[FF Competition] Teh

 

Teh

Romance – Happy Ending

 

 

Tengah malam, Aku pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Ini rutinitas yang ku lakukan setiap malam untuk suamiku. Setelah selesai, pelan-pelan aku membawa secangkir teh menuju kamarku di lantai atas rumah dan meletakkannya diatas meja kecil disamping tempat tidur. Kami tinggal disebuah rumah yang besar dan mewah milik suamiku, Jonghyun. Lee Jonghyun adalah chaebol dari keluarga Lee yang cukup termashyur di Busan. Saat ini Jonghyun melanjutkan perusahaan ayahnya di Busan dan kami hidup terpisah dari Keluarga Besar Lee yang sebagian besar tinggal di Gangnam. 

Sudah 6 bulan berlangsungnya pernikahan ku dengan Jonghyun. Tak banyak yang berubah dari sikapku kepadanya dan sikapnya kepada ku. Sifatnya yang dingin dan tak banyak bicara, tetap sama semenjak pertama kali bertemu. Yah, aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Di dekat taman, warna-warni bunga itu menjadi saksinya. Saat matanya menatap lekat bunga mawar putih di taman samping rumahku. Dia menghampiri mawar putih itu, memetiknya dengan hati-hati. Merasakan harumnya bunga itu dan tersenyum. Aku merasakan adanya ketenangan dalam senyumnya yang sangat pantas menghiasi wajahnya yang tenang. Memberikan kesan menyejukkan bagi siapapun yang beruntung melihatnya termasuk diriku karena hal itu ternyata cukup langka ditemukan didalam hidupku.

Tiba-tiba jonghyun menampakkan dirinya keluar dari bathroom mengenakan silky bathrobes berwarna merah. Ia baru selesai membersihkan dirinya.

“Kau belum tidur?”, dia bertanya.

“Aku masih ingin menunggumu”, aku menjawabnya dan dia hanya diam sambil bercermin.

Dia bercermin sembari menyisir rambutnya yang basah. Dirinya terlihat sangat tampan ketika melakukannya bahkan saat malam hari, dia selalu menawan. Terkesan classy. Lalu Jonghyun meminum teh yang ku buat sambil duduk disampingku diatas tempat tidur. Selalu menghayati dan merasakan teh tersebut dengan tenang. Kemudian meletakan cangkir teh itu kembali diatas meja.

“Bagaimana pekerjaanmu?”

“Selalu melelahkan, tadi aku bertemu Jung Yonghwa, CEO Shinwa, kami berbicara mengenai kerjasama perusahaan dengannya.”

Ekspresi wajah Jonghyun selalu datar ketika menjawabnya. Setiap hari, rasanya pernikahan ini terlalu kaku untukku. Jonghyun selalu terlihat kaku saat bicara denganku dan kadangkala tak suka jika aku memeluknya ketika dia pulang larut malam. Dia bahkan tidah pernah memanggilku dengan kata-kata ‘chagiya’ atau ‘yeobo’. Aku pun tak pernah memanggilnya oppa, bukannya tak mau tetapi segan. Mungkin seperti inilah pernikahan kami yang lahir dari perjodohan.

Kami tak saling menyukai sejak awal. Ayahnya Jonghyun dan ayahku bersahabat karib dan mereka berjanji untuk saling menjodohkan kedua anak mereka kelak. Dan saat itu, ketika Jonghyun memetik mawar putih di taman rumahku, dan berjalan bersama seorang pria yang nampaknya sudah berumur menuju rumahku, aku baru mengetahuinya. Ayah mengenalkan ku kepada pria setengah baya itu dan lelaki muda nan tampan disebelahnya. Lalu aku pergi ke dapur untuk membuatkan teh dan menghidangkannya diatas meja. “Gomawoyo”, aku mendengar jonghyun mengatakan itu kepadaku. Dia meminum teh itu dan tersenyum kepadaku. Senyum yang sama dengan yang tadi, tanpa berkata apapun. Aku melihat mawar putih di kantong jas nya. Jonghyun dan ayahnya sangat berbeda dengan keluargaku. Mereka tampak berkelas walaupun mencoba untuk sederhana. Tetapi ayah Jonghyun sangat ramah terhadap aku dan ayah. Ayah menyuruhku duduk disampingnya, dan mengatakan tentang janjinya dengan sahabatnya itu bahwa aku akan di jodohkan dengananak dari pria setengah baya itu. Aku terkejut dan tak menyangka namun hanya terdiam mendengar perjodohan ini. Dan begitu juga dengan Jonghyun, dia hanya diam seakan-akan tidak terjadi apa-apa dengannya. Berhari-hari aku merasa tak tenang dengan bayangan perjodohan ini. Ada beban berat yang harus ku pikul dan bayangan kesedihan yang ku rasa, dari seberang sana. Ketidakrelaan dari sesuatu hal yang paling membahagiakan dari diriku. Apakah dia akan merelakanku? Sebuah pertanyaan yang aku biarkan tak terjawab sampai hari pernikahanku tiba.

Sejak hari pernikahanku dengan Jonghyun, aku belajar untuk mencintainya dengan segala kelebihannya dan kekurangannya. Tetapi apakah dia juga belajar mencintaiku? Aku ingin dia juga Melakukan hal yang sama. Jonghyun mulai berbicara kepada ku sembari beranjak dari tempat tidur menuju cermin kembali. Menyisir rambutnya dengan tangannya. Aku melihat rambutnya yang berwarna coklat kemerah-merahan.

“Apa kau menikmati hari ini? Apa saja yang kau lakukan?”, dia bertanya kepada ku.

“Tadi aku pergi ke supermarket”

“Apa yang kau lakukan di supermarket? Bukankah ada pelayan yang bisa berbelanja kesana.”

“Aku hanya ingin pergi berbelanja sendiri, aku merasa bosan dirumah. Tak ada yang ku lakukan”

Jonghyun hanya terdiam acuh, masih berada didepan cermin.

“Tadi disupermarket aku bertemu dengan teman lamaku”

“Apa yang kau lakukan dengannya?”, Jonghyun bertanya kepadaku, mencoba untuk tidak terlalu kaku denganku. Aku menceritakannya kepada jonghyun.

Tadi pagi di supermarket, aku bertemu seseorang yang aku katakan kepada jonghyun sebagai sahabatku. Dia berjalan kearah ku bersama seorang wanita sambil bergandengan tangan, sesekali mengambil sayuran-sayuran yang berada disampingnya. Dia terlihat sangat dekat dengan wanita itu. Dan ketika mata kami berdua bertemu, dia terdiam. Wanita yang berada disampingnya itu, mengatakan sesuatu padanya dan berjalan ke arah kanan untuk mencari sesuatu untuk dibeli. Dia masih tetap terdiam. Aku juga terdiam. Kami saling berpandangan beberapa saat.

Seakan-akan waktu berhenti, dan mungkin kembali pada masa lampau saat ketidakrelaan itu datang dari satu hal yang paling membahagiakan dalam hidupku. Enam bulan yang lalu, tiga hari sebelum pernikahanku berlangsung. Aku menemuinya, seorang yang ku katakan pada jonghyun sebagai sahabatku adalah seseorang yang aku cintai untuk pertama kalinya saat aku masih remaja. Dia adalah Sangwoo, Seorang pria tampan yang lucu, yang selalu membuatku tertawa, membawakan seikat mawar merah untukku. Aku tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa menerima dengan meneteskan air mata.

“”Tiga hari setelah hari ini, aku tak akan bisa lagi bertemu denganmu”, aku berkata kepadanya sambil menangis.

Dia menanyakan kenapa ku tak bisa lagi bertemu dengannya sambil menatapku. Aku mencoba memberitahunya dengan isak tangis yang memenuhi seluruh syaraf otakku. Aku katakan padanya bahwa aku telah dijodohkan dengan ayahku. Sangwoo terdiam, lalu duduk bersandar disebatang pohon.

“Sungguh?”, dia bertanya kepada ku dengan nada pelan dengan raut muka seakan tak percaya dengan hal itu. Dia kembali bersandar dibatang pohon itu, perlahan meneteskan air mata. Kami berdua menangis dikala pohon-pohon disekeliling menatap iba. Aku tak ingin menerima perjodohan ini, aku mencintai Sangwoo. Dialah yang ku inginkan untuk menikah denganku kelak. Tapi Aku tak mungkin mengecewakan ayahku.  Ini hal yang paling rumit yang pernah ku temukan. Sangwoo perlahan beranjak dan menatapku.Dari wajahnya, aku tetap bisa melihat bagaimana kesedihan yang sangat dalam terpancar dari wajahnya yang innocent. Dan Dia lalu mencium bibirku dengan tenang dan aku sama sekali diam. Aku bisa merasakan bagaimana dia sangat mencintaiku. Dia hanya bisa tersenyum didalam kesedihannya, dan mengusap kepala ku. Ciuman itu adalah yang pertama bagi ku sekaligus yang terakhir. Setelah itu dia hanya mengatakan selamat tinggal kepada ku dan berlarimeninggalkan ku. Aku berteriak memanggilnya dan menangis, tapi dia tak pernah muncul setelah itu. Dan sekarang aku bertemu dengannya kembali, didalam suasana yang berbeda.

“Annyeonghaseyo”, dia hanya menyapaku dengan kata itu. Tak ada kata chagi yang biasa dia utarakan kepada ku.

“Annyeong Sangwoo-ssi”,  aku tak lagi memanggil oppa kepadanya.

“Bagaimana kabarmu?”, dia bertanya kepada ku.

“Baik, bagaimana denganmu?”

“aku juga”.

“Apakah perempuan itu istrimu?”, aku bertanya kepadanya.

“Ya, kami baru menikah dua bulan yang lalu. Dan dia tengah hamil sekarang”, dia menjawabnya sambil tersenyum. Oppa-ku yang dahulu telah menikah sekarang dan nampaknya dia bahagia dengan kehamilan istrinya.

“Semoga kau bahagia, Aku senang mendengarnya”, aku berkata kepadanya.

“Ya, terima kasih. Bagaimana keadaan suami mu? Sampai kan salamku padanya”

“Dia baik-baik saja, ya akan aku sampaikan”

“Kau selalu terlihat manis sampai sekarang,” dia memujiku dengan sedikit canggung. Aku senang dapat mendengar pujian yang selalu ia katakan kepadaku dahulu.

“Oh iya aku harus pergi sekarang, istriku harus pergi check up. Aku harap kita bisa bertemu kembali.”

“Ya, sampaikan salam ku kepadanya. Kau tetap seperti dahulu Sangwoo”

“Ah terima kasih. Sampai jumpa”

Aku melambaikan tangan ku kepadanya dan dia tersenyum. Dan inilah ternyata jawaban yang aku dapat setelah sekian lama mengubur pertanyaan yang dahulu membuatku tak tenang. Aku senang melihatnya bahagia. Wanita itu sungguh beruntung bisa memiliki Sangwoo. Dia adalah sosok pria yang penyayang. Oppa-ku yang paling ku sayang, dia akan tetap menjadi bagian hidupku selamanya. Bagaimanapun aku sudah punya Lee Jonghyun sekarang. Aku ingin bisa seperti wanita itu, bisa tertawa dengan suaminya. Aku benar-benar ingin mencintai Jonghyun. Ya Tuhan, Apakah Jonghyun mau mencintaiku?

“Dan Sangwoo menitipkan salam untukmu, jonghyun”

Jonghyun telah mendengar semua cerita itu. Dia hanya terdiam mendengarnya, lalu membawa cangkir teh tersebut ke balkon di luar kamar dengah masih mengenakan bathrobes. Dia meletakkan cangkir teh itu diatas meja kecil diantara empat buah kursi santai yang mengelilinginya. Jonghyun berdiri didepan pagar balkon tersebut, membiarkan tangannya berlipat diatas pagar tersebut. Sambil memandang heningnya malam, diantara hembusan angin malam. Aku menghampirinya. Melingkarkan tanganku diantara badannya dari belakang. Ya seperti biasa, dia selalu menolaknya. Aku duduk terdiam, namun kali ini aku benar-benar merasa iba, mataku meneteskan air mata. Aku hanya ingin dia tau tentang semua yang ku simpan selama ini. Apa salah?  Tiba-tiba  saja Jonghyun membalik badannya, lalu duduk didepan ku. Aku sadar dia memandangiku

Tiba-tiba, tangannya menghapus air mata dari mataku. Aku kaget dan berhenti menangis. Dia terus menghapus air mata yang membasahi pipiku dengan tangannya.

“Kau ingin mencoba teh yang kau buat untukku? Nenek ku pernah berkata teh dapat menenangkan pikiran”, Dia memberikan cangkir berisi teh itu kepada ku dan aku meminumnya.

“Ya, aku sudah sedikit tenang. Terima kasih”, aku sedikit malu mengatakannya.

“Kau merasakan bukan bahwa teh buatanmu dapat menenangkanku? Terima kasih telah membuatkanku teh selama ini”, dia mengatakannya dengan tersenyum. Dan dia melanjutkan,

“Maafkan atas keegoisanku selama ini. Aku tak menyangka kau telah memiliki kekasih saat itu. Aku tak bermaksud untuk memisahkan mu dengannya, jika aku tahu aku akan menolak perjodohan ini. Kenapa kau tidak memberitahukannya kepadaku?”

“Aku tidak ingin mengecewakan ayahku dan juga ayahmu. Terlalu egois rasanya untuk menghancurkan persahabatan yang telah dibina sejak dahulu”

“Tetapi ini masalah cinta, Aku bahkan tak pernah mencintaimu selama ini. Aku sangat menyesal menjadikan pernikahan ini sebagai suatu pelarian”, Jonghyun tampak menyesali semua yang telah dilakukannya selama ini.

“Pelarian?”, aku sedikit terkejut mendengarnya.

“Ya, maafkan aku selama ini”, dia mengela napas.

“Maukah kau menceritakannya kepada ku?”, aku mencoba memperhatikannya. Dia mengangkat  kepalanya, lalu menatapku.

“Kau mau mendengarnya?”, dia bertanya kepada ku.

“Bukankah kau telah mendengar ceritaku bukan? Sekarang aku ingin mendengar kisahmu”

Jonghyun tampak enggan memberitahukannya. Tetapi akhirnya menyanggupinya. Jonghyun  menceritakan dirinya dikala sedang patah hati karena wanita yang  dia cintai menikah dengan pria lain. Dia melewati hari-hari yang berat dan sangat frustasi dengan hal itu. Yang dia lakukan hanya menyendiri dikamar, menyesali segala hal yang telah ia perbuat sampai suatu ketika ayahnya datang kekamarnya dan memberitahukan tentang perjodohan ini.

“Aku menerima perjodohan ini karena aku ingin menjalani hidupku dengan normal kembali. Aku hanya ingin melewati hari-hariku seperti biasa”, ia meraih mawar putih yang ia letakkan sebelumnya pada vas bunga dan memberikannya padaku.

“Kau tahu, hal yang membuatku tenang ketika itu hanyalah mawar putih yang ku petik di taman rumah mu dan secangkir teh yang kau buat untukku.”

“Itu mengingatkanku kepada nenek yang selalu membuatkan teh untukku. Beliau sangat suka mawar putih dan aku selalu memetik mawar putih untuknya karena beliau pasti akan mengusap rambutku saat aku memberikan bunga itu padanya. Aku selalu merasa senang ketika mengingatnya. Sekali lagi terima kasih untuk teh nya selama ini. Aku selalu merasa tenang ketika meminumnya”.Wajahnya tampak bersinar ketika menceritakannya. Aku melihat sesuatu yang berbeda dari dirinya malam ini.

“Sekarang aku tahu kenapa kau selalu memintaku untuk membuatkan teh  setelah kau pulang”, aku berkata sambil tersenyum kepadanya.

“Yeah, you know it exactly!”, dia tertawa.

Sangat langka untuk melihatnya tertawa seperti ini. Kedua pipinya punya lesung yang membuatnya tampak manis ketika tertawa. Ah Jonghyun, Sungguh kau sangat tampan ketika tertawa. Dibawah taburan bintang dilangit malam, diatas balkon itu, kami saling bercerita satu dengan yang lain. Kami saling duduk berhadapan, menceritakan semua hal yang kami ketahui. Kami saling tertawa. Aku tak menyangka jonghyun yang selama ini kaku, ternyata adalah orang yang menyenangkan. Dia tak berhenti tertawa mendengar kisah ku saat SMA. Dia juga menunjukkan album fotonya ketika kecil.

“Kemarin ayah menghubungiku, dia menyuruhku untuk berkunjung ke Seoul. Dia ingin bertemu denganmu katanya”, dia berkata kepadaku.

“Benarkah jonghyun?”

“Ya, dia berkata,’hey bawalah istrimu yang cantik itu kerumahku. Aku ingin melihatnya hadir di Pesta ulang tahun perusahaan'”, dia menirukan gaya berbicara ayahnya. Aku tertawa mendengarnya.

“Dia juga mengatakan dirinya ingin kembali melihat Jonghyun kecil yang suka berlari-lari dirumah dan memecahkan guci kesayangannya”, dia mengatakannya sambil tertawa.

“Ayah tak pernah marah walaupun aku sering memecahkan guci koleksinya dirumah. Dia hanya tertawa kepadaku dan berkata ‘daebak my little son'”, wajahnya nampak ceria ketika menceritakannya kepadaku.

Aku benar-benar terkesima melihat dirinya malam ini. Dialah suami ku? Dia sungguh tampak menawan malam ini dengan segala keceriannya yang perlahan-lahan muncul ke permukaan, setelah sekian lama berlagak dingin didepanku.

“Daebak oppa..”, aku mengusap rambut jonghyun. Dia terperangah ketika menyadari aku mengusap rambutnya. Aku merasa malu ketika dia menatapku lekat. Lalu Dia menyunggingkan senyuman.

“Gomawo yeobo”, dia tersenyum dengan senyuman yang sama ketika ku melihatnya di taman dan ketika dia tersenyum meminum teh pertama yang ku buat untuknya.

Baru sekali ini dia memanggilku dengan kata ‘yeobo’. Aku sangat senang mendengarnya. Dia memang sungguh sempurna dimataku, suamiku yang tampan dan baik. Dan aku menyadari dia mulai belajar mencintaiku malam ini. Ah semua bintang itu saksinya, dia akan menyimpan semua hal indah ini sebagai suatu langkah awal yang tak akan terlupakan bagi pernikahanku dengan Jonghyun-ku sayang. Dia memeluk tubuhku sekarang. Kehangatan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.

Dan dia kembali menatapku dengan senyuman itu. Aku sungguh sangat beruntung bisamelihat senyuman itu kembali. Lalu Dia mencium bibirku untuk pertama kalinya. Aku memejamkan mata dan membiarkan segalanya terjadi bersamadirinya. Jonghyun menghabiskan teh yang ku buat dan menggandeng tanganku kedua tanganku. Dia mencium keningku dan kembali tersenyum memandangiku. Ah Malam yang indah bagi ku untuk bersama dengan Jonghyun, suamiku tersayang. Menikmati indahnya dunia dan mulai mencintai hidup ini sebagai sepasang suami-istri yang bahagia.

 

“Aku ingin melihat diriku saat kecil kembali dalam kehidupanku”,

Jonghyun tersenyum dan memberikan sebuat isyarat.

 

The end

 

 

4 thoughts on “[FF Competition] Teh

  1. Suka~~~~~~ Aku bacanya sambil senyum-senyum😀 Konsep ceritanya sudah terlalu banyak: perjodohan. Tapi pembawaan dan alur ceritanya itu yg bikin aku suka. *thumbs up*
    Tapi saranku kalau bisa dalam beberapa penjabaran jangan ditumpuk plek dalam satu paragraf. Aku pribadi sih pusing bacanya hehe. Maklum udah tua(?)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s