[FF Competition] Eleven

Judul FF : Eleven

Genre : Romance – Sad Ending

 

 

Aku tidak tau sampai kapan aku patah hati, di mana cinta masih tetap berada di dalam dadaku. Hanya dengan melihat pada dirimu, kerinduanku tumbuh bahkan lebih dalam. Aku memberi dan memberi, tapi mengapa itu tidak cukup?

Entah keberapa kalinya Jong Hyun membaca penggalan diary milik kekasihnya dari kertas yang sobek itu. Mencoba mengingat-ingat, apa ia pernah tidak memperdulikan Jung Hye Min dan membuatnya patah hati? Apa ada seorang pria lain yang dilirik Hye Min hingga dia merasa patah hati? Nihil. Ia sama sekali tidak ingat apapun.

Jika kebenaran adalah yang kedua, tidak segan-segan Jong Hyun akan berduel dengan pria itu setelah bisa bertemu kekasihnya nanti. Tidak hanya itu, ia juga akan memberi hukuman pada gadisnya supaya ia tidak akan lagi melirik pria lain. Tapi sebenarnya, Jong Hyun yakin kekasih yang telah berhasil menyentuh hatinya tidak mungkin seorang tipe peselingkuh.

“Oppa, kita akan terlambat, kajja!” seorang gadis manis menyadarkan lamunan Jong Hyun.

“Ne, sebentar” balas Jong Hyun. Ia pun melipat lagi sepotong kertas itu dan mulai mengikuti gadis tadi.

Hari ini penampilan di atas panggung yang keempat. Jong Hyun merasa masih gugup jika tampil. Jika bukan permintaan dari kekasihnya, Jong Hyun jelas menolak mentah-mentah tampil di café dari kota ke kota dan menunjukkan betapa indah permainan gitarnya. Ia hanya ingin memainkan gitar di depan Hye Min.

“Oppa! Apakah kau demam panggung lagi? Atau kepalamu sakit lagi? Kau sangat tidak enak dilihat” ucap gadis bernama Sung Hyo Hee, partner panggungnya.

“Ani, aku tidak apa-apa. Hanya kurang tidur, mungkin”

Hyo Hee menghentikan langkahnya, menangkupkan kedua tangannya di pipi Jong Hyun. Jong Hyun merasa pipi-nya memanas. Ia makin mengkhawatirkan hari di mana ia bisa bertemu Hye Min. Ia sungguh merindukan gadisnya, terlebih dengan sikap Hyo Hee yang seperti ini.

“Memikirkan Hye Min eonni lagi kah?” tanya Hyo Hee. Matanya membulat seperti kelinci. Menggemaskan.

“Tentu saja aku selalu memikirkannya” ucap Jong Hyun dan melepas tangan Hyo Hee dan meneruskan langkahnya. Hyo Hee masih belum beranjak, melihat punggung itu perlahan menjauh.

Membayangkan kembali kejadian sebulan yang lalu, saat sedetik ia terlambat ada di samping Jong Hyun, nyawa lelaki itu pasti sudah melayang. Apa salah jika Hyo Hee menyelamatkannya dari kecelakaan agar Jong Hyun selalu ada di sisinya?

Hyo Hee mengenyahkan fikiran itu dari benaknya dan langsung menyusul Jong Hyun.

***

Jong Hyun berada di atas panggung sederhana di sebuah café. Mencari-cari sosok gadis yang sangat dirindukannya.

Belum. Bisik batinnya.

Ia mulai memetik gitarnya saat Hyo Hee sudah terlihat siap disebelahnya. Mereka membawakan lagu ballad kali ini. Suara Hyo Hee sangat indah. Dia bertanya-tanya, apakah Hye Min memiliki suara yang sama indahnya? Dia berjanji dalam hati suatu saat akan mengiringi Hye Min bernyanyi. Tapi gadis itu belum mau muncul juga.

Sembari memetik gitar, Jong Hyun mengingat-ingat lagi. Kecelakaan sebulan yang lalu telah membuatnya koma beberapa saat dan hilang ingatan. Saat itu hanya Hyo Hee-lah yang ada ketika ia membuka mata. Hyo Hee jugalah yang memberi tahu segalanya tentang kehidupan Jong Hyun sebelumnya, persahabatan mereka, juga Hye Min kekasihnya yang sedang pergi jauh karena urusan pekerjaan.

Hyo Hee bilang bahwa Hye Min ingin dia ikut berpetualang bernyanyi mengelilingi seluruh Korea Selatan, dan saat Hye Min telah selesai dengan pekerjaannya, ia akan ada di salah satu pentas saat Jong Hyun tampil. Tapi saat ini belum. Tidak ada gadis berkemeja putih dengan celana jeans seperti yang dikatakan Hyo Hee sesuai janji Hye Min.

Prok Prok Prok

Seluruh hadirin bertepuk tangan saat lagu selesai dinyanyikan. Jong Hyun tersenyum kikuk sementara Hyo Hee sangat terlihat cerah.

Tidak ada foto, nomer ponsel, alamat surel, ataupun benda yang berkaitan dengan Hye Min. Jong Hyun sudah pasti sempat curiga, tapi entah mengapa, hatinya selalu berkata bahwa memang ia memiliki seorang kekasih, yang selalu menemani hari-harinya, membuat hatinya hangat, dan hanya itu yang ia genggam agar percaya bahwa Hye Min ada, mereka akan bertemu kembali.

Seperti biasa, setelah tampil, Hyo Hee selalu meminta foto kepada orang-orang yang bekerja di café juga bos-nya. Setelah berfoto, mereka pulang ke hotel. Beginilah hidup nomaden.

Suara ponsel berdering. Hyo Hee melihat nama Jong Hyun tertera. Senyumnya merekah. Kamar mereka bersebelahan tapi Jong Hyun lebih suka menelpon gadis itu setiap hendak tidur. Hyo Hee selalu menganggapnya positif, daripada harus keluar berdua sampai larut malam, lebih baik menanamkan mimpi indah di benak Jong Hyun.

“Um, kau belum tidur atau aku mengganggumu?”

“Ani, aku belum tidur, jadi apalagi yang ingin kau dengar dariku?” Hyo Hee mencoba tersenyum meski ia tau topik akan berubah menjadi Hye Min.

“Kenapa kau suka berpetualang seperti ini?” tanyanya. Hyo Hee tertawa renyah.

“Kenapa aku suka? Karena petualangan bisa membuatku terasa bebas, dari semua kehidupan yang terasa mengikatku dan sangat monoton. Oppa tidak suka kah?”ada nada kecewa pada kata-kata terakhirnya, takut kalau-kalau jawabannya adalah iya.

“Hm, ya, aku juga suka, karena aku ‘kan akan bertemu Hye Min. Menurutmu dia masih sibuk sekarang? Kau sering mengkontaknya tidak? Setelah empat kali tampil, aku tidak pernah melihat gadis berkemeja putih dengan celana jeans”

“Ah, tentu. Aku selalu berkomunikasi dengannya, mungkin pada saat kita tampil ke sebelas dia bisa muncul” suara Hyo Hee terdengar getir.

“Jinjja? Selama itu kah? Aigoo”

“Waeyo oppa? Kau tidak ingin berlama-lama bersamaku?”

“Ah, ani. Tidak seperti itu, kau tau betapa aku merindukannya”

“Bersabarlah, kau tidak akan bertemu lagi denganku setelah tampil ke sebelas”

“Ye? Kenapa begitu?”

“Ne oppa, aku akan meneruskan petualanganku di New York. hehehe” sungguh Hyo Hee benci berpura-pura tertawa seperti itu. Ia..sangat ingin mendampingi Jong Hyun seumur hidupnya, tapi terlihat jelas bahwa Jong Hyun tidak suka petualangan seperti dirinya, ia hanya menyukai Hye Min.

Hyo Hee menangis tanpa suara. Mulutnya terkatup rapat menahan air mata jatuh lebih banyak lagi.

“Ah hahaha tapi janji padaku ya, kau akan hadir saat pernikahanku bersama Hye Min”

Hyo Hee akhirnya menutup mulut dengan kedua tangannya. Ponselnya ia taruh dibawah bantal. Dan merintih kesakitan. Hatinya sangat terluka. Apakah menyelamatkan Jong Hyun dari kecelakaan akan menjadi penyesalannya yang terbesar? Yang akan ia bawa sampai mati?

“Halo? Hyo Hee? Yak! Kau baik-baik saja?”

“…”

Tidak ada jawaban. Apa sebaiknya Jong Hyun menghampirinya di kamar sebelah? Ah mungkin dia terburu-buru ke toilet lagi.

***

Terus berpindah-pindah. Jong Hyun dan Hyo Hee serasa menjadi manusia purba yang sebenarnya. Mereka sudah tampil selama sepuluh kali di kota yang berbeda-beda.

Di siang hari yang cerah ini, Jong Hyun terlihat sangat berbahagia. Pasalnya Hyo Hee bilang, Hye Min akan datang malam ini saat tampil terakhir kalinya bersama Hyo Hee.

Hyo Hee sebaliknya, tidak terlalu senang. Ia justru amat kecewa karena baru kali ini melihat Jong Hyun terlihat penuh semangat selama berada di sisinya, yang mana adalah hari terakhirnya bersama lelaki tersebut.

Apa masih boleh, Hyo Hee berharap Jong Hyun bisa meliriknya barang sedetik saja. Merasakan ada yang berbeda setiap mata cokelatnya menatap manik milik Jong Hyun.

Tidak. Lelaki itu terlalu sibuk berandai dengan benaknya, menyusun setiap langkah yang akan dilaluinya dengan Hye Min.

Hyo Hee bertanya-tanya, apa Jong Hyun bisa marah padanya? Maksudnya, dengan apa yang sudah banyak ia perbuat demi Jong Hyun.

“Hyo Hee, kita beli sesuatu untuk Hye Min. Kajja!” Jong Hyun menarik tangan Hyo Hee dengan ceria.

Bisakah kau tidak melepas genggaman ini Lee Jong Hyun? Hyo Hee membatin.

“Apa yang disukai Hye Min?”

“Hahaha. Terkadang kau membuatku geli oppa! Kau bertanya apa yang disukai pacarmu kepadaku? hahaha” Hyo Hee tau, tawa itu hanya untuk menutupi lukanya yang menganga.

“Aiish kau ini, cepat katakan. Jangan menggodaku terus”

Hyo Hee mengambil sebuah sarung tangan berwarna merah yang lembut dan tebal.

“Hye Min, tolong berikan hadiah ini dariku untuknya” ia memberikan sarung tangan itu di kedua tangan Jong Hyun

“Hye Min, sangat suka boneka lumba-lumba. Ia suka penjepit rambut, ia juga suka syal, dan tentunya sarung tangan itu” lanjut Hyo Hee

“Baiklah” Jong Hyun tersenyum lebar. Ia sangat tampan.

Jong Hyun berjalan ke arah kasir. Hyo Hee berpindah tempat mencari-cari album foto.

***

Malam ini Jong Hyun tidak bisa mengatur degup jantungnya. Dia harus fokus mencari sosok Hye Min, gadis yang selalu dia impikan sentuhannya. Semenjak kecelakaan, yang ia ingat hanyalah kehangatan gadis itu yang selalu membuatnya bisa tertidur di mana saja karena terlalu nyaman.

Sementara Hyo Hee terlihat menyusun hadiahnya untuk Hye Min. Dengan menahan tangis. Tentu saja.

Lampu-lampu terang menyorot ke arah Jong Hyun, riuh penonton menyerukan namanya dan Hyo Hee, mereka terkenal dengan pentasnya yang selalu spektakuler dari waktu ke waktu.

Suara petikan gitar mulai terdengar, sambil fokus menatap satu persatu penonton, Jong Hyun menemukannya! Gadis dengan kemeja putih dan celana jeans duduk di pojok dengan beberapa teman wanitanya. Dia kelihatan sangat memesona. Menerikan nama Jong Hyun.

Ia merasa sangat bahagia. Jiwanya serasa penuh kembali.

Eh. Tunggu dulu. Jong Hyun menemukan satu lagi gadis berkemeja putih dan celana jeans. Eh tidak, ada 3 orang gadis seperti itu. Tidak, tidak, ada empat, bahkan lima! Mana Hye Min yang sebenarnya?

Riuh tepuk tangan memenuhi seluruh kafe.

Hyo Hee terlihat hampir menangis mungkin dia sangat terharu, batin Jong Hyun.

“Hyo Hee! Aku menemukan gadis berkemeja putih dan memakai celana jeans. Tapi sangat banyak! Mana Hye Min-ku?” ucap Jong Hyun bersemangat setelah turun dari panggung.

“Tunggulah di meja nomor 7, dia akan menemuimu. Oh ya, aku punya kado untukmu juga. Aku harus pergi sekarang”

“Omo? Secepat ini? Kau tidak ingin bertemu Hye Min kah?”

“Tidak perlu, aku buru-buru. Sampaikan saja salamku” Hyo Hee pergi tanpa melirik lagi ke arah Jong Hyun yang sama sekali tidak berkeinginan mengejarnya. Itu saja sudah cukup. Jangan berikan luka lagi. Cukup hadiahku atas menyelamatkanmu adalah sebelas petualangan bernyanyi bersamamu.

Jong Hyun duduk di meja nomor 7 dan memperhatikan album foto di depannya.

“Aish, Hye Min lama sekali” lirihnya.

Ia pun mulai membuka halaman pertama album foto.

Seorang gadis kecil memeluk boneka lumba-lumba, memakai penjepit rambut, berdiri di sebelah bocah laki-laki yang ia yakini adalah dirinya. Mungkinkah ini Hye Min dan dirinya? Semasa kecil? Tapi yang ia tau, Hye Min dan dia kenal saat SMU?

Seorang gadis bekemeja putih melewat di hadapannya. Sesaat Jong Hyun mendongak. Gadis itu tidak meliriknya, bukan Hye Min.

Ketika ia membuka halaman album selanjutnya ia menemukan bahwa itu adalah foto-foto Hyo Hee setiap sehabis pentas.

Jong Hyun merasakan pipinya memanas. Betapa ia merutuki dirinya sendiri karena baru menyadari bahwa sebelas kali ia berada di panggung dengan Hyo Hee, ternyata gadis itu selalu memakai kemeja putih dan celana jeans.

Sepotong surat yang sobek meluncur dari album itu. Potongan bagian bawah diary Hye Min yang selalu ia bawa kemana-mana.

Tidak ada imbalan, tapi kau segalanya sekarang. Saat aku tidak di sini, tapi di masa depan yang jauh. Aku masih akan melindunginya dengan gairah cintaku. Aku mencintaimu, sampai hari aku mati. Aku tidak ingin apapun ketika aku sendiri.

Hyo Hee

Jong Hyun merasakan butiran hangat membasahi pipinya. Harusnya ia tau, siapa yang selalu menghangatkan hidupnya selama ini. Hye Min tidak pernah ada. Dan Hyo Hee akan selalu menjadi bagaimana-seandainya dia yang terbesar. Tapi Hyo Hee tidak ada di sini lagi.

-THE END-

8 thoughts on “[FF Competition] Eleven

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s