[FF Competition] Craving Love

Judul   : Craving Love

Genre  : Romance – Sad Ending

 

 

‘Yang mengherankan adalah; ia tahu bahwa kopi itu pahit. Namun ia tidak bisa untuk berhenti meminumnya’

 

Jonghyun melipat surat kabar, meletakkannya pada kursi kosong kemudian mengambil secangkir kopi hangat dari atas meja. Dihirupnya aroma khas kopi Costa Rica kegemarannya sebelum menyeruputnya pelan. Rasa manis dan asam yang menyenangkan segera melebur di dalam mulutnya namun lama kelamaan tergantikan oleh rasa pahit yang pekat.

Rasa pahit khas kopi.

.

.

Pukul 4 sore setiap hari Jumat, seperti biasa ia akan duduk seorang diri di dalam cafe di salah satu sudut kota Seoul. Ia bukannya berniat menghabiskan waktu sorenya sambil memperhatikan jalanan kota Seoul yang padat sepulang kerja atau menikmati awal dari akhir minggu panjang yang menyenangkan seperti orang-orang di dalam cafe. Ia hanya menunggu seseorang, memenuhi janji yang setiap minggu biasa ia lakukan.

Pandangannya ia edarkan ke setiap sudut cafe. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tiga tahun sudah ia menjadi pelanggan tetap cafe ini, tiga tahun juga ia telah menjadi pecandu kopi, dan berarti tiga tahun juga hubungannya dengan wanita itu telah berjalan. Ia tidak mengira akan bertahan selama ini. Cukup lama, untuk sebuah hubungan seperti itu.

Bertemu satu kali setiap minggu, sebelum akhir pekan di cafe ini. Dilanjutkan dengan berjalan-jalan di tepi sungai Han sambil bergandengan tangan, atau menonton film comedy-romantis di bioskop bawah tanah atau mengobrol di sebuah taman kecil di pinggir kota. Untuk sebuah alasan, mereka tidak pernah pergi ke Myeongdong atau Dongdaemun atau bahkan ke Namsan Tower hanya untuk melihat langit malam bersama.

Walau begitu, mereka berusaha bersikap bahagia sambil menceritakan hal-hal menarik yang mereka lewati selama satu pekan terakhir; tentang bagaimana presentasi projectnya yang berjalan sukses, atasannya yang otoriter dan selalu membuatnya frustasi hingga harus kerja lembur seharian, dan juga menceritakan rencana-rencana yang akan mereka lakukan untuk satu minggu berikutnya. Dan semua berakhir dengan sebuah kecupan ringan di persimpangan jalan yang berjarak dua blok dari rumahnya. Dan hanya dengan begitu, ia merasa puas. Satu pekannya telah terasa lengkap.

Seperti itulah hubungannya selama tiga tahun. Begitu kaku dan tidak pernah berubah. Dan ia tidak pernah mengeluh. Tidak, jika ia bisa bahagia dengan cara seperti itu.

.

.

Jonghyun merebahkan tubuhnya pada punggung kursi sambil memperhatikan keadaan di luar dari balik kaca. Guguran daun maple yang berwarna kuning kecoklatan serta tiupan angin di pertengahan musim gugur membuatnya betah berlama-lama menyaksikan keadaan di luar.

Sepasang muda-mudi yang tengah berjalan sambil berangkulan di pinggir jalan menarik perhatiannya. Jonghyun terkekeh. Percintaan remaja, pikirnya geli. Begitu ringan dan sederhana. Namun sesuatu yang begitu absurd baginya. Padahal ia baru saja menginjak angka 24 pada tahun ini –masih terhitung remaja akhir-. Namun ia tidak pernah merasakan pengalaman seperti remaja-remaja pada umumnya. Jika boleh jujur, ia merasa sedikit iri. Lihatlah bagaimana mereka tertawa, saling memandang dan berangkulan tanpa sedikitpun rasa takut menghantui mereka.

‘Mereka sama sekali belum merasakan pahitnya kopi’

Ia merasa menjadi 30 tahun lebih tua ketika mengucapkan kalimat itu. Namun itulah fakta. Dan banyak orang yang belum pernah benar-benar merasakannya.

.

.

Setelah puas mengobservasi sepasang muda-mudi tadi, Jonghyun melirik jam tangannya. Sudah pukul setengah lima, dan dia belum juga tiba.

Khawatir, ia pun mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi wanita itu untuk mengetahui keberadaannya. Namun gerakannya terhenti begitu teringat akan ucapan wanita itu satu minggu yang lalu.

Jangan menghubungiku dulu. Jong Woon mulai curiga”

Dengan helaan napas panjang, ia putuskan untuk mengurungkan niatnya. Ia akan menunggu seperti biasa, tanpa mencoba menghubunginya; bukan karena ia tidak peduli atau pengecut namun karena ia percaya padanya.

.

.

Ia teringat bagaimana pertemuan pertamanya dengan wanita itu. Mereka pertama kali bertemu di cafe ini, tiga tahun yang lalu. Jonghyun juga tidak mengerti bagaimana semua bisa terjadi, tapi yang pasti ia begitu yakin sejak pertama kali melihatnya; bahwa ialah satu-satunya. Ialah orang yang akan membuatnya bahagia.

Awalnya ia tidak mengira semua akan menjadi sesulit ini. Di satu sisi, wanita itu bagai candu baginya. Melihatnya membuatnya bahagia, dan bersamanya membuat hidupnya terasa benar. Bagaimanapun caranya, ia tidak bisa meninggalkan wanita itu. Wanita itu terlalu berarti baginya dan bagi keseimbangan hidupnya. Namun di sisi lain, hubungan mereka benar-benar rumit. Begitu jauh berbeda dari percintaan sederhana sepasang muda-mudi di pinggir jalan tadi. Dan ia sangat paham, mereka tidak akan pernah bisa seperti itu.

Jonghyun kembali menyeruput kopinya di atas meja. Ia mengernyitkan dahi. “Pahit” gumamnya pelan sambil menjauhkan bibir cangkir dari mulutnya.

Ia masih juga merasa tidak terbiasa dengan rasa pahit kopi yang masih tetap tertinggal di langit-langit mulutnya. Ia tidak pernah mengerti, padahal terhitung sudah tiga tahun semenjak ia menjadi pecandu kopi.

Sesempurna apa pun kopi yang dibuat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin disembunyikan.

Dengan sedikit harapan, ia akhirnya menambahkan tiga balok gula berwarna kecoklatan sekaligus ke dalam cangkir kemudian mengaduknya agar ikut terlarut. Berharap dengan begitu rasa pahit dari kopi perlahan-lahan menghilang dan digantikan oleh rasa manis dari gula yang baru saja ia celupkan.

.

.

Detik demi detik ia lalui dalam keheningan yang makin menusuk. Cahaya matahari perlahan-lahan tenggelam di garis cakrawala, digantikan oleh cahaya redup dari lampu-lampu yang berderet rapi di sisi jalan. Sudah lebih dari dua jam ia duduk menunggu. Namun wanita itu tak kunjung tiba. Dan entah kenapa, perasaan takut tiba-tiba saja merayapi tubuhnya.

Jonghyun menatap ponselnya ragu. Menimbang kembali untuk menghubungi wanita itu. Tidak biasanya ia ingkar janji seperti ini. Itu tidak seperti dirinya. Namun keinginannya kembali ia urungkan. Tidak! Ia harus bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Menghubungi wanita itu sama saja memberikan masalah besar padanya. Dan ia tidak ingin itu terjadi.

Jonghyun sadar betapa menyedihkannya ia saat ini. ‘Si bodoh yang bahagia’; itulah cara ia menyebut dirinya sendiri. Ia sudah terbiasa untuk menjadi bukan yang prioritas. Keadaan seperti ini sudah sering ia alami; menunggu tanpa kabar, cemburu tanpa bisa ia tunjukkan, dan menahan segala keinginannya untuk dapat terus bersama wanita itu.

Jika ia mau, bisa saja ia memutuskan hubungan dengan wanita itu dan keluar dari semua masalah pelik ini. Ia lelaki sempurna, semua orang tahu itu. Ia tampan, pandai, berkharisma, karirnya cemerlang, mapan di usianya yang semuda itu, dan tentu saja semua gadis di kantornya bisa dipastikan terpesona olehnya. Ia bisa saja memilih satu dari puluhan gadis dan lalu berkencan dengannya.

Ya, ia bisa saja melakukan itu, jika saja hatinya tidak terlanjur terpaut pada wanita itu.

Ia dan wanita itu sama-sama paham. Mereka sudah cukup dewasa untuk mengetahui posisi hubungan mereka. Karena itulah sejak awal wanita itu menolak melakukan semua ini. Ia wanita baik; Jonghyun tahu benar itu. Type wanita polos yang penurut dan tidak pembangkang. Ia menolak mentah-mentah ajakan Jonghyun untuk memulai hubungan ini dengan segudang alasan yang ia lontarkan satu per satu. Namun bukan Jonghyun namanya jika tidak dapat meyakinkan wanita itu. Ia yang meyakinkannya dan ia juga yang menjamin bahwa semua akan baik-baik saja.

Egois? Mungkin benar bahwa ia egois. Ia tidak peduli pada keadaan yang mengikat mereka. Selama ia bisa bahagia, maka ia akan melakukannya. Tanpa mempedulikan kondisi hatinya ataupun semua pendapat orang lain di sekitar mereka.

Namun lama kelamaan Jonghyun sadar, hubungan ini semakin berat dan semakin pahit; baik bagi dirinya ataupun bagi wanita itu. Semua hubungan pasti ada risikonya. Dan masa depan hubungannyalah yang ia jadikan risiko. Masa depannya dengan wanita itu terlihat buram. Samar-samar dan bahkan mulai tidak tampak.

Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menunggu. Menunggu sesuatu yang tidak pasti dengan berselimutkan tameng kepercayaan yang tidak cukup kokoh yang ia miliki.

.

.

Kopi di atas meja kini telah menjadi dingin. Kepulan asap putih telah lama menghilang dan tidak lagi terlihat menarik. Jonghyun duduk mematung di atas kursi. Suara detak jarum jam membuat pori-porinya mengembang membentuk lubang dingin dalam tubuhnya. Membuat tubuhnya menggigil tanpa alasan.

Setengah isi cafe telah kosong. Hanya terlihat beberapa meja yang terisi oleh pasangan yang tengah menikmati malam musim gugur dengan segelas kopi hangat dan sepotong blueberry cheese cake. Lagu yang diputar pada piringan hitam pun telah berubah menjadi lagu jazz bertempo lambat yang mengalun lembut di seluruh sudut cafe, namun entah kenapa terasa seperti sayatan-sayatan kecil di dalam tubuhnya.

Jonghyun kembali melirik jam tangan dan mendesah pelan. Dengan sedikit harapan, ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi wanita itu lagi. Persetan dengan segala larangan dan segala rasa percayanya yang sejak tadi telah ia bakar menjadi abu.

Kenapa kau menghubungiku?” itulah kalimat pertama yang ia terima begitu berhasil menghubungi wanita itu.

Jonghyun terdiam. Suara napasnya terdengar berat, namun tertutup oleh suara isakan wanita itu di ujung telepon.

Jjong, ku mohon jangan menghubungiku lagi. Aku menyanyangi keluargaku, Jjong. Aku menghormati suamiku dan mencintai anakku. Semua sudah berakhir -kau dan aku-. Kita tidak akan pernah bisa bersama. Ku mohon berhentilah menghubungiku. Biarkan aku menebus dosaku dan berbahagia tanpamu. Maafkan aku, Jjong. Maafkan aku”.

Dan sambungan telepon diputus secara sepihak, meninggalkan ia yang masih terdiam terpaku tanpa bisa berucap sepatah katapun. Jonghyun menatap gelas kopi di hadapannya. Matanya kosong dan wajahnya lusuh. Tubuhnya hancur sampai ke tulang.

Inikah ujungnya?

Seperti inikah akhirnya?

Lalu tiba-tiba sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum simpul pada wajah tirusnya yang hampir sepucat mayat hidup. Suara serak yang berat keluar dari balik mulutnya memecahkan keheningan yang menggeranyangi tiap sudut bilik kosong dalam dirinya.

Tawanya makin menguat, seiring dengan jatuhnya bulir-bulir yang turun dan meluncur mulus di atas permukaan kulitnya. Dadanya kembang kempis, bahu lebarnya berguncang kuat seirama dengan alunan tangis pilu yang bersenandung dari mulutnya.

Jonghyun tertawa. Menertawakan dirinya, dan menertawakan kebodohannya selama tiga tahun terakhir.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kau bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kau harus membiarkannya pergi.

Ia melihat pantulan dirinya pada kaca jendela yang mulai berembun. Bayangan itu terlihat mengenaskan, dengan sisa-sisa kebahagian yang perlahan mulai menghilang.

.

.

Jonghyun meraih cangkir kopi di atas meja dan menghabiskannya dalam satu tarikan napas.

Kopi terakhirnya di hari ini, terasa pahit dan penuh ampas. Seperti hubungannya yang berakhir menyedihkan, tanpa harapan dan masa depan.

Jika saja sejak awal ia tidak pernah menyicipi kopi, mungkin ia tidak akan pernah tahu bagaimana rasa pahitnya

 

-FIN-

8 thoughts on “[FF Competition] Craving Love

  1. Sedih asli sedih. Kenapa sih kalau jong hyun sad ending…huuuuu walaupun dia dingin tapi kan tampan dan pintar. Dia romantis juga kan. Thor please bikin yg romantis happy ending buat jong hyun…trus adakah lanjutannya love in cheongdamdongnya? Apa sudah end?

  2. Smg Jonghyun nya nanti ketemu dengan wanita baru yg baik dan masih lajang..amiin
    Menyentuh+pelajaran hidup banget itu thor😥
    nice story,terimakasih utk bacaan menariknya,semangat terus ya thor🙂

  3. jonghyun ku yg malang..
    kemarilah.. lebih baik kau bersamaku.. kita pasti bahagia..😀

    daebakk chingu.. keren..😉

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s