[FF Competition] Hard

Judul : Hard

Genre: Romance – happy ending

 

“ Hard ”

 

Jung Sae-Mi POV

“Hentikan! Hentikan!” bentakku pada laki-laki tinggi di depanku ini, sambil kututup kedua telingaku dengan kedua telapak tanganku. Aku tak ingin lagi mendengar kata-katanya. Aku tak ingin semakin goyah lagi karena setiap kata yang aku dengar darinya, dari sahabatku sedari kecil ini, semakin kurasa benar. Yah, dia benar. Aku tidak bahagia dengan kenyataan bahwa aku sudah bertunangan dua bulan yang lalu dengan Jae-Ha, laki-laki pilihan ayahku.

“Jung sae-ya,, kau akan menikah dua bulan lagi, aku hanya tak ingin kau menyesal nanti. Bagaiman jika sampai kapanpun kau tak bisa mencintainya? Bagaimana jika nanati kau telah terbaring tak berdaya karena tua, kemudian kau berpikir ‘andai saja dulu aku punya sediit keberanian pasti semuanya akan berubah’.kau benar-benar tidak akan menyesal Jung Sae-ya?”

Lagi!!! Kata-kata Lee Jung Shin terdengar semakin benar. Sekalipun telah kututup kedua telingaku, aku masih bisa mendengar suaranya. Suara yang biasanya selalu sukses membuatku tenang. Tapi tidak kali ini, hatiku perih menerima kenyataan bahwa kata yang terlantun dari suara itu adalah benar. Perih. Benar-benar menyakitkan.

Air mataku mulai berjatuhan, reaksi dari kesakitan ini mungkin. Lee Jung –begitu aku memanggilnya- kemudian memelukku, membuat isakku semakin menjadi. Tubuhku tenggelam dalam pelukan tubuhnya yang tinggi, kepalaku leluasa bersandar dikepalanya. Kehangatan mulai menjalar dalam sendi-sendi syarafku. Astaga! Betapa aku menginginkan pelukan ini. Pelukan Lee Jung benar-benar melenakan.

“Andwe! Ini tidak boleh Lee Jung-i” aku melepaskan diri dari pelukannya, membuat jarak dari tubuhnya saat terbersit wajah ayah, dan kemudian diikuti sekelebet bayangan Jae Ha.

Entahlah, kali ini hatiku mulai berbisik, ‘Pergilah Jung Sae-Mi! sebelum semua menjadi semakin rumit!’. Lantas, aku pergi, berlari meninggalkan Lee Jung. Membuatnya berdiri sendiri, mematung. Aku hanya sempat mendengar dia meneriaki namaku.

“Jung Sae-ya!! Jung sae-Mi! hya!”

***

Lee Jung-Shin POV

Sudah satu tahun lebih sejak aku meminta Jung Sae mengumpulkan keberanian mengikuti kata hatinya, yang katanya saat itu dia tidak mencintai Jae Ha, jadi kusimpulkan dia tidak bahagia dengan pertunangannya kala itu. Dan sejak saat itu pula aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Aku mencari disemua tempat. Bahkan rumahnya sudah kosong. Intinya, aku kehilangan kontak dengannya, dengan wanita yang sudah kukenal sejak lahir, dan sudah kucintai sejak emh? Kapan? 20 tahun yang lalu mungkin? Ah, aku sendiri saja tidak yakin sejak kapan aku mulai mencintainya.

Bukan tanpa alasan aku bersikap seperti itu dulu. Aku tidak ingin merasakan apa yang telah dan sedang aku rasakan, ‘menyesal’. Menyesal karena aku tak bisa menaklukkan ketakutanku untuk mengatakan bahwa aku mencintainya. Sangat mencintaintanya. Aku terlalu takut dia pergi jika tahu perasaanku yang sebenarnya.

Sial!! Bahkan aku mengharapkan undangan pernikahannya. Aku pikir jika aku melihatnya menikah dengan orang lain, aku bisa menghancurkan perasaanku yang sudah membatu ini.

Apa yang dia lakukan sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia menjadi istri yang baik? Oh Tuhan! Jung Shin, berhenti memikirkannya ok? Dia sudah menjadi istri laki-laki lain. Bukankah ini salah?, hati nuraniku mulai mengingatkanku kembali.

“eosso oseyo… anda ingin memesan apa tuan?” aku tersadar dari lamunan panjangku karena suara pemilik kedai ini. Lihat! Aku ingin melupakannya, tapi tanpa sadar aku malah berjalan ke tempat ini. Kedai ramen yang benar-benar disukai Jung Sae!

“Lee Jung-Shin-ssi” suara dari belakang tubuhku terdengar ragu. Suara wanita yang begitu kukenal.

“Lee Jung-i” panggilnya lagi. Dan kini aku benar-benar yakin suara itu milik Jung Sae-Mi. hanya dia yang memanggilku dengan Lee Jung. Kuputar kepalaku menghadapnya. Dia tersenyum.

“Ternyata aku benar, ini kau, Lee Jung” katanya. Oh Tuhan.. aku tak tahu harus bahagia, marah, atau takut. Bahagia karena dia kini ada dalam jangkauan pandanganku, atau bahkan bisa jadi dia berada dalam jangkauan pelukanku. Marah karena dia tersenyum seolah tak pernah terjadi apa-apa, seolah semua baik-baik saja setelah dia menghilang dan tak pernah memberi kabar apapun padaku. Dan takut, kalau-kalau dia terlalu bahagia dengan rumah tangganya hingga melupakanku.

“Lee Jung-i… sudah lama” katanya masih dengan senyum ‘manis-seolah-tak-pernah-terjadi-apa-apa’ nya itu.

“Eo.. Sudah lama. Apa kau baik?” entah apa yang aku ucapkan. Mesin penyusun kata dalam otakku sepertinya tiba-tiba macet.

“Yah, seperti yang kau lihat” katanya sambil menarik kursi dan tanpa ijin duduk didepanku. Membuat tak hanya mesin penyusun kata dalam otakku yang macet, tapi seluruh otot,syaraf, dan otakku.

“Kau sendiri? Mana Jae Ha? Hya! Kenapa kau tak mengirim undangan pernikahanmu padaku?” mengapa aku menanyakan itu? Bukankah aku seharusnya menanyakan kau ada di mana selama ini? Mengapa kau tak pernah menghubungiku? Aku benar-benar merindukanmu. Aku seharusnya mengatakan itu. Tapi telat, senyum Jung Sae mendadak hilang. Aish, apa yang terjadi dengan diriku? Aku pasti salah menanyakannya! Kalau saja suasana ini kacau gara-gara ucapanku ini aku akan mengutuk diriku sendiri.

Lihat! Lihat! Sekarang Jung Sae menundukkan kepalanya lekat-lekat. Aissh!

“Jung Sae-ya,,” panggilku ragu.

Berhasil. Jung Sae mengangkat kepalanya.

“Lee Jung-i, aku berhasil memenangkan keberanianku. Sekarang giliranmu. Lee Jung, apa tidak ada yang ingin kau sampaikan padaku?”

Hah? Apa ini? Apa maksudnya? Aku sedikit tidak paham.

“Tidak ada, apa ya?” astaga! Sudah ku katakana kan, mesin penyusun kata dalam otakku macet, dan sekarang sepertinya sudah benar-benar rusak. Bagaimana mungkin aku jawab ‘Tidak’ saat segudang kata dan cerita ingin ku perdengarkan padanya.

Jung Sae berdiri, “Kau masih sama pengecutnya dengan Lee Jung yang dulu”, kemudian meraih dompet yang ia letakkan di meja, dan selanjutnya, lagi-lagi, dia berbalik. Pergi.

Sejenak aku mencerna kata-kata terakhir Jung Sae. Memenangkan keberanian? Keberanian apa? Oh Tuhan. Keberanian mengikuti kata hatinya! Bagaimana bisa aku melupakan kata-kataku sendiri yang bahkan Jung Sae yang pelupa mengingatnya.

Jung Sae benar. Kalau dia saja bisa menaklukkan ketakutannya, aku kapan? Aku tak ingin menjadi pengecut lagi yang terlalu takut hubungan persahabatannya hancur karena cinta. Aku segera beranjak, mempercepat gerak kaki sebisaku untuk mengejarnya. Tak peduli lagi dengan tatapan aneh pengunjung yang mungkin sudah mengenalku.

“Jung Sae-ya!” aku berteriak, tak tahu lagi aku harus ke arah mana untuk mengejarnya. Aku kehilangan jejaknya. Lagi!!

“Jung Sae-ya! Maafkan aku! Aku akan berani sekarang, aku akan mengatakan aku menyukaimu. Tidak. Aku mencintaimu Jung Sae-ya! Kau dimana, hah? Masih dengan berterik. Membuat orang yang berlalu lalang di depan kedai mendadak melihatku.

“Benarkah?” katanya tepat di belakang punggungku. Aku memutar tubuhku dan kudapati tubuh mungil –dari ukuran tubuhku- nan cantik itu berdiri dengan wajah ‘heran’

“iya, kau mendengarnya tadi kan Jung sae?”

Dia mengangguk tapi segera menggeleng. “Tidak, aku tidak begitu mendengarnya, katakana lagi padaku” katanya, kini dengan memiringkan kepalanya memutar bola matanya sedikit keujung mata, dan senyum jahilnya, senyum yang benar-benar lama tak kulihat.

“Saranghae Jung Sae-ya, aku mencintaimu, aku merindukanmu, aku benar-benar tak ingin kau hilang lagi dari hidupku”, aku mengatakannya dengan nada paling serius yang aku bisa. Aku benar-benar bisa mengatakannya! Yes!

“Pabo-ya!” dia memukul bagian kepalaku.

“hya! Sakit tau!” ku mengelus (?) belakang kepalaku tempat Jung Sae memukulku yang sebenarnya tak seberapa sakit.

“Kenapa kau baru bisa mengatakannya sekarang hah? Aku tahu, Jung Min yang mengatakannya padaku. Kau tahu kan adikmu super cerewet, dan saat itu dia kelepasan bicara tentangmu yang sepertinya menyukaiku”

“apa? Jung Min mengatakannya padamu?”

“Iya, dan kau tahu? Saat itu lah aku benar-benar yakin bahwa hati akan menuntunku pergi ketempat aku akan bahagia”

“jadi, kau mau kita…” aku sedikit ragu mengatakannya, lebih tepatnya canggung.

“Benar, Lee Jung-i, aku mau kita berhenti menganggap satu sama lain sebagai sahabat. Karena aku rasa aku benar-benar mencintaimu. Dari dulu.”

Benarkah? Aku tidak salah dengar kan? Aku tidak sedang bermimpi kan?

“hya! Kenapa kau malah melamun Lee Jung!” jung Sae memelukku. Ini benar! Jung Sae-Mi benar-benar memlukku. Aku balas memelukknya erat. Aroma tubuhnya, wangi rambutnya, aku benar-benar bisa membauinya sekarang. Thank’s God.. a lot!

“Jung Sae-ya?”

“Umh?”

“Kau semakin tinggi ya?”

“Jangan konyol Lee Jung. Aku tak mungkin bertammbah tinggi. 165 cm dibandingkan tinggimu memang sedikit mungil, tapi aku cukup tinggi tahu!”

“ha! Kau benar. Tapi Jung-Sae, kau benar-benar tambah tinggi. Saat dulu aku memelukmu, kepalamu tepat didadaku kan? Sekarang dibahuku. Lihat!”

“Tch, lihat apanya! Lihat aku mengenakan heels. Kau tahu aku benci sekali dengan sepatu seperti ini. Tapi aku berusaha mengenakannya untuk mengimbangimu!”

“hahahahahaha, jinja??woaaa” sudah laam aku tak tertawa selepas ini. Jung Sae benar-benar membawa cuaca berbeda di duniaku. Cuaca cerah yang membahagiakan.

“tapi Jung Sae-ya, kau tidak mencintaiku karena aku sudah menjadi artis kan?”

“hya! Kau benar-benar harus mengatakan itu di saat seperti ini?” Jung Sae menendang tulang kering di betisku!

“au, appo. Jung Sae-ya, kau mau kemana? Hya!”

Betapa manisnya, aku seperti menemukan kembali hidupku. Aku dan Jung Sae bertengkar bahkan di hari pertama kita menjadi sepasang kekasih.

“jung Sae-ya” aku berhasil meraih tubuhnya. Kuputar dan kutatap matanya lekat-lekat. Ku dekatkan wajahku pada wajahnya, kuperkecil jarak antara bibirnya dan bibirku. Aku mengecupnya, membasahinya beberapa saat.

“hya! Lee Jung! Kau ingin mati ya? Kenapa kau melakukannya disini?” Jung Sae menoleh ke berbagai arah melihat orang-orang yang menangkap aksi kami. Hahaha.

***

Terkadang, hanya perlu sedikit keberanian mengikuti hati,  mengendalikannya, dan ambil setiap kesempatan sebelum terlambat. Karena hati akan menunjukkan arah ke berbagai tempat yang akan membuat kita bahagia. Seperti cinta. Percayalah!

–wedding day LJS & JSM

3 thoughts on “[FF Competition] Hard

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s