[FF Competition] I’m annoyed, but still like it.

Judul : I’m annoyed, but still like it.

Genre : Romance –Happy Ending

~~~

 

Aku terus saja menghubungi ponsel Jungshin sejak siang tadi. Tidak ada jawaban. Dan itu sukses membuatku uring-uringan dan juga khawatir setengah mati.

Kira-kira ada sekitar 50 missed call darinya pagi ini. Aku benar-benar tidak mendengarnya. Maklum, kemarin malam aku mati-matian menyelesaikan desain gaun pengantin yang dipesan salah satu customerku di butik karena minggu depan pesanan itu sudah harus diantar.

Aku menghela napas sebal. Lelaki itu kurang ajar sekali membuat kepalaku pusing berkali lipat. Memang sih kami berdua sama-sama sibuk, tapi kali ini dia sangat keterlaluan. Menunggu dia menelpon saat ini rasanya seperti sedang menunggu kakakku melahirkan satu tahun yang lalu. Cemas sekaligus takut, karena diotakku sudah muncul pikiran yang macam-macam. Bisa-bisanya dia berbuat seperti ini, membuatku sebal disaat sebulan lagi aku akan menikah dengannya.

Ya, Jungshin adalah pacarku sekaligus calon suamiku.

Jam dinding kamarku sudah menunjukkan pukul 19.00. Sudah waktunya makan malam, dan aku baru ingat bahwa aku sama sekali belum memasukkan makanan apapun kedalam lambungku.

“Ah, Sun Hee kupikir kau sedang berada dibutik. Kebetulan sekali, eomma ingin bicara sesuatu denganmu.” eomma kelihatan sedikit tegang, namun berhasil ditutupinya dengan menyibukkan diri menyiapkan side dishes di meja makan.

Aku juga melihat appa, sedang membaca Koran di ruang TV. Jantungku mulai berpacu tak menentu, itu artinya apa yang akan eomma bicarakan benar-benar serius.

Walaupun aku penasaran, aku berusaha terlihat tidak seperti itu dan tidak kembali mengingatkan eomma apa yang ingin dibicarakannya. Sengaja aku mengisi mulutku penuh-penuh agar eomma berfikir bahwa aku menjijikkan karena tak seharusnya wanita-yang-akan-menikah berlaku seperti itu.

Well, apa kau tahu kalau kau sudah dijodohkan?” eomma akhirnya membuka suaranya –masih belum menatap mataku.

Mataku melotot saking terkejutnya, untung saja aku bisa mengontrol diriku agar tidak tersedak. Aku beralih menatap Appa, namun rasanya dia tidak ingin membicarakan sesuatu –atau lebih tepatnya tidak mau ikut campur- karena dia masih menutup wajahnya dengan lembaran Koran yang dibacanya.

“Di…jodohkan?” setelah menelan makanan dimulutku dengan susah payah, akhirnya aku berbicara walaupun kedengarannya seperti tikus yang sedang mencicit dan itu aneh sekali.

“Ya, kau dijodohkan,” kali ini eomma menatap kedua mataku, “Apa tiba-tiba kau tidak mengerti apa yang sedang aku sampaikan?”

Aku menghela napas, menahan buncahan kesal didadaku juga tenggorokanku yang tercekat. Lucu sekali rasanya eomma mengabarkan perihal perjodohan ini setelah dia setuju aku dilamar oleh Jungshin. Kurasa eomma tidak pernah menentang sedikitpun tentang hubungan kami. Aku masih ingat betul mimik wajah eomma saat Jungshin melamarku tiga bulan yang lalu. Dia terlihat jauh lebih senang daripada aku.

Aku terkekeh tidak jelas setelahnya, mulai gemas dengan pembicaraan tak masuk akal ini.

Eomma, aku tau kau suka bercanda. Tapi tidak untuk masalah dijodohkan atau apalah itu. maksudku, kau tahu kan kalau aku akan menikah bulan depan?” aku berusaha menghapus wajah gugup bin masamku untuk tersenyum seadanya kepada eomma dan menatapnya dengan tatapan ayolah-kau-benar-bercanda-kan? kemudian kembali menyantap makananku. Tapi, eomma bergeming. Dan dari situlah mimpi burukku terjadi.

“Aku super serius dengan yang aku bicarakan, dan kuharap kau tidak lagi mengingat-ingat sesuatu-yang-bernama Jungshin lagi. Karena kau sudah dijodohkan, kau tau itu?”

Kali ini aku tidak bisa bernafas rasanya. Suara sumpit yang baru saja aku banting di meja makan menggema, membuat eomma dan appa berjengit dan mereka tidak bicara apa-apa lagi setelah itu.

Aku sudah cukup baik menjadi anak yang tidak-meminta-macam-macam kepada eomma dan appa selama 23 tahun ini. Aku tidak pernah membantah untuk masuk di jurusan design demi eomma yang –katanya- mempunyai mimpi menjadi designer saat dia muda tapi tidak bisa mewujudkannya karena masalah biaya.  Dan juga aku tidak pernah mengungkit-ungkit bahwa aku naik bis setiap hari karena mobilku dipakai Sun Yeon –kakak perempuanku- hanya karena dia suka warna merah. Semua itu aku jalani tanpa banyak menggerutu. Dan –kurasa- aku tidak bisa diam lagi kali ini, mereka boleh mengaturku tapi tidak untuk masalah jodoh dan Jungshin. Aku sudah kelewat jatuh cinta dengan lelaki menyebalkan itu.

Sudah banyak ratusan protes yang aku siapkan, bahkan sampai gaya berbicara seperti apa yang akan aku sampaikan sudah tertata rapi di otakku. Tapi, lidahku tiba-tiba kelu begitu aku menatap kedua orang tuaku. Ya, aku cukup tau diri menjadi seorang anak. Walaupun aku membenci semua ini, bukan berarti aku harus berlaku kurang ajar kepada mereka. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadi pengecut yang bersembunyi didalam kamarku dan menangis disana.

~~~

Dua minggu terlewat begitu saja. Dengan acara ‘petak-umpet’ yang kulakukan kepada kedua orang tuaku, tentu saja. Aku pergi ke butik pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Setidaknya itu menjaga mood ku lebih stabil,  karena aku mulai menyesal begitu mengingat-ingat aku memarahi Jin Hee –yang merupakan asistenku- hanya karena dia lupa varian kopi yang aku suka.

Jungshin masih belum menelpon juga. Well, aku mulai sedikit terbiasa dengan ke-tidak-hadiran dirinya selama dua minggu belakangan ini. Anggap saja dia sedang bersusah payah menjalankan tugas mulia di pedesaan untuk mencukur seribu bulu domba.

Hari ini hari minggu, hari tertenang menurut kalender versiku. Selain aku tidak harus pergi ke butik, pertemuanku dengan kedua orang tuaku sedikit berkurang. Maksudku, dia selalu mengikuti pertemuan ‘Perkumpulan Penggemar Musik Tradisional Korea’ setiap dua minggu sekali. Dan minggu ini adalah jadwal pertemuan itu. Sekali lagi, aku cukup bernapas lega. Setidaknya aku tidak mendengar ocehan menyebalkan dari eomma sampai sore nanti.

Saat aku mulai percaya diri untuk tidak berdiam diri dikamar, aku dikejutkan dengan pemandangan yang membuatku bingung sampai-sampai rasanya aku mau pingsan. Banyak orang yang berlalu-lalang didalam rumahku. Diantaranya ada yang membawa belasan gaun panjang dan para pendekor yang sibuk membawa tiang-tiang berwarna putih. Aku berdecak kesal, ini semua pasti ulah eomma.

“Apa yang kau lakukan?” pekik eomma saat aku menariknya yang sedang bicara dengan seseorang wanita berkaca mata dan tampak mengantuk didepan gaun berwarna broken white.

“Apa-apaan ini semua? Bukankah aku sudah memesan dan mengatur sendiri semua tetek-bengek saat aku menikah dengan Jung-“

“Sudah kubilang lupakan sesuatu-yang-bernama Jungshin!” potong eomma geram “Aku sudah membatalkan semua yang kau pesan. Dan aku tidak pernah bercanda dalam hal ini.” Lanjutnya lalu kembali berbincang dengan wanita tadi. Tampaknya rasa ngantuknya hilang dan berusaha mencuri dengar pembicaraan kami lebih banyak lagi.

“Dan kalau kau tidak mau berada disini, kau boleh berdiam diri dikamar saja, seperti yang kau lakukan selama dua minggu ini.” ucap eomma yang berjalan melewatiku untuk memeriksa dekor yang akan dipasang dihalaman belakang rumah kami.

Mataku mulai kabur, itu artinya aku akan menangis beberapa detik lagi. Aku nampaknya sedikit menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang disana karena aku berlari dan sempat menyenggol vas bunga di ruang tengah saat aku menuju kamar. Aku menangis tertahan disana. Walaupun tampak begitu bodoh, aku menarik foto Junghsin yang terpajang di nakas tempat tidurku dan mulai berdialog kecil dengannya. Yah, aku membutuhkannya sekarang. Tapi dia entah berada dimana setelah meninggalkan 50 missed call misterius.

“Kau benar-benar lelaki menyebalkan Lee Jungshin!” itu kata-kata terakhirku sebelum akhirnya aku memeluk pigura itu dan menutup mataku dalam diam.

~~~

Aku menatap pantulan diriku didalam cermin. Semua riasan dan gaun indah ini seharusnya kupakai dihari bahagiaku bersama Jungshin, bukan dengan seorang yang bahkan aku tidak tau siapa namanya.

Ya, setengah jam lagi aku akan menghadiri acara pernikahan kelamku. Aku bodoh? Memang. aku sempat berfikir untuk kabur saja dari sini dan pergi menemui Jungshin. Tapi, aku belum cukup berani untuk melakukan itu semua. Lagipula, aku sudah mati-matian mencari Jungshin dua minggu terakhir ini. Dan…hasilnya nihil, kalau kau mau tahu. Aku sebenarnya kesal sekali kenapa dia tidak bisa kutemukan. Bahkan sampai aku dibilang orang gila yang mengaku-ngaku sebagai calon istri Lee Jungshin. Ini memang salahku, sekali lagi. Aku tidak pernah ingin masuk kedalam dunia kerja Jungshin, apapun itu. dan Jungshin pun begitu. Tapi, rasanya ini –sedikit- salah. Seharusnya aku menampakkan diri lebih dulu dan membiarkan orang-orang kantornya mengenalku. Jadi, saat keadaan ‘emergency’ begini aku bisa tau keberadaannya, setidaknya begitulah pemikiranku.

Aku benar-benar tak mau tau siapa orang yang dijodohkan denganku ini. Kedua orang tuaku sudah berusaha memberi informasi tentang orang itu kepadaku tapi aku tidak maenggubrisnya sama sekali. Sun Yeon juga memberiku kuliah umum di hari minggu yang seharusnya adalah hari istirahatku. Sebagai adik yang baik, aku membiarkannya berada di kamarku dengan ocehan yang tak berhenti selama tiga jam penuh. Sebenarnya aku heran kenapa dia bisa berbicara selama itu. Mungkin dia khawatir aku akan berlaku macam-macam, karena dia terus saja menyebut-nyebut agar aku tidak berlaku bodoh semacam bunuh diri.

Aku benar-benar marah dengan Lee Junghsin. Tapi aku juga merindukannya. Mungkin inilah yang disebut cinta membuatmu bodoh dan tak berfikir logis. Aku sudah memutuskan untuk menghabisinya jika wajahnya muncul tepat didepanku. Well, aku cukup jago dalam urusan bela diri.

Gagang pintu keperakan diruangan ini memutar perlahan, membuatku memusatkan perhatian penuh kepada sosok yang akan muncul beberapa detik lagi. Ternyata appa. Dia tersenyum sumringah sekali, bahkan aku rasanya belum pernah melihat senyum yang seindah dan setampan itu. Dia lalu menggapai tangan kananku dan mengecupnya pelan. Aku tau ini sudah saatnya.

Saat pintu yang berdiri kokoh didepanku terbuka lebar, aku bisa melihat senyum itu. Senyum yang seribu kali aku rindukan. Dadaku terasa sesak tiba-tiba, begitu juga tenggorokanku yang tercekat. Pandanganku mulai kabur. Walaupun aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa lelaki dengan tuxedo putih di ujung sana, tapi aku cukup…eh  bukan! aku sangat mengenalnya, malahan.

Aku menerima sambutan tangannya dengan tangan gemetar. Ujung-ujung jariku berubah dingin. Dan aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa sekarang ini.

~~~

Setelah kami selesai mengucap janji, aku menyeret lelaki ini –yang telah resmi menyandang title sebagai suamiku-  dengan emosi menuju ruang tunggu yang sebelumnya kupakai. Dia hanya pasrah dan tak berhenti tersenyum sejak tadi.

“Kemana saja kau selama ini, Lee Jungshin?” dia tersenyum lebar sampai-sampai kedua sudut bibirnya itu akan mencapai telinganya. Cukup menenangkan akhirnya aku bisa melihat senyumnya lagi. Tapi, sudah kubilang dia itu keterlaluan. Dan aku menunggu jawaban yang pas untuk semua ini.

“Aku tidak akan menikahimu begitu saja, Sun Hee. Kau harus merindukanku lalu merasa kehilangan atas keabsenanku. Jadi, kupikir kau akan jauh lebih bahagia jika bertemu denganku lagi disaat pernikahan kita.”

Aku melongo, jawaban apa ini? Tch! Aku benar-benar berfikir dia pergi meninggalkanku dan khawatir setengah mati tapi dia melakukan ini agar aku lebih bahagia jika bertemu dengannya?

Itu berarti semua ini adalah rencananya? Oh, terima kasih, suamiku Lee Jungshin!

“Kenapa kau diam saja? Bukankah kau merindukanku? Kemarilah, aku yakin kau rindu padaku.” Tangannya merentang lebar dan dengan matanya dia menyuruhku untuk memeluknya. Ajaibnya aku langsung memeluknya! Padahal sebelumnya aku sudah berencana untuk memelintir tangannya lalu memukulnya.

Mianhae, kau pasti khawatir sekali ya? Eomma menelponku dan bilang kau tidak keluar kamar selama beberapa minggu. Tch! Kau begitu mencintaiku ya?” gumamnya saat dia menghirup aroma rambutku. Aku memukul dadanya dengan keras lalu menengadah untuk menatap wajah oval nya.

“Kau gila! bisa-bisa nya kau berfikiran kekanakan seperti ini. Kau kira nikah itu untuk main-main? Babo!” lagi, aku memukul dadanya.

Kedua tangannya yang panjang menangkup wajah mungilku dan menatap mataku dalam. Jari-jarinya bergerak pelan untuk mengusap kedua pipiku.

“Aku tidak mau kehilanganmu, bahkan setelah kita menikah. Kau tau? Aku sengaja berbuat seperti ini agar kau merasa pernikahan ini adalah sesuatu yang harus kau pertahankan karena kau sebelumnya telah memperjuangkannya. dengan begitu kau akan menjaga pernikahan ini dengan sebaik-baiknya walaupun kita bertengkar.” Diakhiri dengan senyumnya yang hangat, dia kembali memelukku. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungnya saking eratnya dia memelukku. Dan kembali dia menangkupkan kedua tangannya di wajahku, kemudian mengecup bibirku dan menyapunya dengan lembut.

Saranghae, aku sangat mencintaimu nona Lee.” ucapnya begitu dahi kami bertemu. Dengan napas tersengalnya dia terlihat dua kali lebih tampan.

Nado, aku juga sangat mencintaimu.” Balasku sambil mengecup singkat bibir merahnya.

Hembusan napasnya kembali menerpa pipiku, itu tandanya dia akan kembali mengecup bibirku.  Namun, tiba-tiba pintu ruangan kami terbuka lebar.

“Kalian sangat ti…” Sun Yeon menahan omelannya dan pura-pura tidak melihat Junghsin yang berusaha menciumku.

“Oh…baiklah, lima menit lagi. Kalian harus menyapa tamu, tidak sopan sekali!” katanya gugup sebelum menutup kembali pintu ruang tunggu.

Jungshin menaikkan sebelah alisnya, “Lima menit? Ah kurasa tidak cukup! Aku tidak yakin riasanmu akan baik-baik saja dalam waktu lima menit itu.”

Ya!!!” aku memukulnya lalu kurasakan kedua pipiku memanas. Wajahku pasti merah karena malu sekarang.

Jungshin lalu mengecup bibirku sekali lagi, kali ini dengan singkat dan lembut. Tangannya menggenggamku lalu tersenyum

Kajja,  aku sudah cukup gerah dengan omelan eommonim karena rencana gilaku. Dan aku tidak ingin dihabisinya karena melakukan kesalahan lagi.” ucapnya terkekeh tapi dengan wajah setengah takut.

Aku tidak dapat menahan tawaku dan mulai berjalan mengikutinya.

~~~

 

THE END

 

3 thoughts on “[FF Competition] I’m annoyed, but still like it.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s