[[FF EVENT – JONGHYUN’S BIRTHDAY]] Remember

remember

 

Mona Present

Cast :
Lee Jonghyun (CNBLUE), Kang Minjung (OC)

Other cast :
Lee Jungshin (CNBLUE)

Genre :
Romance, AU

Rating :
PG – 13

Length :
One shoot

 

***

 

Ini awal semester baru, ketika liburan tengah semester telah usai. Ketika beberapa anak mengomel karena hari libur yang berlalu dengan sangat cepat. Tapi berbeda untuk semester ini. Beberapa pelajar akan tersenyum lebar saat melangkahkan kaki mereka ke sekolah. Sebenarnya hanya karena hal sepele. Mereka akan dipasangkan untuk duduk bersama (antara pria dan wanita). Tentu ini adalah suatu keuntungan bagi tiap orang.

Minjung melangkahkan kakinya menuju kelas, lalu menarik kursinya dan duduk. Tiba-tiba seorang pria dibelakangnya, mendorong kursi gadis itu dengan kakinya. Minjung menggigit bibir bawahnya, sebenarnya ia telah melakukan sesuatu. Sesuatu yang sangat fatal akibatnya. Minjung menolehkan kepalanya, lalu tersenyum kepada pria itu. Kepada pria yang bernama Lee Jungshin.

“Aku tak mengerti dengan ingatanmu” kata Jungshin, lalu ia bersandar di kursinya.

“Aku juga. Aku tak mengerti apa maksudmu” Minjung menjawab, berusaha membuat dirinya tak terpojokkan.

Tapi Jungshin tetaplah Jungshin, pria itu melayangkan jitakkan yang lumayan keras, lalu kembali mengomel.

“Kalau begitu, kerjakan sisanya” Jungshin mengeluarkan selembar kertas dan beberapa buku tebal dari laci mejanya, lalu menyerahkannya pada Minjung.

Minjung menekuk wajahnya, dan terpaksa ia mengambil buku-buku tebal itu. Minjung mengumpat dalam hati. Sebenarnya ia ingat dengan tugas kelompok yang satu itu. Hanya saja ia baru ingat di malam hari, tepat satu hari sebelum awal semester baru.

Sementara Minjung terus mengumpat dalam hati sambil membuka tiap lembar buku, pria itu datang. Pria yang akan duduk di samping Minjung. Minjung yang mengetahui kedatangan pria itu langsung mengalihkan pandangannya pada Lee Jonghyun. Dan seperti biasa, ketika pria itu telah duduk dan menaruh tasnya, ia akan melipat kedua tangannya, lalu membenamkan wajahnya. Dia tidur. Itu adalah salah satu kebiasaannya.

Minjung menghela napas. Andai saja pria ini tahu kalau Minjung sedang membutuhkan bantuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas yang baru saja dilimpahkan Lee Jungshin. Sekali lagi, Minjung mengumpat dalam hatinya.

Waktu terus berlalu, sampai bel berbunyi. Minjung telah melewatkan dua puluh menit dengan berpikir keras untuk mengerjakan soal-soal itu. Tapi tak ada satupun yang berhasil ia jawab. Minjung menggaruk kepalanya prustasi. Ia akan menjadi gila jika terus seperti ini. Dia teringat dengan pria di sebelahnya. Apa dia harus membangunkannya lagi?

Minjung mengguncang tubuh pria itu pelan, tapi tak ada reaksi apapun. Jadi Minjung mencubit pria itu sampai bangun. Jonghyun yang sudah bangun tak masalah dengan cubitan Minjung. Malah dia tersenyum dan menyiapkan buku untuk pelajaran yang akan segera dimulai.

Minjung sendiri tak merasa bersalah, karena dihari-hari sebelumnya ia membangunkan Jonghyun yang duduk di depannya. Dan sekarang pria itu duduk di sampingnya. Sepertinya wali kelas mereka tahu kalau ada simbiosis mutualisme di antara mereka.

Melihat Jonghyun sudah bangun dari tidurnya, ia kembali menatap deretan kalimat yang tiada akhir. Benar-benar memuakkan.

“Kau sedang apa?” tanya Jonghyun sambil melihat buku yang dibaca oleh Minjung sedari tadi.

“Tugas kelompok” jawab Minjung lemas, lalu ia mendesah pelan.

“Oh.. Kenapa kemarin tak datang?” tanya Jonghyun sekali lagi.

Minjung menatap Jonghyun dengan memasang wajah memelas. Ia benar-benar membutuhkan pertolongan seorang malaikat saat ini. Tapi Jonghyun bukanlah malaikat yang tepat, karena Minjung jelas-jelas melihat wajah pria itu menahan tawa.

“Bisakah kau tak mengatakan pada Jungshin jika aku memberikan alasannya?” Minjung berbisik kecil sambil menundukkan kepalanya. Jonghyun menganggukkan kepalanya, tanda ia setuju dengan perjanjian tersebut.

“Aku lupa” jawab Minjung singkat. Dan pria itu tertawa. Selalu seperti itu.

“Kau ini aneh! Bukankah aku sudah mengingatkan satu hari sebelum kerja kelompok?” Jonghyun melayangkan beberapa pertanyaan pada Minjung yang seperti terdakwa.

“Tapi, aku bersungguh-sunguh. Aku lupa” Minjung menjawab sambil menekuk wajahnya kembali.

“Ya, ya..” jawab Jonghyun, lalu ia mengabaikan Minjung.

Minjung melirik Jonghyun lewat sudut matanya. Sebenarnya ia ingin memanggil pria itu, lalu meminta bantuannya. Tapi seorang pria yang dipanggil guru itu telah datang. Dan membuat Minjung harus menelan kata-katanya kembali.

***

Minjung menekan-nekan pelipisnya dengan tutup bolpen. Memaksa agar otaknya dapat berpikir dan mengerjakan soal-soal yang dilimpahkan Jungshin padanya. Tak lama, Minjung melihat susu kotak segar yang baru saja diletakkan di atas meja, dan seorang pria yang duduk di sampingnya.

Jangan pernah berharap kalau susu kotak seperti itu dapat diteguk. Karena itu adalah milik Lee Jonghyun. Setiap istirahat tiba, ia akan membeli susu segar di kantin, lalu meminumnya di dalam kelas.

“Kau masih belajar?” tanya Jonghyun sambil mendekat kearah Minjung.

“Iya” Minjung menjawab singkat.

“Sepertinya sangat sulit. Sampai kau menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakannya”

“Akhirnya kau menyadarinya” ujar Minjung lemas. “Ayo bantu aku” pinta Minjung.

Jonghyun mengulum senyum lalu berkata, “Baiklah, sepulang sekolah”.

Minjung tersenyum bahagia. Tapi di balik setiap kebahagiaan pasti ada umpatan. Semua manusia selalu menginginkan lebih bukan? Dan Minjung berharap kalau hatinya putus saat itu juga. Karena Jonghyun yang baru saja mengatakan akan menolongnya. Padahal ia telah memelas sedari tadi bukan?

***

Sepulang sekolah Jonghyun langsung berlari untuk mengambil sepedanya, lalu ia menunggu di dekat gerbang sekolah. Tak lama, ia melihat Minjung yang sedang menoleh kesana-kesini seperti mencari seseorang. Jonghyun melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Dan dia mendapatkan mata gadis itu tepat di matanya. Rasanya seperti ada batu yang mengenai kepalanya. Kosong.

Minjung yang melihat Jonghyun melambaikan tangan, langsung berlari kearah pria itu. “Ayo,” ujar gadis itu. Lalu keduanya berjalan bersama menyusuri trotoar jalan. Tak ada percakapan. Keduanya saling membungkam mulut masing-masing. Mereka hanya menatap kedepan.

Jonghyun berhenti sejenak, diikuti Minjung. Lalu Jonghyun merogoh kantung celananya dan menarik tangan Minjung, memberikan sesuatu pada gadis itu. Sebuah permen. Jonghyun sendiri membuka bungkus permen lainnya, lalu memakannya.

“Rasanya enak. Makanlah” ujarnya pada gadis itu.

Minjung belum memakan permennya, dia masih melihat bungkus permen itu. Jonghyun juga sering memakan permen itu di dalam kelas secara diam-diam saat pelajaran berlangsung. Pernah satu kali, Jungshin meminta permen itu pada Jonghyun, dan Jonghyun tak mempedulikan pria itu. Jadi, apa maksud semua ini?

Minjung membuka bungkus permen itu, lalu memasukkan permen berwarna coklat muda itu ke dalam mulutnya. Ia hanya merasakan manis karamel. Tak lebih. Hanya itu. Dan dari ‘hanya itu’ membuat Minjung bingung. Kenapa Jonghyun tak pernah lupa untuk memakan permen itu? Padahal rasanya benar-benar standar. Seperti permen di toko-toko kecil lainnya.

“Bagaimana?” Jonghyun bertanya sambil menatap Minjung dengan senyuman.

“Sejujurnya, hanya rasa manis karamel yang aku rasakan”

“Teknik memakanmu salah. Akan aku berikan kesempatan lain besok” kata Jonghyun sambil mempercepat langkahnya meninggalkan Minjung.

Minjung menyerngitkan dahinya. Ia mengecap-ngecap lidahnya, berusaha menemukan rasa lain saat itu. Tapi nihil. Lalu ia berlari mengejar Jonghyun yang sudah berjalan jauh di depannya.

Sebenarnya rumah mereka sangat dekat. Rumah Jonghyun hanya sepuluh langkah dari rumah Minjung. Tapi mereka tak pernah berangkat bersama, ataupun pulang bersama. Begitu sampai di rumah, Minjung membukakan gerbang untuk sepeda Jonghyun, dan pria itu  memarkirkannya dekat dinding.

“Sebenarnya aku selalu penasaran dengan rumah ini. Sangat sepi” kata Jonghyun sambil melangkah masuk dan melihat sekeliling.

“Ayah dan Ibu pergi bekerja, jadi aku tinggal sendiri di rumah” ujar Minjung, lalu ia berjalan menuju dapur.

“Aku pikir rumahmu tingkat, karena bangunannya tinggi” kata Jonghyun sekali lagi, kali ini ia menatap beberapa foto yang terpajang di meja. Ia tersenyum saat melihat Minjung kecil dalam foto itu.

“Tidak. Ayah sengaja mendesain rumah ini agak tinggi. Katanya agar sirkulasi udara lebih baik dan udara lebih sejuk tanpa pendingin ruangan”

Minjung datang sambil membawa sebuah nampan yang berisi dua buah gelas, satu susu kotak besar, dan sekaleng biskuit. Ia menuangkan susu itu pada salah satu gelas, lalu mengantarkannya pada Jonghyun yang masih melihat foto-foto di meja. Jonghyun mengambil gelas itu dari tangan Minjung, lalu meneguknya.

“Itu adik-ku. Adik perempuan yang cantik. Empat tahun yang lalu keluarga kami sedang berjalan-jalan. Tapi kami mengalami kecelakaan. Adik-ku meninggal. Sementara ayah, ibu, dan aku hanya mengalami luka berat. Dan semenjak hari itu, sejak kepalaku terbentur cukup keras, ingatanku seperti menghilang. Hanya tinggal bayang-bayang. Aku juga menjadi pelupa seperti ini” kata Minjung, lalu ia tertawa kecil.

Jonghyun menatap gadis itu. Ia merasa bersalah sebenarnya. Karena selama ini pikirannya selalu sama seperti murid-murid yang lain. Katanya gadis itu bodoh. Tapi itu dulu, ketika Jonghyun belum menemukan sisi baik gadis itu. Minjung cukup berbakat dibidang menggambar. Jadi Jonghyun merubah pikirannya tentang gadis itu. Dia berpikir kalau gadis itu aneh dan kehilangan sebagian otaknya. Walaupun Jonghyun mengetahui bahwa anggapannya salah, ia tak berniat sedikitpun untuk meminta maaf. Bahkan tak terlintas.

“Ayo kerjakan soal” kata Minjung.

Lalu Minjung mengambil tasnya, dan mengeluarkan banyak buku. Sementara Jonghyun berjalan dengan santai sambil menaruh gelasnya di atas meja. Kemudian dia duduk di samping gadis itu.

“Aku pikir gadis kecil yang ada di foto tadi itu kau” ujar Jonghyun sambil mengambil kertas soal dan pensil yang ada di meja.

“Kalau itu kau, aku bersungguh-sungguh, kalau gadis kecil itu sangat cantik. Tapi kau juga tak kalah cantik. Bagaimana kalau kau menikah denganku?” tanya Jonghyun, lalu ia melirik nakal gadis itu.

Minjung terlihat serba salah, ia hanya menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Hey, aku hanya bercanda. Tapi kalau nanti terjadi, kau harus menerimaku” kata Jonghyun. Lalu Jonghyun tertawa puas sambil melihat wajah Minjung yang terlihat kesal.

Sebenarnya Minjung merasa bahagia saat melihat Jonghyun tertawa puas seperti itu. Terlebih lagi, karena dirinyalah yang membuat pria itu tertawa. Lee Jonghyun, pria dingin yang pendiam. Mereka hanya melihat sosoknya dari luar, dan tak pernah melihat lebih dalam.

“Baiklah, ayo kita kerjakan” ujar Jonghyun sambil berdehem setelahnya.

Lalu keduanya menatap saol-soal di kertas, berpikir, berdiskusi, berdebat, dan akhirnya memutuskan untuk melihat buku. Untuk mendapatkan jawaban yang terbenar tentunya. Dan terus seperti itu, sehingga mereka hanya bisa menyelesaikan tiga soal dari empat soal yang harus dikerjakan.

“Aku pulang dulu ya” pamit Jonghyun sambil membawa sepedanya keluar. Lalu ia menaiki sepedanya dan tersenyum kearah Minjung. Minjung hanya melambaikan tangan dan tersenyum, sampai pria itu menghilang masuk ke rumahnya yang hanya berjarak sepuluh langkah.

***

“Hey, kenapa kau selalu tidur di sekolah?” tanya Minjung sambil menyentuh tangan Jonghyun dengan jari telunjuknya sesekali. Lalu Minjung menghentikan apa yang ia lakukan setelah Jonghyun bangun dan duduk bersandar di kursinya.

“Aku mengantuk” jawab Jonghyun, lalu ia tersenyum.

“Apa kau disuruh bekerja oleh orangtuamu? Sampai kau harus tidur malam?”

“Tidak. Aku mendapatkan sebuah gitar dua semester yang lalu. Dan aku selalu belajar memainkannya di malam hari”

“Benarkah? Apa kau telah menciptakan sebuah lagu? Aku ingin mendengarnya” kata Minjung penuh semangat.

“Belum. Aku masih harus belajar”

Minjung menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Lalu ia kembali menatap bukunya, bersamaan disaat seorang guru memasuki kelas. Dan itulah awal dari pagi itu, ketika ia tahu kalau Jonghyun mempunyai sebuah gitar.

***

“Ini untuk mu” kata Jonghyun sambil memberikan sekotak susu dingin pada Minjung. Minjung membelalakkan matanya sambil mengambil kotak susu itu dengan ragu.

“Te-terimakasih” bahkan karena shock, ia sampai terbata-bata.

“Sama-sama” jawab Jonghyun sambil mengacak puncak kepala Minjung pelan. Lalu Jonghyun kembali meminum susu kotaknya, lebih tepatnya menghabiskan susu kotak itu. Lalu ia berjalan keluar untuk membuang kotak susunya.

Minjung menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kasar berulang kali. Lalu tangannya memegang dada sebelah kiri. Ya. Masih berdetak, berdetak terlalu cepat.

***

“Akhirnya selesai juga” ujar Minjung sambil meregangkan otot-ototnya. Sementara Jonghyun tertawa saat melihat Minjung yang kekanak-kanakan. Jonghyun mengambil sepotong biskuit dari kaleng, lalu memakannya. Sejenak ia teringat akan sesuatu. Ia merogoh kantung celananya, lalu memberikan permen yang sama seperti kemarin pada Minjung. “Kesempatan kedua,” ujar Jonghyun.

Minjung memandang permen itu, ia menghentikan aktivitas meregangkan ototnya. Dia nampak sedang berpikir, tentang bagaimana menemukan rasa lainnya dari sebuah permen. Minjung mulai membuka bungkus permen itu dan menggigitnya dengan cepat. Sekali lagi, ia hanya menemukan rasa manis karamel di dalam mulutnya. Minjung memandang Jonghyun dengan tatapan bingung.

“Masih belum ketemu rupanya” ujar Jonghyun sambil berdiri. Ia berjalan kearah pintu sambil memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celana. Jonghyun memejamkan matanya, menghirup udara disiang hari itu.

“Mau jalan-jalan?” tanya Jonghyun sambil sedikit menoleh melihat Minjung.

“Boleh. Aku juga ingin mengantarkan buku-buku milik Jungshin” jawab Minjung sambil membawa buku-buku milik Jungshin. Lalu ia menyusul Jonghyun yang telah berada di luar. Kali ini Jonghyun tak membawa sepedanya.

“Kenapa kau tak membawa sepedamu?” tanya Minjung sambil menyamakan langkah kakinya dengan Jonghyun.

“Bannya bocor”

Minjung hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu Jonghyun menarik tangan Minjung. Dan mereka berhenti sesaat di jalan.

“Kau mau kemana?”

“Ke rumah Jungshin”

“Rumahnya di sana Minjung” ujar Jonghyun sambil menunjuk ke salah satu gang kecil. Jonghyun menahan tawanya yang ingin meledak.

“Oh…”

Minjung menundukkan kepalanya karena malu. Tapi bukan karena kesalahannya, melainkan Jonghyun terus menggenggam tangannya sepanjang jalan. Bahkan sampai mereka menemui Jungshin. Minjung menyodorkan buku-buku Jungshin dengan tangan kirinya. Walaupun Jungshin mengambil buku itu, ia terlihat tak senang dengan sikap gadis itu.

“Kau tak punya tangan kanan ya?” tanya Jungshin sambil melihat tangan kanan Minjung yang tergenggam Jonghyun.

“H-hei, a-apa yang kau lakukan?” tanya Jungshin sambil menunjuk Jonghyun. Jonghyun hanya menatap Jungshin datar, lalu mengedikkan bahunya. Lalu Jonghyun dan Minjung meninggalkan Jungshin yang masih shock dengan apa yang dilihatnya.

“Me-mereka gila” kata Jungshin sambil melangkah masuk ke rumahnya.

Minjung menarik tangan Jonghyun untuk berjalan kearah lain. Mengajak Jonghyun untuk menginjakkan kakinya ke padang rumput yang hijau. Jonghyun hanya menuruti arah tarikan Minjung. Dan ia hanya tersenyum tiap kali Minjung tersenyum padanya. Minjung melepaskan genggaman tangan Jonghyun, dan menyuruh Jonghyun duduk di bawah pohon rindang. Sementara Minjung berjalan ke belakang pohon. Jonghyun hanya memandang setengah tubuh gadis itu yang tak tertutup batang pohon. Dia tersenyum. Tak lama, Minjung langsung memberikan tiga batang dandelion pada Jonghyun.

“Buatlah permohonan, lalu tiup sekuat tenaga” ujar Minjung sambil tersenyum lebar.

“Kau percaya dengan dandelion ini?”

“Ya. Dandelion itu pernah mengabulkan permohonanku”

“Ya, ya ya” akhirnya Jonghyun mengakui kekalahannya.

Jonghyun mengambil satu dandelion dan berkata, “aku akan sakit besok”. Jonghyun meniup bunga-bunga itu. Lalu mengambil yang kedua, “kalau aku sakit, besok …” Jonghyun meneruskannya dalam hati. Diam-diam ia mulai percaya. Lalu ia meniup dandelion itu lagi. Jonghyun mengambil batang ketiga, ia menatap Minjung dan berkata, “aku harap gadis ini tak melupakanku”. Minjung memandang Jonghyun. Lalu Jonghyun tersenyum nakal dan meniup dandelion itu tepat di depan wajah Minjung. Jonghyun langsung berlari, diikuti Minjung yang mengejarnya.

***

Minjung merasa tak tenang hari itu, ia terus mengguncang-guncangkan kakinya yang ada di bawah meja. Dan ia menekuk dalam-dalam wajahnya, yang sesekali mendengus kesal. Jonghyun tak masuk hari ini, kabarnya dia sakit. Itu yang didengar Minjung dari para lelaki sahabat Jonghyun.

“Minjung, kau tak menjenguk Jonghyun?” tanya Jungshin setengah berbisik. Ia takut guru yang tengah mengajar di kelas akan mengamuk ketika mengetahui ia mengobrol.

Minjung menggeleng, lalu bertanya “memangnya kenapa?”.

“Jonghyun sedang sakit, selain itu ini hari ulang tahunnya”

“Apa?!” pekik Minjung.

Minjung semakin menekuk dalam wajahnya. Namun sebuah ide baru saja terlintas.

“Shin-ahh.. Bisakah kau membantuku?”

“Baiklah. Sekali ini saja”

“Bawakan tasku pulang”

Lalu Minjung mengacungkan tangannya dan berkata, “bolehkah aku ke toilet?”. Guru yang sedang mengajar itu menganggukkan kepalanya. Minjung langsung berlari dan berpura-pura seperti ia sangat membutuhkan toilet saat itu.

Setelah keluar dari kelas, ia mencari penjaga sekolah. Ia meminjam kunci untuk membuka ruang perangkat olahraga sekolah. Tapi itu hanya alasan. Ia meminjam kunci itu untuk membuka pintu belakang sekolah. Lalu mengembalikan kunci itu setelah pintu belakang terbuka.

“Terimakasih Pak Kim” ujar Minjung sambil membungkukkan badannya. Dan Minjung kembali berlari menuju rumah Jonghyun.

***

Minjung mengikuti langkah seorang perempuan cantik yang ada di depannya. Itu adalah Ibu Lee Jonghyun. Wanita itu tampak awet muda. Minjung melihat pintu kamar yang terbuka, dan wanita itu menyuruh Minjung masuk.

“Bibi, ini untuk Jonghyun” ujar Minjung sambil memberikan sekantung buah yang tadi dibelinya di jalan pada Ibu Jonghyun.

“Wah, terimakasih. Masuklah ke dalam. Aku akan membuatkan teh dan mengantarkan buah-buah ini pada Jonghyun” wanita itu tersenyum ramah, lalu berjalan meninggalkan Minjung.

Minjung melangkahkan kakinya masuk, sambil mengintip kedalam. Jonghyun yang sedang membaca komik langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu, untuk melihat siapa yang baru saja datang. Ia tersenyum setelah mengetahui yang baru saja datang adalah Minjung, ia memanggil gadis itu untuk masuk.

“Dandelion itu ajaib” ujar Jonghyun sambil menunjukkan jempolnya pada Minjung. Minjung tertawa, lalu ia mengulurkan tangannya. Jonghyun menjabat tangan Minjung.

“Selamat ulang tahun” kata Minjung. Jonghyun tersenyum malu-malu. Lalu ia melepas tangan gadis itu dan mengambil sebungkus permen dari dalam toples.

Minjung memutar bola matanya saat Jonghyun menyodorkan permen itu lagi padanya. Dengan terpaksa Minjung memasukkan permen itu kedalam mulutnya. Ia menggigitnya perlahan. Dan ia menemukan coklat yang mencair di dalam permen itu. Jauh lebih manis dari karamel, lapisannya. Minjung tersenyum.

“Kau sudah menemukannya?” tanya Jonghyun.

Minjung menganggukkan kepalanya dengan senyum yang terukir di bibirnya.

“Kau juga menemukan perasaanku” ujar Jonghyun. Lalu ia melirik kearah pintu, dan ia tak menemukan seorangpun di sana.

Jonghyun meraih tengkuk gadis itu dan mencium bibirnya sekejap. Lalu keduanya tertawa setelah kecupan itu berakhir.

 

END

First, I must to say “Happy Birthday Jonghyun”. Hope you always in healthy and smile everyday.

Big thanks for my inspiration, novel You’re the red apple of my eye and Dandelion Wish (walaupun saya belum membaca buku ini, tapi quotesnya telah menginspirasi).

Finally, thanks for someone. Permen itu luar biasa. Aku menghabiskan banyak waktu untuk menemukan rasa yang sebenarnya.

4 thoughts on “[[FF EVENT – JONGHYUN’S BIRTHDAY]] Remember

    • hohoho.. inisial dikit aja ya al**nl*b* bisa nebak? kalo bisa langsung beli aja di toko terdekat *promosi* hahaha, makan pisang aja biar ga cepet lupa, katanya sih gitu. Makasih udh mau baca🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s