[FF Competition] Hello, Good Bye

Judul: Hello, Good Bye.

Genre: Romance-Sad Ending

 

 

Oppa! Sudah berapa kali kubilang padamu untuk meniup kopinya terlebih dahulu? Nanti kalau lidahmu melepuh bagaimana?!”

Jung Yonghwa tersadar dari lamunannya.

Ia menghela nafas dan menyapukan pandangan ke sekitarnya. Tidak ada. Dia tidak ada. Tidak mungkin ada.

Dipandanginya secangkir kopi di atas meja yang tak lagi menguarkan uap panas. Sudah berapa lama ia melamun? Bukankah ia baru saja menyeduh kopinya dua menit yang lalu?

Yonghwa kembali menarik nafas panjang dan menenangkan dirinya. Ia bangkit dari kursi dan mengambil cangkir kopi di depannya. Dibuangnya isi cangkir yang nyaris belum tersentuh sama sekali. Lagipula, ia sudah tak berminat lagi menghabiskan kopi yang sudah terlanjur dingin itu.

TING-TONG! TING-TONG!

Yonghwa melirik pintu apartemennya tanpa niat. Ia benci sekali pada orang-orang yang mengganggu waktu damainya di pagi hari seperti ini. Memangnya tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain mengusik kediaman seseorang pada jam-jam ini?

“Tunggu sebentar,” gumam Yonghwa pendek sembari melangkah malas menuju pintu apartemen. Dalam satu kali gerakan cepat, ia memutar kunci dan kenop pintu sekaligus.

Annyeong!”

Laki-laki itu sontak terpaku begitu mengetahui siapa tamunya pagi ini. Darahnya seakan terkesiap dan bibirnya seakan terkunci kuat. Lidahnya bahkan terlalu kelu untuk sekadar menjawab sapaan ringan gadis itu.

Annyeong¸Yonghwa oppa!” Gadis berambut cokelat tua sepanjang punggungnya itu kembali tersenyum ceria. “Bagaimana kabarmu? Boleh aku masuk?”

***

            “Maaf, ini mejaku,”

Yonghwa mendongakkan kepalanya dan mendapati seorang gadis dengan warna rambut yang tak lazim itu menatapnya rikuh.

            “Apa?”

            “Itu… mejaku.”

            Yonghwa menaikkan sebelah alisnya. “Mejamu? Maaf, mungkin kau salah tempat.”

            “Tidak mungkin salah,” gadis itu menggeleng kuat-kuat. “Meja ini sudah dipesan olehnya, makanya aku disuruh menunggu di sini,”

            “Meja ini sudah dipesan lebih dahulu oleh temanku. Aku sedang menunggunya datang di sini,” balas Yonghwa sembari menarik gelas kopinya.

            Gadis itu masih terlihat tidak puas. Ia melirik Yonghwa dan seketika wajahnya berubah pucat. “Tunggu dulu!” Direnggutnya gelas kertas dengan uap panas yang masih mengepul dari genggaman Yonghwa. “Kau tidak boleh langsung meminumnya seperti ini! Lidahmu bisa melepuh, tahu!”

            “Ha?” Yonghwa menatap jengkel gadis itu. “Kalau kau punya waktu untuk mengurusi orang lain, kenapa kau tidak mengurusi dirimu sendiri untuk mencari mejamu yang sebenarnya?”

            “Hei, Jung Yonghwa!”

            Tiba-tiba saja, seseorang sudah berdiri di antara mereka berdua dengan nafas terengah-engah. Begitu Yonghwa menyadari siapa yang datang dan hendak menyebut namanya, suara gadis itu terdengar lebih dahulu.

            “Oh, Kyungwoo oppa!”

            Yoon Kyungwoo mengangkat sebelah tangannya dan tertawa kecil pada gadis itu. “Maaf, aku terlambat. Dan—oh, ini sahabatku, Jung Yonghwa,”

            Yonghwa masih belum mengerti sementara gadis berambut cokelat itu mengangguk-angguk penuh semangat. Yoon Kyungwoo lalu beralih memandang Yonghwa.

            “Dia gadis yang pernah kuceritakan padamu,” Mata Kyungwoo berbinar. “Namanya Jang Hyunjoo.”

***

“Woah, daebak!” Jang Hyunjoo membiarkan rambut cokelatnya yang tergerai ditiup angin kesana kemari. “Luar biasa! Dari balkon kamarmu, aku bisa melihat seisi kota kecil ini! Oppa, kenapa kau tak pernah mengabariku bahwa pemandangan di sini jauh lebih indah daripada Seoul?”

Yonghwa hanya terdiam melihat gerak-gerik gadis itu. Sejak Hyunjoo memasuki apartemennya, gadis itu sama sekali tak bisa berhenti berkicau.

Oppa, oppa, coba dengar!” Hyunjoo berteriak gembira. “Sebentar lagi, aku akan bekerja di sebuah perusahaan desainer! Kemarin, mereka meneleponku untuk menyesuaikan waktu dan melakukan wawancara berikutnya!” Ia bergegas masuk ke dalam apartemen tanpa menutup pintu balkon. “Ah, ada banyak sekali cerita untukmu, oppa! Aku tak yakin bisa menceritakan semuanya padamu. Kenapa kau tak pernah berusaha menghubungiku selama ini?”

Yonghwa memandang Hyunjoo lekat-lekat. Ia tahu gadis ini menunggu jawabannya, tetapi ia bersikeras untuk tidak mengatakan apapun padanya.

Hyunjoo kembali tersenyum riang. “Ya. Aku tahu. Kalau begitu, biarkan aku melanjutkan ceritaku!”

***

Jang Hyunjoo merebahkan kepalanya di atas meja. Hari itu, ia sama sekali tak berminat untuk bertemu dengan siapapun—tetapi bagaimana lagi? Jung Yonghwa menemukannya di sebuah toko buku dan mengajaknya untuk minum kopi bersama di tempat favorit mereka—kafe tempat mereka bertemu.

            “Ada apa?” Yonghwa menyeruput pelan kopinya. “Kau terlihat tidak bersemangat.”

            Hyunjoo mengangguk lemah dan mengangkat kepalanya tiba-tiba. “Ah, aku bisa gila kalau terus-terusan seperti ini!”

            “Kau kenapa, Hyunjoo-ah?” Yonghwa tertawa. “Hari ini aku bertemu denganmu, tapi  kenapa rasanya seperti bertemu dengan seorang alien yang tersesat?”

            Hyunjoo mendengus kecil. “Tidak lucu sama sekali.”

            “Oppa,” Hyunjoo lalu menatap Yonghwa penuh arti. “Apa artinya jika seorang laki-laki mengatakan bahwa ia menyukai seorang gadis? Apakah itu artinya ia meminta gadis itu untuk menjadi pacarnya?”

            Tiba-tiba saja, Yonghwa merasa kopinya sudah tidak enak lagi untuk diminum. “Apa… katamu?”

            “Oppa,” Hyunjoo memandang Yonghwa lagi. “Kyungwoo oppa menyukaiku. Aku harus bagaimana?”

***

Waktu terasa berjalan amat lambat ketika gadis itu berada di sini, di depannya. Berkali-kali Yonghwa melirik jam dinding dan menyadari jarum pendek masih belum bergerak dari tempatnya.

“…Awalnya, kupikir semua itu tidak akan terjadi. Tapi—coba tebak! Benda itu benar-benar kembali ke tanganku! Lihat ini!” Hyunjoo tersenyum gembira sembari mengangkat tangan kanannya. Alih-alih melihat gelang putih yang sedari tadi diceritakan, mata Yonghwa justru terpaku pada benda kecil berwarna emas yang melingkar di jari manis gadis itu.

“Beruntung sekali orang itu tidak mengambilnya! Hehe,” Hyunjoo tertawa kecil. “Benar kan, oppa?”

Sejak kemunculan gadis ini, Yonghwa sudah bersusah-payah untuk tidak membuka mulut sama sekali. Namun, keberadaan cincin di jari gadis itu justru membuat lidahnya semakin kelu. Tak ada lagi yang harus dibicarakan. Semuanya sudah jelas sekarang.

Op…pa?” Hyunjoo bertanya bingung sembari mengikuti arah pandang Yonghwa. “Apa—”

Yonghwa menghela nafas pelan. Bahunya sedikit bergetar. “Pulanglah.”

Hyunjoo menatap Yonghwa lekat-lekat. Perlahan-lahan, tangan kirinya bergerak melepas cincin emas yang terpasang di jari manis tangan kanannya.

“Aku kemari bukan untuk menunjukkan ini.” ia berucap muram. “Sama sekali bukan untuk ini. Maaf.”

Yonghwa mengangkat kakinya ke arah pintu apartemen. Entah kenapa, setiap langkahnya terasa berat. Dibukanya pintu apartemen dalam sekali gerakan. “Pulanglah.”

Gadis itu tetap tidak bergerak dari tempatnya. Ia justru menunduk dalam-dalam, tidak berani memandang laki-laki yang sejak kedatangannya tadi tak pernah tersenyum.

“Pulanglah.” Yonghwa mengulang suaranya. Dingin dan datar, jauh berbeda dengan apa yang didengar Hyunjoo satu tahun yang lalu.

Oppa,” Hyunjoo mengangkat wajahnya dan tampaklah butir-butir air mata mengalir di kedua pipinya. “Oppa, kau tahu? Semua itu bukan kesalahanmu. Sama sekali bukan kesalahanmu.”

***

“Pergi denganmu besok malam?”

            Yonghwa menganggukkan kepalanya mantap ketika Hyunjoo mengulang ajakannya beberapa detik yang lalu. “Ya.”

            “Besok malam…” Hyunjoo berpikir sebentar. “Malam ulang tahunku…”

            “Bisa atau tidak?” potong Yonghwa sebelum gadis itu bertanya lebih lanjut. Hyunjoo balas memandangnya ragu-ragu.

            “Kalau aku mengatakan ‘ya’ padamu, lalu apa yang harus kukatakan pada Kyungwoo oppa?”

            “Katakan saja padanya kalau aku sedang berusaha merebutmu darinya,” ujar Yonghwa santai. “Itu mudah. Aku yang akan mengatakan alasannya. Lagipula, aku tidak yakin setelah besok malam berakhir kau masih pacaran dengannya.”

            “Apa…” Hyunjoo terdiam. Wajahnya memerah dalam hitungan detik. “Oppa, kau sedang bercanda, ya?”

            Yonghwa tergelak sesaat sebelum menatap Hyunjoo lekat. “Dengar, Hyunjoo-ah. Aku tidak mau hal ini akan menjadi penyesalanku suatu saat nanti. Jadi, kuharap kau akan datang dan memberikan jawaban yang sama seperti pernyataanku. Oke?”

            Hyunjoo tersenyum manis. “Oke.”

***

Kyungwoo terus berlari dengan kecepatan tinggi. Ia tak peduli sekalipun para perawat berseragam putih itu sudah memperingatkannya untuk tidak berlari. Sejak menerima telepon dari rumah sakit yang mengabarkan kekasihnya koma karena sebuah kecelakaan motor, ia tak bisa berhenti mengkhawatirkan gadis itu. Ia bahkan terlalu panik hingga belum sempat mengganti pakaian tidurnya.

            Ia mengatur nafasnya sesaat sebelum berlari lagi menuju ICU, tempat di mana Jang Hyunjoo diberikan pertolongan pertama.

            “Jung… Yonghwa?” Kyungwoo bertanya bingung begitu mendapati sahabatnya duduk di ujung lorong unit gawat darurat dengan wajah penuh luka. “Ya! Jung Yonghwa!

            Sahabatnya itu kemudian bangkit dari duduknya dan tampaklah penampilannya yang lebih pantas disebut kacau. Pakaiannya robek di sana-sini, sementara di tubuhnya terbalut perban di mana-mana. Kaki kirinya digips dan lengan kirinya dibalut perban.

            “Ada… apa? Apa yang terjadi?” Kyungwoo bertanya heran melihat penampilan sahabatnya. “Kau bertemu dengan Hyunjoo? Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia ada di dalam?”

            Yonghwa memandang Kyungwoo dengan ekspresi terluka. “Maaf.”

            “Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajahmu bisa lebam begini—dan Hyunjoo! Apa yang sebenarnya terjadi pada kau dan Hyunjoo?!”

            Yonghwa tetap memandangnya dengan ekspresi sama. “Kau tahu—bahkan Tuhan pun tidak mengizinkanku untuk merebutnya darimu. Aku sudah terlalu terlambat untuk menyatakan perasaanku padanya.”

            “Apa maksudmu?”

            “Aku akan pergi,” Yonghwa terbata. Di wajahnya, terlukis seluruh rasa bersalahnya. “Ini semua kesalahanku. Maafkan aku.”

            “APA—”

            “Kumohon,” Yonghwa berlutut, menahan bahunya yang terus bergetar dan air matanya yang kembali mengalir. “Maafkan aku…”

***

Yonghwa menatap gadis di hadapannya nanar. Sudah setahun lebih ia berusaha menekan seluruh perasaan bersalahnya. Begitu gadis ini muncul lagi di depannya, seluruh memori tentang rasa bersalah itu menyeruak keluar dan kembali menyiksa dirinya.

“Kau tidak tahu apa-apa,” ia berkata penuh emosi. “Pulanglah.”

“Itu semua bukan salahmu, Yonghwa oppa…” Hyunjoo terisak. “Kau sama sekali tak perlu menghilang dari hadapanku, kau tahu—kau orang pertama yang kucari begitu aku sadar!”

“Pulanglah.” Yonghwa menyadari suaranya kini bergetar. “Sekarang juga.”

“Aku juga menyukaimu, oppa! Aku selalu menyukaimu! Selalu, oppa!” jerit Hyunjoo. “Bahkan sejak setahun yang lalu, jawaban yang tak sempat kuberikan padamu akan selalu sama!”

“HENTIKAN!” Yonghwa berteriak. “Pulanglah sekarang juga, Jang Hyunjoo.”

Oppa… Apakah sudah terlambat untukmu? Untukku?” Hyunjoo menatapnya terluka. “Seharusnya hari itu bukan menjadi hari yang kita sesali…”

“Lupakan saja.” Yonghwa berkata getir.

Oppa,” Hyunjoo menahan tangisnya lagi. “Kau tidak tahu bagaimana perjuanganku untuk bisa menemuimu. Aku menata perasaanku, membuang jauh-jauh semua rasa sakit itu. Kau tidak tahu bagaimana hancurnya aku menjalani hidup tanpa dirimu, oppa!”

“Lupakan saja semuanya,” Yonghwa memandang Hyunjoo dengan ekspresi yang sama. “Kau tahu, bahkan sejak setahun yang lalu, Tuhan tak pernah mengizinkan kita bersama…”

Oppa…”

“Pulanglah, Hyunjoo.”

“Tempatku pulang ada di sini, oppa,” tangis Hyunjoo. “Kau adalah rumah untukku.”

“Dengarkan aku, Jang Hyunjoo,” Yonghwa menahan segala perasaan yang berkecamuk di hatinya. “Kau dan aku sudah punya kehidupan masing-masing. Kehidupan yang sudah terlalu sempurna tanpa kita dalam satu cerita. Kembalilah pada hidupmu, kebahagiaanmu.”

“Bagaimana bisa aku kembali pada hidupku sementara kebahagiaanku ada padamu?” Hyunjoo membiarkan kedua pipinya dipenuhi air mata lagi.

“Kau tahu,” suara Yonghwa bergetar. “Kebahagiaanmu selalu ada padanya, bukan padaku.”

“Tak bisakah…” Hyunjoo menatap Yonghwa lekat-lekat. “Tak bisakah kau kembali?”

Yonghwa menahan nafas. “Pulanglah.”

Hyunjoo bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen. Hilang sudah semua harapannya. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk membuat laki-laki itu mengubah keputusannya. Dipandanginya Yonghwa sekali lagi. Dengan susah payah, ia menata kata terakhirnya untuk laki-laki itu.

Annyeong,

Satu kata perpisahan yang sama dengan kata pertama yang ia ucapkan ketika bertemu lagi dengannya. Satu kata dengan dua makna yang berbeda; hello, good bye.

Jung Yonghwa menatap punggung gadis itu menjauh dari pintu apartemennya. Satu butir air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.

Berbahagialah untukku, Jang Hyunjoo.

 

3 thoughts on “[FF Competition] Hello, Good Bye

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s