[FF Competition] Finifugal

Judul FF           : Finifugal

Genre              : Romance – tragedy, sad ending

 

~~~

            Suara pintu kayu ditutup sukses memecah kesunyian hampa nan damai. Kesunyian di mana seseorang yang berada di dalamnya akan merasa seakan sudah memiliki fungsi telinga yang kurang baik. Bayangan sosok pria tegap, tinggi, dan berkaki jenjang tertera di dinding berwarna krem pucat. Bayangan itu bergerak perlahan menjauhi ruang utama. Hingga tak terlihat lagi.

Pria si pencipta bayangan di dinding tadi bergerak menuju dapur. Gerakannya yang perlahan menjaga kesucian dari sunyi yang ada. Dengan hati-hati, pria itu membuka kran wastafel dan membiarkan air mengalir lembut. Sengaja tidak dibuka hingga maksimal, karena suara berisik dapat tercipta dari hantaman air dengan lapisan stainless steel pada wastafel.

Pria itu mengeluarkan sebuah benda penuh noda merah dari dalam tas ransel hitamnya. Ia taruh benda itu dibawah aliran air, sementara si noda merah semakin lama menghilang. Noda merah tadi lepas dari tempatnya melekat, mengalir mengikuti aliran air yang menyiramnya. Pria itu mengambil sehelai kain kering dari laci kecil di bawah wastafel. Ia bersihkan benda yang baru dicuci dari sisa-sisa kecil noda sekaligus mengeringkannya. Senyum tipis mengembang di wajah si pria.

Tiba-tiba, sunyi pun pecah ketika suara bernada lembut namun terdengar sedikit parau membelai telinga, memanggil namanya,

“Jungshin?” suara itu berasal dari kamar. Sudahlah jelas, pasti itu suara istrinya, Yeoshi. Jungshin menghela napas. Suara istrinya semakin lama, semakin parau dan lemah,

“Jungshin? Itu kau, kan? Kau sudah pulang?” wanita itu keluar dari kamar. Ia melangkah limbung menuju dapur. Sambil tersenyum, ia menyapa suaminya yang baru saja pulang,

“Akhirnya, kau pulang. Aku, mendengar suara air mengalir dari arah dapur, jadi aku pikir kau berada di sini.” pendengaran Yeoshi ternyata sangat baik. Yeoshi melangkah semakin dekat ke arah Jungshin. Jungshin yang tidak tega melihat keadaan istrinya yang lemah menahan Yeoshi untuk melangkah lagi. Ia belai halus rambut hitam legam Yeoshi. Disentuhnya pula kulit wajah nan pasi dengan prihatin,

“Kau sudah makan siang? Sudah minum obat?” pertanyaan Jungshin direspon anggukan Yeoshi. Terlukis sebuah senyuman indah di wajahnya, guna meyakinkan Jungshin bahwa ia sungguh telah melakukan hal-hal yang baru saja suaminya tanyakan,

“Kalau begitu, saatnya menunggu waktu makan malam. Aku sudah beli makanan. Setelah itu, kau harus minum obat lagi.” lanjut Jungshin seraya memeluk erat tubuh kecil Yeoshi. Tubuh kecil itu kian hari semakin kurus. Bagaikan hanya rangkaian tulang-tulang yang dilapisi kulit tipis tanpa serat daging sama sekali di bawahnya. Kenyataan ini sering membuat Jungshin ingin menangis ketika memeluk dan merasakan tubuh Yeoshi,

“Jungshin, aku sejujurnya malas minum obat. Aku lelah.”

“Kumohon jangan berkata seperti itu lagi.” tatapan mata mereka saling beradu. Jungshin dapat melihat jelas tumpukan air mata di sudut manik Yeoshi. Air mata perlambang kekecewaan dan rasa lelah. Jungshin hapus pelan air mata itu sebelum jatuh membahasi wajah pasi wanita yang disayanginya. Ia melakukannya atas perintah hati yang menolak untuk melihat kesenduan yang semakin menjadi di wajah Yeoshi. Jungshin menghela napas dalam-dalam, menahan air matanya sendiri,

“Kau yang berjanji, kan? Bahwa kita akan selalu bersama hingga hari tua itu datang. Hingga kulit kita menua bersama?” Jungshin menggenggam erat tangan kurus Yeoshi, berharap ada kekuatan yang mengalir ke tubuh Yeoshi dari genggaman itu,

“Untuk apa aku bekerja susah payah untuk membeli obat-obatan mahal itu, jika akhirnya kau menyerah? Kau sama saja tidak menghargaiku yang berusaha agar akhir dari hubungan kita tidak datang dengan cepat. Aku berusaha agar kita bisa bersama selamanya.” untaian panjang kata-kata Jungshin membuat Yeoshi menunduk lemah. Ia ingin berkata ‘maaf’, tapi sulit. Ia sadar, keluhannya merupakan penyebab amarah Jungshin.

Yeoshi memutuskan untuk tetap berusaha bicara. Diutarakannya kalimat yang penuh kejujuran dari dasar lubuk hatinya,”Aku juga ingin bersamamu selamanya,”.

~~~

Jungshin membantu Yeoshi memegang gelas air. Setelah Yeoshi memasukkan benda-benda kecil itu ke dalam mulutnya, Jungshin menyodorkan gelas bening itu. Perlahan-lahan, cairan itu mengalir ke dalam tubuh Yeoshi, membantu benda-benda kecil nan pahit menyakitkan ikut masuk.

Yeoshi menyentuh wajah Jungshin dengan tangan hangatnya,”Kau tahu, alasanku terus melakukan ini semua, sekalipun aku sangat membencinya?” gelengan kepala Jungshin membuat Yeoshi melanjutkan ucapannya,

“Karena aku lebih benci melihat dirimu sedih dalam kesendirian. Kau penyemangatku untuk tetap membuka mata dan menapaki tanah di dunia ini, Lee Jung Shin.” bibir Yeoshi yang tidak lagi semerona dulu tersenyum, agak kaku. Tapi, kedua maniknya jelas memancarkan ketulusan. Wanita itu kini terdiam.

Jungshin menyentuh bibir tipis pucat Yeoshi,”Teruslah bicara, aku suka mendengar suaramu.” Yeoshi menatap lurus pada Jungshin. Ia bisa melihat bayangan dirinya di mata Jungshin,”Aku akan berusaha memertahankan hidupku, walau lelah. Tetapi, aku sadar, alasanku diberi kehidupan ini adalah untuk bersama dirimu.”

~~~

Yeoshi masih terlelap damai. Pancaran silau sinar matahari pagi gagal membangunkan Yeoshi dari tidurnya. Jungshin memaklumi semuanya. Wanita itu memang harus banyak istirahat. Jungshin mendekatkan bibirnya ke telinga Yeoshi,

“Aku berangkat kerja, ya.” suara Jungshin membuat pundak Yeoshi bergerak kecil. Tanda bahwa ia mendengarkan. Jungshin tersenyum,

“Jangan lupa minum obat dan sarapan. Semoga aku dapat pulang cepat hari ini.” senyum di wajahnya perlahan menghilang. Cerah di wajahnya juga ikut redup ketika ia selesai berbicara.

Sebelum berangkat, Jungshin terlebih dahulu melangkah ke dapur. Diambilnya kemudian ditaruhnya ke dalam tas benda yang kemarin habis ia cuci. Baginya, benda berprinsip bidang miring itu adalah benda penting. Tanpa benda penting itu, ia tidak dapat melakukan pekerjaannya. Tanpa benda itu, ia tidak dapat membeli obat-obatan Yeoshi. Sayangnya, benda ini sangat terlarang bagi siapa pun tahu untuk apa fungsinya.

Jungshin memutar knop pintu. Ditariknya knop itu agar pintu terbuka. Sementara terbukanya pintu adalah tanda bahwa ia siap menjalani hari. Ia tegadahkan kepalanya, sehingga kedua matanya lurus menatap ke depan. Sebuah pemandangan menyambut awal hari Jungshin. Ia memang selalu mengharapkan pemandangan baru setiap ia membuka pintu untuk mengawali hari. Namun, ini bukanlah pemandangan yang ia harapkan. Sama sekali tidak diharapkan. Tidak pernah,

“Apakah Anda, Tuan Lee Jungshin?” tanya seorang pria berpostur proporsional dengan setelan lengkap melapisi tubuhnya. Di samping pria tersebut, terdapat dua orang berpakaian layaknya petugas kepolisian berdiri tegap dan menatap tajam pada Jungshin. Jungshin tidak dapat bergerak. Kaki, tangan, mulut, semuanya terasa lumpuh,

“Anda ditangkap atas kasus pembunuhan berantai empat orang pejabat tinggi dari perusahaan dan departemen berbeda.” pria bersetelan itu berkata sambil menunjukkan surat perintah penangkapan dan penggeledahan. Sementara seorang polisi melepas tas Jungshin dan memborgol kedua tangannya, Jungshin berusaha bicara,

“Anda boleh menangkap saya, tapi saya mohon, jangan geledah rumah ini sekarang. Istri saya sedang tidur. Ia sedang istirahat. Ia sakit parah. Ia terkulai lemah di kamar.”

“Biar saya bicara pelan-pelan dengan istri Anda.”

“Jangan! Saya mohon! Jangan ganggu dia! Jangan juga biarkan dia tahu hal ini.”

Si pria bersetelan lanjut memasuki rumah kecil itu. Ia tidak menghiraukan teriakan keras Jungshin yang terus memanggil-manggil nama seorang wanita, Yeoshi. Pria tadi segera berjalan menuju ruang kamar.

~~~

Cahaya lampu neon itu sedikit redup. Di sisi lain, warna dinding ruangan sempit ini kelabu. Sangat mendukung hawa serius dan menegangkan khas ruang interogasi. Jungshin menatap nanar pada bayangan dirinya sendiri yang terpantul di kaca satu arah. Lalu, ia menunduk lemah.

Telinganya menangkap suara langkah kaki seiring dengan pintu ruangan yang terbuka. Masuklah sosok pria tegap dengan setelan kemudian duduklah ia di hadapan Jungshin yang masih tertunduk. Pria itu sepertinya bukanlah penyuka basa-basi, ia langsung menghujani Jungshin dengan berbagai pernyataan, dan pertanyaan,

“Semua sudah sangat jelas. Anda tidak dapat mengelak. Yang kami butuhkan sekarang hanyalah, apa motif Anda melakukannya?” si pria, yang ternyata bernama Detektif Hwangbo, menatap lurus pada Jungshin. Walaupun hanya dibalas tundukan kepala.

Segala fakta, bukti, dan pengakuan para saksi terarah pada Jungshin. Ditambah lagi, berhasil diselidiki pisau yang ada di dalam tasnya benar pisau untuk menghabisi nyawa empat orang korban. Sidik jari pada pisau, cocok dengan sidik jari di tempat kejadian perkara. Pola luka tusukan juga cocok dengan pisau yang Jungshin miliki.

Jungshin merasa rongga di kepalanya bukan terisi otak, melainkan tumpukan sampah jerami. Ia tidak dapat berpikir. Pikirannya hanya terfokus pada keadaan Yeoshi yang semakin parah. Berbohong untuk menghindar pun percuma,

“Saya hanya diperintahkan! Tanpa melakukan ini semua, obat-obatan mahal itu tidak dapat terbeli, Yeoshi akan mati. Perusahaan swasta tempat saya bekerja sebagai teknisi gulung tikar. Yeoshi tidak tahu hal ini.” terpancar cahaya penuh amarah, kesedihan, dan kekhawatiran di mata Jungshin yang bergetar dan berkaca-kaca. Detektif Hwangbo mengaitkan kedua tangannya di atas meja,

“Siapa yang memerintahkan Anda?”

“Saya tidak tahu. Dia hanya mengirimiku surel berisi daftar nama dan rekening bank saya terus menerus terisi seiring satu demi satu jiwa mereka lepas dari tubuh masing-masing.” Jungshin menjambaki rambut pendeknya. Ia menahan tangis. Ia juga menahan takut. Dingin tiba-tiba menyelimutinya. Detektif Hwangbo membuka mulut,

“Rupanya, kau ini eksekutor bayaran. Bisa kau tulis di kertas ini alamat surel orang yang ‘menyewa’mu?” Detektif Hwangbo memberi Jungshin secarik kertas berikut sebuah bolpen. Tangan bergetar Jungshin berusaha menulis dengan baik, namun sulit. Bayang-bayang wajah Yeoshi yang pasti mengkhawatirkannya atau mungkin marah padanya memenuhi segala ruang di otak Jungshin. Jungshin menatap Detektif Hwangbo,

“Bolehkah, saya menemui istri saya sebentar saja? Saya ingin meminta maaf.”

Detektif Hwangbo menggerakan bola matanya perlahan hingga hitam di kedua maniknya tertuju tepat pada Jungshin. Jarak di antara kedua mata itu kemudian berkerut. Entahlah maksud kerutan itu.

~~~

“Bagaimana, Tuan?” seorang asisten komandan yang sedari tadi memerhatikan proses interogasi dari luar mencegat gerakan Detektif Hwangbo,

“Masih ada otak dari pembunuhan berantai ini. Pria itu hanya diperintahkan oleh orang yang bahkan tidak ia kenal.” jawaban Detektif Hwangbo tampaknya membuat si asisten bingung. Detektif Hwangbo hanya memberi tanda bahwa akan menceritakan selengkapnya nanti,

“Satu lagi, sepertinya Tuan Lee Jungshin menderita trauma masa lalu. Ia bilang ingin bertemu istrinya untuk meminta maaf, tetapi tadi di rumahnya sama sekali tidak ada sosok wanita. Bahkan, para tetangga mengatakan bahwa ia hanya tinggal sendiri.”

“Betul sekali. Istrinya meninggal karena suatu penyakit keras sekitar tiga bulan yang lalu.” si asisten menambahkan,

“Dia juga terus meneriaki nama istrinya ketika penangkapan. Selama perjalanan pun, ia terus menggumami nama istrinya. Ia bilang istrinya sedang tertidur di kamar, wanita itu sakit. Namun pada kenyataannya, istrinya sudah wafat?” Detektif Hwangbo berkacak pinggang. Sang asisten komandan kembali angkat bicara,

“Mungkinkah, ia menderita gangguan mental?” pernyataan itu dijawab anggukan oleh Detektif Hwangbo. Pria itu menganggap istrinya masih hidup. Ia tidak menyukai sebuah akhir. Ia menganggap kebersamaan dengan istrinya tidak akan pernah berakhir, dan terus berusaha untuk mengulur waktu kebersamaan itu supaya tidak selesai dengan cepat layaknya cerita pendek. Walaupun sesungguhnya, tali penghubung itu telah putus. Terputus garis pemisah dimensi.

Di dalam benak sang detektif, ada sisi lain di mana ia prihatin akan Jungshin. Pria itu terpaksa membunuh untuk membeli obat-obatan istrinya. Bahkan hingga wanita itu pergi untuk selamanya – mengakhiri keletihannya menahan sakit – dan takkan pernah kembali, ia tetap melakukannya untuk si wanita yang disayangi.

~~~

Sosok wanita memasuki ruangan. Jungshin menengadahkan kepalanya perlahan seiring senyum sumringah menghiasi wajahnya yang seindah porselen namun sangat maskulin. Kebahagiaan jelas terpancar ketika Yeoshi berdiri di depannya. Jungshin mengucapkan kata maaf dalam frekuensi rendah. Kata itu hampir tidak jelas terdengar karena bibir kering itu bergetar hebat,

“Aku mengerti kau melakukan semua demi diriku, walaupun kau membisu. Juga, membohongiku.” mata Yeoshi terlihat kecewa,”Namun,” lanjutnya,”aku akan selalu bersamamu. Jangan takut.” senyum manis seketika mengembang,”Aku tetap di sisimu, aku menyayangimu.”

“Aku tahu kau tidak pernah mati, selalu hidup dirimu untukku,” walau hanya hidup di hati dan pikiran Lee Jungshin.

Jungshin meraih wajah Yeoshi. Ia sentuh halus pipi putih pucat Yeoshi, kemudian dibelai halus rambut hitam Yeoshi. Ia tidak akan pernah tahu, dan tidak akan pernah menyadari. Bahwa semua pasang mata yang kini memerhatikannya dari luar melalui jendela satu arah melihat dirinya seolah membiarkan jari-jemari panjang nan langsing itu menari-nari di udara dingin. Menyentuh debu halus melayang yang tak terlihat oleh kasat mata.

 

[END]Hwang

5 thoughts on “[FF Competition] Finifugal

  1. wow… ceritanya bagus. Aku selalu tertarik dengan cerita berbumbu psikologi dengan bahasa yg luar biasa kyk gini…
    Feelnya dapet, jalan ceritanya ga pasaran, dan diksinya oke
    Wish luck for you. Semoga menang ya…😀
    Btw, What is the meaning of ‘Finifugal’? I never heard that term before…

  2. judulnya udah keren banget.. pas baca, aku sampai bergetar. Ga pernah membayangkan sosok seorang Lee Jung Shin menjadi sosok pria seperti yang di atas. Ini benar-benar cerita yang membuat saya menggalau ria😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s