suka’ ke Soojung rasanya sangat susah. Dia takut Soojung tidak punya hal yang sama sepertinya, atau yang lebih parah gadis itu menjauhinya.

 

“Oppa?” Soojung berhenti berjalan dan menatap Minho heran.

 

Seperti tersihir, kaki Minho juga ikut berhenti di samping kaki Soojung, tapi matanya masih memasang pandangan kagum ke Soojung, “Oh?”

 

“Kenapa melihatku begitu?”

 

“Oh?” Minho tersadar, “A.. Aniya.. Melihatmu apa?” dia tertawa hambar.

 

“Geurae?” Soojung mengangkat bahunya tak terlalu memikirkan, dia hanya tidak mau dikira punya rasa percaya diri yang tinggi. Soojung lanjut berjalan dan kaki Minho lagi-lagi tersihir mengikuti langkah Soojung.

 

Sepi. Mereka lagi-lagi diam. Soojung lebih suka melihat tambalan aspal atau langit yang masih menyisakan awan hitam serta menyamarkan bintang, dan Minho lebih suka melihat wajah Soojung.Waktu terasa lama untuk Soojung karena dia masih merasa lapar, roti yang diberi Minho belum cukup mengganjal perutnya. Namun bagi Minho, waktu berjalan terlalu cepat, dia tidak mau sedetikpun melepas pandangan dari Soojung.

 

Hingga mereka sampai di persimpangan, Soojung baru menyadari Minho masih mengikutinya, “Oppa.”

 

“Oh?”

 

“Kenapa masih mengikutiku?” Soojung menghentikan kakinya.

 

“Mwo?” Minho masih belum sadar.

 

Soojung menghela napas lalu menarik lengan Minho ke arah kanan, “Rumah oppa ke arah sana!”

 

Soojung berjalan mundur lalu melambaikan tangan ke Minho, “Kamsahamnida.”

 

“Mwo?”

 

Soojung mempercepat langkahnya karena gerimis mulai turun, “Terimakasih, sudah mengantarku, memberiku roti dan minuman, terimakasih.” dan sekali lagi melambaikan tangan ke Minho sebelum berbalik lari menuju rumahnya.

 

“Annyeong!”

***

 

 

Minhyuk menggigit kantong plastik makanan, memberi leluasa kedua tangannya merogoh saku celana, mencari kunci rumah. Dia mendongak ke atas menyadari rambutnya tiba-tiba tertetesi air. Sepertinya hujan akan turun lagi.

 

“Astaga, anak itu yang membawanya!” batin Minhyuk. Dia mengambil kembali kantong yang dia gigit, menaruhnya di kursi panjang bawah pohon.

 

“Ada gunanya juga daunmu.” kata Minhyuk. Entah bicara pada siapa, yang jelas dia juga ikut duduk di bawah pohon besar itu, gerimis kecil belum sanggup menembus daun pohon yang rimbun dan luas.

 

Minhyuk melihat jam tangannya, pukul 10 lewat 10. Matanya sudah memerah, sangat mengantuk. Beberapa kali dia hanya menguap, nyaris menyandarkan kepala ke pohon kalau bunyi geretan pintu depan tidak membangunkannya. Minhyuk langsung berdiri dan menghampiri orang yang membuka pintu tadi, gadis yang lebih pendek darinya.

 

“Oh? Oppa menunggu dari tadi?” ucap gadis itu lalu segera menyerahkan kunci begitu Minhyuk menengadahkan tangannya.

 

“Mianhae, aku menunggu hujan reda supaya sepatuku tidak basah lagi.” gadis itu mengikuti langkah Minhyuk.

 

“Apa oppa menunggu lama? Apa oppa kehujanan? Apa oppa sudah makan? Aku akan..”

 

Minhyuk menghentikan ocehan gadis itu dengan meletakkan kotak makanan yang dia bawa ke tangannya. Dan tanpa bicara apapun, Minhyuk berlalu ke kamar.

 

Gadis itu mengatupkan bibirnya, sakit. Lagi-lagi seperti itu. Sikap Minhyuk kepadanya. Sebagai penahan air mata, gadis itu menarik napas panjang. Rasa lapar yang sejak tadi dia tahan mendadak hilang dan caranya kali ini tidak berhasil, titik-titik dingin gerimis di wajahnya tercampur bulir hangat matanya. Dadanya sesak melihat kotak makanan di tangannya.

 

-tbc-

 

 

 

 

~Annyeong, readers. Hehehe(?), lama tak jumpa. Ada yang masih ingat saya? #readers : kagak kenal!# -_- Saya balik membawa ff HyukStal (lagi) yang genrenya agak beda, maaf ya kalau gaya penulisan dan bahasa kurang pas sama genrenya, saya baru coba-coba bikin yang sedih-sedih dicampur roman begini. Niatnya mau bikin ff ini pas anget-angetnya The Heirs, tapi keberadaan laptop sedang di luar area(?). Maaf juga kalau part ini kependekan, soalnya rencana awal mau buat trailer(?) eh kepanjangan, yaudah jadiin part 1.

Uda ah siul-siulnya. Saya butuh kritik-saran loh! Terutama penentuan lanjut/tidak ke chapter 2.

Terimakasih sudah membaca🙂

60 thoughts on “Oppa (Chapter 1)

  1. lanjuuuuuuuuuuutlah
    ini sebenernya saudara kandung ga sih hyuk ma soojong? berharap sih ga kandung biar bs pacaran terus nikah *eh hahaha
    tapinya aduh ada minho itu lagi2 dia yg diantara hyukstal
    ditunguuuuuu lanjutannya author

  2. Kayanya minhyuk sengaja nyuekin soojung, soalnya dia tau soojung bukan adik kandungnya dia, dan dia menghindari kontak sama soojung, dia takut jadi suka sama soojung kkk (sepertinya). Tar2 kalo minho nganter soojung k rumah dan ada minhyuk baru deh dia ngomong sama soojung kayanya

  3. Pumpkin~aaaahhh. Bogoshippo {}
    Pas bener tengah malem gini lagi mellow terus baca ff ini. Jadi lebih ngena. Dan btw aku juga suka hyukstal. Kkkk
    Itu minhyuk misterius banget gak mau ngomong sama krystal, jangan sampe dia melebihi limbad (?) #apasih
    Dan harus lanjut, tentu saja. Ditunggu part selanjutny pumpkin~ah ;*

    • Nah itu riplei ku pada nyasar ke komenan di bawah –‘ gimana ceritanya?
      Ecie ada yg kangen :3
      Minhyuk kegantengan jadi limbad –‘
      Makasih uda baca, Sungrin-ah🙂

  4. Ish, Minhyuk bikin gregetan yaah ngediemin Soojung kaya gitu, tapi itu dia yaang bikin penasaraan, lanjut dong author. Penasaran tentang Minhyuk dan kenapa dia ngediemin Soojung. Semangat author! Aku tunggu chapter selanjutnya.

  5. omoo posternyaaa :3 krystal ama minhyuk udah cucok emg daah. Daari kecil aja keliatan bgt muka jodoh merekaaa :33 aasocute
    lanjut dong thor ini, penasaraan sm minhyuk kok tegaa tp sbnrnya care sama kleee, lanjutlanjut!! hoho

  6. Lanjuttt kalo bisa secepatnya min !
    Pliss banget, soalnya gue suka banget sama hyukstal ! Lanjutin ya ?😀 *tunjukinSenyumPalingManis😀

  7. aaaahhh ..
    senengnyaaaa .. nambah lagi ff hyuuksttal ..
    jangan lama” ya next chapternya ..
    nunngguiin chapter ff favoriit tuh sehari aja berasa setahuuuun ..

    haahaaahhaaaa ..😀

    *lebay kumat*

  8. Thor inni minhyuk poppa am jungie onnie jad kakak adik bnerann (moga aja ngguk aq kan sukany hyukstal couple bukany minstal )
    Ya udahh lahh lanjut dehh ^^ krennn kok … Critanya baru … Krennn … Kreatif … Good

  9. posternya unyu-unyu ^_^ aku suka😀
    kok minhyuk sikap nya dingin gitu sih😦 mau coba2 jd ice prince yh oppa kkkk :v :v tp dia perhatian juga sma klee,, cuma sikap nya aja yg cool ^^ pliss deh thorr, mreka bukan saudara kandungkan?? bukan yah /maksa/😄

  10. next thor ceritanya menarik🙂 suka banget deh sama couple ini, berharap mrka ngga sodara kandung😀 tp kenapa ya Minhyuk oppa kok cuek banget sih😦 biasanya kan dia jadi org yg ramah kok sekrg cuek.. Lanjutkan thor😀

  11. Ini keren sekeren”nya! Daebak! Tapi jangan jadiin mereka sodara kandung thor😦 aku maunya minhyuk sama soojung pacaran *siapa authornya –”
    Tapi lanjut aja thor… apapun hasilnya, aku menghargai ff ini! Namanya hyukstal pasti oke punya (?)
    Fighting!

  12. ya ampun…. minhyuk irit banget. cuma ngomong ama jungshin doang. cewek kece macam soojung ko dicuekin.
    berharap minhyuk cuek karena soojung bukan adik dia, dan takut jatuh cinta sm soojung

  13. Karakter Minhyuk oppa disini menarik sekali eonnie. Jangan lama-lama untuk next chapternya ya eonnie.. #banyakmaunya. Minhyuk Krystal harus bersatu dan happy ending #maksa. Hehehe. Daebakkkkkkk

  14. Mereka bukan saudara kandung kan ya? Ya? Ya?
    Aku suka sm pnulisan bahasa nya thor.
    Update soon y thor
    Ini keren bikin penasaran, kira2 knpa hyuk ga mau ngomong sm soojung …..
    Fighting thor ^^

  15. jiee~ si minhyuk sok cuek *plak*
    Tariiiiikkk~ mang~ Lanjooooootttt!!!!
    POSTINGNYA GAK USAH LAMA LAMA!!! *nudingpiso*, Hyukkieee~ ^_^

  16. ommo! feelnya dapet banget. soojung kratak ikut kratak:(
    greget sama minho pas ngedeketin soojung.
    penasaran juga sama minhyuk kenapa jarang ngomong sm soojung.
    tapi kayaknya mereka bukan sodara kandung deh,
    terus minhyuknya takut suka sama soojung/?
    ntahlah hanya tuhan dan author yang tau.
    btw lanjutinnya jangan lama2 ya thor:p
    udah penasaran tingkat dewa nih. wkwk semangat lanjutinnya’-‘)9

  17. wuahhh keren banget thor, feelnya dapet banget sampe bisa ngerasain apa yang lagi soojung rasain:3
    Ahhhh krystal minhyuk♥ bikin penasaran thor sama kelanjutanya :3
    semangat thorrr ‘o(^^o)

    • Belum bisa cepet huhuhu ;;;
      lepiku dalam proses pengobatan(?) #curcol
      mian *deepbow*
      tapi tapi tapi tapi tapi tapi tapi tapi makasih uda baca plus komen ^_^

  18. Bahasanya luar biasa (y) haha!
    Lanjutin thor… Mereka jan sodaraan plis. Mereka harus jadi Kapel yakkk? Haha. Kalo tidak aku akan memtahkan tulang rusuk Minhyuk /apa? –”
    Oke deh. Aku Betty thor 99L /kaga ada yang nanya.
    Yaudin deh… Bye
    BETTY.

    • Duh, pakek ngancem –”
      Makasih dah uda baca n komen betty🙂
      Selamat mematahkan tulang rusuk Minhyuk/? ya #plak
      hehehe

  19. Baru nemu fic ini, kereeeen thor ^^ bahasanye enak kok (?)
    Tapi agak sebel sama minhyuk oppa, kasian soojung eonni, kenapa cuek banget sama eonni. Eh saya harap semoga mereka ga sodara kandung hehe
    Ditunggu part selanjutnya ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s