[FF Competition] Loona

judul ff: “Loona”
genre: romance- sad ending

 

Langit Seoul mendung, angin musim dingin berhembus membuat suasana seakan pucat. Tapi disana, di depan bandara Inchoen berdiri seorang gadis dengan hanya menggunakan T-shirt tanpa peduli seberapa dingin angin berhembus. Wajahnya menengadah ke langit dengan mata terpejam, senyum tipisnya yang nyaris tak terlihat mengembang. Menikmati setiap udara yang masuk dalam dadanya. Tangan kirinnya menggempal mempererat pegangannya pada sebuah koper berwarna hitam, seolah membulatkan tekad.

“aku harus menyelesaikan semuanya, masa lalu yang tertunda itu. Dan aku harus menemukannya, laki-laki yang 3 tahun lalu selalu membuat hatiku berdegup. Semoga dia masih mengingatnya. Sedikit saja…” batinnya. Sesaat kemudian, sesuatu yang ia nikmati itu harus terhenti karena smartphone yang ia genggam di tangan kanannya berdering.

“Ia Al, aku sudah di depan bandara. Sekarang aku harus kemana?” tanyanya pada orang yang sedang menghubunginya.

“aku sms saja alamatnya, nanti tunjukkan itu pada supir taxi, oke?” jawab suara diseberang sana

“oke” jawab wanita ini dengan singkat, segera ia masukkan smartphone berukuran 5,5” itu ke dalam tas punggungnya, karena tangannya kini memegang sebuah buku kecil berwarna coklat yang bertuliskan nama “Loona” di cover depannya. Lunakah namanya? Ya, dia membuka cover buku mirip diary itu, tertempel sebuah foto dirinya bersama seorang laki-laki yang kini sudah dikenal dimana-mana, Jung Yong Hwa, leader CNBLUE.

Sepuluh menit kemudian Luna sudah berada didalam sebuah taxi. Sesuai arahan Al, Sbastian Arnold, sepupunya, ia menunjukkan alamat yang Al kirim pada supir taxi. Luna memandangi kota Seoul, semua seperti bergerak dari dalam taxi. Senyumnya kembali mengembang seperti tadi, benar-benar tipis.

Luna kembali membuka halaman buku yang ia pegang.

“Ahjussi, bisakah kita mampir ke tempat ini sebentar?” Luna menunjukkan buku yang ia buka barusan, tertera sebuah alamat didalamnya.

“Baiklah nona. Maaf nona, apakah anda bukan orang Korea?”

“Benar, saya baru pertama kesini”

“Oh ya? Lalu, haruskah saya tunjukkan pada anda tempat-tempat terbaik disini?” Canda supir taxi itu

Luna kini tersenyum, bukan senyum tipis seperti tadi. tapi senyum merekahnya terhenti saat dia mengingat sesuatu.

“ah benar, ini kali kedua saya kesini ahjussi, 3 tahun yang lalu saya sempat kesini” katanya mulai melemas dan menatap kembali buku coklat yang sudah sedikit usang itu.

***

Luna menatap sebuah pintu berwarna merah di depannya. Alamat yang tertera didalam buku itu membawanya kesini. Sebuah tempat disudut kota Seoul. Sebuah pintu yang berada di antara dua toko. Luna memejamkan matanya, genggaman tangannya semakin mengerat pada buku itu. Sekelebet kejadian tiga tahun yang lalu mulai berlari-lari dalam pelupuk matanya.

Tiga tahun lalu di dalam ruangan dibelakang pintu ini yang melewati tangga kebawah dan berbelok kekiri, ruangan yang mereka sebut studio, itulah saat pertama Luna mengenal laki-laki itu, Jung Yong Hwa.

Laki-laki itu kini seperti berada di pelupuk mata Luna, memandanginya dengan mata yang masih sama, sendu. “Kemana saja kamu?” bayangan laki-laki itu mulai berbicara. “hya! Bukankah kamu sedikit keterlaluan? Kenapa kamu pergi begitu saja? Bukankah setidaknya kamu harus mengucapkan selamat tinggal padaku Luna-ya?”

Mata luna yang terpejam perlahan berair, dan perlahan ia buka dan mengatupkan bibirnya yang bersiap membela diri menerima ocehan Yong-Hwa. Tapi sinar senja menyadarkannya kalau Yong-Hwa yang barusan hanyalah imajinasinya saja. Gambaran dari kenangan lalu, saat semuanya baik-baik saja. Saat ia menjadi Luna yang dekat dengan Yong-Hwa, dan mencintai laki-laki itu.

***

“Yong-Hwa-ya, kau dimana? Aku mampir ke dorm-mu. Ah, tapi kata mereka kau keluar. Tunggu, kau tidak sedang berada di bukit kan?” suara Lee-shin, sahabat Yong-hwa dari kecil, terdengar tanpa henti, tanpa jeda untuk bernafas.

“Shin-ah, kau berbicara seperti sedang ikut lomba adu cepat berbicara. Geure, aku di bukit. Hari ini tiga tahun yang lalu, dia menghilang tepat di depan mataku. Kau masih ingat pastinya…” suara yonghwa mulai melemas.

“Yong….”

“tolong, berhenti memintaku melupakannya. Aku sudah lelah mendengarnya, eoh?!” Yonghwa memotong ucapan sahabatnya itu. Membuat Lee-shin terdiam, dan “klik”, yonghwa mematikan sambungan teleponnya.

Yonghwa kini berada di bukit. Bukit yang menyimpan kenangan paling berharga miliknya. Kerlip lampu kota Seoul di bawah sana seperti bintang. Gemerlap yang sangat disukai gadis kecilnya, Luna, yang sering mengatakan bintang seperti berada di bawah kaki kita. “Luna, apa kau baik-baik saja? Aku merindukanmu”. Gumamnya mengingat gadis yang selalu bersamanya tiga tahun lalu.

***

“itu Luna, ita pasti Luna” teriak yonghwa pada Lee-shin melalui telepon saat melihat sesosok gadis ketika melintasi jalan menuju sebuah mall tempat ia dan seluruh anggota bandnya akan melakukan fansighn.

“Yong, tolong, itu bukan Luna. Kau tahu Luna, kita tahu, dan Luna yang kita kenal tak akan mengabaikan kita selama tiga tahun. Dia pasti akan berusaha mencari kita, jadi tolong kendalikan dirimu Yong-hwa-ya” jawab Lee-shin lemas, dia tahu betul Yong-hwa masih selalu berharap Luna kembali. “dan, aku akan menemuimu hari ini, kau tahu? Aku fans-mu juga” lanjut Lee-shin.

Yonghwa dan ketiga member cnblue yang lain sudah berada di dalam salah satu stand di dalalm pusat perbelanjaan itu. Tidak seperti biasanya, kali ini fansighn yang mereka lakukan hanya terbatas pada 50 orang penggemar yang merupakan kepetusan management mereka.

Kegiatan ini akan dibuka lima menit lagi, tapi pintu stand sudah penuh sesak dengan boice yang telah lama menanti acara ini. Satu persatu para fans itu mendekat dan menyodorkan album, poster dan apapun untuk di tanda tangani, atau sekedar menulis nama mereka, pada yong-hwa dan member lain. Lee-shin juga disana, dia sudah kenal baik dengan member lain.

Yonghwa mulai merasa lelah, padahal biasanya ia mampu menandatangani ratusan bahkan ribuan album. Dan akhirnya, tanpa melihat wajah fansnya, yang sepertinya merupakan nomor antrian terakhir yonghwa mengambil sebuah buku yang di sodorkan fansnya itu. Suasana berubah, jam yang berdetak terasa berhenti di dunia Yong-hwa. Buku berwana coklat itu bertuliskan ‘Loona” di cover depannya, seperti cara Luna biasa menuliskan namanya.

“Luna!!!”

Suara Lee-shin berhasil membuat Yonghwa langsung memutar kepalanya, dan kini berdiri sesosok gadis di depannya. Gadis yang masih berdiri kokoh di dalam ingatannya. Matanya membelalak, masih tak percaya dengan apa yang berada didepannya kini. Yonghwa teringat buku yang ia pegang, dan menundukkan kepalanya. Seolah mencari sesuatu yang dapat membuatnya percaya. Dia harus menemukannya. Dan saat ia membuka halaman pertama buku itu, fotonya dulu saat tertawa lepas dan menggapit leher Luna yang terlihat meringis.

“annyeong, boleh aku minta tanda tangan disini?” Luna menunjuk foto yang saat ini sedang di tatap Luna. Tapi tak ada respon dari laki-laki di hadapannya. Yonghwa tetap tertunduk. Dan kini, air sepertinya memenuhi matanya, tapi ia menahannya. Tak mungkin ia akan meneteskan air mata, sebagai laki-laki, terlebih di depan Luna!

“Hyung…” suara lirih luna dengan panggilan anehnya itu berhasil menarik yonghwa dari alam lain. Yonghwa menengadahkan kepalanya. Luna sudah tak sanggup lagi menahan perih di ujung matanya, dan akhirnya air mata gadis ini jatuh juga. Berbeda dengan yonghwa, sekuat tenaga ia berdiri dan berusaha merekahkan senyum, meski tak bisa –terlalu perih. Ia berjalan mendekati Luna yang saat itu terpisah oleh meja panjang dengannya.

“Hya!! Kau gila ya! Kemana aja kau selama ini?!” teriak yonghwa, membuat Luna, Lee-Shin dan seluruh manusia yang ada dalam stand yang sudah ditutup itu terdiam.

“…”

Belum sempat Luna menjawab, yonghwa sudah mengaitkan lengannya di Leher Luna.

“Luna-ya! Kamu bener-benr sial, kau tahu! Menghilang semaumu!” jejal Yong-hwa yang mulai mengesekkan tulang jari-jarinya di kepala Luna, seperti yang sering ia lakukan dulu.

“Hyung! Hentikan! Hya! Kepalaku mahal sekarang, kau tidak bisa melakukan ini lagi! Hya!” tapi apa boleh buat, bukan yonghwa namanya jika ia bisa menyerah berdebat pada Luna di putaran pertama. Tingkah yonghwa dan Luna ini membuat Lee-shin tersenyum-senyum. Masih seperti dulu, inilah letak “manis”nya Luna dan Yonghwa. Berisik. Meskipun, mereka bukan sepasang kekasih. Tapi semua tahu, ada sesuatu tersembunyi di antara keduanya.

“hyuuuuung!” Luna mulai memelas. Tangan yonghwa mulai mengendur. Luna tahu, sejahil apapun yonghwa, dia dapat mengatasinya dengan memelas. Ha!

“hya! Kau masih memanggilku dengan ‘hyung’? Astaga!” Yong-hwa melebarkan matanya, masih tak percaya gadis ini tidak berubah. Gadis jahat yang tiba-tiba menghilang dan sekarang kembali seolah tidak terjadi apa-apa.

“Jadi aku harus memanggilmu ap…” lagi-lagi, Yong-hwa memotong kata-katanya dan langsung memluk Luna, gadis yang benar-benar ia rindukan. Luna melebarkan pandangan dan ia melihat Lee-shin mendekat dengan tawanya yang merekah, melebarkan kedua tagnannya dan bersiap memeluk yonghwa dan Luna yang sedang berpelukan. Luna berusaha menggeleng, dan menatap Lee-shin dengan tatapan Tolong-Hentikan-Hyung-jangan! Bukannya berhenti Lee-shin semakin mendekat. Mereka memang pernah  melakukannya dulu –pelukan teletubbies ala Yong-hwa-, saat mereka berhasil meminta Luna memasakkan nasi goreng, masakan aneh yang menurut mereka benar-benar enak.

Tapi sepertinya ada yang berbeda. Tubuh Luna terasa asing dipelukan Yonghwa.

“Luna, apa kamu bertambah kurus? Tidak,tidak, apa kamu tambah gemuk?” selidiknya.

***

“Hyung, ada sesuatu yang ingin ku katakana padamu” ucap Luna di keheningan bukit, saat Yonghwa menggenggam tangannya, Luna berfikir mungkin inilah saatnya ia mengakui segalanya.

“tidak, aku dulu yang bicaranya,” bantah Yonghwa, kemudian memutar tubuh Luna menghadapnya. Menatapnya dalam, “Terima kasih Luna-ya, kamu sudah kembali. Bahkan dua hari ini kau menemaniku, melakukan segalanya yang aku rindukan untuk kulakukan bersamamu. Memakan masakanmu, meskipun rasanya berubah, Astaga!”

“Mengayuh sepeda gunung kesayanganku dengan kamu yang berdiri di di belakang punggungku. Melihat kamu tertawa, mendengar kamu berbicara, semuanya. Sial! Aku baru sadar aku benar-benar meirndukan hal-hal kecil seperi itu” jelas yonghwa, tersenyum tanpa alasan.

“Hyung, maafkan aku, sumpah maafkan aku” Luna tertunduk.

“Kenapa? Karena kamu pergi tanpa ijinku?” Tanya yonghwa tapi Luna malah tertunduk, “aku tidak akan memaafkanmu jika kau tak kembali. Sebenarnya Luna-ya, ada hal yang ingin kukatakan tiga tahun yang lalu. Saat kau tiba-tiba berbalik pergi menggunakan taxi tanpa sepatah katapun, kau tahu aku tak mungkin langsung mengejarmu karena aku sedang bernyanyi di tengah panggung. Jika aku tahu aku akan kehilangan kamu, aku tak akan peduli dengan panggung sial itu.” Yonghwa menarik nafas dan bersiap melanjutkan ceritanya.

“setelah lagu itu selesai aku ingin mengatakan bahwa aku menyukaimu. astaga, aku tak pernah berfikir bahwa aku bisa melakukannya setelah tiga tahun!” Luna menatap Yonghwa yang dibalas senyuman jahil Yonghwa

“ya! Benar! Aku menyukaimu Luna-ya, dulu, sekarang, dan nanti!”, pengakuan yonghwa ini berhasil membuat air mata Luna jatuh.

“hyung, masih ada lagi yang ingin kau lakukan untuk mengganti tiga tahun ini?” Yonghwa memutar bola  matanya dan kembali tersenyum jahil.

“Aku ingin melakukan ini” Yonghwa merangkul Luna dalam pelukannya, erat dan semakin erat.

“aku ingin kau memanggilku ‘oppa’, dan juga. . .aku juga ingin melakukan ini” dia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Luna, memperkecil jarak antara bibirnya dan bibir gadis itu.

“Hyung, jika aku tidak kembali apa kau akan tetap memaafkan aku?” yonghwa menghentikan gerakannya, menunda keinginannya mencium Luna. Kening yonghwa mengernyit, tampak berfikir.

“aku akan memaafkanmu asalkan kau menceritakan semuanya padaku”

“Baiklah, jika seperti itu, ini…” Luna menyodorkan sebuah buku, buku yang selalu ia pegang, dan memberikannya pada Yonghwa. “Yonghwa-shi, aku bukan Luna. Aku tak tahu apa kau akan percaya padaku atau tidak. Tapi aku memang bukan Luna, aku Hana, saudara kembar Luna. Alasan kenapa kau berfikir tubuhku tidak familiar dalam pelukanmu adalah karena aku Hana. Luna tidak akan pernah kembali….” air mata gadis yang ternyata bernama Hana, yang tadi sempat terhenti kini mengalir lagi.

“apa?! Lelucon apa ini Luna! Tidak, Hana-shi! Jadi dimana Luna sekarang?” Yonghwa mulai meninggikan nada bicaranya.

“Luna sudah pergi ke tempat yang benar-benra jauh, tiga tahun yang lalu karena kanker yang bersarang dikepalanya. Sesaat sebelum pergi, Luna ingin aku mengakhiri sesuatu denganmu, dia tidak ingin kau menunggunya. Oleh karena itu aku berada disini sebagai Luna”.

“Maafkan aku yonghwa-shi, aku tahu ini keterlaluan, tapi aku merasa harus memenuhi janjiku padanya. Kau tahu? Ini juga sangat berat untukku. Aku dan Luna, kami kembar identik bahkan perasaan kami berdegup oleh satu sama lain. Empat tahun yang lalu, aku selalu merasa hatiku berdebar, dan sekarang aku tahu, Luna menyukaimu mulai saat itu. Kau bisa percaya padaku, aku berada didalam taxi yang sama saat itu. Juga, kau bisa yakin dia mencintaimu lebih dari apapun. Semuanya ada dibuku yang kau pegang”. Yonghwa mulai bisa mencerna kata-kata Hana, tapi sayang, dia tak bisa menerima semuanya. Air mata yang ia tahan dua hari yang lalu, kini benar-benar tumpah. Pandangannya buram, tapi dia masih bisa melihat punggung gadis bernama Hana itu mulai menjauh.

12 Maret 2010

“Hyung, oppa ;p, aku tahu ini salah. Tapi aku benar-benar merindukanmu, menyukaimu, dan mencintaimu. Terimakasih telah hadir dihidupku, dan jika aku tak ada kelak, tetaplah sering tersenyum. Aku tahu kau menyukainya -sesuatu yang kau sebut ‘tawa’”

 

 

4 thoughts on “[FF Competition] Loona

  1. Dapet sih jalan cerita dan maksudnya. Tapi kurang nyambung juga ya, soalnya pas pertama tadi author nyeritain itu Luna. Kalau twist ending gni harusnya bukan gitu. Tapi tetap keren kok🙂 mengharukan. Semangat thor!

  2. bagus thor, emang sedikit aneh awalnya author bilang Luna tapi blakangnya ternyata bukan, tapi setelah dipikir-pikir kalo gak gitu gak seru dan konfliknya gak bakal kelihatan, pokoknya, suka banget thor, thanks🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s