[FF Competition] DANCING IN THE RAIN

Judul FF          : DANCING IN THE RAIN

GENRE           : Romance – Happy Ending

Menjadi temannya selama bertahun-tahun membuatku hafal semua tingkah lakunya. Bagaimana tidak? Kami berteman sejak kami masih sama-sama menggunakan popok dan memiliki dua gigi depan. Dan, yah, mungkin aku harus puas dengan predikat ku sebagai teman baiknya yang harus siap mendengarkan kisah cinta nya yang selalu berujung sial. Maaf, tapi aku ingin sekali terbahak-bahak mengingat nasib sial percintaannya. Oke, mungkin ini agak sedikit keterlaluan tapi oh, come on, Kang Minhyuk. Kau adalah manusia ter-absurd yang pernah kutemui.

Well, pernahkah kau mendengar bahwa sahabat berbagi semua hal? Senang, sedih, kecewa, putus asa, semuanya. Terakhir kali aku cek, sahabat tidak menyembunyikan rahasia apapun terhadap satu sama lain. Tapi, untuk satu hal yang terakhir itu, aku tidak bisa menjamin bahwa aku akan sepenuhnya terbuka tentang semua hal. Bukan karena aku merasa tidak aman untuk berbagi rahasia dengannya, tapi karena aku memutuskan untuk menelan kembali harapanku yang sejak awal ku gantungkan padamu―si bodoh cinta pertamaku.

Dan bukankah aku terikat pada janji kami untuk menjaga persahabatan ini apapun yang terjadi? Janji yang kami buat saat kami berada di Junior High School musim panas itu. Kau tidak akan pernah tahu seberapa besar dan seberapa lelah aku menyimpan rahasiaku ini sendirian, demi nama persahabatan.

“Yya!! Jung Ha Na!!” Suara si bodoh itu terdengar memekakkan telinga. Wajah letihnya menyapa penglihatanku tepat setelah si empunya berteriak memanggil namaku.

“Tidak perlu berteriak begitu, aku tidak tuli!!” Oke, mungkin ini adalah semacam perlindungan diri karena begitu terkejut dengan kedatangannya.

Kau tahu? Barusan aku menulis semua perasaanku di buku diary―satu-satunya yang bisa kupercaya untuk menjaga rahasiaku yang kusembunyikan dari si bodoh bernama Kang Minhyuk ini. Buku hard-cover yang bergambar London Eye dan berbagai stempel postcard. Ya, London, kota impianku. Buku diary yang langsung ku sembunyikan dengan asal melemparnya ke dalam tasku, takut jika ia akan melihatnya dan BAM! Semua rahasiaku akan terbongkar.

“Benarkah? Kau tahu berapa kali aku memanggilmu? Lebih dari tiga kali dan kau tidak menjawabku.” Dia mengambil tempat di sampingku, duduk nyaman di bangku taman kampus di bawah pohon Sakura―tempat favorit kami di kampus ini.

Aku mendengus, “Oh ya?” Satu kalimat sederhana yang bisa terlontar dari mulutku karena gugup setengah mati.

Oh my God, kenapa tak kau beritahu aku jika dia akan muncul seperti ini?

Diam-diam aku mengamati wajah tampannya yang saat ini, ya saat ini terlihat gelap. Ya, aku tahu ia agak sedikit hitam, tapi bukan gelap itu yang ku maksud. Well, mudah ku tebak, si bodoh ini pasti patah hati lagi.

Tanpa sadar aku melarikan jemariku ke pipi chubby nya, “Kau patah hati lagi?”

“Aaww!! Yya!! Ini sakit!!” Minhyuk menarik tanganku dengan kesal. Satu hal yang paling dibencinya dariku adalah, saat aku mencubit pipi nya yang menggemaskan. Aku tertawa melihat tingkah kekanakannya.

Oh, please. Tidak usah berakting manja seperti itu.” Dan aku mengingatkan diriku sendiri bahwa aku juga sedang berakting di hadapannya.

Pandangannya lurus ke depan, memandangi orang berlalu-lalang dan mulai bicara, “Na na, dia akan pergi ke Vancouver, melanjutkan studi nya.”

“…” Aku mengernyit, lantas menepuk-nepuk bahunya pelan. Namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku karena aku percaya, setiap orang yang dalam keadaan sedih dan membutuhkan tempat untuk berbagi, hanya perlu di dengarkan. Akan ada saatnya kau menghiburnya, setelah mereka merasa cukup dengan keluh kesahnya.

“Ayahnya mengirimnya kesana. Kau tahu kan? Aku tidak pernah mentoleransi hubungan jarak jauh?” Bahunya merosot dan pandangannya jatuh ke tanah.

“…” Ya, sepanjang ingatanku, si bodoh ini selalu berakhir putus asa jika ia harus dihadapkan dengan Long Distance Relationship. Bagiku, Na na adalah gadis terlama yang menjadi kekasihnya. Dan bukan tidak mungkin si bodoh ini bermaksud serius tentang hubungannya dengan Na na.

Menyadari ini terkadang mengirim sebuah perasaan sedih yang menjalar di hati kecilku. Sedih karena perhatiannya akan terbagi kepada gadis lain, sedih karena mungkin aku akan dilupakan, dan yang paling menyedihkan adalah, cintaku yang sudah bertepuk sebelah tangan ini akan kehilangan harapannya.

Menyedihkan bukan?

Gadis bodoh yang mencintai si bodoh sahabatnya, diam-diam.

“Kita akan bertemu orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat. Kau akan bertemu dengan orang yang tepat dan mecintaimu dengan tulus suatu hari nanti.” Hanya itu yang bisa kuucapkan setiap kali Minhyuk patah hati.

Dan aku harap, akulah orang yang tepat itu… Lanjutku dalam hati.

Minhyuk mengangguk lemah dan merangkum tubuhku dalam pelukannya, “… terima kasih karena kau selalu menghiburku. Hanya kau satu-satunya gadisku yang setia.”

“Yya!! Apa maksudmu?!!” Satu untaian kalimatnya dan berhasil membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku mendorongnya, berpura-pura kesal. Dan oh, kau harus tahu ini. Aku sudah sangat lelah untuk berpura-pura.

Si bodoh ini tersenyum lucu, matanya ikut tersenyum setiap kali bibirnya memutuskan untuk tersenyum dan aku menikmatinya “… Sepertinya kau sensitif sekali hari ini. Apakah kau sedang datang bulan?” Keningnya berkerut dan alisnya hampir menyatu karena kebingungan.

“Tch..” Aku mendengus dan menjatuhkan pandangan ku pada senja di ujung sana saat aku merasakan kepalanya bersandar di bahuku.

Senja yang indah, dengan hati yang patah.

Hati ku, dan hatinya.

—–o0o—–

Pagi ini aku terbangun dengan hujan turun yang terlihat ringan dari jendela kamarku. Sudah lebih dari enam bulan sejak Minhyuk berpisah dengan Na Na. Hari ini adalah hari libur kampus dan kami berencana untuk menghabiskan hari libur kami untuk jalan-jalan seharian. Tapi sepertinya hujan belum berencana untuk berhenti. Aku duduk mematung bertopang dagu dan tenggelam dalam memori ku yang tak sengaja memutar acak potongan-potongan kebersamaan ku dengan si bodoh cinta pertamaku.

Seperti film hitam putih dari masa lalu. Tanpa guratan warna, hanya warna hitam dan putih yang menjemukan. Aku menemukan diriku tersenyum seperti si bodoh saat mengenang waktu ketika kami berada di sekolah dasar, bermain ayunan tanpa henti. Aku mendorong ayunannya kuat-kuat sampai si bodoh itu terpental jatuh dan dua gigi depannya patah. Minhyuk menangis dua hari dua malam meratapi nasib gigi patahnya dan tidak mau berbicara denganku sebulan penuh.

Atau saat ia membawaku bermain sepeda saat kami berlibur di Hokkaido. Minhyuk dengan keras kepalanya berkata bahwa ia hafal seluruh jalan di Hokkaido, jadi aku tidak perlu takut untuk tersesat. Namun kenyataannya, dia lupa jalan dan ban sepeda kami bocor. Jadilah kami berjalan sampai tempat penginapan dengan menuntun sepeda hingga senja tiba. Orangtua kami khawatir bukan main dan kami berakhir mengenaskan dengan pidato Ayah Minhyuk selama tiga jam penuh. Kuping memerah, kaki seperti ingin copot, dan rasa kantuk luar biasa. Oh, tentu saja, Kang Minhyuk lah akar dari segala kesialan kami.

Ketukan di pintu kamar membuatku tersadar dari lamunan panjangku. Tanpa persetujuanku, kepala Minhyuk menyembul dari balik pintu dan menyambut mata ngantukku dengan cengiran lebarnya yang, well, harus kuakui, sangat tampan. Sedangkan aku? Terlihat kontras dengannya karena rambut kusut, mata bengkak, dan muka berminyak.

“Well, nona Ha Na, apakah kau berencana akan menghabiskan pagimu dengan meringkuk dibawah selimut seharian?” Si bodoh ini menarik selimut ku dengan paksa dan membopongku ke kamar mandi.

“Yyya!! Ini masih hujan, Kang MInhyuk!! Dan ugh, dingin sekali!!” Aku berteriak dari balik pintu kamar mandi setelah ia berhasil menutup pintu dengan cepat. Oh dear god, orang ini sudah gila atau apa?! Aku menggerutu dalam hati.

“Aku tunggu kau dalam sepuluh menit!! Cepat atau kau akan mati kedinginan di dalam sana!!” Aku mendengar suaranya sayup-sayup meninggalkanku tanpa pilihan. Baiklah, kau akan membayar semua ini, ppabo!!

Serius, air dingin ini bukanlah lelucon. Aku hampir mati beku berdamai dengan air dingin sialan itu karena water heater dirumahku mendadak rusak dua hari yang lalu. Tapi apa yang selanjutnya kutemukan membuatku benar-benar hampir mati. Otakku  berhenti bekerja, lidahku kelu, badanku kaku dan aku seperti kehabisan nafas.

Kang Minhyuk sedang membuka diary ku. Oh My Goodness, ottokke?!

Si bodoh itu menyadari kehadiranku dibelakangnya, tubuhnya berbalik ke arahku, memandang kaku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Satu hal yang paling menyeramkan darinya adalah tatapan tajam matanya saat Ia marah.

“Apa yang kau lakukan?” Aku memberanikan diri untuk bersuara dan menenangkan degup jantungku secara bersamaan.

“Apa ini, Ha Na-ya?!” Matanya menggelap, menuntut jawabanku.

“Itu diary ku dan apakah kau sudah lupa bahwa aku sangat menghargai privasi? Kau melanggarnya, Oppa!!” Air mata menggenang di sudut-sudut mataku.  Aku tidak tahu apa yang harus kurasakan. Takut, sedih, marah, atau harus bahagia karena akhirnya ia bisa mengetahui perasaanku?

“Dan apakah kau lupa bahwa sahabat tidak akan menyembunyikan apapun satu sama lain? Kau melanggarnya, Ha Na-ya!!” Suaranya terdengar tertahan di tenggorokan ketika aku bisa menyimpulkan bahwa si bodoh ini juga marah.

Aku menundukkan kepala menghindari tatapannya, “Maaf…” Dan kini air mataku benar-benar jatuh.

“Maaf? Untuk apa meminta maaf? Kau dan aku sama-sama melanggar janji.” Apakah aku tidak salah lihat? Sepertinya tidak, tapi aku menemukan tatapannya berubah lembut dan hangat.

“Apa… k-kau sudah membaca… semuanya?” Aku terbata-bata merasa gugup dengan apa yang ada di pikirannya. Well, aku sangat penasaran dengan isi kepalanya saat ini.

Minhyuk berdiri dan tepat berhenti di hadapanku, “… Ya. Semuanya. Dan aku sangat marah!! Aku sangat marah karena aku sangat bodoh tidak menyadari ada kau yang selalu ada di sisiku dan mencintaiku dengan tulus.” Aku sudah bersiap untuk yang terburuk, tapi apa yang ia ucapkan barusan seperti angin surga bagiku.

Aku mengangkat kepala ragu-ragu, “Maaf…” Oh, Ha Na-ya, lagi? Serius, hanya kata maaf?

“Berhenti untuk meminta maaf. Akulah yang seharusnya meminta maaf. Maaf karena selalu menyakitimu dengan berbagai cerita patah hatiku. Kau tahu? Aku berganti-ganti kekasih karena aku ingin menghindari perasaanku untukmu, karena ku pikir kau terlalu kebal dengan pesonaku, bodoh!!” Ugh, sial. Minhyuk baru saja mengetuk keningku, membuatku meringis kesakitan.

“Yya!! Cepat minta maaf lagi, Mr. Narsis!!” Aku merajuk.

Si bodoh itu tertawa kecil, “Maaf…” Ia tersenyum manis dan menarikku ke dalam lengan kokohnya, membuaiku dalam wangi tubuhnya yang kuhirup dalam-dalam, “… I love you, ppabo-ya… Aku yakin, kau lah orang yang tepat itu.” Ia berbisik lembut di telingaku seperti lantunan melodi lagu favoritku.

Aku bersumpah, detik itu adalah lima detik paling membahagiakan sepanjang dua puluh satu tahun umurku hidup bersamanya, menjadi sahabatnya. Senyum lebar terbentuk di bibirku, “… I love you too, stupid…”

“So, bagaimana jika kita merayakannya?” Minhyuk menaikkan satu alisnya, pertanda salah satu ide buruk muncul di kepalanya.

Belum sempat aku membuka mulut untuk menjawabnya, Minhyuk menarikku keluar rumah untuk bergabung dengan hujan yang semakin deras. Menari-nari seperti orang gila, berkejaran dan berteriak-teriak tanpa malu, kembali seperti masa kecil kami dulu. Eomma hanya menggelengkan kepalanya, menyerah dengan tingkah kekanakan kami. Menari dalam hujan dengan si bodoh cinta pertamaku. Oke, mungkin idenya tidak buruk, tapi brillian!!

Si bodoh cinta pertamaku―Kang Minhyuk, I love you, ppabo-ya!! Terima kasih untuk menjadi sahabat, dan kekasihku.

6 thoughts on “[FF Competition] DANCING IN THE RAIN

  1. Yap, ini style mu kak🙂
    Emang ya, diary kalo dibaca orang itu rasanya.. Jeng..Jeng..haha..
    Dan entah kenapa aku membayangkan Hana itu Soojung.keke..
    Nice ^^

  2. I love this story.. ceritanya simple tapi ngalir.
    Manis, dan… ah mau jadi hana nyaaa.
    Keep up the good work authornim, fighting!!

  3. aku paling suka sama ff ini…soalnya yang laen kok sedih dan sad ending semua…..namanya juga fanfiction….masak sad ending….bikin ga mood….lebih suka lagi kalo ada loveydoveynya….ayooo dunks yang pada ikutan kompetisi ini bikinnya yang happy ending…

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s