[FF Competition] 2 Days

Judul : 2 Days

Genre: Romance – Sad Ending

***

Jungshin’s pov
“Jungshin-ah…” suara lembut menggelitik telingaku, aku tersenyum.
“aigoo, anak ini. Mimpi apa sih, sampe senyum-senyum begitu?”
“Jungshin-ah, bangun!” aku membuka mataku sedikit, kulihat ibu sudah berkacak pinggang sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
“iya, bu. Ini masih awal kok. 5 menit lagi, oke?” aku kembali menarik selimutku.
Ibu hanya diam dan berjalan keluar dari kamarku.
“ah, ibu. Lagi mimpi indah begini malah dibangunin.” Kututup mataku dan melanjutkan mimpiku yang sempat terputus tadi.
-didalam mimpi-
Aku sedang duduk santai dikursi taman. Tentu saja aku tidak sendiri. Aku bersama seorang gadis cantik. Bodinya aduhai, kulitnya putih mulus seperti kulit bayi. Matanya sendu, bulu mata yang panjang melentik. Ah, aku betah bersama gadis ini. Belum sempat aku mengajaknya berbicara, datang lagi seorang gadis lain. Gadis itu membawa sesuatu ditangannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Wajahnya seperti disensor oleh sinar matahari yang menyilaukan. Tiba-tiba…
‘byuuuuur’ gadis itu menyiramkan seember air ke arahku.
Sontak aku langsung terbangun. Aku merasakan basah disekujur badanku. aku lihat seseorang sedang tertawa sambil memegang ember. Ternyata itu Lee Seun In, adik perempuanku yang satu-satunya.
“hyaa, Lee Seun In! Kau ini. Basah kuyup nih, dingin woi.” Aku segera bangun dari tempat tidur karena tempat tidurku juga ikut-ikutan basah disiram oleh Lee Seun In.
“salah oppa sendiri. Dari tadi ibu sudah membangunkan oppa. Tapi oppa tidak bangun. Aku takut oppa ditelan mimpi, sampai-sampai lupa gimana mau bangun.” Seun In berlari keluar dari kamarku sambil menahan ketawa.
“LEE SEUN IN, AWAS KAU YAK!!!” teriakanku memenuhi kamar.

***
“kenapa teriak-teriak, Jungshin-ah?” ibu duduk disampingku.
“tuh, gara-gara Seun In. Tempat tidurku jadi basah disiramnya.” Aku manyun. Ibu hanya tertawa melihat wajahku. Ia membelai rambutku dengan lembut.
“sudahlah, biarkan saja. Tempat tidurmu sudah dijemur?”
“sudah, bu. Tuh aku jemur di balkon. Oh iya, apa aku boleh keluar ke taman didekat sini?”
“ada apa?”
“cuman ingin ngetes kamera baru yang kemarin dibeliin ayah.hehe” aku tersenyum lebar hingga gigiku nampak keseluruhannya.
“yaudah. Boleh kok. Tapi jangan pulang sampai malam ya.”
“iya, bu.” Aku segera berlari kekamar dan mengambil kamera yang kusimpan didalam lemari.
“ibu, aku pergi dulu.”
“hati-hati, Jungshin-ah.”

***

Di taman aku mulai beraksi dengan kamera baru pemberian ayahku saat aku berulang tahun minggu lalu. Berhubung hari ini adalah hari minggu, jadi taman itu penuh dengan anak kecil. Aku paling suka dengan anak kecil. Mereka masih polos, tidak tahu apa-apa. Masih tidak mengerti bagaimana hidup ini yang sebenarnya. Aku tersenyum melihat berbagai tingkah mereka saat bermain. Dan aku mengabadikan momen itu dengan kamera yang kupegang sedari tadi.
Mataku tertuju ke satu arah. Seorang gadis yang sangat mirip dimimpiku semalam. Aku iseng-iseng mengambil foto gadis itu. nampaknya gadis itu juga sangat menyukai anak kecil. Dia mengajak salah seorang anak kecil yang sedang bermain sendirian di ayunan.
“aigoo, nona Yi Jun. Saya sudah mencari anda kemana-mana, ternyata anda berada disini. Ayo pulang nona. Tuan akan marah kalau dia tahu nona sedang bermain diluar seperti ini.” Seorang bibi menegur gadis itu. gadis itu hanya diam.
“apakah aku tidak boleh bermain disini? Apa karena aku sakit, jadi papa harus mengurungku terus menerus dirumah? Aku juga ingin menghirup udara segar disini, bukannya hanya memandanginya dari jendela kamarku.” Gadis itu berlari. Bibi itu berusaha untuk mengejar, tapi mungkin karena umurnya yang sudah tidak muda lagi, berlari sebentar saja sudah membuatnya ngos-ngosan seperti kehabisan nafas.
“bibi, biar aku saja yang mengejarnya. Bibi istirahat saja disini.” Tiba-tiba aku menawarkan diri untuk menolong bibi itu.
“benarkah? Terima kasih, anak muda. Tolong ya, bawa dia kembali. Aku takut majikanku akan marah besar.” Bibi itu memegang tanganku dengan erat.
“iya, bi. Akan kuusahakan.” Aku segera berlari mencari gadis itu.

***
Tidak membutuhkan waktu yang lama, aku menemukan gadis itu. dia sedang duduk dikursi di bawah pohon besar yang rindang. Kursi santai favoritku saat aku badmood. Aku menghampirinya dan duduk disampingnya.
“hey, kamu.”
“kau siapa? Pasti kau disuruh bibi Hana untuk menjemputku. Iya kan?” gadis itu menunduk.
“tidak, aku sendiri yang mengejarmu. Aku hanya heran kenapa gadis secantikmu berlari seperti dikejar hantu begitu.”
“aku bosan dirumah terus-terusan. Rasanya seperti dipenjara.”
“memangnya kamu sudah merasakan kehidupan dipenjara? Wah, hebat. Kamu itu gadis, tapi sudah pernah bermalam dipenjara.” Aku terkekeh ketawa.
“aish, kamu ini!” gadis itu menepuk punggungku.
“aku hanya bercanda. Oh iya, namamu siapa?” aku mulai mengajak dia berkenalan.
“aku Kang Yi Jun. Kamu siapa?” gadis itu bertanya.
“aku Lee Jung Shin. Rumahku di blok dua itu.” aku menunjuk sebuah gang kecil tak jauh dari tempat aku dan Yi Jun duduk.
“oh. Berarti kau sering kesini?”
“iya, aku datang kesini hanya memotret.” Aku menunjukkan kameraku.
“hmm, apa kamu senang dengan kegiatanmu itu?”
“tentu. ini adalah hobiku. Aku sangat senang dengan dunia fotografi. Apa kau mau aku foto juga? Sini ayo senyum.” Aku mengarahkan lensa kameraku ke wajah Yi Jun.
“ahh, jangan. Aku paling malu kalau difoto.” Yi Jun tersenyum malu, pipinya memerah. Persis dengan gadis yang ada dimimpiku.
“oppaaaaaa!!” teriakan cempereng menusuk telingaku. Lagi-lagi Seun In! Batinku menjerit.
“aigo, Seun In. Kenapa kau harus hadir disaat-saat begini. Tadi mimpiku yang kau siram dengan air, sekarang momen berhargaku harus kau siram dengan suara teriakan cemprengmu itu.” batinku bergejolak menolak kehadiran Seun In di antara aku dan Yi Jun.
“apa? Apa? Apa? Habis dapet duit segepok dijalan, hah?”
“tidak. Aku sedang mencarimu, oppa. Aku mencarimu kemana-mana, kata ibu oppa ada disini. Jadi aku susul deh.” Seun In menjulurkan lidahnya.
“terus? Apa ada hal penting?”
“tidak juga. Aku dengar dari ibu kalau oppa sedang mengetes kamera baru pemberian ayah. Jadi aku mau oppa memotretku.”
“oh, tidak. Tidak. Nanti lensa kameraku bisa pecah kalau aku memotretmu.” Aku mengusap-usap kamera kesayanganku.
“ah, oppa. Ayolah sekali ini saja.” Seun In mulai mengeluarkan jurus memohonnya yang terbukti sangat ampuh bisa membuatku luluh dalam 10detik.
“iya, iya. tapi jangan bergaya seperti “Cheon Song Yi” ya. Aku geli melihatnya.”
“ih oppa pintar sekali membaca pikiranku. Oke, aku akan bergaya bak model profesional” Seun In mulai beraksi dengan gaya-gaya tidak lazimnya. Aku hanya mengeleng-gelengkan kepalaku. Tidak sengaja aku melihat ke arah Yi Jun. Dia tertawa! Wah tentu saja aku tidak membiarkan momen ini hilang begitu saja, segera aku memotretnya beberapa kali sampai Seun In menepuk punggungku dengan sangat keras.
“hya, oppa. Kenapa malah eonnie itu yang kau foto? Sini oppa. Model fotomu itu disini.” Seun In cemberut.
“hehehe. Maaf, cerewet” aku memutar posisi badanku lalu memotret Seun In.

***

aku berbaring menatap langit-langit kamarku. Mengingat kembali saat aku bersama Yi Jun.
“gadis yang manis” bisik hatiku pelan. Besok aku berencana akan ke taman itu kembali. Berharap dapat bertemu dengan Yi Jun.
“oppa…” lagi-lagi suara cempreng mengalun pelan.
“apa?” jawabku tanpa menoleh ke asal suara.
“aku mau mindahin foto yang tadi.” Seun In memberikan flashdisknya.
“kerjakan saja sendiri. Oppa mau mandi dulu. Tapi jangan buat virus di komputer yak.”
“iya, oppa yang super cerewet.” Seun In mulai menggunakan komputerku.

***

Aku datang kembali ke taman itu. mataku berkeliaran kesana kemari mencari sosok Yi Jun.
“kau mencari siapa?” terdengar suara lembut menegurku. Segera ku alihkan mataku dan Yi Jun sudah duduk disampingku.
“ah? Ternyata kau. Tidak, aku hanya mencari momen yang pas untuk difoto.” Jawabku dengan gugup. Ku utak atik kameraku.
“dasar. Tukang seribu alasan.” Yi Jun tersenyum. Aku juga ikut tersenyum melihat wajahnya.
“kau cantik.” Tanpa sadar aku mengatakan itu didepan Yi Jun.
“apa? Aku cantik?”
“ha? A-a-a tidak. Aku tidak mengatakan itu.” wajahku memerah karena malu.
“aku ingin mengajakmu main bianglala. Apa kau mau?” pinta Yi Jun dengan penuh harap.
“ha? Bianglala yang itu?” aku menunjuk ke arah bianglala yang sedang berputar.
“iya, yang itu. aku takut ketinggian, makanya aku mengajakmu.”
“baiklah. Ayo pergi.”
“tapi aku takut.”
“takut dengan ketinggian? tidak apa-apa kok. Kan kau pergi bersamaku. Dulu aku juga takut ketinggian. Tapi sekarang sudah tidak lagi, karena aku laki-laki. Tugasku melindungi perempuan yang lemah.” Aku menepuk-nepuk dadaku dengan bangga.
“oh, jadi menurutmu aku perempuan yang lemah?”
“tidak. Aku tidak mengatakan kau itu perempuan yang lemah. Ayolah, nanti keburu orang semakin ramai.” Aku menarik tangan Yi Jun dan segera berlari menuju bianglala yang tidak jauh dari situ.

***

“Jungshin-ssi, a-aku takut.” Kata Yi Jun dengan gugup.
“tenang, ada aku. Pegang saja tanganku erat-erat.” Aku memegang tangan Yi Jun, dan Yi Jun menggenggamnya dengan kuat. Aku senang melihatnya. Senang sekali.
-didalam bianglala-
“Jungshin-ssi, apa kita sudah cukup tinggi?” Yi Jun menutup matanya.
“hey, kenapa harus tutup mata? Tidak apa-apa. Buka saja matamu. Lihat pemandangan dari atas sini. Bagus sekali.”
Yi Jun membuka matanya, tapi dia masih takut untuk melihat kearah luar.
“tidak apa-apa. Lihat saja.” Aku berusaha menghilangkan ketakutan Yi Jun dengan ketinggian.
Yi Jun pun memberanikan dirinya untuk melihat pemandangan. Dia tersenyum. Senyumnya kali ini benar-benar manis. Sepertinya dia suka melihatnya.
“Jungshin-ssi, pemandangan disini bagus sekali.” Yi Jun hampir tidak bisa melepaskan pandangannya.
“iya, memang bagus. Bagaimana? Sekarang kamu tidak takut lagi, kan?”
“tidak, aku tidak takut. Wah, terima kasih Jungshin-ssi.” Yi Jun memelukku dengan erat sehingga membuatku kelabakan.
Setelah menaiki bianglala, aku dan Yi Jun bermain ayunan bersama. Yi Jun tertawa dengan gembira. Begitu juga aku. Aku sangat senang saat bersama Yi Jun.
“Nona, ayo kita pulang. Tuan sudah menunggu.” Tiba-tiba ada yang memanggil Yi Jun. Ternyata itu bibi pengasuh Yi Jun.
“iya, bi. Aku akan segera pulang.” Yi Jun mengangguk pelan.
“maaf Jungshin-ssi, aku harus segera pulang sebelum papaku marah besar.” Yi Jun berpamitan denganku. Sebenarnya aku masih ingin bersamanya, tapi aku tidak tega jika Yi Jun harus dimarahi orang tuanya.
“iya, hati-hati dijalan. Aku juga akan pulang.” Aku melambaikan tanganku ke arah Yi Jun, begitu juga Yi Jun. Dia juga tersenyum sambil melambai-lambaikan tangannya.

***

Tiga hari sudah aku tidak bertemu Yi Jun. Bibi yang biasa bersamanya juga tidak pernah ku lihat disekitar taman lagi. Aku mulai putus asa. Aku tidak tahu dimana rumah Yi Jun. Aku sangat merindukan senyumannya.
“hay, oppa.” Seun In menampakan batang hidungnya di pintu kamarku.
“tumben kamu tidak teriak. Biasanya teriak kalo manggil oppa.”
“tidak, soalnya aku dapat paket untuk oppa.” Seun In memberikan sebuah kotak berbungkus rapi dengan pita kecil diatasnya.
“dari siapa?” aku membolak-balikkan kotak itu.
“entahlah. Sewaktu aku pulang sekolah, kotak ini sudah ada didepan pintu rumah kita.”
“ya sudah, makasih ya. Keluar gih. Hush,hush” aku mengusir Seun In dari kamarku.
“ih, oppa. Udah syukur di ambilin tuh kotak. Malah ngusir kayak begitu.” Seun In mengerutu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah Seun In. Ku pandangi lagi kotak yang sedang kupegang. Dari siapa? Tanyaku dalam hati. Lalu ku buka kotak itu. ada beberapa foto dan sebuah surat. Orang yang ada difoto itu seperti aku dan Seun In. Tapi siapa yang memotretnya? Aku membuka selembar surat yang berada diantara foto-foto itu.
Dear Lee Jung Shin
Kata yang pertama yang ingin aku katakan adalah maaf. Maaf karena hari ini kita tidak bertemu ditaman seperti biasanya. Tapi aku senang saat kebersamaan kita di dua hari yang lalu. saat aku pertama kali berbicara denganmu, naik bianglala bersamamu sampai ketakutanku dengan ketinggian akhirnya hilang karenamu. Saat-saat itu adalah kenangan terindah. Kenangan terakhirku saat masih hidup. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah pergi. Pergi untuk selamanya. Aku didiagnosa dokter kalau aku tidak akan hidup lama lagi. Waktuku hanya tersisa satu bulan. Jadi selama satu bulan itu aku hanya duduk dikamar, sampai suatu hari aku melihatmu sedang duduk dikursi yang biasanya kita duduki. Aku mulai menyukaimu sejak pertama kali melihatmu itu. aku memberanikan diri keluar dari rumah hanya sekadar melihatmu. Sampai-sampai aku sering berkejaran dengan bibi pengasuhku. Aku sangat bandel, bukan? Tapi aku lakukan itu karena aku ingin melihat seseorang yang aku cintai. Orangnya itu adalah kau. Aku sangat mencintaimu. Tapi maaf, mungkin aku mengatakan ini sangat terlambat. Aku merasa diriku adalah gadis yang jahat. Karena aku sudah mengutarakan perasaanku tapi aku malah meninggalkanmu selamanya. Sekali lagi, maaf.. aku sangat mencintaimu mulai hari ini dan selamanya.
Ps : foto yang kau lihat itu adalah foto saat kita pertama kali bertemu dan berbicara ditaman. Yang memotret itu bibi pengasuhku. Maaf kalau aku memotretmu diam-diam. Hehehe
With Love, Kang Yi Jun

Aku terduduk lemas setelah membaca surat dari Yi Jun. Air mataku mengalir dengan lembut di kedua sudut mataku. Hatiku terasa sesak. Nafasku seakan habis tidak tersisa.
“AKU JUGA MENCINTAIMU, KANG YI JUN !!” teriakku didalam kamar. Tangisku meluap-luap. Aku tidak sanggup menahan air mataku yang semakin deras mengalir. Ku peluk erat foto-foto kebersamaanku dengan Yi Jun yang terakhir kali.

-THE END-

 

 

2 thoughts on “[FF Competition] 2 Days

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s