[FF Competition] Your Eyes

Judul   : Your Eyes

Genre  : Romance – Sad Ending

 

Musim semi telah tiba, sekarang aku bisa melihat bunga bermekaran aku bisa melihat bunga sakura, aku bisa melihat orang – orang yang sedang berjalan bersama keluarga ataupun pacarnya. Anak – anak yang  bermain berlarian saling mengejar dan juga sekarang aku bisa melihat langit itu semua berkat kau. Tidak peduli betapa banyak aku berterima kasih padamu, tidak peduli apakah kau bosan mendengarkan aku megucapkan terima kasih aku tidak pernah bosan dan tidak akan pernah berhenti mengucapkannya.

Kau  telah menunjukan dunia kepadaku, surga dunia yang sebelumnya belum pernah kulihat sekarang aku bisa melihatnya. Aku bisa melihat langit dengan pelangi yang berwarna – warni, langit biru dengan dihiasi burung yang berterbangan dan awan putih yang cantik. Aku bisa melihat semuanya Yonghwa. Dan sekarang apakah kau bisa melihatku? Kau bisa mendengarkanku? Aku merindukanmu Yonghwa.

Aku berjalan dijalan taman yang disediakan dengan sisi jalan yang ditumbuhi dengan pohon sakura, pohon yang ditumbuhi dengan daun yang berwarna – warni, bahkan daun yang gugur dari pohonnya itu terlihat indah bagiku. Aku mengambil duduk dibangku yang juga disediakan didekat pohon sakura yang rindang. Ini sejuk, aku memejamkan mataku menghirup udara dan melepaskannya perlahan, merentangkan tanganku merasakan sinar matahari dari cela-cela ranting pohon. Aku melihat seorang  penyanyi jalanan dengan sebuah gitar menyanyi dengan suara yang merdu diseberang dari tempatku duduk. Ia mengingatkanku dengannya, seseorang yang tidak bisa aku lihat lagi, seseorang yang tidak bisa lagi aku dengar suaranya dan tawanya, seseorang yang aku rindukan selamanya.

Flashback

Seorang gadis yang duduk disudut bangku taman memejamkan matanya mendengarkan suara merdu yang dikeluarkan dari penyanyi jalanan dengan perpaduan gitar yang dimainkannya  yang membuatnya jadi terlihat sempurna.

“hm? Kenapa berhenti?” ia membuka matanya dan sedikit menolehkan kepalanya kekanan memastikan lagu itu tidak berakhir. Tapi lagu itu benar – benar berhenti, lagunya berhenti sebelum mencapai akhir dan ia terlihat kecewa. Ia membuka tongkat dan hendak berdiri meninggalkan taman itu saat tiba – tiba suara merdu itu menghentikannya.

“kau mau pergi?”

Inhyun menoleh kesisinya tapi tidak melihatnya, ia menggunakan telinganya sebagai alat komunikasi dengan orang-orang. Ya, ia buta. Itu terjadi saat ia berusia 7 tahun.

“apakah kau orang yang bernyanyi dengan gitar disini?”

“oh. Aku selalu melihatmu disini apa kau sedang menunggu seseorang disini?“

Inhyun menggeleng “aku hanya ingin mencari udara segar dan setiap kali aku mendengarkanmu bernyanyi aku merasa tenang jadi aku setiap hari menyempatkan diri untuk datang kesini mendengarkanmu. Tapi sekarang aku harus pergi” Inhyun berdiri dan sedikit membungkukkan badannya berpamitan.

‘senyummu..matamu..hidungmu..semuanya tampak sempurna..’ gumam Yonghwa.

Inhyun berjalan meninggalkannya. Ia berjalan dengan alat bantu tongkat ditangannya menuntunnya berjalan. Walaupun ia sudah hafal jalan ditaman ini tapi ia tetap saja harus berhati-hati karena keadaannya yang buta. Ia juga tidak malu untuk meminta bantuan orang lain pada saat menyebrang dan menaiki bus.

***

“Berhentilah mengikutiku Yonghwa-shi” Inhyun berbalik. Ia tahu ini sudah sekian kalinya Yonghwa telah mengikutinya saat ia berjalan pulang dari taman.

“aku ketahuan ya” Yonghwa tertawa malu dan mengusap-usap tengkuknya.

“aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mengikutiku kenapa kau tidak mendengarkanku?” Inhyun mempertajam pendengarannya saat Yonghwa bergerak mendekatinya.

“aku hanya ingin mengenalmu, aku ingin menjadi temanmu dan aku juga ingin melindungimu. Ini tidak adil buatku. Aku sudah memperkenalkan diriku, kau tahu namaku tapi kau mengabaikanku. Jika kau tidak ingin berteman denganku setidaknya izinkan aku tahu namamu?” Yonghwa tersenyum walaupun Inhyun tidak bisa melihat senyumnya.

Inhyun menghela napas. “kau sangat keras kepala Yonghwa-shi. Namaku Seo Inhyun, kau bisa memanggilku Inhyun. Sekarang pulanglah aku bisa jalan sendiri” Inhyun berbalik melanjutkan jalannya. Ia berhenti, ia masih merasakan Yonghwa mengikutinya.

“apa kau mengasihaniku? Apa kau mengasihani orang buta sepertiku? Kau tidak perlu melakukan itu Yonghwa-shi. aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku mohon pergilah Yonghwa-shi aku tidak butuh perlindunganmu”

Yonghwa mendekatinya berdiri dihadapannya.”aku tidak bermaksud seperti itu Inhyun-shi.. aku hanya…”

“mengasihaniku?” Inhyun memotong perkataan Yonghwa. “aku berterima kasih saat kau menolongku yang hampir tertabrak kemarin,mungkin aku terlalu ceroboh untuk menyebrang. Tapi bukan berarti kau bisa mengikuti seperti yang kau mau. Aku mohon pergilah..” Inhyun menggerakkan tongkatnya mencari sisi jalan yang kosong.

“Aku menyukaimu.. Aku menyukaimu Inhyun-shi..” Yonghwa menahan tangan Inhyun pergi.

Inhyun tersenyum miris. “apa sekarang kau mempermainkanku? kau mengatakan kau menyukaiku bahkan disaat kau baru tahu namaku..”

“ani.. kau salah Inhyun-shi. Aku memang baru tahu namamu tapi aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu. Bahkan lebih lama dari yang kau bayangkan” Yonghwa mencoba meyakinkan Inhyun tapi Inhyun menepis tangannya dan mulai berjalan menjauhi Yonghwa.

***

Tidak peduli seberapa banyak Inhyun menolak Yonghwa, tidak peduli seberapa banyak Inhyun membenci Yonghwa, Yonghwa tidak menyerah. Ia tetap berada disamping Inhyun. Jika Inhyun akan berjalan pergi Yonghwa akan selalu berada tidak jauh dibelakangnya. Inhyun tahu. Bahkan tidak sekali Inhyun memarahinya dan seperti biasa Yonghwa tidak akan mendengarkan Inhyun untuk menjauhinya.

Hingga sampai suatu ketika Inhyun tidak lagi merasa tertanggu dengan keberadaan Yonghwa. Ia sudah mulai terbiasa dengan Yonghwa berada disekitarnya. Bahkan saat ketika Yonghwa tidak ada disekitarnya. Ia mulai khawatir dan merasa kehilangan. Sampai ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia membutuhkan Yonghwa disampingnya.

“apakah kebutaanmu permanen?” Tanya Yonghwa saat mereka sampai ditaman duduk ditempat yang biasa tempati saat ditaman.

Inhyun menggeleng. “dokter bilang aku bisa melihat lagi jika ada pendonor kornea” Inhyun mencoba tersenyum walaupun itu sulit. Ia tahu ini cukup sakit mengetahui bahwa tidak ada sampai sekarang orang yang akan benar-benar mendonorkan kornea mata buatnya.

“bagaimana dengan Ibu Seo? Bagaimana kau bertemu dengannya?” Tanya Yonghwa hati-hati saat ia melihat Inhyun menunduk kebawah meratap nasibnya. Ia tahu Inhyun bukanlah anak kandung Ibu Seo, karena Ibu Seo adalah pendiri panti yang berada dibelakang gereja didekat taman tidak jauh dari mereka duduk.

Inhyun tersenyum menegakkan kepalanya menghadap kedepan yang gelap. “aku bertemu dengannya dirumah sakit. Dia membawaku kepanti memberiku kasih sayang dan memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Dia juga tidak berhenti untuk mencari donor kornea buatku” Inhyun menarik napas dalam menerawang kemasa lalu yang menyakitkan yang merenggut semua mimpinya.

Inhyun mulai menceritakan bagaimana kebakaran yang berasal dari pabrik disebelah rumahnya merenggut orangtuanya, saudaranya dan juga masa depannya. Tidak ada lagi yang harus ia sembunyikan dari Yonghwa. Ia ingin berbagi dengan Yonghwa. Ia menangis saat mengingat kejadian yang mengerikan itu. Kejadian yang membuatnya menjadi trauma jika ia merasakan api disekitarnya.

“mereka ingin aku hidup.. kata terakhir yang aku dengar dari saudaraku adalah aku harus hidup dan bahagia” Inhyun merasakan matanya mulai memanas dadanya juga terasa sesak.

“kau tidak sendiri Hyun-ah, semua akan baik-baik saja aku akan selalu ada untukmu” Yonghwa memegang tangan Inhyun, menggenggamnya lembut.

“Yonghwa-ah.. jika suatu saat aku bisa melihat lagi, orang pertama yang ingin aku lihat adalah kau” Inhyun membalas genggaman Yonghwa. “berjanjilah untuk tidak meninggalkanku. Hmm?” tambahnya.

Yonghwa menghapus air mata Inhyun dengan satu tangannya. Ia menarik Inhyun dalam pelukannya. Yonghwa mengelus punggung Inhyun lembut “aku janji, aku akan selalu ada  disampingmu aku janji tidak akan meninggalkanmu, aku janji aku akan menemukan pendonor untukmu secepatnya, aku janji kau akan melihat langit kembali, aku janji Hyun-ah..” Yonghwa merasakan matanya mulai memanas dan dengan begitu saja air matanya lolos dari ujung matanya.

***

Jadwal pemeriksaan Inhyun lebih diperbanyak saat dokter memberitahukan mereka menemukan pendonor kornea untuk Inhyun dan hari ini Yonghwa berjanji untuk menemaninya.

“kau harus lebih banyak istirahat Inhyun-shi kau akan menjalani operasi lusa” suster memperingati Inhyun sambil membantunya untuk duduk sebelumnya berbaring untuk diperiksa.

“suster apa kau tahu siapa yang mendonorkan korneanya untukku?”

“maafkan aku Inhyun-shi tapi ini sudah kebijakan dari rumah sakit untuk tidak memberitahu siapa pendonornya. Aku akan mengantarmu sampai depan”

“terima kasih suster tapi sudah ada temanku yang menunggu diluar, maafkan aku merepotkanmu” Inhyun tersenyum dan membungkuk pamit pada suster.

Inhyun berjalan dengan hati-hati keluar dari ruangan pemeriksaan, ia tidak sabar untuk memberitahukan Yonghwa bahwa lusa dia akan dioperasi. Ketika Inhyun sampai diambang pintu, senyumnya memudar. Inhyun mendengarkan percakapan Yonghwa dengan dokter. Ia seperti masuk kedalam jurang yang sangat dalam. Ia terpaku ditempat sampai Yonghwa menemukannya duduk lemas dilantai. Yonghwa terlihat begitu khawatir menanyakan ‘apa dia baik-baik saja’ namun Inhyun hanya diam.

“aku ingin pulang” Inhyun memecahkan keheningan diantara mereka.

Yonghwa membantu Inhyun berdiri memegang kedua bahunya dan berjalan disampingnya. Yonghwa terlihat sangat khawatir. Sesekali ia melihat wajah Inhyun yang lesu setelah pemeriksaanya tadi. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri ‘apa yang terjadi’ ‘apa pemeriksaannya tidak lancar’. Keheningan melanda mereka berdua, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka sampai mereka sudah keluar dari rumah sakit.

“hyun-ah aku dengar dari dokter lusa kau akan dioperasi. Aku sangat senang kau akan bisa melihat lagi” Yonghwa memecah keheningan untuk memulai berbicara.

“aku tidak akan operasi” Inhyun berhenti berjalan berbicara tanpa ekspresi.

“aku tidak akan operasi.. aku tidak akan melakukannya” Ulangnya.

Yonghwa membeku “apa maksudmu Hyun?”

“kau tidak dengar? Apa kau tuli?” Inhyun mengatakannya berbisik “aku tidak  akan melakukan operasi kalau kau pendonornya Yonghwa!!” Inhyun berteriak.

“aku mendengarnya.. aku mendengar semua yang kau bicarakan dengan dokter.. kenapa kau melakukannya.. kenapa kau mengorbankannya Yonghwa… kenapa!!!” Inhyun berteriak frustasi. Air matanya begitu saja keluar dari sudut matanya.

Yonghwa mengcengkram bahu membuat Inhyun menghadapnya “dengarkan aku Hyun, aku ingin kau melihat lagi, aku ingin kau bahagia aku ingin kau menggapai mimpimu Hyun.. aku mohon”

Inhyun mencoba melepaskan tangan Yonghwa namun gagal. Ia menggeleng “Tidak..bagaimana bisa aku menggapai mimpiku dilain sisi aku menghancurkan mimpimu, bagaimana aku bisa bahagia jika melihatmu menderita. Lebih baik aku menjadi buta untuk selamanya daripada harus melihatmu menderita.. aku tidak bisa.. AKU TIDAK BISA YONGHWA!!! Inhyun teriak disela tangisnya.

“kebahagianku ada padamu Hyun..” Yonghwa mengucapkan dengan lembut berharap Inhyun bisa mengerti. “hanya melakukannya.. aku mohon..” tambahnya.

Inhyun menggeleng.

Inhyun melepaskan genggaman Yonghwa dibahunya sekuat tenaga dan meninggalkannya. Ia hanya terus berjalan dengan cepat, walaupun itu susah karena ia belum terbiasa dengan jalan dirumah sakit ia tidak peduli. Ia hanya terus mempercepat jalannya tidak peduli Yonghwa mengejarnya. Hingga sampai saat ia melangkah ia mendengar Yonghwa meneriakkan namanya.

“INHYUN-AH!!!”

Inhyun merasakan dirinya jatuh dan mendengar benturan yang begitu kuat. Tapi ia tidak merasakan sakit apapun. Ia takut  dan panik. Ia meraba jalanan aspal untuk menemukan tongkatnya dan memanggil nama Yonghwa berkali-kali namun tidak ada jawaban. Ia masih meraba untuk mencari sampai ia merasakan cairan ditangannya. Ia menciumnya. Ini darah. ketakutannya bertambah, ia meraba secara acuh sampai ia merasakan sebuah tangan  yang sangat ia kenal tergeletak di aspal. Ini tangan Yonghwa. Inhyun dengan cepat untuk menemukan wajahnya. Ia mengangkat kepala Yonghwa diletakkan diatas pahanya. Ia merasakan darah mengalir dari belakang kepala Yonghwa. Tangannya gemetar hebat, air mata mengalir begitu deras dari matanya. Ia mengguncangkan tubuh Yonghwa dengan kuat. Memanggil Yonghwa berkali-kali tapi tidak ada hasil.

“Yonghwa..Yonghwa-ah.. katakanlah sesuatu..aku mohon…Yonghwa-ah..” tangan Inhyun bergetar memegang wajah Yonghwa memanggilnya lirih.

“aku mohon.. Yonghwa.. Yonghwa… KATAKANLAH SESUATU!!” Ia berteriak frustasi. Tidak ada jawaban dari Yonghwa. “aku mohon…” ia berkata lirih. Dadanya terasa begitu sesak, ia menangis putus asa. Seseorang akan meninggalkannya lagi. Orang yang ia cintai.

Flashback End

Aku berjalan dengan sebuah bunga lili putih ditanganku. Sesekali aku menciumnya untuk mengirup aromanya. Aku terus berjalan sampai aku berhenti didepan sebuah makam dengan lisan yang bertuliskan namanya, Jung Yonghwa. Aku meletakkan bunga lili putih ini diatas makamnya, memejamkan mataku mengirimkan beberapa doa untuknya. Aku masih memejamkan mataku untuk merasakan kalau Yonghwa berada disekitarku. ‘Tuhan, terima kasih untuk mempertemukanku dengannya. Yonghwa-ah, matamu sangat indah. Aku janji akan menjaganya untukmu’. Aku tidak akan melupakanmu walaupun sedetik, kau akan selalu ada dihatiku Jung Yonghwa.

-END-

 

 

4 thoughts on “[FF Competition] Your Eyes

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s