[FF Competition] Love

Judul    : Love
Genre    : romance – happy ending

 

LOVE

 

Hot chocolate?”

“Ne?”

“Maaf, sudah tiga hari ini saya perhatikan Anda selalu datang kemari dan memesan hot chocolate, saya pikir hari ini juga akan memesan yang sama”, kata lelaki tinggi yang berada di belakang konter sambil tersenyum.

Aku tersenyum, rupanya dia memerhatikan kebiasaanku selama tiga hari belakangan ini. Sejak niat berteduh karena hari tiba-tiba hujan tiga hari lalu, aku selalu menyempatkan duduk-duduk santai di kafe ini setiap sore. Menjadi turis di kotaku yang telah ku tinggalkan tiga tahunan ini memang menyenangkan. Seharian akan ku habiskan dengan berputar-putar kota, lalu mampir ke kafe ini sorenya untuk mengisi kembali tenaga sebelum kembali keliling kota sampai malam nanti. Entahlah, sejak menemukannya tanpa sengaja tiga hari lalu, aku merasa familiar dengan kafe ini. Ada sesuatu di sini yang mengingatkanku padanya.

“Hote chokollisjuseyo,” kataku sambil tersenyum pada lelaki itu lagi. “Oiya, besok saya pamit tidak ke sini. Terima kasih sudah mengizinkan saya nongkrong di sini berhari-hari walaupun hanya dengan secangkir cokelat panas dan sesekali kue-kue manis. Kamsahabnida,” sambil aku sedikit membungkuk.

Lelaki itu kaget. “Loh, kok pamit? Anda bukannya tinggal di sini? Saya kira …”

“Sekarang saya tinggal di New York, kali ini hanya berlibur dan besok saya ada janji dengan keluarga yang di sini untuk kumpul-kumpul sebelum saya kembali ke New York …”

“Anda akan kembali ke New York lagi? Kapan? Naik pesawat jam berapa?”

Kali ini aku yang kaget sambil mengeryitkan alis. Kenapa lelaki ini ingin tahu sedetail itu? Tadi aku hanya mencoba baik membalas perhatiannya terhadap kebiasaan hot chocolate-ku dengan sedikit menjelaskan bahwa besok aku tidak akan kemari lagi. Kok dia jadi ingin tahu sekali? Aneh.

“Joesonghabnida, saya tidak bermaksud terlalu ingin tahu, maaf. Silakan, ini pesanan Anda, kali ini gratis sebagai tanda persahabatan kita, besok kalau pulang ke Seoul lagi, nongkrong di sini lagi ya,” kata lelaki itu sambil mengangsurkan nampan berisi pesananku.

Aku tersenyum padanya sambil mengucapkan terima kasih sebelum membawa pesananku ke spot favoritku di kafe ini: salah satu dari tiga meja yang terletak dekat dengan jendela kaca besar yang menjadi pembatas kafe ini dengan jalanan di luar. Cuaca sore ini lumayan cerah, rugi sebenarnya untuk hanya sekadar nongkrong di kafe, apalagi lusa pagi aku sudah kembali ke New York. Ah, sudahlah, tidak harus memaksakan peruntungan. Sudah semua tempat yang berhubungan dengannya sudah ku datangi sejak aku menjejakkan kaki kembali ke sini. Dia juga tidak mencoba menghubungiku sejak dia tidak datang ke taman kota, sehari sebelum aku berangkat ke New York. Sudahlah, sudah cukup menyenangkan untuk berada di bawah langit yang sama dengannya, berjalan di dataran yang sama dengannya.

Sudah hampir satu jam aku nongkrong di kafe ini ketika hapeku berbunyi. Rupanya Joo Woon oppa, sepupuku, yang menelepon dan menanyakan aku ada di mana. Ternyata eomeoni-nya yang adalah bibiku memintanya mengantarku jalan-jalan. ‘Eomeoni pikir kamu sudah lupa Seoul itu seperti apa, makanya aku harus nemenin kamu, tunggu aku lima belas menit lagi ya,’ katanya sebelum mengakhiri pembicaraan kami.

“Sudah mau pergi?”, tiba-tiba lelaki yang di konter tadi sudah berdiri di dekat mejaku sambil membaca secangkir minuman dan meletakkannya di mejaku. Dia terlihat tidak sabar, melihat ke arah jam tangannya sebelum melihat ke arah luar, seperti sedang menunggu seseorang. “Sebentar ya,” katanya sebelum meninggalkan aku lagi.

“Song Yi-ah!”

Ternyata Joo Woon oppa sudah datang. Aku tersenyum padanya lalu membereskan bawaanku untuk pergi bersamanya. Sambil berbicara dengan Joo Woon oppa, aku ke konter mengembalikan minuman yang tadi baru diantarkan ke meja sambil mencari lelaki tadi.

“Sudah mau pergi? Hmm, tidak bisa tunggu sebentar ya? Sebentar saja, sepuluh menit paling lama,” katanya dengan nada memelas yang mengundang tanda tanya bagiku dan Joo Woon oppa.

Setelah beberapa kali menolak dengan macam-macam alasan, akhirnya kami meninggalkan kafe itu. Ku lihat wajah lelaki itu antara marah, gemas, dan kecewa dengan putusanku untuk tidak menunggu lebih lama. Aneh. Jadilah selama perjalananan dengan Joo Woon oppa, aku berusaha mengingat-ingat siapa lelaki itu, kenapa kafe itu terkesan familiar bagiku. Apakah aku pernah ke sana ya dulu?

“Mian, nanti aku telepon ya … Mian, Soo Young-ah,” Joo Woon oppa terlihat gemas karena harus kembali ke kantor karena ada yang harus diselesaikan, padahal kami baru saja datang ke restoran untuk makan malam setelah jalan-jalan ke mall.

“Oke, sendiri lagi,” kataku pada diri sendiri setelah memesan cesar salad dan segelas air putih. Tiba-tiba tidak ingin makan, mungkin karena di restoran fine-dining ini aku justru sendirian, sedangkan pengunjung yang lain tampak berdua-dua.

Tiba-tiba di depanku duduk seorang laki-laki berkemeja dan celana hitam serta berambut cokelat. Dan untuk beberapa saat kami hanya diam, waktu seperti berhenti, semuanya hening. Kemudian dia tersenyum, senyum yang menampakkan gigi gingsulnya, dan waktu kembali berputar. Tinggal aku yang sibuk meredam degupan jantung yang lebih cepat dan perasaan aneh seperti puluhan kupu-kupu mengepakkan sayap secara bersamaan dalam perutku. Of all places, of all this time, di sini kami bertemu.

“Annyeong, Song Yi-ah.”

Itu Yong Hwa, lelaki yang tidak datang ke taman kota tiga tahun lalu dan membuatku kembali lagi ke kota ini. Lelaki yang hanya berada di bawah langit yang sama dengannya saja sudah membuatku bahagia. Lelaki yang berteman dengan Jae Joong-ssi, lelaki di kafe itu, makanya dia tahu aku ada di Seoul dan karena itu, Jae Joong-ssi berusaha menahanku untuk tidak pergi. Dia yang mengabarkan pada Yong Hwa kalau aku ada di kafenya dan akan kembali ke New York. Sayangnya, Yong Hwa terlambat datang dan karena kebetulan sedang di dekat restoran ini, dia memutuskan masuk untuk sekadar minum. Tepat saat itu aku pun sedang ada di sini, sendirian. Betapa semua kejadian berkaitan, seperti semesta telah berkonspirasi untuk membuat ini terjadi.

“Mian karena tidak cukup berani untuk datang ke taman kota tiga tahun lalu. Sebenarnya aku sudah ke sana, tapi tidak cukup berani untuk bicara denganmu. Hanya cukup berani mengabadikan momen kamu duduk menunggu itu dan menjadikannya temanku selama tiga tahun ini.”

“Maksudmu?”

Lalu Yong Hwa mengeluarkan hape layar sentuhnya, menghidupkannya, dan menyodorkannya padaku. Di layarnya ada beberapa gambarku yang sengaja dirangkai menjadi satu, mulai dari aku yang tertunduk sampai wajahku penuh yang menoleh ke samping. Gambar itu juga yang membuat Jae Joong-sii mengenaliku karena untuk beberapa hari setelah itu, Yong Hwa datang ke kafenya dan hanya melamun dengan foto itu di hapenya. Karena tidak datang sesuai janji itu pula, dia memutuskan untuk tidak menghubungiku lagi. Walaupun ada saatnya ketika Yong Hwa sangat ingin meneleponku.

“Bogo sipeosseo”, katanya sambil menatapku yang langsung salah tingkah. Walaupun salah tingkah, harus ku akui bahwa aku bahagia dengan pernyataannya itu. Itu yang membangkitkan senyum di wajahku. Seperti pernyataan itu menjadi jawaban yang ku cari selama ini.

Dan keesokan harinya, sekali lagi, aku menunggunya di taman kota. Entahlah, kali ini dengan keyakinan bahwa Yong Hwa akan datang, tidak akan terlambat seperti tiga tahun lalu, dan kami akan baik-baik saja. Dengan keyakinan itu pula, aku tidak mengeluarkan novel atau earphone untuk membunuh waktu menunggu. Urusan dengan keluarga bibi sudah selesai, sengaja ku percepat karena aku ingin bertemu dengan Yong Hwa di sini sebelum aku balik ke New York besok pagi.

Setengah jam. Aku yang mulai mati gaya mengeluarkan earphone dari dalam tas dan mulai menyumpal kedua telinga dengannya. Dua puluh menit kemudian ganti aku mengeluarkan novel dari dalam tas, tapi hanya meletakkannya di pangkuan. Aku tergoda untuk meneleponnya, sekadar untuk dia ingat bahwa dia ada janji denganku sore ini, tapi ku batalkan. He will come when he comes.

Tidak berapa kemudian ada seseorang duduk di sampingku, tapi aku tidak berniat untuk menoleh, memastikan apakah itu Yong Hwa atau bukan. Tiba-tiba orang itu mengangsurkan saputangan laki-laki padaku dan saat itulah aku melihat siapa orang itu. Begitu tahu itu Yong Hwa, aku justru memalingkan wajah darinya. Berusaha menenangkan rasa dongkol karena sekali lagi dia membuatku menunggu lama. Tanpa penjelasan. Cuma selembar saputangan.

“Yakin nggak butuh saputangan?”

“Buat apa? Aku nggak nangis kok.”

Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki berlari ke arah kami sambil membawa semacam sketch book. Anak laki-laki dengan gigi ompong itu berdiri di depanku sambil senyum lalu membuka lembar demi lembar dari sketch book itu.

(lembar pertama) Mian (lembar kedua) sudah membuatmu menunggu lagi (lembar ketiga) kali ini bukan karena tidak berani (lembar keempat) tapi karena aku ingin membuat sesuatu yang istimewa untukmu (lembar kelima) lihat ke belakang

Saat aku lihat ke belakang, ternyata ada Jae Joong-ssi yang memegang banyak balon warna-warni yang mau tidak mau mengundang perhatian pengunjung taman. Dia melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum. Apa maksudnya itu? Aku tersenyum, tapi tetap tidak paham ada apa ini. Masih terkejut dengan itu, si anak laki-laki itu menjawilku lagi untuk kembali membaca kertas yang ia bawa.

(lembar keenam) itu ide Jae Joong-ssi yang konyol, bukan ideku (lembar ketujuh) ini ideku

Kemudian Yong Hwa memasang earphone miliknya ke telingaku lalu terdengar petikan gitar dan suaranya yang khas.

Cha-gab-ge deo cha-gab-ge mal-eul hae-bwa

Nal ddeo-nal su itt-da-go

Geu mal-eun Mis Mis Oh Mistake

Everybody got it LA LA LA LA

A-jik-do neol bu-reu-myeon dal-ryeo-ol geot gat-eun-de

I-byeol-eul mid-eul sun eobs-eo

Love Love Love Everybody

Clap Clap Clap I want you back to me

Dan i cho-ra-do ham-gge-han-da-myeon

Se-sang-eul da ga-jin geot gat-eul-ten-de

Love Love Love

 

Aku mulai meneteskan air mata demi mendengar lagunya dan semua usahanya ini. Kembali si anak kecil itu memintaku membaca kelanjutan lembar-lembar yang tersisa.

(lembar kedelapan) saranghae, Song Yi-ah (lembar kesembilan) saranghae (lembar kesepuluh) saranghae, Song Yi-ah (lembar kesebelas) *yakin tidak butuh saputangan*

Dan benar kali ini aku terharu dengan semua usahanya. Sekali lagi dia menyodorkan saputangannya kepadaku yang kali ini ku ambil untuk menghapus tetesan air mata bahagia yang mulai menetes. Yong Hwa berjongkok di depanku dan memberiku senyum terindahnya sebelum akhirnya memelukku. Benar bahwa pelukan diciptakan untuk menyatakan cinta kepada pasangan kita tanpa banyak kata. Saranghae, Yong Hwa-ssi.

 

 

 

One thought on “[FF Competition] Love

  1. Ide ceritanya kreatif, mungkin pengungkapannya yang agak berberlit-belit jadi kurang bisa dimengerti, tapi ide ceritanya bagus kok, unik, waiting for next story😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s