[FF Competition] Gone

Judul : Gone

Genre : Romance – Sad ending

 

 

 

“Sampai kapan kau akan menunggu?”

 

“Sampai dia kembali.”

 

“Bagaimana jika dia tidak akan pernah kembali?”

 

 

***

 

 

Aku menyesap kopiku yang mulai mendingin. Kulirik jam di pergelangan tangan, lalu mengalihkan pandangan ke luar kedai kopi tempatku duduk ini. Pukul tujuh telah terlewati sejak tiga puluh menit yang lalu, namun belum terlihat pula tanda-tanda kedatangan orang yang kutunggu.

 

Ada yang ingin kukatakan padamu, itu ucapannya tadi di telepon, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di tempat ini setelah jam kerja berakhir.

 

“Jin Hee-ya!” Suara yang sangat familiar itu akhirnya terdengar juga.

 

Aku mengangkat wajah dari novel misteri yang ada di tanganku dan mendapati seorang pria dengan tinggi 180 sentimeter kini telah berdiri di samping meja. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya terlipat hingga siku, dipadu dengan pantalon berwarna sama. Tangan kanannya menggenggam segelas Americano. Sebuah senyuman khas menghiasi wajah tampannya.

 

“Aku tidak terlambat, bukan?” Ia bertanya. Retoris.

 

Aku memutar bola mataku. “Tentu saja. Seorang Jung Yong Hwa tidak akan pernah terlambat. Bukankah begitu?”

 

Pria yang kini menempati kursi kosong di hadapanku itu terbahak mendengar nada mengejek dalam ucapanku. “Maaf,” katanya di sela-sela tawa.

 

Aku ikut tertawa. Ia memang tidak perlu khawatir, karena kami berdua sama-sama tahu bahwa aku tidak akan bisa benar-benar marah padanya.

 

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”

 

“Hei, aku baru saja sampai. Biarkan aku istirahat sejenak.” Ia menyandarkan punggungnya di kursi. Kedua matanya terpejam. Aku hanya mengangkat bahu, dan menggunakan kesempatan itu untuk memperhatikan setiap lekuk wajahnya. Tujuh tahun lamanya persahabatan kami tidak membuatku bosan mengamatinya seperti ini.

 

Beberapa saat kemudian, baru Yong Hwa membuka matanya. “Jin Hee-ya.”

 

“Ya?”

 

Tatapannya jatuh di manik mataku. Ia menghela napas. “Aku rasa … aku jatuh cinta.”

 

Selama sepersekian detik, aku merasakan jantungku berhenti. Ini pertama kalinya ia mengatakan hal itu. Kami memang bercerita tentang apapun. Apapun, kecuali tentang hati kami masing-masing. Dan pengakuan yang tiba-tba ini membuatku kehilangan kata-kata.

 

“Siapa?” Akhirnya hanya itu yang keluar dari bibirku.

 

Ia tersenyum. Tanpa sadar, aku berharap dalam hati ia akan menyebut namaku. “Kau …,” ia memberi jeda di ucapannya, “akan bertemu dengannya sebentar lagi.”

 

Mataku mencapai ukuran terbesarnya. “Ma–maksudmu?”

 

Ketika aku masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi, tepat pada saat itu Yong Hwa mengangkat tangannya, melambai pada seseorang di belakangku. “Itu dia datang,” katanya. Senyumannya melebar.

 

Aku berbalik mengikuti arah pandangnya. Seorang gadis cantik tengah berjalan ke arah meja kami. Aku mengenal gadis itu. Ah Reum, adik tiriku.

 

Dan malam itu, aku benar-benar berharap tidak berada di sana. Sehingga tidak harus mendengar ketika keduanya memberitahuku tentang hubungan mereka. Aku pun tidak harus melihat semua kemesraan itu dengan mata kepalaku sendiri. Tangan yang saling menggenggam, serta tatapan-tatapan penuh cinta dari Yong Hwa. Yang ternyata baru kusadari, tatapan itu berbeda dengan yang ia berikan padaku. Tatapan yang selama ini hanya kudapatkan di dalam mimpi. Dan kini aku melihatnya. Bukan ditujukan kepadaku, melainkan kepada gadis lain yang baru memasuki kehidupanku sejak setahun lalu, ketika Ibu memutuskan untuk menikah dengan Ayah dari gadis itu.

 

Malam itu pula, aku merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia. Si bodoh yang hancur hatinya.

 

 

***

 

 

Pernikahan yang direncanakan akan berlangsung dua hari lagi terancam batal. Calon mempelai wanita tiba-tiba menghilang. Kecemasan melanda berbagai pihak. Sedangkan aku berusaha tenang menghadapi situasi yang terjadi saat ini.

 

Aku menemukan Yong Hwa di apartemennya, terduduk di depan jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota di malam hari. Tatapannya lurus ke luar jendela. Beberapa gelas kopi dan kaleng bir kosong berserakan di dekat kakinya.

 

“Yong Hwa-ya!”

 

Pria itu tidak menoleh. Aku menghampiri dan ikut duduk di sampingnya. “Hei, Jung Yong Hwa.” Aku menyentuh pelan lengannya. Pandangannya kali ini beralih padaku.

 

“Sampai kapan kau akan menunggu?” tanyaku.

 

“Sampai dia kembali.”

 

“Bagaimana jika dia tidak akan pernah kembali?”

 

Ia menatapku dengan sendu. Matanya yang beberapa bulan ini dipenuhi cinta, kini redup. Memerah karena terlalu sering terjaga.

 

“Dia … pasti kembali. Wanita sering mengalaminya, bukan? Kau tahu, prewedding syndrome?”

 

“Tapi ini sudah hampir seminggu–“

 

“Aku yakin,” katanya memotong ucapanku. “Dia mencintaiku, karena itu dia akan kembali.”

 

Aku memeluknya dalam diam. Ia bergeming ketika tanganku bergerak mengelus punggungnya dengan lembut. Punggung yang biasanya kokoh itu kini terlihat rapuh.

 

Kau tidak perlu menunggu, dia tidak akan kembali, ucapku dalam hati. Dan peristiwa hari itu terputar kembali di ingatanku.

 

 

***

 

“Selamat atas pernikahan kalian.”

 

Ia tersenyum. “Terima kasih, Eonni. Tapi, itu masih seminggu lagi.”

 

“Aku rasa … aku tidak akan bisa mengucapkannya nanti.”

 

Alis bulan sabitnya terangkat. “Kenapa?”

 

Aku menghela napas. Aku tahu gadis itu menungguku berkata-kata, namun aku justru mengalihkan pandangan ke laut lepas yang terhampar luas di bawah sana. Tempat ini begitu menakjubkan, dilingkupi pepohonan serta sebuah sungai kecil yang mengalir dan membentuk air terjun yang jatuh langsung ke laut. Aku sangat menyukai tempat ini, dan sering datang ke sini. Seorang diri.

 

“Aku sepertinya akan pergi. Dan, tolong rahasiakan ini dari Yong Hwa.” Aku menepuk lembut bahu Ah Reum. Ia hanya terdiam.

 

“Indah, bukan?” Aku bertanya tiba-tiba.

 

Gadis di sebelahku mengerutkan kening, mencoba mengikuti arah pembicaraanku.

 

“Lihat! Pemandangan yang terlihat dari sini begitu indah.” Aku maju beberapa langkah ke tepi tebing.

 

Dengan sedikit ragu, Ah Reum pun berjalan mendekatiku. Ia kemudian mengangguk kecil. “Indah,” ujarnya.

 

Kini aku menatap gadis itu, lalu tersenyum padanya. “Kau tahu, Yong Hwa sangat mencintaimu.”

 

Hening sesaat. Lalu di luar dugaan, gadis itu justru tertawa. Aku menatapnya tak mengerti. Aku tidak sedang melucu, aku tahu pasti itu.

 

Tawanya berangsur reda, ia kemudian balas menatapku. “Berbicara tentang rahasia … . Eonni, apa kau ingin kuberitahu sebuah rahasia?” Gadis itu tersenyum penuh arti.

 

“Aku sebenarnya tidak terlalu menyukai Yong Hwa Oppa.” Mataku membulat sempurna. Gadis itu kembali tertawa sinis melihat reaksiku. “Aku menerimanya karena kau, Eonni.”

 

Aku masih bungkam ketika ia kembali berkata, “Aku tahu Eonni mencintainya.”

 

Tiba-tiba aku merasa muak. Saat itu, aku tidak dapat memikirkan apapun selain mendorong tubuh adikku ke arah air terjun. Kulit putihnya memucat. Untuk terakhir kali, kutatap wajah cantiknya yang diliputi ketakutan itu menghilang bersama tubuhnya yang menghempas bebatuan dan kemudian jatuh ditelan kedalaman laut.

 

Bukankah ini bagus? Jika gadis itu yang pergi, maka aku tidak harus pergi.

 

 

END

3 thoughts on “[FF Competition] Gone

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s