[FF Competition] 약속 (Promise)

Judul: 약속 (Promise)

Genre: Romance – Tragedy

 

Seoul, 2013

Yonghwa oppa,

Ini surat yang entah keberapa kalinya aku tulis menggunakan setiap tetesan darah yang keluar setelah mengukir namamu di tubuhku. Sayatan dan rasa perih itu sama sekali tak berarti. Kau tahu kan seberapa besar aku mencintaimu? Keinginanku tetaplah sama seperti sebelumnya, menikah denganmu. Aku sanggup melakukan apapun untukmu. Aku juga  sanggup melakukan apapun untuk mewujudkan keinginan itu. Apapun. Tak terkecuali bila aku harus mati. Jeongmal saranghae,

Kim Narae

 

Selang seminggu setelah aku mengirimkan surat itu melalui agency-nya, aku pun memutuskan untuk melakukan ini. Hal yang memang sudah lama kurencanakan bila dia tetap mengacuhkan keberadaanku. Aku gila? Tentu saja, dia yang membuatku gila seperti ini.

Untuk seorang sasaeng fans sepertiku, tak sulit mengetahui setiap jadwal, setiap tempat yang akan dia datangi, siapa saja orang akan dia temui, orang yang biasa berada di sekitarnya dan yang paling penting, kapan dia akhirnya benar-benar sendiri, tak ada manajer, anggota lain atau siapapun hingga aku bisa melancarkan rencanaku. Aku tak akan mencelakaimu oppa, kau sendiri tahu aku mencintaimu melebihi apapun.

<GREP!>

Aku mengunci tubuh dan kedua lengannya sekaligus menggunakan tangan kananku, sementara tangan yang lain memegang saputangan. Sesuai perkiraan dia memberontak, tubuhnya yang lebih besar dariku membuatku sedikit kesulitan. Namun, tak ada gunanya ilmu taekwondo yang sudah lama kutekuni ini bila aku tak bisa menahan kekuatannya.

Aku sengaja menekuni taekwondo, memperdalam ilmuku, memenangkan banyak kejuaraan, bahkan mengalahkan namja untuk mempersiapkan malam ini. Aku berhenti kuliah tanpa sepengetahuan kedua orangtuaku dan menggunakan uang kuliah untuk segala hal tentang Yonghwa oppa termasuk membiayai sekolah taekwondo yang kutekuni itu.

“Nu..nuguya?!!” Berontaknya sekuat tenaga, berhasil membuatku setengah terlempar, beruntung aku bisa mengunci tubuhnya lagi. Dia berusaha melihat wajahku dan saat mataku bertemu dengan matanya, aku tersenyum sekilas.

“Aku Kim Narae. Kau mungkin mengingat beberapa surat berdarah dariku, oppa. Saranghaeyo.” Ucapku singkat sambil menempelkan sebuah sapu tangan di mulut dan hidungnya, dia sempat membelalak terkejut. Rontaannya berangsur melemah hingga terkulai lemas di dalam pelukanku. Sesuatu yang sebelumnya hanya hadir di dalam mimpiku. Maaf oppa, tapi semua ini kulakukan karena dirimu.

***

 

<BRAK!!>

Suara hentakan tiba-tiba muncul, aku mengacuhkannya.

<BRAAAKK!!>

Kali ini suara hentakan tadi terdengar lebih keras, aku lantas mengangkat wajahku memandang ke sumber suara di belakang. Beberapa detik aku terdiam, jantungku seakan berhenti berdetak menerima tatapan itu, sebuah tatapan penuh amarah. Dia menghentak-hentakkan tubuhnya di atas ranjang dengan kedua tangan dan kaki terikat. Aku yang membuatnya seperti itu, menculiknya, membawanya bahkan mengikatnya di dalam kamarku.

“Oppa, bagaimana tidurmu semalam?” Tanyaku perhatian sambilberjalan menghampirinya, berusaha menyentuh wajah sempurna miliknya.

Dia mengelak.

Tentu saja.

“Siapa kau?!” Ucapnya ketus.

“Bukankah sudah kukatakan, aku Kim Narae. Seseorang yang terlalu mencintaimu dan sanggup melakukan apapun untuk memilikimu.”

“Mwoya? Omong kosong. Lebih baik kau lepaskan aku sekarang.” Dia mengehentakkan kedua tangannya lagi, membuat ranjang yang sedang aku dan dia duduki berguncang keras.

“Omong kosong? Lepaskan? Haha. Kau tahu seberapa keras usahaku untuk mempersiapkan ini? Jangan bermimpi untuk lepas dariku oppa.” Jawabku bergetar, membayangkan semua hal yang telah kulalui untuk hari ini dan nanti. Banyak hal menyakitkan yang tak akan pernah dia tahu.Mendengar itu dia terdiam mendadak. Sedikit kegetiran terpancar dari raut wajahnya. Aku tersenyum pahit sebelum kembali menyelesaikan sebuah gaun pengantin hingga pagi berikutnya menjelang.

***

 

Aku membiarkan Yonghwa oppa terikat di sana sehari semalam. Dia terus berteriak dan memberontak sepanjang waktu. Namun pagi ini dia lebih diam, menatapku dengan mata sayu dan wajah yang pucat.

“Oppa, kau semalam tak tidur?”

“Mereka akan melaporkan ke polisi bila hari ini aku masih tak kembali. Sebelum hal itu terjadi, jebal lepaskan aku. Aku masih menganggapmu sebagai fansku Narae-ssi, aku tak akan menuntutmu.” Ucapnya, terlihat begitu rapuh dan lemah.

“…..aku tak akan melepaskanmu, oppa.”

“Apa alasanmu menyiksaku seperti ini? Aku lapar, kehabisan tenaga, sama sekali tak tidur. Aku bisa mati.”

Hatiku terhenyak melihat keadaannya, mendengar suara lemahnya. Sempat terpikir untuk mengakhiri keinginanku. Tapi, aku tak bisa mengabaikan impianku.

Sama sekali tak boleh.

“Oppa, kau baru dua hari tak makan dan tak tidur, bagaimana mungkin mati. Aku bisa menahan hal yang sama lebih dari seminggu karena dirimu. Tak bisa tidur dengan nyenyak bertahun-tahun.”

Dia tak menjawab, hanya menatapku lemah.

Tatapan kosong.

“Tenang saja.. besok saat kita menikah, kau bisa makan.” Mendengar itu dia membelalak terkejut, aku membalasnya dengan sebuah senyum tipis.

***

 

Keesokan harinya,

Aku mendaratkan sebuah pelukan hangat, menikmati sejenak bau khas tubuhnya. “Hari yang kunanti sudah tiba, kajja!” Aku kemudian mendorong tubuhnya berjalan menuju meja makan.

“Keumanhae-” Ucapnya ketus, tapi aku berpura-pura tak mendengarnya, memotong ucapannya.

“Aku sudah menyiapkan semua untuk oppa, ayo duduk di sini.” Ucapku riang, meraih bahunya berusaha membuatnya duduk di sana sekuat tenaga sampai akhirnya dia berhenti meronta.

“Ayo bersulang, oppa.” Ajakku mengangkat gelas champagne. Namun aku terhenti.. menatap kedua tangannya yang masih terikat. “Ah, mianhae! Biar aku bantu oppa dulu.” Ucapku tersenyum kecil sambil bergerak mendekatinya.

“Aaaaa…” Aku mendekatkan irisan steak ke mulutnya. Dia memalingkan wajahnya, aku mengulangi hal yang sama beberapa kali namun dia terus menolak hingga aku menyerah.

“Baiklah, kalau kau tak mau.”Aku pun kembali ke kursiku dengan perasaan kecewa. Dia tetap tak membuka suara, menatap kosong ke depan dengan wajah yang baru kusadari semakin pucat.. sangat pucat.

Aku bukan tak peduli pada keadaannya. Aku hanya ingin segera menikah dengan dia… hidup bahagia dengan namja impianku, hanya dengannya. Aku ingin merasakan kebahagiaan layaknya kehidupan para gadis dalam cerita dongeng, berdansa bersama pangerannya kemudian menikah. Aku akan mewujudkan hal itu dengan Yonghwa oppa.

“Jebal, hentikan semua ini.”

Tiba-tiba sebuah suara lemah membuyarkan lamunanku. Masih duduk di sana, dia menatapku sayu dan tak lama ambruk.

“O..oppa!!” Pekikku terkejut, aku segera berlari meraih tubuhnya yang sudah tergeletak di lantai. “Oppa!! Oppa!!” Aku mengguncang tubuhnya beberapa kali, menepuk-menepuk wajahnya. “Ya, oppa! Kita sebentar lagi akan menikah, bangunlah!” Pekikku dengan perasaan bergemuruh.

Aku membaringkan tubuhnya di tempat tidur, meletakkan handuk basah di dahinya berharap demam itu segera turun. Sedikitpun tak melepaskan perhatianku padanya. Aku yakin dia hanya tertidur. Bagaimanapun juga dia harus bangun.

***

Sayup-sayup aku seperti mendengar suara. Dengan mata yang masih terasa berat aku melihat dia mengiggau.

“Oppa, demammu masih belum turun.” Bisikku penuh kekhawatiran, dia masih belum membuka mata sementara tubuhnya menggiggil dan terasa panas.Sebentar saja, aku berjanji akan membawanya ke dokter setelah menyelesaikan pernikahan kami.

Sebentar saja.

Aku memaksa Yonghwa oppa berdiri bahkan berjalan di sampingku. Dengan sisa-sisa tenaganya, dia mengikuti tak sanggup memberontak. Tanpa buang waktu aku meraih tangannya untuk menyematkan sebuah cincin yang sudah kupersiapkan di jari manisnya.

“Oppa, sekarang pasangkan cincin ini untukku juga.” Ucapku sambil menyerahkan cincin, membantunya memegang cincin itu dengan baik. Dia sama sekali tak merespon, aku terpaksa menggerakkan tangannya hingga cincin pernikahan kami melingkar cantik di jari manisku.

“Kita sudah resmi menikah.”

Aku berjalan santai, masih menggandeng pangeran tampanku menuju sebuah lemari tua di dekat perapian, suara-suara sirine di luar sungguh mengusikku. Aku hanya tak ingin sesuatu terjadi padanya, aku hanya tak ingin mereka merampas.. suamiku.

“Oppa, tetap di sini sampai aku membuka lemari ini lagi. Tenang saja tak akan lama ne?” Aku menarik Yonghwa oppa masuk ke dalam lemari itu.

<BRAK!!>

“Diam di tempat!”

Mendadak aku terdiam dan tak mampu berkutik saat beberapa polisi menerobos masuk ke dalam apartemenku dengan pistol yang diarahkan kepadaku. Dua orang dari mereka menyeretku menjauh dari lemari dan akhirnya berhasil menemukan Yonghwa oppa di dalam sana. Aku berteriak histeris ketika mereka meraih tubuhnya, membawanya menjauh dariku perlahan.

“Jangan bawa dia! Dia milikku!”

“Simpan kata-katamu untuk di pengadilan nanti. Kau ditahan untuk kasus pembunuhan berencana, Kim Narae-ssi.”

“M..mwoya?! Pembunuhan? Aku tak membunuh siapapun!”

“Lalu kau sebut apa namja yang sudah terbujur kaku di dalam lemarimu itu hah?!”

“A..apa yang kau katakan…”

“Kau membunuh Yonghwa.”

“M..mworago.. Jangan bicara sembarangan.. Yonghwa oppa masih hidup. Lihat, dia sedang berbicara padaku sekarang, kalian tidak mendengarnya? O..oppa.. katakan pada mereka.. kau ingin tetap bersamaku.. ne?” Ucapku terbata dengan airmata yang mengalir deras.

“Sadarlah, sudah jelas dia meninggal. Jangan banyak bicara lagi.”

Dengan perasaan yang kacau balau aku menangis dan terus menangis, berusaha meyakinkan mereka bahwa Yonghwa oppa masih hidup. Tapi tak satu pun dari mereka menghiraukanku, bahkan mereka menganggapku gila dan berhalusinasi karena masih memperlakukan mayat layaknya manusia yang bernyawa. Yah, bagi mereka Yonghwa oppa sudah meninggal sejak kemarin.

***

Aku tak ingat kapan aku mulai mampu menyadari hal itu, menyadari bahwa Yonghwa oppa memang sudah berada di dunia yang berbeda sejak hari pernikahan itu. Untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan, rasa sesak yang luar biasa di dadaku hingga tak mampu bernafas. Aku seakan tersadar dari mimpi terburuk yang pernah ada.

Apa yang sudah kulakukan?

Sekeras apapun usahaku untuk menebus semua kesalahan itu, tentu takkan pernah bisa menghilangkan rasa bersalah dan penyesalan yang menghantui hari-hariku. Sejak saat itu aku meninggalkan semua hal yang berkaitan dengan sasaeng fans, aku mendapatkan kembali akal sehatku. Dan tentu saja aku rela untuk dihukum mati namun suatu keajaiban aku lolos dari hukuman itu, karena gangguan psikologisku saat itu. Aku menghabiskan 8 tahun di dalam penjara, sama sekali tak setimpal dengan perbuatanku. Sempat terpikir untuk bunuh diri, bahkan aku sudah pernah mencobanya, tapi jauh lebih baik bila aku terus hidup membawa semangat Yonghwa oppa di dunia ini. Aku ingin terus hidup demi dia.

Percayalah, di kehidupan berikutnya aku akan berusaha menjadi orang yang berbeda, seseorang yang bisa melindungimu untuk menebus kesalahanku di masa ini. Dan jangan pernah memaafkan aku karena aku sama sekali tak berhak untuk itu.

Jeongmal saranghaeyo Yonghwa oppa.

***

 

Seoul, 2105

“Ya! Micheosseo? Minggir, kau mengacaukan jadwalku haish!” Seorang namja tampan berjalan kesal dan terburu-buru berusaha membuat jarak sejauh mungkin dari seorang yeoja manis di belakangnya.

“Ta..tapi, aku hanya mencoba menyingkirkan sepeda itu agar kau bisa jalan dengan lancar, Lee Shin seongsaenim.” Sang yeoja tak putus asa untuk mengikuti bosnya, Lee Shin. Namja tampan sebelumnya.

“Jinjja? Yang kau lakukan justru merusak sepeda itu dan aku harus bertanggung jawab mendengar omelan dari si pemiliknya. Itu maksudmu melindungi?!”

“Ma..maafkan aku. Tapi mengapa harus berjalan kaki seperti ini? Akan semakin banyak hal yang membahayakanmu seongsaenim.”

“Aku bisa menjaga diriku, jadi kau pergi sa-“

“Awas bahaya!!!”

<BRUK!!>

Secara tiba-tiba sebuah papan reklame besar jatuh menghantam keras jalan di bawahnya yang saat itu sedang dilewati oleh dua orang tadi. Salah satu diantaranya mengalami cedera hebat setelah sebagian tubuhnya tertimpa papan reklame untuk melindungi seseorang.

Breaking News

Sore ini sekitar pukul 15:10 PM di daerah pertokoan distrik Insadong, sebuah papan reklame berukuran cukup besar jatuh. Dalam kejadian ini satu orang mengalami cedera patah tulang. Disebut-sebut karena melindungi seorang artis terkenal, Lee Shin. Diketahui gadis yang bernama Lee Gyuwon itu adalah bodyguard sang artis.

 

 

“Yonghwa oppa, aku menepati janjiku bukan? Gyuwon akan selalu melindungimu apapun yang terjadi. Hanya itu caraku untuk menebus kesalahanku di masa lalu. Jeongmal saranghaeyo.”

 

“I want to protect the promise i made, i’ll be by your side in another life to protect you.”

One thought on “[FF Competition] 약속 (Promise)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s