[FF Competition] Destiny

Judul : Destiny
Genre : Romance – Happy Ending

 

DESTINY

 

Angin pantai terasa sangat indah ketika sore hari. Langit senja menambah tenang suasana pantai. Burung-burung saling bertegur sapa mengepakkan sayap. Senja yang bercermin pada air laut memantulkan cahaya yang indah. Seorang gadis berdiri di pinggir pantai, pandangannya lurus ke depan memandang gulungan ombak yang silih berganti. Gadis itu mendesah pelan mendengar suara ombak yang seperti mengejeknya. Perlahan buliran airmata turun membasahi pipinya , rasa sesak kembali menyeruak di hati. Dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Pikirannya kembali berputar kepada peristiwa itu, peristiwa dimana ia harus mengambil keputusan sebijak mungkin, keputusan yg memerlukan kesepakatan hatinya, keputusan yang harus menepis segala rasa ego.

 

-flashback-

 

1 tahun yang lalu

Gadis cantik itu duduk sembari meremas kedua tangannya untuk menahan airmatanya agar tak jatuh. Di sampingnya seorang lelaki menatap lekat ke arahnya.

“Kenapa kau memilih menyerah Park Hae Ra?” tanya lelaki itu berusaha menahan emosinya yang sudah memuncak.

“A-aku..” gadis bernama Park Hae Ra itupun terbata.

“Jawab Hae Ra..” ujar Lee Jonghyun, pria yang berada di sampingnya.

“Aku bukan menyerah, aku bukan sudah tidak mencintaimu. Aku mencintaimu sangat mencintaimu Jonghyun-ah. Tapi gadis itu jauh membutuhkanmu, dia memerlukanmu. Ibumu.. ibumu dari awal tidak menyetujui hubungan kita. Dia lebih memilih menjodohkanmu dengan gadis itu. Aku…”

“Cukup Hae Ra. Dia membutuhkanku tapi aku tidak mencintainya. Aku tidak setuju dengan perjodohan itu. Jangan memaksaku menerima itu semua, aku tidak akan melakukannya sekalipun gadis itu sakit atau tidak.” ujar Jonghyun tegas dengan semburat kesal di raut wajahnya. Hae Ra menggigit bibir bawahnya menahan suara isakanya.

 

Dia dilema, seketika dia teringat ucapan ibu Jonghyun yang menyuruhnya untuk meninggalkan Jonghyun karena ia telah dijodohkan. Hae Ra bimbang, dia terkejut, dia semakin termangu saat ibu Jonghyun menunjukkannya gadis yang akan dijodohkan dengan Jonghyun adalah seorang gadis yang divonis dokter memiliki penyakit yang mematikan. Umurnya tak lama lagi. Hae Ra tercengang melihatnya. Hatinya seakan dibolak-balik dalam sekejap. Dia sakit ya itu pasti. Tapi dia harus memilih, memilih yang sama-sama nantinya akan menyakiti orang lain. Bila ia memilih tetap bersama Jonghyun, bagaimana dengan perasaan ibu Jonghyun. Disisi lain dia juga iba pada gadis itu, gadis yang juga sama-sama mencintai Jonghyun. Tapi apakah harus dia menyerahkan Jonghyun begitu saja kepada orang lain padahal ia amatlah mencintainya?. Bila ia memilih pergi meninggalkan Jonghyun bgaimana dengan pria itu yang akan merasa tersakiti? Dan bagaimana dengan nasib cintanya? Benarkah kata orang semakin kita mencintai orang itu dengan amat sangat, semakin kita harus melepaskannya seperti halnya pasir yang digenggam terlalu erat? Dia dihimpit keadaan, keadaan yang sama sekali tidak ia inginkan.

 

“Dengarkan aku Park Hae Ra, aku telah memilihmu. Sekeras apapun batu pasti akan berlubang juga. Kita bisa meluluhkan hati ibuku.” ujar Jonghyun memegang kedua bahu Hae Ra. Hae Ra menggeleng .

“Tidak. Aku tidak ingin menyakitinya, aku tidak ingin membuat hati seorang beliau kecewa. Jangan buat ibumu kecewa. Aku tidak memiliki ibu, sedangkan kau masih memiliki seorang wanita yang luar biasa dalam hidupmu. Selama ini aku ingin membahagiakan ibuku tapi aku tidak sempat karena Tuhan telah menginginkannya kembali. Jonghyun-ah jebal bahagiakan ibumu, jangan sampai kau menyesal.” balas Hae Ra. Buliran bening kembali menggenang di pelupuk matanya.

“Dengan cara hidup bersama seseorang yang tidak aku cintai begitu? dan menyesal diakhirnya? Apa ini alasanmu menyuruhku menerima perjodohan itu? Apa ini juga alasanmu menyuruhku pergi? Apa kau tak memikirkan perasaanku Park Hae Ra?” Jonghyun menatapnya tajam tapi sarat akan luka di matanya. Hae Ra terdiam tak mampu menjawab. Dadanya seakan dijatuhi berton-ton karung batu mendengar penuturan Jong Hyun. Dia hanya mampu menangis.

“Mianhae Jonghyun-ah, jeongmal mianhae. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi aku tidak bisa meneruskan ini bila ada orang lain yang merasa tersakiti. Aku akan merasa sangat bahagia bila melihatmu bahagia. Mianhae..” lirihnya.

Jonghyun tersenyum sinis.

“Bahagia? Bagaimana bila kebahagiaanku adalah kau Park Hae Ra, apa kau akan tetap pada keputusanmu? Tidak bisakah kau lihat aku, eoh?” mata Jonghyun berubah sayu. Hae Ra diam, berperang dengan perasaan. Jonghyun menarik napasnya.

“Geurae, bila ini memang keputusanmu dan keinginanmu aku akan melakukannya. Aku akan menerima perjodohan ini. Tapi jangan pernah kau menyesal, mungkin aku akan berusaha mencintainya meskipun tak sebesar cintaku kepadamu., karena itu tak akan terganti dengan hati siapapun.” ujar Jonghyun dengan entah kemana arah mata pria itu memandang. Hae Ra mendongak kaget mendengarnya.

“Jonghyun-ah..”

“Tapi izinkan aku memelukmu kali ini.” potong Jonghyun. Hae Ra tersentak, haruskah pelukan ini akan menjadi yang terakhir. Tanpa menunggu, Jong hyun langsung memeluk gadis itu dengan erat. Dia menahan airmatanya yang mulai perih di matanya. Kemudian pria itu melepas pelukannya, dia menatap Hae Ra sayu.

“Gomawo. Saranghae, jeongmal saranghae.” ungkap Jonghyun lalu melangkah meninggalkan Hae Ra yang terisak dengan perasaan yang tak karuan.

Hae Ra gadis itu tiba-tiba melemas, kakinya seakan tidak bisa menopang tubuhnya. Dia terduduk lemas, matanya tetap memandang punggung lelaki yang mulai menjauh dari hadapannya. Dia menutup bibirnya agar tak semakin kencang suara isakannya. Ya, gadis itu menangis menghadapi kenyataan pahit yang baru ia putuskan.

“Mianhae, jeongmal mianhaeyo Jonghyun-ah. nae sarang jeongmal saranghae..” ujarnya lemah di sela-sela tangisannya.

 

-flashback end-

 

“Mianhae Jonghyun. Aku menyesal, aku memang menyesal. Mianhae , jeongmal mianhaeyo telah membuatmu tersakiti dan menyuruhmu pergi.” lirih Hae Ra, dia menatap langit yang mulai terlihat kemerahan.

“Ibu.. aku sudah salah membiarkan seseorang yang aku cintai pergi. Tapi apakah aku sudah sangat jahat ibu? Andai waktu dapat diulang kembali aku ingin mengatakannya aku tidak ingin melepasnya.” isaknya. Tidak ada orang lain, dia sendiri, ya sendiri meratapi kesepiannya selama ini.

“Kenapa waktu begitu kejam! kenapa waktu sangat memaksa! wahai laut apakah kau tahu hatiku yang seperti engkau tergulung ombak berkali-kali? Aku tidak rela, aku sungguh tidak rela! Aku ingin semuanya kembali, aku ingin semua seperti dulu! Aku masih mencintainya, aku mencintaimu Lee Jonghyun!” teriaknya, entah dia harus bagaimana lagi. Dia benar-benar lemah saat ini. Dia memandang laut dengan nanar. Dia memegangi dadanya yang begitu sakit, isakannya semakin menjadi.

“Tidak ada orang yang tidak menyesal Park Hae Ra.” ujar seseorang yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Gadis itu terkejut, suara itu.. suara lembut itu yang selalu ia rindukan. Suara yang memabuatnya tenang, suara yang selalu ingin ia dengar setiap harinya. Dia berbalik menatap pria yang tengah berdiri di depannya yang hanya berjarak 3 meter darinya, Lee Jonghyun. Ini seperti mimpi bagi Hae Ra. Dia diam tanpa mengerjapkan mata memandang lelaki yang sudah satu tahun ini tak ia temui.

Perlahan lelaki itu mendekat ke arahnya. Hae Ra terdiam, lidahnya kelu untuk berucap. Pria itu tersenyum tipis ke arahnya.

“bagaimana kabarmu , Hae Ra?” tanyanya yang seperti sindiran. Hae Ra tak menjawab. Namun entah setan darimana yang membuat Hae Ra tiba-tiba memeluk Jong Hyun, pria yang berada di hadapannya, pria yang masih sangat dicintainya dan pria yg sangat dirindukannya.

Gadis itu memeluknya erat seolah tidak ingin melepasnya. Merasakan betapa rindunya ia kepada Jonghyun, pria yang sudah mengambil sebagian ruang hati dan cintanya. Jonghyun memejamkan matanya meresapi semuanya. Dia ikut mendekap gadisnya ini dengan erat, menyalurkan rasa rindunya selama ini. Dia dapat merasakan betapa kesepiannya gadisnya ini. Karena ia tahu ini bukanlah keinginan gadisnya juga dirinya dalam keadaan yang lalu.

“Mianhae, mianhae Jonghyun-ah” ujar Hae Ra setelah sekian lama diam. Bibirnya bergetar mengatakannya. Dia menangis.

“Mianhae..” ujarnya lagi seakan tidak cukup dengan dua kalimat. Jonghyun semakin mengeratkan pelukannya pada gadis ini.

“sekarang kau tidak perlu menyesal, hentikan tangisanmu itu. Aku akan selalu berada disisimu. Tiada lagi yang dapat memisahkan kita.”

“gadis itu? bagaimana dengan gadis itu?” Hae Ra melepaskan pelukannya. Seketika raut wajah Jonghyun berubah.

“apakah yang kau maksud itu gadis yang aku nikahi?” Hae Ra mengangguk pelan.

“tepat sehari sesudah pernikahan itu, dia menghembuskan nafas terakhirnya.” Jonghyun menarik nafas dalam-dalam. Hae Ra menyentuh pipi Jonghyun dan mencoba menatap mata sang pujaan hatinya itu dengan sangat dalam.

“setidaknya kau telah membuat detik-detik terakhir kebahagiaan di hidupnya.”

“dan setidaknya, aku ingin kau menikah denganku.” Ucap Jong Hyun tiba-tiba. Hae Ra tersentak kaget mendengarnya.

“Ibumu tidak mungkin mengijinkan kita untuk menikah, Jonghyun-ah…” Hae Ra menggelengkan kepalanya.

Tiba-tiba handphone Jonghyun berdering, pertanda sebuah panggilan masuk.

“yeoboseyo?”

“ne, aku akan segera kesana.” Jonghyun menutup panggilannya dan menyimpan handphone ke kantung belakang celananya.

“Hae Ra, ibuku ingin bertemu denganmu.” Jonghyun berkata. Hae Ra kebingungan.

“ada apa? Apakah itu benar-benar penting?” Hae Ra bertanya.

“mungkin saja ini penting, kita akan pergi kerumah sakit sekarang.” Jonghyun segera menarik tangan Hae Ra dan pergi dari tempat itu.

“kenapa kita pergi kerumah sakit?” Hae Ra kembali bertanya.

“ibuku sedang sakit.” Jawab Jonghyun dengan singkat.

 

***

 

“ibu…” Jonghyun memegang jari jemari ibunya yang terbaring lemah. Kedua mata ibu Jonghyun perlahan-lahan terbuka. Dengan sekuatnya dia berusaha mencari oksigen untuk membantu pernapasannya yang sudah tersengal-sengal. Banyak sekali selang-selang medis yang berada didekat ibu Jonghyun. Ibu Jonghyun benar-benar sedang sakit parah.

“Jonghyun-ah, kau sudah datang. Apakah kau bersama Hae Ra?” ucap ibu Jonghyun dengan terbata-bata.

“iya, bu… kenapa ibu bisa mengetahui Hae Ra bersamaku?” Jonghyun menarik tangan Hae Ra agar duduk didekatnya.

“ibu tahu. Naluri ibu mengatakan kalau suatu saat, entah itu kapan. Kau akan kembali kepada Hae Ra.” Ibu Jonghyun menarik nafas panjang. Jonghyun semakin erat memegang tangan ibunya.

“maksudmu apa, bu?”

“maafkan ibu. Ibu telah memutuskan hubungan kalian. Ibu terlalu egois sehingga tidak memperdulikan tentang perasaan kalian lagi. Hidup kalian adalah takdir. Takdir yang tidak seharusnya ibu pisahkan. Jika boleh, ibu ingin menebus kesalahan ibu kepada kalian.” Ibu Jonghyun semakin lemah. Hae Ra dan Jonghyun berusaha untuk tidak menangis, meskipun air mata sudah diujung mata dan akan siap meluncur pelan kapan saja.

“ibu tidak salah. Ibu berhak bersikap seperti itu karena ibu adalah ibu Jonghyun. Ibu juga berhak mengatur hidupnya. Aku tidak mau Jonghyun kehilangan ibu yang hebat seperti anda. Aku sendiri tidak mempunyai keluarga. Aku tahu rasanya tidak mempunyai keluarga.” Hae Ra ikut memegang tangan ibu Jonghyun.

Mendengar kata-kata Hae Ra membuat ibu Jonghyun tak kuasa untuk menahan tangisannya.

“ibu ingin kalian menikah. Ibu tidak bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang jika kalian hidup terpisah. Ibu ingin kalian bersama. Bersama hingga maut memisahkan.”

“apakah ibu benar-benar akan mengijinkan kami untuk menikah?” Jonghyun seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ibunya katakan.

“iya, ibu ingin kalian menikah. Jika ibu masih diberikan waktu lebih lama lagi, ibu ingin turut menyaksikan pernikahan kalian.”

“ibu, jangan bicara seperti itu. ibu akan segera sembuh. Tentu saja ibu akan ikut hadir dalam pernikahan kami nantinya.”

“waktu ibu sudah tidak lama lagi, Jonghyun-ah. Ibu sudah tidak kuat seperti ini.” Kondisi ibu Jonghyun mulai menunjukkan kritis.

“tidak, tidak! Ibu akan tetap melihat pernikahan kami. Ibu tunggu sebentar. Ibu tolonglah. Kuatkan fisikmu, bu.” Jonghyun mulai menangis. Hae Ra pun tidak bisa menahan buliran air matanya yang mengalir di sudut mata.

Jonghyun berlari keluar dari kamar. Tinggal Hae Ra yang menjaga ibu Jonghyun.

“Hae Ra-ah…”

“iya, bu? bertahanlah, bu. anda adalah ibu yang tangguh. Bertahanlah untuk Jonghyun.” Hae Ra menggenggam erat tangan ibu Jonghyun.

“ibu ingin kau menjaga Jonghyun dengan baik. Jangan biarkan dia sedih. Bahagiakanlah dia.” Tiba-tiba Jonghyun datang kembali. Tapi dia tidak sendiri, dia bersama seorang pendeta.

“ibu!! Sekarang kau bisa melihat pernikahanku dengan Hae Ra. Bertahanlah!”

“pak pendeta, tolonglah. Nikahkan kami sekarang juga.” Desak Jonghyun ke pendeta itu.

“baiklah.” Jawab pendeta. Acara pernikahan itu berlangsung sederhana sekaligus mengharukan. Tampak senyum ibu Jonghyun mengembang dibibirnya. Jonghyun dan Hae Ra pun bahagia, tapi masih ada raut cemas dihati mereka masing-masing tentang kondisi ibu Jonghyun.

“Jonghyun-ah… terima kasih kau sudah mengijinkan ibu melihat pernikahan kalian. Maaf kalian menikah seperti ini. Ibu ingin menjadikan hari ini adalah kenangan terbaik dalam hidup ibu. Berbahagialah selamanya. Jangan saling menyakiti. Mungkin waktu ibu sudah sampai disini. Terima kasih, chagiya…” perlahan-lahan mata ibu Jonghyun tertutup. Nafas terakhirnya telah ia hembuskan. Kini dia tertidur untuk selamanya. Jonghyun tidak sanggup melihat ibunya pergi. Ia memeluk Hae Ra. Hae Ra mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang dicintai. Apalagi ini adalah ibu kandung sendiri. Tentu akan terasa sangat menyakitkan bagi Jonghyun.

“Jonghyun-ah, sekarang kau sudah memiliki aku. Jangan sedih. Kita akan menjalani hidup baru kita dengan bahagia. Ibumu telah memberikan sebuah amanat yang besar untukku menjagamu hingga nafas terakhirku. Aku akan berusaha menjadi seorang istri yang baik, yang selalu melayani suaminya hingga tua nanti.” Hae Ra mencoba menghibur Jonghyun.

“terima kasih, Hae Ra. Aku juga akan menjadi seorang suami yang baik, yang selalu melayani istrinya hingga tua nanti. Akan ku jaga pernikahan kita ini hingga maut memisahkan. Kau adalah hidupku. You are my destiny, Park Hae Ra.” Balas Jonghyun. Hae Ra tersenyum mendengar kata-kata Jonghyun. Jonghyun pun menarik Hae Ra kepelukannya.

 

-THE END-

 

 

3 thoughts on “[FF Competition] Destiny

  1. mengharu biru awalnya, aku pikir bakal sad ending ternyata happy ending..
    bagus ceritanya, apalagi pas ibu jonghyun meninggal dan jonghyun menikah di hadapan ibunya, bikin nyesek.
    keren ceritanya, keep fighting! terus berkarya😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s