[FF Competition] Clarity

Judul   : Clarity

Genre : Romance – tragedy

 

~~~

 

Teriak-teriakan itu  masih berdengung di telinga Yunji padahal dia sudah berusaha untuk tidak mengingat-ingat semua hal yang mengganggu pikirannya. Ayah dan ibunya juga masih berdebat di luar sana, dan sesekali dia mendengar piring atau barang lainnya beradu dan terjatuh. Namanya juga disebut-sebut sejak tadi, membuatnya dua kali lebih tersiksa harus berdiam diri didalam kamar dan mendengar semua pembicaraan dan pertengkaran mereka. Yunji memejamkan matanya erat, membuat air mata yang berkumpul di ujung matanya sejak tadi mengalir mulus menyusuri pipi tirusnya.

Pandangannya kini terfokus pada sekumpulan foto yang tertempel di dinding kamarnya. Senyum lelaki yang dicintai nya itu beribu-ribu kali dirindukannya. Kecupan lembut bibirnya juga membuatnya terlena, dan pelukan hangatnya membuatnya nyaman dan aman terhadap hal menakutkan yang akan menghampirinya saat ini juga. Tapi semakin dia mengingat itu semua, semakin menorehkan luka di lubuk hatinya. Tiga bulan berpisah dari lelaki tersebut membuatnya lemah, ternyata menjalani hubungan jarak jauh tidak semudah yang dipikirkannya.

Aku harus segera menemui Jonghyun! Setidaknya itulah yang berputar di otaknya sekarang.

Hatinya teraduk-aduk. Entah bagaimana seharusnya dia membicarakan masalah ini dengan Lee Jonghyun. Seseorang yang sangat dicintainya dengan hati yang tulus. Tadinya dia berfikir untuk rela memberi kehidupannya demi lelaki nya itu. Tapi, dia sudah tidak kuat lagi dan mungkin itu hanyalah wacana semata. Dia mendapatkan banyak cercaan, hinaan, ke-tidak-setuju-an dari banyak pihak. Termasuk tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya.

Yunji menghela napas, kebetulan sekali Jonghyun menelponnya sore ini dan mengabarkan bahwa dia sudah berada di Busan. Itu berarti dia harus menyampaikan apa yang dialaminya selama tiga bulan ini. Memikirkan semua itu rasanya membuatnya semakin enggan untuk berjalan lurus menemui Jonghyun saat ini. Tapi, dia harus bertemu dengan lelaki itu. Maka dengan secercah rindu dan keberanian yang besar, dia akhirnya memutuskan untuk benar-benar bertemu dengan Lee Jonghyun.

Lima menit setelah memasuki area pantai, Yunji dapat dengan mudah mengetahui keberadaan Jonghyun. Wajar saja, di jam malam seperti ini tentu saja tidak banyak orang dan juga Jonghyun memakai baju dengan warna terang, sesuatu yang dibencinya. Mungkin dia memakainya agar dia mudah dikenali dan ditemukan oleh Yunji di malam hari itu.

Jonghyun akhirnya menyadari kedatangan Yunji -yang berjalan pelan sekali seolah-olah tidak ingin cepat sampai dihadapan lelaki itu-. Senyum nya merekah, membuat lesung yang terpatri di pipinya mencuat keluar dan membuat wajahnya dua kali lebih tampan. Dia sangat senang, tentu saja. Melihat Yunji setelah tiga bulan berpisah sungguh perasaan yang luar biasa baginya sekarang ini.

Yunji, walapun dia sama rindunya dengan Jonghyun, dia tidak bisa memperlihatkan apa yang dirasakannya sekarang ini kendati dia sangat ingin memeluk tubuh kekar itu dan menghirup aroma tubuh maskulin Jonghyun yang membuatnya candu. Yang gadis itu lakukan saat ini hanyalah menatap nanar kedua manik mata yang tampak berbinar memandangnya.

“Bagaimana kabarmu?” Jonghyun menarik tangan Yunji dan menggosoknya pelan disana. Tangannya sangat dingin saat itu, Yunji bisa merasakannya begitu jemari Jonghyun bersatu di jemarinya.

“Seperti yang kau lihat, Jonghyun ah.” Yunji hanya tersenyum simpul. Oh bahkan itu bisa dibilang hanya sekedar ringisan. Jonghyun yang mendapati itu tersulut kecewa. Wajar saja, dia menyambut Yunji dengan semangat dan penuh cinta, tapi Yunji seperti malas-malasan dan enggan bertemu dengan Jonghyun saat itu.

Tapi, sama halnya dengan Yunji. Jonghyun menutupi perasaannya itu. Dia tidak mau pertemuannya kali ini sia-sia dan diisi dengan meributkan hal-hal yang tidak penting, karena besok dia sudah harus kembali ke Jepang –tempat tinggalnya selama tiga bulan terakhir ini.

Yunji dan Jonghyun sepakat berjalan-jalan di bibir pantai untuk menghabisi waktu mereka malam ini dan sesekali mengamati gulungan ombak kecil menghampiri ujung-ujung kaki mereka. Jonghyun banyak bercerita, tentu saja tentang kehidupannya di Jepang selama tiga bulan terakhir ini. Jonghyun juga bilang saat ini dia sedang tertarik dengan musik, dan beberapa kali memainkan gitar di toko tempat dia bekerja. Bahkan para pembeli di toko tersebut mulai memanggilnya Jonghyun-si-gitaris-jalanan karena beberapa kali Jonghyun mengikuti performance musik di Shinjuku. Sedangkan Yunji, dia hanya sesekali membalas obrolan Jonghyun. Tak mungkin dia menceritakan bahwa selama tiga bulan ini dia mendapat setumpuk surat-tanpa-nama yang memakinya habis-habisan karena berani berpacaran dengan Lee Jonghyun. Dia juga tidak tau darimana orang-orang itu mengetahuinya karena Jonghyun dan Yunji tidak pernah terlihat berpacaran diarea sekitar rumahnya. Yunji malahan sedang menata kata-kata di pikirannya agar apa yang disampaikannya nanti dapat dimengerti oleh Lee Jonghyun yang terkenal sangat keras kepala.

“Jonghyun ah, kita harus menghentikan ini semua.” Yunji memotong obrolan Jonghyun yang sedang membicarakan keinginannya untuk bermain ski disaat musim dingin nanti.

“Kenapa kau mengatakan hal itu? apa kau menyukai lelaki lain?” Jonghyun menghentikan langkahnya, menatap tajam mata Yunji yang terus-terusan menghindari sorotan manik mata Jonghyun.

Yunji terkekeh pelan. “Kenapa? Oh astaga! Kurasa kau mengetahui itu semua, Jonghyun ah.” Yunji tidak habis pikir untuk menjelaskan alasan yang jelas-jelas sudah diketahui oleh Lee Jonghyun. Lelaki itu menarik kedua tangan Yunji dan menggenggamnya erat. Belum apa-apa dia sudah terlihat menjadi lelaki yang lemah bahkan hampir menangis.

“Kita bisa menjalankannya selama ini, dan kau menyetujuinya. Tapi kenapa ini tiba-tiba sekali? Oh katakan saja kalau kau memang menyukai lelaki lain. Itu akan jauh lebih …”

“KITA KAKAK ADIK, JONGHYUN AH! KITA INI SEDARAH, KAU PASTI TAU HAL ITU!!” Yunji menangis sekarang, meledakkan amarahnya dan bergulat dengan rasa bersalah sekaligus cintanya yang jatuh pada orang  yang sangat tidak tepat.

Ya, Lee Yunji dan Lee Jonghyun kakak adik, lahir dari rahim yang sama dan mempunyai ayah yang sama.

Jonghyun menutup matanya. Dia tahu suatu saat kejadian ini akan datang, tapi dia tidak menyangka akan secepat ini. Semua ini memang salah sejak awal mereka memutuskan untuk menjalaninya. Ayah dan ibunya sempat bercerai dan mereka hidup terpisah selama dua puluh enam tahun. Saat itu Jonghyun yang berumur tiga tahun tentu tidak tahu apa-apa. Dan Yunji? Apalagi anak itu. Dia masih berada didalam kandungan saat perceraian itu terjadi.

Dan mereka bertemu lagi enam bulan yang lalu. Saat kedua orang tuanya memutuskan untuk kembali bersama. Jonghyun awalnya hanya merasakan rasa sayangnya sebagai kakak adik. Tapi, semakin mereka dekat, Jonghyun semakin tak dapat menahan rasa cintanya tersebut, begitu pula Yunji yang –memang- menyukai Jonghyun sejak pertama kali mereka bertemu.

Eomma dan appa sudah mengetahui ini semua. Kita harus mengakhirinya Jonghyun ah! Aku tidak mau hidup seperti ini.” Derai air mata masih melimpahi wajah pucat Yunji. Jonghyun menggelengkan kepalanya pelan tanda dia tidak setuju dengan pernyataan Yunji. Tanpa bicara lagi, lelaki itu  langsung menarik Yunji kedalam pelukannya.

Aniyo, aku mencintaimu! Kau tidak boleh seperti ini, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mendengarkan apa yang orang lain bicarakan?” Lagi, nada bicara Jonghyun penuh ketakutan sekaligus kekhawatiran. Yunji melepaskan diri dari pelukan Jonghyun dan membantah itu semua.

“Aku ingin hidup sewajarnya! Apa kau tidak kasihan dengan eomma dan appa? Mereka harus menerima hujatan setiap hari karena kedua anak kandungnya saling ‘mencintai’, begitu pula aku. Kau tidak tahu seberapa beratnya hidupku tiga bulan terakhir ini. Aku sudah muak dengan semua ini! Tolong, hentikan, kumohon Jonghyun ah!” isak tangis Yunji bergema. Untung saja itu sudah larut, jadi mungkin saja tidak akan ada orang yang mengetahui masalah yang sedang mereka luapkan di bibir pantai ini.

“KENAPA HARUS KAU YANG MENJADI ADIKKU? KENAPA?” Jonghyun teriak tak kalah murkanya. Dengan kesal dia menarik Yunji dan mencium gadis itu dengan ganas. Yunji mati-matian menolaknya, sampai pada akhirnya Jonghyun merasa Yunji meringis dan darah pun telah menodai bibirnya juga bibir Jonghyun.

“Yunji ah, mianhae. Kau masih mencintaiku kan? Kau tidak akan meninggalkanku eoh?” Jonghyun memandang wajah Yunji dengan tatapan memohon. Saat ini dipikirannya adalah mencari jalan keluar agar hubungannya tetap terselamatkan. Namun, Yunji rasanya tidak mau capek-capek memikirkan jalan keluar yang Jonghyun inginkan. Terlihat sekali dari sikap Yunji yang terus-terusan melepaskan diri dari sentuhan tangan Jonghyun juga dengan sikapnya yang tetap ingin hubungan mereka tak lebih dari seorang kakak-adik, walaupun sudah sangat terlambat untuk kembali menjadi kakak-adik sungguhan.

Yunji berjalan menjauh dari Jonghyun, tanda dia benar-benar ingin mngakhiri hubungan terlarangnya ini dan ketegasan sikapnya sejak dia memutuskan untuk menemui Jonghyun dan meluapkan apa yang dirasakannya hari ini.

“Aku berhenti sampai disini. Kuharap kau pulang dan berhenti bepergian ke Jepang. Tidak usah takut, aku yakin eomma dan appa akan mengerti jika kau mau berlaku seperti seharusnya. Aku tidak akan mencintaimu lagi.” Walaupun berat Yunji harus mengatakan ini semua. Dan setelahnya Yunji pergi begitu saja meninggalkan Jonghyun yang masih menangis di bibir pantai.

Jonghyun sebenarnya mau saja menuruti keinginan Yunji untuk pulang dan tidak bepergian ke Jepang. Yang tak bisa diterimanya adalah agar dia memutusi ‘hubungan’ cintanya yang bermasalah dengan Yunji. Dia bahkan tidak mau membayangkan akan seperti apa hidupnya nanti.

Lelaki itu mengurut keningnya. Dia sadar perbuatannya ini salah, tapi cinta datang tiba-tiba. Dia tidak pernah menduga kepada siapa cintanya itu akan berlabuh. Dan Yunji adalah satu-satunya wanita yang dia cintai, bahkan saat dia hidup selama dua puluh enam tahun, Yunji lah yang pertama kali memikat hatinya.

Jonghyun merasa putus asa. Hanya ada satu cara agar semua ini terhapus dan terlupakan. Tanpa ragu, Jonghyun berjalan menuju pantai. Membiarkan seluruh badannya basah dan tenggelam didalam sana. Dia masih menoleh kebelakang, melihat jejak Yunji yang –tentu saja- sudah menghilang beberapa saat yang lalu.

Mianhae, Yunji ah, saranghanda.

Tepat saat itu Jonghyun menutup matanya dan membiarkan dirinya terluntang lantung dibawa oleh ombak.

~~~

THE END

 

3 thoughts on “[FF Competition] Clarity

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s