[FF Competition] Diary of Love Sick

Judul : Diary of Love Sick
Tema : Romance – Monolog
————————————————***—————————————————————-
Buku harian berwarna merah muda yang terlihat cukup usang di pojok lemari kayu kamar menyita perhatianku. Aku coba mengambil dan membersihkan debu-debu yang tersisa di atasnya tanpa peduli dengan alergiku terhadap debu. Setelah ku rasa cukup bersih, ku taruh di salah satu sisi meja belajarku dan memandanginya.
Sudah berapa lama aku tidak menulis tentang keseharianku di dalam sana? Sudah berapa lama ku anggurkan dia sehingga berdebu seperti itu? Yang aku ingat hanyalah aku sengaja menyembunyikan dan melupakannya—melupakan seluruh kenangan yang tersimpan di balik buku harian itu.

Kubuka satu per satu halamannya, seolah kembali ke masa-masa sekolah menengahku dulu, kembali ke masa-masa dimana aku pernah jatuh cinta—cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku tersenyum miris membacanya, berada di dalam rasa rindu, haru, dan lucu bagaimana dulu aku bisa semelankolis ini. Meski aku masih merasa bahwa aku tetap melankolis hingga tiga tahun setelah kejadian-kejadian itu berakhir dan pada awalnya berjanji untuk tidak meresapi apa yang tertulis di dalam buku itu, aku tetap saja mengenang semua kejadian itu dan artinya aku sama saja membuka ulang luka yang sudah tertimbun di dalam hati.

Halo, selamat sore! Namaku Park Ji Eun, usiaku lima belas tahun, dan mulai hari ini aku ingin menulis segala yang terjadi pada hari-hariku. Aku akan menamai buku ini dengan nama D—diary, semoga kau tidak lelah mendengar cerita-ceritaku ya, D.

Aku masih ingat tulisan itu kutulis pada tahun pertamaku di sekolah menengah. Aku membeli buku itu sepulang sekolah di kawasan Myeongdong bersama teman-temanku. Lalu setiba di rumah, aku langsung memenuhi sekitar lima halaman buku tersebut.

Pernah mengalami jatuh cinta? Tentu setiap orang pernah kan, D? Termasuk aku. Ya, kau tahu, kehidupan remaja tak pernah lepas dari perasaan serta segala hal bernama cinta. Dan aku punya cerita yang menarik tentangnya. Cerita tersebut cukup menarik untuk kutuliskan dan kubagikan. Maka aku akan berbagi, sebisa mungkin padamu, D.

Cerita cintaku berawal dari pertemuan para ketua kelas sepuluh di aula sekolahku dan aku mewakili Si Hwan, ketua kelasku yang kebetulan tidak hadir pada hari itu. Kemudian aku bertemu dengannya, ketua kelas sepuluh a, yang waktu itu duduk di sebelahku. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku melihatnya, namun ini adalah kali pertama aku bisa memandangnya dari jarak sedekat ini. Aku meliriknya beberapa kali dan cukup kagum saat ia mengajukan pertanyaan. Dia menarik, menurutku.

Sebenarnya, aku punya beberapa kriteria khusus untuk menyebut seseorang menjadi menarik. Kriteria yang menurutku berbeda dengan opini orang-orang mengenai arti menarik. Dan lelaki yang menarik menurutku adalah lelaki yang tegas, cerdas, dan bertutur kata yang baik. Dan lelaki itu memiliki kriteria tersebut.

D, kau harus tahu bahwa setelah kejadian itu aku menjadi orang yang aneh. Aku membuka seluruh akses yang kupunya untuk mengetahuinya, mengetahui segala hal tentangnya. Setelah memiliki data yang cukup memumpuni, aku baru benar-benar yakin bahwa aku memang menyukainya, tertarik padanya, dan jatuh hati padanya.

Namanya Kang Minhyuk. Biasa dipanggil Minhyuk. Lahir pada tanggal 28 Juni pada tahun yang sama dengan tahun lahirku, 1997. Lahir di Seoul tapi sempat besar di Ilsan selama beberapa tahun. Dia anak kedua dari dua bersaudara dan memiliki satu kakak perempuan. Dia memiliki IQ yang tinggi dan melebihi rata-rata. Memiliki jenis musik kesukaan yang agak berbeda dari orang-orang seusia kami. Dia begitu menyukai Rolling Stones, Queen, dan Gun ‘n Roses. Salah satu lagu kesukaannya adalah Sweet Child O’Mine milik Gun ‘n Roses. Dia tertarik untuk bermain drum dan menyukai olahraga sepakbola dan baseball. Terakhir, dia merupakan peringkat pertama paralel di angkatanku.

Astaga, sudah kubilang bahwa aku menjadi aneh kan, D? Lihatlah, dalam beberapa minggu saja aku bisa menemukan hampir semua fakta-fakta tentangnya. Aku terlihat seperti sasaeng—ah, tidak seburuk itu juga kan, D? Yang pasti dalam beberapa minggu aku sudah berkenalan dengannya hihihi. Kau tahu, basa-basi menanyakan tugas adalah hal klasik untuk bisa dekat dengan seseorang. Astaga, aku benar-benar jadi gila.

Hmm, aku juga sudah mendapatkan nomor ponselnya. Dia langsung yang memberiku nomornya, loh. Hanya saja, aku bingung mau aku apakan nomor ini karena menurutku terlalu lucu untuk mengatakan,

“ Halo, Minhyuk-ssi. Aku Park Ji Eun dari kelas sepuluh b, kau ingat aku, bukan? Apa yang sedang kau lakukan?”

Tidak mungkin kan aku mengirimnya pesan macam itu? Dimana harga diriku sebagai perempuan?

Tidak mungkin juga aku mengirimnya pesan semacam ini,

“ Halo, Minhyuk-ssi. Aku Park Ji Eun dari kelas sepuluh b. Ingat aku, kan? Simpan nomorku ya! Siapa tahu kau perlu.”

Pada akhirnya, aku menyerah dan hanya bisa memandangi deretan nomor itu dengan tatapan cukup menyedihkan. Menunggu sebuah keajaiban akan datangnya pesan dari nomor itu. D, aku berlebihan lagi, kan?Meskipun berlebihan, dua minggu kemudian dia menghubungiku duluan dan semenjak itu kami semakin dekat.

D, kuharap ini bukan kisah cinta yang menyakitkan.

Aku menutup cerita pertama yang tertulis di buku harian itu, Si D. Sebenarnya waktu luangku masih banyak untuk sekedar menghabiskan buku itu dalam sehari. Hanya saja, aku lebih memilih menghabiskan satu cerita per harinya.

-***-

D, aku datang lagi. Semoga tidak bosan dengan ceritaku.

Patah hati? Rasanya kata itu cukup jauh dari hidupku selama lima belas tahun ini. Mungkin aku hampir tak pernah merasakannya. Hanya saja, akhir-akhir ini aku merasakannya—kupikir aku merasakannya.

Semuanya berawal dari kedekatanku dengan Minhyuk. Kami dekat, kurasa. Dia selalu mengirimku pesan setiap malam, menyapaku setiap pagi lewat pesan, kadang-kadang meneleponku, dan beberapa kali kami melakukan video-call untuk basa-basi bertanya tentang pelajaran. Tapi anehnya, semua kedekatan itu berbeda pada kenyataan setiap kami bertemu. Jangankan berbicara atau mengobrol dengannya, saling menyapa saja tidak. Pernah aku menyapanya duluan tapi dia hanya menyambutku seadanya. Pada awalnya, aku mengira semua itu hanya karena pribadinya yang cukup pendiam. Tapi, kurasa ada suatu penyebab lain dan bodohnya aku tidak berminat untuk bertanya padanya setiap kami mengobrol pada malam hari.

Hingga lama-lama aku lelah dan mencoba bertanya apa penyebab ia berperilaku seperti itu. Dan tahukah kau apa yang terjadi, D? Dia justru menutup teleponnya dan mematikan ponselnya. Membuatku tak bisa menghubunginya lewat apapun. Aku menyesal, sungguh. Hanya saja, salahkah aku bertanya padanya tentang hal itu, D?

Mengapa aku harus mencintai orang aneh seperti dia, D?

Kututup buku itu dengan senyuman mirisku. Kupejamkan mataku barang sejenak dan bayangan-bayangan itu kembali berputar dengan manis dipikiranku. Membuatku seolah benar-benar kembali ke masa-masa aku masih dekat dengannya. Aku benar-benar merindukan sosok sepertinya. Sungguh, aku merindukanmu, Minhyuk.

Halo, D. Selamat malam.

D, masihkah ingat tentang ceritaku bersama Minhyuk? Cerita bahagia yang hanya bertahan pada tahap pendekatan selama empat bulan. Tahukah kau apa yang terjadi setelah Minhyuk menutup teleponnya malam itu? Esoknya, hingga sekarang setelah sebulan kejadian itu berlalu, dia benar-benar menghilang. Dia tidak pernah menghubungiku lagi dan itu cukup membuat hatiku terasa sakit jika mengingatnya. Jangan tanya lagi bagaimana keadaan di sekolah. Tentu saja, setelah kejadian itu aku dan Minhyuk menjadi sepasang yang seolah tak pernah saling kenal. Dia sungguh mengacuhkanku.

D, tapi ada suatu rasa tak wajar yang baru kusadari tumbuh dalam hatiku. Kau tahu itu apa?

D, aku tidak mau melupakan Minhyuk. Bukan tak bisa, tapi tak mau. Entahlah, aku selalu merasa aku ingin menjaga rasa cintaku pada Minhyuk. Entah sampai kapan, aku ingin seperti itu. Wajarkah?

Aku menatap langit-langit kamarku. Merasakan luka-luka itu muncul lagi secara perlahan bersamaan dengan rasa rinduku yang membuncah. Merasakan percampuran rasa pedih dan nyeri yang mulai bermunculan dalam hatiku. Juga merasakan rasa cinta itu seolah kembali. Namun, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku membiarkan rasa itu kembali lagi? Ah, aku bahkan baru menyadari bahwa rasa itu selalu tinggal dalam hatiku—menyadari bahwa rasa itu tak pernah benar-benar pergi.

D, aku ingin bercerita lagi padamu. Mungkin ini akan menjadi yang terakhir. Sebelumnya, aku berterima kasih karena kau selalu mau mendengarkan cerita-ceritaku. Aku akan menyelesaikan ceritaku yang terakhir.

Hari ini, Minhyuk pergi. Pergi ke tempat yang jauh, katanya. Aku sendiri tidak tahu dia akan pergi kemana. Hanya, tadi pagi aku mendengarnya dari teman-temanku bahwa lelaki bernama Kang Minhyuk itu pindah sekolah. Aku juga sempat melihatnya ketika ia berjalan menuju gerbang sekolah.

Ia sama sekali tidak mengajakku berbincang atau sekedar mengucap perpisahan. Awalnya aku merasa biasa-biasa saja, namun ada satu yang baru kusadari setelah melihat bahwa aku sudah tidak bisa melihatnya dari jarak tempatku berdiri. Aku menyesal karena belum sempat mengutarakan apa yang telah kupendam selama ini. Minhyuk belum tahu bahwa aku begitu mencintainya hingga berani menyitakan waktuku sendiri untuk memikirkannya. Minhyuk belum tahu bahwa aku ingin lebih dekat dengannya. Minhyuk belum tahu bahwa aku benar-benar menginginkannya. Dan aku sendiri belum tahu apa yang Minhyuk rasakan padaku. Kini, aku bagai pecundang yang ingin berteriak bahwa aku mencintai Kang Minhyuk. Kini, aku rasanya ingin mendesak hatiku untuk segera menyatakan bahwa aku mencintai Kang Minhyuk. Dan aku tak peduli meskipun Minhyuk tidak mencintaiku. Setidaknya, Minhyuk akan tahu bahwa ada orang yang mencintainya. Setidaknya, jika aku sudah mengatakannya, aku akan punya alasan untuk menunggunya kembali.

Orang bilang, Minhyuk akan pulang suatu saat nanti. Aku akan menunggunya sampai kapanpun. Dan sampai kami akan bertemu di suatu hari nanti, hal pertama yang akan kukatakan padanya adalah, “ Minhyuk-ah, aku mencintaimu.

D, mungkin setelah ini aku tidak akan bercerita padamu hingga aku jatuh cinta lagi. Mungkin hingga aku bertemu dengan Minhyuk, atau mungkin aku benar-benar tak akan menulis lagi di buku ini. Terima kasih sudah menjadi teman ceritaku ya, D.

Park Ji Eun

Aku mengakhiri ceritaku di buku itu. Tiga tahun setelah kejadian Minhyuk pergi, aku masih tetap di Seoul menunggunya. Tak pernah sedikitpun kubiarkan hatiku terbuka untuk siapapun kecuali Minhyuk. Suatu saat, aku akan menyampaikannya dan mengubah akhir ceritaku. Suatu saat, aku akan mengubah akhir ceritaku karena aku tak ingin menjadikan kisahku hanya sebuah cerita klasik tentang lovesick.

This strange love was became a lovesick.

And I don’t want to let the lovesick become the ending.

All that I want is meet you and change my ending.

All that I believe is a lovesick isn’t my destiny.

5 thoughts on “[FF Competition] Diary of Love Sick

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s