[FF Competition] Without You

Judul              : Without You

Genre             : Romance_Monolog

 

Seseorang berjalan perlahan menuju tempat tidurku yang selama ini menjadi tempat perawatanku selama ini. Di sini, dikamar pasien inilah aku selalu melihatnya tersenyum. Senyum yang selalu menemani hari-hariku hingga kulitku menjadi keriput, hingga rambutku berubah warna menjadi putih, hingga bernafas saja terkadang aku harus memakai alat bantu. Setiap malam, ia selalu menyelimutiku. Dengan sabar, ia mendengarkan setiap keluhanku yang sebenarnya tidak penting baginya. Dengan lembut, ia selalu mengusap rambutku ketika aku sulit memejamkan mata. Dan tanpa kata, ia selalu menyelimutiku saat udara dingin membuat tubuhku menggigil. Dengan perlahan, ia memelukku erat saat petir membuat tidurku gelisah dimalam hari.

Dan ketika seseorang itu mematikan lampu yang menerangi kamarku, terlihat sinar bulan menerobos jendela dan menerangi tidurku yang hampa, disaat itulah aku merasakan rindu yang teramat dalam, aku merindukanmu, sungguh. Aku mendengar suaramu yang lembut berbisik di telingaku, “selamat malam”, itulah kata yang selalu kau ucapkan ketika malam mulai menyambut. Kalimat itu terdengar kembali, suara itu, suaramu, benar kan? Jika memang itu suaramu, jangan pernah sekalipun meninggalkanku lagi.

Sekarang, aku melihat senyummu, senyum indahmu yang selalu membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Senyummu, mampu membuatku merasa sempurna karena hanya aku satu-satunya yang berhak atas senyum itu. Jika benar yang kulihat ini adalah senyummu, kumohon, jangan pernah pergi lagi.

Sinar rembulan yang menerobos jendela kamar ini membantuku untuk melihat senyum itu. Dan disitu… Aku melihatmu…

“Dee…” Kau memanggil namaku dengan lembut, suara yang sangat kurindukan.

Aku ingin menjawabnya, tapi lidahku beku, terlalu sulit untukku mengatakan bahkan hanya untuk satu kata.

Kapan kau datang?

Kenapa kau baru datang?

Tidakkah kau tahu aku merindukanmu?

Sangat merindukanmu…

Jika aku memiliki energi yang melimpah, mungkin aku akan berlari ke arahmu, memelukmu erat, menangis disana untuk mencari kedamaian.

Kau tahu itu, ya, kau mengetahuinya persis, bahwa aku merindukanmu, merindukanmu terlalu dalam hingga dadaku terasa sakit, nyeri, bahkan menjalar ke seluruh tubuhku. Rasa nyeri ini membuatku ingin menangis. Tidak, bukan lagi ingin, aku memang sudah menangis sekarang. Kau melihatku kan? Bahkan untuk menyeka tangisku yang menetes dan membasahi bantal sekalipun aku tak mampu.

Di sini, di dada ini, aku ingin membelahnya dan membuang sesuatu yang menusuk disana. Sakit, kau tahu sesakit apa itu? Sakit ini meninggalkan luka, luka yang sangat dalam, bukan hanya berdarah, tapi juga bernanah.

Apakah kau tahu, yang kurasakan ini karena aku telalu merindukanmu? Kang Minhyuk.

Aku teringat saat pertama kali kita bertemu. Saat aku berjalan menuju rumah sewa-ku sewaktu aku pulang dari kampus. Aku melihatmu bersembunyi di suatu gang. Kau melihatku dengan ekspresi takut yang terpahat jelas di wajah tampanmu, kau mengira aku adalah seorang wartawan. Tapi aku hanya tersenyum, aku tidak mengenalmu, bahkan aku tidak mengetahui bahwa kau adalah seorang drummer dari band terkenal di Korea. Dan ketika aku hanya tersenyum melewatimu, kau mengikutiku dari belakang.

“Apa yang kau lakukan?” Itulah kalimat pertamaku saat berbicara denganmu.

Dan kau menjawab dengan ragu, “aku harus bersembunyi.” Saat itulah aku mengetahui bahwa kau memang orang terkenal.

Pertemuan berikutnya saat kau mengisi acara di kampus tempatku menggali ilmu. Aku melihatmu, dengan pesonamu dalam memainkan drum, memaksaku untuk mencari tempat paling depan agar kau tahu bahwa aku melihatmu. Tapi ternyata, tanpa aku harus bersusah payah mencari tempat paling depan, kau sudah melihatku, tersenyum padaku dan melambaikan tanganmu.

Tahukah kau, saat itu jantungku berdegup sangat kencang?

Dan usai performamu, entah bagaimana kau bisa melakukannya, kau menghampiriku padahal semua fansmu berteriak dan mengejarmu. Di situlah, aku merasa aku adalah wanita paling beruntung di dunia.

Pertemuan berikutnya berlanjut saat kau memiliki waktu luang untuk menemuiku. Apakah kau ingat saat aku kembali ke negaraku? Dengan kalut kau mencari dan menemuiku di Indonesia. Awalnya aku terkejut, sungguh. Kau datang dengan tiba-tiba, membuatku sulit mempercayai pada apa yang telah kulihat. Kau berdiri di ambang pintu rumahku, tersenyum padaku. Senyum itu, senyum yang mampu membuatku tak menyadari dimana aku berdiri. Dan saat itulah, aku sadar, aku sedang melihatmu. Hanya melihatmu…

Kau membawaku ke suatu tempat, tempat itu sangat indah, bahkan aku sebagai warga yang merasa memilik Negara ini tidak mengetahui jika ada tempat seindah ini. Kerlip lampu kota terlihat begitu mempesona, gedung tinggi ini membuatku bisa melihat pemandangan yang tidak pernah kulihat. Aku menyukainya, sungguh. Dan saat itulah, kau memintaku untuk selalu mendampingimu apapun keadaanmu. Ketika kau menginginkan aku menjadi ibu dari anak-anakmu, saat itulah, aku tidak pernah merasa seyakin itu.

Kau melindungiku dari semua berita buruk tentang kita.

Kau menemaniku saat aku merasa sendirian di Negara asing.

Kau membuatku sadar, betapa indahnya duniaku.

Apakah kau ingat? Lonceng gereja menjadi saksi saat kau mengatakannya dengan lantang, “I Do…” Satu kalimat singkat yang bagiku sudah mewakili semuanya. Kau menatapku penuh arti, hingga sulit lidahku untuk bergerak, terlalu kelu untuk berkata. Aku melihatmu, tapi wajahmu terlihat samar karena tertutupi oleh air yang memenuhi mataku dan siap untuk menetes. Kau menghapusnya dan dengan lembut mengecup lembut bibirku. Tidakkah kau dengar suara jantungku yang menggebu saat itu?

Dan kini, aku hanya bisa mengingatnya, mengingat setiap moment yang kau habiskan untukku. Hingga akhirnya kau pergi meninggalkanku. Aku yakin kau melihatku saat itu, melihatku yang sulit berjalan lurus saat mengantar abu jenazahmu ke rumah pemakaman. Aku memberikan satu foto kita bersama Mino, putra kita yang kini sudah menjadi manusia dewasa yang membanggakanku, membanggakan kita. Aku memberikannya untuk menemanimu disana. Aku mencoba bahagia sebisaku, karena memang kau yang memintanya sebelum penyakit itu menggerogoti tubuhmu.

Kau tahu? Doa yang selalu kupanjatkan adalah agar aku dipertemukan lagi denganmu di kehidupan yang akan datang. Dan ketika itu terjadi, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku lagi.

Saat ini, aku tersenyum, karena kau ada disini sekarang. Melihatku dengan tatapan ceriamu seperti setiap kali aku mengetahui kau berbuat kesalahan. Seperti anak kecil yang sedang ketahuan berbohong, ya, seperti itulah dirimu. Kau tahu itu kan?

Dimanapun kau berada sekarang, kumohon bawa aku bersamamu. Terlalu hampa, terlalu sakit saat aku menyadari bahwa kau tidak ada disampingku yang selalu menatapku penuh gairah. Jangan pernah bosan jika aku mengatakan bahwa aku merindukanmu, karena itu benar. Aku sangat merindukanmu.

Setiap malam, aku menangis karena dirimu, tidakkah kau merasa bersalah karena itu? Aku tertidur bukan karena aku mengantuk, tapi karena terlalu lelah untuk menangis. Tapi aku berusaha untuk bahagia, demi Tuhan. Sayangnya hatiku sulit untuk dipengaruhi. Seandainya hatiku adalah mesin yang bisa diperintah, aku pasti akan mensyukurinya.

Minhyuk-ah..

Disini, aku benar-benar merasakan kehadiranmu. Benarkah ini dirimu? Jangan pernah menghilang lagi. Kumohon jangan meninggalkanku lagi… Jebal…

Aku tidak bisa berkata apapun, ini adalah hatiku yang berbicara. Kumohon bantu aku untuk bisa mengatakan semua hal yang ingin kukatakan. Terutama satu kalimat yang terpenting dalam hidupku saat aku bersamamu. Maafkan aku jika aku jarang mengatakannya padamu selama ini. Dan aku menyesalinya. Seharusnya aku menunjukkan semuanya saat kita masih bersama. Maafkan aku… Maafkan aku…

Sekarang, aku akan mengatakannya dengan lantang, selantang ketika kau mengatakan kau bersedia saat pendeta menjadi saksi pernikahan kita.

“Aku… Sangat mencintaimu… Kang Minhyuk…”

“Aku juga sangat mencintaimu, Dee…” Aku tersenyum mendengarnya, terlebih kau bertanya padaku yang jelas-jelas terdengar oleh sepasang telinga tuli. “Apa kau merindukanku?”

Ya… Ya… aku merindukanmu, sangat merindukanmu, terlalu merindukanmu…

Dan saat itulah, ia meraih tanganku, membawaku melangkah ke tempat yang lebih terang dari sinar rembulan yang menerobos melalui jendela kamar ini. Ia membawaku ke kedamaian. Selama itu bersamanya, semua akan baik-baik saja…

—- 0 —-

Mino membuka pintu kamar inap ibunya dan keluar dari kamar itu bersama seorang suster yang menepuk pundaknya perlahan. Dengan tangan gemetar ia memegang ponsel yang sedari tadi digenggamnya, mencari nomor yang akan ia hubungi. Dan ketika suara wanita terdengar di seberang telepon. Ia menangis..

“Yeobo… Uri eomma… Telah pergi…”

 

END

4 thoughts on “[FF Competition] Without You

  1. iya mereka pasti bakal bahagia di dunia sana T_T
    ini ff emang author dean banget dah! keren keren… sampe merinding dibuatnya…
    buat mino, yg sabar ya… doain ma2h pa2h mu bahagia di dunia sana…😥

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s